HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
C. Hasil Penelitian
1. Hasil wawancara mendalam
Saat melakukan proses penelitian dengan kedua subjek, peneliti tidak begitu mengalami masalah. Penelitian berjalan lancar sesuai dengan agenda yang telah direncanakan. Berdasarkan hasil penelitian dengan
kedua subjek, berikut ini dipaparkan hasil wawancara mendalam berdasarkan pedoman wawancara:
a. Dampak dari segi fisik
1) Kesulitan ketika hamil dan melahirkan (khusus istri) Pernyataan subjek 1A (Am):
“Mungkin kesulitannya karena kurang informasi tentang kehamilan mba. Waktu hamil kan umur saya masih lima belas tahun mba jadi saya belum tahu banyak tentang hamil. Saya sempat dua kali keguguran mba sebelum dapat anak yang ketiga ini.”
(1A.5.1) Pernyataan subjek 2A (Al):
“Kalau pas hamil kayanya engga ada sih mba, cuma waktu itu anak saya lahir prematur, 6,5 bulan sudah lahir.”
(2A.5.1) Berdasarkan pernyataan kedua subjek di atas, peneliti menyimpulkan bahwa kehamilan di usia remaja memberikan dampak negatif bagi remaja putri. Dampak negatifnya adalah keguguran dan kelahiran prematur.
b. Dampak dari segi psikologis 1) Perasaan setelah menikah
Pernyataan subjek 1A (Am):
“Ya perasaan saya takut mba karena kan saya baru pertama kali menikah dan belum punya pandangan tentang berkeluarga, tapi ya sudah dijalani saja.”
(1A.1.9) Pernyataan subjek 1B (Dd):
“Perasaan saya waktu itu ya ragu-ragu mba, apa sudah siap menikah atau belum.”
(1B.1.5) Berdasarkan pernyataan dari subjek pertama, peneliti menemukan bahwa keduanya merasa belum siap untuk
menikah. Faktor usia yang masih muda melatarbelakangi ketidaksiapan mereka untuk menikah. Akibatnya mereka memiliki pikiran negatif mengenai pernikahan yang berdampak pada perasaannya. Perasaan yang dihasilkan dari pikiran negatif adalah perasaan takut dan ragu-ragu. Takut karena subjek berpikir belum memiliki pengetahuan tentang kehidupan setelah menikah, dan ragu karena subjek berpikir tidak dapat menghidupi keluarganya.
Pernyataan subjek 2A (Al):
“Perasaan saya...gimana ya, ada rasa lega, ya senang, tapi ada rasa takut juga mba.”
(2A.1.6) Pernyataan subjek 2B (Sg):
“Ya takut ada, ragu-ragu juga ada mba, takutnya itu besok bisa ngasih nafkah atau engga, ragu-ragunya itu benar tidak keputusan saya untu menikah muda tapi ya sudah jalani saja dulu mba.”
(2B.1.5) Berdasarkan pernyataan dari subjek kedua, peneliti juga menemukan ketidaksiapan dari pasangan ini. Terlebih pasangan ini menikah karena adanya kehamilan yang mengharuskan mereka untuk menikah walaupun dalam keadaan yang belum siap. Ketidaksiapan menikah dapat memberikan dampak negatif yang mengakibatkan mereka juga memiliki perasaan negatif. Hal ini dapat dilihat dari pernyataan mereka yang menyatakan takut dan ragu. Alasan mereka menyatakan takut dan ragu tidak berbeda dengan subjek yang pertama yaitu apakah bisa membiayai kehidupan pernikahan mereka kedepan. Selain
ketidaksiapan mereka untuk menikah, faktor lain juga mempengaruhi subjek memiliki perasaan negatif yaitu perkataan tidak membangun dari orang yang sangat berpengaruh. Subjek 2A mengaku bahwa perkataan ibunya membebani pikirannya sehingga ia memiliki perasaan yang negatif terkait kehidupan setelah menikah.
2) Adaptasi dengan keluarga pasangan Pernyataan subjek 1A (Am):
“Saya merasa susah beradaptasi dengan keluarga suami mba.” (1A.2.1) “Yang bikin saya seperti itu karena kan saya ikut suami dan suami saya masih tinggal dengan orangtuanya otomatis saya tinggal dengan mertua. Kadang saya merasa jengkel dengan mertua saya mba, itu yang bikin saya susah beradaptasi.”
