Inglis et al (2000) daya dukung fisik
DAYA DUKUNG LINGKUNGAN
produksi (production carrying capacity) Sumberdaya (benur, pakan, kualitas air, dll) SDA Limbah (pakan, limbah metabolisme,
kimia, feral hewan, dll) JASLING
DAYA DUKUNG LINGKUNGAN
Produk (ikan, kerang) Sistem produksi
budidaya pantai
termasuk ekoturisme. Komponen-komponen yang diamatinya adalah komponen fisika-ekologis, komponen sosio-demografi, dan komponen politik- ekonomi (Final Report “Defining, Measuring And Evaluating Carrying Capacity In European Tourism Destinations”, 2001)
Gambar 1 Konsep SDA dan JASLING, Rangkuman dari Pendapat
L
t
N
t
Tipe Daya Dukung :
Daya dukung fisik suatu kawasan berhubungan dengan ukuran dan jumlah area yang dapat diakomodasi dalam suatu ruang fisik yang layak
Daya dukung produksi merujuk pada kelimpahan stok yang mengikuti panen yang kontinyu dan maksimal, seperti Gambar 3 berikut :
Gambar 3 Kurva Sigmoid yang Menggambarkan Daya Dukung
daya dukung ekologi merupakan tingkat maksimum (baik jumlah maupun volume) pemanfaatan suatu sumberdaya atau ekosistem yang dapat di akomodasi oleh suatu kawasan atau area sebelum terjadi penurunan kualitas ekologis.
daya dukung sosial merupakan tingkat kenyamanan dan apresiasi pengguna suatu sumberdaya atau ekosistem terhadap suatu kawasan area akibat adanya pengguna lain dalam waktu bersamaan.
Defenisi daya dukung seperti tabel 1 berikut:
Tabel 1
Defenisi Daya Dukung di Wilayah Pesisir
No. Jenis Definisi Skala pengaruh
1. Daya dukung fisik Batasan-batasan yang ditata oleh ruang fisik dan kondisi- kondisi yang diperlukan kawasan pantai/laut (ukuran, situasi, kedalaman air, dll.)
Bawah permukaan
dan area
perencanaan
2. Daya dukung
produksi Kelimpahan stok lestari pada tingkat produksi maksimum Pertanian wilayah pesisir dan 3. Daya dukung ekologi Tingkatan dimana
pengembangan kawasan menyebabkan perubahan- perubahan nyata dalam ekosistem
Aktivitas
masyarakat dan wilayah pesisir
4. Daya dukung social Tingkatan dimana pengembangan kawasan berbenturan atau menimbulkan konflik dengan penggunaan lainnya
Wilayah pesisir
Sumber : Inglis et al. 2000 ( modifikasi)
Konsep Keterkaitan Wilayah pesisir
Sesuai dengan karakteristik geografis wilayah pesisir dapat dilihat bahwa wilayah pesisir mencirikan adanya wilayah laut dan berupa pulau-pulau. Dimana ada keterkaitan erat dan memiliki ketergantungan/interaksi antar ekosistem, kondisi ekonomi, sosial dan budaya, baik secara individual maupun secara berkelompok”, sehingga konsep pemanfaatan ruang yang akan dirumuskan tentunya perlu mempertimbangkan kondisi wilayah yang sangat spesifik tersebut.
Untuk itu, pemanfaatan wilayah pesisir bersama dengan ruang wilayah perairan (laut) dapat dilaksanakan seoptimal mungkin demi mewujudkan proses pembangunan melalui upaya peningkatan distribusi dari hasil-hasil kegiatan produksi dan jasa serta optimalisasi dari fungsi-fungsi dari setiap aktifitas di atasnya. Pemanfaatan ruang wilayah daratan dan lautan perlu direncanakan secara serasi dan selaras dengan mempertimbangkan :
•
Kawasan yang ada di darat dan laut serta hubungan fungsional kawasan-kawasan tersebut (inter-functionalities)•
Potensi ruang wilayah pesisir dan perairan laut.•
Keterbatasan-keterbatasan fisik alam, SDA, habitat, dan ekosistem lingkungan yang ada baik di wilayah daratan maupun lautan.Dalam konteks pengelolaan wilayah pesisir, prinsip keterpaduan sangat penting dan memegang peran yang fundamental sebagai salah satu kunci sukses pengelolaan. Hal ini terkait dengan sifat alamiah dari wilayah pesisir yang sering disebut sebagai “the most complex system and multiple-use”. Gambar 2.8 memberikan ilustrasi tentang wilayah pesisir sebagai kawasan yang multi-use (Dahuri, 2004).
