BAB III. KOMUNITAS CLUBBERS di KOTA MEDAN
3.3 Aktivitas Kelompok Clubbers
3.3.2. Dance (jojing)
Selain ngobrol dan minum salah satu aktivitas yang hampir selalu dilakukan para clubber adalah dance atau joget. Setelah puas mengobrol biasanya para clubber akan turun ke area dance yang tepat berada di depan meja DJ. Di sini para clubber akan berdansa/joget mengikuti musik yang dimainkan oleh sang DJ. Musik yang dimainkan para DJ biasanya adalah berbagai musik yang berjenis house music7 seperti progressive music8
7 House music adalah musik yang berisi berbagai musik yang di remix (aransemen ulang) oleh DJ sehingga menjadi musik dengan nada-nada (beat) yang lebih cepat. House music umumnya memiliki karakteristik tempo antara 120 dan 140 BPM (beat per minutes).
8Progressive music adalah gebre yang paling popular dan paling berkembang di aliran house musik. Hampir semua club mulai dari New York sampai Indonesia memainkan musik ini dengan ciri khasnya adalah Opening/introduction menggunakan synth melody atau layered effect, sehingga kita dapat dengan spontan mengetahui lagu apa yg sedang dimainkan oleh sang DJ dan biasanya berdurasi panjang/long play.
, Deep/Dark House, Soulful House, Tech House, dan Hard House. Pada saat turun untuk ngedance biasanya para clubber akan turun dengan sesama teman yang satu kumpulan dengannya namun pada saat di area dansa para clubber akan saling berbaur dengan para clubber lainnya. Tidak ada aturan baku tentang jenis tarian seperti apa yang harus para clubber lakukan saat berada di lantai
Muhammad Liyansyah : Dugem Gaya Hidup Para Clubbers (Studi Deskriptif Tentang Kegiatan Dugem di Retro Spective), 2009.
USU Repository © 2009
dansa. Hal ini berbeda dengan gaya penikmat kehidupan malam pada era 80–90-an yang dancenya memiliki ciri khas seperti breake dance. Saat ini para clubber dapat bergerak bebas sesuai dengan keinginan dan dapat mengkreasikan gerakan mereka sendiri asalkan tidak lari dari irama musik yang dimainka n oleh sang DJ. Tarian para clubber biasa disebut dengan modern dance. Gaya para clubber menari memang berbeda-beda dan dari gaya seorang clubber menari di area dance dapat kita ketahui mana orang yang sering dugem dan mana yang baru dugem.
Gambar 5. Para clubbers yang sedang dance (jojing).
Di area dance para clubber dapat mengekspresikan berbagai perasaan mereka.
Dalam keadaan yang hampir dapat dipastikan mabuk ataupun setengah mabuk para clubber saling membaur dan menyatu dalam iringan musik dari sang DJ yang semakin lama semakin kencang. “Ampun DJ…” ini adalah teriakan yang biasanya diteriakkan para clubber ketika merasa bahwa musik yang dimainkan sang DJ mulai
Muhammad Liyansyah : Dugem Gaya Hidup Para Clubbers (Studi Deskriptif Tentang Kegiatan Dugem di Retro Spective), 2009.
USU Repository © 2009
terasa terlalu kencang dan sang DJ kemudian menurunkan ritme musik yang dimainkannya. Tidak semua clubbers suka untuk turun ke area dance karena mereka merasa area dance terlalu kecil dan sangat berdesak-desakkan, mereka lebih memilih untuk menikmati musik di ruangan ataupun di meja mereka masing-masing.
Gambar 6. DJ import yang memeriahkan diskotik.
Di area dance yang tidak begitu luas ini selain para clubber yang asik menikmati dentuman musik dari sang DJ, sering juga terjadi keributan antara para clubber. Padatnya area dance yang penuh dengan para clubber sering menyebabkan seorang clubber bersenggolan dengan clubber lainnya. Hal ini adalah salah satu penyebab terjadinya keributan di area dance. Dalam keadaan mabuk seorang clubber akan sulit untuk dapat mengendalikan emosinya sehingga sangat mudah menimbulkan perslisihan antara sesama clubbers. Selain karena bersenggolan salah satu pemicu keributan di area dance adalah wanita. Seorang clubber yang datang membawa pacar biasanya akan marah apabila pacarnya di senggol atau goda oleh orang lain dan biasanya beberapa clubbers sering mencoba berkenalan ataupun menggoda wanita-wanita yang berada di dalam diskotik tanpa mau tahu apakah
Muhammad Liyansyah : Dugem Gaya Hidup Para Clubbers (Studi Deskriptif Tentang Kegiatan Dugem di Retro Spective), 2009.
USU Repository © 2009
wanita tersebut telah memiliki pasangan atau tidak. Apabila terjadi keributan di dalam diskotik biasanya orang yang dianggap pembuat onar atau mungkin dua pihak yang berselisih akan di minta keluar dari diskotik atau dikeluarkan secara paksa oleh petugas keamanan diskotik. Keributan yang sering terjadi di dalam diskotik kemudian menginspirasikan para clubber untuk mengadopsi sebuah slogan bagi para clubber.
Slogan itu adalah P.L.U.R (Peace, Love, Unity, dan Respect) dengan slogan ini para clubber mengharapkan keributan yang sering terjadi di diskotik terutama area dance dapat dihilangkan.