(1A.2.2) Pernyataan subjek 2A (Al):
“Ya susah mba, waktu awal-awal saya tinggal disini itu sering ada perselisihan mba.”
(2A.2.2) “Ya dengan mertua saya.”
(2A.2.3) “Ya contohnya ibu mertua pernah marah gara-gara saya salah masak nasi, harusnya kan bisa ngomong pelan-pelan mba, tapi ini ngomongnya agak kasar, orangtua saya saja ga sampai sebegitunya mba kalau memarahi saya, ini ibu mertua saya sampai sebegitu marahnya hanya karena hal sepele.”
(2A.2.5) Berdasarkan pernyataan diatas, masalah yang dialami para istri dikarenakan perbedaan sifat dan faktor usia istri yang masih sangat muda. Usia 15 tahun masih dogolongkan sebagai usia remaja yang memiliki pemikiran egosentrisme. Pemikiran egosentrisme membuat para menantu belum bisa berpikir dari sudut pandang oranglain. Peneliti menyimpulkan demikian
karena pernyataan subjek tidak sejalan dengan pernyataan Ibu mertua. Berikut pernyataan dari Ibu mertua masing-masing subjek:
Pernyataan subjek 1C (Ibu mertua Am, Sr):
“Sepertinya tidak mba, setelah tinggal disini ya menantu saya biasa saja namanya juga ikut suami mau ga mau kan harus tinggal disini, karena anak saya kan belum punya rumah, kalau disini kan seperti itu mba kalau perempuan sudah menikah ya harus ikut suami.”
(1C.1.4) Pernyataan subjek 2C (Ibu mertua Al, ):
“Ya tidak mba, menantu saya biasa saja tinggal di sini, kalau setiap pagi ya bangun merendam cucian terus bikin sarapan untuk suaminya, nanti setelah itu baru momong anaknya, ya setiap hari cuma begitu mba. Tapi memang menantu saya itu cepat tersinggung, kalau ada salah apa sedikit saya beritahu langsung marah, padahal itukan demi kebaikan dia juga to mba, masa ada orang salah dibilangin malah marah, tapi ya sudah saya diamkan saja nanti ndak dikira saya cerewet atau suka ngatur, ya namanya juga masih remaja ya mba jadi masih agak susah dibilangin.”
(2C.1.7) Berdasarkan pernyataan dari pihak ketiga (ibu mertua), peneliti menyimpulkan memang terjadi adanya kesalahpahaman antara menantu dan mertua. Pemikiran egosentrisme inilah yang menyebabkan terjadinya banyak kesalahpahaman yang memicu masalah antara menantu dan ibu mertua. Padahal dari pihak ibu mertua hanya berusaha untuk melakukan yang terbaik bagi menantunya. Namun karena egosentrisme maka menantu mengartikan lain perilaku atau perkataan ibu mertuanya.
Berbeda dengan para suami, mereka terlihat lebih santai beradaptasi dengan keluarga baru mereka. Selain mereka tidak
tinggal dengan mertua, mereka juga jarang bertemu dengan mertua. Hanya sesekali saja mereka mengunjungi mertua untuk sekedar silaturahmi. Hal ini membuat para suami jarang mengeluarkan pikiran egosentrisme mereka, sehingga mereka jarang mengalami masalah dengan keluarga istri. Walaupun ada sedikit perbedaan sifat keluarga mereka dengan keluarga istri, namun mereka menyatakan tidak begitu merasa kesulitan untuk beradapatasi.
Pernyataan subjek 1B (Dd):
“Ya awal-awalnya susah mba, pasti kan kita punya perbedaan kebiasaan, perbedaan sifat, perbedaan perilaku, dan masih banyak perbedaan lainnya mba, terkadangkan perbedaan itu suka bikin masalah antar keluarga to mba.”
(1B.2.1) “Kalau untuk bisa beradaptasi menurut saya meningkatkan keakraban mba, kalau sudah akrab pasti ke sana-sananya enak.”
(1B.2.11) Pernyataan subjek 2B (Sg):
“Ya kesulitan pasti ada mba, apalagi saya menikah usianya masih muda, kalau saya sih prinsipnya mengalah mba, kalau misalnya sana lagi marah ya saya ngalah saja gitu supaya tidak ribut.”
