BAB III. KOMUNITAS CLUBBERS di KOTA MEDAN
3.4. Hubungan Clubbers Antar Sesama Clubbers dan
Manusia adalah mahluk sosial yang memiliki naluri untuk saling berbaur dan berhubungan dengan sesamanya. Setiap manusia akan saling berbaur dan memiliki berbagai hubungan dengan manusia lain yang berada dalam lingkungan atau kelompoknya. Begitu juga dengan para clubber yang berada dalam suatu kesatuan yang disebut komunitas clubbers. Pada saat melakukan dugem para clubber akan bertemu dengan orang-orang lain baik yang sudah di kenal ataupun yang belum dikenalnya dan akan terjadi interaksi sosial diantara mereka.
Seorang clubber dapat dipastikan selalu memiliki hubungan dengan clubbers lainnya dan terkadang terdapat saling ketergantungan. Dalam sebuah hubungan antara para clubber terdapat simbiosis mutualisme (hubungan yang saling menguntungkan) di antara seorang clubber dengan clubbers lainnya terutama yang berada dalam satu komunitas. Hal ini disebabkan kegiatan dugem yang penuh dengan hura-hura dan kesenangan ini tidak akan hidup atau asik apabila seorang clubber melakukannya sendirian. Seperti yang dikatakan Jo :
Muhammad Liyansyah : Dugem Gaya Hidup Para Clubbers (Studi Deskriptif Tentang Kegiatan Dugem di Retro Spective), 2009.
USU Repository © 2009
“Dugem itu asiknya kalo ada kawan, mau ngapain kita di diskotik kalo kita dugem sendirian bagusan lagi tidur dirumah, yang di cari dari dugem itu ya keramaian dan kebersamaannya. Kalo ada yang dateng dugem sendirian pasti dia ga punya kawan atau kalo ga pasti lagi stress.”
Para clubber tidak semua datang dari kalangan atas, beberapa atau bisa di bilang mayoritas clubbers adalah dari kalangan menengah kebawah. Mereka adalah para clubber yang tidak akan mampu bila harus dugem dua kali atau bahkan sekali dalam seminggu yang dikarenakan keterbatasan biaya. Keadaan inilah yang kemudian memunculkan simbiosis mutualisme diantara clubbers yang kaya dengan clubbers yang kekurangan uang. Bagi clubbers yang memiliki uang berlebih biasanya mereka akan masuk kedalam member retro, dalam aturan member di retro terdapat aturan yang memperbolehkan seorang member membawa maksimal 6 (enam) orang kawan untuk masuk secara gratis. Keadaan ini dimanfaatkan clubbers member tersebut untuk membawa kawan yang akan meramaikan suasana dugemnya. Biasanya para clubber yang dibawa masuk secara gratis oleh clubbers tersebut akan menghormati clubber yang membawanya masuk dan mereka biasanya akan berusaha membuat sang “bos” tersebut senang dengan berbagai cara. Mulai dari menghibur dengan obrolan dan candaan segar hingga menjadi tukang suruh. Hal ini biasanya berlaku selama sang “bos” tersebut membawa mereka masuk dan membayar semua minuman yang mereka minum. Namun keadaan ini tidak berlaku bagi beberapa clubbers kaya yang memang memiliki teman akrab dari kalangan clubbers “kurang mampu”, mereka biasanya akan saling bercanda dan berbicara seadanya selayaknya sesama teman.
Muhammad Liyansyah : Dugem Gaya Hidup Para Clubbers (Studi Deskriptif Tentang Kegiatan Dugem di Retro Spective), 2009.
USU Repository © 2009
Hubungan lain yang mencerminkan hubungan timbal balik diantara para clubber adalah adanya saling mengisi diantara para clubber dengan membagi biaya dugem mereka secara adil, contohnya sebagian dari anggota sebuah komunitas clubbers bertugas membayar uang masuk dan sebagian lagi membayar biaya minum mereka.
Dalam sebuah diskotik para clubber dan komunitas clubbers juga saling berinteraksi. Mereka biasanya akan saling berkenalan dan melakukan obrolan-obrolan ringan sehingga terjalin keakraban. Slogan atau moto P.L.U.R yang diagung-agungkan para clubber juga membantu terjalinnya keakraban diantara para clubber.
