• Tidak ada hasil yang ditemukan

HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

D. Pembahasan 1 Dampak fisik

2. Dampak Psikologis

a. Perasaan setelah menikah

Perasaan setelah menikah memberi dampak pada segi psikologis. Hal ini dikarenakan belum matangnya pikiran pasangan muda tentang kehidupan setelah menikah. Pikiran yang belum matang membuat pasangan muda berpikir negatif mengenai perasaan mereka setelah menikah. Hal ini dibuktikan dari pernyataan masing-masing pasangan mengenai perasaan mereka setelah menikah.

Berdasarkan hasil wawancara dan observasi dari kedua subjek, peneliti menyimpulkan bahwa pernikahan usia muda memberi

dampak negatif bagi pasangan suami istri. Dampak negatifnya adalah usia yang masih muda yang mengakibatkan pasangan suami istri memiliki perasaan negatif mengenai kehidupan setelah menikah. Pada umumnya pasangan yang telah menikah menyatakan perasaan yang bahagia karena telah resmi menjadi suami istri dan siap menjalani bahtera rumah tangga. Namun pernikahan di usia yang masih sangat muda menyatakan sebaliknya. Hal ini dikarenakan pikiran yang belum matang yang mengakibatkan pasangan belum bisa berpikir dewasa.

Berdasarkan pernyataan kedua pasangan subjek diatas, peneliti menyimpulkan bahwa pernyataan keduanya sesuai dengan pernyataan Elkind (dalam Papalia dan Old, 2008: 561) tentang salah satu karakteristik ketidakmatangan pemikiran remaja. Salah satu karakteristik ketidakmatangan pemikiran remaja menurut Elkind adalah perasaan ragu-ragu, dimana remaja menyimpan berbagai alternatif dalam pikiran mereka pada waktu yang sama, namun karena kurangnya pengalaman mereka kekurangan strategi efektif untuk memilih. Maknanya adalah pada dasarnya kedua pasangan ini memiliki pemikiran antara siap dan tidak siap untuk menikah, namun karena mereka belum memiliki banyak pengalaman mereka berpikiran ragu dan takut tidak dapat membiayai keluarga kecil mereka. Pada kenyataannya mereka tahu apa yang harus mereka lakukan untuk membiayai keluarga kecilnya.

b. Adaptasi dengan keluarga pasangan

Adaptasi dengan keluarga pasangan memberi dampak pada segi psikologis. Kedua subjek yang telah menikah ini rata-rata ikut tinggal dengan suami. Hal ini merupakan keharusan karena suami belum memiliki rumah sendiri. Tinggal dengan keluarga suami berarti mengharuskan istri untuk bisa beradaptasi dengan keluarga baru yang sangat berbeda dengan keluarga aslinya. Adaptasi inilah yang menimbulkan masalah antara menantu dan mertua. Hampir rata-rata subjek perempuan memiliki masalah dengan ibu mertuanya. Hal ini dikarenakan masih adanya sifat egosentrisme pada diri remaja khususnya menantu perempuan (Santrock, 2003: 122).

Berdasarkan hasil wawancara dan observasi, peneliti menyimpulkan bahwa pernikahan di usia muda dapat memberikan dampak negatif dalam hal adaptasi dengan keluarga khususnya bagi para istri. Hal ini mengakibatkan kesalahpahaman dalam menangkap sikap dan perkataan oranglain. Faktor yang menimbulkan kesalahpahaman adalah pikiran egosentrisme yang masih dimiliki remaja. Pada umumnya masalah miss understanding juga mungkin terjadi pada pasangan yang menikah di usia matang, namun dengan kematangan berpikir mereka bisa menyelesaikannya dengan baik. Kesalahpahaman juga tidak menutup kemungkinan terjadi pada para suami jika mereka berada pada posisi yang sama dengan istri. Hanya

saja mereka tinggal dengan orangtua kandung sehingga permasalahan itu tidak terjadi.

c. Adaptasi dengan status baru sebagai kepala keluarga dan ibu rumah tangga

Menjalani tugas baru sebagai ibu rumah tangga/ kepala keluarga memberi dampak pada segi psikologis. Menerima perubahan status dari lajang menjadi ibu rumah tangga atau kepala keluarga memang tidak mudah. Terlebih pada pasangan yang menikah di usia muda. Faktor usia yang masih muda, pemikiran yang belum matang, dan sikap egois dapat memberikan dampak negatif bagi pasangan muda . (Walgito, 1984: 25) Namun faktor-faktor tersebut juga bisa memberikan dampak positif bagi mereka.

