BAB IV. DUGEM SEBAGAI SUATU GAYA HIDUP
4.4. Pengaruh Dugem Dalam Kehidupan Clubbers
Muhammad Liyansyah : Dugem Gaya Hidup Para Clubbers (Studi Deskriptif Tentang Kegiatan Dugem di Retro Spective), 2009.
USU Repository © 2009
Dugem merupakan salah satu gaya hidup masyarakat perkotaan. Bagi sebagian masyarakat dugem dipandang sebagai gaya hidup yang sangat dekat dengan berbagai kegiatan hura-hura dan cenderung mengarah kepada berbagai kegiatan negatif, seperti narkoba, mabuk-mabukkan, hingga seks bebas. Masyarakat menganggap bahwa kegiatan dugem adalah sebuah kegiatan sia-sia yang akan memberikan dampak negatif bagi para penikmatnya.
Pandangan negatif dari masyarakat ini kemudian memunculkan streotipe-streotipe terhadap para penikmat kehidupan malam tersebut. Banyak pengaruh yang dirasakan para clubber saat dan setelah melakukan dugem, mulai dari pandangan buruk dari masyarakat, masalah keuangan, dan kesehatan.
Bagi sebagian masyarakat, orang-orang yang terlibat atau menyenangi dugem dan gemerlapnya kehidupan malam dianggap sebagai suatu kelompok yang hanya menyenangi hura-hura, tidak menyukai peraturan, dan cenderung memiliki pergaulan bebas. Pandangan negatif terhadap para clubber biasanya lebih dirasakan oleh para clubber wanita. Bagi sebagian besar masyarakat kita apabila ada seorang wanita yang pulang ke rumah setelah larut malam atau hingga menjelang pagi, dapat dipastikan wanita tersebut akan menjadi “buah bibir” oleh masyarakat disekitar tempat ia tinggal.
Berbagai cerita dan pandangan negatif dari masyarakat pasti akan didapatkan oleh wanita tersebut. Hal ini senada dengan apa yang diungkapkan Tanika (bukan nama asli) :
“Ya kalo denger cerita yang aneh-aneh dari para tetangga udah bukan barang baru lagi buat aku. Macem-macem aja mulut
Muhammad Liyansyah : Dugem Gaya Hidup Para Clubbers (Studi Deskriptif Tentang Kegiatan Dugem di Retro Spective), 2009.
USU Repository © 2009
tetangga, ada yang bilang aku pereklah, kalo pulang suka mabok, ada yang bilang aku suka ciuman di depan rumah, ah pokoknya macem-macemlah. Padahal kalo dipikir aku tinggal di kompleklah, biasanya orang-orang komplek kan cuek-cuek tapi gak tau di komplek aku kok ember semua tetangganya. Tapi aku cuek aja ngapai didengar kali omongan orang-orang sirik, kalo didengerin kali bisa gak tenang hidup awak”
Pandangan negatif dari para tetangga seperti yang dirasakan Tanika sudah pasti akan terjadi apabila para clubber tinggal di daerah yang sebagian besar masyarakatnya masih menganut nilai-nilai budaya Timur yang menganggap bahwa seorang wanita tidak pantas untuk pulang hingga larut malam apalagi hingga menjelang pagi. Para clubber wanita biasanya juga berpakaian lebih berani dan terbuka saat ngedugem. Hal ini lebih mempermudah masyarakat yang tidak menyukai gaya hidup ini untuk semakin menyudutkan para clubber wanita. Sebagian dari clubbers wanita terkadang juga dilarang ngedugem oleh orang tua atau pacarnya, karena ngedugem identik dengan "cewek nakal". Namun tidak semua lingkungan dari para clubber yang memandang buruk pada para clubber. Sebagian masyarakat ada juga yang tidak memperdulikan tentang kegiatan dan gaya hidup para tetangganya.
Seperti yang diungkapkan Amoi (bukan nama asli) :
“Lingkungan tempat aku tinggal kayaknya asik-asik aja tu, aku ga pernah dianggap cewek gak bener gara-gara aku dugem atau pulang larut malam. Mereka kayaknya cuek-cuek aja. Masa orang tua aku santai-santai aja trus orang itu pada ribut kan aneh kalo gitu ?”
