• Tidak ada hasil yang ditemukan

CoA dari lab yang terakreditasi (bila diperlukan).

Dalam dokumen MODUL MATERI UJIAN ALIH JENJANG PFM (Halaman 108-111)

3.6. Apabila diterima, Petugas Sertifikasi Obat Tradisional, Kosmetik dan Produk Komplemen membuat draf CoH/TW untuk ditindaklanjuti Ka Sie.

3.7. Ka Sie melakukan evaluasi CoH/TW , Apabila disetujui, Ka. Sie. memberikan paraf dan berkas diteruskan ke perekomendasi.

3.8. Ka. Sub Dit./Direktur melakukan verifikasi CoH/TW. Apabila disetujui, Ka. Sub Dit./Direktur membubuhkan tandatangan pada CoH/TW.

3.9. Petugas Sertifikasi menyerahkan CoH/TW kepada pemohon dengan menggunakan buku tanda terima penyerahan berkas.

PROSEDUR PENGELUARAN SURAT KETERANGAN EKSPOR (SKE) UNTUK KEMASAN PANGAN

Kemasan pangan adalah bahan yang digunakan untuk mengemas pangan baik yang bersentuhan langsung maupun tidak langsung dengan pangan. Dalam rangka pengawasan kemasan pangan, setiap kemasan pangan yang akan diedarkan di wilayah Indonesia harus memenuhi persyaratan keamanan sesuai ketentuan peraturan perundang-undangan yang berlaku. Dalam perkembangannya kemasan pangan yang diproduksi di dalam negeri tidak hanya untuk memenuhi kebutuhan dalam negeri, tapi juga untuk diekspor ke luar negeri.

Dalam upaya memfasilitasi ekspor kemasan pangan, termasuk zat kontak pangan dan bahan kontak pangan ke luar negeri, Badan POM menerbitkan Surat Keterangan Ekspor (SKE). SKE tersebut berupa Surat Keterangan Pemenuhan Persyaratan Keamanan Kemasan Pangan. Unit lain di Badan POM menerbitkan SKE dalam bentuk yang berbeda, misalnya certificate of free sale untuk menyatakan bahwa suatu produk telah terdaftar dan/atau beredar di Indonesia, health certificate untuk menyatakan bahwa suatau produk aman/layak dikonsumsi/digunakan oleh manusia.

Industri kemasan pangan yang dapat mengajukan permohonan SKE dapat merupakan industri converter, industri bahan kontak pangan, maupun industri zat kontak pangan. Di sisi lain, industri pangan yang melakukan produksi kemasan pangan juga dapat mengajukan permohonan SKE. Industri Pangan maupun industri kemasan pangan yang akan mengekspor kemasan pangan ke luar wilayah Indonesia harus memenuhi peraturan tentang kemasan pangan yang berlaku di Indonesia dan peraturan yang berlaku di negara tujuan ekspor. Persyaratan pengajuan permohonan SKE untuk kemasan pangan, yaitu :

a. Data Administrasi

i. surat permohonan SKE yang memuat nama bahan/produk, nomor lot/batch/kode produk, nama dan alamat produsen, nama dan alamat eksportir, jenis kemasan/ berat/volume, jumlah yang diekspor, No dan tanggal invoice, No dan tanggal B/L atau AWB, alamat di negara tujuan

ii. surat pernyataan tentang produk di atas materai Rp 6.000, yang menyatakan bahwa produk yang diekspor memenuhi persyaratan yang berlaku di Indonesia (jika produk beredar di Indonesia) atau negara pengimpor.

iii. Bukti pembayaran PNBP sesuai ketentuan peraturan perundang-undangan iv. Dokumen penunjang : invoice, sertifikat ISO 22000 (jika ada)

b. Data Teknis

i. Keterangan produk (Product description)yang memuat spesifikasi lengkap dari :  Kemasan pangan

 Bahan kontak pangan seperti kaca, resin penukar ion, logam dan paduan logam, kertas dan karton, plastik, selulosa tergenerasi, silikon, kain, lilin, kayu dan sebagainya, serta

 Zat kontak pangan, seperti pewarna, pemlastis, pengisi, perekat, curing

agent, antioksidan, pensanitasi dan sebagainya.

