• Tidak ada hasil yang ditemukan

PANTURA KABUPATEN BEKAS

PETA ARUS P ERMU KAAN

WILAYAH PESISIR KABUP ATEN BEKASI

Laut Jawa

Samu dera Hindia

Teluk J akart a Ê Ú Ê Ú Ê Ú Ê Ú Ê Ú Ê Ú BABELAN BAH AGIA KABELAN MARUNDA SETIASIH JAYASAKTI HURIPJAYA BUNIBAKTI LAUT JAWA MUARABAKTI KEDU NGJAYA SETIAMULYA TARUMAJAYA PANT AIBAK TI PANTAIM EKAR PANTAIHURIP SAMUDRAJAYA BABEL ANKOTA Tg. GEMBONG Tg.KARAWANG PUSAKARAKYAT SEGARAMAKMURPANTAIMAKMUR MUARAGEMBONG TELUKJAKARTA PANTAIB AHAGIA KEC.CILINCING PAHL AWANSETIA KEDU NGPENGAWAS PANT AISEDERH AN A

PANT AIHAR APAN JAYA PANTURA KAB.BEKASI 0.38 0.92 0.92 0.49 0.59 0.18 Kabupaten Karawang Kota Bekasi Laut Jawa Pr ov ins i D KI J akarta W ilayah Non Study Kaw as an Hutan Lindung

Kaw as an Indus tri Kaw as an Pariwisata Kaw as an Pelabuhan Perikanan Kaw as an Pelabuhan Um um Kaw as an Pem ukiman Kaw as an Tambak

Gambar 16 Peta Arus Permukaan Wilayah Pesisir Kabupaten Bekasi (PPGL, 2005 dan Analisis GIS, 2007)

Arus yang terjadi di perairan di Laut Jawa Pantura Bekasi terutama disebabkan oleh angin dan pengaruh pasang-surut. Pengaruh pasang-surut pada dasarnya tidak terlampau besar, karena tunggang pasang purnama (spring tide) yang terjadi di Pantura Kabupaten Bekasi yaitu berkisar antara 90 cm hingga 150 cm tergantung pada lokasi. Kecepatan arus berkisar antara 25 cm/detik hingga 50 cm/detik dan arahnya mengikuti arah angin, yaitu ke Timur pada saat musim Barat pada bulan Desember hingga Februari dan ke Barat pada saat musim Timur pada bulan Juni hingga Agustus.

Sedangkan arus yang terjadi di perairan Pantura Kabupaten Bekasi lebih kecil, semakin mendekati kepantai arus semakin melemah. Besar arus diperairan ini berkisar antara 10 cm/detik hingga 30 cm/detik (Departemen PU dan Dishidros TNI- AL). Semakin melemahnya di perairan yang semakin mendekati pantai dan menjahui Laut Jawa disebabkan oleh terjadinya arus dominan di Laut Jawa, sedang pengaruh pasang-surut memberikan kontribusi yang kecil pada magnitude arus. Arus di perairan pantai memperlihatkan pola yang relatif kompleks, oleh karena dipengaruhi oleh bangunan-bangunan pantai seperti beton-beton penahan gelombang dan lahan reklamasi. Ke arah perairan pantai terjadi perubahan pola dan konsentrasi arus, dimana pengaruh pasang-surut menjadi lebih besar, dan dipengaruhi pula oleh debit saluran drainase dan badan sungai.

Abrasi dan Akresi

Morfologi pantai Pantura Kabupaten Bekasi terdiri dari dataran rendah pantai, dan dataran delta. Ketinggian pantai berkisar antara 0 - 5 m dari muka air laut. Bagian Barat Pantura Kabupaten Bekasi sebagian besar merupakan pantai berlumpur, sedangkan ke arah Timur merupakan pantai berpasir.

