KAJIAN PUSTAKA
A. Pernikahan Din
3. Dampak-dampak Pernikahan Din
Dampak dalam kamus besar Bahasa Indonesia adalah pengaruh kuat yang mendatangkan akibat baik negatif maupun positif. Pernikahan dini adalah pernikahan yang dilakukan oleh wanita yang berusia di bawah 16 tahun dan pria di bawah usia 19
tahun. Jadi dapat disimpulkan bahwa dampak pernikahan dini adalah pengaruh kuat dari pernikahan yang mendatangkan akibat baik negatif maupun positif. Pada dasarnya pernikahan adalah baik, karena pernikahan merupakan penyempurnaan ibadah. Namun pernikahan yang dilakukan di usia yang sangat muda biasanya memberikan dampak bagi pasutri.
Berangkat dari pengertian dampak, Walgito (1984: 25) mengungkapkan bahwa salah satu hal yang mempengaruhi pernikahan adalah usia. Usia mempengaruhi pernikahan baik dari segi fisik, psikologis, dan sosial-ekonomi. Undang-undang perkawinan membatasi usia menikah bagi wanita 16 tahun dan bagi pria 19 tahun. Pernikahan juga diizinkan bagi pria dan wanita yang belum memasuki usia tersebut dengan jalan mengajukan dispensasi. Pernikahan ini sering kita kenal dengan sebutan “pernikahan dini”. Berikut uraian dampak-dampak dari pernikahan dini ditinjau dari segi fisik, psikologis, dan sosial-ekonomi:
a. Dampak dari segi fisik
Secara fisik tidak ada yang salah dengan umur yang ditentukan oleh undang-undang. Bahkan yang menikah di usia dini pun tidak ada masalah. Hanya saja pemerintah menentukan usia tersebut tidak dibarengi dengan memikirkan dampak yang terjadi. Pada usia tersebut dari segi fisik seseorang umumnya sudah matang, khususnya organ
reproduksi. Pada wanita ditandai dengan datangnya menstruasi dan pada pria ditandai dengan mimpi basah. Artinya pada usia ini seseorang sudah dapat memproduksi keturunan. Memiliki keturunan merupakan salah satu tujuan menikah. Namun perlu diketahui bahwa pernikahan yang dilakukan di usia muda umumnya akan menimbulkan masalah secara fisik khususnya dialami pada remaja putri. Romauli dan Vindari (2012: 111) mengungkapkan bahwa “alat reproduksi remaja belum siap untuk menerima kehamilan sehingga dapat menyebabkan berbagai bentuk komplikasi”. Papalia dan Old (2008: 607) dalam bukunya Human Development mengungkapkan bahwa:
Remaja yang hamil sering kali mengalami akibat yang buruk. Bayinya cenderung prematur atau kekurangan berat badan yang berbahaya atau dipuncak resiko kematian setelah kelahiran, masalah kesehatan, dan ketidakmampuan berkembang yang bisa terus berlanjut sampai dewasa.
Berdasarkan pernyataan di atas dapat disimpulkan bahwa dampak yang umumnya banyak terjadi pada remaja yang hamil adalah keguguran, prematur, dan berat bayi lahir rendah. Hal ini dikarenakan kandungan remaja masih belum kuat untuk hamil. Banyaknya kasus keguguran dan prematur pada remaja putri perlu diperhatikan karena tingkat keguguran dan prematur pada wanita hamil dan melahirkan di bawah usia 20 tahun 2-5 kali lebih tinggi dibandingkan pada wanita di atas usia 20 tahun (Romauli dan Vindari, 2012: 111). Selain itu
persalinan yang dilakukan pada remaja putri juga dapat menyebabkan komplikasi kronik yaitu obstetric fistula. Fistula merupakan kerusakan pada organ kewanitaan yang menyebabkan kebocoran urin atau feses ke dalam vagina. Wanita berusia kurang dari 20 tahun sangat rentan mengalami obstetric fistula. Obstetric fistula ini dapat terjadi pula akibat hubungan seksual di usia dini.
