Pada dasarnya semua kegiatan diplomasi diarahkan untuk mencapai sasaran – sasaran kebijakan luar negeri suatu negara. Dengan mempertimbangkan bahwa kebijakan luar negeri tersebut harus bertemu dengan kepentingan aktor internasional lain, maka kemampuan untuk menonjolkan mutual understanding atau kemampuan saling memahami satu sama lain harus didorong sebagaimana itu merupakan kompetensi dasar dalam praktek diplomasi.3
Pada masa pandemi COVID-19, mutual understanding harus diinterpretasikan tidak lebih dari upaya mengatasi darurat kesehatan ini secara lebih efektif. Berkaca pada peristiwa masa lalu, kompetensi juga menjadi resep paling penting di balik keberhasilan komunitas internasional dalam menangani smallpox dimana Uni Soviet dan Amerika Serikat, meski dalam kondisi Perang Dingin, bersedia melakukan kerjasama dalam memberantas smallpox. Keberhasilan kerjasama itu perlu direfleksikan ulang di saat krisis seperti sekarang dimana sekat ideologi atau perbedaan politik dapat dikesampingkan demi tujuan kesehatan.
Menoleh pada peran Parlemen, saat ini Parlemen dunia telah memiliki berbagai mekanisme yang terinstitusionalisasi dimana diskusi tentang isu kesehatan dimungkinkan. Dalam diplomasi Parlementer multilateral, misalnya terdapat IPU (Inter-Parliamentary Union), APA (Asian Parliamentary Assembly), APPF (Asian Pacific Parliamentary Forum), PUIC (Parliamentary Union of OIC) dan lain sebagainya. Belum lagi, diplomasi di tingkat bilateral. Mekanisme-mekanisme tersebut perlu diarahkan untuk menjalin dialog dengan aktor-aktor internasional lain yang selama ini menjadi penyangga tata kelola kesehatan global seperti dipetakan di dalam gambar di bawah:
3 Ilona Kickbush et al., Global Health Diplomacy: Concepts, Issues, Actors, Instruments, Fora and Cases (New York: Springer, 2013) hal. 4
97
ESAI PEMENANG KATEGORI UMUM
Sumber: Wolfgang Hein, “The New Dynamics of Global Health Governance” dalam Global Health Diplomacy: Concepts, Issues, Actors, Instruments, For a and Cases Ilona
Kickbush et al., (New York: Springer, 2013) hal. 64
Dibukanya ruang dialog dan kolaborasi dengan aktor-aktor di atas dapat memberi gambaran konkret dan merekatkan jurang pemisah antara perkembangan sains dari komunitas epistemik, pendanaan privat dari filantropi, penyelarasan kebijakan luar negeri negara, pemenuhan bantuan medis, sampai aspek terpenting: penguatan Rezim Kesehatan Global.
Secara empiris, upaya diplomasi kesehatan Parlemen telah dilakukan di banyak kesempatan. Dalam tingkatan global, misalnya, IPU yang beranggotakan 179 Parlemen negara, telah bekerja sama dengan WHO dalam hal pengembangan kapasitas Parlemen hingga komitmen untuk menjaga keamanan kesehatan global, yang ditandai dengan ditandatanganinya MoU bulan Oktober 2018 silam. Bulan Mei 2020 lalu, IPU juga mengkoordinasikan diskusi di antara Parlemen dunia bersama dengan WHO dan juga UN Office for Disaster Risk Reductions berkaitan dengan cara-cara terbaik merespon COVID-19, serta memberi dukungan pada inisiatif WHO, COVID-19 Solidarity Fund. Di tingkat regional seperti di Asia Tenggara, AIPA (ASEAN Inter-parliamentary
98
RANGGA A. AKHLI
Assembly) melakukan dialog bersama para pemimpin ASEAN sebagai bagian dari ASEAN Summit ke-36 untuk menunjukan dukungan untuk mengatasi COVID-19.4
Apalagi inisiasi-inisiasi diplomasi kesehatan Parlemen di tingkat bilateral yang begitu banyak dilakukan. Di tingkat bilateral ini, semestinya, Parlemen negara-negara yang tertatih-tatih untuk mengatasi penyebaran COVID-19, perlu lebih dalam responsif melakukan pendekatan dengan negara-negara yang menunjukan kendali lebih bagus dalam mengontrol sebaran COVID-19, beberapa di antaranya adalah Taiwan, Singapura, Korea Selatan, Selandia Baru ataupun Australia.5 Contoh yang bagus diperlihatkan saat Korea Selatan bersedia memberikan sejumlah alat tes pada Indonesia di akhir bulan April silam.
