• Tidak ada hasil yang ditemukan

ESTETIKA JAWA DAN SENI PERTUNJUKAN Pendahuluan

Dalam dokumen BAHAN AJAR ESTETIKA KARAWITAN (Halaman 97-101)

BAB III Kajian Estetika

ESTETIKA JAWA DAN SENI PERTUNJUKAN Pendahuluan

BAB VI

ESTETIKA JAWA DAN SENI PERTUNJUKAN Pendahuluan

Pada bab VI ini dipaparkan tulisan Agus Sachari yang membahas tentang estetika Jawa. Di dalam pembahasan tersebut estetika Jawa mengandung beberapa sifat diantaranya adalah sifat kontemplatif-transendental, sifat simbolistik, dan sifat filosofis. Untuk membicarakan seni pertunjukan khususnya seni pedalangan dipadukan beberapa tulisan dari Purba Asmoro, Soewita Santoso dan Woro Aryandini. Pembahasan seni pedalangan ini menyangkut masalah pergelaran, cerita, dan penonton. Sedangkan pembicaraan tentang seni pertunjuan Tari, disampaikan tulisan Wahyu Santoso Prabowo. Tulisan tersebut membahas masalah; unsur estetika tari yang termuat dalam Serat Kridhwayangga, dan Serat

Wedhataya. Pemahaman terhadap konsep estetika pada seni pedalangan dan seni tari dalam bab ini menjadikan salah satu pijakan untuk dapat memahami materi berikutnya yaitu unsur pembentuk estetika karawitan. Adapun pembahasan materi dalam bab ini selengkapnya seperti dipaparkan berikut ini.

Penyajian Estetika Jawa

Estetika Jawa merupakan bagian dari kebudayaan Timur, namun dalam paparan ini sengaja dipisahkan agar memiliki keseimbangan dengan kedayaan kebudayaan Timur yang berkembang di wilayah Jepang, Semenanjung Korea hingga Thailand. Meskipun kedayaan budaya Jawa pengaruhnya tidak seluas Budhisme, Zen, ataupun Taoisme, tetapi kebudayaan ini memiliki ciri khas tersendiri berupa paduan aneka budaya Timur dan juga kebudayaan Islam dan Jawa teradat. Bahkan setelah berlangsungnya proses kolonialisasi, kebudayaan Jawa semakin diperkaya oleh dinamika kebudayaan Barat.

Estetika Jawa dapat disimak dalam pelbagai bentuk karya seni, baik seni bangunan, seni widya maupun pewayangan, seni sastra, dan pelbagai barang yang mengandung makna tertentu bagi orang Jawa. Kebudayaan Jawa, terutama yang berkaitan dengan ekspresi estetiknya mengandung ciri-ciri utama. Ciri-ciri itu di antaranya:

I. Bersifat Kontemplatif-Transedental

Masyarakat Jawa dalam mengungkapkan rasa keindahan yang terdalam, selalu mengaitkannya dengan perenungan (kontemplasi) yang mendalam, baik terhadap yang Mahakuasa, pengabdian kepada raja, kecintaan terhadap negara, penghayatan pada alam maupun merupakan pengejawantahan dari dunia mistis. Apapun yang diungkapkan selalu mengandung makna untuk mengagungkan sesuatu atau mengungkap sesuatu. Tentu saja dalam tindakannya, banyak dipengaruhi oleh pelbagai hal, misalnya pengaruh dogma agama, adat, kebiasaan, daerah, teknik, bahan, dan pakem.

2. Bersifat Simbolistik

Masyarakat Jawa, dalam setiap tindakan berekspresi selalu mengandung makna simbolistik. Hal itu dapat diamati dalam seni pedalangan wayang kulit

purwa. Seni pedalangan hakikatnya merupakan rangkuman dari tindakan-tindakan simbolis yang terpadu. Hal itu tercermin mulai dari tujuan menyelenggarakan atau menanggap wayang yang bertujuan untuk kaul ataupun sebagai peringatan hari-hari bahagia. Lakon yang dipilih biasanya dikaitkan dengan tujuan menyelenggarakan hajat dan menanggap wayang. Para tokoh dalam pewayangan yang digelar pun merupakan simbol-simbol tertentu yang mencerminkan kehidupan dan falsafah masyarakat Jawa. Tindakan simbolis lainnya adalah penabuh gamelan dan sinden harus hadir sebagai pengiring untuk menghidupkan suasana dan mencerminkan suatu tataran tingkat kehidupan manusia. Begitu dhalang duduk di tempatnya dan ketika gendhing atau lagu patalon dibunyikan, berarti ruh atau jiwa manusia yang akan menghidupi wayang telah memasuki zat kehidupan.

3. Bersifat Filosofis

Masyarakat Jawa dalam setiap tindakannya selalu didasarkan atas sikap tertentu yang dijabarkan dalam pelbagai ungkapan hidup. Hal itu ditunjukkan oleh ungkapan aja dumeh (jangan sok), Ngono yo ngono ning ojo ngono (begitu ya begitu, tetapi jangan begitu), mamayu hayuning bawana (memelihara perdamaian dunia), dan sebagainya. Ungkapan-ungkapan filosofis tersebut, hakikatnya melandasi sebuah sikap "Manusia Jawa" dalam perbuatannya. Demikian pula dalam konsep estetik Jawa selalu bermakna filosofis. Hal itu terungkap pada falsafah yang menyertai pelbagai benda yang dibuat oleh orang Jawa. "Pacul" diartikan sebagai ngipatake sing muncul atau menyingkirkan penghalang. Dalam kehidupan manusia, pacul secara harfiah sebenarnya berfungsi untuk menyingkirkan tanah yang tidak rata. Kemudian tangkai pacul yang terbuat dari kayu disebut doran, yang artinya ndedonga marang Pangeran atau berdoalah kepada Tuhan. Tanpa doran, pacul tidak ada gunanya, karena itu manusia harus senantiasa berterima kasih kepada Sang Maha Pencipta.