b. Dampak dari segi psikologis
Secara psikologis, usia juga memberi pengaruh pada pernikahan, terlebih pada pernikahan usia muda. Kedewasaan seseorang memang tidak dilihat dari usia, ada orang yang usia muda tetapi sudah dewasa atau bahkan sebaliknya. Namun pada umumnya seseorang yang berusia 15 dan 18 tahun belum dapat dikatakan dewasa secara psikologis. Pada usia itu seseorang masih digolongkan remaja yang secara psikologis belum memiliki kematangan dalam berpikir. Menjalani pernikahan dibutuhkan kedewasaan, jika seseorang belum memiliki kematangan dalam berpikir maka ia belum dewasa. Oleh sebab itu pasutri muda umumnya sering mengalami keributan karena keegoisan masing-masing. Akibatnya adalah mereka mengalami stres dan frustrasi yang bisa berujung pada perceraian. Berikut uraian mengenai hal-hal yang memberikan dampak-dampak yang terjadi secara psikologis:
1) Perasaan setelah menikah
Perasaan setelah menikah memberi dampak pada segi psikologis. Pernyataan perasaan setelah menikah yang diungkapkan oleh pasangan dapat menggambarkan siap atau tidak siapnya pasangan ini menikah. Perasaan dipengaruhi oleh kematangan berpikir bagi pasangan. Seperti kita ketahui bahwa kematangan berpikir usia remaja belum sempurna, sehingga kemampuan berpikir yang belum matang dapat mendatangkan pikiran negatif. Jika pasangan berpikir negatif maka akan memberikan dampak negatif pula, contohnya munculnya perasaan takut dan ragu-ragu. Menurut Elkind (dalam Papalia dan Old, 2008: 561) “salah satu karakteristik pemikiran remaja yang belum matang adalah ragu-ragu”. Maksud dari ragu-ragu adalah pada dasarnya remaja menyimpan berbagai alternatif dalam pikiran mereka pada waktu yang sama, namun karena kurangnya pengalaman mereka kekurangan strategi efektif untuk memilih. 2) Adaptasi dengan keluarga pasangan
Adaptasi dengan keluarga pasangan berkaitan dengan kecakapan individu untuk menyesuaikan diri dengan suasana baru khususnya suasana keluarga
pasangan yang tentu berbeda dengan keluarga asalnya. Hal ini tidak mudah karena individu harus berhadapan dengan suasana dan orang-orang yang jauh berbeda dengan dia dan keluarga asalnya. Terlebih lagi dalam diri remaja ada sifat yang disebut egosentrisme, dimana remaja belum bisa berpikir dari sudut pandang orang lain (Santrock, 2003: 122). Remaja hanya berpikir dari sudut pandang dirinya, yang artinya remaja merasa bahwa apa yang ia lakukan sudah benar menurut pandangannya. Selain itu remaja juga sensitif, artinya ia bisa salah mengartikan suatu hal karena ia merasa tersakiti hatinya. Jika individu susah beradaptasi dengan lingkungannya maka dapat memberikan dampak negatif yaitu stres dan munculnya perasaan tidak dihargai. Selain itu dapat berdampak pula pada relasi antara individu dengan keluarga pasangan, cotohnya sering terjadi kesalahpahaman antara istri/ suami dengan ibu/ ayah mertua.
3) Adaptasi dengan status baru sebagai kepala keluarga dan ibu rumah tangga
Menjalani tugas baru sebagai ibu rumah tangga/ kepala keluarga memberi dampak pada segi psikologis. Menerima perubahan status dari lajang menjadi ibu
rumah tangga atau kepala keluarga memang tidak mudah. Terlebih pada pasangan yang menikah di usia muda. Faktor usia yang masih muda, ketidaksiapan untuk menikah, belum adanya pengalaman, pemikiran yang belum matang, dan sikap egois dapat memberikan dampak negatif bagi pasangan muda (Walgito, 1984: 25). Dampak negatif yang dihasilkan antara lain adalah munculnya sikap tidak peduli.
4) Pribadi: berkumpul dengan teman sebaya
Berkumpul dengan teman sebaya memberi dampak pada segi psikologis dan sosial. Berkumpul dengan teman merupakan sifat umum remaja. Hal ini mereka lakukan guna mencari jati dirinya. Selain itu perkembangan sosial remaja juga dipengaruhi oleh teman sebaya. Robinson (dalam Papalia dan Old, 2008: 617) mengungkapkan bahwa “sumber dukungan emosional penting sepanjang transisi masa remaja yang kompleks adalah peningkatan keterlibatan remaja
dengan teman sebayanya”. Berdasarkan pernyataan
Robinson dapat disimpulkan bahwa dalam mengalami perubahan fisik dan psikologis yang cepat, remaja membutuhkan orang lain yang juga mengalami perubahan yang sama.
Burhmester (dalam Papalia dan Old, 2008: 618) mengatakan bahwa:
Teman sebaya merupakan sumber afeksi, simpati, pemahaman, dan panduan moral; tempat bereksperimen; dan setting otonomi dan independensi dari orang tua, yang juga merupakan tempat latihan bagi intimasi orang dewasa.