Para komunitas clubbers biasanya akan menjaga moto itu selama mereka berada di dalam diskotik. Keakraban diantara sesama komunitas clubbers memang akan mengurangi kemungkinan terjadinya keributan di dalam sebuah dikotik. Hal ini akan terlihat apabila seorang anggota komunitas clubbers yang terlibat perselisihan dengan anggota komunitas clubbers lainnya, para anggota masing-masing komunitas tersebut akan turun untuk melerai dan mendamaikan perselisihan yang terjadi diantara mereka.
Hubungan antara sesama clubbers dan komunitas clubbers juga terjadi di luar diskotik. Mereka biasanya saling berhubungan melalui forum yang tersedia di web-site yang memang diperuntukkan bagi para clubber. Melalui forum ini para clubber akan saling berbagi segala informasi dan membahas segala macam topik yang berhubungan dengan dugem. Berikut adalah salah satu contoh topik yang di bahas oleh para clubber di dalam sebuah forum di http://forum.detik.com/archive/index.
php/t-9178.html :
Muhammad Liyansyah : Dugem Gaya Hidup Para Clubbers (Studi Deskriptif Tentang Kegiatan Dugem di Retro Spective), 2009.
USU Repository © 2009
Topik : tempat dugem di Medan yang paliiiing maannntapppp?
Pages : [1] 2 3 kenji
17th December 2007, 13:21 halo teman2 gabung ya
menurut kalian tempat paling mantap di medan mana ya ? menurut gwe sih M3 diskotik is the bessssstttt agree…
naferyo
17th December 2007, 13:22 halo teman2 gabung ya
menurut kalian tempat paling mantap di medan mana ya ?
menurut gwe sih M3 diskotik is the bessssstttt:iagree::spam::clap::clap:
kapan2 maen kesana klo pergi ke medan jalan apa bro?
kenji
17th December 2007, 13:28 jln thamrin
di thamrin plaza lt paling atas bos lt 7 ntr bro ke medan coba dehhh
superstreetstar
18th December 2007, 00:26
keknya yg plg ngetop skrg tu di Retro ...
kenji
18th December 2007, 08:48 retro yg di capital ya ?
kt org byk cung kok me nya ya ?
Muhammad Liyansyah : Dugem Gaya Hidup Para Clubbers (Studi Deskriptif Tentang Kegiatan Dugem di Retro Spective), 2009.
USU Repository © 2009
ajak2 dunk kalo mau pg mdn tgl dimana bro /
Melaui forum-forum seperti ini berbagai topik permasalahan dapat dibahas oleh para clubber dan komunitas clubbers. Mulai dari membahas tempat dugem yang paling bagus, membahas even-even yang akan dilakukan, hingga berbagai kejadian yang terjadi di sekitar kehidupan dugem mereka. Forum ini juga dapat membantu bagi seorang clubber yang berasal dari luar kota untuk dapat mengetahui keadaan dan informasi tentang kegiatan dugem di kota lain.
Selain melaui forum, para clubber juga dapat beriterakasi dan berhubungan melalui e-mail. Melalui e-mail para clubber dapat memberitahukan para clubber lain tentang berbagai hal penting. E-mail juga dapat dijadikan lahan bisnis bagi para clubber karena melalui e-mail para clubber dapat menginformasikan berbagai berita, seperti penjualan suatu barang hingga informasi tentang lowongan kerja. Berikut adalah salah satu contoh e-mail yang diterima seorang clubber dari para clubber lainnya dalam e-mail yahoo:
Muhammad Liyansyah : Dugem Gaya Hidup Para Clubbers (Studi Deskriptif Tentang Kegiatan Dugem di Retro Spective), 2009.
USU Repository © 2009
E-mail biasanya dipakai oleh sebuah komunitas clubbers untuk memberikan informasi bagi anggotanya dan juga sebagai tempat para anggota komunitas tersebut memberikan informasi untuk anggota yang lainnya.
Interaksi dan hubungan yang terjadi di antara para clubber dan komunitas clubbers adalah bagian dari gaya hidup para clubber. Apapun yang mereka lakukan dalam interaksinya adalah bertujuan untuk menjaga eksistensi mereka dalam kehidupan.
Muhammad Liyansyah : Dugem Gaya Hidup Para Clubbers (Studi Deskriptif Tentang Kegiatan Dugem di Retro Spective), 2009.
USU Repository © 2009
BAB IV
DUGEM SEBAGAI SUATU GAYA HIDUP
4.1. Hal-Hal Yang Mendorong Clubbers Melakukan Dugem
Dugem adalah salah satu gaya hidup yang kini banyak dipilih oleh sebagian masyarakat perkotaan. Para clubber, sebutan bagi para penikmat hiburan malam ini biasanya berangkat dengan problem dan alasan masing-masing tentang mengapa mereka memilih dugem yang penuh dengan hura-hura sebagai gaya hidup.