(2B.2.1) 3) Adaptasi dengan status baru sebagai kepala keluarga dan ibu
rumah tangga
Pernyataan subjek 1A (Am):
“Engga sih mba, saya merasa bisa menjalaninya.”
(1A.3.1) “Ya soalnya dari sebelum menikah saya terbiasa dengan pekerjaan dirumah. Saya sudah terbiasa bersih-bersih rumah atau masak jadi saya tidak ada kesulitan bantu Ibu mertua saya untuk masak dan bersih-bersih rumah.”
Pernyataan subjek 1B (Dd):
“Kesulitan ya pasti ada mba, khususnya dalam hal ekonomi, saya dengan istri saya kan masih belum bisa mengatur uang, kadang masalah uang sering bikin kami ribut.”
(1B.3.1) Berdasarkan pernyataan dari subjek pertama, peneliti menyimpulkan bahwa pernikahan usia muda dapat memberikan baik dampak negatif maupun positif dalam hal perubahan status. Dampak negatifnya adalah perasaan emosi yang tinggi dalam mengatur keuangan. Sebagai pencari nafkah, suami mengeluhkan uang gaji yang selalu habis belum sampai akhir bulan. Disisi lain istri juga mengeluhkan biaya kebutuhan hidup yang meningkat. Hal ini terkadang membuat mereka sering ribut. Faktor yang mempengaruhi dampak negatif ini adalah pemikiran yang belum matang. Perubahan status ini juga memberikan dampak positif. Hal ini didukung oleh pernyataan Ibu subjek yang menyatakan bahwa keduanya dapat menjalani peran masing-masing dengan baik.
Pernyataan subjek 1C (Sr):
“Kesulitan sih tidak ada mba, ya seperti biasa anak saya kalau pagi ya kerja, lalu istrinya dirumah kadang bantu saya masak dan bersih-bersih rumah, waktu itu sempat menantu saya kerja karena dia bosan dirumah, kalau saya sih terserah dia saja yang penting dia bisa menjalaninya.”
(1C.2.2) Dampak positifnya adalah mereka dapat menerima dan menjalani peran mereka dengan baik walaupun pemikiran mereka masih dikategorikan belum matang. Mereka berusaha
menerima dan menjalani peran mereka walau masih minimnya pengalaman yang mereka miliki.
Pernyataan subjek 2A (Al):
“Sedikit kesulitan pasti ada mba cuma saya jalani saja mba, itu kan sudah jadi kewajiban saya, ya walaupun awalnya susah tapi bisa belajar sedikit-sedikit ngurus rumah tangga lama-lama jadi terbiasa.”
(2A.3.3) Pernyataan subjek 2B (Sg):
“Kesulitan pasti ada mba, soalnya saya menikah diusia yang masih muda juga terus saya masih ingin main-main, tapi saya ingat yang di rumah, misalnya saya mau main ke tempat teman saya, pulang-pulang pasti istri saya marah-marah, jadi kalau mau main ke tempat teman saya yang rumahnya agak jauh itu susah mba.”
(2B.3.2) Berbeda dengan pernyataan subjek pertama, peneliti menyimpulkan bahwa perubahan status memberi dampak yang berbeda bagi pasangan suami istri pada subjek kedua. Hal ini dapat dilihat dari pernyataan suami yang menyatakan bahwa perubahan status membuatnya susah untuk main dan sedikit otoriter terhadap istri. Dampak negatifnya adalah ia memiliki pemikiran negatif terkait perubahan statusnya dan memiliki sikap egois. Sg juga sepertinya belum bisa menerima perubahan statusnya dari lajang menjadi suami. Faktor yang mempengaruhi hal ini tentu saja pemikiran yang belum matang dan ketidaksiapan menerima perubahan status sehingga ia kurang bisa menjalani perannya sebagai kepala keluarga dengan baik. Hal ini juga didukung oleh pernyataan ibu subjek yang
menyatakan sifat anaknya belum berubah walaupun sudah menikah.
Pernyataan subjek 2C (As):
“Kalau anak saya mungkin karena belum siap mba, kadang sifat yang dulu masih ada sampai sekarang misalnya suka keluar malam ketemu teman, dari dulu memang sukanya keluar malam sampai setelah menikah ya masih begitu.”