Ngobrol, minum, dan dance merupakan kegiatan utama yang biasa dilakukan para clubber pada saat dugem, namun disamping itu banyak kegiatan lain yang dilakukan para clubber di dalam diskotik. Sebagian clubbers ada yang sibuk mencari kenalan untuk menambah teman yang memiliki hobi yang sama dan sebagian lagi mencari teman berkencan baik yang berlainan jenis kelamin ataupun yang sesama jenis. Untuk yang satu ini selama penelitian tidak ditemukan pasangan yang melakukan hubungan seks di dalam diskotik, walaupun sebagian clubbers mengakui kalau mereka menganut seks bebas.
Salah satu kegiatan lain yang biasa diikuti oleh komunitas clubbers adalah rave party. Rave party adalah acara dugem yang dilakukan para clubber di luar diskotik dan biasa di lakukan di alam terbuka seperti pantai. Rave party biasanya diadakan oleh sebuah komunitas clubbers yang mengalami kejenuhan dengan suasana diskotik yang sesak. Di Kota Medan rave party belum begitu banyak diadakan, biasanya rave party hanya diadakan pada saat penyambutan malam tahun
Muhammad Liyansyah : Dugem Gaya Hidup Para Clubbers (Studi Deskriptif Tentang Kegiatan Dugem di Retro Spective), 2009.
USU Repository © 2009
baru dan pada saat-saat even spesial seperti ulang tahun orang-orang penting atau produk-produk tertentu. Segala sesuatu yang ada di dalam rave party pada dasarnya sama dengan apa yang ada pada saat dugem di dalam sebuah diskotik hanya dibedakan oleh keadaan ruang.
Selain rave party, sebuah komunitas clubbers juga melakukan kegiatan-kegiatan lain yang dilakukan di luar diskotik, mereka biasanya memilih sebuah tempat tertentu untuk berkumpul di luar diskotik seperti di café, bar, restoran hingga warung kopi. Sebelum diskotik buka biasanya beberapa clubbers berkumpul di café, bar ataupun restoran untuk mengumpulkan teman-teman mereka atau sekedar untuk makan dan membicarakan beberapa hal mengenai kegiatan yang akan mereka lakukan. Kegiatan ini juga biasa dilakukan para clubber di saat mereka tidak melakukan dugem, biasanya mereka berkumpul untuk sekedar mencari suasana baru selain dugem di diskotik. Sedangkan untuk warung kopi (warkop), seperti yang sudah dijelaskan sebelumnya bahwa warkop adalah tempat yang di pilih para clubber yang ingin beristirahat setelah mereka melakukan dugem sebelum mereka pulang kerumah.
Biasanya para clubber singgah di warkop untuk menghilangkan aroma dan pengaruh alkohol sehingga pada saat pulang kerumah mereka tidak dalam keadaan mabuk.
Di luar segala kegiatan yang berbau hura-hura, beberapa clubbers terkadang juga biasa berkumpul dan mengadakan acara lain di luar kegiatan hura-hura.
Beberapa clubbers yang memiliki hobi yang sama juga biasa berkumpul di luar diskotik untuk melakukan kegiatan sesuai dengan hobi mereka masing-masing.
Muhammad Liyansyah : Dugem Gaya Hidup Para Clubbers (Studi Deskriptif Tentang Kegiatan Dugem di Retro Spective), 2009.
USU Repository © 2009
Misalnya, beberapa clubbers yang memiliki kegemaran otomotif akan berkumpul untuk membicarakan hobi mereka ini atau pada saat ada sebuah acara yang berhubungan dengan otomotif seperti pameran atau lomba modifikasi mobil. Contoh lain adalah sebagian clubbers yang memiliki kegemaran merawat tubuh dan penampilan baik wanita ataupun pria9
Segala sesuatu yang dilakukan oleh komunitas clubbers adalah pilihan mereka. Perilaku defensif dari masyarakat yang memandang buruk komunitas ini
akan berkumpul untuk sekedar melakukan perawatan tubuh seperti pergi ke salon ataupun ke tempat fitness. Selain berbagai kegiatan yang berhubungan dengan gaya hidup masyarakat kota para clubber juga melakukan beberapa kegiatan social, misalnya pada saat banyak diskotik ditutup selama bulan puasa, beberapa komunitas clubbers merancang kegiatan yang sifatnya sosial atau sekedar buka puasa bersama. Mereka mencoba untuk menghapus pandangan masyarakat yang menganggap bahwa sebuah komunitas clubbers hanya sebatas sebuah komunitas yang dekat dengan segala hal yang berbau hura-hura dan negatif. Walaupun pandangan masyarakat yang sudah terlanjur memandang para clubber dengan pandangan negatif sulit untuk di rubah, namun para clubber juga tidak terlalu mempermasalahkan hal tersebut. Seperti yang dikatakan Eka (bukan nama asli) :
“ya kalo mo dengerin omongan orang lain aku bisa repot, soalnya kita tahu sendiri kalo ngdugem tu dipandang jelek sama masyarakat. Tapi kan gak semua orang yang ngdugem itu jelek, ya sama aja kayak orang yang ga dugem, apa semuanya bagus ? kan gak juga..”
9 Pria yang memiliki kegemaran merawat tubuh dan sangat memperhatikan penampilan biasa disebut dengan pria metroseksual.
Muhammad Liyansyah : Dugem Gaya Hidup Para Clubbers (Studi Deskriptif Tentang Kegiatan Dugem di Retro Spective), 2009.
USU Repository © 2009
akan semakin membuat komunitas yang mayoritas dihuni oleh generasi muda bangsa ini jauh dan menghindar dari masyarakat umum. Pemecahan terbaik adalah dengan melakukan perubahan total pada aspek psikologis, sistem ekonomi dan pendidikan di negara ini. Sehingga generasi bangsa ini mampu mengambil sisi-sisi positif dari semua aspek kehidupan serta mampu menghadapi segala perubahan kultur dan kehidupan sosial mereka.