• Tidak ada hasil yang ditemukan

Estetika Timur

Dalam dokumen BAHAN AJAR ESTETIKA KARAWITAN (Halaman 47-55)

BAB III Kajian Estetika

ESTETIKA BARAT DAN ESTETIKA TIMUR

2. Estetika Timur

Dalam kajian geo-budaya, Indonesia kerap dikategorikan sebagai negara Timur bersama dengan sebagian besar wilayah Asia Iainnya, sedangkan wilayah Eropa (juga Amerika) kerap dikategorikan sebagai negara Barat. Konsekuensinya terdapat pemisahan "semu" dengan margin yang tak pernah terdefinisikan dalam tatanan kebudayaannya, sehingga masyarakat akademis kemudian mengenal Kebudayaan Barat (kerap dianalogikan dengan unsur "rasionalitas") dan Kebudayaan Timur (kerap dianalogikan dengan "suasana hati"). Dalam peradaban dunia, dua kebudayaan ini selalu dipertentangkan. "Timur" dan "Barat" lebih berupa perseteruan, persaingan, dan perang daripada saling mengerti, bersahabat, dan bekerja sama. Bagi kebanyakan orang Timur, "Barat" selalu dihubungkan dengan kapitalisme, teknologi, dan imperialisme. Bagi masyarakat Barat, "Timur" selalu berkonotasi dengan negara-negara yang padat penduduk, serba miskin, terbelakang, dan amat tradisional.

ini perlu diuraikan tentang karakteristik nilai estetik Timur sebagai bahan perbandingan. Terdapat kecenderungan pendapat bahwa dunia merasa "Timur" lebih menekankan pada aspek intuisi daripada akal. Pada masyarakat "Timur", pusat kepribadian seseorang bukanlah pada daya intelektualnya, melainkan ada dalam hati, yang mempersatukan akal budi, intuisi, kecerdasan, dan perasaan. Masyarakat Timur menghayati hidup dalam apa adanya, bukan semata akali. "Hati" atau "rasa" dinilai sebagai pengganti logika kaku yang serba terbatas menghadapi kebenaran hidup. Manusia Timur memiliki suatu bentuk pemikiran berdasarkan intuisi, yang akrab, hangat, personal, dan biasanya memiliki kedekatan dengan realitas yang hakiki.

Di belahan Timur, terutama Asia, filsafat Budhisme telah terbangun menjadi kedayaan tersendiri yang menekankan bahwa manusia telah mengalami pencerahan di luar pendekatan rasional. Manusia mengalami proses pengosongan, penghampaan, peniadaan, untuk mencapai "kesadaran ontologis yang setinggi-tingginya", "melihat ke dalam hakikat benda-benda", dan juga untuk "menyadari diri yang benar". Hanya mereka yang telah melalui latihan moral mampu mengembangkan kebajikan moral yang lebih tinggi, dan peningkatan konsentrasi mental untuk mengembangkan pengetahuan yang lebih tinggi dan selanjutnya mampu mencapai kebebasan.

Di dunia Timur, aspek "rasa", luar akal, misteri, teka-teki, kekacauan, ketaklogisan, fantasi, dan sebagainya, diterima sebagai suatu dunia yang berada "di atas" yang bersifat rasional. Masyarakat Timur adalah masyarakat yang hidup dalam kebudayaan agraris yang senantiasa terbiasa dengan bahasa diam, tenang, langit, musim, tanah, awan, dan bulan. Umumnya mereka mengalami betapa alam menunjukkan diri dalam "diam", tetapi mengesankan. Dalam kesederhanaan hidup, masyarakat Timur lebih melatih dengan perasaan daripada pikiran. Perasaan lebih sulit diungkapkan lewat kata-kata, sehingga dihindari tingkah banyak berbicara, tetapi lebih banyak "diam", lebih menggunakan tanda, sikap, dan komunikasi. Budhisme Zen termasuk wujud "Timur" menyangsikan kemampuan kata-kata.

adalah ajaran Zen, di samping ajaran Budhisme. Ajaran Zen hakikatnya adalah suatu pancaran langsung di luar kitab suci, tidak bergantung pada kata-kata dan tulisan, langsung menuju ke hati, ke dalam hakikat sesuatu berupa:

a. Abstraksi dan Simbolik Sebagai Realitas

Dalam masyarakat Timur, sesuatu yang abstrak dan simbolik dianggap sebagai suatu realitas. Cerita tentang mitos Nyi Roro Kidul, merupakan sesuatu yang dianggap sebagai Ratu Kidul yang kongkrit. Secara berkala masyarakat pantai selatan melakukan upacara dan persembahan. Keris, bukanlah hanya sekadar senjata untuk bertempur, melainkan juga dianggap sebagai suatu realitas simbolik benda yang memiliki kedayaan magis sehingga pada hari-hari tertentu harus dimandikan dan diupacarakan.