Pandangan miring oleh sebagian besar masyarakat tentang kegiatan yang mereka lakukan bukanlah halangan untuk tetap menjadikan dugem sebagai gaya hidup.
Secara umum banyak alasan-alasan para clubber tentang mengapa mereka melakukan dugem, berikut adalah beberapa alasan para clubber melakukan dugem.
• Alasan Gengsi
Perkembangan yang bisa dianggap menonjol dalam pergeseran gaya hidup yang melanda kalangan remaja Indonesia adalah gaya hidup mereka yang secara umum cenderung dipengaruhi oleh gaya Barat, khususnya dari Amerika Serikat. Saat ini gaya hidup yang berasal dari budaya Barat umumnya dianggap memiliki nilai
Muhammad Liyansyah : Dugem Gaya Hidup Para Clubbers (Studi Deskriptif Tentang Kegiatan Dugem di Retro Spective), 2009.
USU Repository © 2009
lebih oleh sebagian dari masyarakat Indonesia. Golongan masyarakat yang memiliki gaya hidup yang ”kebarat-baratan” menganggap bahwa mereka adalah berasal dari kalangan yang lebih baik dari golongan masyarakat yang masih memegang gaya hidup dan budaya Timur.
Bagi sebagian masyarakat Indonesia budaya ataupun gaya hidup Barat mampu menyatakan sebuah keunggulan (Budiman, 2002: 249). Lebih lanjut dijelaskan Budiman bahwa hal ini sangat dimungkinkan berakar pada dua hal.
Pertama, sindroma yang diderita masyarakat-masyarakat bekas jajahan yang cenderung melihat bekas penjajahnya sebagai wakil dari keberhasilan dalam segala hal. Kedua, orientasi pembangunan yang diberlakukan oleh rezim Orde Baru yang sejak awal jelas-jelas menjadikan Negara-Negara maju di Barat sebagai model yang harus di tiru.
Dugem merupakan salah satu gaya hidup yang berasal dari budaya Barat dan di mata sebagaian masyarakat Indonesia dugem memiliki nilai prestige. Sebagian masyarakat Indonesia memiliki anggapan bahwa dugem adalah kegiatan orang-orang kaya yang memiliki uang lebih untuk dihambur-hamburkan. Asumsi inilah yang kemudian menjadikan sebagian dari pelaku kegiatan dugem merasa bahwa perlu melakukan dugem untuk menunjukkan bahwa mereka berasal dari kalangan atas.
Namun pada kenyataannya sebagian besar para pelaku dugem bukan berasal dari kalangan berada. Seperti yang dikatakan Tanika (bukan nama asli):
Muhammad Liyansyah : Dugem Gaya Hidup Para Clubbers (Studi Deskriptif Tentang Kegiatan Dugem di Retro Spective), 2009.
USU Repository © 2009
”Aku rasa anggapan kalo yang dugem itu adalah anak tajir10
10 Tajir adalah sebutan untuk orang kaya ataupun anak orang kaya.
salah la..., anak tajir sih memang banyak yang dugem tapi lebih banyak lagi yang biasa-biasa aja...tapi pada sok tajir semua karena orang itu dekat sama anak orang tajir betulan.”
Para clubber yang memang berasal dari kalangan orang kaya biasanya selalu berusaha untuk menunjukkan keberadaan dengan mengeluarkan berbagai kelebihan harta yang dimilikinya. Misalnya dengan menjadi member di berbagai club, mentraktir masuk dan minum gratis bagi para teman-temannya dan berbagai hal lainnya. Mereka akan merasa puas apabila menjadi pusat perhatian dan semakin banyak orang yang mengenalinya.
Nilai prestige yang berbeda juga terjadi pada beberapa clubbers lainnya.
Dugem yang dianggap sebagai gaya hidup modern telah membuat sebagian besar masyarakat kota berusaha untuk mengikuti gaya hidup ini. Mereka melakukan dugem dikarenakan tidak ingin dikatakan ketinggalan zaman, hal ini terjadi pada sebagian clubbers yang melakukan dugem. Beberapa clubbers mengaku bahwa mereka melakukan dugem karena menurutnya dugem adalah gaya hidup anak muda zaman sekarang dan di dalam lingkungan kehidupan mereka ada anggapan yang mengatakan bahwa kalau tidak dugem maka akan dikatakan kuper (kurang pergaulan). Seperti yang dikatakan Andi (bukan nama asli) :
“Aku dulu sering di bilang kuper sama kawan-kawan karena aku gak pernah mau kalo di ajakin dugem, trus daripada aku di bilang kuper ya aku nyoba ikutan dugem ama yang lain, gara-gara itu akhirnya aku keseringan dugem sampe-sampe aku jadi kecanduan.”