Mengingat fungsi wilayah pesisir dan laut yang dinamik tersebut, Cicin-Sain and Knecht (1998) memberikan guidance bahwa elemen keterpaduan dalam pengelolaan pesisir adalah (1) keterpaduan sektoral; (2) keterpaduan pemerintahan; (3) keterpaduan spasial; (4) keterpaduan ilmu dan manajemen; dan (5) keterpaduan internasional.
Keterpaduan sektoral mensyaratkan adanya koordinasi antar sektor dalam pemanfaatan sumberdaya pesisir. Integrasi antar sektor ini dapat bersifat horizontal antar sektor yang memanfaatkan sumberdaya pesisir, misalnya perikanan dan pariwisata bahari, atau vertikal yaitu antar sektor yang memanfaatkan sumberdaya pesisir dan sector yang memanfaatkan sumberdaya daratan namun memiliki pengaruh terhadap dinamika ekosistem pesisir dan laut. Sebagai contoh sektor perikanan dengan pertanian pesisir. Keterkaitan dalam pengelolaan wilayah pesisir seperti Gambar 4 berikut
Gambar 4 Wilayah Pesisir dan Laut Sebagai Kawasan Multi-Use (Dahuri, 2004) Keterpaduan pemerintahan memiliki makna integrasi antar penyelenggara pemerintahan antar level dalam sebuah konteks pengelolaan wilayah pesisir tertentu. Pengelolaan sebuah teluk misalnya dapat melibatkan lebih dari satu pemerintah kabupaten/kota. Lebih dari itu, koordinasi dan integrasi antar level pemerintahan seperti antara pemerintah kabupaten/kota dengan pemerintah propinsi atau bahkan pemerintah pusat diperlukan dalam konteks keterpaduan pemerintahan ini.
Keterpaduan spasial memberikan arah pada integrasi ruang dalam sebuah pengelolaan kawasan pesisir, yaitu mencakup kawasan daratan dan kawasan laut. Seperti yang telah dikemukakan sebelumnya, terdapat keterkaitan yang sangat kuat antara ekosistem darat dan ekosistem laut. Dengan demikian pengelolaan pesisir harus mempertimbangkan keterkaitan antar ekosistem tersebut sehingga integrasi pengelolaan secara spasial menjadi kebutuhan mutlak. Dalam konteks Indonesia, saat ini dikembangkan integrasi atau harmonisasi antara tata ruang darat dan tata ruang laut (DKP, 2004).
Keterpaduan ilmu dan manajemen menitikberatkan pada integrasi antar ilmu dan pengetahuan yang terkait dengan pengelolaan pesisir. Dalam konteks ini, integrasi pemahaman bersama antara ilmu alam (natural sciences) dan ilmu sosial (social
sciences) menjadi sangat penting sehingga tujuan pengelolaan pesisir berkelanjutan dapat diwujudkan (Turner, 2000).
Keterpaduan internasional mensyaratkan adanya integrasi pengelolaan pesisir dan laut yang melibatkan dua atau lebih negara seperti dalam konteks transboundary species, high migratory biota maupun efek polusi antar ekosistem. Keterpaduan ini misalnya sangat diperlukan ketika pemerintah harus terlibat dalam pengelolaan perikanan regional (Regional Fisheries Management Organization) seperti yang disyaratkan oleh Code of Conduct for Responsible Fisheries (FAO, 1995) seperti IOTC (Indian Ocean of Tuna Commision) dan lain sebagainya.
Secara diagram, keterpaduan yang diperlukan dalam pengelolaan pesisir digambarkan lebih komprehensif oleh Dahuri (2004) seperti yang dapat dilihat pada Gambar 5 berikut ini.
