• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB IV ANALISIS DATA DAN PEMBAHASAN

4.2 Analisis Data

4.2.1 Analisis Analisis Unsur Intralingual dan Ekstralingual dalam

4.2.1.1 Daya Ancam

4.2.1.1.3 Daya Ejek

Daya ejek adalah kekuatan suatu bahasa untuk mengolok-olok atau menertawakan seseorang. Ejekan ini bisa berbentuk ejekan langsung mau pun ejekan tidak langsung. Peneliti menemukan 8 karikatur yang mengandung daya ejek. Data tersebut disajikan sebagai berikut.

1. Salam gigit jari pak!” (DB.KKT,02/09/014)

(Konteks : Kabinet Jokowi-JK harus segera menentukan menteri-menterinya.

Ketua umum PKB, Muhaimin Iskandar akan gigit jari apabila PKB tidak mendapat kursi menteri di kabinet Jokowi-JK.)

2. “Ditinggal ya, bu?” (DB.KKT,06/09/014)

(Konteks: PDIP menyatakan bahwa pihaknya tidak akan mencalonkan Rismaharini lagi untuk Pilkada Surabaya 2015.)

3. Jika UU Pilkada disahkan pasti saya menang! Haha..” (DB.KKT,09/09/014) (Konteks: Munculnya Rancangan Undang-Undang Pemilihan Kepala Daerah

oleh DPRD, sehingga UU Pilkada langsung akan dihilangkan.

4. “Suka bohong yaa?” (DB.KKT,11/10/014)

(Konteks : Sejumlah anggota Fraksi Demokrat, yang diketuai oleh SBY

walkout dalam sidang paripurna pengesahan Rancangan Undang-Undang Pilkada.)

5. “Berani nggak?” (DB.KKT,29/11/014)

(Konteks : Kisruh Golkar semakin memanas. Kubu Agung Laksono kembali

Karikatur (1) memperlihatkan ancaman yang dilakukan dengan cara mengejek Muhaimin Iskandar selaku ketua umum PKB yang tidak mendapat kursi menteri di kabinet Jokowi-JK. Daya ejek tersebut dimunculkan melalui unsur intralingual berupa kalimat : Salam gigit jari pak!.

Daya ancam berbentuk ejekan menjadi semakin kuat ketika muncul unsur ekstralingual berupa ekspresi wajah penutur yang menggigit jarinya untuk menirukan ekspresi Muhaimin Iskandar yang gagal mendapatkan kursi menteri di kabinet Jokowi-JK. Unsur ekstralingual berupa konteks dimunculkan melalui fenomena praanggapan bahwa Ketua umum PKB, Muhaimin Iskandar akan gigit jari apabila PKB tidak mendapat kursi menteri di kabinet Jokowi-JK. Tuturan tersebut dianggap sebagai tuturan yang tidak santun karena berlawanan dengan indikator kesantunan menurut Leech (dalam Pranowo, 2012:103) tentang maksim pertimbangan. Tuturan tersebut justru memaksimalkan rasa tidak senangnya pada mitra tutur, sehingga tuturan yang digunakan berupa tuturan ejekan secara langsung, sekaligus menirukan gaya orang yang diejeknya, yaitu dengan menggigit jari.

Karikatur (2) memperlihatkan ancaman dengan cara mengejek Tri Rismaharini yang tidak lagi dicalonkan oleh Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) untuk Pilkada Surabaya 2015, karena dianggap jalan sendiri. Daya ancam tersebut dimunculkan melalui unsur intralingual berupa kalimat tanya : Ditinggal ya, bu?.

Daya ancam berbentuk ejekan menjadi semakin kuat ketika muncul unsur ekstralingual berupa gambar banteng sebagai lambang PDIP yang melirikkan matanya sambil berjalan jauh meninggalkan Tri Rismaharini. Selain itu, juga ditandai oleh ekspresi penutur yang memelototkan matanya sambil melongo. Unsur ekstralingual berupa konteks dimunculkan melalui fenomena praanggapan bahwa Tri Rismaharini tidak layak lagi menjadi kepala daerah. Tuturan tersebut dianggap sebagai tuturan yang tidak santun karena melanggar indikator kesantunan menurut Pranowo (2012:103) tentang angon rasa. Tuturan tersebut dianggap tidak memperhatikan suasana hati mitra tutur yang sedang bersedih karena tidak dicalonkan kembali menjadi kepala daerah, sehingga tuturan tersebut dapat membuat hati mitra tutur menjadi tidak berkenan.

Sama halnya dengan karikatur (3), yang memperlihatkan ancaman dengan cara mengejek Koalisi Jokowi yang mendukung pilkada langsung, yang otomatis akan kalah jika UU Pilkada oleh DPRD disahkan. Daya ancam tersebut dimunculkan melalui unsur intralingual berupa kalimat : Jika UU Pilkada

disahkan pasti saya menang. Haha..

