BAB III Kajian Estetika
ESTETIKA BARAT DAN ESTETIKA TIMUR
1. Estetika Barat
Estetika Barat hakikatnya telah terbentuk sejak kebudayaan Yunani diakui sebagai suatu peradaban manusia yang amat berpengaruh terhadap lahirnya kesadaran-kesadaran akan keindahan. Istilah aistheton, aisthetica (Y) mengandung pengertian sebagai suatu hal yang dapat dicerap oleh pancaindra. Kemudian istilah aisthesis (Y) mengandung pengertian sebagai pencerapan indrawi. Aesthetica (1) dipopulerkan oleh Alexander Gottlieb Baumgarten (1714-1762) sebagai suatu kajian segala sesuatu yang berkaitan dengan keindahan. Kemudian Leibniz (1646- 1716) mempopulerkannya untuk membedakan pengetahuan intelektual dan pengetahuan yang bersifat indrawi.
Secara historis, penyadaran akan keindahan dalam peradaban Barat dimulai dari zaman Yunani, yang diawali oleh dialog antara Socrates dan Hippias tentang pelbagai pertanyaan keindahan. Dialog ini terkumpul dalam "Dialog Mayor Hippias". Socrates bertanya tentang keindahan kepada muridnya (Hippias), kemudian sang murid menjawab melalui tutur yang bijak (sebagai proses perenungan terhadap obyek-obyek keindahan). Sebuah belanga dinilai indah menurut Hippias, karena belanga itu dibuat oleh seorang ahli secara halus, bundar, dan dibakar dengan pengapian yang sempurna. Keindahan belanga itu berbeda dengan kecantikan seekor kuda atau seorang gadis yang bersifat alami. Dialog antara keduanya saling bersambut dan melegenda. Dalam proses dialog tersebut, Socrates selalu menggiringnya bahwa keindahan itu relatif terhadap yang lain, dan keindahan yang mutlak adalah tetap buatan yang Maha kuasa. Socrates juga menyatakan bahwa di balik semua benda yang indah, terdapat keindahan terbangun oleh dirinya sendiri. Itulah keindahan yang benar-benar indah dalam arti sesungguhnya.
Dalam kumpulan "Dialog Phaedo", Plato sebagai murid Socrates mengungkapkan bahwa keindahan suatu obyek mulai disadari oleh manusia melalui adanya keindahan "awal" (keindahan yang mula-mula). Kesadaran akan keindahan "awal" inilah yang membangun suatu benda menjadi indah. Dalam "Dialog Symposium", Plato berpendapat bahwa keindahan dapat diperoleh melalui "cinta". "Cinta" adalah yang membangun keyakinan adanya keindahan yang ideal. Untuk menyingkap keindahan ideal ini, manusia harus menjauhkan diri dari sikap yang "salah" dan juga berupaya untuk mengosongkan pikiran, membersihkan dosa, dan mengembalikan kesucian jiwa. Upaya kontemplatif yang dilakukan Plato, merupakan upaya-upaya untuk memperoleh kebenaran yang sejati, yaitu keindahan abadi. Gagasan Plato tentang keindahan merupakan keindahan ideal, sampai abad ke-20 tetap menjadi wacana dalam kajian-kajian estetika di lingkungan perguruan tinggi.
Selain Plato, penggagas estetika Yunani lainnya yang penting adalah Aristoteles, yang beranggapan bahwa keindahan suatu benda hakikatnya tercermin dari keteraturan, kerapihan, keterukuran, dan keagungan. Keindahan yang dicapai
adalah keserasian bentuk (wujud) yang setinggi-tingginya. Bagi Aristoteles, karya seni dinilai memiliki nilai keindahan yang lebih dibandingkan keindahan yang terjadi di alam, meskipun tidak tertutup terdapatnya karya seni yang lebih rendah daripada alam. Konsep mimesis (peniruan alam) kemudian menjadi ciri utama estetika Yunani dalam percaturan filsafat. Pendapat ini merupakan bias dalam menafsirkan pendapat Aristoteles. Aristoteles justru menyatakan "tragedi" ketika manusia harus meniru alam, atau meniru bentuk makhluk-makhluk di alam ("Puisi", pasal 15 dan pasal 2). Beberapa karya seni memang menunjukkan "imitasi" alam yang membawa kebaikan, karena dibuat untuk memperbaiki sesuatu yang dinilai buruk. Melalui seni, manusia harus mampu membuat sesuatu menjadi lebih baik daripada yang sebenarnya. Menurut Aristoteles, ciri khas seni adalah kemampuannya membedah alam dan mengupas esensinya. Seni adalah karya cipta yang dibimbing oleh pikiran dalam arti yang sebenarnya, dan gagasan Aristoteles ini dinilai sebagai gagasan estetika yang bernilai inspiratif dan membumi dibandingkan estetika yang berorientasi pada kesadaran yang lebih tinggi.
