• Tidak ada hasil yang ditemukan

DAMPAK DARI POLITIK ETIS TERHADAP MASYARAKAT SIMELOENGOEN PADA TAHUN 1901-1942

Dalam dokumen PENERAPAN POLITIK ETIS DI SIMELOENGOEN (Halaman 90-110)

Kebijakan Politik Etis yang dilakukan pemerintah Kolonial Belanda terhadap rakyat Hindia Belanda, khususnya masyarakat Simeloengoen memiliki peran yang cukup penting bagi perkembangan dan kemajuan Simeloengoen dari suatu daerah yang sepi dan menakutkan kemudian menjadi salah satu daerah yang cukup dipertimbangkan di Sumatera Timur. Kehadiran Kolonial Belanda serta Kebijakan Politik Etis ini sangat berdampak bagi kehidupan masyarakat Simeloengoen.

5.1 Emigrasi

Adapun dampak bagi Simeloengoen oleh karena program emigrasi adalah kenaikan jumlah penduduk Simeloengoen yang sangat signifikan. Kehadiran Kolonial Belanda di Simeloengoen memberikan pengaruh yang besar bagi daerah ini.

Berkembangnya Simeloengoen sebagai daerah industri perkebunan membuat Simeloengoen menjadi daerah yang cukup ramai didatangi oleh orang-orang asing untuk bekerja dan tinggal di tempat ini, khususnya orang-orang Batak Toba dan Jawa yang dipindahkan oleh pemerintah Kolonial ke Simeloengoen untuk bekerja mengusahakan dalam bidang pertanian perkebunan.

Pada masa pemerintahan Kolonial Belanda, penduduk Simeloengoen dibagi menjadi tiga golongan, yakni golongan Eropa (European), yaitu orang-orang Belanda dan Eropa lainnya; golongan Timur Asing (Oostersche Vreendeling), yaitu Cina,

72

Tamil, dan lainnya; dan terakhir adalah golongan Pribumi atau Bumiputera (Inlanders), yaitu Simeloengoen, Batak Toba, Jawa, dan lainnya.

Pada tahun 1930, pemerintah Kolonial Belanda melakukan sensus penduduk (volkstelling) di Simeloengoen. Adapun jumlah penduduk Simeloengoen adalah sebanyak 285.301 jiwa, dengan jumlah kaum Pribumi sebanyak 268.226 jiwa87 yang di dominasi oleh orang-orang Batak Toba dan Jawa.

Meningkatnya jumlah penduduk oleh karena kedatangan orang-orang asing ke Simeloengoen menyebabkan terjadinya dinamika dalam kehidupan masyarakatnya.

Daerah Simeloengoen kemudian menjadi daerah yang heterogen dan menciptakan masyarakat yang plurarisme88. Terlebih lagi posisi Simeloengoen yang berbatasan langsung dengan daerah Tapanuli, Karo dan daerah-daerah perkebunan di Sumatera Timur.

Gelombang arus kedatangan yang besar ini kurang memberikan dampak positif bagi masyrakat asli Simeloengoen. Meskipun dapat hidup berdampingan di tengah-tengah kemajemukan masyarakat, hanya sedikit masyarakat asli Simeloengoen yang bertahan. Kebanyakan dari mereka memilih tetap pada kepribadiannya yang lebih suka menyendiri dan hidup dengan tenang. Sehingga masyarakat asli Simeloengoen memilih untuk berpindah ke tempat yang lebih sepi yaitu ke dataran tinggi di Simeloengoen Atas

87 Volkstelling 1930. Departement van Economische. 1936., hlm. 71.

88 Plurarisme adalah sesuatu yang memberi makna jamak atau lebih dari satu (banyak) dari segi kebudayaan yang berbeda dalam masyarakat.

73

untuk menghindarai keramaian di daerah sebelumnya yang mengakibatkan pendatang asing lebih banyak daripada penduduk asli Simeloengoen sendiri.

Berdasarkan sensus penduduk tahun 1930, dari 285.301 jumlah kaum Pribumi di Simeloengoen, jumlah masyarakat asli Simeloengoen adalah 76.759 jiwa89. Untuk daerah Simeloengoen Bawah seperti Siantar, Tanah Djawa dan Sidamanik berubah menjadi kediaman orang-orang dari Tapanuli dan Jawa sedangkan daerah Simeloengoen atas masih dikuasi oleh masyarakat asli Simeloengoen. Penduduk asli Simeloengoen pelan-pelan kemudian menjadi kelompok minoritas di tanahnya sendiri.

