• Tidak ada hasil yang ditemukan

Sumber : Dinas Perikanan dan Kajian Budidaya Perikanan,

Tabel 8

Kesesuaian Lahan untuk Budidaya Laut

!

!

!

"

#!

$

%

'

#

(

"

!

+

%

# 2

2! 2

" 2!

)

,

4

%

4

%

%

* !

*

"

*

'

&

!)

* )

" *

#!)

(

5 %

6

1

-

+

7

/

-

+

3

0

+ $

$

#

!

"!

$

!

#!

(2 12

* (2

12

#

"*

!

3

!

$

" 2!

2! 2

# 2

14.

Polutan

Tidak ada

-

Ada

Sumber : Dinas Perikanan dan Kajian Budidaya Perikanan, 2003.

Hasil klasifikasi kriteria kesesuaian lahan dari matrik diatas akan menghasilkan satuan unit kenampakan yang dapat dibedakan dengan kenampakan lainnya. Kenampakan secara spasial dari setiap potensi wilayah

L

pesisir dengan satuan unit terkecil digunakan teknik analisis Sistem Informasi Geografis (SIG) dengan cara model tumpang susun (overlay), pembobotan, dan pengkelasan (Chirsman dan Realino dalam Bengen, 2000). Selanjutnya dilakukan identifikasi dengan melakukan pemisahan serta mempertimbangkan masing-masing faktor (parameter) pembatas. Faktor-faktor pembatas dilakukan dengan mengklasifikasikan potensi sumberdaya wilayah pesisir disusun dalam bobot, skor dan kelas. Penentuan bobot dan skor untuk jenis penggunaan lahan di wilayah pesisir dikelompokkan kedalam 3 kelas yaitu S1 = sangat sesuai, S2 = sesuai, dan N1 = sesuai bersyarat. Adapun untuk setiap parameter yaitu; untuk pemberian skor yaitu; Skor tertinggi = kelas 1 = 5 dan seterusnya sampai yang terendah dengan kelas 3 dengan skor = 1. Untuk nilai kesesuaian lahan yaitu; S1 = Sangat sesuai , S2 = sesuai , dan N1= sesuai bersyarat dapat dilihat dalam Tabel Matriks masing-masing kesesuaian lahan. Penentuan kesesuaian lahan di wilayah pesisir berdasarkan variabel-variabel yang diteliti sesuai dengan peruntukannya, kemudian dikelompokkan kedalam kriteria kesesuaian lahan berdasarkan pada matriks keseuaian lahan yaitu; 1) Kesesuaian lahan sangat sesuai, yaitu; lahan tidak mempunyai pembatas yang berat untuk suatu penggunaan tertentu secara berkelanjutan, atau hanya mempunyai pembatas yang kurang berarti dan tidak berpengaruh secara nyata terhadap produksi lahan serta tidak akan menambah masukan (input); 2) Kesesuaian lahan sesuai, yaitu: lahan yang mempunyai pembatas agak ringan untuk suatu penggunaan tertentu yang berkelanjutan. Pembatas itu akan mengurangi produktifitas lahan dan keuntungan yang diperoleh serta meningkatkan masukan untuk mengolah lahan agar produktif secara optimal; 3) Kesesuaian lahan bersyarat, yaitu; lahan yang mempunyai pembatas dengan tingkat berat , akan tetapi masih dimungkinkan untuk diperbaiki (direhabilitasi) dengan biaya yang seimbang.

Analisa Daya Dukung Lahan Kegiatan Tambak

Pemilihan lokasi lahan yang akan digunakan untuk peruntukannya seperti kegiatan tambak udang dengan memperhatikan daya dukung lingkungan (carrying capacity).

Untuk mendapatkan kapasitas daya dukung dari setiap penggunaan lahan di wilayah pesisir maka dapat dirumuskan sebagai berikut :

VO = 0,5 h.y ( 2 Χ– h/tg ) ... (3)

Dimana : VO = volume air laut yang tersedia (m3)

h = tinggi pasang surut setempat (m) = kemiringan dasar pantai

y = lebar areal tambak yang sejajar garis pantai (m) X = jarak dari garis pantai (waktu pasang) hingga

pengambilan air ke laut (sea water intake) untuk keperluan tambak (m).