(2C.2.2) Berbeda dengan istri, ia dengan mantap menyatakan tidak mengalami kesulitan dengan perubahan statusnya sebagai istri dan ibu rumah tangga. Dampak positifnya adalah ia memiliki pemikiran yang baik terkait perubahan statusnya sehingga ia dapat menjalani tugas sebagai ibu rumah tangga dengan baik. Hal ini juga didukung oleh pernyataan ibu mertua subjek yang menyatakan bahwa menantunya dapat menjalani perannya dengan baik.
“Kalau menantu, saya kurang tahu juga mba keliatannya dia tidak ada masalah karena saya lihat dia sayang sekali sama anaknya, terus dia juga melakukan pekerjaan ibu rumah tangga seperti biasa kaya nyuci, masak, momong, ya pokoknya semua itu dikerjakan tanpa ada beban.”
(2C.2.2) 4) Berkumpul dengan teman sebaya
Berkumpul dengan teman tidak hanya dilakukan bagi remaja yang belum menikah, tetapi remaja yang telah menikah juga melakukan hal tersebut. Hal ini mereka lakukan dengan alasan melepas lelah dan mencari hiburan. Berkumpul dengan teman memang tidak salah dan merupakan hak setiap orang,
apalagi jika diri ini dilanda stres yang berkepanjangan. Bertemu teman dapat sedikit mengurangi beban stres yang melanda. Namun bagi pasangan yang telah menikah harus diimbangi dengan statusnya, artinya dapat memberikan jumlah waktu yang sama antara kumpul dengan teman dan kumpul dengan keluarga. Jika tidak diimbangi maka akan memberikan dampak negatif, namun jika dapat diimbangi maka akan memberi dampak positif.
Pernyataan subjek 1A (Am):
“Kalau kumpul main sama teman sih engga pernah mba, saya seringnya di rumah aja.”
(1A.4.1) Pernyataan subjek 1B (Dd):
“Ya sempet mba mengalami hal itu, kadang kalau saya mau keluar rumah istri malah cemburu, padahal ya saya keluar rumah cuma kumpul bareng temen-temen, nanti kalau saya nekat keluar istri saya malah marah. Menurut saya hal ini membuat saya susah beradaptasi dengan istri saya, akibatnya kita sering ribut mba gara-gara saya sering main.”
(1B.4.1) Berdasarkan pernyataan dari subjek pertama, peneliti menyimpulkan bahwa keinginan untuk berkumpul dengan teman dapat memberikan dampak baik positif maupun negatif. Seperti yang dialami subjek 1A (Am), walaupun ia masih memiliki keinginan untuk berkumpul dengan teman-temannya, tetapi ia memilih jarang melakukan hal tersebut karena sudah tidak ada waktu untuk bertemu teman. Am menghasilkan ide baru dari pemikiran operasi formalnya. Ia menganggap bahwa berkumpul atau bertemu teman tidak begitu penting selama
masih bisa berhubungan melalui ponsel. Baginya mengurus keluarga khususnya anak itu lebih penting. Kalaupun ada hal yang ingin ia ceritakan pada temannya, ia bisa melakukannya lewat telpon atau SMS. Hal ini juga dibuktikan oleh pernyataan dari pihak ketiga:
Pernyataan subjek 1C (Ibu Dd, Sr):
“Kalau sepengetahuan saya menantu saya tidak pernah mba kumpul bareng temannya, tapi saya juga kurang tahu, kalau anak saya masih sering main sama teman-temannya, biasanya kalau main itu malam mba, ya wajarlah mba namanya laki-laki pasti masih ingin ketemu sama teman-temannya apalagi anak saya juga masih muda to mba, pasti masih senang main, asalkan mainnya tidak macem-macem atau berbahaya menurut saya tidak apa-apa mba.”
(1C.3.1) Berdasarkan pernyataan tersebut Ibu SR membenarkan bahwa menantunya tidak pernah pergi menemui temannya. Berbeda dengan anaknya (Dd) yang masih sering keluar malam dengan alasan melepas penat dan hal ini juga dibenarkan oleh Ibu Sr. Peneliti menyimpulkan bahwa subjek 1B (Dd) merasa berkumpul dengan teman itu penting untuk melepas lelah, namun dampak negatifnya adalah ia menjadi egois. Walaupun ia tahu kalau istrinya akan marah jika ia keluar malam, namun karena keegoisannya ia tetap melakukan hal itu. Memang hal yang Dd lakukan tidak salah, tetapi seharusnya Dd bisa mengimbangi waktu antara berkumpul dengan teman dan berkumpul dengan keluarga. Bagaimanapun juga keluarga butuh perhatian dari kepala keluarga.
