Pengertian Wilayah Pesisir
Wilayah pesisir adalah pertemuan antara darat dan laut. Ke arah darat, wilayah pesisir meliputi bagian daratan, baik kering maupun terendam air, yang masih dipengaruhi oleh sifat-sifat laut, seperti pasang surut, angin laut, dan perembesan (intrusi) air asin. Sedangkan ke arah laut, wilayah pesisir mencakup bagian laut yang masih dipengaruhi oleh proses alami yang terjadi di darat, seperti sedimentasi dan aliran air tawar, maupun yang disebabkan karena kegiatan manusia di darat, seperti penggundulan hutan dan pencemaran.
Wilayah pesisir adalah suatu wilayah peralihan daratan dan lautan. Apabila ditinjau dari garis pantai (coastline), maka suatu wilayah pesisir memiliki dua macam batas (boundaries), yaitu batas yang sejajar garis pantai (longshore) dan batas yang tegak lurus terhadap garis pantai (cross-shore). Dalam UU No.27/2007 tentang Pengelolaan Wilayah Pesisir, wilayah pesisir didefinisikan sebagai kawasan daratan yang masih dipengaruhi oleh proses dan dinamika laut seperti pasang surut, intrusi air laut; dan kawasan laut yang masih mendapat pengaruh dari proses dan dinamika daratan seperti sedimentasi dan pencemaran. Sementara itu, pendekatan administrasi membatasi wilayah pesisir sebagai wilayah yang administrasi pemerintahan memiliki batas terluar sebelah hulu dari kecamatan atau kabupaten/kota yang mempunyai laut dan ke arah laut sejauh 12 mil dari garis pantai untuk propinsi dan sepertiganya untuk kabupaten/kota. Sedangkan dalam konteks pendekatan perencanaan, wilayah pesisir merupakan wilayah perencanaan pengelolaan sumberdaya yang difokuskan pada penangangan isu yang akan dikelola secara bertanggung jawab.
Menurut IPCC (1994) dalam Dahuri (1996), pengelolaan wilayah pesisir secara terpadu (Integrated Coastal Zone Management) merupakan cabang ilmu baru bukan saja di Indonesia, namun juga di tingkat dunia. Dalam konteks ini, walaupun secara
substansial sama, namun kemudian timbul beberapa istilah yang terkait dengan pengelolaan wilayah pesisir dan laut seperti Coastal Management (CM), Integrated Coastal Management (ICM), Integrated Coastal Area Management (ICAM), Integrated Coastal and River Basin Management (ICRBM), Integrated Coastal Zone Planning and Management (ICZPM), dan lain sebagainya. Substansi pengelolaan wilayah pesisir dan laut secara terpadu adalah pengelolaan sumberdaya pesisir, termasuk dalam lingkup ini pemanfaatan. Untuk keperluan pengelolaan penetapan batas-batas wilayah pesisir yang sejajar dengan garis pantai relatif mudah.
Kondisi suatu wilayah pesisir erat kaitannya dengan sistem sungai yang bermuara di wilayah itu. Perubahan sifat sungai yang mungkin terjadi disebabkan karena proses alami maupun sebagai akibat kegiatan manusia, perubahan yang terjadi di hulu maupun di daerah hilir sungai, akan mempengaruhi wilayah pesisir yang bersangkutan. Oleh karenanya secara alami wilayah pesisir merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari suatu sistem wilayah sungai. Di samping itu, beberapa pakar berpendapat bahwa wilayah pesisir juga tidak dapat lepas dari permasalahan sosial- ekonomi masyarakat pesisir.