Sensus penduduk ini menunjukkan bahwa pembukaan perkebunan serta Kebijaksanaan Politik Etis sangat berdampak bagi jumlah penduduk di Simeloengoen.

Tabel 7

Penduduk Onderafdeeling Simeloengoen tahun 1930

Pribumi Eropa China Timur Asing

lainnya

Total

Lk Pr Lk Pr Lk Pr Lk Pr Lk Pr

140.479 127.787 907 655 9802 4245 969 457 152.157 133.144

268.266 1.562 14.047 1426 285.301

Sumber: Volkstelling 1930. Department Van Economische Zaken (Nederlandsch Indië). 1936.

Sejak dipindahkannya ibukota Afdeeling Simeloengoen en Karolanden dari Seribu Dolok ke Pematang Siantar pada tahun 1907, daerah ini semakin berkembang

89 Hisarma Saragih. Op. Cit., hlm 64.

74

pesat baik dalam industri perkebunan maupun penduduk. Terlebih lagi sejak dijadikannya Pematang Siantar sebagai Gemeente90 pada 1 Juli 1917 membuat daerah ini menjadi sasaran bagi pendatang untuk menetap dan bekerja. Pemerintah Kolonial telah merubah Pematang Siantar menjadi sebuah kota yang memiliki administrasi pemerintahan modern dan perekonomian yang lebih maju dari daerah lainnya di Simeloengoen, kondisi modernisasi yang dilakukan oleh pemerintah Kolonial inilah yang membuat orang tertarik untuk datang ke Pematang Siantar.

Orang Simeloengoen yang menjadi penduduk asli di Pematang Siantar, kebanyakan tidak mampu beradaptasi dan berhadapan dengan keadaan modern serta para pendatang. Mereka kemudian berpindah ke sebelah barat Pematang Siantar dan hanya menyisakan perkampungan di daerah Pamatang91 dan seiring waktu, muncul kampung-kampung baru yang menunjukkan identitas dari etnis-etnis yang mendominasi di Pematang Siantar, seperti: Kampung Kristen (orang-orang Batak Toba), Kampung Jawa, Kampung Bantan, Kampung Banjar, dan sebagainya92.

Pada sensus yang dilakukan oleh Jan Tideman di akhir tahun 1920 menunjukkan bahwa jumlah penduduk di Pematang Siantar masih 9.460 jiwa.

Kemudian dalam waktu sepuluh tahun yaitu pada tahun 1930, jumlah penduduk di

90 Gemeente adalah ibukota dari sebuah keresidenan, Afdeeling, ataupun Onderafdeeling.

91 Pamatang adalah daerah kawasan swapraja yang berada di sekitar kerajaan atau istana.

92 Juandaha Raya, Martin Lukito Sinaga. Op. Cit., hlm. 84.

75

Pematang Siantar menjadi 15.482 jiwa. Dari jumlah tersebut, orang Simeloengoen asli yang tinggal di Siantar hanya 495 jiwa, dan sisanya adalah para pendatang. Kelompok yang mendominasi di Pematang Siantar adalah Batak Toba dengan jumlah 2.968 Timorland Das Evangelium! Sejarah Seratus Tahun Pekabaran Injil Di Simalungun, 2 September 1903-2003”. 2003.

Orang-orang Cina semakin banyak yang datang ke Simeloengoen terutama di Pematang Siantar. Orang Cina dibagi dalam dua kelompok besar, yakni kelompok pedagang yang merupakan unsur dominan dari kelompok ini, mereka juga membuka kedai yang biasanya berada di pusat-pusat keramaian. Di ibukota yaitu Pematang

Bumiputera Eropa Cina Asia Lainnya Total

9.711 317 4.964 490 15.482

62,72 % 2,05 % 32.06 % 3.17% 100 %

76

Siantar, sekitar 160 orang Cina membuka kedai. 100 orang diantaranya adalah Hokkien, 27 orang Keh, dan sisanya orang Macao termasuk 8 orang sebagai pengrajin emas94. Kelompok kedua adalah, mereka yang bekerja sebagai kuli kontrak di perkebunan, tetapi jumlah mereka untuk pekerjaan ini sangat sedikit karena orang-orang Jawa yang mendominasi untuk bekerja di perkebunan.

