• Tidak ada hasil yang ditemukan

Manusia Modern dan Kerinduannya Akan yang Afektif

Dalam dokumen BAHAN AJAR ESTETIKA KARAWITAN (Halaman 35-40)

BAB III Kajian Estetika

4. Manusia Modern dan Kerinduannya Akan yang Afektif

Untuk menelusuri masalah ini kita akan mendasarkan diri pada pandangan van Peursen akan tiga tahap perkembangan kebudayaan. (van Peursen, Strategi Kebudayaan, 1976, hIm. 37 dst.).

Pertama tahap mitis:

daya kekuatan alam masih melingkungi manusia. Manusia 'berpartisipasi' dalam kekuatan alam. Sebagai akibatnya estetikanya mitis! Mental partisipasi ini yang membuat orang kuno bisa mengalami yang adiduniawi langsung dan afektif (Bruhl, Paris 1949). Yang Kudus menghablur jadi "Allah", dewa-dewi, roh-roh, magi di dalam alam sekitar.

Kedua tahap ontologis:

Pada tahap ini manusia ambil jarak terhadap lingkungan dan diri sendiri. Manusia: subyek di luar lingkaran 'lingkungan dan diri sendiri'. Ia memberi batas-batas dalam bentuk-bentuk rumusan, definisi dengan pengertian rasional.

Ketiga tahap rasional:

Kebudayaan rasional membuat batas antara manusia dan kosmos, subyek dan obyek; individu dan kelompok. Manusia menguasai alam secara rasional.

Dalam kebudayaan modern: pengalaman 'yang ilahi' atau Yang INDAH,

dicurigai: karena afeksi emosi dianggap sebagai ilusi (kebutaan jatuh cinta).

Iman diyakini sebagai bermakna andai kata sungguh pribadi, tapi ternyata sulit menemui Allah sebagai pribadi yang transenden. Kebudayaan modern mengalamai proses desakralisasi: alam, matahari, dunia tidak lagi dialami sebagai hierofani atau penampakan Yang Kudus, obyek penguasaan oleh akal dan teknik manusia.

Tetapi pengalaman akan yang ilahi, akan yang INDAH itu dibutuhkan karena adanya jurang antara iman dengan pengalaman sehingga iman tinggal sebagai konsep kebenaran yang tak dialami eksistensial.

Manusia modern menyadari berat-sebelahnya kehidupan yang melulu ditentukan rasio. Di satu pihak, dengan rasio dan proses desakralisasi dimungkinkan pembangunan dunia. Di lain pihak, kerugian yang dialami yaitu ada celah tajam antara pengalaman terhadap dunia dengan iman tentang Allah yang diakibatkan rasio.

Oleh karena itu, orang modern mencari, rindu aspek 'non rasional' dari kehidupan ini yang dicarinya dengan memelihara perlambangan: sastra, seni, musik, tari, komunikasi non-verbal dalam mistik, meditasi. Soalnya adalah apakah pencarian akan pengalaman estetis itu sekedar merupakan gejala manusia

mencari keseimbangan hidupnya: karena goncangan yang terlalu rasional lalu butuh afeksi? Ataukah ungkapan kerinduan eksistensial dari yang terbatas, yang kecil untuk menggapai yang TAK TERBATAS?

Yang ilahi atau yang indah dialami orang lewat alam. Dan kita melihat bahwa orang yang makin tergantung pada alam makin peka terhadap pengalaman akan yang ilahi itu. Kita melihat bagaimana petani lebih peka, lalu juga buruh dan wanita kemudian baru para cendekiawan. Pengalaman itu juga bisa terjadi pada saat orang berhasil mengatasi saat-saat sakit atau kalau orang merenungkan evolusi jagad raya.

=+=

Penutup

Pada bab ini telah disampaikan mengenai bagaimana mendekati atau meneliti keindahan baik yang alamai maupun yang buatan. Dalam hal ini ada dua pendekatan yaitu langsung mendekati keindahan itu sendiri, dan kedua menyoroti situasi kontemplasi rasa indah yang sedang dialami oleh si subyek. Selain itu juga disampaikan alas an-alasan mengapa keindahan itu perlu dipelajari. Pendalaman soal perasaan, dan hubungannya dengan AKU adalah hal berikutnya dalam bab ini. Sementara itu menelusuri afektif pada manusia modern menurut pandangan Van Peursen ada tiga tahap yakni tahap mistis, tahap ontologis dan tahap rasional. Apakah mahasiswa dapat memahami materi yang sudah diberikan, kiranya diperlukan langkah kerja yang harus dilakukan oleh mahasiswa. Langkah dimaksud adalah, setelah selesai kuliah pada tahap ini mahasiswa diminta membuat rangkuman untuk dapat dilihat penyerapan atau pemahaman materi yang dipelajarinya. Rangkuman ini berfungsi sebagai umpan balik kepada dosen pengampu matakuliah untuk ditindaklanjuti. Hasil rangkuman dari mahasiswa dapat digunakan sebagai koreksi atau pembenahan bagi dosen untuk materi di masa mendatang. Penguasaan dan pemahaman materi pada bab ini sangat membantuk mahasiswa untuk dapat mengikuti materi berikutnya yaitu pendekatan Estetika Barat dan Estetika Timur. Untuk mengukur dan mendapatkan gambaran mengenai penyerapan atau penguasaan bahan bagi mahasiswa terhadap materi

yang sudah disampaikan berikut disampaikan tes formatif yang wajib dikerjakan oleh mahasiswa. Berikut beberapa contoh soal untuk dijawab oleh mahasiswa.

