• Tidak ada hasil yang ditemukan

Berdasarkan data Coronavirus Research Center-John Hopkins University, sampai dengan tanggal 7 Agustus 2020 tercatat 19.135.088 kasus COVID-19 dengan jumlah kematian sebesar 715.681 jiwa. Data-data tersebut juga menunjukkan episentrum kasus mayoritas terjadi di negara-negara berkembang, yakni India, Brazil, Afrika Selatan, Iran, di samping Amerika Serikat yang sampai saat ini konsisten di urutan pertama. Kenyataan tersebut seharusnya menjadi peringatan keras bagi berbagai skema kerjasama internasional yang sampai saat ini masih gagal memajukan kepentingan dan kesejahteraan masyarakat yang hidup di negara-negara dunia ketiga, yang menempatkan demos sebagai orientasi utama.

50

ADIF RACHMAT NUGRAHA

Maka kemudian, di momen terburuk dalam sejarah umat manusia modern inilah, revitalisasi multilateralisme yang berorientasi kesejahteraan umum semakin menemukan relevansinya. Dalam pidato virtualnya menyambut 75 tahun Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), Perdana Menteri India Narendra Modi—meskipun dikenal kontroversial karena serupa dengan Trump yang acap kali mengobarkan ‘country first policy’, secara mengejutkan mendorong reformasi multilateralisme global dengan memanfaatkan pandemi COVID-19 sebagai momentum perubahan PBB yang berbasis pada ‘human-centric globalisation’.

Pandemi ini mendorong reformasi dan transformasi kerjasama internasional di berbagai level institusi politik, tak terkecuali parlemen.

Dalam upaya penanganan pandemi COVID-19 yang semakin merebak ini, banyak pandangan yang menyatakan bahwa peran pemerintah yang kuat (strong government) semakin dibutuhkan tak lain karena efektivitasnya dalam melakukan kontrol dan pengaturan yang tersentralisasi di tengah kedaruratan. Bahkan secara jelas mingguan The Economist (26/03/2020) menegaskan bahwa ‘big government is needed to fight the pandemic’. Namun yang menjadi pertanyaan, bagaimana agar kecenderungan kontrol dan sentralisasi tersebut dapat surut usai pandemi berakhir, yang sejalan dengan semangat demokrasi yang tidak menumpuk kekuasaan di tangan satu aktor? Meminjam istilah yang diungkapkan Steve H. Hanke dalam Crises Enliven “Totalitarian Temptations” (2020), bagaimana menolak godaan totalitarian (totalitarian temptations) yang mampu mendorong demokrasi ke tubir otokratisme?

Maka dari itu, disinilah peran parlemen menjadi relevan. Sebagai institusi politik tertua yang menjadi perwakilan demos dalam menjalankan roda bernegara, peran parlemen menjadi penting dalam menjaga akuntabilitas eksekutif ketika melakukan atau tidak melakukan sesuatu, juga menjamin produk legislasi yang disusunnya berpihak pada rakyat.

Utamanya di masa pandemi COVID-19 ini, parlemen wajib memainkan peran sebagai penjaga marwah demokrasi dan kebajikan (virtue) atas setiap kebijakan penanganan pandemi dan upaya implementasinya, menjamin tidak ada hak warga negara yang tercederai.

Dalam konteks peningkatan multilateralisme atas penanganan pandemi, parlemen pun memainkan peran strategis dalam menjalin koordinasi global, menggali pengalaman negara-negara yang berhasil mempraktekkan demokrasi sebagai ruh penanganan pandemi di tengah kecenderungan dunia yang mengarah pada gejala-gejala pasca demokrasi (post-democracy), sekaligus menggalang solidaritas—utamanya menyasar negara-negara berkembang—dalam penanggulangan pandemi.

51

PEMENANG ESAI KATEGORI MUDA

Melalui jaringan antar-parlemen yang kuat, Indonesia melalui Dewan Perwakilan Rakyat (DPR-RI) dapat membangun kerangka multilateralisme yang kokoh dalam menggalang solidaritas lintas negara untuk penanganan pandemi COVID-19, dengan beberapa poin strategis, yakni:

♦ Pertama, dalam konteks pembangunan negara berkembang, penting untuk membangun kerjasama parlementer tidak hanya bersifat global dalam wadah Inter-Parliamentary Union (IPU), tetapi juga dalam kerangka hubungan Selatan-Selatan dan Asia-Afrika, guna mendorong peningkatan peran parlemen di negara masing-masing dalam penanganan COVID-19 yang demokratis, inklusif dan berorientasi masyarakat.