Berdasarkan hasil wawancara dan observasi dari kedua subjek, peneliti menyimpulkan bahwa perubahan status pada pernikahan usia muda dapat memberikan baik dampak negatif maupun dampak positif. Seperti kita ketahui bahwa perkembangan kognitif remaja disebut sebagai tahap operasi formal, dimana remaja dapat mengembangkan pikirannya untuk memunculkan ide baru (Santrock, 2003: 122). Dampak negatif dari perubahan status adalah emosi yang tinggi dan pemikiran negatif mengenai perubahan status. Dampak positif dari perubahan status bagi pasangan muda ini mungkin muncul karena mereka sudah bisa mengembangkan pikirannya sehingga muncul suatu pernyataan dalam benak mereka untuk berusaha menerima dan

menjalani perannya dengan baik. Namun perlu diingat bahwa remaja juga masih memiliki pemikiran egosentrisme. Pemikiran inilah yang mungkin muncul bagi subjek yang belum menerima perubahan statusnya.

d. Pribadi: berkumpul dengan teman sebaya

Berkumpul dengan teman sebaya memberi dampak pada segi psikologis dan sosial. Berkumpul dengan teman merupakan sifat umum remaja. Hal ini mereka lakukan guna mencari jati dirinya. Selain itu perkembangan sosial remaja juga dipengaruhi oleh teman sebaya. Hal ini dibuktikan oleh pernyataan Robinson (dalam Papalia dan Old, 2008: 617) yang mengungkapkan bahwa “sumber dukungan emosianal penting sepanjang transisi masa remaja yang kompleks adalah peningkatan keterlibatan remaja dengan teman sebayanya”. Berdasarkan pernyataan Robinson dapat disimpulkan bahwa dalam mengalami perubahan fisik dan psikologis yang cepat, remaja membutuhkan orang lain yang juga mengalami perubahan yang sama. Burhmester (dalam Papalia dan Old, 2008: 618) mengatakan bahwa:

Teman sebaya merupakan sumber afeksi, simpati, pemahaman, dan panduan moral; tempat bereksperimen; dan setting otonomi dan independensi dari orang tua, yang juga merupakan tempat latihan bagi intimasi orang dewasa.

Berdasarkan pernyataan Burhmester tersebut tidak heran jika remaja sangat menyenangi berkumpul dengan teman sebaya sebagai tempat untuk melepas stres. Terlebih bagi remaja yang sudah disibuki dengan pekerjaan.

Berdasarkan hasil wawancara dan observasi dari kedua subjek, peneliti menyimpulkan bahwa keinginan untuk berkumpul dengan teman dapat memberikan dampak baik positif maupun negatif. Keinginan berkumpul dengan teman umumnya masih banyak dilakukan bagi para suami, sedangkan para istri memilih untuk diam di rumah. Dampak positif yang dihasilkan dari keinginan bertemu teman adalah pemikiran positif bahwa tidak perlu bertemu teman selama masih bisa berkomunikasi lewat ponsel dan memilih diam di rumah karena sudah memiliki anak. Dampak negatifnya adalah pengaruh buruk dari teman, otoriter, dan perasaan egois.

e. Kesulitan mengurus anak

Kesulitan dalam mengurus anak memberi dampak pada segi psikologis. Pada umumnya pasangan yang telah menikah tentu mendambakan kehadiran seorang anak dalam rumah tangganya. Selain itu mereka juga sudah siap untuk mengurus dan membesarkan anak mereka. Bahkan mereka menganggap bahwa anak adalah anugrah terindah dalam hidupnya. Bagi pasangan yang menikah di usia muda, kesulitan mengurus anak dapat memberikan dampak negatif. Papalia dan Old (2008: 608) dalam bukunya “Human Development” mengungkapkan bahwa “individu yang menjadi orangtua di usia remaja cenderung kurang dewasa, kurang terampil, dan kekurangan dukungan sosial untuk menjadi orangtua yang baik.” Namun disisi lain memiliki dan mengurus anak juga dapat

memberikan dampak positif. Pasangan yang menikah di usia muda, walaupun secara pemikiran mereka dianggap belum dewasa tetapi dalam hal mengurus anak mereka tidak mengalami kesulitan. Hal ini dikarenakan pengalaman mereka yang sebelumnya pernah mengasuh adik atau keponakan.