Latihan Soal

1. Pendekatan estetika salah satunya adalah melalui situasi komtemplasi rasa indah, jelaskan pandangan anda mengenai situasi kontemplasi rasa indah dimaksud!

2. Menurut Clive Bell estetika mesti berangkat dari pengalaman pribadi yang berupa rasa khusus atau istimewa, apa yang dimaksud dengan pengalaman pribadi, jelaskan?

3. Menurut G.E. Moore terdapat 3 alasan untuk mempelajari estetika, sebutkan ketiga alasan tersebut dan jelaskan masing-masing alasan!

4. Menurut Mudji Sutrisno dalam refleksi filsafati keindahan terdapat dua syarat untuk bisa mengalami Yang Kudus, Yang INDAH melalui dunia, jelaskan kedua persyaratan tersebut!

5. Dalam mempelajari estetika kita mengenal istilah Afeksi, jelaskan apa yang anda ketahui tentang arti dari kata Afeksi tersebut!

6. Menurut Van Peursen perkembangan kebudayaan terdiri dari tahap mistis, ontologis, dan rasional. Jelaskan secara singkat dari ketiga tahapan tersebut!

=+=

Rangkuman Bab III

1. Dua pendekatan estetika yaitu; langsung meneliti keindahan itu dalam obyek atau benda atau alam serta karya seni, kedua menyoroti situasi kontemplasi rasa indah yang sedang dialami oleh si subyek.

2. Keindahan mesti berangkat dari pengalaman pribadi, pernah mengalami sendiri bukan karena diberi tahu. Oleh sebab itu keindahan hanya dapat ditemukan oleh orang yang dalam dirinya sendiri punya pengalaman yang bisa mengenali wujud bermakna dalam benda atau karya seni tertentu dengan rangsangan keindahan.

3. Menurut G.E. moore ada 3 alasan untuk mempelajari karya seni yaitu karena karya seni itu begitu berharga sehingga orang mempelajari ciri-ciri khasnya demi karya seni itu sendiri. Kedua keindahan itu begitu berharga untuk kelompok maupun anggotanya. Ketiga pengalaman seni begitu bernilai sehingga membutuhkan pengujian mengenai kualitas karya seni.

4. Ada dua tolok ukur pengalaman keindahan, pertama karya seni itu berharga sebagai keindahan melulu karena karya seni itu bernilai. Kedua pengalaman estetis akan suatu karya seni itu amat tergantung pada subyek pemiliknya. 5. Dua pendalaman filsafati yaitu pertama, bahwa pengalaman estetika berkait

dengan soal perasaan, dan kedua ada hubungannya dengan AKU atau Yang Kudus. Perasaan itu mengkaitkan seluruh ada kita dengan totalitas jagad. Perasaan itu merupakan salah satu pembahasan, pemberian kata, pemberian arti pada jagad dan ke-ada-an kita.

6. Dengan afeksi orang dibawa keluar dari dirinya dan diarahkan ke dunia. Afeksi memang fenomena keterarahan. Afeksi itu lebih berciri menerima dan dikenai daripada aktif memulai.

7. Menelusuri afektif pada manusia modern menurut pandangan Van Peursen ada tiga tahap yakni tahap mistis, tahap ontologis dan tahap rasional. Mistis orang tenggelam dalam daya kekuatan alam, oleh sebab itu estetikanya mistis. Tahap ontologis manusia mengambil jarak terhadap lingkungan dan diri sendiri. Tahap rasional terdapat batas antara manusiaa dan kosmos, subyek dan obyek, individu dan kelompok. Manusia menguasai alam secara rasional.

=+=

Penyekat Bab IV

TIK: Pada akhir pertemuan ini mahasiswa diharapkan mampu menjelaskan

pendekatan estetika barat dan estetika timur yang meliputi; a. Estetika Barat

b. Estetika Timur yang membahas antara lain; abstraksi dan simbolik sebagai realitas; ilmu dan kebidajaksanaan; kesatuan dengan alam; dan harmoni.

Pokok Bahasan: Pemikiran Estetika Barat dan Timur

Deskripsi Singkat: Dalam pertemuan ini dibahas tentang Pemikiran Estetika

Barat dan Estetika Timur; (abstraksi dan simbolik sebagai realitas; ilmu dan kebidajaksanaan; kesatuan dengan alam; dan harmoni). Pemahaman terhadap hal-hal tersebut sebagai dasar untuk memahami materi berikutnya yaitu pemikiran estetika di Indonesia.

Bahan Bacaan.

1. The Liang Gie, (1976), garis Besar Estetik (Filsafat Keindahan), Karya Kencana, Yogyakarta.

2. Agus Sachari, (2002), Estetika; Makna, Simbol dan Daya. ITB Bandung. 3. The Liang Gie, (1976), Garis Besar Estetik (Filsafat Keindahan),

Yogyakarta: Penerbit Karya Yogyakarta.

4. Nyoman Kutha Ratna, (2006), Estetika Sastra dan Budaya. Pustaka Pelajar.

=+=

BAB IV

Dalam dokumen BAHAN AJAR ESTETIKA KARAWITAN (Halaman 35-40)