b. Ilmu dan Kebijaksanaan

Di Timur, tujuan hidup pertama adalah menjadi bijaksana. Pengetahuan intelektual saja tidak mampu membuat seseorang menghayati hidup lebih baik, namun dianggap sebagai pemborosan waktu belaka. Menurut bangsa-bangsa di Timur, hidup merupakan suatu "seni" yang sulit serta memerlukan latihan dan refleksi sepanjang hidup. Sebuah pepatah Vietnam mengungkapkan bahwa pertama sekali manusia harus belajar bagaimana "membawakan diri"; setelah itu barulah belajar kesusastraan. Tagore berpendapat ada nilai hidup yang tinggi dan untuk mencapainya manusia membutuhkan perjuangan lebih daripada usaha seumur hidup di dalam seluruh proses peradaban. Dalam konsep pendidikan Taman Siswa di Indonesia, salah satu tujuan utama pendidikannya adalah membentuk manusia yang berbudi luhur, baru kemudian menjadi manusia yang terampil.

c. Kesatuan Dengan Alam

Filsafat dasar Budhisme adalah wujud substansialitas dari segala yang ada. Segala sesuatu yang ada dalam seluruh alam semesta, yang berjiwa ataupun tidak justru sesungguhnya berasal dari "Yang Satu", "Yang Tak Dilahirkan", "Yang Tak Diciptakan". Pencerahan dalam Budhisme adalah suatu keadaan kesadaran kosmis ketika diri menyadari kesamaannya dengan diri universal: "Engkau adalah Ini”. Segala yang ada mengambil bagian dari hidup yang

sama yang ada dalam Aku. Mereka merupakan diriku yang seluruhnya. Totalitasku yang agung, tempat Aku datang dan ke mana Aku kembali kalau nasib yang cuma sekejap ini berlalu. Aku ada di sini karena yang lain juga ada ".

d. Harmoni

Harmoni dengan alam merupakan inspirasi utama Taoisme. Semangat Wu-Wei menjadi selaras dengan "Tao", yang dianggap sebagai sumber segala yang ada. Manifestasi agung dari "Tao"adalah alam semesta, setiap benda mempunyai jalan, aturan, ritme, karena itu menjadi selaras dengan "Tao" berarti menjadi harmoni dengan diri sendiri dan "segala sesuatu". Seni lukis dan arsitektur dapat berbicara lantang mengenai semangat para Taois yang harmonis dengan alam. Kuil-kuil dan rumah tidak didirikan terpisah dari pemandangan alam, tetapi menempel di kaki bukit, di kaki pohon, dan menyatu dengan lingkungan. Beberapa menara pagoda dengan atapnya yang melengkung sangat harmonis dengan alam sekitar. Dalam seni lukis, subjek yang paling disenangi ialah alam. Kata-kata "Cina" untuk lukisan pemandangan tersusun dari dua akar kata, yaitu "gunung" dan "air". Gunung mengesankan keluasan, kesunyian, dan stabilitas; dan Air mewujudkan keluwesan, kesabaran, dan gerak terus-menerus.

Keindahan yang tidak dibuat-buat mendorong manusia bersikap sederhana dan harmonis dalam hatinya. Jiwa yang penuh kecemasan, penuh nafsu, dan benci merupakan nada-nada sumbang dalam simfoni universal itu. Para Taois mengatur hidup batinnya sedemikian rupa sehingga mereka merasa senada dengan "musik" alam semesta. Inilah yang dimaksud menjadi senada dengan "Tao". Kesatuan dengan alam merupakan rahasia keseimbangan dan ketenteraman yang dicerminkan dalam cara hidup orang Timur.

=+=

Penutup

Pada bab ini telah disampaikan masalah keindahan menurut para tokoh pemikir estetika pada masa Yunani Kuno di antaranya Socrates, Plato, dan Aristoteles. Setelah kejayaan peradaban Yunani Kuno, Estetika Barat mengalami proses

kegelapan yang panjang seiring dengan kebudayaannya. Sedangkan di belahan lain, berkembang kebudayaan Islam dengan pemahaman-pemahaman estetika yang mengalami kemajuan-kemajuan penting dari pemikiran-pemikiran estetika zaman Yunani. Beberapa abad kemudian, perkembangan ini kurang menjadi wacana estetik dunia, karena peran tekstualisasi Barat yang sangat dominan dalam khasanah intelektual. Di era Posmodern, estetika kembali menjadi bahan kupasan yang luas sebagai bagian dari kajian filsafat nilai. Hal itu karena penampakkannya semakin teraga dan sejalan pula dengan fenomena sosial yang tengah dihadapi pelbagai bangsa di dunia.

