HASIL DAN PEMBAHASAN PENELITIAN
KOTA BEK AS
Gambar 22 Pemanfaatan Lahan Wilayah Pesisir Berdasarkan pada Kesesuaian Lahan
Analisis Daya Dukung Lahan
Daya dukung lahan dari ekosistem yang ada di wilayah pesisir merupakan unsur utama yang perlu dijadikan konsep awal dalam rumusan model perencanaan tata ruang wilayah pesisir. Analisis daya dukung dapat dilihat dari beberapa aspek yaitu karakteristik fisik, kimia dan biologi perairan, daratan dan wilayah transisi perairan dan daratan. Secara diagramaik, model konsepsual daya dukung untuk pemanfaatan wilayah pesisir disajikan pada Gambar 23 berikut:
Gambar 23 Faktor penentu pemanfaatan lahan wilayah pesisir berdasarkan pada daya dukung fisiknya.
Keterangan :
: wilayah pesisir : peruntukan lahan
: faktor yang menentukan daya dukung dan kesesuaian lahan : : Konsep kesesuaian lahan berdasarkan pada analisis daya dukung fisik dari ekosistem yang ada diwilayah pesisir merupakan konsep awal dalam rumusan penyusunan model rencana penataan ruang di wilayah pesisir. Setiap ekosistem
Faktor Penentu :
• Pasut dan Tinggi Gelombang • Kecepatan Arus • Aksesibilitas • Amplitudo • Keterlindungan Faktor Penentu : • pH • Suhu • Salinitas
WILAYAH PESISIR
Tambak Konservasi Rumput Laut Permukiman/Industri Pertanian Pariwisata rgpg Pelabuhan Perikanan Pelabuhan Umum KESESUAIAN LAHANsenantiasa mengarah pada suatu keadaan yang seimbang sehingga kesinambungan terjamin. Namun suatu ekosistem mungkin mengalami perubahan-perubahan lantaran bekerjanya faktor-faktor fisik alamiah, dan pengaruhnya sangat besar terhadap manusia.
Berdasarkan pada wilayah sampel penelitian ini keadaan topografi wilayah pesisir Kabupaten Bekasi mempunyai kemiringan antara 0 – 4 %, atau dapat dikatakan sebagai daerah landai yang sangat dipengaruhi oleh kondisi pasang surut air laut, kondisi substrat dan pendangkalan perairan akibat sedimentasi dari wilayah daratan. Dalam penggunaan lahannya memiliki kendala untuk pelaksanaan pembangunan dan memerlukan biaya investasi yang sangat tinggi. Selain itu untuk meminimalisasi permasalahan fisik terutama abrasi diperlukan penataan green belt dalam bentuk reboisasi hutan bakau disepanjang pantai. Hutan bakau dapat berperan sangat besar dalam hal ini. Salah satu fungsi terbaik dari sebuah penataan areal green belt pada kawasan pesisir ini adalah menahan terjadinya abrasi pantai secara terus menerus dan memperangkap sedimentasi perairan yang sudah terjadi, sehingga pendangkalan perairan pesisir dapat dihindari terutama pada zona-zona kegiatan fungsional utama, seperti, perikanan, permukiman dan pariwisata.
Luas lahan untuk permukiman berdasarkan pada daya dukung lahannya adalah 1.290 ha, yaitu Desa Segarajaya dan Desa Samudrajaya di Kecamatan Tarumajaya, Desa Bahagia, Kebalen, Babelan Kota dan Desa Kedung Pengawas di Kecamatan Babelan dan Desa Pantai Sederhana, Pantai Mekar dan Desa Pantai Bahagia di Kecamatan Muaragembong memiliki lahan yang sesuai untuk fungsi permukiman.
Sedangkan parameter-parameter yang menentukan pemanfaatan lahan wilayah pesisir berdasarkan pada kesesuaian lahannya adalah :
• panjang garis pantai • tinggi amplitudo rata-rata
• kemiringan dasar perairan
• jarak dari pantai sampai titik pengambilan air • Kedalaman perairan
• Kecepatan arus • Kekeruhan. • Salinitas
Analisis Daya Dukung untuk Lahan Permukiman.
Hasil analisis yang dilakukan bahwa aktivitas di daratan yang berkontribusi besar adalah kegiatan peternakan rumah tangga. Dengan asumsi jumlah penduduk 205 orang maka limbah rumah tangga yang dikeluarkannya adalah N (1.201,3 kg/th), P ( 485,9). Untuk kegiatan peternakan maka limbah yang dikeluarkan adalah N ( 617,1 kg/th) dan P (568,1 kg/th).