Pembangunan yang berbasis pada interkasi wilayah pesisir daratan dan lautan merupakan sebuah model pemikiran yang dapat diimplementasikan dengan kondisi ekosistem yang sangat kompleks. Pustaka yang mengangkat masalah pesisir dan lautan masih sangat terbatas jumlahnya terutama yang membahas dalam aspek penataan ruangnya. Padahal makna ruang seperti tertuang dalam UU. No. 26 tahun 2007, adalah wadah yang meliputi ruang daratan, ruang lautan, dan ruang udara sebagai satu kesatuan wilayah, tempat manusia dan makhluk lainnya hidup dan melakukan kegiatan serta memelihara kelangsungan hidupnya. (UU Nomor : 26 Tahun 2007 Tentang Penataan Ruang. Pasal 1) .Makna tersebut menjelaskan bahwa disamping daratan yang lazim direpresentasikan sebagai lahan, maka lautan juga merupakan wujud yang nyata dari ruang.
Dalam upaya pengelolaan lingkungan hidup termasuk wilayah pesisir. Pemerintah Indonesia melalui UU No.4/1982 yang diperbaharui dengan UU No.23/1997, tentang Lingkungan Hidup, mendefinisikan pencemaran lingkungan hidup sebagai peristiwa masuknya unsur-unsur makhluk hidup, zat, energi, dan atau komponen lain ke dalam lingkungan dan atau berubahnya tatanan lingkungan oleh kegiatan manusia atau oleh proses alam, sehingga kualitas lingkungan turun sampai ke tingkat tertentu yang menyebabkan lingkungan menjadi kurang atau tidak dapat berfungsi lagi sesuai dengan peruntukannya.
Menurut Soegiarto (1976), definisi Wilayah pesisir yang digunakan di Indonesia adalah daerah pertemuan antara darat dan laut. Kearah darat wilayah pesisir meliputi; bagian daratan, baik kering maupun terendam air, yang masih dipengaruhi oleh sifat- sifat laut seperti pasang surut, angin laut, perembesan air asin; sedangkan kearah laut wilayah pesisir mencakup bagian laut yang masih dipengaruhi oleh proses-proses alami yang terjadi di darat seperti sedimentasi dan aliran air tawar, maupun yang disebabkan oleh kegiatan manusia di darat seperti pengundulan hutan dan pencemaran.
Definisi wilayah pesisir diatas memberikan suatu pengertian bahwa ekosistem pesisir merupakan ekosistem yang dinamis dan mempunyai kekayaan habitat yang beragam, di darat maupun di laut, serta saling berinteraksi antar habitat tersebut. Selain mempunyai potensi yang besar, wilayah pesisir juga merupakan ekosistem yang paling mudah terkena dampak kegiatan manusia, umumnya kegiatan pembangunan.
Menurut kesepakatan Internasional wilayah pesisir didefinisikan sebagai wilayah peralihan antara laut dan daratan. Kearah darat mencakup daerah yang terkena pengaruh percikan air pasang surut, dan kearah laut meliputi daerah paparan benua (continental shelf) (Beatley et al.,1994).
Berdasarkan dua definisi diatas, maka untuk kepentingan pengelolaan adalah kurang begitu penting untuk menetapkan batas-batas fisik suatu wilayah pesisir secara kaku (rigid). Akan lebih berarti, jika penetapan batas-batas suatu wilayah pesisir didasarkan kepada faktor-faktor yang mempengaruhi pembangunan (pemanfaatan) dan pengelolaan ekosistem pesisir dan lautan beserta segenap sumberdaya yang ada didalamnya., serta tujuan pengelolaan itu sendiri atau yang dikenal dengan batas fungsional dan batas administratif.
Dahuri dkk (2001) mengatakan dalam suatu wilayah pesisir terdapat satu atau lebih sistem lingkungan (ekosistem) dan sumberdaya pesisir. Ekosistem dapat bersifat alami atau buatan (man-made). Ekosistem alami yang terdapat di wilayah pesisir antara lain; terumbu karang (coral reefs), hutan mangroves, padang lamun (sea grass), pantai berpasir (sandy beach), formasi pes-caprea, formasi baringtonia, estuaria, laguna dan Delta. Sedangkan ekosistem buatan antara lain berupa; tambak, sawah pasang surut, kawasan pariwisata, kawasan industri, kawasan agroindustri dan kawasan permukiman.