Dalam masyarakat Timur, sesuatu yang abstrak dan simbolik dianggap sebagai suatu realitas. Di Timur, tujuan hidup pertama adalah menjadi bijaksana. Pengetahuan intelektual saja tidak mampu membuat seseorang menghayati hidup lebih baik, namun dianggap sebagai pemborosan waktu belaka. Filsafat dasar Budhisme adalah wujud substansialitas dari segala yang ada. Harmoni dengan alam merupakan inspirasi utama Taoisme. Semangat Wu-Wei menjadi selaras dengan "Tao", yang dianggap sebagai sumber segala yang ada.

Dengan terselesaikannya materi pada bab ini (bab IV), maka tes formatif perlu dilakukan. Tes ini dimaksudkan untuk mengetahui apakah materi yang disampaikan telah dapat dipahami oleh mahasiswa. Tugas yang segera dilakukan oleh mahasiswa adalah pada akhir perkuliahan mahasiswa diminta membuat rangkuman. Rangkuman yang dibuat mahasiswa sebagai umpan balik dan koreksi kepada dosen pengampu matakuliah sekaligus untuk pembenahan materi di masa mendatang. Penguasaan dan pemahaman terhadap materi yang telah disampaikan (pemikiran estetika barat dan estetika timur) merupakan dasar untuk dapat memahami materi berikutnya yaitu pemikiran estetika di Indonesia. Untuk mengukur dan mengetahui penyerapan atau penguasaan bagi mahasiswa terhadap materi yang telah disampaikan berikut disampaikan tes formatif yang wajib dikerjakan oleh mahasiswa. Berikut beberapa contoh soal untuk dijawab oleh mahasiswa.

1. Menurut Socrates keindahan itu relatif terhadap yang lain, dan keindahan yang mutlak adalah tetap buatan yang Maha Kuasa, jelaskan tentang keindahan menurut Socrates!

2. Sampai abad ke-20 gagasan Plato tentang keindahan masih menjadi wacana kajian estetika, jelaskan gagasan keindahan menurut Plato tersebut!

3. Terdapat perbedaan mendasar tentang keindahan antara pemikiran Plato dengan Aristoteles, jelaskan perbedaan pemikiran dimaksud!

4. Setelah peradaban Yunani mengalami proses kegelapan, di lain belahan berkembang kebudayaan Islam, bagaimanakah pemikiran kebudayaan Islam pada waktu itu, jelaskan!

5. Pemikiran Leibniz dan Baumgarten menjadi wacana penting pada era pencerahan kebudayaan barat, jelaskan pemikiran-pemikiran kedua tokoh ini! 6. Estetika barat dan estetika timur dinilai tidak sejalan dalam arti berlawanan.

Bagaimanakah prinsip-prinsip estetika timur, jelaskan.

7. Dalam masyarakat timur, sesuatu yang abstrak dan simbolik dianggap sebagai suatu realitas, berikan contoh pandangan yang demikian!

8. Dalam pandangan Taoisme harmoni merupakan inspirasi utamanya, apa maksud dari pernyataan tersebut, jelaskan!

=+=

Rangkuman Bab IV

1. Estetika Barat dimulai pada zaman Yunani, adalah Socrates menyatakan bahwa di balik semua benda yang indah, terdapat keindahan yang terbangun oleh dirinya sendiri, itulah keindahan yang benar-benar indah dalam arti sesungguhnya.

2. Aristoteles beranggapan bahwa keindahan suatu benda hakikatnya tercermin dari keteraturan, kerapian, keterukuran, dan keagungan. Keindahan yang dicapai adalah keserasian bentuk (wujud) yang setingi-tingginya

3. Menurut Plato upaya kontemplatif merupakan upaya untuk memperoleh kebenaran sejati yaitu keindahan abadi. Gagasan Plato tentang keindahan

merupakan keindahan ideal, sampai abad ke-20 tetap menjadi wacana dalam kajian-kajian estetika di lingkungan perguruan tinggi.

4. Terdapat perbedaan mendasar antara Plato dengan Aristoteles dalam memandang keindahan. Plato menilai keindahan ideal adalah yang selalu membawa pada keindahan yang tak terbatas, sedangkan Aristoteles secara bijaksana mulai menawarkan simbol-simbol keindahan yang dapat dijumpai pada pelbagai benda yang indah, karya sastra yang mempesona, dan juga bangunan yang agung.