Gambar 5 Keterpaduan Dalam Pengelolaan Pesisir (Dahuri, 2004) Pengertian Penataan Ruang
Ruang dilihat sebagai wadah dimana keseluruhan interaksi sistem sosial (manusia dengan seluruh kegiatan sosial, ekonomi, dan budayanya) dengan ekosistem (sumber daya alam dan sumber daya buatan) berlangsung. Interaksi ini tidak selalu
Intersectoral integration Intergovernmental integration Ecosystem integration Science- management integration
ICM
Decentralization Law enforcement Local knowledge and wisdom Institutional arrangement Consistency on development funding Consistency in planning and management Intersectoral integration Intergovernmental integration Ecosystem integration Science- management integrationICM
Decentralization Law enforcement Local knowledge and wisdom Institutional arrangement Consistency on development funding Consistency in planning and managementsecara otomatis berlangsung seimbang dan saling menguntungkan berbagai pihak yang ada. Hal ini karena adanya perbedaan kemampuan, kepentingan dan adanya sifat perkembangan ekonomi yang akumulatif. Oleh karena itu, ruang perlu ditata agar dapat memelihara keseimbangan lingkungan dan memberikan dukungan yang nyaman terhadap manusia serta makhluk hidup lainnya ( Departemen PU, 2001)
Penataannya perlu didasarkan pada pemahaman potensi dan keterbatasan alam, perkembangan kegiatan sosial ekonomi yang ada, serta tuntutan kebutuhan perikehidupan saat ini dan kelestarian lingkungan hidup dimasa yang akan datang. Upaya pemanfaatan ruang dan pengelolaan lingkungan ini dituangkan dalam suatu kesatuan rencana tata ruang.
Sesuai dengan Undang-undang No.26 Tahun 2007 tentang Penataan Ruang Pasal 1, menerangkan bahwa ruang adalah wadah yang meliputi ruang darat, ruang laut, dan ruang udara termasuk ruang di dalam bumi sebagai satu kesatuan wilayah, tempat manusia dan makhluk lain hidup, melakukan kegiatan, dan memelihara kelangsungan hidupnya. Selanjutnya dinyatakan bahwa tata ruang adalah wujud struktur ruang dan pola ruang. Struktur ruang adalah susunan pusat-pusat permukiman dan sistem jaringan prasarana dan sarana yang berfungsi sebagai pendukung kegiatan sosial ekonomi masyarakat secara hirarkis memiliki hubungan fungsional. Pola ruang adalah distribusi peruntukan ruang dalam suatu wilayah yang meliputi peruntukan ruang untuk fungsi lindung dan peruntukan ruang untuk fungsi budidaya.
Penataan Ruang adalah suatu sistem proses perencanaan tata ruang, pemanfaatan ruang dan pengendalian pemanfaatan ruang. Tata ruang mempunyai ukuran kualitas yang bukan semata menggambarkan mutu tata letak dan keterkaitan hirarkis, baik antar kegiatan maupun antar pusat, akan tetapi juga menggambarkan mutu komponen penyusunan ruang. Mutu ruang itu sendiri ditentukan oleh terwujudnya
keserasian, keselarasan, dan keseimbangan pemanfaatan ruang yang mengindahkan faktor daya dukung lingkungan, fungsi lingkungan, lokasi, dan struktur (keterkaitan jaringan infrastruktur dengan pusat permukim dan jasa) (Departemen PU, 2001)
Dalam UU No.26/2007 dinyatakan juga bahwa perencanaan tata ruang secara dapat diartikan suatu proses untuk menentukan struktur ruang dan pola ruang sesuai dengan rencana tata ruang melalui penyusunan dan pelaksanaan program beserta pembiayaannya.
Pemanfaatan ruang kawasan perkotaan yang merupakan bagian wilayah kabupaten merupakan bagian pemanfaatan ruang wilayah. Pengaturan kawasan perkotaan diarahkan bagi keserasian pusat-pusat wilayah maupun kota, yang dipandang dalam rangka keserasian administratif maupun fungsional, dan sifat rencananya menyangkut hal-hal yang strategis dalam bentuk RUTR Kota, sedangkan kawasan perkotaan yang terdapat dalam wilayah Kabupaten, diakomodasikan perencanaannya dalam RTRW Kabupaten.