Perubahan garis pantai di Pantura Kabupaten Bekasi pada umumnya disebabkan oleh aktifitas manusia, antara lain pembangunan didepan garis pantai

atau penambangan pasir. Perubahan garis pantai oleh faktor alam terutama berupa penambahan pantai oleh sedimentasi. Abrasi terjadi di beberapa lokasi di Pantai Utara Kabupaten Bekasi terutama diwilayah Babelan dan Muarogembong bagian Timur. Perubahan oleh aktifitas manusia menyebabkan terjadinya perubahan dalam keseimbangan alam, sehingga pantai akan mencari keseimbangan yang baru. Faktor alam yang menyebabkan perubahan morfologi pantai yang utama adalah gelombang, pasang-surut, arus, angin, dan discharge sedimen dari sungai. Tumbuhan pantai, pantai yang landai, karang (reef),dan headland berfungsi sebagai pelindung pantai terhadap kerusakan yang diakibatkan oleh gelombang.

Beberapa daerah yang mengalami erosi dan akresi pada umumnya disebabkan oleh aktifitas manusia, yaitu pantai Muarogembong, muara Sembilangan dan Muara Bagong. Bagian pantai tersebut telah mengalami keseimbangan baru. Pantai Babelan dan Tarumajaya juga mengalami erosi, namun hingga kini belum membentuk keseimbangan alam, dimana suplai sedimen tidak mencukupi untuk menutup defisit yang diakibatkan oleh abrasi dan pengambilan pasir.

Pembangunan tambak di wilayah perairan Muarogembong menyebabkan kawasan tersebut mengalami kehilangan pelindung pantai alami berupa tanaman mangrove.

Kualitas Perairan Pantai Utara Kabupaten Bekasi

Kondisi hidrologi Kabupaten Bekasi termasuk dalam dataran utara Jawa Barat bagian timur, yang sangat luas. Bagian selatan Jawa Barat di batasi oleh punggung pergunungan. Bagian utara Jawa Barat dibatasi oleh Laut Jawa, yang memiliki potensi air tanah dengan akuifer produktivitas sedang. Potensi ini tersebar dengan perwatakan angka keterusan : sedang, muka air tanah dangkal, dan debit sumur umumnya kurang dari 5 liter per detik.

yang terintrusi air laut (terutama Kecamatan Muaragembong dan Kecamatan Cabangbungin), sedangkan 25.605 Ha (20,1 persen) memiliki air tanah dangkal dan 82.038.023 Ha (64,4 persen) memiliki 104.185 Ha (81,79) dari luas kabupaten memiliki kedalaman efektif air tanah di atas 90 meter.

Sumber daya air tanah di daerah ini berasal dari cekungan artesis yang berumur kuarter, dengan batuan sedimen tersier terlipat dari jalur Bogor dan endapan paparan sumber dari zona darat endapan laut, yang berselang-seling dengan kedalaman berkisar antara 15 – 20 m. Kualitas air tanah dangkal pada umumnya kurang baik menurut persyaratan Departemen Kesehatan, yang apabila di eksploitasi berlebihan akan mengganggu keseimbangan lingkungan dan pada akhirnya akan menyebabkan intrusi air laut pada kawasan tersebut.

Air tanah dalam terdapat pada kedalaman 90 – 250 m, dengan kualitas airnya pada umumnya lebih baik dari air tanah dangkal, karena terletak pada lapisan impermeabel dan bebas bakteri.

Kondisi Perairan Wilayah Pesisir Kabupaten Bekasi

Wilayah pantai utara Kabupaten Bekasi yang mempunyai panjang 40 Km terletak antara 2 tanjung, yaitu Tanjung Kerawang di sebelah barat dan Tanjung Pasir di sebelah timur. Pantura Kabupaten Bekasi dibatasi 2 sungai besar, yaitu Sungai Citarum di sebelah barat dan Sungai Bekasi di sebelah timur dengan kualitas air sungai kurang baik. Kualitas air sungai yang membawa polutan dari kegiatan di darat akan mempengaruhi kualitas air laut pantura Kabupaten Bekasi. Dari hasil pengujian dilaboratorium menunjukkan perairan Utara Kabupaten Bekasi bagian timur lebih baik dibandingkan dengan bagian barat dan tengah.