Peta 2

Penyebaran Pemukiman Penduduk Simeloengoen tahun 1938

Sumber: Memorie Van Overgave van Meindersma. 1938

94 J. Tideman. Op. Cit., hlm. 211.

77 Gambar 5.1

Pematang Siantar tahun 1938

Sumber: Arsip Colonial Architecture. Diakses dari http://colonialarchitecture.eu. Diakses pada 5 Agustus 2021 pukul 20.28 WIB

Gambar 5.2

Chinatown di Pematang Siantar tahun 1935

Sumber: Erond. L. Damanik. Potret Simalungun Tempo Doeloe Menafsir Kebudayaan Lewat Foto. 2019.

78

Kehadiran Kolonial Belanda dan penerapan kebijakan Politik Etis membawa pengaruh yang berdampak pada kehidupan sosial masyarakat di Simeloengoen.

Masyarakat Simeloengoen yang dikenal masih sangat terbelakang, hidup dalam perbudakan, ketakutan untuk bertemu dengang orang asing dan masih memeluk kepercayaan tradisional berangsur-angsur mulai mengalami kemajuan.

Sejak tahun 1910, pemerintah Kolonial Belanda mengeluarkan kebijakan untuk menghapuskan perbudakan di Simeloengoen terutama untuk anak-anak. Bekas budak ini diberdayakan dan diberikan pendidikan yang kemudian dapat bekerja dalam pemerintahan.

Dalam hal kepercayaan, masyarakat Simeloengoen di abad ke 20 semakin banyak yang meninggalkan kepercayaan tradisional dan beralih memeluk agama Kristen. Peralihan kepercayaan ini tidak terlepas dari pengaruh zending RMG yang bekerja di Simeloengoen sejak tahun 1903 terutama dalam bidang pendidikan dan para migran Batak Toba yang bekerja di Simeloengoen. Tidak sedikit juga masyarakat Simeloengoen yang beralih memeluk agama Islam.

Daerah Simeloengoen bawah seperti Siantar, Perdagangan, Pematang Bandar, dan Tanah Jawa adalah daerah yang masyarakatnya mayoritas beragama Islam karena daerah ini berbatasan langsung dengan Kisaran Indrapura, Asahan, dan Tanjung Kasau

79

yang merupakan daerah Melayu yang beragama Islam. Pematang Bandar merupakan pangkalan utama bagi perluasan agama Islam kepada masyarakat Simeloengoen95.

Untuk daerah Simeloengoen atas, masyarakatnya mayoritas beragama Kristen.

Daerah Raya merupakan daerah yang menjadi pos zending pertama kali di Simeloengoen. Zending memilih daerah ini karena dari segi sosial budaya penduduk daerah ini belum mendapat pengaruh dari orang asing. Masyarakat daerah ini masih menganut kepercayaan tradisional dan belum ada pengaruh Islam di daerah ini. Tentu masyarakat Simeloengoen masih meragukan kedatangan zending dan tidak menerima pendekatan-pendakatan yang dilakukan zending dengan mudah.

Tidak semudah di Tapanuli Utara, pekerjaan zending di Simeloengoen lebih berat. Setelah enam tahun bekerja di Simeloengoen, akhirnya zending berhasil menarik minat masyarakat Simeloengoen beralih menjadi agama Kristen. Pada 25 Desember 1909, 24 orang dibaptis di Simeloengoen. Ini merupakan baptisan pertama selama zending bekerja di Simeloengoen. Mereka yang dibaptis adalah dari kalangan rakyat biasa. Para Raja di Simeloengoen masih eggan untuk beralih memeluk agama Kristen karena mereka tidak mau meninggalkan perbudakan dan poligami. Sampai dengan tahun 1927 hanya 1362 orang Simeloengoen yang beralih menjadi Kristen dan bersedia dibaptis96.

95 T. Luckman Sinar. Sari Sejarah Serdang (I). Medan: Ikatan Keluarga Sedang. 1977., hlm.

2-3.

96 Hisarma Saragih. Op.Cit., hlm. 101.

80

Masuknya para pendatang merubah tatanan kehidupan di Simeloengoen.