Pernyataan subjek 2A (Al):
“Kalau ingat teman ya pasti adalah mba rasa kangen, ingin main lagi kaya dulu, tapi kan sekarang sudah punya anak jadi ya ga bisa main sama teman dan tidak boleh.”
(2A.4.1) Pernyataan subjek 2B (Sg):
“Kalau keinginan untuk bisa kumpul sama teman ya masih mba, sampai sekarang ya masih.”
(2B.4.1) Pernyataan mereka juga didukung oleh pernyataan Ibu Sg yang menyatakan bahwa:
Pernyataan subjek 1C (Ibu Sg, As)
“Kalau anak saya iya mba, tadi kan saya sudah bilang kalau anak saya itu masih suka keluar malam ya walaupun sekarang sudah tidak sampai malam sekali tapi masih sering, kalau menantu saya sepertinya jarang mba, kalau saya lihat dia memang sering di rumah, paling kalau mau pergi ya sama anak saya tapi saya tidak tahu pergi kemana yang saya tahu dia keluar rumah, tapi perginya kemana saya tidak tahu.”
(1C.3.1) Berdasarkan pernyataan subjek kedua dan peryataan dari pihak ketiga, peneliti menyimpulkan bahwa pernyataan subjek kedua tidak jauh berbeda dengan subjek pertama. Dampak positif masih dimunculkan oleh pihak wanita yang beripikir bahwa tidak mungkin bertemu dengan teman lagi karena sudah memiliki anak walaupun masih ada keinginan untuk melakukannya. Ia berusaha menepis keinginannya demi berusaha menjadi istri dan ibu yang baik. Hal berbeda diperlihatkan pihak pria, dimana sifat egois masih mendominasinya, tidak hanya sifat egois tetapi juga otoriter. Sg melarang istrinya untuk bertemu dengan temannya, namun ia
sendiri sering bertemu temannya dimalam hari. Terkadang ia tidak memperdulikan istrinya yang marah karena ia sering keluar malam. Pada dasarnya baik dampak positif dan dampak negatif bisa terjadi baik dari pihak suami ataupun istri. Jika suami mau memikirkan perasaan istri dan mampu mengelola waktu serta keinginan untuk bertemu teman tentu berkumpul dengan teman akan memberikan dampak positif. Begitu juga dengan istri jika ia selalu tertekan dengan perilaku suaminya yang sering main sementara ia sendiri menahan diri, dampak negatif juga bisa terjadi pada istri. Mungkin saja istri bisa melakukan hal nekat yang belum pernah ia lakukan sebelumnya. Sebaiknya dalam hal bertemu dan berkumpul dengan teman perlu dilakukan kesimbangan, tidak hanya berat pada suami saja.
5) Kesulitan mengurus anak Pernyataan subjek 1A (Am):
“Engga mba, setelah punya anak ya saya ngasuh anak saya tanpa kesulitan.”
(1A.6.1) Pernyataan subjek 1B (Dd):
“Kalau mengurus anak sih tidak ada kesulitan mba, karena dari kecil saya terbiasa momong adik, adik saya kan banyak mba jadi saya sudah punya pengalamanlah dalam mengurus anak.”
(1B.5.1) “Ya kalau saya sedang santai pasti saya bantu, hanya kalau pagi saya jarang bantu istri saya momong, padahal kalau pagi istri saya sedang repot-repotnya masak buat sarapan.”
(1B.5.2) Berdasarkan pernyataan subjek pertama, peneliti menyimpulkan bahwa memiliki dan mengurus anak memberi
dampak positif bagi pasangan suami istri ini. Mereka sama-sama menyatakan tidak mengalami kesulitan dalam mengurus anak. Berbekal pengalaman mengurus adik sendiri, mereka menjadikan pengalaman mereka sebagai pondasi dalam mengurus anak. Hal ini juga didukung oleh pernyataan ibu subjek yang menyatakan bahwa anak dan menantunya tidak mengalami kesulitan dalam mengurus anak.
“Ga ada itu mba, anak saya kan juga ikut momong anaknya kalau istrinya sedang sibuk, kadang kalau saya sedang selo ya saya juga momong cucu saya, lagian anak saya itu terbisa ngurus adik dan sepupunya kok mba jadi tidak ada kesulitan ngurus anak apalagi anak sendiri.”