Kegiatan Pertanian (sawah)

Salah satu sifat rumah tangga pertanian adalah penguasaan/kepemilikan lahan yang relatif sempit (pada tahun 2003 rata-rata luas lahan sawqah per- rumah tangga pertanaian tanaman pangan 0,37 ha). Karena pertumbuhan penduduk, luas penguasaan lahan ini menunjukkan kecendrungan yang semakin sempit, bahkan banyak pentani tidak mempunyai lahan. Kondisi ini pada dasarnya menyebabkan meningkatkan tekanan penduduk terhadap lahan. Berarti kebutuhan lahan garapan terus bertambah, tetapi luas lahan pertanian terbatas sehingga kemampuan suatu wilayah un tuk mendukung kehidupan, yang disebut dengan daya dukung lingkungan, terbatas pula. Karena tekanan penduduk terhadap lahan yang terus meningkat, maka daya dukung lingkungan akan terlampaui.

Didasarkan pada pemahaman kaitan antara tekanan penduduk yang mempengaruhi daya dukung lingkungan diatas, maka untuk menganalisis daya dukung lahan untuk pertanian di wilayah pantai utara Kabupaten Bekasi, dipergunakan Model Tekanan Penduduk. Dengan adanya pertumbuhan penduduk, luas lahan pertanian semakin lama semakin kecil sehingga akhirnya dapat terjadi tidak cukup lagi Lahan untuk memenuhi kebutuhan pertanian.

Model matematik tekanan penduduk sebagai berikut : FPO (1 + r)

TP = z ( 1 –a ) --- ...(5) BL

TP = Tekanan Penduduk

Z = luas yang diperlukan untuk mendukung kehidupan pada tingkat hidup yang dianggap layak ( ha/rumah tangga )

a = proposi pendapatan dari pekerjaan nir-pertanian ( 0 = < a < 1) f = faraksi penduduk yang menjadi petani

PO = jumlah penduduk pada waktu t-0 (orang) r = laju pertumbuhan penduduk ( %/tahun) t = Waktu perhitungan ( tahun)

B = Proporsi manfaat yang dinikmati oleh penduduk dari usahanya ( 0 < B < 1 )

L = luas lahan pertanian

Dengan model ini dapat dianalisis besaran tekanan penduduk. Jika tekanan penduduk di atas, maka daya dukung lahan pertanaian telah melampaui.

Produktivitas merupakan ukuran kemampuan lahan untuk menghasilkan suatu output tertentu, dalam hal ini kemampuan lahan sawah untuk menghasilkan padi. Produktifitas lahan sawah di kawasan pesisir Kabupaten Bekasi dari tahun 2003-2007 menunjukkan penurunan. Penurunan produktivitas

salah satunya disebabkan oleh berkurangnya kemampuan lahan sebagai akibat dari kondisi fisik, biologi dan kimia tanah yang tidak seimbang disamping tingkat pencemaran yang semakin tinggi. Untuk memproyeksikan produktivitas digunakan rumusan sebagai berikut :

Dt = Do ( 1 + r) t ...( 6)

Dt = Daya dukung tahun ke-t Do = Daya dukung tahun ke-0

t = range tahun yang diproyeksikan dengan tahun patokan r = rate laju penurunan per tahun (%)

Kegiatan Permukiman

Perhitungan daya dukung berdasarkan pada fungsi peruntukan lahan diatasnya (daratan/upland) mengacu kepada metode yang dikembangkan oleh Land Ocean Interactionin the Coastal Zone ( LOICZ) Project. Hasil identifikasi jenis dan tingkatan aktivitas serta pendugaan beban limbah antropogenik di wilayah pesisir terdiri dari kegiatan rumah tangga, industri dan peternakan. Jenis aktivitas seperti Tabel 9 berikut :

Tabel 9 Pendugaan Limbah berdasarkan pada Jenis Aktivitas pemanfaatan lahan daratan

No Jenis Aktivitas Tingkat

Aktivitas Pendugaan Limbah

Koefesien limbah N P Ket

1 Rumah tangga a. limbah padat b. sampah c. deterjen 205 org 1,86 kg N/org/th 0,37 kg/P/org/th 4 kg P/org/th 1 kg P/org/th 1 kg P/org/th 381,3 - 820 - - 75,9 - - 205 205 1 2 3 3 3 Jumlah 1.201,3 485,9

