Kehidupan dan Proses Kreatifku
Namaku Fatimah Nur Azmi Rahmadian. Aku lahir di Bandung, 2 April 1999. Aku punya hobbymembaca, menulis,
travelling, fotografi, wisata kuliner, dan mendengar
musik. Lomba yang pernah diikutiadalah: Lomba menulis cerita se-Kota Bandung 2012, Olimpiade Sastra Indonesia 2010,Olimpiade Matematika dan Biologi Kota Bandung 2012, dll. Prestasi yang pernah kuraih adalah: Juara 3 Cipta Cerpen FLS2N Kota Bandung 2012, Finalis Olimpiade Sastra Indonesia 2010, Juara 1 Olimpiade Matematika sekota Bandung, dll.
Tempat Tinggalku
Aku tinggal di sebuah perumahan asri bernama Komplek Gading Regency, perumahan dengan sejuta kenyamanan di dalamnya. Karena sudah berdiri sebelum aku lahir, maka di tiap jalanan komplek terdapat pepohonan cukup besar yang menyejukan di kala siang terik. Jalan-jalan komplek dibuat lebar sehingga setiap anak dapat bersepeda dan berlarian bebas disana. Tepat di sebelah rumahku, dibuat lapangan futsal komplek yang tepat berseberangan dengan taman segitiga dengan hamparan rumput hijau yang luas. Karena hanya berjarak lima meter dari rumahku, terkadang aku bersama keluargaku duduk bersantai disana, sambil menyantap sarapan pagi kami. Para penjaga keamanan yang juga mendapat pelatihan khusus dari seorang tentara, menjadikan perumahan ini aman terkendali. Setiap bulannya para lelaki paruh baya berseragam hijau bekerjasama memotong rumput, menyapu jalanan aspal, dan merawat taman-taman agar tetap hijau dipandang mata. Walau di kala siang nampak hening, namun sebenarnya terjalin silaturahmi erat dari tiap rumah yang jumlahnya sekitar 300 unit. Sesekali diadakan acara pengikat antar-tetangga seperti lomba memasak tumpeng, penyambutan warga baru, dan berbagai kegiatan lain yang menurutku sangat bagus. Rasanya sangat bersyukur bisa tinggal di dalam perumahan sejuk yang membuat tiap penghuninya merasa nyaman.
Sekolah dan Riangnya Temanku
SMP Al-Biruni Cerdas Mulia adalah sekolah tempat aku menimba ilmu. Menyenangkan sekali dapat bersekolah di sana. Letaknya di Jl. Terusan Panyileukan No. 11, Bandung. Diusianya yang baru memasuki tahun kelima, sekolahku belum terlalu banyak dikenal orang, namun sebenarnya buatku ini adalah harta karun. Ketiga lapangannya dibuat luas hingga cukup dipakai berlarian bersama kawan. Namun, yang paling berkesan adalah taman yang dibuat di tengah gedung sekolah dengan beratapkan langit cerah. Kolam ikan dengan aliran air terjun kecil membuat udara sejuk, ditambah lagi pepohonan yang menjalar luas dengan hiasan warna-warni bunga di bawahnya. Di setiap sudut sekolah dapat dipakai duduk-duduk menikmati sepoian angin yang berhembus perlahanm, entah untuk mengerjakan tugas dari guru, belajar bersama, ataupun menyantap makan siang. Bagiku, guru-guru di sekolah sangatlah baik. Tak hanya dapat dijadikan sebagai orang tua kedua, namun mereka bisa juga seperti teman yang mau mendengar tiap kata muridnya. Walaupun tegas, namun sebenarnya guru-guruku sangat perhatian. Mulai dari memberikan beragam ilmu pengetahuan baru, membimbing murid yang kesulitan, hingga bersenda gurau dan bernyanyi bersama sering dilakukan. Murid-muridnya pun berteman tanpa mengenal perbedaan. Meski terkadang ada yang berkelahi, tapi tak ada halangan untuk berteman-entah dengan teman sekelas ataupun yang berbeda kelas. Berbagai hal menyenangkan itu yang membuatku betah berlama-lama ada di sekolah.
Di sekolah, ada banyak sekali teman bermain. Namun, yang paling sering bermain denganku adalah keenam perempuan cantik yang selalu ada setiap waktu. Yang pertama ada Melati yang paling suka bercerita dengan matanya yang khas, Fira yang super tinggi dan sama-sama suka Moto GP, Mella yang suka melawak dan periang, Sheila yang suaranya indah seperti emas, Dila yang heboh tapi perhatian, dan Kak Diana yang baik. Kami habiskan waktu bersama untuk bercerita, makan bersama, bersenda gurau, bermain –terutama permainan “ucing jatuh” – dan berburu makanan enak untuk dinikmati bersama. Benar-benar beruntung punya teman-teman seperti mereka, yang meramaikan dan mengisi tiap detik yang ada. Tapi, tak hanya mereka, masih banyak teman-temanku yang baik, perhatian, lucu, dan suka membantu yang tak dapat kusebutkan satu-persatu.