Bagi para clubber dari kalangan laki-laki pandangan negatif dari masyarakat juga mereka alami. Mereka cenderung dianggap sebagai generasi bangsa yang sudah rusak dan tidak memiliki masa depan. Para clubber dianggap akan membawa
Muhammad Liyansyah : Dugem Gaya Hidup Para Clubbers (Studi Deskriptif Tentang Kegiatan Dugem di Retro Spective), 2009.
USU Repository © 2009
pengaruh buruk bagi para pemuda yang ada dilingkungan mereka. Selain itu, para orang tua yang memiliki anak gadis tentu juga akan melarang anaknya untuk bergaul dengan laki-laki yang suka mabuk seperti para clubber pada umumnya. Kehidupan dan pergaulan para clubber yang identik dengan seks bebas, alkohol, dan pesta pora merupakan beberapa faktor kenapa para clubber cenderung dipandang negatif oleh masyarakat.
Banyak alasan mengapa sebagian besar masyarakat memiliki pandangan negatif tentang dugem yang dianggap sebagai produk budaya massa11
11 Secara sederhana dapat dikatakan bahwa budaya massa adalah seni atau aktivitas budaya yang disukai dan dilakukan oleh orang banyak (Budiman, 2002: 187) yang dihasilkan melalui teknik-teknik industrial produksi massa dan dipasarkan untuk mendapatkan keuntungan kepada khalayak konsumen massa (Strinati, 2007: 12).
atau budaya populer (Budiman, 2002: 257-258). Lebih lanjut dijelaskan Budiman bahwa pandangan negatif tersebut biasanya bermula dari adanya kekhawatiran tentang beberapa hal antara lain ; pertama, karena dugem umumnya dipahami sebagai benda-benda kultural yang diproduksi secara besar-besaran hanya berdasarkan pada perhitungan komersial belaka. Maksudnya adalah bahwa para produsen telah mengarahkan para konsumen untuk menjadikan dugem sebagai gaya hidup hanya karena memikirikan keuntungan semata. Kedua, dugem yang merupakan gaya hidup dengan kandungan nilai-nilai budaya Barat dianggap akan merusak nilai-nilai budaya Timur yang selama ini dianggap sebagai nilai luhur bangsa yang harus dijaga. Ketiga, dugem yang dianggap sebagai budaya massa hanya akan memberi pengaruh buruk kepada masyarakat yang mengkonsumsinya karena seks, kejahatan, dan kekerasan dianggap merupakan ciri utama dari budaya massa. Keempat, dugem dianggap hanya
Muhammad Liyansyah : Dugem Gaya Hidup Para Clubbers (Studi Deskriptif Tentang Kegiatan Dugem di Retro Spective), 2009.
USU Repository © 2009
akan menciptakan masyarakat yang pasif, maksudnya adalah masyarakat cenderung hanya menerima apa yang diciptakan para produsen dan mudah tergoda oleh bujukan yang ditawarkan melalui teknik-teknik persuasi dalam media.
Sumber-sumber kekhawatiran seperti yang dijelaskan di atas umumnya muncul dari masyarakat yang memiliki pemahaman dan pandangan bahwa dugem adalah sebuah gaya hidup yang hanya memberikan berbagai kesenangan semu dan hanya akan memberi kesengsaraan. Hal ini sesuai dengan salah satu karakteristk budaya massa yang menekankan bahwa kesenangan yang diberikan budaya massa pada umumnya tidak sesuai dengan kehidupan nyata para konsumennya. Hal senada juga diungkapkan Eka (bukan nama asli) :
“Dugem tu memang memberikan kepuasan tersendiri buat aku, aku kalo lagi dugem pasti keenakkan sampe lupa semuanya, uang gaji aku hampir semua larinya ke dugem. Memang sih puas tapi kalo dah pertengahan bulan jadi beban pikiran juga.”
Banyak dari para clubber cenderung memaksakan diri untuk mengikuti gaya hidup sebagai seorang clubber. Gaya hidup para clubber memang adalah gaya hidup yang menuntut para penikmatnya untuk memiliki uang yang berlebih, hal ini disebabkan bahwa dugem memiliki berbagai produk-produk yang memiliki image atau pencitraan tentang bagaimana gaya hidup sebuah masyarakat modern. Produk-produk ini merupakan sebuah Produk-produk yang diciptakan untuk memberikan keuntungan bagi para produsen. Para clubber secara tidak sadar telah dipaksa oleh para produsen untuk mengkonsumsi berbagai produk mereka.