Plato beranggapan bahwa keindahan itu bersatu dalam pikiran, dan keindahan secara hakikat lebih indah daripada kenyataan. Terdapat perbedaan yang mendasar antara Plato dan Aristoteles dalam memandang keindahan. Plato menilai keindahan ideal adalah yang selalu membawa pada keindahan yang tak terbatas, sedangkan Aristoteles secara bijaksana mulai menawarkan simbol-simbol keindahan yang dapat dijumpai pada pelbagai benda yang indah, karya sastra yang mempesona, dan juga bangunan yang agung. Setelah beberapa puluh dekade, para penganut Neoplatonis memandang keindaban sebagai sebuah forma yang didasari oleh kesatuan, aspek simbolik, dan juga keseragaman (Plotinus, dalam Enades J, surat 6, pasall ).
Setelah kejayaan peradaban Yunani, estetika Barat mengalami proses kegelapan yang panjang seiring dengan kebudayaannya. Sedangkan di belahan lain, berkembang kebudayaan Islam dengan pemahaman-pemahaman estetika yang mengalami kemajuan-kemajuan penting dari pemikiran-pemikiran estetika zaman Yunani. Beberapa abad kemudian, perkembangan ini kurang menjadi wacana
estetik dunia, karena peran tekstualisasi Barat yang sangat dominan dalam hasanah intelektual.
Ketika kebudayaan Barat mengalami pencerahan, sejalan dengan reformasi dalam bidang etika dan keagamaan, terdapat pula pencerahan di alam filsafat umum yang dikenal sebagai Revolusi Kartesian dan Revolusi Kopernikan. Pemikiran-pemikiran praksis estetika pun mengalami pergeseran-pergeseran penting, terutama sejak ditemukannya teori perspektif dan pemahaman baru mengenai ruang.
Pemikiran estetika klasik, terutama Leibniz dan Baumgarten kemudian menjadi wacana penting di era pencerahan. Meskipun tidak sezaman, dua pemikiran tokoh ini dinilai bertolak belakang. Hal itu dijembatani oleh Emmanuel Kant secara lebih elegan, antara paham besar estetika Leibniz (simbolisme, vitalisme, teleologisme) dan Baumgarten (estetika sebagai ilmu). Kant menawarkan agar prinsip-prinsip estetika dapat dipahami sebagai ilmu pengetahuan yang sebelumnya telah diupayakan oleh Baumgarten namun belum tuntas. Bousanquet bahkan berpendapat bahwa Kant adalah tokoh yang mampu menempatkan logika di dalam estetika dan menganalisis karya seni secara sangat ilmiah. Gagasan-gagasan Kant ini diteruskan oleh para pengikutnya, antara lain Schiller, Schelling, Hegel, Schopenhauer, dan lain-lain.
Setelah periode Kant, masa berikutnya dikenal sebagai era estetika positivis, estetika yang berorientasi pada pendekatan-pendekatan keilmuan, di antaranya Fechner, Souriau, Taine, Spencer, Chevreul, Toistoy, dan lain-lain. Di sisi lain dalam wacana filsafat umum, berkembang pula paham positivis yang dipelopori oleh Auguste Comte, Russel, Wittgenstein, Moore, dan sebagainya. Periode estetika positivis ini merupakan bibit-bibit ke arah lahirnya pemikiran-pemikiran estetika baru (Modernisme) di awal abad ke-20, yang menandakan Positivisme mulai memasuki generasi yang lebih canggih dan kritis. Meskipun demikian, di awal perjalanannya tidak luput dari kritik keras, seperti yang dilakukan oleh Read, Ruskin, dan Nietzsche.
Pemikir Estetika Barat yang cukup berpengaruh di zamannya adalah Croee (1856-1952), dianggap sebagai filsuf estetika terbesar di abad ke-20, serta dinilai oleh
pelbagai pengamat sebagai pengikut Kant, Hegel,Vieo, dan Marx yang setengah hati. Namun demikian teori-teori estetika di abad ke-20 juga mengalami pergeseran-pergeseran penting yang dipicu oleh praksis dalam berkesenian, seperti yang dilakukan oleh kelompok Bauhaus (Nagy, Kadinsky, Mondrian, Klee, Miro, dan lain-lain). Kemudian juga oleh kelompok Kubis (Picasso, Braque) dan pelbagai gerakan seni radikal, seperti Avant Garde, Dada, Konstrukfisme, dan seterusnya.
Berawal ketika Duckham menyajikan peturasan dalam pameran seni dan mengalami pengesahan sebagai suatu karya seni modern di awal abad ke-20, maka kisi-kisi teori estetika klasik mengalami "pengusangan". Demikian pula ketika Braque, Picasso, Klee, Mondrian, Kadinsky, Miro, dan juga kaum Dada merombak tatanan estetik dunia yang telah mantap seperti Romantisme dan Neo Klasik, hingga di saat itu pula kajian-kajian estetika mengalami reorientasi substansial, yaitu memandang karya seni bukan pada kecantikan dan keindahannya, melainkan telah bergeser ke arah aksi, makna, dan tanda.