5. Setelah peradaban Yunani mengalami proses kegelapan yang panjang, dibelahan lain berkembang kebudayaan Islam dengan pemahaman-pemahaman estetika yang mengalami kemajuan penting dari pemikiran estetika Yunani. Beberapa abad kemudian, perkembangan ini kurang menjadi wacana estetik dunia, karena peran tekstualisasi barat yang sangat dominan dalam khasanah intelektual.

6. Pemikiran estetika klasik, terutama Leibniz dan Baumgarten menjadai wacana penting di era pencerahan, yaitu pemikiran Leibniz estetika sebagai simbolisme, vitalisme, dan teleologisme, sedangkan pemikiran Baumgarten estetika sebagai ilmu.

7. Setelah periode Kant, masa berikutnya dikenal sebagai era estetika positivis, estetika yang berorientasi pada pendekatan-pendekatan keilmuan, tokohnya antara lain Fechner, Souriau, Taine, Spencer, Chevruel, Toistoy dan lain-lain. 8. Di era postmodern, tumbuhnya sub budaya baru yang meluas, serta spirit multikulturalisme menjadikan runtuhnya sekat-sekat dalam wacana estetik, karena tidak ada lagi Timur-Barat, Atas-Bawah, Lokal-Global, Kontekstual-Universal, Makna-Instan, Realitas-Simulasi, Kelembutan-Horor, ataupun Tradisional-Modern. Semuanya masuk ke dalam percaturan Postrukturalisme. 9. Estetika timur cenderung lebih menekankan pada aspek intuisi dari pada akal.

Pada masyarakat timur, pusat kepribadian seseorang bukanlah pada daya intelektualnya melainkan ada dalam hati, yang mempersatukan akal budi, intuisi, kecerdasan, dan perasaan.

10. Estetika Timur sering mengacu pada fisafat Budhisme dan juga ajaran Zen dimana hakikat sesuatu yang abstrak dan simbolik dianggap sebagai suatu realitas. Dalam hakikat Ilmu dan kebijaksanaan, menurut bangsa-bangsa timur, hidup merupakan suatu seni yang sulit serta memerlukan latihan dan refleksi sepanjang hidup.

11. Dalam hakikat kesatuan dengan Alam, filsafat dasar Budhisme; segala sesuatu yang ada dalam seluruh alam semesta, yang berjiwa ataupun tidak justru sesungguhnya berasal dari “Yang Satu”, “Yang Tak Dilahirkan”, “Yang Tak Diciptakan”. Harmoni dengan alam merupakan inspirasi utama Taoisme; setiap benda mempunyai jalan, aturan, ritme, karena itu menjadi selaras dengan “Tao” berarti menjadi harmoni dengan diri sendiri dan “segala sesuatu”.

=+=

Penyekat Bab V

TIK: Pada akhir pertemuan ini mahasiswa diharapkan mampu menjelaskan kajian

pemikiran estetika di Indonesia yang meliputi; a. Keluhuran budi dan moralitas

b. Budaya yang hidup

c. Keindahan yang membumi d. Historisitas

e. Mencumbui makna

Pokok Bahasan: Pemikiran Estetika di Indonesia.

Deskripsi Singkat: Dalam pertemuan ini dibahas tentang pemikiran estetika di

Indonesia yang meliputi; Keluhuran budi dan moralitas, Budaya yang hidup, Keindahan yang membumi, Historisitas, Mencumbui makna. Pemahaman terhadap hal-hal tersebut sebagai jembatan untuk memahami materi berikutnya yaitu pemikiran estetika Jawa dan Seni Pertunjukan.

Bahan Bacaan.

1. Agus Sachari, (2002), Estetika; Makna, Simbol dan Daya. ITB Bandung. 2. Muji Sutrisno (1999), Kisi-Kisi Estetika. Kanisius. Yogyakarta.

3. Mudji Sutrisno, (2010), Ranah-ranah Estetika, Kanisius, Yogyakarta. 4. A.A. M. Djelantik (1999), Estetika Sebuah Pengantar. Masyarakat Seni

Pertunjukan Indonesia.

5. The Liang Gie, (1976), Garis Besar Estetik (Filsafat Keindahan), Yogyakarta: Penerbit Karya Yogyakarta.

=+=

BAB V

Dalam dokumen BAHAN AJAR ESTETIKA KARAWITAN (Halaman 47-55)