Hari-hariku
Setiap hari, aku bangun pagi sekali. Biasanya kupakai waktu pagi itu untuk membaca buku pelajaran sembari mendengar musik penenang pikiran. Karena, kata seorang teman baikku, membaca di pagi hari itu akan lebih melekat erat di otak kita. Setelah menyiapkan segala keperluan sekolah, aku biasanya berangkat ke sekolah pukul 06.30, mengejar bel masuk yang akan berdering keras pukul 7 tepat. Di Hari Senin, Rabu, dan Jumat, aku sampai di rumah lagi jam 5 sore. Tapi, untuk Hari Selasa dan Kamis, jam 3 pun aku sudah ada di rumah. Sore hari, setelah membersihkan tubuh, hal yang kulakukan adalah mengerjakan PR sembari mendengarkan musik. Dan, malamnya kupakai untuk belajar dan mengerjakan berbagai latihan soal. Ketika makan malam sudah siap tersaji di atas meja makan, itu saatnya semua aktivitas keluargaku dihentikan. Semuanya harus makan di atas meja makan sembari membicarakan seribu pengalaman masing-masing yang dialami hari itu. Mulai dari hari yang menyenangkan, menyebalkan, melelahkan, hingga hari yang mendebarkan, semuanya tertuang di atas meja makan keluargaku. Hari Sabtu dan Minggu adalah waktunya untuk membersihkan setiap sudut rumah agar tetap berkilau setelah satu minggu menghadapi langkah kaki yang sudah lelah. Sesekali, di hari libur itu, dipakai untuk berjalan-jalan keliling kota atau hanya sekedar minum susu hangat di pinggir jalan bersama keluarga. Walau garis besarnya hari-hariku berjalan seperti itu, tapi tetap saja pasti ada kejutan yang tak terduga yang mewarnai setiap laluan hari.
Keluarga Kecilku yang Paling Bahagia
Di rumah, aku hanya tinggal berempat. Ada ayah, bunda, aku, dan seorang adik laki-lakiku. Aku memiliki seorang ayah dan bunda paling hebat sedunia. Ayahku sangat pintar, hingga rasanya semua pertanyaanku dapat dijawab oleh ayah. Tak heran, karena tiada hari bagi ayah untuk tidak membaca buku. Ayah juga suka memasak beragam masakan sedap. Sekali mencicipi makanan enak, ayah bisa langsung memikirkan bumbu-bumbunya dan mencoba memasaknya untuk kami di rumah. Ayah sangat suka minum kopi, apalagi di pagi hari, sebelum memulai pekerjaan padat hari itu. Bundaku juga sangat pintar dan perhatian. Setiap rinci hal yang akan kami lakukan pasti bunda tahu. Bunda juga sangat teliti mengerjakan setiap pekerjaan. Walaupun sibuk, tetapi bunda tetap menyempatkan waktu untuk memeriksa kondisi tubuh kami yang sedang sehat atau sakit dan segera menanganinya dengan lembut jika terjadi sesuatu. Nama Ayahku Ahmad Ali Rahmadian, M.Pd. dan bundaku bernama Elvi Noviawati, M.Pd. Ayah dan bundaku adalah lulusan S2 dan keduanya wiraswasta dan keduanya menjadi counselor. Adik laki-lakiku satu-satunya di dunia, namanya Ilham. Tingkahnya sering mengundang gelak tawa orang di sekitarnya. Ia senang menggambar apapun yang ada di dalam khayalannya. Walau terkadang ia agak menyebalkan, tapi menyenangkan juga aku bisa menjadi kakaknya.
Pengalaman Menulisku
Pertama kali aku menulis cerpen adalah saat aku masih duduk di kelas 2 SD. Saat itu, adalah pertama kalinya aku menulis cerpen sederhana, tugas dari guru bahasa Indonesiaku. Kemudian berlanjut hingga aku duduk di kelas 4 SD, yang ditugaskan untuk menulis cerita yang akan dikirim ke salah satu perusahaan koran ternama. Akhirnya, cerpenku terbit disana. Sejak saat itu, aku mulai senang menulis cerita, dimulai dari mengikuti berbagai perlombaan mengarang yang banyak melatihku. Rasanya bagus bisa berbagi apa yang kita pikirkan kepada orang lain. Hingga sekarang, aku sudah menulis lebih dari 15 karya cerpen dalam komputerku. Salah satu projek jangka menengahku adalah menulis novel. Aku sangat ingin suatu hari nanti bisa menerbitkan hasil karyaku dan dibaca oleh banyak orang.
Jumlah buku yang pernah kubaca selama satu tahun ini kurang lebih 10 buah buku. Buku yang sering kubaca di waktu luangku adalah novel-novel fantasi. Hari-hariku dipenuhi dengan mengerjakan tugas sekolah dan mempersiapkan pelajaran agar aku merasa senantiasa siap menghadapi hari esok hingga hanya di waktu luang saja aku sempat membaca buku-buku ringan. Di rumahku ada 7 rak buku dengan 5 tingkat penuh, dan 1 rak 2 tingkat penuh dengan buku.