Sumber : Sogreah (1974); Padilla et.al (1997); Word Bank ( 1993); WHO (1993); Valiela et al (1997) dalam Rachmansyah (2004)

Disamping itu juga digunakan berdasarkan analisis fisik binaan, terutama ditujukan untuk mengetahui intensitas penggunaan ruang ( terutama perkotaan) berdasarkan hasil perhitungan luas penggunaan tanah, jumlah bangunan dan luas lantai. Rumus matematis dan intensitas penggunaan lahan dapat dijabarkan sebagai berikut :

1,903 + LOG KLB

IPL = --- ...( 7) 0,381

Dimana :

IPL = Intensitas Penggunaan lahan KLB = Koefisien Lantai Bangunan

Kegiatan Industri

Praktek pembuangan limbah industri memiliki sejumlah aturan, Undang- undang Lingkungan Hidup melarang pembuangan zat padat ke badan air, sungai laut dan danau. Aturan lain yang tidak memungkinkan dibuang ke laut adalah adanya batas maksimal Total Suspended Solid (TTS) bagi zat padat yang dilepas ke periaran. Batasan TSS, sebesar 30 ppm merupakan baku mutu yang harus dipenuhi industri ( tambang/tailing) yang memiliki TSS beberapa kali lipat. Aturan mengenai batas TSS ini dibuat untuk melindungi sumberdaya perikanan setempat. TSS kira-kira dapat dilihat sebagai bagian dari tailing yang dapat berupa partikel/butiran-butiran halus yang melayang-layang di perairan (suspended). Adanya partikel-partikel tersuspensi ini akan meningkatkan kekeruhan perairan, menghalangi cahaya matahari yang dibutuhkan sebagai sumber metabolisme kehidupan perairan ( Kepmen KLH no. 02 tahun 1986 UU Lingkungan Hidup No. 23/1997 dan PP. Pencegahan Pencemaran Laut). Disebutkan bahwa ambang batas TSS untuk effluen sebesar 400 mg/l.

Analisa Sosial Ekonomi Analisis Pertumbuhan Ekonomi Wilayah

Kajian komponen sosial-ekonomi dan social budaya masyarakat wilayah pesisir Kabupaten Bekasi ditentukan berdasarkan pada struktur sosial yang meliputi struktur perekonomian setempat, struktur penguasaan sumberdaya, dan interaksi sosial pada kelompok-kelompok masyarakat. Lingkup kajian aspek sosial-ekonomi dan sosial-budaya didasarkan pada prakiraan perubahan bentang alam, terutama pada areal daratan pantai. Adapun lingkup kajian dampak kegiatan meliputi area di wilayah pesisir Kabupaten Bekasi yang telah direncanakan untuk kegiatan perbaikan dan pembangunan permukiman, pembangunan prasarana kegiatan usaha dan pembinaan usaha, dan pengembangan wilayah wisata bahari.

Analisis ini mengkaji perkembangan perekonomian dilihat dari sumbangan setiap sektor dari setiap wilayah terhadap pendapatan daerah ( PDRB) dengan menggunakan teknik analisis Shift and Share, yaitu sebagai berikut :

Ri = PDRB 2005ij = PDB 2005 = PDB 2005i ………(8) PDRB 2000ij PDB 2000 PDB 2005ij

PB (0%) = PB . ……….(9) PDRB 2005

Analisa Manfaat Ekonomi dari setiap penggunaan lahan

Lingkup kajian aspek sosial-ekonomi didasarkan pada manfaat ekonomi dari setiap penggunaan lahan, terutama pada wilayah pesisir. Adapun lingkup kajian dampak kegiatan meliputi area di wilayah pesisir Kabupaten Bekasi yang telah direncanakan untuk kegiatan perbaikan dan pembangunan permukiman,

pembangunan prasarana kegiatan usaha dan pembinaan usaha, dan pengembangan wilayah wisata bahari.

Model Total Ekonomi Value (TEV)

Di dalam menganalisis TEV, Bell dan Cruz-Trinidad (1996) membagi benefit dan cost dari potensi kegunaan mangrove kedalam tiga komponen yakni konservasi, kelestarian eksploitasi dan konversi.