Berdasarkan pernyataan Burhmester tersebut tidak heran jika remaja sangat menyenangi berkumpul dengan teman sebaya sebagai tempat untuk melepas stres. Terlebih bagi remaja yang sudah disibuki dengan pekerjaan. Namun jika hal ini terjadi terus menurus tanpa adanya kontrol dari dalam diri dapat menimbulkan dampak negatif. Dampak negatif yang ditimbulkan antara lain adalah munculnya perasaan tidak peduli dan terbawa pengaruh buruk dari teman. Namun jika kumpul dengan teman sebaya diimbangi dengan kontrol diri maka akan memberikan dampak positif, diantaranya yaitu tempat untuk mengekspresikan diri dan tempat untuk melepas penat. 5) Kesulitan mengurus anak
Papalia dan Old (2008: 608) dalam bukunya “Human Development” mengungkapkan bahwa “individu yang menjadi orangtua di usia remaja cenderung kurang dewasa, kurang terampil, dan
kekurangan dukungan sosial untuk menjadi orangtua yang baik”. Berdasarkan pernyataan tersebut dapat disimpulkan remaja yang menjadi orangtua umumnya mengalami kesulitan dalam mengurus anak. Dampak negatif yang ditimbulkan dari kesulitan mengurus anak adalah ketidakpedulian orangtua terhadap tumbuh kembang anak.
6) Mengatasi masalah rumah tangga/pribadi
Mengatasi masalah rumah tangga/ pribadi memberi dampak pada segi psikologis. Setiap pasangan pasti memiliki masalah rumah tangga, baik pasangan yang menikah di usia matang maupun pasangan yang menikah di usia muda. Perbedaannya adalah tingkat kematangan pikiran, pada umumnya pasangan yang menikah di usia matang dapat menyelesaikan masalah dengan mengkomunikasikan masalahnya. Namun bagi pasangan yang menikah muda jika ada masalah cenderung masih sangat emosi. Hal ini dikarenakan salah satu karakteristik ketidakdewasaan pemikiran remaja yaitu menunjukkan hipocrisy. Menurut Elkind (dalam Papalia dan Old, 2008: 562) yang dimaksud dengan menunjukkan hipocrisy adalah “bahwa remaja sering kali tidak menyadari perbedaan antara
mengekspresikan sesuatu yang ideal dan membuat pengorbanan yang dibutuhkan untuk mewujudkannya”. Dampak dari ketidakdewasaan dalam mengatasi masalah rumah tangga/ pribadi adalah stres dan meningkatnya emosi. Bahkan ketidakdewasaan pasangan muda dalam mengatasi masalah juga bisa berujung pada perceraian dan KDRT (Rifiani, 2011: 128)
7) Mengatasi emosi
Mengatasi emosi memberi dampak pada segi psikologis. Seperti kita ketahui remaja masih memiliki emosi yang belum matang dan memiliki sifat egosentrisme. Sifat egosentrisme adalah ketidak- mampuan remaja melihat sesuatu dari sudut pandang oranglain (Santrock, 2003:122). Hal ini tentu mempengaruhi remaja dalam mengatasi emosi. Salah satu hal yang merupakan mengatasi emosi adalah mengatur marah. Marah adalah perasaan emosi yang negatif. Jika seseorang dapat mengatasi emosinya dengan baik maka ia juga dapat mengatur marahnya dengan baik.
Pada pasangan yang menikah muda, usia yang masih tergolong remaja tentu memberi pengaruh dalam
diri mereka yaitu belum mampu mengatur emosi dengan baik. Hal ini dapat memberikan dampak negatif bagi pasangan suami istri yang mungkin berujung pada hal-hal yang tidak dinginkan. Dampak negatif yang mungkin muncul adalah stres dan keinginan untuk bercerai, melampiaskan marahnya pada suatu benda (contohnya menendang benda yang ada disekitarnya ketika sedang marah). Namun tidak semua remaja tidak dapat mengatasi emosinya. Belajar dari pengalaman, remaja yang telah menikah nyatanya dapat mengatasi emosi dengan baik. Hal ini tentu memberi dampak positif yaitu adanya perasaan lega. Maka dapat disimpulkan bahwa mengatasi emosi juga dapat memberikan dampak positif.
8) Persepsi hal baik dan kurang baik dari pernikahan dini Hal baik dan kurang baik dari pernikahan usia muda memberi dampak pada segi psikologis. Pernyataan tentang pernikahan usia muda menggambarkan pemikiran pasangan suami istri tentang pernikahan usia muda. Hasil pemikiran para pasangan suami istri akan menunjukkan dampak apa yang mereka alami. Hasil pemikiran ini juga menunjukkan seberapa tinggi tingkat kematangan berpikir para pasangan muda ini. Dampak
negatif yang umumnya terjadi adalah munculnya pemikiran dan perasaan takut dan ragu.