ii. Sertifikat analisa (certificate of analysis): hasil uji migrasi, hasil uji fisik dan kimia dari laboratorium terakreditasi.

ii. Uji migrasi dilakukan untuk mengetahui jumlah zat kontak pangan yang berpindah dari kemasan pangan ke dalam pangan. Perpindahan tersebut dikenal sebagai migrasi dan zat kontak pangan yang berpindah disebut sebagai migran. Terdapat beberapa faktor yang berpengaruh terhadap kemungkinan terjadinya migrasi zat kontak pangan dari kemasan pangan ke dalam pangan, antara lain suhu tinggi, pH asam, alkohol, dsb. Oleh karena itu, pangan asam ataupun pangan yang mengandung alkohol disebut sebagai pangan agresif.

Evaluator harus memahami payung hukum yang menjadi landasan dalam pengawasan kemasan pangan, yaitu Peraturan Kepala Badan POM RI No.HK.03.1.23.07.11.6664 tahun 2011 tentang Pengawasan Kemasan Pangan. Persyaratan secara detil untuk keamanan kemasan pangan tercantum pada bagian Lampiran peraturan dimaksud. Sebagai contoh, untuk kemasan pangan yang terbuat dari bahan kontak pangan poli vinil klorida, maka hal yang menjadi perhatian evaluator ketika melakukan evaluasi terhadap sertifikat analisa adalah hasil uji migrasi logam berat dan monomer vinil klorida (Vinyl Chloride Monomer).

Untuk kemasan pangan yang berasal dari produk daur ulang, permohonan SKE harus dilengkapi dengan dokumen persetujuan Kepala Badan POM.

iii. Kopi peraturan terkait produk yang akan diekspor yang berlaku di negara importir

iv. Contoh produk kemasan pangan sekurang-kurangnya 1 (satu) buah setiap item Sesuai dengan Standar Pelayanan Permohonan Penerbitan Surat Keterangan Ekspor Obat dan Makanan, waktu pelayanan yang ditetapkan adalah selambat-lambatnya 3 hari kerja.

Tahapan penerbitan SKE untuk kemasan pangan adalah sebagai berikut: 1. Pemohon mengajukan permohonan SKE

2. Kelengkapan berkas dan kesesuaian surat permohonan diperiksa oleh petugas pemeriksa. Biaya untuk pelayanan SKE mengacu pada Peraturan Pemerintah No. 48 Tahun 2010. dan untuk saat ini adalah sebesar Rp 50.000,- per item produk. Jika berkas belum lengkap atau ditemukan ketidaksesuaian pada surat permohonan maka berkas dikembalikan kepada pemohon untuk dilengkapi dan/atau diperbaiki. Jika berkas telah lengkap, maka berkas diteruskan kepada evaluator.

3. Evaluator melakukan evaluasi administrasi dan kesesuaian/keabsahan berkas. Jika dokumen belum lengkap dan benar, maka berkas dikembalikan kepada pemohon untuk dilengkapi dan/atau diperbaiki. Jika dokumen lengkap dan benar, maka dibuat draft SKE dan teruskan ke Pejabat Periksa.

4. Pejabat periksa melakukan evaluasi teknis dan evaluasi draft SKE. Jika berdasarkan hasil evaluasi, draft SKE tidak disetujui, maka berkas dikembalikan kepada evaluator untuk dilakukan tindaklanjut terhadap koreksi atau berkas dikembalikan kepada pemohon. Jika draft SKE disetujui, maka draft SKE diserahkan kepada evaluator untuk dicetak 3 (tiga) rangkap.

5. Draft final SKE diverifikasi dan diparaf oleh Pejabat Periksa, diteruskan kepada Pejabat Penindaklanjut, kemudian ditandatangani oleh Pejabat Perekomendasi.

6. Surat keterangan ekspor yang sudah ditandatangani diserahkan kepada pemohon 1 ( satu) lembar dan diarsipkan di unit kerja dan kedeputian masing-masing 1 ( satu) lembar untuk dibuat rekapitulasi setiap bulan.

Dalam dokumen MODUL MATERI UJIAN ALIH JENJANG PFM (Halaman 108-111)

Dokumen terkait