(1C.4.1) Memang tidak semua pasangan muda mengalami kesulitan mengurus anak, namun ada beberapa yang masih merasa belum siap untuk mengurus anak. Peneliti menyimpulkan bahwa pada dasarnya subjek 1B masih belum siap mengurus anak. Hal ini dibuktikan oleh hasil observasi peneliti terhadap subjek dan pernyataan subjek yang menyatakan kalau ia jarang momong anaknya di pagi hari dengan alasan masih lelah dan ingin tidur. Perilakunya ini sesuai dengan teori Papalia dan Old, bahwa subjek masih kurang dewasa untuk menjadi orangtua karena usianya yang masih tergolong muda.
Pernyataan subjek 2A (Al):
“Kesulitannya waktu awal-awal anak saya lahir mba, anak saya kan lahir prematur dan beratnya cuma 1,8 kg, kecil banget to mba, jadi waktu itu aku masih takut mau mandiin, untung ada bulik yang mau bantu jadi ya sedikit meringankan lah.”
(2A.6.1) Pernyataan subjek 1B (Sg):
“Ya mengalami mba, apalagi ini anak pertama belum ada pengalaman ngurus anak jadi kesulitan itu pasti ada mba.”
(2B.5.1) Sedikit berbeda dengan subjek pertama, peneliti menyimpulkan bahwa subjek kedua merasa agak sedikit kesulitan dalam mengurus anak. Hal ini mereka rasakan ketika anak mereka baru saja lahir. Kesulitan mengurus anak ketika baru lahir memang dirasakan semua pasangan, tidak hanya pasangan yang menikah di usia muda, yang menikah di usia matang pun juga demikian. Namun mengurus anak memberikan dampak positif khususnya bagi istri. Selain sudah memiliki pengalaman dalam mengurus adik, jiwa seorang ibu langsung muncul ketika bersama anak. Walaupun secara pemikiran masih dianggap belum mampu, namun Al dapat menjadi ibu yang baik untuk anaknya. Hal ini juga didukung oleh pernyataan ibu mertua Al yang menyatakan bahwa menantunya tidak mengalami kesulitan dalam mengurus anak.
“Kalau kesulitan mengurus anak ya tidak ada mba, karena saya bantu momong juga kalau menantu saya sedang sibuk, kadang Pak tuwonya juga ikut momong, kadang anak saya yang bungsu juga ikut momong.”
(2C.4.1) Berbeda dengan Sg yang selalu menyatakan kesulitan mengurus anak, hal ini memberikan dampak negatif pada Sg. Sg menjadi kurang dekat dengan anaknya, walaupun ia menyatakan
senang memiliki anak namun kedakatan Sg dengan anaknya tidak sedekat Al. Ketidakdekatan Sg dengan anaknya bisa jadi dipengaruhi oleh kekurangdewasaan dan pemikiran Sg yang selalu menyatakan sulit mengurus anak. Sehingga hal ini berdampak pada kedekatan Sg dengan anaknya.
6) Mengatasi masalah rumah tangga/ pribadi Pernyataan subjek 1A (Am):
“Ya masalah pasti ada mba, biasanya kalau ada hal yang tidak saya sukai saya langsung ngomong sama suami saya tapi kadang suami saya suka ga terima terus marah-marah mba.”
(1A.8.1) Pernyataan subjek 1B (Dd):
“Dulu-dulu itu kalau ada masalah sering tak tinggal pergi mba.”
(1B.7.1) “Ya soalnya kalau ada masalah istri saya ditanyain ga jawab malah nangis, saya tu paling mangkel lihat orang bisanya hanya nangis, ya sudah dari pada saya tambah marah ya saya tinggal pergi saja, nanti kalau suasana hati saya sudah agak adem baru saya pulang ke rumah.”
(1B.7.2) Berdasarkan pernyataan dari subjek pertama, peneliti menyimpulkan bahwa cara mengatasi masalah rumah tangga yang salah bisa memberi dampak negatif bagi kelangsungan pernikahan. Peneliti menemukan dua pernyataan berbeda dari subjek pertama. Secara psikologis dalam pernikahan harus ada hal yang disebut kematangan emosi, kematangan pikiran, sikap saling toleransi, sikap saling menerima, sikap saling pengertian,