Kualitas air laut pantura Kabupaten Bekasi sangat dipengaruhi oleh kualitas air sungai-sungai yang bermuara ke pantura Kabupaten Bekasi , karena dipengaruhi oleh sungai, maka kualitas air laut juga sangat berbeda pada musim hujan dan musim

kemarau.

Pada saat musim kemarau kadar turbiditas air laut masih memenuhi Baku Mutu. Namun, kadar COD, BOD, sianida, fenol, nitrit, NH3, dan logam berat sudah melebihi Baku Mutu Air Laut (Dinas KLH Kabupaten Bekasi 2006). Pada musim hujan, kadar turbiditas sangat tinggi dan sebarannya meluas sampai 5 km ke tengah laut. Kadar parameter-parameter tersebut berbanding terbalik dengan nilai salinitas.

Kadar parameter yang melebihi baku mutu umumnya ditemukan di muara- muara sungai. Hal ini menunjukkan bahwa bahan polutan tersebut berasal dari kegiatan di darat yang terbawa oleh air sungai. Nilai BOD dan COD yang tinggi di perairan pantura Kabupaten Bekasi banyak sekali mengandung bahan organik yang mudah dan sukar mengurai. Selain parameter-paremeter tersebut kadar fosfat dan nitrat juga tergolong tinggi.

Hasil pengamatan juga menunjukkan bahwa perairan pantura Kabupaten Bekasi bagian timur lebih baik dibandingkan dengan bagian barat dan tengah. Kualitas perairan Utara Kabupaten Bekasi bagian barat lebih baik dibandingkan dengan bagian tengah. Kadar logam berat dalam sedimen Utara Kabupaten Bekasi ternyata juga tinggi.

Kualitas perairan Pantura Kabupaten Bekasi dari arah pantai menuju ke arah laut lepas, yaitu dari Zona C ke arah Zona A ( titik-titik pengujian ) menunjukkan kondisi beragam, yaitu konsentrasi beberapa parameter semakin kecil atau besar. Kondisi tersebut dipengaruhi oleh arah arus, gelombang, dan pasang-surut laut. Hasil pengukuran memperlihatkan bahwa kualitas perairan pantura Kabupaten Bekasi relatif baik, sebagian besar parameter memiliki konsentrasi di bawah baku mutu yang ditetapkan, terutama bagi kehidupan biota laut.

Sungai-sungai yang terdapat di Wilayah Pesisir Pantura Kabupaten Bekasi, adalah Sungai Citarum, CBL dan Ciherang. Semuanya bermuara ke laut. Aliran-aliran sungai tersebut selama ini digunakan untuk keperluan irigasi, transportasi dan air

minum. Sistem drainase yang buruk seringkali menyebabkan genangan-genangan apabila terjadi hujan, terutama daerah di pinggiran pantai. Daerah genangan di wilayah Pantura Bekasi mengikuti garis pantai dengan jarak ± 1,5 km dari garis pantai. Genangan yang terjadi terus menerus ini akan menyebabkan turunnya kualitas lahan berupa korosi tanah yang bersifat asam.

Wilayah Pantura Kabupaten Bekasi pada awalnya merupakan areal pertanian, dalam satu dasawarsa ini telah berubah menjadi kawasan industri dan permukiman. Seiring dengan perubahan tersebut, pada kenyataan telah terjadi kerusakan lingkungan hidup terutama pencemaran air. Pencemaran oleh limbah industri dan rumah tangga dari kawasan industri dan permukiman banyak terjadi daerah aliran sungai (DAS). Warna air sungai sering tampak coklat kehitaman dan sepanjang hari berbau busuk. Kemungkinan pencemaran itu berasal dari pembuangan limbah sejumlah pabrik industri pengolahan kertas, tekstil dan baja yang tidak menerapkan water treatment (pengolahan air limbah). Kondisi tersebut juga terjadi pada DAS Kali Canal Bekasi Laut (CBL) dan Kali Bekasi yang merupakan anak dari aliran Sungai Citarum. Keadaan yang demikian, menyebabkan Keputusan Gubernur KDH Tingkat I Jawa Barat No. 38, Tahun 1991 tentang Sumber Air di Jawa Barat, yang menyebutkan bahwa sungai-sungai di Kabupaten Bekasi yang saat ini dapat dimanfaatkan untuk keperluan air baku air minum, perlu dievaluasi.

