BAB IV. DUGEM SEBAGAI SUATU GAYA HIDUP
4.3. Dugem Sebagai Identitas Kelas Sosial
Tingkah laku konsumsi merupakan penanda identitas yang didasari oleh asumsi bahwa barang-barang konsumsi merupakan alat komunikasi (Abdullah, 2006:
32). Lebih lanjut dijelaskan Abdullah bahwa barang dalam konsumsi masyarakat perkotaan telah berfungsi sebagai alat komunikasi karena ia menjadi wakil individu
Muhammad Liyansyah : Dugem Gaya Hidup Para Clubbers (Studi Deskriptif Tentang Kegiatan Dugem di Retro Spective), 2009.
USU Repository © 2009
dalam menegaskan serangkaian nilai yang melekat pada orang kota. Dugem merupakan gaya hidup yang terbentuk karena pola konsumsi dan pola konsumsi yang dilakukan oleh para clubber bertujuan sebagai penunjuk identitas para clubber di dalam kelompoknya ataupun di dalam masyarakat. Dalam mengkonsumsi suatu produk, para clubber memiliki asumsi bahwa dengan mengkonsumsi produk tersebut maka mereka telah berada dalam suatu kelas dengan sebuah peradaban yang lebih maju dibandingkan dengan orang lain yang berada di sekitar lingkungannya. Peran media sebagai pemberi atau pembawa pesan sangat berpengaruh dalam pembentukan asumsi tersebut.
Para clubber dengan dugem sebagai gaya hidupnya telah menciptakan kelas-kelas mereka sendiri baik itu yang berlaku dalam kelompoknya sendiri ataupun di dalam masyarakat luas. Keangkuhan (snobbery) dan cita rasa (taste) saling berkaitan erat dalam perkembangan modernitas, dalam hal ini keduanya adalah reaksi atas runtuhnya pembedaan yang tersusun secara alami (Chaney, 1996: 43). Lebih lanjut Chaney mengatakan bahwa dalam menentukan kelasnya seseorang secara sosial, ia secara simultan menentukan kelasnya sendiri
Dugem yang merupakan gaya hidup yang berasal dan budaya Barat telah menciptakan simbol-simbol tentang kemajuan dan peradaban yang maju. Simbol-simbol ini kemudian dijadikan para clubber sebagai pembeda keadaan mereka dengan masyarakat lainnya. Para clubber umumnya menganggap bahwa gaya hidup
Muhammad Liyansyah : Dugem Gaya Hidup Para Clubbers (Studi Deskriptif Tentang Kegiatan Dugem di Retro Spective), 2009.
USU Repository © 2009
yang mereka lakukan adalah bagian dari sebuah peradaban yang lebih maju dibandingkan dengan keadaan nyata yang ada di sekitar lingkungan kehidupannya.
Para clubber juga memiliki anggapan bahwa orang-orang yang tidak menjalani kehidupan seperti yang mereka lakukan adalah orang-orang yang hidup dalam kekurangan dan ”tertinggal” dibandingkan dirinya. Keadaan ini tidak hanya berlaku pada kelompok masyarakat yang berada di luar para clubber, diantara para clubber juga terjadi penilaian-penilaian terhadap pola konsumsi yang mereka lakukan dan kemudian menciptakan semacam kelas-kelas di dalam lingkungan mereka.
Melalui promosi dan iklan lewat berbagai media komunikasi, sebuah nilai yang dikonstruksikan oleh sebagian kecil masyarakat ini kemudian juga dipahami dan diterima oleh sebagian masyarakat di luar lingkungan clubbers. Walaupun tidak semua masyarakat kemudian ikut mengambil nilai-nilai budaya Barat tersebut ke dalam kehidupan mereka, namun peran media telah mampu menyebarluaskan nilai-nilai budaya Barat tersebut sehingga semakin banyak pula masyarakat yang mengikuti gaya hidup yang ”kebarat-baratan”.
