• Tidak ada hasil yang ditemukan

Center For Government Trainer (Widyaiswara) Fostering

Dalam dokumen FILE DI SINI (Halaman 42-46)

Pusat Pembina Widyaiswara merupakan unit di lembaga Administrasi Negara yang mempunyai tugas merumuskan kebijakan dan melaksanakan pembinaan jabatan fungsional Widyaiswara; penyusunan dan pengembangan system informasi kewidyaiswaraan; serta pemberian batuan teknis dan Administratif kepada Pusat dan kelompok jabatan Fungsional di Lingkungannya. Sepanjang tahun 2015, Pusat Pembinaan Widyaiswara telah merevisi dan menyusun 3 Peratuaran Mengenai Pembinaan Widyaiswara, yaitu:

01

Revisi Peraturan Kepala LAN No. 4 tahun 2006 Tentang Pedoman Penyelenggaran Diklat Kewidyaiswaraan Substansi Diklat Kepemimpinan Tk. III dan Pearturan Kepala LAN no. 5 tahun 2006 tentang Pedoman Penyelenggaran Diklat Kepemimpinan Tk. IV

02

Revisi Peraturan Kepala LAN no 5 tahun 2010 tentang Pedoman Penyelnggaran Pendidikan dan Pelatihan dan Seleksi Calon Widyaiswara

03

Penyusunan Pedoman Penyelenggaraan

Pelatihan Kewidyaiswaraan Substansi Pelatihan Prajabatan Golongan I dan II dan Pedoman Penyelenggaran Diklat Kewidyaiswaraan Substansi Diklat Parjabatan Golongan II

Selain melaksanakan kegiatan diatas, Pusat Pembinaan Widyaiswara juga melaksanaan Kegiatan fasilitasi Diklat Calon Widya Sebanyak 4 angkatan dan Seleksi calon Widyaiswara jalur JPT dengan Rincian Sebagai Berikut.

Center for Widyaiswara (Government Trainer) Fostering is responsible for formulating policies and fostering Widyaiswara positions, developing information systems; as well as providing technical and administrative assistance to the Center for group of functionals. In 2015, 3 regulation concerning Widyaiswara fostering policy have been formulated.

01

Revision of NIPA Chairman Regulation number 4 year 2006 Concerning Widyaiswara Training Implementation Guidance for Leadership Training Level III and NIPA Chairman Regulation number 5 year 2006 Concerning Leadership Training Level IV Implementation Guidance

02

Revision of NIPA Chairman Regulation number 5 year 2010 Concerning Implementation Guidance of Training and Selection for Prospective Widyaiswara

03

Formulation of Widyaiswara Training Implementation Guidance for Pre Service Training Level 1 and 2 Widyaiswara Training Implementation Guidance for Pre Service Training Level II

In addition to carrying out the above activities, this center carries out 4 batches of training facilitation for Widyaiswara (Government Trainer) candidates and selection of widyaiswara.

Graik Jumlah Peserta Diklat calon WidyaiswaraNumber of Widyaiswara (Government Trainer) Candidates Training Participants

Sedangakan jumlah Peserta dari seleksi Widyaiswara Jalur JPT sebanyak 87 peserta yang berasal dari berbagi instansi.

Pusat Pembinaan Widyaiswara juga melaksanakan Kegiatan Pengembangan Widyaiswara melalui fasilitasi diklat berjenjang sebanyak 19 angkatan, dengan rincian jumlah alumni diklat berjenjang sebagai berikut:

In 2015 Center for Widyaiswara Fostering conducted 19 batches training facilitation for various levels. The number of Widyaiswara training alumni for all grades is summarized in the following chart.

Pusat Pembinaan Widyaiswara juga melakukan Fungsi Evaluasi dan Pemantauan yang melaksanakan kegiatan Penilaian dan Penetapan Angka Kerdit Widyaiswara. Dalam melakuakan penilaian dan menetapkan angka kredit, Pusat Pembinaan Widyaiswara TPP melaksanakan sidang sebanyak 4 kali dalam 1 tahun yaitu Januari, April, Juli, dan Oktober. Jumlah Daftar Usulan Penilaian Angka Kredit (DUPAK) yang masuk per periode sidang tahun 2015 dirinci sebagai berikut:

Center for Widyaiswara Fostering conducted Monitoring and Evaluation through Widyaiswara Credit Point Assessments. In 2015, this center as Central Assessment Team, carried out 4 assessment meetings: in January, April, July and October. The Number of Proposed Credit Point Assessment (DUPAK) submitted and veriied (recommended for promotion) per period of assessment can be seen in the following chart:

Number of Widyaiswara Training Alumni, All grades, 2015

Dalam fungsi Pemantauan Widyaiswara, Pusat Pembinaan Widyaiswara melaksanakan Penyusunan Database Widyaiswara Berdasarkan Nomor Induk Widyaiswara (NIWN). Adapun jumlah Widyaiswara yang pada tahun 2015 telah mendapatkan Nomor Induk Widyasiwara adalah sebagai berikut:

In exercising monitoring function, Center for Widyaiswara Fostering developed Widyaiswara Database based of Widyaiswara Identiication Number (NIWN). The following chart recorded the number of Widyasiwara who have received Identiication Number in 2015.

