• Tidak ada hasil yang ditemukan

Citra dan Orisinalitas

Dalam dokumen BAHAN AJAR ESTETIKA KARAWITAN (Halaman 63-67)

BAB III Kajian Estetika

PEMIKIRAN ESTETIKA DI INDONESIA

2. Citra dan Orisinalitas

Pemahaman mengenai dunia estetika tidak cukup hanya pada aspek bagaimana menyadari keindahan, namun juga perlu ditingkatkan pada upaya-upaya memahami nilai-nilai yang terkandung di dalamnya. Ada butir-butir esensial dalam estetika yang dapat mengangkat peradaban manusia, yaitu aspek pencitraan yang dibangun oleh proses peragaan nilai-nilai estetik. Dalam karya yang mengandung bobot estetis, di samping unsur simbolis (Langer), makna (Rader), komunikasi (Adorno), kebudian (Ki Hajar Dewantara), jejak (Derida) atau tanda (Eco), fungsi operasional (Sulivan), kebahagiaan (Ki Ageng Suryomentaram), estetika juga membangun citra dan aspek orisinalitas.

Citra dapat membangun nilai-nilai estetis lebih bermakna untuk menjadi tanda-tanda peradaban sebuah bangsa. Hal itu terbukti melalui tampilan citra yang terdapat dalam candi Borobudur, menara Eifel, patung Liberty, piramida, menara miring Pisa, lukisan Monalisa atau jembatan emas di New York, dapat membangun dan mengukur peradaban sebuah bangsa pada kurun waktu tertentu. Hancurnya gedung pencakar langit World Trade Center dan bangunan Pentagon oleh para teroris pada tanggal 11 September 2001, merupakan bukti runtuhnya sebuah citra, yaitu citra peradaban Amerika modern. Oleh karenanya harga diri sebuah bangsa pun ikut dipertaruhkan sebagai bagian dari eksistensi citra yang dibangun melalui simbol-simbol artifak.

Orisinalitas menjadi bagian yang tak terpisahkan dalam mewujudkan nilai-nilai estetik. Hal itu sebagai ukuran tingkat pendalaman proses penciptaan yang dilakukan oleh seorang seniman atau desainer. Unsur kebaruan yang menyertai orisinalitas suatu karya amatlah penting untuk membangun citra dan eksistensi suatu nilai hadir di tengah-tengah kebudayaan. Karya Picasso, Klee, Miro, Kadinsky, Polock, Lichenstein, Sottsas, Philipe Starck hingga Affandi, Popo Iskandar, Srihadi, Jeihan, G. Sidharta, Tisna Sanjaya, Heri Dono dan sebagainya dapat menonjol di masanya, bukan saja karena karyanya memiliki bobot, tetapi juga karena aspek-aspek orisinalitas yang khas dan unik menyertai karya-karya tersebut.

YB. Mangunwijaya (1929-1998)

YB. Mangunwijaya dikenal juga dengan nama Romo Mangun. Ia dilahirkan dengan nama Yusuf Bilyarta Mangunwijaya di Ambarawa tanggal 6 Mei 1929 dan meninggal tanggal 10 Februari 1999. Dikenal sebagai arsitek, sastrawan, dan pengamat masalah sosial di Indonesia. Selain sebagai pemikir masalah estetika, Mangunwijaya dikenal sebagai arsitek yang amat peduli pada kehidupan rakyat kecil. Di samping pemikirannya mengenai kegunaan suatu artifak (wastuwidya), Romo Mangun juga memiliki gagasan-gagasan penting mengenai estetika, yang secara khusus disebutnya sebagai "citra". Citra merupakan dimensi yang lebih tinggi dibanding guna, dimensi ini bersumber pada jatidiri yang mendalam dan berkualitas. Citra mewartakan mental dan jiwa para pemilik dan pembuatnya

sehingga dengan demikian dapat dikatakan bahwa citra adalah sebuah pribadi yang terwujud pada karya seni, arsitektur atau karya desain lainnya.

Seorang perancang mobil tidak mengalami kesulitan ketika merumuskan aspek- aspek teknis kendaraan rancangannya. Namun, ketika harus merumuskan gaya mobil yang sesuai dengan selera masyarakat, gaya mobil itu harus mengundang imaji dan membangun citra masyarakat agar memiliki pasar yang tinggi.

Citra, menurut Romo Mangun juga berhubungan dengan gambaran (imaji) suatu kesan penghayatan yang menangkap arti bagi seseorang. Citra berkaitan dengan dunia spiritual manusia, juga menyangkut derajat dan martabat manusia sebagai pemakai produk. OIeh karena itu, citra menunjukkan tingkat kebudayaan suatu bangsa, dan juga lambang yang membahasakan segala hal yang manusiawi, indah, dan agung.

Bagi manusia modern, tidak semua wujud artifak harus dihubungkan dengan dunia mistik atau agama. Namun demikian, kemuliaan cara menangkap makna, seperti halnya dalam kebudayaan kuno masih sangat relevan. Masalah arsitektur dan karya seni lainnya, bukan hanya masalah teknis semata, bukan pula hanya menyangkut masalah pragmatisnya saja, tetapi juga harus mampu menyentuh dimensi yang telah disentuh oleh alam, seperti wujud keindahan ikan tropika, bangunan rumah siput atau sejenisnya dan juga citra. Citra menunjuk kepada sesuatu yang transeden, memberi makna, mampu melihat ke depan dan dapat mengatasi hal-hal wadak materialistik. Arti, makna, kesejatian, citra, selain mencakup estetika, juga mencakup kenalaran ekologis, karena mendambakan sesuatu yang laras, yang bukan serba kebetulan, ataupun kesemrawutan, melainkan suatu kosmos teratur dan harmonis.