Berdasarkan hasil wawancara dan observasi dari kedua subjek, peneliti menyimpulkan bahwa mengurus anak memberikan dampak positif dan negatif. Dampak positifnya adalah mereka dapat belajar dari pengalaman selama mengurus anak. Hal ini dikarenakan mereka telah memiliki pengalaman mengurus adik atau keponakan. Dampak negatifnya adalah kurangnya kedekatan antara orangtua dan anak. Hal ini dikarenakan kurang perhatian dan jarangnya orangtua mengasuh anak (para suami) dengan alasan lelah karena pekerjaan.

f. Mengatasi masalah rumah tangga/ pribadi

Mengatasi masalah rumah tangga/ pribadi memberi dampak pada segi psikologis. Setiap pasangan pasti memiliki masalah rumah tangga, baik pasangan yang menikah di usia matang maupun pasangan yang menikah di usia muda. Perbedaannya adalah tingkat kematangan pikiran, pada umumnya pasangan yang menikah di usia matang dapat menyelesaikan masalah dengan mengkomunikasikan masalahnya. Namun bagi pasangan yang menikah muda jika ada masalah cenderung masih sangat emosi. Hal ini dikarenakan adanya salah satu karakteristik ketidakdewasaan pemikiran remaja yaitu menunjukkan

hipocrisy. Menurut Elkind (dalam Papalia dan Old, 2008: 562) yang dimaksud dengan menunjukkan hipocrisy adalah “bahwa remaja sering kali tidak menyadari perbedaan antara mengekspresikan sesuatu yang ideal dan membuat pengorbanan yang dibutuhkan untuk mewujudkannya”. Berbagai macam cara yang mereka lakukan untuk menyelesaikan masalah mereka, misalnya ditinggal pergi, marah, adu mulut, atau bahkan berusaha mengkomunikasikannya supaya cepat selesai. Hal tersebutlah yang peneliti dapatkan saat penelitian. Peneliti menyimpulkan bahwa karena usia mereka yang masih muda, sehingga dalam menyelesaikan masalah rumah tangga atau pribadi masih muncul sifat-sifat khas remaja.

Namun tidak selamanya cara pasangan muda menyelesaikan masalah mendatangkan dampak negatif, pengalaman mereka dalam menyelesaikan masalah juga bisa memberikan dampak positif. Berdasarkan hasil wawancara dan observasi kedua subjek, peneliti menyimpulkan bahwa cara mengatasi masalah rumah tangga/ pribadi bagi pasangan muda dapat memberikan dampak positif maupun negatif. Dampak positifnya adalah mereka memiliki kemampuan untuk mengatasi masalah berbekal dari pengalaman-pengalaman yang sudah terjadi. Dampak negatifnya adalah mengabaikan dan menghindari masalah.

g. Mengatasi emosi

Mengatasi emosi memberi dampak pada segi psikologis. Seperti kita ketahui remaja masih memiliki emosi yang belum matang dan memiliki sifat egosentrisme (Santrock, 2003:122). Hal ini tentu mempengaruhi remaja dalam mengatasi emosi. Begitu juga pada pasangan yang menikah di usia muda, usia yang masih tergolong remaja tentu memberi pengaruh yang sama yaitu belum mampu mengatur emosi dengan baik. Hal ini dapat memberikan dampak negatif bagi pasangan suami istri yang mungkin berujung pada hal-hal yang tidak dinginkan.

Berdasarkan hasil wawancara dan observasi kedua subjek, peneliti menyimpulkan bahwa cara mengatasi emosi bagi pasangan muda dapat memberikan dampak positif maupun negatif. Dampak positifnya adalah perasaan tenang dan lega karena dapat mengendalikan emosi. Dampak negatifnya adalah rasa tertekan, stres, dan mudah lelah.

h. Persepsi hal baik dan kurang baik dari pernikahan dini

Hal baik dan kurang baik dari pernikahan usia muda memberi dampak pada segi psikologis. Pernyataan tentang pernikahan usia muda menggambarkan pemikiran pasangan suami istri tentang pernikahan usia muda. Hasil pemikiran para pasangan suami istri akan menunjukkan dampak apa yang mereka alami. Hasil pemikiran ini juga menunjukkan seberapa tinggi tingkat kematangan berpikir para

pasangan muda ini. Selain kematangan dalam berpikir, Walgito (1984: 42) menuliskan beberapa faktor psikologis yang diperlukan dalam pernikahan yaitu “ kematangan emosi dan pikiran, sikap toleransi, sikap saling pengertian, menerima, dan percaya antara suami dan istri”. Jika faktor-faktor ini tidak ada dalam pernikahan maka dapat berdampak negatif pada pasutri muda.

Namun tidak selamanya persepsi tentang pernikahan dini memberikan dampak negatif, persepsi ini juga dapat memberikan dampak positif. Berdasarkan hasil wawancara dan observasi dari kedua subjek, peneliti menyimpulkan bahwa pernyataan mengenai pernikahan dini memberi dampak positif dan negatif. Dampak positifnya adalah menerima kenyataan, dan berpikir lebih dewasa, serta termotivasi untuk bekerja. Dampak negatifnya adalah rasa kehilangan, perasaan tidak siap menjalani rumah tangga.