Muhammad Liyansyah : Dugem Gaya Hidup Para Clubbers (Studi Deskriptif Tentang Kegiatan Dugem di Retro Spective), 2009.
USU Repository © 2009
Alasan gengsi dan rasa tidak ingin ketinggalan ternyata mampu membuat seseorang merubah gaya hidupnya. Berbagai anggapan yang keluar dari lingkungan pertemanan mampu mengalahkan anggapan miring tentang dugem yang keluar dari sebuah komunitas yang lebih besar yaitu masyarakat.
Dugem merupakan gaya hidup yang berasal dari budaya Barat, siapapun memiliki hak untuk berpenampilan dan memiliki gaya hidup yang dirasakan nyaman dan sesuai dengan dirinya. Namun sebagai bangsa yang pintar seharusnya kita mampu memilih hal-hal yang baik dan membuang berbagai hal yang buruk dari budaya Barat dan berbagai budaya baru yang memasuki lingkungan kita. Sebagai bangsa Indonesia yang memiliki budaya Timur diharapkan para clubbers tidak meninggalkan nilai-nilai budaya Timur yang memiliki nilai positif sehingga tidak merusak nilai-nilai luhur bangsa yang akan menjadi warisan bagi generasi bangsa Indonesia berikutnya.
• Ajakkan Teman
Pertemanan merupakan salah satu faktor pendukung mengapa seseorang melakukan suatu kegiatan. Banyak orang yang ikut melakukan suatu kegiatan dikarenakan temannya melakukan kegiatan tersebut. Begitu juga halnya dengan beberapa clubbers yang melakukan dugem. Teman merupakan salah satu faktor utama mengapa seorang clubber melakukan kegiatan dugem. Beberapa clubbers mengatakan bahwa ia melakukan dugem karena semua temannya melakukan dugem.
Seperti yang dikatakan Anif (bukan nama asli) :
Muhammad Liyansyah : Dugem Gaya Hidup Para Clubbers (Studi Deskriptif Tentang Kegiatan Dugem di Retro Spective), 2009.
USU Repository © 2009
“Awalnya aku dugem karena kawan-kawan yang lain juga melakukan dugem, pertama sih aku kurang sreg dengan suasana diskotik yang padet dan sesak, tapi lama kelamaan aku jadi terbiasa. Habis mau kayak mana lagi, kalo aku gak gabung aku jadi gak punya kawan, wong kawan aku pada ngedugem semua”
Banyak dari para clubber yang melakukan dugem dikarenakan ajakkan dari teman-teman dekatnya. Walaupun awalnya mereka bukanlah seorang clubber, namun pergaulan dengan seorang clubber yang selalu membawa mereka ke dalam suasana dan gaya hidup para clubber menjadikannya terbiasa dengan suasana diskotik dan berbagai kegiatan para clubber. Kecocokan dengan gaya hidup para clubber juga menjadi faktor mengapa beberapa individu yang berteman dengan para clubber juga ikut menjadi clubbers, sebab tidak semua orang yang berteman dengan para clubber juga ikut menjadi clubbers. Beberapa individu yang berteman dengan clubbers merasa bahwa gaya hidup para clubber yang terkesan glamor dan penuh dengan hura-hura tidak cocok dengan keadaannya.
Menurut Mutmainah, anak muda memang tidak bisa dilepaskan dari kehidupan berkomunitas, anak muda paling senang nongkrong bersama kelompok dan teman-teman sebayanya (dalam http://patricktts.blog.friendster.com/
2008/09/ketika-dugem-dijadikan-salah-satu-ukuran-gaul/). Dijelaskan lebih lanjut bahwa dalam bergaul, selalu ada tekanan dari dalam diri seorang individu untuk melakukan hal yang sama dengan teman satu kelompok. Tekanan itu akan membuat dia mempertanyakan kembali nilai yang selama ini telah tertanam dalam dirinya
Bagi para clubber, kegiatan dugem memang memerlukan adanya teman.