Dengan asumsi jumlah N dan P yang masuk tubuh perairan sebanyak 25% dari limbah antrophogenik setelah malelui asimilasi didaratan maka kontribusi limbah dari kegiatan antropogenik adalah 0,25 x 1.201,3 = 300,325 kg/th (N) dan 0,25 x 485,9 = 121,475 kg/th (P) pertahun untuk setiap 205 orang penduduk. Untuk wilayah pesisir Kabupaten Bekasi, Kecamatan Tarumajaya dengan jumlah penduduk 58.554 jiwa akan mengeluarkan limbah yang masuk keperairan yaitu sebesar 85.781,6 kg/th (N) dan 34.696,8 kg/th (P). Kecamatan Babelan dengan jumlah penduduk 96.443 jiwa akan mengeluarkan limbah yang masuk perairan yaitu 141.300,76 kg/th (N) dan 57.148,36 kg/th (P). Kecamatan Muaragembong dengan jumlah penduduk 26.686 jiwa akan mengeluarkan limbah yang masuk perairan yaitu 39.094,99 kg/th (N) dan 15.813,08 kg/th (P). Jumlah ini dapat dijadikan dasar dalam pendugaan daya dukung untuk suatu kawasan pesisir berdasarkan pada kesesuaian lahannya. Analisis pendekatan beban limbah total N dan P dan analisis ketersediaan oksigen terlarut dalam perairan dan limbah bahan organik untuk pengembangan permukiman (sangat
tergantung jumlah penduduk), Besarnya nilai limbah N dan P di wilayah Pesisir Kabupaten Bekasi seperti dijelaskan pada Tabel 24 berikut:
Tabel 24 Pendugaan Limbah berdasarkan pada Jumlah Penduduk dan Aktivitasnya
No Kecamatan Jumlah
Penduduk Pendugaan Limbah
N P Ket. 1 2 3 Tarumajaya Babelan Muaragembong 58.554 96.443 26.686 85.781,6 141.300,7 6 39.094,99 34.696,8 57.148,36 15.813,08 *) *) Jumlah 181.683 266.177,3 5 107.558,24
Sumber : Hasil Analisis, 2007 . *) tidak bisa dikembangkan untuk Budidaya Tambak Dari jumlah penduduk tersebut dapat diuraikan bahwa dengan jumlah rata-rata anggota keluarga dalam satu rumah ( 5 orang), hasil perhitungan diperoleh luas lahan untuk kawasan permukiman sesuai dengan daya dukungya adalah seluas 2194 ha seperti pada Gambar 24 berikut :
Gambar 24 Pemanfaatan Lahan untuk Permukiman
Analisis Daya Dukung untuk Lahan Tambak
Perhitungan daya dukung budidaya tambak ditentukan dengan beberapa pendekatan, yaitu; a) volume air penerima limbah; b) kapasitas ketersediaan oksigen
terlarut; dan c) kapasitas asimilasi perairan terhadap N dan P. Hasil perhitungan volume air yang tersedia di pantai untuk budidaya tambak.
a. Garis pantai sepanjang 72000 m (y) b. Tinggi amplitudo rata-rata 1 m c. Kemiringan dasar perairan pantai 1o
d. Frekuensi pasang surut 2 kali sehari
e. Jarak dari pantai sampai titik pengambilan air 500 m (x) Apabila kita terima asumsi-asumsi yang menyatakan, bahwa;
a. Produksi tambak lestari maksimum adalah 5 ton/ha/MT (intensif),
b. Volume limbah tambak yang dibuang ke perairan setiap hari adalah 5% dari volume total air yang dibuang,
c. Limbah tambak yang dibuang ke perairan umum maksimum adalah 1% dari total volume air yang tersedia di pantai (Vo),
d. Kedalaman air di dalam tambak rata-rata adalah 1.2 meter,
e. Persentase pergantian air rata-rata 5%/hari dari volume air tambak Maka :
Limbah tambak maksumum : 338.823,53 m3 Vol tambak total : 6.776.470,59 m3
Vol limbah tambak yang dibuang Keperairan 5% dari volume air yang dibuang- pada prod 5ton/ha)
Luas Tambak( kadalaman rata2 1 m) : 6.776.470,59 m2 atau 677,65 ha Luas tambak jika teknologi yang diterapkan adalah:
Intensive : 5 ton/ha : 677,65 ha
Semi : 2 ton/ha : 1.694,12 ha
Tradisional : 0,6 ton/ha : 5.647,06 ha Kombinasi yang ideal adalah :
Semi intensif : 1.372,2 : 56,12 % Tradisional plus : 1.072,9 : 43,88 %
Total : 2.445,2 Alternatif lainnya :
Tradisional plus : 847,1 ha
Ikan : 158,1 ha
Total : 2.445,2 ha
Dengan menggunakan persamaan luas lahan untuk budidaya tambak intensif di wilayah pesisir Kabupaten Bekasi diperoleh luas tambak lestari adalah seluas 2.445,2 ha. Namun melihat besarnya limbah yang dikeluarkan baik organik maupun anorganik oleh aktivitas diwilayah pesisir lahan atas dan di perairannya serta berdasarkan jumlah penduduk, maka luas tambak yang ideal (sesuai dengan daya dukung) adalah 677,65 ha. Luas tambak yang ada saat ini berjumlah 837,692 ha berarti usaha tambak di wilayah pesisir Kabupaten Bekasi tidak dapat dikembangkan dan sudah melebihi luas berdasarkan pada daya dukungnya. Seperti Gambar 25 di bawah ini:
Gambar 25 Pemanfaatan Lahan untuk Tambak
Analisis Daya Dukung untuk Lahan Industri
Model kualitas air laut dipengaruhi oleh aktifitas pembangunan yang terjadi di wilayah daerah dan di lautan. Di wilayah pesisir Kabupaten Bekasi aktifitas yang ada menimbulkan pada besarnya tingkat pencemaran hal ini terlihat darikondisi air laut. Faktor yang dominan mempengaruhi pada kualitas air laut adalah sama dengan faktor
0 500 1,000 1,500 2,000 2,500 Luas (ha) 1 Lahan Tambak
Penggunaan Lahan Tambak
Luas Tambak Berdasarkan Kesesuaian Lahan Luas Tambak berdasarkan Daya dukung
yang terjadi pada sungai. Biasanya adalah aktifitas permukiman, industri dan tambak akan memberikan dampak pada kualitas air laut dalam bentuk tinginya kadar BOD, COD TSS dan Kekeruhan. Model kualitas air laut seperti Gambar 26 berikut:
+
+ +
- +
Gambar 26 Sub-Model Kualitas Air Laut
Tingkat pencemaran air laut dipengaruhi oleh pengenceran air laut atau reaksi kimia dan biologi yang terjadi pada badan air, sehingga secara alamiah terjadi degredasi zat pencemar. Selain itu juga ditentukan oleh besaran koefisien dari indikator penentu tingkat pencemaran air. Maka hal yang penting diperhatikan dalam model ini adalah pola pemanfatan lahan permukiman, industri pertanian dan tambak yang dikaitkan dengan konversi penggunaan lahan dan banyaknya polutan atau zat pencemar. Dengan melihat keberadaan zat pencemar, yaitu warna air laut
PERTUMBUHAN PENDUDUK
WILAYAH PESISIR
PERTUMBUHAN PELABUHAN PERTUMBUHAN TAMBAKPOLUTAN
BOD.COD.TSS DAN
KEKERUHAN
PENYISIHAN POLUTAN PERTUMBUHAN USAHA PERIKANAN(kekeruhan), BOD, COD dan TSS maka semakin jauh dari pantai maka memiliki nilai yang semakin tinggi.
Konversi lahan pertanian dan mangrove untuk permukiman dan industri akan menambah pada luas lahan terbangun. Secara alamiah lingkungan mempunyai kemampuan untuk memulihkan kualitasnya sampai batas-batas tertentu. Oleh karena itu semakin tinggi konversi lahan yang terjadi di wilayah pesisir, semakin meningkat pula unsur-unsur pencemar, disisi lain kemampuan lahan untuk pulih semakin menurun. Meningkatnya konversi lahan ini juga disebabkan oleh semakin bertambahnya jumlah penduduk, yang kahirnya akan memberikan pada besarnya ekploitasi pada sumberdaya yang ada di wilayah pesisir.
Memperhatikan bentuk panta, kedalaman laut maka luas daya dukung lahan untuk industry dapat dihitung dengan asumsi bahwa 1 liter limbah dapat diencerkan dengan 100 l air. Model kualitas air sungai dipengaruhi oleh aktifitas pembangunan yang terjadi di wilayah daerah pengaliran sungai tersebut. Biasanya adalah aktifitas permukiman, industri dan pertanian akan memberikan dampak pada kualitas air sungai dalam bentuk pencemaran ( BOD, COD TSS dan Kekeruhan). Wilayah pesisir Kabupaten Bekasi pengembangan lahan untuk industry berdasarkan daya dukungnya adalah seluas 934,8 ha.
Analisis Daya Dukung untuk Lahan Pertanian
Konversi lahan pertanian dan mangrove untuk permukiman dan industri akan menambah pada luas lahan terbangun. Secara alamiah lingkungan mempunyai kemampuan untuk memulihkan kualitasnya sampai batas-batas tertentu. Oleh karena itu semakin tinggi ketersediaan lahan alami ( luas lahan alami), semakin meningkat pula kemapuan lahan untuk pulih. Meningkatnya konversi lahan ini juga disebabkan oleh semakin bertambahnya jumlah penduduk, yang kahirnya akan kembali pada ketersediaan lahannya. Terbatasnya atau semakin sempitnya lahan-lahan almiah
disatu sisi maka memberikan dampak negatif disisi lain yaitu limbah yang dihasilkan dari setiap aktifitas penduduk tidak bisa pulih secara alamiah, dan sifatnya terus meningkat. Luas lahan untuk pertanian sesuai dengan daya dukungnya adalah 3.935,4 ha seperti Gambar 27 dan Gambar 28 berikut:
KETERANG AN
C. KETERANGAN RELIEF DAN TITIK Sungai Jalan Primer Jalan Tol Teluk Ja kar ta Laut Jawa Samudera Hindia P E TA R E N A N A
TATA RUANG WILAYAH PES ISIR