• Tidak ada hasil yang ditemukan

Curhat Sebatang Pohon Vivi Oktaviani Pulukadang

Dalam dokumen Air mata dayang sumbi (Halaman 86-91)

S

eorang gadis kecil memandang sendu rumah besar jauh di depan sana. Dari balik jendela mobilnya, ia terus mengamati gedung tua tak terurus itu. Pekarangannya bahkan hanya ditinggali beberapa rumput yang mulai meninggi dan sebatang pohon yang berdiri kokoh ditanahnya yang gersang.

“Bunda, apa kita akan pindah ke rumah itu?” gadis kecil itu bertanya. Tangannya menunjuk-nunjuk bangunan rumah yang sejak tadi diperhatikannya.

“Bukan di situ, tapi rumah disebelahnya,” jawab Sang Bunda.

Gadis kecil itu lalu dipandu berjalan ke arah rumah baru mereka. Matanya tidak berkedip selama berjalan melewati rumah tua itu. Entah apa yang membuatnya begitu memperhatikannya. Dia bahkan berjalan lebih pelan setelah melihat pohon kokoh di pekarangan bangunan itu. Hampir saja ia lupa melanjutkan langkahnya.

“Nah, ini rumah baru kita. Allie, bukankah rumah ini bagus? Kau suka?” Tanya wanita paruh baya itu. Sedangkan Allie, anaknya, hanya memperhatikan pohon besar yang menjulang tinggi menampakkan dedaunannya yang rimbun. Pandangannya seolah terikat di sana. Hal ini tentu saja sangat mengganggu bagi Bundanya.

“Allie, berhenti memperhatikan pohon itu! Sekarang kita harus melihat-lihat isi rumah ini. Ayo!”

Tangan mungil bocah itu perlahan digenggam Sang Bunda yang memandu langkahnya melihat-lihat isi rumah baru itu. Dengan perasaan yang resah, ia mulai berjalan mengikuti langkah Bundanya.

Rumah baru ini memanglah bagus. Tak heran jika banyak yang meminatinya. Tak terkecuali, Ayah danBunda Allie. Rumah ini sudah menjadi incaran mereka sejak enam bulan lalu.

Sungguh berbeda jika dibandingkan dengan rumah tua disampingnya. Kabarnya, rumah itu sudah ditinggalkan pemiliknya sejak enam tahun lalu. Rumah itu kemudian menjadi tidak terurus. Bahkan beberapa orang yang berjalan melewatinya menganggap bangunan itu tidak ada.

“Allie, ini teman baru. Namanya Kiky, anak teman Ayah. Dia juga tinggal di sekitar sini. Ayo, jabat tangan!” Ujar Bunda Lisa.

Kedua bocah itu lalu saling berjabat tangan dengan malu-malu. Allie kemudian menyembunyikan dirinya di belakang Bunda Lisa. Di baliknya, ia tersenyum malu. Nampaknya mereka akan menjadi teman akrab.

Peluh mengaliri pelipis Allie. Tak berbeda jauh dengan bocah laki-laki di sampingnya. Bermain selama setengah jam rupanya menguras begitu banyak tenaga.

Sekarang bola di tangan Kiky berpindah tangan. Allie terlihat senang dengan bola itu. Ia terus memantul-mantulkannya ke lantai teras rumah. Kiky hanya melihat dengan raut bingung. Anak itu lalu menghampiri Allie yang masih sibuk memantulkan bola itu.

untuk bermain lempar tangkap.”

“Kalau begitu, berarti aku harus melemparnya pada Kiky? Ya, sudah, tangkap ini!”

Mereka mulai bermain dengan riang. Bola itu dilempar ke sana-sini. Tak jarang mengenai beberapa benda. Namun, mereka tetap senang bermain.

Dung!

Bola itu terlempar jauh oleh tangan mungil Allie. Sangat jauh, hingga melewati pagar. Bola itu masuk ke pekarangan rumah sebelah. Allie berlari cepat ke luar pagar, langkahnya berpindah cepat memasuki pekarangan rumah tua itu. Bola yang dicarinya ternyata bersembunyi di antara semak-semak. Hampir saja ia masuk lebih dalam, saat Kiky menghentikannya.

“Jangan, Allie! Jangan pergi ke sana!”

“Ada apa? Kita harus mengambil bola itu, untuk bermain.” “Tidak usah. Biarkan saja bola itu!”

Allie menjadi kebingungan. Ia lalu berjalan balik mendekati Kiky yang sedang berdiri di depan pagar rumah tua itu. Mereka berbincang beberapa saat.

“Kau tahu tidak? Rumah ini sudah angker selama bertahun-tahun. Bahkan banyak yang mendengar suara-suara aneh dari rumah itu. Iiih, pokoknya seram!” Ujar bocah itu.