Dugem tidak akan terasa ramai dan asik tanpa adanya teman-teman ataupun clubbers
Muhammad Liyansyah : Dugem Gaya Hidup Para Clubbers (Studi Deskriptif Tentang Kegiatan Dugem di Retro Spective), 2009.
USU Repository © 2009
lainnya yang ikut meramaikan suasana diskotik. Selain itu hubungan timbal balik diantara para clubber yang telah dijelaskan sebelumnya adalah alasan mengapa pertemanan merupakan elemen penting dalam dugem.
• Kejenuhan dan Hiburan
Setiap manusia pasti akan merasakan kejenuhan dalam hidupnya dan akan membutuhkan hiburan guna menghilangkan kejenuhan tersebut. Hal ini juga terjadi pada clubbers yang biasa melakukan dugem. Salah satu alasan yang sering dikemukakan clubber tentang mengapa mereka dugem adalah untuk menghilangkan stress dan menyelesaikan permasalahan (http://patricktts.blog.friendster.com /2008/09/ketika-dugem-dijadikan-salah-satu-ukuran-gaul/). Para clubber umumnya beralasan bahwa mereka melakukan dugem dikarenakan memerlukan hiburan setelah melakukan berbagai aktivitas sehari penuh. Hal ini senada dengan apa yang dikatakan oleh Zani (bukan nama asli) :
“Biasanya aku dugem tu kalo aku ngerasa penat atau kalo aku lagi suntuk, ya di sana aku ngerasa rileks aja bisa jumpa kawan-kawan, trus kita ketawa-ketawa sampe lupa waktu dan lupa sama masalah kita. Sehabis kita kerja satu harian kita kan perlu refreshing dan aku ngerasa dengan dugem aku bisa rileks, paling gak seminggu sekali wajib penyegaran lah.”
Bagi para clubber melakukan dugem adalah salah satu cara menghilangkan kejenuhan yang dirasakan dalam kehidupan sehari-hari. Suasana diskotik yang tidak pernah senyap ini dirasakan para clubber mampu menghilangkan beban pikiran yang telah penuh dengan berbagai persoalan. Dentuman musik dari para DJ membuat para clubber larut dalam hangar-bingarnya kehidupan malam dan berbagai minuman yang
Muhammad Liyansyah : Dugem Gaya Hidup Para Clubbers (Studi Deskriptif Tentang Kegiatan Dugem di Retro Spective), 2009.
USU Repository © 2009
mengandung alkohol semakin membuat para clubber terhanyut serta melupakan sejenak segala permasalahan hidup. Kegiatan ini dianggap kalangan muda sebagai suatu jawaban untuk menghilangkan berbagai kepenatan dalam meniti hari. Gerakan yang bebas di tengah teman-teman sepergaulan, membuat mereka merasa terlepas dari berbagai aturan yang mambatasi.
Para clubber yang berasal dari para pekerja kantoran umumnya merasa bahwa pekerjaan yang telah dilakukan selama seharian penuh selama hampir seminggu telah membuat lelah dan jenuh. Hal inilah yang dijadikan alasan bagi mereka melakukan dugem. Begitu juga para clubber yang berasal dari kalangan siswa ataupun mahasiswa, rutinitas belajar yang mereka dapatkan di sekolah atau di kampus telah membuat jenuh dan dugem telah menjadi pilihan hiburan bagi sebagian kalangan muda pada saat ini. Walaupun sebagian besar orang tua melarang untuk melakukan dugem, para clubber yang berasal dari kalangan pelajar ini mempunyai berbagai alasan bagi orang tua mereka serta bermacam argumen tentang mengapa memilih dugem sebagai pengisi waktu luang. Seperti yang dikatakan Alex (bukan nama asli) :
“Memang banyak yang bilang kalo anak sekolah gak bagus ikut-ikutan ngdugem, tapi itu buat anak muda zaman dulu…, kalo anak muda zaman sekarang ya wajib dugem dong…ya gak ? hahahaha…”
Para clubber ini tidak hanya berasal dari kalangan yang sedang mencari hiburan karena kejenuhan bekerja atau kuliah. Permasalahan pribadi yang terjadi pada diri beberapa clubbers juga menjadi faktor pendorong seorang clubber melakukan dugem. Para korban dari keluarga broken home, patah hati, dan dari
Muhammad Liyansyah : Dugem Gaya Hidup Para Clubbers (Studi Deskriptif Tentang Kegiatan Dugem di Retro Spective), 2009.
USU Repository © 2009
korban berbagai permasalahan lain juga menjadikan dugem menjadi tempat mereka melepaskan kepenatan hidup.