Perencanaan dan pengelolaan wilayah pesisir secara sektoral biasanya berkaitan dengan hanya satu macam pemanfaatan sumberdaya atau ruang pesisir oleh suatu instansi pemerintah untuk memenuhi tujuan tertentu, seperti perikanan tangkap, tambak, pariwisata, pelabuhan atau industri minyak dan gas. Pengelolaan semacam ini sering menimbulkan konflik antar sektor yang berkepentingan yang melakukan aktifitas pembangunan di wilayah pesisir dan lautan yang sama.
Dalam konteks pengelolaan sumberdaya alam secara luas Hanson (1988), mendefinisikan perencanaan sumberdaya secara terpadu sebagai upaya bertahap dan terprogram untuk mencapai tingkat pemanfaatan sistem sumberdaya alam secara optimal dengan meperhatikan semua dampak lintas sektoral yang mungkin timbul. Pemanfaatan optimal adalah suatu cara pemanfaatan sumberdaya pesisir dan lautan
yang dapat menghasilkan keuntungan ekonomis secara berkesinambungan untuk kemakmuran rakyat.
Lang (1986) dalam Dahuri dkk (2001) menyarankan bahwa keterpaduan dalam perencanaan dan pengelolaan sumberdaya alam, seperti pesisir dan lautan hendaknya dilakukan pada tiga tataran (level), teknis, konsultatif dan koordinasi. Pada tataran teknis segenap pertimbangkan teknis, ekonomis, sosial, dan lingkungan hendaknya secara seimbang atau proporsional dimasukan kedalam setiap perencanaan dan pelaksanaan pembangunan sumberdaya pesisir dan luatan.
Pada tataran konsultatif, segenap aspirasi dan kebutuhan para pihak yang terlibat (stakeholders) atau terkena dampak pembangunan sumberdaya pesisir dan lautan hendaknya diperhatikan sejak tahap perencanaan sampai pelaksanaan. Tataran koordinasi mensyaratkan diperlukannya kerjasama yang harmonis semua pihak yang terkait dengan pengelolaan sumberdaya pesisir dan lautan, baik pemerintah, swasta maupun masyarakat umum.
Dari aspek ekonomi wilayah pesisir merupakan salah satu wilayah dengan aktifitas ekonomi manusia yang sangat kompleks. Tantangan untuk memelihara sumberdaya yang sehat menjadi issue yang cukup kompleks dalam pembangunan wilayah pesisir. Meskipun sumberdaya pesisir dikategorikan sebagai sumberdaya yang tidak terbaharukan, namun pertanyaan yang sering muncul adalah seberapa besar potensi sumberdaya dapat dimanfaatkan untuk kepentingan masyarakat tanpa harus menimbulkan dampak yang negatif untuk masa mendatang.
Keberlanjutan adalah merupakan kata kunci dalam pembangunan yang diharapkan dapat memperbaiki kondisi sumberdaya wilayah pesisir itu sendiri. Walaupun konsep keberlanjutan ini sudah mulai dapat dipahami, namun sampai saat sekarang kita masih menghadapi kesulitan dalam menganalisis/mengevaluasi keberlanjutan pembangunan di wilayah pesisir itu sendiri. Khususnya kita akan
dihadapkan pada permasalahan mengintegrasikan informasi/data dari keseluruhan komponen (secara holistik) baik aspek ekologi, sosial, ekonomi dan etnik.
Ekosistem Wilayah Pesisir
Wilayah pesisir memiliki beberapa komponen spesifik ekosistem dengan berbagai fungsi ekologis yang menuntut kehati-hatian dalam pemanfaatan dan pengembangannya, juga dalam penanganan dampak yang ditimbulkannya.
Berikut ini akan diuraikan karakteristik setiap ekosistem yang terdapat di wilayah pesisir.