Heterogenitas masyarakat di Simeloengoen terjadi akibat semakin banyaknya suku, ras, agama, dan bahasa yang dibawa oleh para pendatang ke Simeloengoen . Tidak sedikit juga terjadi peleburan marga dari para pendatang menjadi marga Simeloengoen agar dapat hidup berbaur dengan penduduk asli. Hal ini mengakibatkan semakin bertambahnya marga-marga baru di Simeloengoen di luar dari Damanik, Sinaga, Saragih, dan Purba. Peleburan marga-marga pendatang menjadi bagian dari marga Simeloengoen terjadi karena adanya perkawinan campur antar penduduk Simeloengoen dengan para pendatang, ataupun keingin dari pendatang agar dapat diterima dengan baik oleh penduduk asli Simeloengoen.

Tidak terjadi perubahan yang signifikan terhadap budaya asli Simeloengoen meskipun berada diantara banyak suku dan ras yang baru di daerahnya. Baik dalam bahasa maupun adat istiadat, kecuali di daerah Pematang Siantar yang menjadi ibukota dan pusat sosial politis kerajaan Siantar yang sarat akan sosial-budaya. Budaya Simeloengoen kemudian menghilang dan digantikan oleh budaya baru seiring dengan munculnya identitas sosial budaya para pendatang.

5.2 Pendidikan

Pendidikan adalah salah satu aspek dari kebijakan Politik Etis. Masuknya pendidikan ke Simeloengoen yang dibawa oleh orang-orang Eropa telah menyadarkan masyarakat Simeloengoen bahwa pendidikan adalah salah satu hal yang berguna dalam kehidupan mereka. Pendidikan telah mempengaruhi cara berpikir dan bertindak

81

sehingga menghasilkan orang-orang Simeloengoen yang terdidik. Tidak sedikit dari mereka yang bekerja dalam administrasi pemerintahan yang dapat memperbaiki status sosialnya.

Pendidikan melahirkan golongan baru yang terpelajar dari masyarakat Simeloengoen yang kemudian akan memikirkan nasib Simeloengoen. Jaulung Wismar Saragih adalah salah satu masyarakat Simeloengoen yang berhasil menempuh pendidikan hingga selesai. Karirnya diawali dengan menjadi guru di sekolah Zending lalu bekerja dalam administrasi kerajaan Simeloengoen untuk pemerintah kolonial Belanda. Berawal dari kesadarannya akan nasib Simeloengoen yang tertinggal jauh dari suku-suku lainnya yang berada di tanah Simeloengoen maka Ia menggagaskan penggunaan bahasa Simeloengoen untuk semua aspek kehidupan yang ada di Simeloengoen dimulai dari sekolah karena sejak pembukaan sekolah di Simeloengoen, bahasa yang digunakan adalah Bahasa Toba yang dianggap oleh pemerintah Kolonial sama dengan bahasa Simeloengoen. Usahanya untuk mengembangkan penggunaan bahasa Simeloengoen didukung oleh penguasa dan raja-raja Simeloengoen.

Selain Jaulung Wismar Saragih, orang Simeloengoen yang kemudian menyadarkan masyarakat Simeloengorn adalah Djason Saragih. Ia disebut sebagai pelopor pendidikan di Simeloengoen. Pada tahun 1910, bersama Jaulung Wismar Saragih mereka menempuh pendidikan di sekolah Zending . Pada tahun 1911, Ia berangkat ke Depok untuk melanjutkan pendidikan dan lulus pada tahun 1915. Setelah lulus ia kembali ke Simeloengoen untuk mengajar masyarakat Simeloengoen. Seluruh

82

hidupnya didedikasikan bagi pendidikan terutama kepada masyarakat Simeloengoen.

Kemudian, bersama dengan 14 orang Simeloengoen yang terdidik lainnya pada 3 September 1928 membentuk sebuah institusi bernama Komite Na Ra Marpodah.

Tujuan dibentuknya institusi ini adalah untuk memberdayakan dan memelihara bahasa Simeloengoen ditengah-tengah daerah Simeloengoen yang menjadi heterogen.

Orang Simeloengoen pertama yang berhasil menjadi dokter adalah Djasmen Saragih. Ia menempuh pendidikan kedokteran di Mosvia Surabaya Jawa Timur.