Penataan ruang kawasan perdesaan diarahkan untuk pemberdayaan masyarakat perdesaan; pertahanan kualitas lingkungan setempat dan wilayah yang didukungnya; konservasi sumberdaya alam; pelestarian warisan budaya lokal; pertahanan kawasan lahan abadi pertanian pangan untuk ketahan pangan; dan penjagaan keseimbangan pembangunan perdesaan-perkotaan (UU No.26 Tahun 2007).
Keterkaitan perencanaan masing-masing tingkatan rencana tata ruang kawasan perkotaan dapat digambarkan dalam proses perencanaan sebagai diagram pada Gambar 6 berikut ini.
Gambar 6 Hubungan Struktur dan Pola Pemanfaatan Ruang dalam Suatu Wilayah (Departemen PU,2001)
Rencana struktur tata ruang wilayah, adalah rencana struktur pemanfaatan ruang wilayah, yang merupakan wujud struktural dan pola pemanfaatan ruang secara garis besar, disusun untuk menjaga konsistensi perkembangan pembangunan suatu wilayah dengan strategi nasional dalam jangka panjang, serta menjaga keserasian perkembangan pembangunan dengan wilayah pengembangannya.
Rencana merupakan ketentuan yang tidak mengikat secara hukum kepada masyarakat luas, namun merupakan ketentuan yang mengikat bagi instansi terkait dan yang berwenang memberikan arahan bagi pengembangan dan pembangunan di wilayah tersebut, terutama untuk mewujudkan keterpaduan, keterkaitan, dan keseimbangan lingkungan dan perkembangan wilayah inti dengan wilayah lainnya dalam wilayah pengaruh pengembangannya. Sesuai dengan prinsip-prinsip manfaat kegunaan rencana tersebut, berisi:
1. Arahan pengelolaan kawasan lindung dan budidaya di wilayah arahan pengembangan kawasan permukiman, pertanian, perikanan, perindustrian, pariwisata, jasa perniagaan.
Muatan rencana ini mempunyai nilai manfaat sebagai pedoman arahan alokasi kegiatan investasi, Kawasan Pengembangan Industri Estate, Kawasan Pengembangan Wisata dll);
RENCANA STRUKTUR RENCANA UMUM RENCANA DETAIL RENCANA TEKNIK PENGATURAN STRUKTUR PEMANFAATAN RUANG PENGATURAN POLA PEMANFAATAN RUANG
2. Arahan pengembangan sistem prasarana dan sarana primer.
Muatan rencana ini mengandung nilai manfaat sebagai pedoman perumusan kebijakan pelaksanaan pemanfaatan ruang di wilayah dan wilayah pengaruhnya; sekaligus untuk mewujudkan keserasian perkembangan wilayah di wilayah pengaruh pengembangannya. Pengembangan sistem prasarana dan sarana yang mempunyai jangkauan wilayah, diharapkan akan dapat menciptakan keseimbangan antar wilayah sesuai fungsi dan peran masing-masing yang dilayani prasarana dan sarana sesuai dengan kebutuhannya, sehingga terbentuk struktur yang diharapkan.
3. Arahan kebijaksanaan tata guna tanah, air, udara, dan sumber daya alam lainnya, dengan memperhatikan keterpaduan sumber daya manusia dan buatan.
Muatan rencana ini mengandung nilai manfaat sebagai pedoman untuk mewujudkan keterpaduan, keterkaitan, dan keseimbangan perkembangan wilayah dan wilayah lainnya di wilayah pengaruhnya serta wilayah pengaruh pengembangannya, sehingga diharapkan akan tercapai sustainabilitas pembangunan wilayah dilihat dari daya dukung lingkungan.
4. Arahan lokasi pengembangan kawasan prioritas. Muatan-muatan tersebut di atas secara keseluruhan mengandung nilai manfaat sebagai pedoman penyusunan rencana tata ruang wilayah kabupaten,
Kriteria yang digunakan untuk menentukan tata ruang dan zonasi adalah kriteria-kriteria yang disusun berdasarkan potensi supply dan potensi demand ( Gold, 1980; Mac.Kinnon,J.et.al. 1986; Departemen Kehutanan, 1983). Potensi supply meliputi kondisi sumberdaya alam yang terdiri dari unsur fisik dan biologi yang mempunyai interaksi satu sama lainnya, mempunyai kemampuan tumbuh dan berkembang serta dapat dimanfaatkan oleh masyarakat untuk memenuhi kebutuhannya. Sedangkan potensi demand meliputi kondisi sosial dan ekonomi
masyarakat serta potensi wisatawan yang dalam perkembangannya membutuhkan pasokan sumberdaya alam ( potensi suplly) yang memadai dan memerlukan pengaturan pemanfaatan agar dapat menjamin kelestariannya.