Untuk memformulasikan nilai kegunaan mangrove di atas, Bell dan Cruz- Trinidad menjabarkan kedalam suatu fungsi tujuan (objective function) yang ditulis sebagai berikut :

+

=

NB

s

NB

m

Z

max

………(10)

Dimana NBs adalah keuntungan (net benefit) dari budidaya udang, dan NBm adalah keuntungan (net benefit) yang berhubungan dengan kelestarian eksploitasi hutan mangrove. Maksimum total keuntungan (total net benefit), dimana X*P adalah penerimaan total, X*C adalah biaya. Indeks a menunjukkan penggunaan lahan , b menunjukkan penggunaan sumberdaya, c menunjukkan sector produksi, i menunjukkan aktivitas proses (ekstraksi, tranportasi, dsb), Aj menunjukkan area atau daerah dimana aktivitas i terjadi , Nk menunjukkan level konversi mangrove di daerah k, l dan m menunjukkan level teknologi dan n menunjukkan sumberdaya atau produk akhir.

Sedangkan untuk mengukur nilai manfaata dari setiap penggunaan lahan adalah dengan menggunakan persamaan Nilai Setiap Penggunaan Lahan adalah perkalian antara harga setiap satuan penggunaan lahan dengan jumlah/produksi/luas setiap satuan unit lahan ( I = p x q ), dimana I nilai ekonomi lahan, p harga dari setiap satuan unit lahan dan q jumlah satuan unit lahan (Anto Dadjan, 1982, Modifikasi) .

Merumuskan Model Perencanan Tata Ruang Wilayah Pesisir

Setelah data-data dari veraiabel diperoleh baik secara primer ataupun sekunder kemudian dilakukan penyusunan konsep awal dari model perencanaan penataan ruang yang ingin dicapai dengan beberapa skenario, yaitu :

1. Analisis kebijakan penataan ruang yang sudah ada (RTRW Kabupaten Bekasi). Rencana penataan ruang yang sudah dibuat dijadikan dasar untuk analisis terhadap fungsi masing-masing kawasan. Fungsi kawasan tersebut dibagi atas dua bagian utama, yaitu ;

• Kawasan lindung meliputi; hutan lindung (hutan mangrove), kawasan cagar alam dan kawasan suaka marga satwa atau jenis lainnya.

• kawasan budidaya meliputi ; permukiman, industri, tambak, pertanian, pariwisata dan tempat penangkapan ikan (perikanan laut).

Skenario kebijakan penataan ruang menggunakan pendekatan keterpaduan dalam pengelolaan sumberdaya untuk pembangunan, yaitu dengan perubahan konversi lahan dan kemudian disesuaikan dengan rencana penataan ruang yang ada.

2. Analisis kesesuaian dan daya dukung lahan (Tabel matriks kesesuaian lahan; Lampiran 1 ) dari wilayah pesisir yang dijadikan wilayah penelitian dalam hal ini adalah wilayah pesisir Pantai Utara Kabupaten Bekasi. Skenario ini dianggap skenario yang terjadi bila tidak ada perubahan kebijakan dalam pemanfaatan lahannya. Pada dasar skenario ini, struktur dan pola pemanfaatan lahan belum ada intervensi dengan kebijakan apapun dan pola penggunaan lahan yang secara alamiah tidak dirubah. Artinya klasifikasi kesesuaian penggunaan lahan sesuai dengan

karakteristik dan daya dukungnya. Konsep ini mengacu pada kondisi fisik, kimia dan bilogi wilayah perairan dan daratan.

3. Analisis ekonomi sumberdaya lahan wilayah pesisir yang meliputi penggunaan lahan wilayah pesisir saat ini (eksisting) dan penggunaan lahan berdasarkan pada daya dukung. Analisis ekonomi berdasarkan daya dukung lahannya yang secara ekologi akan memberikan keberlanjutan sumberdaya wilayah pesisir. Nilai ekonomi memberikan nilai tambah yang berarti bagi masyarakatnya dan lingkungannya. Pendekatan dilakukan pada wilayah pesisir dengan menggunakan model- model valuasi ekonomi.