Teori-teori klasik segera ditinggalkan, terutama setelah pop-art memantapkan diri sebagai aksi mental dalam berkesenian daripada sekadar menjadi komoditas kaum borjuis yang selalu menggantung karya lukisannya sebagai pamor sosial. Ketika mengamati Pollock, Lichenstein ataupun Jasper John, pengamat estetika klasik cenderung memandangnya sebagai bagian dari proses pendangkalan budaya. Padahal telah terjadi perubahan besar dalam tatanan sosial-budaya masyarakat dunia, estetika pun mengalami proses perdebatan yang mengapresiasi kenyataan itu sebagai suatu konsekuensi perubahan teori dalam memandang peradaban. Dalam filsafat umum terdapat pula wacana yang penting dan langsung atau tak langsung berpengaruh pada kajian estetika, seperti Eksistensialisme (Kierkegaard, Jasper, Sartre, Camus), Fenomenologi (Hussrel), Strukturalisme (Levi Strauss), Postrukturalisme (Derida, Lyotard, Baulldiard, Lacan).
Di sisi lain, dalam dunia desain, ketika Jencks mengumandangkan kematian Modernisme di tahun 1974, tatkala dunia estetika mulai memantapkan diri terhadap pengamatan bahasa estetis yang mengalami perubahan itu, maka teori-teori estetika dan cara pandang para pelaku budaya mengalami pula
tumpang-tindih orientasi berpikir. Ketika itu, kajian-kajian semiotik dan semantik menjadi kecenderungan baru dalam dunia filsafat strukturalisme, sehingga karya estetis mengalami pertanyaan-pertanyaan baru, sebagai makna konotatif atau makna denotatif. Estetika kemudian terjebak ke dalam lingkungan kebahasaan. Gerakan posmodern yang dilakukan oleh Venturi, Philips Jhonson, Sosttsas, Charless Moore, Jencks, dan lain-lain, dengan cepat mengubah wajah dunia praksis estetik ke arah pergeseran konsep yang selaras dengan filsafat umum Postrukturalis dan Dekonstruksi, yaitu memandang estetika dalam frame kebahasaan.
Di era Posmodern, estetika kembali menjadi bahan kupasan yang luas sebagai bagian dari kajian filsafat nilai. Hal itu karena penampakkannya semakin teraga dan sejalan pula dengan fenomena sosial yang tengah dihadapi pelbagai bangsa di dunia. Tumbuhnya sub budaya baru yang meluas, serta spirit multikulturalisme menjadikan runtuhnya sekat-sekat dalam wacana estetik, karena tidak ada lagi Timur-Barat, Atas-Bawah, Lokal-Global, KontekstuaI-Universal, Makna-Instan, Realitas-Simulasi, Kelembutan-Horor, ataupun Tradisional-Modern. Semuanya masuk ke dalam percaturan Postrukturalisme. Dalam situasi tersebut, dunia estetika kembali memposisikan diri dalam situasi "chaos" dan "anomali". Tidak ada lagi nilai-nilai, makna, kebenaran, dan keindahan yang absolut. Estetika mengalami kondisi kebuntuan paradigma, karena tatanan kebudayaan yang bernilai telah mengalami perubahan yang substansial. Bingkai falsafahnya mengalami 'retakan-retakan' yang kian membesar.
Para pelaku estetis dan pemikir estetika masa kini, secara tidak langsung telah memberi "tanda budaya" dan menggiring kognisi sosial masyarakat ke arah dunia yang retak-retak tersebut. Masyarakat tidak lagi peduli terhadap nilai-nilai, norma-norma, kepatutan, kebaikan ataupun kearifan. Pelipatan dan percepatannya berlangsung bertubi-tubi, terutama sejak media tayang elektronika mengalami kemajuan, baik dalam gagas Iunak maupun operasional. Situasi tersebut mempercepat proses keruntuhan nilai konvensionaI yang semakin mendasar karena apa pun yang dilakukan untuk menggoncang peradaban dapat disahkan sebagai karya estetik, seperti horor, teror, pornografi, pembajakan, despritualisasi, dehumanisasi sampai demoralisasi. Dalam kondisi inilah estetika Barat dituntut
berdiri di depan untuk menuntun dunia seni agar tak terperosok semakin jauh ke arah kegelapan.
Wacana utama estetika di era pramodern, modern, dan postmodern
Estetika Pramodern Estetika Modern Estetika Posmodern
Idealisme Rasionalisme Postrukturalisme
Mitologis Realisme Global-lokal
Mimesis Humanisme universal Intertekstual
Imitasi Simbolisme Pospositivisme
Katarsis Strukturalisme Hiperealitas
Transenden Semiotik Poskolonial
Estetika pencerahan Fenomenologi Oposisi Biner Teleologisme Eko-estetik Dekonstruksi Relatifisme Kompleksitas Pluralisme Subjektifisme Etnosentris Lintas Budaya Positivisme Budaya Komoditas Chaos