♦ Kedua, mengaitkan penanganan pandemi COVID-19 dengan capaian strategis global, seperti Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (Sustainable Development Goals/SDGs), dimana salah satu Tujuannya yakni menjamin kehidupan yang sehat dan mendorong kesejahteraan bagi semua orang di segala usia, melalui fokus pada pengawasan kerja eksekutif dalam melakukan upaya perbaikan kualitas pelayanan dan akses kesehatan bagi seluruh lapisan masyarakat.

♦ Ketiga, momen pandemi COVID-19 yang penuh dengan ketidakpastian ini semestinya mampu mendorong kerja DPR yang adaptif, inovatif, dan efektif terhadap perubahan dan dinamika global, khususnya dalam melakukan kerja pengawasan, legislasi dan penganggaran. Produk hukum yang dihasilkan DPR haruslah senantiasa sejalan dengan prinsip dasar demokrasi: partisipatif, akuntabel, transparan, dan adil.

Pada akhirnya, pandemi COVID-19 menjadi momen transformasi untuk mewujudkan dunia yang lebih baik. Ancaman populisme dan pasca demokrasi justru semakin menguat di tengah pandemi yang membawa kita ke titik nadir demokrasi. Maka dari itu, upaya mengokohkan demokrasi dan membangkitkan kesadaran sebagai umat manusia yang hidup di bawah langit yang sama harus terus digiatkan. Dalam kerangka bernegara, ia menjadi barang wajib yang harus diperjuangan institusi politik formal dan seluruh lapisan masyarakat. Melalui parlemen, harapan dan kepentingan masyarakat banyak senantiasa digantungkan.

Mandat suci untuk menjadikan kehidupan masyarakat semakin baik dan sejahtera harus selalu jadi pegangan.

52

ADIF RACHMAT NUGRAHA

DAFTAR PUSTAKA

Buku

Khanna, Parag. 2016. Connectography: Mapping the Future of Global Civilization.

New York: Random House.

Kuncahyono, Trias. 2018. Kredensial: Refleksi 130 Kisah tentang Manusia dan Peradaban. Jakarta: Penerbit Buku Kompas.

Sjahrir, Sutan. 1968. Nasionalisme dan Internasionalisme. Jakarta: Panitia Persiapan Jajasan Sjahrir.

Artikel Daring

Bollyky, Thomas J, dan Brown, Chad P. 2020. “The Tragedy of Vaccine Nationalism:

Only Cooperation Can End the Pandemic”, Foreign Affairs, September/Oktober (https://

www.foreignaffairs.com/articles/united-states/2020-07-27/vaccine-nationalism-pandemic), diakses 6 Agustus 2020.

Bremmer, Ian. 2020. “What Vaccine Nationalism Means for the Coronavirus Pandemic”, Time, 27 Juli (https://time.com/5871532/vaccine-nationalism-coronavirus-pandemic/), diakses 6 Agustus 2020.

Hanke, Steve H. 2020. “Crises Enliven ‘Totalitarian Temptations’”. Cato Institute, 10 April (https://www.cato.org/publications/commentary/crises-enliven-totalitarian-temptations), diakses 7 Agustus 2020.

Hindustan Times. 2020. “Need Human-Centric Globalisation: PM Modi at UN ECOSOC”, 18 Juli (https://www.hindustantimes.com/india-news/need-human-centric-globalisation-pm/story-TDDbElYEhdrtCHYkBV3MyJ.html), diakses 7 Agustus 2020.

Kompas. 2020. “Amerika Kembali Amankan Pasokan Vaksin Covid-19”, 23 Juli (https://kompas.id/baca/internasional/2020/07/23/amerika-kembali-amankan-pasokan-vaksin-covid-19/), diakses 6 Agustus 2020.

The Economist. 2020. “The State in the Time of Covid-19”, 26 Maret (https://www.

economist.com/leaders/2020/03/26/the-state-in-the-time-of-covid-19), diakses 7 Agustus 2020.

53

PEMENANG ESAI KATEGORI MUDA

54

RESTY

RESTY