BAB IV ANALISIS DATA DAN PEMBAHASAN
4.2 Analisis Data
4.2.1 Analisis Analisis Unsur Intralingual dan Ekstralingual dalam
4.2.1.4 Daya Penolakan
Daya penolakan adalah kekuatan suatu bahasa untuk menolak suatu hal. Berkaitan dengan karikatur, daya penolakan digunakan untuk membantah mau pun mengungkapkan pesan karena munculnya ketidaksetujuan dari pihak terkait. Daya penolakan pada Karikatur Koran Tempo ditemukan sebanyak 8 karikatur. Data tersebut meliputi:
4.2.1.4.1 Daya Ketidaksetujuan
Daya ketidaksetujuan adalah kekuatan suatu bahasa yang timbul karena adanya keadaan yang tidak cocok. Peneliti menemukan 7 karikatur yang mengandung daya ketidaksetujuan. Data tersebut akan disajikan sebagai berikut. 1. “Lain kali saja!!!” (DB.KKT,16/10/014)
(Konteks : Ahok harus memilih satu calon wakil gubernur DKI Jakarta yang
bebas korupsi, yang telah diajukan oleh partai pengusung dalam pilkada, yaitu partai PDIP dan Gerindra.)
2. “Apa-apaan ini!!” (DB.KKT,13/11/014)
(Konteks : Pada waktu itu, muncul larangan bagi pengendara sepeda motor
untuk tidak melintas dari Bundaran Hotel Indonesia (HI) – Jalan MH Thamrin – Jalan Medan Merdeka Barat.)
3. “Saya tidak setuju!” (DB.KKT,06/12/014)
(Konteks : Masyarakat mengecam pengesahan UU pilkada DPRD, sehingga
SBY mengeluarkan perpu pilkada langsung, yang ternyata juga menimbulkan kontroversi.)
Contoh Karikatur (1) mencoba memperlihatkan penolakan dari Ahok yang tidak setuju atas sikap Gerindra yang menunjuk Muhammad Taufik sebagai calon wakil gubernur. Daya penolakan tersebut dimunculkan melalui unsur intralingual berupa kalimat : Lain kali saja!.
Daya penolakan berbentuk ketidaksetujuan menjadi semakin kuat ketika muncul unsur ekstralingual berupa sikap Ahok yang membelakangi Muhammad Taufik, dan lebih tertarik dengan calon gubernur yang diajukan oleh partai PDIP. Unsur ekstralingual berupa konteks dimunculkan melalui fenomena praanggapan bahwa calon wakil gubernur yang ditunjuk oleh partai Gerindra, yaitu Muhammad Taufik merupakan mantan terpidana kasus korupsi pengadaan barang dan alat peraga pemilu 2014. Tuturan tersebut dianggap sebagai tuturan yang tidak santun karena melanggar indikator kesantunan Leech (dalam Pranowo, 2012:103) tentang maksim pertimbangan. Di dalam konteks ini, penutur menunjukkan rasa tidak senangnya kepada mitra tutur, sehingga juga menunjukkan sikap yang kurang santun ketika melakukan tindak komunikasi, yaitu dengan membelakangi mitra tutur.
Karikatur (2) mencoba memperlihatkan penolakan berupa ketidaksetujuan para pengguna sepeda motor, akibat diberlakukannya larangan untuk tidak melintasi Bundaran HI. Daya penolakan tersebut dimunculkan melalui unsur intralingual berupa kalimat : Apa-apaan ini!!.
Daya penolakan berbentuk ketidaksetujuan menjadi semakin kuat ketika muncul unsur ekstralingual berupa ekspresi wajah penutur yang tercengang dengan memelototkan matanya ketika melihat adanya tanda “STOP” ketika hendak melewati Bundaran HI. Unsur ekstralingual berupa konteks dimunculkan melalui fenomena praanggapan bahwa munculnya larangan tersebut dinilai diskriminatif, karena mobil diperbolehkan melintas, padahal kedua kendaraan ini sama-sama membayar pajak kendaraan bermotor. Tuturan tersebut dianggap sebagai tuturan yang tidak santun karena berlawanan dengan indikator kesantunan menurut Leech (dalam Pranowo, 2012:103) tentang maksim kesetujuan. Di dalam konteks ini penutur didorong rasa emosi ketika bertutur. Rasa emosi tersebut dimunculkan melalui unsur ekstralingual berupa ekspresi wajah yang memelototkan mata.