Konsumsi yang dilakukan para clubber pada saat dugem seakan telah menjadi suatu kewajiban yang harus dilakukan, artinya untuk memperoleh kesenangan dengan
Muhammad Liyansyah : Dugem Gaya Hidup Para Clubbers (Studi Deskriptif Tentang Kegiatan Dugem di Retro Spective), 2009.
USU Repository © 2009
para sahabat dan melupakan berbagai permasalahan, para clubber diwajibkan membayar tiket masuk ke dalam diskotik, membayar meja, hingga membeli minuman dengan merek internasional. Ironisnya, pola konsumsi para clubber yang mampu memberikan mereka kesenangan pada saat dugem terkadang tidak sesuai dengan kehidupan nyata para clubber di luar dugem. Beberapa clubbers terlihat memaksakan diri untuk tetap bergaya hidup seperti seorang clubber, walaupun kehidupan ekonomi tidak mendukung untuk bergaya layaknya para clubber. Untuk menyiasati masalah keuangan biasanya para clubber mencoba untuk saling berbagi pembayaran atau patungan diantara para clubber lainnya yang berada dalam satu komunitas dengan mereka.
Dugem yang selalu dilakukan pada malam hari ini juga memberi pengaruh terhadap kesehatan para clubber. Hal ini disebabkan, tubuh yang seharusnya menikmati istirahat di malam hari, justru dipaksa untuk tetap beraktifitas. Lebih bahayanya lagi, untuk tetap merasa bugar, banyak kalangan clubbers yang sengaja mengkonsumsi obat atau minuman penambah stamina untuk membuat fisik mereka terasa kuat ketika bergadang semalam suntuk. Para clubber menjadikan klub atau diskotik sebagai tempat yang pas untuk menghabiskan waktu melepaskan kepenatan, rileks, sekaligus media bersosialisasi dengan rekan. Biasanya clubbers memiliki jadwal rutin kapan ia akan menghabiskan waktu. Namun tanpa disadari kegiatan ini mampu menggerogoti kesehatan para clubber.
Kebiasaan yang dilakukan pada malam hari ini tentu saja mengurangi waktu istirahat kita. Bagi seorang clubber “sejati” dugem bisa saja dilakukan lebih dari dua
Muhammad Liyansyah : Dugem Gaya Hidup Para Clubbers (Studi Deskriptif Tentang Kegiatan Dugem di Retro Spective), 2009.
USU Repository © 2009
kali dalam seminggu. Dalam melakukan dugem, para clubber biasanya selalu mengkonsumsi alkohol secara berlebihan hingga mabuk, merokok tanpa kontrol, dan ditambah berada di dalam ruangan dengan udara pengap, sirkulasi udara yang kurang baik untuk waktu yang cukup lama, memberi dampak buruk pada kesehatan.
Hal inilah yang seringkali tidak disadari para clubber saat berada di tempat clubbing. Resiko terkena kanker paru pun terbilang besar karena kanker paru-paru adalah salah satu yang cukup sering mengena pada mereka penyuka jalan malam.
Penyakit ganas ini merupakan ancaman utama (Male Emporium, April 2007).
Lebih lanjut dijelaskan Male Emporium bahwa ancaman lainnya adalah alkohol. Yang berbahaya adalah bila sudah menjadi pecandu alkohol. Mengonsumsi alkohol dalam jumlah besar dan rutin, akan mengakibatkan gangguan fisik, emosional dan masalah sosial. Alkohol menyebabkan ketergantungan, sehingga pikiran, perasaan dan kehendak si peminum terikat pada alkohol. Seorang pecandu alkohol akan sulit untuk berhenti minum alkohol. Pecandu akan tergantung secara fisik dan psikologis. Hal ini tidak saja mengganggu diri sendiri, tetapi juga orang di sekitarnya, khususnya keluarga dekat.
Selain itu, gangguan audio di dalam diskotik juga dapat merusak telinga. Bagi para clubber berada di antara dentuman musik yang menggetarkan jantung, dapat terasa menyenangkan. Saat dugem, para clubber tentu tidak bisa dipisahkan dengan musik yang menggelegar dan suasana yang temaram. Suasana club yang sangat kental dengan musik yang menggelegar, sangat mengancam pendengaran para clubber. Normalnya, telinga manusia hanya mampu mendengar suara berfrekuensi 20
Muhammad Liyansyah : Dugem Gaya Hidup Para Clubbers (Studi Deskriptif Tentang Kegiatan Dugem di Retro Spective), 2009.