Estuaria
Estuaria adalah teluk di pesisir tempat pertemuan antara air tawar dengan air asin (air laut). Ekosistem estuaria didominasi oleh substrat berlumpur yang merupakan endapan yang dibawa oleh air tawar dan air laut. Kebanyakan dari partikel endapan tersebut bersifat organik, sehingga menjadi cadangan makanan yang besar bagi organisme estuaria (Dahuri, R, dkk, 1996. Ada dua hal utama yang mempengaruhi ekosistem estuaria, yaitu aliran sungai yang mengangkut limbah, toksikan (zat beracun), sedimen, dan nutrien yang dikandungnya; serta sifat-sifat fisik air laut, seperti pasang surut dan gelombang.
Fauna yang terdapat dalam ekosistem estuaria terdiri dari jenis hewan laut (yang terbatas kemampuannya mentolerir perubahan salinitas hingga 300/
00), hewan
air tawar (tidak mampu mentolerir perubahan salinitas), dan hewan payau (yang tidak ditemukan hidup pada perairan laut maupun air tawar). Dibandingkan di perairan tawar dan laut, maka estuaria miskin akan flora dan jumlah organisme, karena fluktuasi salinitas yang sangat besar.
Hutan Bakau
Hutan bakau merupakan sekumpulan tumbuhan spesifik yang terdapat di perairan yang bersalinitas tinggi. Perkembangan maksimumnya ditentukan oleh
sirkulasi air permukaan yang memungkinkan pertukaran dan pergantian sedimen secara terus-menerus. Hutan bakau menjadi tempat pemijahan (spawning ground) dan daerah asuhan (nursery ground) bagi ikan, udang, dan kerang. Hutan bakau ini memberi perlindungan bagi udang dari serangan virus. Beberapa jenis bangau, cangak, kuntul dan bebek yang terdapat di sekitar pantai, juga membangun sarang- sarangnya di hutan bakau. Di samping itu reruntuhan dedaunan dan bagian lain dari hutan bakau yang terbawa air, menyediakan sumber hara penting bagi ekosistem pesisir dan ekosistem sekitar muara, walaupun tidak selalu harus berkaitan langsung antara jumlah hutan bakau dan produktifitasnya. Secara fisik keberadaan hutan bakau juga melindungi pantai dari kekuatan ombak (Whitten,T,dkk,1999. Ekologi Jawa dan Bali, Prenhallindo, Jakarta. Halaman 387). Perakarannya yang kokoh mampu meredam gelombang, menahan lumpur, gelombang pasang dan angin topan (Dahuri,R,dkk,).
Ada beberapa kondisi yang dapat mengancam kelestarian hutan bakau, yaitu: - Berkurangnya kadar oksigen dalam air, misalnya akibat sedimentasi yang
berlebihan dan tumpahan minyak.
- Penebangan hutan bakau untuk berbagai keperluan, seperti kayu bakar, bahan baku kimia, atau untuk mengkonversikannya menjadi lahan pemukiman, industri, tambak udang dan lain-lain.
Padang Lamun
Padang lamun merupakan kumpulan tumbuhan perairan pesisir yang dapat ditemukan di laguna atau pantai-pantai berpasir yang dangkal dan berlereng. Lamun tumbuh cepat dan mengikat endapan-endapan di tempat yang dangkal. Untuk syarat tumbuhnya, diperlukan kedalaman maksimum 20 M, intensitas masuknya sinar matahari yang tinggi, sirkulasi air yang baik dan kontinu, nutrien yang tinggi, serta pergerakan substrat yang akan mengalihkan sisa metabolisme. (Supriharyono, loc. cit). Temperatur yang optimal berkisar 280 – 300 C.
Diantara tumbuhan lamun kadang-kadang terdapat ganggang-ganggang yang berbeda, yang umumnya lebih sering terdapat bersama terumbu karang. Padang lamun juga merupakan habitat berbagai jenis moluska, termasuk siput (lambis) berukuran besar (paling banyak dieksploitasi), jenis kepala kambing (strombus), tripang (synapta), keong laut, bintang laut, dan tripang hitam berlapis pasir (holothuira atra). Dalam satu hektar padang lamun dapat ditemukan hampir sebanyak 25.000 ekor tripang.