Karikatur (3) mencoba memperlihatkan penolakan berupa ketidaksetujuan Golkar terhadap perpu pilkada langsung, yang telah menjadi salah satu poin keputusan Munas di Bali yang harus dijalankan oleh Aburizal Bakrie. Daya penolakan tersebut dimunculkan melalui unsur intralingual berupa kalimat : Saya
tidak setuju!.
Daya penolakan berbentuk ketidaksetujuan menjadi semakin kuat ketika muncul unsur ekstralingual berupa ekspresi wajah tersenyum dari Aburizal Bakrie sambil merobek Perpu Pilkada Langsung yang dibuat oleh SBY. Unsur ekstralingual berupa konteks
dimunculkan melalui fenomena praanggapan bahwa Aburizal Bakrie akan menjalankan hasil ke Munas Golkar di Bali tentang penolakan Perpu Pilkada langsung. Tuturan tersebut juga dianggap sebagai tuturan yang tidak santun karena berlawanan dengan maksim kesetujuan menurut Leech (dalam Pranowo, 2012:103), yaitu penutur justru meminimalkan kesetujuan dengan mitra tutur, sehingga penutur menggunakan tuturan langsung untuk mengungkapkan ketidaksetujuannya.
Ketiga contoh karikatur di atas mengandung daya penolakan yang mencoba menyampaikan maksud dengan cara mengungkapkan ketidaksetujuan. Unsur intralingual berupa kalimat dapat memunculkan daya penolakan melalui ketidaksetujuan. Daya penolakan tersebut tercermin pada konteks yang ada dalam kalimat-kalimat karikatur di atas. Kalimat yang digunakan penutur dalam karikatur selalu berupa kalimat langsung, sehingga kalimat tuturan karikatur yang termasuk ketidaksetujuan ini selalu merupakan kalimat tuturan yang tidak santun. Unsur ekstralingual berupa ekspresi wajah yang ditunjukkan juga menjadi penanda penting dalam memperkuat lemahnya tingkat kesantunan yang dimunculkan melalui daya penolakan dalam karikatur. Penutur selalu didorong rasa emosi ketika menyampaikan aksi penolakan, sehingga akan terlihat jelas bahwa tuturan tersebut tidak santun.
4.2.1.4.2 Daya Protes
Daya protes adalah kekuatan suatu bahasa sebagai pernyataan untuk menentang atau menyangkal. Peneliti hanya menemukan 1 karikatur yang mengandung daya protes. Data tersebut yaitu:
“Turun sekarang!” (KKT,12/11/014)
(Konteks : Ahok menjadi Gubernur DKI Jakarta. Front Pembela Islam
(FPI) melakukan aksi penolakan.)
Karikatur di atas mencoba memperlihatkan penolakan dengan cara melakukan protes. Protes tersebut dilakukan oleh massa FPI yang menolak Ahok menjadi Gubernur DKI Jakarta. Padahal secara konstitusi, Ahok, yang dulu menjadi wakil Gubernur, kini berhak menggantikan Jokowi menjadi Gubernur DKI Jakarta. Daya penolakan tersebut dimunculkan melalui unsur intralingual berupa kalimat : Turun sekarang!.
Daya penolakan berbentuk protesan menjadi semakin kuat ketika muncul unsur ekstralingual berupa gerakan tangan Ketua FPI, Rizieq Shihab yang menunjuk ke Ahok yang menjadi tanda aksi pengecaman, dan meminta agar Ahok segera turun dari jabatannya. Selain itu juga diperkuat oleh banyaknya massa yang mengelu-elukan Rizieq. Massa juga mengepalkan tangannya sebagai tanda mantap akan pendapat mereka sendiri. Unsur ekstralingual berupa konteks dimunculkan melalui fenomena praanggapan bahwa Ahok seorang nasrani, dan gaya kepemimpinan Ahok terlalu tinggi. Tuturan tersebut dianggap sebagai tuturan yang tidak santun karena berlawanan dengan indikator kesantunan menurut Leech (dalam Pranowo, 2012:103), tentang maksim kesetujuan. Di dalam konteks ini penutur menyatakan ketidaksetujuannya kepada mitra tutur sehingga mitra tutur merasa jatuh harga dirinya. Selain itu, penutur didorong rasa emosi ketika bertutur, yang dapat terlihat melalui unsur ekstralingual berupa tanda ketubuhan.
Berdasarkan contoh di atas, dapat disimpulkan bahwa daya protes adalah salah satu bentuk penolakan yang tidak santun karena pernyataan yang diucapkan bersifat menentang. Unsur intralingual yang memunculkan daya protes merupakan kalimat. Hal ini akan semakin terlihat jelas ketika diperkuat oleh unsur ekstralingual berupa tanda-tanda ketubuhan.