Setelah lulus ia mengabdikan dirinya untuk bekerja di rumah sakit yang didirikan pemerintah kolonial di Siantar. Tidak hanya di Simeloengoen, ia juga ditugaskan untuk bekerja di Tanah Karo.

Tokoh dari Simeloengoen yang berjuang hingga tingkat nasional adalah Raja Kaliamsyah Sinaga. Putra dari Tuan Sangma Raja Maligas yang merupakan pemimpin di Kerajaan tanah Jawa. Raja Kaliamsyah Sinaga pernah menempuh pendidikan hingga tingkat IV Recht Hoge-School ( Sekolah Tinggi Hukum) di Jakarta. Raja Kaliamsyah Sinaga adalah salah satu tokoh yang ikut berperan dalam memperjuangkan kemerdekaan Indonesia. Pada masa berdirinya Negara Sumatera Timur (NST), bersama dr. Tengku Mansur menjadi Wakil Walinegara Sumatera Timur menghadiri Konfrensi Meja Bundar di Den Haag, Belanda.

Semakin sadarnya masyarakat Simeloengoen akan pendidikan, secara perlahan posisi orang Batak Toba sebagai pengajar di sekolah digantikan oleh orang

83

Simeloengoen. Penduduk asli lebih tertarik jika pengajarnya adalah dari kaum mereka karena bahasa yang digunakan adalah bahasa Simeloengoen yang tentu lebih dipahami.

Tidak hanya beberapa tokoh ini yang menjadi golongan terpelajar di tengah-tengah masyarakat Simeloengoen yang memikirkan dan merubah nasib Simalungun kedepannya. Pendidikan Eropa yang diterima masyarakat Simeloengoen pada masa pemerintahan Kolonial Belanda membawa dampak positif. Berangsur-angsur rakyat mulai sadar akan pentingnya pendidikan .

5.3 Irigasi

Kebijakan Politik Etis dalam bidang irigasi juga memberikan dampak bagi masyarakat Simeloengoen. Berkembang pesatnya industri pertanian dan perkebunan di Simeloengoen membuat perekonomian daerah ini meningkat dan daerah ini juga berkembang menjadi daerah tujuan banyak orang untuk menggantungkan hidupnya.

Dengan dibukanya persawahan dan dibangunnya irigasi di Simeloengoen, kini masyarakat Simeloengoen mulai beralih dari penanaman padi di lahan kering dengan sistem ladang berpindah menjadi sistem sawah basah. Hasil padi yang dihasilkan juga lebih banyak daripada sebelum mengenal sistem sawah basah. Sistem perairan di Simeloengoen juga lebih teratur.

Dengan adanya sistem irigasi yang diberikan, pengelolaan penggunaan air di Simeloengoen semakin tertata. Misalnya, pada tahun 1914 dibangun saluran air minum di Pematang Siantar yang biayanya sebesar f 39.600 dan menjadi tanggungan bersama

84

oleh penguasa pribumi Siantar, DSM, Perusahaan Investasi perkebunan karet, Ikatan Dokter Siantar, Rumah Sakit Pusat Simalungun. Kemudian pada 12 November 1914, saluran air ini menjadi milik daerah Simeloengoen97.

Pada tahun 1925, sistem irigasi ini juga dimanfaatkan sebagai jaringan pembangkit listrik tenaga air. Karena semakin berkembangnya Simeloengoen dan semakin banyaknya jumlah penduduk disana terutama daerah Pematang Siantar yang menjadi ibukota sekaligus menjadi pusat kantor administrasi pemerintah Kolonial dan juga perkebunan serta pabrik berada disana maka listrik sangat dibutuhkan dalam hal pekerjaan ini.

Sistem perairan yang teratur karena adanya irigisi ini mempunyai pengaruh terhadap perkebunan-perkebunan di Simeloengoen . Antara tahun 1908 sampai dengan 1920, perusahaan asing semakin gencar dalam mengembangkan usaha perkebunan.

Komoditi yang memberikan kontribusi besar terhadap para pengusaha asing adalah teh, karet, kopi, serta kelapa sawit.

Jerman dan Inggris telah mengembangkan perkebunan teh di daerah Pematang Siantar. Kepentingan-kepentingan Inggris di wakili oleh Rubber Plantation Inestment Trust yang berhasil memperolah lahan dari para raja Simeloengoen, terutama dari Raja Siantar dan Tanah Jawa98. Pada tahun 1908, perusahaan perkebunan pertama yaitu

97 Dicky Hendardi Girsang. “Gemeente Pematang Siantar”. Skripsi. Belum diterbitkan.

Medan: Universitas Sumatera Utara. 2020., hlm 75.