Ketiga sifat di atas berlaku secara lentur pada ungkapan estetik orang Jawa. Hal ini berbeda dengan struktur estetika Barat yang lebih konservatif, terbuka terhadap kritik, dan dinamis. Struktur estetik Jawa lebih cenderung "demokratis",

agak tertutup, dan bersifat statis. Demokratis bisa bermakna seni jika semuanya total; pemain, penonton, pengamat, pemberi dana, dan lingkungan menjadi satu pagelaran yang hidup dan saling melengkapi, terutama terlihat dalam pementasan wayang kulit. Bahkan kadang-kadang ungkapan estetik menjadi tidak dikenal lagi siapa penciptanya. Pertunjukan itu menjadi milik semua, dinikmati dan dihayati oleh semua. Meskipun demikian, aksentuasi selalu ada sebagai selingan atau penerobos kemonotonan. Dalam wayang kita mengenal tokoh panakawan yang selalu menghadirkan guyonan memikat, serta memecah suasana monoton tersebut, di samping bentuknya yang berbeda dari yang lain.

Ungkapan estetik Jawa agak tertutup, maksudnya dalam pelbagai jenis kesenian, budaya kritik belum tumbuh dengan baik, terutama kesenian yang bersifat tradisi. Oleh karena itu, terdapat kesulitan menelusuri pola perkembangan estetika Jawa tradisional yang diwarnai oleh kupasan apresiasi yang sistematis dan mendalam dari intelektual orang Jawa sendiri. Hal ini disebabkan ada keengganan dari masyarakat Jawa untuk mengritik atau membahas karya-karya kesenian, terutama yang lahir di kalangan istana; di samping budaya kritik sendiri belum tumbuh dalam kehidupan masyarakat Jawa.

Para pengamat menafsirkan bahwa kebudayaan Jawa bersifat statis. Pengembangan dan inovasi baru jarang dilakukan, karena dikhawatirkan merusak pakem atau aturan-aturan permainan yang telah lama diyakini sebagai suatu kebenaran. Tetapi, jika kita kaji lebih jauh dalam pelbagai konteks kebudayaan Jawa, sifat ketertutupan tersebut tidak begitu telak terkunci, namun masih memiliki keterbukaan. Hal itu terbukti bahwa terdapat pengaruh dari kebudayaan Hindu, Budha, Islam, Barat, serta kebudayaan lainnya, dan justru membangun kebudayaan Jawa secara lebih berbobot.

Di samping tiga faktor di atas, struktur estetika Jawa juga dibentuk oleh pelbagai unsur yang melandasi perilaku dan hierarki sosial. Dalam kebudayaan Jawa dikenal pula yang disebut sebagai "kesenian rakyat" dan "kesenian keraton". Kesenian rakyat amat populer di kalangan masyarakat Jawa, seperti tayuban, jembung, ketoprak, jaran kepang, wayang wong, lengger, ronggeng, dan sebagainya, sedangkan beberapa kesenian keraton, diantaranya seperti tari

kawruh, tari topeng, dagelan mataram, jathilan, tari gambyong, membatik, macapat, dan sebagainya. Beberapa jenis kesenian itu akhirnya merakyat juga, terutama setelah era kemerdekaan. Walaupun begitu, jarak antara kesenian rakyat dan kesenian keraton selalu ada. Hal itu disebabkan kesenian rakyat jauh lebih dinamis dan tidak mementingkan bobot filosofis yang dalam, sedangkan kesenian keraton umumnya mencoba mempertahankan tradisi dan pakem estetikanya, sehingga kemudian dalam perkembangan selanjutnya kedua kutub kesenian ini memiliki arah yang berbeda dalam banyak hal.

Bagi sebagian besar masyarakat Jawa, karya estetik yang bermakna adalah karya estetik yang dapat dipahami oleh masyarakat dan melibatkan masyarakat banyak. Meskipun terdapat perkembangan karya estetik di lingkungan keraton, tetapi makna yang diperoleh terbatas hanya pada lingkungan elite tertentu saja, meskipun makna estetik yang kemudian berkembang menjadi perlambang kemajuan budaya Jawa secara keseluruhan.

Nilai estetik Jawa modern merupakan fenomena lain yang justru memiliki keunikan tersendiri. Jika dicermati dalam bentuk rumah, akan tampak sosok baru berupa perpaduan antara Jawa tradisi, estetik Barat modern, dan wujud paduan aneka gaya budaya. Estetika Jawa merupakan model analogis yang juga berkembang di daerah lain di wilayah Indonesia, seperti di tataran Sunda, Minangkabau, Toraja, Bali, Kutai, Lombok, hingga Irian.

SENI PERTUNJUKAN

Dalam dokumen BAHAN AJAR ESTETIKA KARAWITAN (Halaman 97-101)