Para pengelola diskotik memang memanfaatkan para pencari hiburan untuk meramaikan diskotik tanpa memperdulikan latar belakang para pengunjung. Berbagai macam hiburan yang berhubungan dengan diskotik dan dunia malam terus dihadirkan para pengelola diskotik untuk menarik para pengunjung, mulai dari kontes sexy dance, fashion show, hingga kehadiran para DJ impor. Hal inilah yang membuat para clubber semakin betah dan memilih dugem sebagai cara mereka melepaskan kepenatan.
4.2. Dugem Sebagai Pola Konsumsi Simbolik
Pola konsumsi merupakan pembentuk utama dari sebuah gaya hidup masyarakat perkotaan. Ada dua proses yang merupakan tanda dari transformasi sosial perkotaan yaitu : proses konsumsi simbolik dan transformasi estetis. Proses konsumsi simbolik merupakan tanda penting dari pembentukan gaya hidup dimana nilai-nilai simbolis suatu produk dan praktek telah mendapat penekanan yang besar dibandingkan dengan nilai-nilai kegunaan dan fungsional, hal ini paling tidak dapat dijelaskan dengan tiga cara. Pertama, kelas-kelas sosial telah membedakan proses konsumsi di mana setiap kelas menunjukkan proses identifikasi yang berbeda, nilai simbolis dalam konsumsi tampak diinterpretasikan secara berbeda oleh satu kelompok dengan kelompok lain.Kedua, barang yang di konsumsi kemudian menjadi
Muhammad Liyansyah : Dugem Gaya Hidup Para Clubbers (Studi Deskriptif Tentang Kegiatan Dugem di Retro Spective), 2009.
USU Repository © 2009
wakil dari kehadiran seseorang atau kelompok. Hal ini berhubungan dengan aspek-aspek psikologis di mana konsumsi suatu produk berkaitan dengan perasaan atau rasa percaya diri yang menunjukkan bahwa itu bukan sekedar aksesoris, tetapi barang-barang merupakan isi dari kehadiran seseorang karena dengan cara itu ia berkomunikasi (goffman, 1951). Ketiga, berdasarkan proses konsumsi maka dapat dilihat bahwa konsumsi juga dapat bersifat citra (image) dimana citra yang dipancarkan oleh suatu produk (seperti pakaian atau makanan) merupakan alat ekpresi diri bagi kelompok yang mampu menegaskan keberadaannya dan identitasnya (Abdullah, 2006).
Pola konsumsi dari para clubber dengan dugem sebagai gaya hidup merupakan salah satu dari bentuk pola konsumsi simbolik. Hal ini dapat terlihat dari penampilan, kegiatan, dan tujuan mereka mengkonsumsi sebuah produk. Dugem yang merupakan rangkuman dari gaya hidup para pencinta pesta dan hura-hura adalah sebuah kegiatan konsumsi yang memiliki tujuan memberikan kesenangan dan hiburan bagi para penikmatnya. Para clubber melakukan dugem dengan tujuan awal memperoleh kesenangan dan penyegaran bagi pikiran mereka yang telah terisi penuh dengan berbagai masalah kehidupan. Namun pada perkembangannya nilai-nilai guna dan fungsional dari dugem berubah ke arah nilai simbolis. Sebagian besar clubbers melakukan dugem dengan tujuan menunjukkan keberadaan kelas mereka di dalam ataupun diluar masyarakat, dengan kata lain para clubber ingin menunjukkan kelas,
Pola konsumsi dari para clubber dengan dugem sebagai gaya hidup merupakan salah satu dari bentuk pola konsumsi simbolik. Hal ini dapat terlihat dari penampilan, kegiatan, dan tujuan mereka mengkonsumsi sebuah produk. Dugem yang merupakan rangkuman dari gaya hidup para pencinta pesta dan hura-hura adalah sebuah kegiatan konsumsi yang memiliki tujuan memberikan kesenangan dan hiburan bagi para penikmatnya. Para clubber melakukan dugem dengan tujuan awal memperoleh kesenangan dan penyegaran bagi pikiran mereka yang telah terisi penuh dengan berbagai masalah kehidupan. Namun pada perkembangannya nilai-nilai guna dan fungsional dari dugem berubah ke arah nilai simbolis. Sebagian besar clubbers melakukan dugem dengan tujuan menunjukkan keberadaan kelas mereka di dalam ataupun diluar masyarakat, dengan kata lain para clubber ingin menunjukkan kelas,