Daun-daun lamun memberikan tempat berlindung atau menjadi habitat bagi ikan-ikan muda dari ancaman berbagai jenis pemangsa yang berukuran lebih besar. Keragaman habitat padang lamun menentukan banyaknya jenis ikan yang ada di dalamnya. Padang lamun sangat diperlukan untuk mempertahankan kehidupan dan kestabilan sistem pantai, serta untuk mendukung ekosistem lepas pantai melalui rantai makanan yang tergantung pada bahan-bahan terurai. Padang lamun juga membantu terumbu karang dengan cara menstabilkan endapan-endapan di laguna, sehingga dapat mengurangi kekeruhan. Dengan demikian ekosistem padang lamun berperan penting dalam menjaga kestabilan pantai dan mendukung kelestarian perikanan pantai.
Adapun tumbuhan lamun tidak hanya berperan dalam menstabilkan pantai, tetapi juga menghasilkan pasir-pasir yang sebagian besar terdiri dari tetrahedral test atau cangkang-cangkang jenis bentik foraminifera. Hilangnya padang lamun dapat menurunkan produksi foraminifera dan mempercepat kehilangan pasir pantai. Akibat lainnya adalah energi yang masuk ke dalam perairan wilayah pantai akan berkurang, produsen plankton primer akan menggantikan produsen bentik, morfologi pantai akan berubah karena pasirnya tidak terikat lagi, serta hilangnya keragaman struktural dan biologis akibat lahan pasir yang gundul.
Terumbu Karang
Terumbu karang merupakan ekosistem yang unik, yang hanya terdapat di perairan tropik dangkal (kedalaman kurang dar 30 Meter) dengan suhu diatas 200 C.
Ekosistem terumbu karang umumnya ditandai dengan menonjolnya kekayaan jenis biota yang hidup di dalamnya. Air laut yang jernih dan salintas yang tinggi merupakan faktor utama bagi kehidupan terumbu karang. Dalam wilayah pesisir, ekosistem terumbu karang memiliki peran sebagai berikut :
- sebagai pelindung garis pantai dari hantaman ombak dan gelombang laut, sehingga dapat melindungi garis pantai dari kemungkinan abrasi
- sebagai habitat bagi beragam jenis ikan (100 – 200 jenis dalam satu hektar) yang mempunyai produktifitas hayati tinggi
- sebagai aset yang berharga bagi kegiatan pariwisata bahari karena memiliki beraneka ragam biota dan panorama yang sangat indah,
- sebagai sumber produksi bagi kegiatan perdagangan karena di terumbu karang hidup berbagai jenis hewan moluska bernilai komersil, seperti kima raksasa atau kima raja (tridacna gigas, moluska bercangkang terbesar di dunia), triton terompet (charonica tritonis), kepala kambing (cassis cornuta), lola (trochus niloticus), dan batulaga (turbo marmoratus).