Kualitas perairan Pantura Kabupaten Bekasi dapat dibedakan atas kualitas perairan pantai, yaitu di sekitar muara sungai-sungai dan kualitas perairan laut. Hasil penelitian terlihat bahwa kualitas perairan pantai lebih buruk dibandingkan kualitas perairan laut. Kondisi tersebut disebabkan fungsi perairan pantai sebagai badan penerima buangan limbah cair yang berasal dari sungai-sungai yang bermuara di ke laut. Muara sungai-sungai tersebut mempunyai kedalaman relatif dangkal, yaitu berkisar antara 0,75 - 3,75 meter, sehingga limbah cair cenderung mengendap di sekitar perairan pantai. Pantura Kabupaten Bekasi mempunyai kedalaman sekitar 2 -

25 meter, pada kedalaman tersebut kecepatan arus menjadi lebih besar yang mempercepat proses pencampuran cemaran. Akibatnya terjadi pengenceran cemaran diperairan laut dan menyebabkan kualitas perairan laut lebih baik dibandingkan perairan pantai. Kualitas perairan laut di Pantura Kabupaten Bekasi menunjukkan bahwa perairan bersangkutan masih memenuhi baku mutu bagi peruntukan budidaya biota laut atau perikanan. Sedangkan kualitas perairan pantai pada umumnya telah melampaui baku mutu untuk dimanfaatkan bagi budidaya biota laut atau perikanan. Kualitas perairan seperti digambarkan pada gambar 15 pada halaman berikut.

Kondisi Perairan Sungai

Pengukuran yang dilakukan menunjukkan bahwa kualitas perairan di pantai dan muara sungai telah melampaui baku mutu yang ditetapkan, terutama untuk budidaya biota laut dan perikanan. Beberapa parameter menunjukkan konsentrasi di atas baku mutu, yaitu warna, zat padat tersuspensi, kecerahan, oksigen terlarut, ammonia, nitrit, surfaktan, tembaga, timah hitam, seng, merkuri, arsen, dan coliform, seperti Gambar 17.

Beberapa parameter yang mengindikasikan kualitas air yang rendah untuk seluruh lokasi pengukuran adalah oksigen terlarut, nitrit, surfaktan, tembaga, seng, merkuri, dan arsen. Seluruh lokasi pengukuran menunjukkan kadar oksigen terlarut melampaui baku mutu, oleh karena zat organik dalam air cukup tinggi. Oksigen terlarut merupakan parameter kunci bagi aktifitas budidaya perikanan laut. Zat organik yang tinggi diperkirakan berasal dari limbah domestik yang umumnya langsung dibuang ke sungai atau laut oleh masyarakat yang berdiam di sepanjang badan sungai. Akibat kandungan oksigen terlarut yang rendah, hampir di seluruh lokasi pengukuran mencatat kadar nitrit yang tinggi. Selain nitrit, kadar surfaktan, logam tembaga (Cu), seng (Zn), merkuri (Hg), dan arsen (As) juga melampaui baku mutu di seluruh lokasi pengukuran, di mana tingginya kadar nitrit yang diperkirakan berasal dari limbah

domestik yang dibuang langsung ke sungai. Logam berat seperti tembaga, seng, merkuri, dan arsen bersifat toksik bagi ikan, sehingga dapat mengakibatkan kematian atau terakumulasi pada hewan ikan. Kadar logam seng, merkuri, dan arsen yang tinggi

PETA