Diserapnya ornamen-ornamen gaya hidup masyarakat Barat modern merupakan sebuah cara lain yang dipakai oleh suatu kelompok sosial masyarakat di Indonesia untuk membedakan dirinya dari kelompok lain, pembedaan tersebut bertujuan untuk menyadarkan mereka yang tidak mampu “membarat” bahwa mereka berkekurangan dan “ketinggalan” serta “terbelakang” (Budiman, 2002: 250). Para clubber secara tidak sadar telah melakukan pembedaan-pembedaan tersebut antara diri mereka dengan masyarakat umum. Mereka cenderung menganggap bahwa
orang-Muhammad Liyansyah : Dugem Gaya Hidup Para Clubbers (Studi Deskriptif Tentang Kegiatan Dugem di Retro Spective), 2009.
USU Repository © 2009
orang yang mempunyai anggapan bahwa apa yang mereka lakukan adalah sebuah hal yang salah justru dianggap sebagai orang-orang yang tertinggal. Seperti yang dikatakan Ozy (bukan nama asli) :
”Masyarakat kita banyak yang belum bisa menerima kemajuan, kalo ngeliat orang yang beda sikit aja udah dianggap nyeleneh.
Ya sama juga dengan dugem, banyak masyarakat yang beranggapan apa yang ada di dugem tu negatif semua padahal kan belum tentu juga. Menurut aku kalo masyarakat kita gini terus ya kita bisa ketinggalan.”
Weber mengemukakan bahwa persamaan status dinyatakan melalui persamaan gaya hidup (dalam Hastuti, 2007 : 70). Lebih lanjut dijelaskan bahwa dalam bidang pergaulan gaya hidup ini dapat berwujud pembatasan terhadap pergaulan erat dengan orang yang statusnya lebih rendah. Selain adanya pembatasan dalam pergaulan, menurut Weber kelompok status ditandai pula oleh adanya berbagai hak istimewa dan monopoli atas barang dan kesempatan ideal maupun material. Kelompok status dibeda-bedakan atas dasar gaya hidup yang tercermin dalam gaya konsumsi. Weber mengemukakan bahwa kelompok status merupakan pendukung adat, yang menciptakan dan melestarikan semua adat-istiadat yang berlaku dalam masyarakat (Sunarto, 2000 : 93).
Hal ini juga terjadi dalam pergaulan para clubber yang memang cenderung bergaul dengan individu-individu yang memiliki kesamaan gaya hidup. Bagi mereka bergaul dengan orang yang memiliki gaya hidup yang berbeda tentu akan menemukan banyak ketidaksamaan dalam berbagai hal. Para clubber memang akan lebih merasa nyaman apabila memiliki teman dengan gaya hidup yang sama dengan
Muhammad Liyansyah : Dugem Gaya Hidup Para Clubbers (Studi Deskriptif Tentang Kegiatan Dugem di Retro Spective), 2009.
USU Repository © 2009
mereka, namun bukan berarti mereka menutup diri untuk bergaul dengan individu yang bukan clubbers.
Konsumsi terhadap suatu produk merupakan landasan bagi penjenjangan dari kelompok status, dengan mengkonsumsi gaya atau simbol-simbol tertentu para clubber telah merasa bahwa mereka sudah menjadi kelompok masyarakat metropolitan yang modern. Perbedaan pendapat tentang bentuk kemajuan sebuah peradaban tidak terlepas dari perbedaan nilai-nilai budaya yang ada di tengah masyarakat kita dengan nilai-nilai budaya Barat yang dianut oleh para clubber.
Sebuah kemajuan memang tidak harus menghilangkan nilai-nilai budaya yang ada, namun tidak juga harus menolak nilai-nilai baru yang mampu memberikan perubahan ke arah kemajuan. Dugem sebagai sebuah gaya hidup memang memilki nilai-nilai tentang kemajuan, namun dugem juga mengandung nilai-nilai budaya yang mampu merubah dan menghilangkan nilai-nilai budaya Timur yang dimiliki masyarakat kita. Hal ini juga dapat dikatakan bahwa perdebatan tentang ”kemajuan”
yang diwakilkan oleh gaya hidup dugem dan ”ketertinggalan” yang diwakilkan oleh resistensi terhadap dugem sebagai perdebatan tentang bentuk-bentuk budaya tinggi (high culture) dan budaya populer (popular culture).