Romo Mangun berkeyakinan bahwa sari arti estetis tidak dapat diserap dari kulit- luar belaka, tetapi harus disuling dari pemahaman mendalam, tentang realitas sebenarnya. Hal itu disebabkan keindahan hanyalah kecerlangan dari kebenaran. Benar untuk saatnya, dan tempatnya yang tepat. Nilai estetis bersifat kontekstual, yang selaras dengan peradaban yang tengah berlangsung.

Achmad Sadali (1924-1987)

secara nasional, ia lebih dikenal sebagai seorang pelukis, pendidik, dan ulama. Namun dari sejumlah tulisan yang ditinggalkan dan gagasan-gagasannya yang dipaparkan dalam pelbagai kuliah filsafat seni, ceramah, dan seminar, telah menyiratkan banyak hal penting yang dapat memperkaya khasanah pemikiran estetika di Indonesia.

Gagasan-gagasan Sadali mengenai estetika berkembang sejalan dengan waktu, namun yang penting adalah gagasan-gagasannya yang diadopsi dari kesadaran religiusnya yang tinggi, terutama tentang gagasan manusia paripurna (ulil al-bab), yaitu manusia yang menggunakan saran pokok sebaik-baiknya dan seimbang, sinkron, dinamis dan tidak lepas dari rasa tanggungjawab terhadap Sang Maha Pencipta."

Manusia paripurna itu dicirikan oleh (1) memiliki kemampuan menggunakan sarana rasanya secara optimal melalui zikir setiap waktu dan setiap situasi. Sadali menyebutnya sebagai realitas iman, yaitu kemampuan manusia yang paling tinggi. (2) mereka yang mampu berpikir pada derajat yang tinggi meliputi langit dan bumi dan seisinya, (3) mereka yang mampu berada dalam kondisi religius dan keimanan melalui pernyataan bahwa tidak ada satupun ciptaan Allah yang sia-sia bagi manusia. Semua itu diakhiri dengan doa memohon keselamatan sebagai upaya pertanggungjawaban karena penghayatan iman yang memuncak." Dalam figur pribadi seorang seniman, terdapat tiga lingkungan yang melingkupinya yaitu, (1) lingkungan luar yang melingkupi kehidupan sosial keseharian para seniman atau perancang yang menjadi sumber inspirasi atau wahana yang membangun kebudayaan dalam arti luas; (2) lingkungan dalam, yaitu lingkungan sekitar seniman hidup sehari-hari sebagai wahana kreatif sang seniman dalam berkarya; (3) lingkungan dalam hakiki (intrinsic internal environment) merupakan dunia batin terdalam yang dapat diandaikan sebagai sebuah kerucut terbalik dengan puncaknya sebagai sesuatu yang terdalam.

Sadali dalam berbagai gagasannya secara berulang-ulang mengungkapkan bahwa setinggi-tingginya pencapaian manusia adalah kemampuan untuk beriman dan berada dalam wawasan keagamaan. Hal ini sejalan dengan penghayatannya tentang tingkat kesufian yang dicapai dalam berkarya estetis. Namun demikian,

dalam mencapainya tetap diperlukan sarana, dan keterampilan yang memadai sebagai suatu totalitas dari akal, rasa, dan iman.

Secara mendalam, Sadali mengungkapkan bahwa nilai estetik sebagai suatu wujud karya budaya, tidak terlepas dari dua hal yang pokok, yaitu unsur orisinalitas dan identitas, karena peniruan ataupun duplikasi amatlah tidak pantas dalam dunia kesenian. Orisinalitas merupakan hal yang amat esensial dalam proses kreasi, khususnya dalam dunia estetik, yang dibentuk oleh pandangan terhadap dunia (vision of the world) yang unik dan pribadi. Orisinalitas dalam berungkap estetik merupakan wujud keaslian dan menjadi rujukan utama suatu karya seni itu berkualitas atau bernilai. Dalam rangkaian pembentukan orisinalitas tersebut, skala dan rona kekaryaan yang luas akan membangun identitas si seniman. Identitas digambarkan sebagai gejala yang ditimbulkan oleh adanya interaksi antara pribadi seniman dan lingkungannya.

Identitas sendiri secara harfiah merupakan "ciri khas", yaitu tanda dari kepribadian yang sangat pribadi yang tidak dimiliki oleh orang lain. Kepribadian sendiri adalah jumlah keseluruhan watak sosial seseorang dan kualitas yang memancar dari pribadi orang tersebut yang merupakan eksistensi kepribadian atau kemudian dikenal sebagai identitas. Identitas yang bertanggungjawab adalah jika pada sebuah karya estetik, penciptanya membubuhkan tanda tangan sebagai wujud tanggung jawab terhadap karyanya.

Pandangan-pandangan Sadali mengenai estetika, selain kedalamannya terhadap nilai-nilai keagamaan, juga tuntutan akan pertanggungjawaban melalui orisinalitas dalam berkarya. Tanpa keduanya, karya seni yang dihasilkan tidak memiliki makna dalam kenyataan hidup berbudaya. Dengan demikian, Sadali sebagai praktisi seni dan pemikir estetika amat sadar akan daya pesona nilai-nilai

estetik, aspek

orisinalitas, identitas, dan dakwah.

Dalam dokumen BAHAN AJAR ESTETIKA KARAWITAN (Halaman 63-67)