USU Repository © 2009
ribu Hertz dengan intensitas atau tingkat kekerasan di bawah 80 desibel (dB).
Sementara musik yang dimainkan di club biasanya memiliki tingkat kekerasan antara 100 - 110 dB jauh di atas batas normal kemampuan telinga. Besarnya pengaruh suara terhadap telinga memang banyak tergantung pada intensitas dan jangka waktu mendengarnya, jumlah waktu mendengar, serta kepekaan masing-masing, termasuk usia si pendengar. Gejala awal seringkali tidak dirasakan kecuali telinga berdengung, kemudian di ikuti oleh menurunnya pendengaran. Kebisingan yang ada di dalam diskotik apabila dirasakan terus menerus dan dipaksakan dapat merusak pendengaran karena bisa mematikan fungsi sel-sel rambut dalam sistem pendengaran.
Hal-hal seperti yang dijelaskan diatas sebenarnya juga dirasakan oleh beberapa clubbers namun mereka cenderung tidak menyadarinya dan terkesan tidak perduli. Seperti yang dikatakan Yudha (bukan nama asli) :
“Pengaruh dugem sama kesehatan aku ampe sekarang sih ga terasa-terasa kali. Palingan cuma batuk-batuk biasa gak sampe batuk parah, kalo ke kuping palingan cuma dikit dengung aja kalo habis dugem tapi besok paginya udah balik normal. Yang paling terasa tu cuma ngantuk aja, dulu waktu masih sekolah tiap habis dugem aku ya pasti tidur di kelas. Hahaha…”
Dugem memang bukanlah sebuah kegiatan yang dilarang untuk dilakukan.
Sebagai kebutuhan hiburan dan relaksasi, saat ini dugem memang merupakan salah satu pilihan masyarakat. Sebenarnya, dance yang dilakukan di lantai dansa diskotik merupakan aktivitas gerak tubuh yang dapat membakar lemak.Namun, waktu yang dipakai untuk melakukan dugem yang selalu malam hari bahkan larut, menjadikan aktivitas ini sangat tidak efektif dan memang kurang tepat karena dilakukan pada saat kita diwajibkan untuk beristirahat.
Muhammad Liyansyah : Dugem Gaya Hidup Para Clubbers (Studi Deskriptif Tentang Kegiatan Dugem di Retro Spective), 2009.
USU Repository © 2009
Kesadaran terhadap hidup sehat otomatis akan mengurangi frekuensi dugem, karena malam adalah waktu untuk tubuh beristirahat. Pesta memang ada akhirnya.
Banyak di antara penyuka kehidupan malam yang kemudian menyadari, kehidupan penuh hura-hura itu bukanlah kebahagiaan hakiki yang mereka cari, karena sebenarnya hanya menjadi pelengkap. Seperti yang diungkapkan Zani (bukan nama asli) :
“Aku dulu memang maniak kali sama dugem, tapi lama kelamaan terasa juga sama badan. Dulu aku sempet kena paru-paru basah. Dugem tu juga ganggu kali kalo kita udah ada perlu bangun pagi, trus kalopun bisa bangun pasti stamina kita drop kali. Apa lagi sekarang aku udah kerja mana bisa sering-sering dugem, bisa hancur semua kerjaan aku. Ya…udah tua, coba hidup sehat la…”
Aktivitas hura-hura di waktu malam menjelang pagi ini memang bisa membuat para penikmatnya merasa di awang-awang, namun juga memberi dampak buruk untuk tubuh. Namun ketika para clubber tetap memilih dugem sebagai gaya hidup dan cara memperoleh relaksasi, sebaiknya diimbangi dengan asupan makanan bergizi yang mengandung vitamin dan mineral dan mampu memenuhi kebutuhan fisik. Para clubber juga harus bisa mengontrol antara frekuensi aktivitas kerja dan dugem dengan kemampuan fisik. Para clubber juga harus menyeimbangkan antara menghirup udara segar dan udara pengap dan penuh asap di dalam diskotik.
Pengelola diskotik juga diharapkan menjaga kondisi udara di dala diskotik agar tidak terlalu pengap dan penuh asap dengan memasang alat pentaring udara. Saat ini untuk menghadirkan udara yang bersih dan sehat kita juga dapat memanfaatkan kemajuan teknologi. Kemajuan teknologi telah dapat menciptakan berbagai alat yang dapat membantu manusia untuk menjaga kesehatan tubuhnya.