Allie terlonjak kaget. Rasa ingin tahunya semakin besar. Rumah itu, rumah yang sejak pagi tadi diperhatikannya, benar-benar menarik baginya. Ia tetap ingin masuk lebih dalam. Dengan terpaksa, Kiky ikut menemani.

“Loh, Kiky! Bola kita yang mana ya? Kenapa di sini ada banyak sekali bola?” Tanya Allie.

Kiky mendesah pelan sebelum menjawab, “Jelas saja. Banyak orang yang bermain, dan tidak sengaja memasukkan bola mereka ke pekarangan ini. Hanya saja, mereka tidak berani mengambilnya lagi. Baru kita saja yang masuk ke sini untuk mengambil bola.”

Mereka sedang sibuk mencari-cari bola yang tepat saat suara-suara kecil mulai terdengar. Suara itu semakin lama-semakin menggema, seolah memanggil-manggil orang yang mendengarnya. Kedua bocah itu bergidik ngeri, terutama Kiky, yang mulai mengambil langkah menjauh. Langkah itu lalu dihentikan Allie, yang sepertinya menyadari sesuatu. Allie memandu kawan di belakangnya berjalan menuju pohon kokoh di depan sana.

“Suaranya dari sini. Bukan dari rumah itu,” ujar Allie. Kiky berusaha mengatasi rasa takutnya dengan meremas kemeja biru itu kuat-kuat. Sedangkan gadis mungil di depannya terus mengamati rupa pohon itu. Kiky yang sudah tidak tahan, memutuskan untuk lari menjauh, meninggalkan Allie dengan rasa keingintahuannya.

Allie mendudukkan lututnya ke tanah. Ia duduk menghadap pohon itu. Suara aneh itu masih terdengar, tidak terlalu berbeda dari yang tadi.

“Pohon tua, apa kau memanggilku?” Tanya Allie. Tak disangka, sebuah suara menjawab.

“Iya, gadis kecil. Aku memanggilmu dan temanmu yang penakut itu.”

Allie tak nampak terkejut sedikitpun. Entahlah, mungkin dia banyak menonton kartun di mana pohon bisa berbicara, sehingga baginya hal ini biasa saja. Memang ada baiknya Allie di sini sebagai bocah polos, dibandingkan dengan seorang remaja yang penakut.

“Oh, ada apa? Kenapa kau memanggil kami? Apa ada hal yang ingin kau katakan?” Tanya Allie lagi.

“Ha… ha, kau to the point sekali, bocah. Siapa namamu?” “Aku Allie.”

“Baiklah, Allie. Sebenarnya aku memanggilmu bukan untuk hal yang begitu penting. Aku hanya merasa kesepian. Setidaknya, aku ingin berbicara pada seseorang.Pohon-pohon yang dulu menemaniku di sini tumbang satu persatu, hingga tinggal aku yang tersisa. Aku bingung kenapa aku tidak ikut tumbang seperti mereka.”

“Benarkah? Wah, berarti dulu di sini ada banyak pohon. Lalu, di mana tuanmu? Apakah dia tidak mengurusmu?” Allie kembali bertanya.

Pohon itu terlihat bergerak ke bawah, seolah menampakkan dirinya yang sedang bersedih.

“Mereka sudah pergi enam tahun lalu. Aku di sini sendiri, tanpa ada yang mengurus. Beberapa orang datang mengamatiku hanya untuk penelitian mereka. Para ilmuwan itu rupanya sudah kehabisan hal untuk dilakukan, hingga memilih menghabiskan waktunya untuk meneliti diriku. Beberapa dari mereka mencabuti daunku secara acak. Itu menyakitkan. Mereka tidak peduli padaku. Yang mereka pedulikan hanyalah urusan mereka sendiri.”

“Sungguh?Ayahku juga seorang ilmuwan, dia meneliti kuman-kuman pada tumbuhan. Tapi, ayah tidak merusak mereka. Ayah hanya mengamatinya, setelah itu ia menuliskan beberapa hal ke dalam buku tebal yang selalu dibawanya.”

“Baguslah, kalau ayahmu bisa memperlakukan tumbuhan dengan baik. Tidak seperti orang-orang berjas yang kejam itu.” Pohon besar itu berujar ringan. Sepertinya ia sangat senang akhirnya ada orang yang mau berbicara dengannya.

“Lalu, kenapa tuanmu itu pergi meninggalkanmu?” Pertanyaan singkat itu meluncur dari bibir bocah mungil ini. Dia rupanya benar-benar ingin tahu, hingga pupilnya membesar perlahan.