Secara fisik maupun biologis, terumbu karang mempunyai struktur yang sangat kompleks. Terumbu karang yang ada sekarang ini sebenarnya merupakan hasil keseimbangan secara simultan antara faktor-faktor yang bersifat membangun (konstruktif) dan merusak (destruktif). Faktor-faktor yang bersifat membangun sebagian besar terdiri dari unsur-unsur organik yang dihasilkan oleh berbagai biota laut penghasil kapur, seperti karang batu, algae berkapur, molusca, crustacea, dan porifera. Sedangkan faktor-faktor yang bersifat merusak adalah semua kekuatan yang dapat menghancurkan kerangka karang batu, atau algae berkapur, melalui berbagai proses fisik, biologis, maupun kimiawi, misalnya:
- Acanthaster planci, yaitu salah satu biota laut sejenis echinodermata yang terkenal suka memakan karang batu, molusca, algae, sponge, dan ikan,
- Faktor-faktor alami, seperti angin topan, gempa bumi, arus dan gelombang, letusan gunung api, dan kenaikan suhu air laut,
- Ulah manusia yang secara langsung merusak terumbu karang, seperti pengambilan karang batu, pengumpulan biota laut untuk perhiasan, pengambilan fosil, penangkapan ikan dengan jaring muromi, dengan bahan kimia dan bahan peledak, bahkan pemasangan bubu di terumbu karang,
- Kegiatan manusia yang secara tidak langsung dapat merusak terumbu karang, misalnya penggundulan di hulu sungai atau intensifikasi pertanian yang dapat berakibat meningkatnya jumlah endapan yang dibawa sungai (sedimentasi), pembangunan wilayah industri di sepanjang pantai yang membuang limbahnya ke sungai, limbah dari pemukiman, pengeboran minyak, dan pengembangan industri pariwisata yang tidak ramah lingkungan di wilayah terumbu karang, serta penambangan pasir liar yang tidak mengindahkan aspek kelestarian lingkungan. Lebih jauh rusaknya terumbu karang dapat mengakibatkan beberapa hal berikut:
- Abrasi (pengikisan) garis pantai,
- Penurunan produktifitas perairan (populasi perikanan) wilayah pesisir, - Menurunnya daya tarik pariwisata, khususnya wisata bahari,
- Penurunan tingkat kesejahteraan masyarakat pesisir.
Di wilayah pesisir terdapat tiga jenis terumbu karang, yaitu: karang pinggiran, karang penghalang, dan karang patahan. Karang pinggiran terbentuk di dekat pesisir pada garis pantai yang berbatu-batu. Batas-batas vertikal pertumbuhannya ditentukan oleh pasang purnama dan kedalaman airnya dapat ditembus oleh cahaya. Diantara garis pantai dan karang pinggiran, biasanya terdapat terumbu yang dangkal, dengan pertumbuhan karang yang buruk karena sirkulasi air berkurang, muatan endapan lebih
tinggi, dan salinitas air lebih rendah karena limpasan air dari pantai. Karang penghalang tumbuh setelah garis pantai tergenang dan hanya bagian yang tumbuh ke arah laut yang dapat melanjutkan pertumbuhannya, sehingga karang penghalang terpisah dari garis pantai oleh laguna. Sedangkan karang patahan tumbuh di tempat yang substratnya terisolasi dan tidak tersingkap di permukaan laut.
Konsep Daya Dukung Wilayah Pesisir
Odum (1971) menegaskan bahwa daya dukung lingkungan merupakan jumlah populasi organisme yang kehidupannya dapat didukung oleh suatu kawasan/ekosistem. Caughley (1979) mengatakan daya dukung ekologi menjelaskan ukuran herbivora dan populasi tanaman yang dapat dicapai secara alami apabila keduanya dibiarkan berinteraksi tanpa ada intervensi manusia; Daya dukung ekonomi menjelaskan suatu kesetimbangan yang ditimbulkan oleh kelestarian pemanenan populasi herbivora; Daya dukung lingkungan dimaknai sebagai kapasitas maksimum lingkungan yang dapat memikul beban yang ada (Catton 1986).
Rees (1996) menyatakan bahwa daya dukung ekologis merupakan landasan bagi optimalisasi habitat dalam menghasilkan produksi. Daya dukung tidaklah tetap, melainkan berkembang sesuai dengan waktu, perkembangan serta dapat dipengaruhi oleh teknik-teknik manajemen dan pengontrolan (Saveriades, 2000). Telfor dan Robinson (2003) mendefinisikan daya dukung lingkungan periran sebagai jumlah produksi budidaya perairan yang dapat ditopang oleh suatu lingkungan, dalam suatu kriteria yang didefinisikan. Kemampuan lingkungan melestarikan SDA dan JASLING ini tanpa kerusakan berarti dikenal dengan daya dukung lingkungan.
Auke Bay Laboratory, Alaska Fishery Science Center, 1999 menetapkan strategi penentuan Daya Dukung Lautan (OCC) antara lain :
daya dukung turisme (tourism carrying capacity/TCC): suatu telaahan terhadap komponen-komponen yang dapat mempengaruhi optimalisasi aktivitas turis,