Proses Penataan Ruang Unsur-unsur Penataan Ruang
Ada dua unsur penataan ruang, yaitu proses penataan ruang fisik dan unsur kelembagaan/instansional penataan ruang (Rustiadi et al, 2003). Unsur fisik penataan ruang mencakup ;
1) Arah pemanfaatan fisik ruang. Pengaturan pemanfaatan ruang yang paling dikenal selama ini adalah berupa pengaturan penggunaan lahan yang didahului oleh penyusunan perencanaan penggunaan lahan (land use planning). Rencana penggunaan lahan dianggap perencanaan fisik paling utama dalam proses penataan ruang, bahkan sebagian berpendapat proses ini merupakan proses perencanaan minimal dari suatu perencanaan tata ruang. Namun sekarang ini semakin disadari bahwa penataan penggunaan lahan (tata guna tanah) tanpa kelengkapan penataan unsur-unsur esensial lainnya tidak pernah efektif., karena penggunaan lahan tidak bersifat independen dari perencanaan struktur hirarki pusat-pusat pelayanan, struktur jaringan jalan dan perencanaan infrastruktur lainnya serta unsur-unsur kelembagaan.
2) Penataan struktur/Hirarki Pusat-Pusat Aktifitas Sosial Ekonomi.
Struktur hirarki pusat pelayanan umumnya didasarkan atas dua bentuk hirarki, yakni hirarki sosial-politik dan hirarki ekonomi. Hirarki sosial politik umumnya sangat terkait dengan aspek historis dari struktur pemusatan politik masyarakat yang dilegalkan sebagai administrasi pemerintahan di suatu wilayah. Namun berbagai pertimbangan sosial khususnya hal-hal yang menyangkut upaya pemerataan/keadilan pembangunan mengarahkan pada pusat-pusat administrasi
pemerintahan walaupun secara jangka pendek menciptakan berbagai bentuk inefisiensi.
Struktur pemusatan ekonomi lebih ditentukan oleh ekonomi pasar. Pertimbangan tingginya ekonomi dari lakoasi-lokasi tertentu menyebabkan suatu piusat pelayanan wilayah lebih berkembang dibandingkan dengan pusat-pusat ekonomi secara alamiah. Penataan struktur hirarki pusat ekonomi diperlukan sebagai upayan meningkatkan fungsi dan peran pusat-pusat pertumbuhan agar berkembang sesuai dengan potensi yang dimilikinya dan produktifitas wilayah secara keseluruhan menjadi dasar pertimbangan dalam menyusun pola hirarki pemusatan.
Konsentrasi spasial (aglomerasi) secara berlebihan di suatu pusat pelayanan ekonomi yang tidak diimbangi dengan perencanaan yang baik sering mengarah kepada bentuk-bentuk inefisiensi. Oleh karena itu upaya-upaya untuk melakukan dekonsentrasi aktifitas ekonomi dengan memacu pusat-pusat pertumbuhan lainnya dapat dijadikan pemecahan keseimbangan struktur hirarki pusat-pusat pembangunan.
3) Pengembangan Jaringan Keterkaitan antar pusat-pusat aktifitas
Sistem-sistem jaringan di dalam wilayah mencakup berbagai sistem yang menfasilitasi aliran barang barang jasa dan informasi antar pusat-pusat aktifitas sosial dan ekonomi memberikan tingkat efisiensi dan produktifitas yang optimal. Bentuk atau pola keterkaitan atau hubungan hubungan antar pusat-pusat aktifitas yang dibutuhkan di dalam suatu perencanaan akan menentukan struktur jaringan yang dibutuhkan didalam suatu perencanaan akan menentukan struktur jaringan yang terbentuk akan mempengaruhi perkembangan masing-masing pusat aktifitas dan bentuk-bentuk keterkaitan (linkage) antar pusat-pusat aktifitas yang pada akhirnya dapat mengubah struktur hirarki pusat-pusat yang ada. Secara
keseluruhan sistem jaringan dikembangkan untuk menfasilitasi interaksi dan keterkaitan antar pusat-pusat yang paling optimal.