Muhammad Liyansyah : Dugem Gaya Hidup Para Clubbers (Studi Deskriptif Tentang Kegiatan Dugem di Retro Spective), 2009.
USU Repository © 2009
BAB V PENUTUP 5.1. Kesimpulan
Perkembangan dan pertumbuhan kota secara tidak langsung telah mendorong perkembangan tempat-tempat hiburan yang semakin beragam. Beragamnya pilihan hiburan juga memunculkan berbagai kelompok atau komunitas yang mempunyai kesamaan dalam hal mencari hiburan dan cara menghabiskan waktu. Diskotik merupakan salah satu tempat hiburan yang perkembangannya sangat dipengaruhi oleh kemajuan kota.
Tempat hiburan yang hanya di buka pada malam hari ini bukanlah merupakan hal baru di Indonesia karena telah ada sejak era 70-an. Kemajuan teknologi terutama di bidang komunikasi telah menggeser para penikmat hiburan malam yang awalnya hanya dinikmati oleh orang tua menjadi hiburan yang lebih di dominasi oleh anak muda. Saat ini penikmat diskotik terus bertambah sehingga memunculkan kelompok-kelompok penikmat diskotik yang sering disebut clubbers.
Penelitian ini telah menjawab ketiga pertanyaan penelitian yang diajukan.
Pertama, dapat dijelaskan bahwa yang bisa disebut para clubber adalah para penikmat kehidupan malam yang memilih cara menghabiskan waktunya dengan berkumpul dengan teman-temannya di sebuah diskotik dengan segala aktivitas didalamnya.
Kegiatan yang mereka lakukan ini biasa disebut dengan dugem (dunia gemerlap)
Muhammad Liyansyah : Dugem Gaya Hidup Para Clubbers (Studi Deskriptif Tentang Kegiatan Dugem di Retro Spective), 2009.
USU Repository © 2009
Tujuan utama para clubber mengunjungi diskotik adalah untuk berkumpul dengan teman-temannya dan mencari hiburan dengan menikmati suasana pesta yang dapat mereka rasakan di dalam diskotik. Sedangkan pengunjung lain terkadang memiliki tujuan berbeda ketika memasuki sebuah diskotik.
Clubbers Kota Medan umumnya tidak memiliki banyak perbedaan dengan para clubber yang berasal dari kota-kota lain di Indonesia. Clubbers Kota Medan di dominasi oleh anak muda Kota Medan, mereka sebagian besar datang dari kalangan pelajar baik siswa ataupun mahasiswa dan dari para pekerja kantoran. Clubbers juga memiliki komunitas yang mendukung kegiatan dugem mereka. Di beberapa kota komunitas clubbers telah terorganisir dengan baik sehingga membentuk semacam wadah yang dapat dijadikan para clubber sebagai tempat bertukar informasi dan menyalurkan aspirasi.
Bagi para clubber, hubungan pertemanan sangat diperlukan. Hal ini disebabkan karena dugem merupakan kegiatan yang membutuhkan keramaian suasana. Selain itu beberapa clubbers memiliki fungsi masing-masing dalam komunitasnya. Beberapa clubbers ada yang berfungsi sebagai pemodal, penghibur, dan pesuruh. Semua saling terhubung dengan hubungan simbiosis mutualisme (hubungan yang saling menguntungkan). Dalam beberapa komunitas lain, para clubber juga berfungsi saling mengisi, namun cenderung dengan kesamaan derajat, seperti saling patungan untuk membayar berbagai biaya selama dugem dan saling menghibur. Di antara para clubber dan komunitas clubbers juga terdapat hubungan saling menghormati dan menjaga ketenangan di dalam diskotik, walaupun keributan
Muhammad Liyansyah : Dugem Gaya Hidup Para Clubbers (Studi Deskriptif Tentang Kegiatan Dugem di Retro Spective), 2009.
USU Repository © 2009
hampir selalu terjadi disebabkan pengaruh minuman keras. Namun para clubber selalu mencoba menjaga moto mereka yaitu P.L.U.R. (Peace, Love. Unity, and Respect).