4. Analisis dengan rumusan model perencanaan penataan ruang wilayah pesisir. Model ini merupakan hasil analisis dari kebijakan tata ruang yang berbasis daratan, analisis kesesuaian dan daya dukung lahan serta analisis ekonomi sumberdaya lahan wilayah pesisir. Analisis terhadap unsur-unsur diatas menghasil rumusan model perencanaan tata ruang wilayah pesisir

Sumberdaya wilayah pesisir dapat ditampilkan dalam satuan unit terkecil yang mewakili bentuk perbedaan kenampakan antara satu wilayah dengan wilayah lainnya. Dalam penelitian ini satuan terkecil yang digunakan adalah batas adminstratif desa. Dari aspek kenampakan bentangan alamnya secara spasial dapat ditampilkan dalam bentuk peta. Sistem informasi geografis dilakukan untuk mendapatkan penyajian spasial dari skenario penyusunan model perencanaan tata ruang wilayah pesisir di Kabupaten Bekasi. Analisis SIG dilakukan dengan menggunakan bantuan perangkat lunak komputer Arc-View versi 3.3 (ESRI, 1995).

Untuk menentukan sebaran spasial karakteristik geo-fisika-kimia perairan digunakan pendekatan spasial berdasarkan pada parameter-perameter pendukung untuk suatu lokasi di wilayah pesisir. Penentuannya secara diskriptif yang dihasilkan oleh setiap peta kondisi fisik wilayah pesisir misalnya peta batimetri, peta distribusi phytiplankton, peta jenis substrat dan peta lainnya. Peta- peta tersebut menggambar secara spasial akan peta kesesuaian dan daya dukung lahan.

Langkah berikutnya adalah overlay dengan peta rencana tata ruang berbasis daratan yang sudah ada ( khususnya dalam pemanfaatan kawasan lindung dan kawasan budidaya); Berdasarkan kesesuaian dan daya dukung lahannya; dan peta analisis ekonomi. Dengan teknik overlay peta kesesuaian dan daya dukung dapat diketahui kesesuaian dan daya dukung lahan untuk permukiman, pelabuhan, industri, pertanian, perikanan tambak, budidaya laut, konservasi dan pariwisata.

Setelah didapatkan kawasan berdasarkan rencana tata ruang berbasis daratan, kesesuaian lahan, daya dukung, dan nilai ekonomi, maka langkah berikutnya adalah mengklasifikasikan wilayah persisir berdasarkan pada fungsi kawasan yaitu kawasan pre-servasi, konservasi dan pemanfaatan intensif atau kawasan lindung dan budidaya.

Dari metode itu diketahui parameter-parameter yang menjadi kriteria pokok dalam penentuan satuan rencana tata ruang wilayah pesisir dari ketiga skenario diatas maka dirumuskan dalam bentuk suatu proses dan model yang sederhana agar model yang akan dirumuskan dapat diketahui dengan lebih mudah baik secara spasial (peta tata ruang wilayah pesisir) maupun dalam bentuk konsep dalam penyusunan rencana tata ruan wilayah pesisir berikutnya.

Model yang akan dihasilkan dapat diterapkan juga di wilayah lainnya, dengan dasar bahwa wilayah pesisir Kabupaten Bekasi.

Akhirnya dari hasil analisis SIG yang diintegrasikan dengan anilisis matematis yang lainnya, akan didapatkan model perencanaan tata ruang wilayah pesisir. Proses penyusunan model rencana tata ruang wilayah pesisir dapat dilakukan melalui tiga tahap yaitu tahap input, tahap proses dan tahap output seperti Gambar 12 berikut :

Gambar 12 Proses Analisis Sistem Informasi Geografis (Rokhmin, 2000)

POTENSI DAN PERMASALAHAN

DATA

PRIMER BASIS DATA SEKUNDER DATA

PETA DASAR

PETA

TEMATIK KE-1 TEMATIK KE-2 PETA

PETA TEMATIK KE-N OVERLAY MODELLING KESESUAIAN DAN DAYA DUKUNG LAHAN

ANALISIS SPASIAL (Pola Pemanfaatan Ruang & TABULAR TATA RUANG BERBASIS OVERLAY MODELLING PEMANFAATAN SAAT INI VALUASI EKONOMI

Analisis Kuantitatif dari Karakteristik Ekosistem

Pesisir

TATA RUANG