98 Karl J. Pelzer. Toean Keboen dan Petani: Politik Kolonial dan Perjuangan Agraria di Sumatera Timur (1863-1947). Jakarta: Sinar Harapan. 1985., hlm. 77.

85

Siantar Estate dibuka di Pematang Siantar dengan komoditas pertamanya adalah karet dan sebagai komoditas sampingan adalah kopi. Sejak tahun 1911, muncul komoditas baru yaitu teh yang diusahakan oleh perusahaan Naga Hoeta99.

Pemerintah Kolonial Belanda sebelumnya kurang memberi perhatian terhadap perkebunan di Simeloengoen. Menurut Kolonial Belanda, tanah di Simeloengoen kurang dapat menghasilkan dalam bidang perkebunan. Pada tahun 1910, Pihak Kolonial Belanda yang tergabung dalam Rubber Plantation Investment Trust melakukan penelitian lebih lanjut mengenai tanah di Simeloengoen. Hasil dari penelitian tersebut menyatakan bahwa lapisan / struktur tanah di Simeloengoen sangat cocok untuk tanaman perkebunan seperti teh, karet, kelapa sawit, serat rami (sisal), dan lain-lain100.

Berdasarkan catatan Asisten Residen J. Tideman, sampai dengan tahun 1922, luas konsensi tanah yang diberikan untuk perusahaan perkebunan berjumlah sekitar 120.000 hektar. Terdapat 46 perusahaan perkebunan, diantaranya: 14 perkebunan teh, 20 perkebunan karet, 2 perkebunan tanaman serat, dan 10 perkebunan campuran (karet, teh, kopi, dan kelapa sawit. Pabrik-pabrik perusahaan juga semakin berkembang.

Sampai dengan tahun 1922, telah berdiri 27 pabrik di Simeloengoen.

99 J. Tideman., Memorie. Op.Cit., hlm 380.

100 D. Kenan Purba dan J.D. Purba. Sejarah Simalungun. Jakarta: CV. Arsunta. 1995., hlm.

64.

86

Salah satu perusahaan perkebunan milik Belanda yaitu Handels Vereeniging Amsterdam (HVA) berhasil melakukan perluasannya di Simeloengoen. Perusahaan ini mengelola: 4 unit komoditas serat (sisal) di Dolog Ilir, Laras, Bah Djambi, dan Bandar Betsy. 5 unit kebun kelapa sawit yakni di Tindjowan, Dolok Sinumbah, Pagar Djawa, dan Tonduhan di Simeloengoen serta Bulu Balang Ara. 3 unit kebun teh yakni di Balimbingan, dan Sidamanik, serta Kayu Aru. 4 unit perkebunan karet seperti di Bangun, Gohor Lama, Ayer Jambu, dan Pulau Tiga.101 Oleh Nederlandsch Handel Maatschapij (NHM) mengelola beberapa perkebunan teh antara lain di Naga Huta (1910), Kasindir Dolog Panribuan (1912), Sidamanik (1922), Tanah Djawa (1924), Marjandi Panei (1926), Bah Butong dan Ulu Sidamanik102.

Tabel 10

Adanya industri perkebunan ini, memberikan keuntungan yang sangat besar bagi raja-raja Simeloengoen terutama dalam bidang ekonomi. Para raja diberikan f

101 Erond L. Damanik. Op.Cit, hlm. 170.

102 D. Kenan Purba dan J.D. Purba. Loc.Cit.

87

6.720 oleh pemerintah Kolonial Belanda dalam setahun. Selain itu, mereka juga menerima uang tambahan sebanyak f 1.800 per tahun103. Raja juga mendapat penghasilan lain dari upeti yang diberikan rakyat dan pajak dari para petani. Hal ini memang menguntungkan bagi raja tapi tidak dengan rakyatnya.