“Tuanku benar-benar baik. Dia merawat semua tumbuhan yang ada di sini. Dia tidak memetik buah dari kami, kami sendiri yang menjatuhkan buah untuk dinikmatinya. Begitu cara kami berinteraksi. Namun, perpisahan ini dikarenakan meninggalnya isteri tuanku. Isterinya sakit keras, hingga tidak dapat bertahan lagi. Aku ingin membantunya, namun aku hanyalah sebatang pohon yang rapuh. Selepas

kepergian isterinya, ia mulai merasa sepi. Rumah ini sepertinya terlalu besar untuk dihuninya sendiri. Aku berusaha untuk tetap terlihat indah dan meneduhkan, agar dia bisa tetap tinggal. Namun, akhirnya dia tetap pergi.” Jelas pohon itu panjang. Beberapa daunnya berguguran memukul tanah, memberi sensasi hangat tersendiri, bagi Allie yang kini bersandar memeluk batang tubuhnya. Siapa yang tahu, ia kini sedang bersedih.

“Jangan bersedih, pohon tua. Aku akan menjadi temanmu. Kalau kau mau, aku akan meminta ayahku untuk menjadi tuanmu yang baru.”

“Tentu,” ujar si pohon.

Allie tersenyum senang. Perasaannya kini memang sangat senang. Ia mendapat dua teman baru sekaligus. Kiky dan pohon tua ini. Ini menyenangkan, begitu pikirnya. Ia hanya belum menyadari betapa luar biasanya temannya yang satu ini.

Allie berdiam memegang perutnya. Beberapa bunyi abstrak terdengar dari sana. Buah berwarna hijau muda kemerahan jatuh tepat dihadapannya. Sang pohon lalu berujar, “Makanlah! Kau kan sedang lapar.”

Namun Allie diam, tak berpindah tempat. Entah apa yang sedang dirisaukannya.

“Makan saja, teman. Aku tidak mungkin meracuni temanku.” Sambung si pohon. Akhirnya Allie memakan buah yang terlihat lezat itu. Nikmat sekali rasanya. Lebih enak dari berbagai makanan yang dimakannya sehari-hari maupun makanan restoran berbintang yang selalu dibawa ibunya ketika pulang kerja.

“Oh, ya.. Aku ingin bertanya. Kenapa di sini banyak sekali bola?” Tanya Allie di sela-sela makannya.

“Oh, itu. Bola-bola ini milik anak-anak yang bermain di sekitar sini. Terkadang aku menggerakkan rantingku untuk membawanya kemari. Aku berharap mereka mau masuk ke sini dan mengajak mereka berbicara. Namun ternyata, mereka tidak datang. Mereka terlalu takut dengan hal-hal supranatural yang disebutkan orang-orang sok tahu itu.”

“Kalau begitu, berarti bolaku tadi juga masuk sini karena rantingmu?” Tanya Allie lagi.

“Kalau bolamu sih berbeda. Dia datang sendiri ke sini. Itu karena kau yang tidak pandai melempar. Hahaha.”

Perbincangan itu menjadi kian menarik. Banyak hal yang mereka bicarakan. Allie bahkan tidak merasakan terik matahari siang tadi. Ia terlindungi oleh rindang dedaunan kawannya yang menjauhkannya dari jangkauan terik mentari.

Kini senja mulai menghampiri. Langit biru mulai menampakkan semburat kemerahannya. Seseorang datang menghampiri Allie yang sedang tertawa senang.

“Allie, ayo pulang! Hari sudah hampir malam, sayang.”

Allie mengalihkan pandangannya pada seorang wanita yang sedang berdiri di depan sana. Sang Bunda yang sedang memasang raut khawatir. Ia mengerti.

“Pulanglah, teman. Nanti kita bermain lagi.” Si pohon berujar. Allie mengangguk, lalu berdiri dari duduknya.

“Itu, bolamu. Di sebelah kiri tubuhku,” sambungnya.

Bola itu lalu berpindah ke tangan mungil Allie. Sedikit perasaan sedih menghampirinya ketika harus pulang, dan berhenti bermain dengan kawan barunya ini. Tapi dia tahu, hari esok akan membawanya kembali ke sini.

“Jangan lupa sampaikan salamku pada teman penakutmu itu. Hehehe,” si pohon berujar lagi.

Allie ikut tertawa, seiring dengan langkahnya yang mulai berbalik menjauhi pohon kokoh itu. Hari yang panjang dan menarik. Dipandangnya pohon itu dari kejauhan. Rantingnya melambai-lambai, seiring dengan berlalunya langkah Allie.

“Aku akan datang menemuimu lagi. Aku berjanji… teman.” [*]

Dalam dokumen Air mata dayang sumbi (Halaman 86-91)