Jumlah Widyaiswara yang Telah Memiliki Nomor Induk Widyaiswara / Number of Widyasiwara Receiving Identiication Number (2015)

Di tahun 2015, Rakor Kediklatan menjadi salah satu kegiatan Pusat Pembina Widyaiswara. Rakor dengan tema “Permasalahan Dan Tantangan Pengembangan Kompetensi ASN Dalam Rangka Meningkatkan Daya Saing Nasional” membahas beberapa hal antara lain:

01

Permasalahan dan tantangan pengembangan kompetensi ASN dalam rangka meningkatkan daya saing nasional dengan narasumber dari Kemenpan RB, LAN dan BKN.

02

Tantangan perencanaan dan penganggaran pengembangan kompetensi ASN, dengan nara sumber dari Komisi II DPR RI, Dirjen Anggaran, dan Direktur Aparatur Bappenas.

03

Dinamika Kebijakan Pembinaan Diklat ASN, dengan narasumber Kapus Diklat KAN, Kapus Diklat TF, Badan Diklat Provinsi Jawa Tengah.

MenPAN dan RB Yuddy Chrisnandi pada Rakor tersebut dalam Keynote speech-nya mengatakan bahwa Instansi penyelenggara diklat harus dapat memahami bahwa saat ini ASN diarahkan untuk bertansformasi dari Role Base Birokrasi menjadi

Performance Base Birokrasi dan pada waktunya nanti trasformasi ASN menjadi dynamic governance pada tahun 2025. MenPAN dan RB memberikan pesan penting kepada setiap instansi pemerintah untuk melakukan hal hal sebagai berikut:

In 2015, Center for Widyaiswara Fostering organized training coordination meeting. This meeting encapsulated theme “National Civil Service Apparatus (ASN) Competence Development Issues and Challenges: Towards National Competitiveness Improvement” discussed several issues, among others:

01

Problems and challenges in ASN competence development in order to improve national competitiveness, presented by speaker from Ministry of State Apparatus and Bureaucratic Reform, NIPA and National Civil Service Agency.

02

The challenge in planning and budgeting for ASN competence development, presented by speaker from the House of Representatives-Commission II, Directorate General of Budgetting, and Director of Apparatus-National Planning Board.

03

Dynamics of ASN Training Development Policy, presented by the Head of Center For National Apparatus Leadership Training, Center For Technical and Functional Training, Central Java Province Training Agency.

Minister of State Apparatus and Bureaucratic Reform- Yuddy Chrisnandi, during his keynote speech mentioned that it is essential for training institutions to understand that at present ASN is directed to transform from Role Base to Performance Base Bureaucracy, and inally toward dynamic governance in 2025. He further conveyed an important message to all government agencies:

a. Setiap instasi wajib menyusun standar kompetensi jabatan yang ada dilingkunganya khususnya jabatan jabatan teknis sebagai pelaksanaan tugas pokok organisasinya; b. Setiap instansi wajib melakkanan analsisis

kesenjangan kompetensi , antara kompetensi jabatan dan kompetensi pegawai sehingga

proil kompetensi pegawai tersusun dengan

baik;

c. Setiap instansi wajib melakukan analisis kesenjangan antara standar kinerja dengan kinerja pegawai sehingga kenerja masing masing pegawai yang ada dilingkungannya dapat diketahui;

d. Dengan dikoordinasikan oleh lembaga administrasi negara setiap instansi wajib merencanakan kebutuhan pengembangan kompetensi di instansi dalam lima tahun kedepan yang dirinci setiap tahunnya disertai anggarannya, selanjutnya lembaga administrasi negara mengajukan rencana kebutuhan tersebut kepada kementerian PAN&RB untuk ditetapkan sebagai rencana nasional pengembangan kompetensi ASN.

a. Each institution is required to compile job competency standards in the organization, particularly for technical positions as main implementer of organization functions;

b. Each institution is required to conduct competency gap analysis, between functional competence standard and employees competence in order to have employees’ competence proile;

c. Each institution is required to conduct gap analysis between performance standard and employees competence in order to get the picture of employees’ performance;

d. In coordination with NIPA, each institution is required to develop competence development planning for the next ive years, including the details of each year plan and budget. Subsequently, NIPA has to to follow up the plan by submitting competence development plan to the Ministry of State Apparatus and Bureaucratic Reform to be formulated as a national plan for ASN competence development.

Dalam dokumen FILE DI SINI (Halaman 42-46)