Dalam wilayah yang dipandang sebagai suatu sistem ekonomi, sistem-sistem jaringan dikembangkan untuk memfasilitasi sistem aliran sumberdaya (informasi, barang dan jasa) yang efisien, meningkatkan produktifitas, dan mendorong interaksi spasial yang saling memperkuat (reinforcing each others). Untuk itu sistem jaringan yang perlu dikembangkan diantaranya seperti sistem transportasi (jalan raya, kereta api, energi, modal, perairan dll). Guna menciptakan aliran input- input (sumberdaya manusia, energi, modal, barang-barang dan jasa lainnya) secara lintas sektor industri antar wilayah.
4) Pengembangan Infrastruktur
Infrastruktur pusat-pusat pelayanan; pusat ekonomi, aktifitas sosial dan pusat administrasi pemerintahan, pusat budaya dan lainnya. Termasuk juga infrastruktur jaringan.
Konsep Valuasi Ekonomi terhadap Sumberdaya Wilayah Pesisir
Secara umum dapat didefinisikan bahwa valuasi ekonomi pada dasarnya adalah suatu upaya untuk memberikan nilai kuantitatif terhadap barang dan jasa yang dihasilkan oleh sumberdaya alam dan lingkungan terlepas dari apakah nilai pasar (market prices) tersedia atau tidak. Akar dari konsep penilaian ini sebenarnya berlandaskan pada ekonomi neo-klasikal (neoclassical economic theory) yang menekankan pada kepuasan atau keperluan konsumen.
Di dalam konsep ekonomi neo-klasik, penilaian seorang individu atas barang dan jasa sering dinyatakan dengan total utilitas yang diperoleh dari mengkonsumsi barang dan jasa tersebut. Secara matematis, jika x adalah kuantitas barang yang dikonsumsi, maka total utilitas yang diperoleh oleh seorang individu adalah :
Selain konsep Total Utilitas, konsep yang lebih menarik dari Teori Preferensi adalah konsep Utilitas Marginal atau “Marginal Utility”. Utilitas Marginal dapat diartikan sebagai laju perubahan utilitas sebagai akibat dari perubahan unit x yang dikonsumsi. Secara grafis, Utilitas Marginal adalah kemiringan atau “slope” dari kurva Utilitas Total seperti terlihat dari Gambar 7 berikut dan secara matematis dapat ditulis sebagai :
dU/dx = MU(x)... (2.2)
x U(x)
xj
Gambar 7 Total Utilitas
Pada Gambar 7 axis vertikal adalah utilitas total dan axis horizontal adalah jumlah x yang mencerminkan ‘typical” utilitas seseorang dimana pada kisaran tertentu (0 sampai xj) menunjukkan bahwa semakin banyak x yang dikonsumsi semakin banyak
utilitas yang diperoleh, Pada tingkat xj (titik jenuh) utilitas total akan mencapai maksimum, kemudian pada daerah x>xjutilitas total akan menurun, sehingga sering dikatakan bahwa utilitas total meningkat dengan “laju yang menurun”.
Meskipun secara teoritis konsep utilitas di atas mudah untuk dipahami, namun satu kendala utama dalam pemahaman konsep utilitas masalah pengukuran. Utilitas total dan utilitas marginal tidak dapat diukur secara obsolut atau “unobservable”. Untuk memperoleh penilaian utilitas seorang individu , diperlukan informasi mengenai pola konsumsi atau preferensi individu. Jika kita asumsikan bahwa individu A kita
berikan sejumlah pendapatan (income) tertentu dan kita berikan kebebasan kepada individu tersebut untuk menentukan preferensinya atau “keinginan untuk membayar (WTP)” terhadap barang dan jasa yang akan dikunsumsinya, maka kurva permintaan dia terhadap barang dan jasa tersebut dapat dijadikan proxy sebagai WTP individu tersebut.