Beberapa pengalaman di atas merupakan sisi positif yang ditonjolkan di mana jalannya diplomasi kesehatan tampaknya baik-baik saja. Tetapi, tanpa memberi peyorasi pada upaya diplomasi yang dilakukan di atas, Parlemen seharusnya mulai menyadari bahwa tantangan global semacam COVID-19 di kemudian hari tidak bisa ditangani hanya melalui pertemuan diplomatik sekali atau dua kali seperti yang saat ini dilakukan, baik di tingkat eksekutif maupun Parlemen.
Dengan kata lain, diperlukan upaya yang sistematis, terkoordinasi dan efektif dari komunitas internasional. Sebab bila menengok fakta lain, dalam beberapa kasus negara-negara menunjukan restriksi-restriksi secara unilateral pada penjualan alat-alat kesehatan dan batasan-batasan lainnya, yang kemudian sontak mendapatkan reaksi negatif dari negara lain yang sedang membutuhkan kerjasama internasional.
Prinsip mutual understanding sebagaimana dijelaskan sebelumnya nampak tidak dicapai. Ujungnya, kedamaian seperti yang dicita-citakan Parlemen dalam statuta IPU menjadi terancam. Di tengah kepanikan seperti ini, hal ini adalah sebuah konsekuensi logis, tetapi bagaimanapun perlu dipikirkan dengan seksama cara terbaik untuk menciptakan keseimbangan antara national demand (kebutuhan nasional) dan juga international imperatives (keharusan internasional).
Sederhananya, Parlemen perlu memikirkan dengan serius upaya mengkonstruksi tata kelola rezim kesehatan global yang kokoh dan siap menghadapi pandemi. Di kemudian hari, mungkin saja wabah penyakit yang lebih besar dari COVID-19 sedang menunggu. Di sisi
4 DPR, “Puan Maharani Calls for “Gotong Royong”Spirit to ASEAN-AIPA in COVID-19 Battle” http://www.dpr.go.id/en/berita/detail/id/29185/t/Puan+Maharani+Calls+f or+%E2%80%9CGotong+Royong%E2%80%9DSpirit+to+ASEAN-AIPA+in+COVID-19+Battle
5 Ian Bremmer, “The Best Global Responses to COVID-19 Pandemic” https://time.
com/5851633/best-global-responses-covid-19/
99
ESAI PEMENANG KATEGORI UMUM
lain, sebagaimana hasil penelitian dari John Hopkins Center for Health Security, The Economist dan Nuclear Threat Initiative, tidak ada satupun negara yang sepenuhnya siap dalam menghadapi pandemi.6 Dan tentu saja, COVID-19 membuktikan sendiri kebenaran itu di mana sekarang pandemi ini telah menulari sebanyak 13,5 juta jiwa di 188 negara per pertengahan Juli 2020 dan belum menunjukan kurva yang melandai kecuali di beberapa negara saja.7
Yang patut disadari, penyebaran COVID-19 dapat ditekan bila negara-negara menunjukan kepatuhannya pada rezim IHR (2005) yang didesain untuk mengontrol penyebaran penyakit dalam skala internasional. Rezimnya menjelaskan bahwa negara-negara telah sepakat untuk memegang tanggung jawab bersama membangun kapasitas kesehatan untuk mengatasi wabah penyakit di masing-masing wilayah yurisdiksinya. Dalam upaya tersebut, negara harus bersedia bekerja sama dengan WHO sebagai otoritas yang diberi kewenangan
“mengarahkan” dan “mengkoordinasikan” isu-isu kesehatan dunia.
Bentuk kerja sama ini, salah satunya, dioperasionalisasikan melalui dibukanya akses informasi dengan transparan dan kolaboratif agar implementasi pengendalian suatu wabah diatasi lebih efektif. Apabila negara membutuhkan bantuan teknis, WHO bisa diperbantukan di negara tersebut. Bila suatu wabah membahayakan tatanan internasional, WHO diberikan wewenang untuk mengeluarkan PHEIC (Public Health Emergency of International Concern). PHEIC difungsikan sebagai peringatan pada dunia internasional bahwa penyakit telah menjadi risiko bersama dan memerlukan upaya koordinatif antar stakeholder baik itu negara, organisasi internasional, maupun sektor-sektor privat.8