Adanya kebijakan raja yang memberikan tanahnya untuk dijadikan perkebunan oleh Pemerintah Kolonial membuat rakyat kehilangan tanah dan mata pencaharian mereka. Walaupun pihak perkebunan memberikan ganti rugi berupa lahan di sekitar perkebunan, tetapi rakyat Simeloengoen enggan menerimanya. Adanya kekhawatiran dari rakyat bahwa mereka akan dipekerjakan sebagai buruh di perkebunan. Mereka tidak mau bekerja untuk perkebunan asing karena mereka sudah memiliki beban pekerjaan di ladang milik raja yang dikenal dengan saro. Mereka harus bekerja dan menuruti perintah raja selama sepuluh hari dalam satu tahun.

Pada tahun 1916, Tuan Raimbang dari Dolok Panribuan bersama rakyat Simeleongoen lainnya mengadakan perlawanan terhadap penguasa perkebunan.

Gudang-gudang perkebunan dibakar dan tanaman-tanaman perkebunan dirusak.

Keadaan ini membuat para pengusaha perkebunan rugi, sehingga pemerintah kolonial mengerahkan aparat kepolisian dari Medan untuk mengamankan aksi yang dilakukan rakyat Simeloengoen sebagai protes terhadap perkebunan. Pada tahun 1918, tindakan perusakan perkebunan juga terjadu di Sipangan Bolon yang dipimpin oleh kepala

103 Sampai dengan tahun 1938, ada dua raja terkaya di Simalungun, yaitu Raja Siantar Toean Sawadim Damanik dan Raja Tanah Jawa Toean Sangma Sinaga. Lihat Hisarma Saragih., hlm. 56.

88

kampung setempat dan puncaknya terjadi pada tahun 1920 di perkebunan Parnabolon, Tanah Jawa104.

Gambar 5.3

Pabrik Teh Biroeng Oeloe Simeloengoen tahun 1930

Sumber: ANRI. Arsip Foto KIT SUMUT No. 601.11 Gambar 5.4

Perkebunan Teh Nagahuta tahun 1915

Sumber: Erond. L. Damanik. Potret Simalungun Tempo Doeloe Menafsir Kebudayaan Lewat Foto. 2019.

Walaupun irigasi ini mengakibatkan hilangnya tanah-tanah milik masyarakat Simeloengoen dan sebagian daerah di Simeloengoen didominasi oleh para pendatang

104 Jan. J. Damanik. Op. Cit., hlm. 43.

89

sehingga masyarakat Simeloengoen kebanyakan pindah ke daerah Simeloengoen atas, tetapi di sisi lain kini mereka sudah mulai sadar akan kesehatan dan lebih memperhatikan kebersihan.

Sebelum masuknya Kolonial Belanda ke Simeloengoen, masyarakat Simeloengoen sangat tidak memperhatikan kebersihan dan kesehatan. Di sejumlah daerah di Simeloengoen termasuk daerah Pematang Siantar banyak dijumpai kasus penyakit seperti malaria akibat penyebaran nyamuk anopheles105, leucospheria, dan sinensis, tifus, disentri amuba yang diakibatkan tergenangnya air tempat pembuangan kotoran yang dibiarkan begitu saja, cacingan, kolera, influenza, TBC, lepra, cacar, sesak nafas, pembengkakan hati, gondok, sakit telinga, batu ginjal bahkan sakit jiwa106. Melihat kondisi kesehatan masyarakat yang memperhatikan ini, pemerintah Kolonial kemudian mendatangkan dokter untuk menangani mengenai masalah kesehatan terutama untuk mereka yang bekerja di perkebunan. Kemudian, pada pertengahan tahun 1928 sebuah rumah sakit dibangun di Pematang Siantar. Biaya yang dikeluarkan untuk membangun rumah sakit ini adalah sebesar f 179.000 termasuk

105 Memorie Van Overgave van J. Tideman. 1922., hlm. 270

106 Jalatua Habungan Hasugian. “Pemerintah Kolonial Belanda di Kota Pematang Siantar Periode 1917 – 1942 ”. Tesis. Belum diterbitkan. Medan: Universitas Sumatera Utara. 2015., hlm. 124.

Lihat juga Memorie Van Overgaver van W.C. van Gelder 1 Oktober 1911., hlm. 73.

90

pembangunan perumahan bagi pegawai. Rumah sakit ini menawarkan ruang yang menampung 150 tempat tidur107

107 Ibid., hlm 126.

91 BAB VI

KESIMPULAN DAN SARAN

Dalam dokumen PENERAPAN POLITIK ETIS DI SIMELOENGOEN (Halaman 90-110)