Pada Gambar 7, kurva permintaan terhadap barang X digambarkan dengan slope (kemiringan) yang negatif, yang menunjukan adanya hubungan yang terbalik antara harga dan kuantitas yang diminta (jika harga naik maka kuantitas yang diminta akan menurun). Kurva tersebut mencerminkan keinginan konsumen untuk mengkonsumsi sejumlah barang pada setiap harga yang berbeda. Dari Gambar 2.3, dapat ditunjukan bahwa seluruh daerah di bawah kurva permintaan tersebut menunjukan “keinginan membayar” (WTP) dari individu pada barang X. Daerah tersebut menunjukan pula “kepuasan total” dari mengkonsumsi seluruh barang X. Dengan demikian, titik-titik yang menghubungkan sepanjang kurva permintaan menunjukan keinginan membayar untuk setiap tambahan barang X atau diistilahkan dengan marginal WTP. Seperti Gambar 8 berikut:
X
P
x*
P *
E
A
Dari Gambar 8 dapat pula kita lihat bahwa, jika keseimbangan harga di pasar ditunjukan oleh P*, maka konsumen akan mengkonsumsi sebesar X*. Meskipun konsumen ingin membayar lebih dari P*, namun yang benar-benar ia bayar hanyalah sebesar P*. Kelebihan keinginan membayar ini adalah ditunjukan oleh daerah P*EA yang di dalam pemikiran ekonomi neo-klasikal disebut sebagai surplus konsumen (Consumer Surplus) atau Marshallian consumer’s surplus) yang telah dikembangkan lebih dini oleh Dupuit (1952).
Meskipun tidak terukur secara jelas, teknik pengukuran surplus konsumen ini sudah sangat dikenal pada barang dan jasa yang konvensional yang diperdagangkan di pasar dengan harga yang terukur. Ketika surplus konsumen yang diperoleh dari mengkonsumsi barang dan jasa tersebut sudah diukur, valuasi ekonomi pada komoditas yang konvensional ini kemudian bisa diukur dengan melihat perbandingan surplus konsumen yang terjadi (change in consumer’s surplus) akibat adanya perubahan ekonomi, misalnya terjadi perubahan harga, kenaikan pendapatan, dsb.
Krutila (1967) mengenalkan konsep total economic value (TEV) atau nilai ekonomi total bagi setiap individu atas sumberdaya alam dan lingkungan. Total Economic Value ini pada dasarnya sama dengan manfaat bersih (net benefit) yang diperoleh dari sumberdaya alam. Di dalam konsep ini, nilai yang dikonsumsi oleh seorang individu dapat dikategorikan ke dalam dua komponen utama yakni use value (nilai kegunaan) dan non-use value.
Komponen pertama, yakni use value pada dasarnya diartikan sebagai nilai yang diperoleh seorang individu atas pemanfaatan langsung dari sumberdaya alam dimana individu tersebut berhubungan langsung dengan sumberdaya alam dan lingkungan seperti berburu, memancing, rekreasi, dsb. Kedalam nilai ini juga termasuk pemanfaatan secara komersial atas barang dan jasa yang dihasilkan oleh sumberdaya alam misalnya ikan dan kayu yang bisa dijual maupun untuk konsumsi langsung. Use value secara lebih rinci diklasifikasikan kembali kedalam direct use value (nilai
kegunaan langsung) dan indirect use value (nilai kegunaan tidak langsung). Direct use value merujuk pada kegunaan langsung dari konsumsi sumberdaya seperti penangkapan ikan, pertanian, kayu sebagai bahan bakar dan lain sebaginya baik secara komersial maupun non komersial. Sementara indirect use value merujuk pada nilai yang dirasakan secara tidak langsung terhadap barang dan jasa yang dihasilkan oleh sumberdaya alam dan lingkungan. Termasuk di dalam kategori indirect use value ini misalnya fungsi pencegahan banjir dan nursery ground dari suatu ekosistem (misalnya mangrove).
Komponen non-use value adalah nilai yang diberikan kepada sumberdaya alam atas keberadaannya meskipun tidak dikonsumsi secara langsung. Non-use value lebih bersifat sulit diukur (less tangible) karena lebih didasarkan pada preferensi terhadap