Daya ancam berbentuk ejekan menjadi semakin kuat ketika muncul unsur ekstralingual berupa lirikan mata tajam Prabowo sambil tertawa, yang optimis menang dan akan mengusung banyak kepala daerah jika Undang-Undang Pemilihan Kepala Daerah disahkan,

yaitu pemilihan oleh DPRD. Kondisi terbalik akan dirasakan oleh Koalisi Jokowi yang hanya akan mengusung sedikit kepala daerah jika UU pilkada oleh DPRD disahkan. Unsur ekstralingual berupa konteks dimunculkan melalui fenomena praanggapan bahwa pilkada oleh DPRD akan memenangkan kubu Prabowo. Tuturan tersebut dianggap sebagai tuturan yang tidak santun karena berlawanan dengan indikator kesantunan Leech (dalam Pranowo, 2012:103) tentang maksim kerendahan hati. Penutur justru memaksimalkan pujian terhadap dirinya sendiri, karena ia merasa percaya diri.

Karikatur (4) memperlihatkan ancaman dengan cara mengejek Ketua Umum Partai Demokrat, Susilo Bambang Yudhoyono yang plintat-plintut dalam menanggapi kontroversi pelaksanaan pilkada. Di dalam pidatonya di acara pembukaan Bali Democrary Forum (BDF), beliau menegaskan mendukung pilkada langsung sebagai wujud kedaulatan rakyat. Namun, pada kenyataannya partai Demokrat ini memilih walkout di parlemen saat voting UU Pilkada. BDF ini dianggap hanya sebagai media yang dapat mengembalikan nama baik SBY setelah bersikap walkout. Daya ancam tersebut dimunculkan melalui unsur intralingual berupa kalimat tanya : Suka bohong yaa?.

Daya ancam berbentuk ejekan menjadi semakin kuat ketika muncul unsur ekstralingual berupa ekspresi wajah penutur yang berbicara sambil tertawa, dan gambar hidung SBY yang memanjangakibat dari kebohongannya. Unsur ekstralingual berupa konteks dimunculkan melalui fenomena praanggapan bahwa hidung

mancung mengingatkan pada tokoh pinokio yang apabila berbohong, hidungnya akan bertambah panjang. Tuturan tersebut dianggap sebagai tuturan yang tidak santun karena dianggap melanggar indikator kesantunan Leech (dalam Pranowo, 2012:103) tentang maksim pertimbangan. Di dalam konteks ini, penutur justru memaksimalkan rasa tidak senangnya kepada mitra tutur (SBY) yang dianggap suka berbohong dengan memainkan skenario-skenario politik.

Karikatur (5) memperlihatkan ancaman dengan cara mengejek dari kubu Agung Laksono yang kembali menantang Ical dalam Munas tandingan. Daya ancam tersebut dimunculkan melalui unsur intralingual berupa kalimat tanya :

Berani nggak?.

Daya ancam berbentuk ejekan menjadi semakin kuat ketika muncul unsur ekstralingual berupa kerutan dahi dari Agung Laksono sambil menurunkan jempolnya. Unsur ekstralingual berupa konteks dimunculkan melalui fenomena praanggapan bahwa kisruh internal Golkar semakin memanas. Tuturan tersebut dianggap sebagai tuturan yang tidak santun karena dianggap berlawanan dengan indikator kesantunan menurut Leech (dalam Pranowo, 2012:103) tentang maksim pertimbangan. Di dalam konteks ini, penutur justru memaksimalkan rasa tidak senangnya kepada mitra tutur (Ical) akibat masalah internal tentang Musyawarah Nasional Golkar, sehingga tuturan tersebut dimaksudkan untuk menantang mitra tutur. Tuturan tersebut juga terkesan dikemukakan secara emosional, yaitu bahwa

penutur terkesan tidak terima dengan hasil Munas Golkar yang dilaksanakan di Bali, yang menunjuk Ical sebagai ketua umum Golkar.

Berdasarkan kelima contoh daya ejek di atas, dapat disimpulkan bahwa unsur intralingual yang dapat memunculkan daya ejek ialah kalimat. Kalimat-kalimat berupa ejekan sebenarnya juga memiliki pesan bagi pihak-pihak terkait, yang dilakukan dengan cara menyindir sambil mengolok-olok atau menertawakan. Daya ejek ini merupakan bentuk tuturan yang tidak santun. Daya ejek mempunyai ciri khas yang menonjol pada unsur ekstralingualnya. Bahasa tubuh yang ditunjukkan memperlihatkan cara berbahasa yang tidak santun. Misalnya dengan menurunkan jempol, lirikan mata tajam sambil tertawa.