Selain kematangan dalam berpikir, Walgito (1984: 42) menuliskan beberapa faktor psikologis yang diperlukan dalam pernikahan yaitu “ kematangan emosi dan pikiran, sikap toleransi, sikap saling pengertian, menerima, dan percaya antara suami dan istri”. Jika faktor-faktor ini tidak ada dalam pernikahan maka dapat berdampak negatif pada pasutri muda.
c. Dampak dari segi sosial-ekonomi
Hal terakhir dimana memberi pengaruh pada pernikahan adalah kematangan sosial-ekonomi. Dilihat dari segi sosial-ekonomi, usia juga memberi pengaruh dalam pernikahan. Kematangan sosial-ekonomi seseorang pada umumnya berkaitan erat dengan usianya. Semakin bertambahnya usia seseorang, maka semakin kuat dorongan untuk mencari nafkah kehidupan (Walgito, 1984: 26). Hal yang paling penting dalam pernikahan adalah mencari nafkah untuk membiayai hidup. Umumnya ada sebagian pasangan muda yang belum siap secara sosial-ekonomi. Sebagian dari mereka ada yang belum bekerja dan masih menggantungkan hidupnya pada orangtua. Hal ini dapat berdampak negatif bagi pasutri muda diantaranya yaitu stres.
d. Dampak dari segi hukum
Di Indonesia pernikahan sendiri diatur oleh undang- undang yang membatasi usia pernikahan. Undang-undang pernikahan pasal 7 ayat 1 tahun 1974 menyebutkan bahwa usia minimum perkawinan untuk perempuan adalah 16 tahun, sedangkan untuk laki-laki adalah 19 tahun. Namun undang- undang itu tidak menjelaskan apakah pada usia itu orang sudah dikatakan dewasa atau belum. Ketidakjelasan undang-undang tersebut membuat sebagian orang tidak memikirkan apakah menikah perlu menunggu usia dewasa atau tidak. Bagi mereka jika seorang anak sudah dipandang layak untuk menikah, maka akan dinikahkan. Seperti yang terjadi pada masyarakat Toraja, budaya yang kuat serta pengetahuan yang kurang tentang dampak pernikahan dini membuat masyarakat Toraja tidak mempermasalahkan pernikahan walaupun di usia yang masih sangat muda. Bagi mereka jika sudah melaksanakan pernikahan sesuai adat maka pernikahan itu sah.
Selain ketidakjelasan undang-undang, pernikahan dini juga sudah melanggar undang-undang perlindungan anak. Keterbatasan pengetahuan masyarakat tentang undang-undang membuat sebagian masyarakat tidak tahu jika anak dilindungi oleh undang-undang. Jika pernikahan dini terus dilakukan, maka anak-anak telah kehilangan haknya. Apalagi masa-masa
itu adalah masa peralihan anak-anak menuju remaja. Selain kehilangan haknya, mereka juga kehilangan masa remajanya yang sangat berharga. Hal ini dikarenakan pemerintah kurang mensosialisasikan tentang undang-undang pernikahan serta perlindungan anak (Landung, Thaha, & Abdullah, 2009: 93).
Namun pada dasarnya tidak selalu dampak negatif yang ditimbulkan dari pernikahan usia muda. Ada dampak positif yang dihasilkan dari pernikahan dini jika pasangan sudah mantap menikah dan memiliki tujuan yang sama dalam pernikahan. Bowman (1954: 28) dalam bukunya Marriage for Moderns mengungkapkan bahwa:
People marry for one of a number of reasons, such reason as love, economic security, the desire for a home and children, emotional security, parent’s wishes, escape from loneliness or from a parental home situation, money, companionship, sexual attraction, protection, social position and prestige.
Pernikahan yang didasari oleh tujuan yang sama dapat memberikan dampak positif bagi pasutri, termasuk pernikahan yang dilakukan pada usia muda. Walaupun dari segi usia mereka masih muda tetapi mereka mantap dan memiliki komitmen untuk menjalani pernikahan. Dampak yang mereka dapat adalah rasa aman, saling mengasihi, dan saling percaya. Adhim (2002: 82) mengungkapkan bahwa “pernikahan dengan tujuan yang baik dan dibekali dengan tanggung jawab akan mendatangkan hal yang positif”. Hal ini berarti pernikahan yang dilandaskan dengan tujuan
yang baik dan tanggung jawab akan memberi dampak positif bagi pasutri, termasuk pernikahan pada usia muda. Selain itu dampak positif yang dihasilkan dari pernikahan dini adalah frekuensi yang lama dalam membesarkan anak. Pasangan yang menikah muda biasanya akan memiliki anak pada usia yang juga masih muda. Hal ini tentu menguntungkan karena jarak orangtua dan anak tidak terlalu jauh. Sehingga orangtua dapat membesarkan dan mendidik anak dalam waktu yang lama dan dengan metode yang tidak kuno.
B. Konsep Remaja yang Menikah Dini