Kedua, dapat dijelaskan bahwa yang dilakukan clubbers pada saat dugem adalah ngobrol, minum, dan dance (jojing). Aktivitas ini adalah kegiatan utama para clubbers pada saat dugem dan mampu membuat para clubber merasa senang dan terlebur dalam suasana malam hingga lupa waktu. Biasanya para clubber akan berkumpul dengan komunitasnya di dalam saloon atau di meja untuk mengobrol, minum, dan bercanda dengan kawan-kawannya. Umumnya mereka membicarakan tentang kegiatannya selama satu hari penuh. Selain membicarakan rutinitas seharian para clubber terkadang juga saling bertukar informasi yang dianggap up-to-date (terbaru) oleh mereka. Minuman beralkohol adalah “teman sejati” para clubber pada saat ngobrol, menurut mereka minuman mampu membuatnya berbicara dan tertawa dengan sangat lepas. Dance (jojing) adalah juga merupakan kegiatan utama para clubber. Bagi para clubber jojing di area dance dapat mengekspresikan berbagai perasaan yang mereka rasakan. Dalam keadaan yang hampir dapat dipastikan mabuk ataupun setengah mabuk para clubber saling membaur dan menyatu dalam iringan musik dari sang DJ yang semakin lama semakin menghanyutkan mereka.
Ketiga, dapat dijelaskan bahwa yang diperoleh clubbers pada saat dugem adalah kepuasan, kesenangan, informasi, dan citra diri. Melalui dugem para clubber merasa memperoleh kepuasan dan kesenangan yang mampu menghilangkan beban pikiran yang mereka rasakan. Kemeriahan suasana dugem mampu membantu mereka
Muhammad Liyansyah : Dugem Gaya Hidup Para Clubbers (Studi Deskriptif Tentang Kegiatan Dugem di Retro Spective), 2009.
USU Repository © 2009
melupakan berbagai persoalan yang didapatkan dalam kehidupan. Dari dugem para clubber juga merasa bisa memperoleh pengetahuan melalui informasi yang didapat dari kawan-kawan clubbersnya baik pada saat dugem ataupun pada saat berada di luar kegiatan dugem. Hal utama yang diperoleh clubbers dari dugem adalah pencitraan diri, maksudnya adalah melalui dugem para clubber merasakan bahwa mereka berada di area yang mewakili kemajuan.
Berdasarkan jawaban-jawaban tersebut maka dapat disimpulkan bahwa dugem merupakan salah satu dari berbagai gaya hidup yang dianut oleh masyarakat perkotaan khususnya para penikmat dunia malam. Clubbers adalah sebutan untuk individu-individu yang mengikuti gaya hidup ini. Para clubber umumnya menjadikan dugem sebagai cara mereka memperoleh hiburan dan kesenangan. Namun bagi masyarakat awam dugem yang identik dengan hura-hura dianggap sebagai suatu kegiatan yang hanya memberikan kesenangan semu dan akan memberikan dampak ngatif bagi para penikmatnya.
Clubbers terdiri dari berbagai golongan, mulai dari siswa hingga pekerja, generasi muda hingga yang tua, dan dari yang kaya hingga yang miskin. Mereka mampu saling berbaur pada saat di dalam diskotik terutama pada saat dance (jojing).
Beranekaragamnya latar belakang para clubber ini kemudian menciptakan tipe-tipe clubbers yang berada di dalam diskotik sesuai dengan prilaku mereka. Beberapa clubbers ada juga yang tergabung dalam suatu komunitas clubbers. Menurut mereka komunitas clubbers sangat membantu dalam hal pertukaran inforamasi, baik yang mengenai dugem ataupun hal-hal lain.
Muhammad Liyansyah : Dugem Gaya Hidup Para Clubbers (Studi Deskriptif Tentang Kegiatan Dugem di Retro Spective), 2009.
USU Repository © 2009
Pola konsumsi merupakan pembentuk utama dari gaya hidup para clubber.
Dugem sebagai gaya hidup para clubber merupakan salah satu dari bentuk pola konsumsi simbolik. Hal ini dapat terlihat dari penampilan, kegiatan, dan tujuan mereka mengkonsumsi sebuah produk. Melalui dugem para clubber telah memberi penekanan yang lebih besar terhadap nilai-nilai simbolis suatu produk dan praktek dibandingkan dengan nilai-nilai kegunaan dan fungsional produk tersebut.
Dugem sebagai gaya hidup para clubber merupakan salah satu dari bentuk pola konsumsi simbolik. Hal ini dapat terlihat dari penampilan, kegiatan, dan tujuan mereka mengkonsumsi sebuah produk. Melalui dugem para clubber telah memberi penekanan yang lebih besar terhadap nilai-nilai simbolis suatu produk dan praktek dibandingkan dengan nilai-nilai kegunaan dan fungsional produk tersebut.