• Tidak ada hasil yang ditemukan

HASIL DAN PEMBAHASAN PENELITIAN

PANTAIBAHAGIA KEC.CILIN CING

A. DAYA DU KUN G WIL AYAH DA RATAN

Bata s Ke camat an Bata s Propinsi D. BATA S ADM IN ISTRASI

Kab upaten Karawan g Kota Bekasi Provinsi DKI Jaka rt a W ilaya h No n Stud y Hutan Lindun g Baik

Hutan Lindun g Sedang Hutan Lindun g Buruk

Ind ustri Pariwisa ta Pelab uh an Perikanan Pelab uh an Umum Pemukiman Ba ik Pemukiman Se dang Pemukiman Bu ru k Pertanian Ba ik Pertanian Se dang Pertanian Bu ru k

Site Plane Dermaga

Tamb ak

Analisa Ekonomi dari Penggunaan Lahan

Pemanfaatan lahan pesisir dan perairan laut di Kabupaten Bekasi sangat intensif. Potensi lahan pesisir yang semakin lama semakin berkurang akibat konversi lahan yang tidak terkendali. Keadaan ini disebabkan karena adanya faktor sebagai wilayah penyangga kota Metropolitan Jakarta. Pemanfaatan lahan pesisir terutama digunakan untuk kegiatan permukiman 247,308 ha di Kecamatan Tarumajaya, 1.214,110 ha di Kecamatan Babelan, 233,970 di Kecamatan Muaragembong. Untuk pertanian 2,619,784 ha di Kecamatan Tarumajaya, 4.128,800 ha di Kecamatan Babelan dan 2.265,272 ha di Kecamatan Muaragembong.

Perikanan

Potensi sumberdaya pesisir dan laut wilayah pesisir Kabupaten Bekasi untuk kegiatan perikanan budidaya tergolong cukup besar. Potensi tersebut terdiri atas budidaya perikanan, dan budidaya tambak. Jumlah potensi sumber daya perikanan tangkap adalah 1.512 ton tahun 2004, 1.512 ton tahun 2005 dan 1.535 ton tahun 2006. Jumlah produksi perikanan tambak pada tahun yang sama adalah 5.812 ton (2004), 5.812 ton (2005) dan 5.885 ton (2006). Pengembangan budidaya perikanan (tambak dan Jaring Apung ) adalah seluas 230 Ha di Kecamatan Tarumajaya, 454,170 ha di Kecamatan Babelan dan 7.688,522 ha di Kecamatan Muaragembong.

Jenis-jenis perikanan tangkap yang dikembangkan sebagai berikut :

1. Ikan pelagis besar: tuna, cakalang, marlin, tongkol, tengiri dan cucut, kegiatan penangkapan ikan tuna diperkirakan akan memiliki sumberdaya yang cukup tinggi. 2. Ikan pelagis kecil, meliputi : tembang, teri, lemuru, layang.

Dilihat secara perkapita masyarakat nelayan di wilayah pesisir Kabupaten Bekasi berdasarkan pada valuasi ekonomi, diperoleh nilai ekonomi untuk setiap petani, yaitu Rp 400.000,00 per produksi untuk pertanian, dan usaha perikanan laut

pendapatan sekitar Rp 450.000,00 dan usaha perikanan tambak rata-rata mereka menerima upah dari para pemilik tambak yang secara spasial sulit untuk dinilai. Khusus berdasarkan luas yang ada maka luas pemanfaatan lahan untuk tambak dan budidaya perikanan sama dengan luas lahan dalam analisa daya dukung ( untuk tambak) dan kesesuaian lahan (untuk budidaya perikanan) seperti diraikan sebelumnya.

Hutan Mangrove

Hasil analisis ekonomi dari pemanfaatan kayu mangrove menunjukkan bahwa perhitungan kayu mangrove yang dimanfaatkan oleh masyarakat untuk bahan bangunan dan dijual sebagai untuk permukiman. Perhitungan nilai ekonominya diukur berdasarkan pada jumlah tegakan mangrove per hektar yang terdapat di wilayah pesisir Kabupaten Bekasi ( Kecamatan Muaragembong) yang berkisar 500 batang dengan total dari pohon per hektar berkisar 0,94 meter kubik per hektar per tahun. Untuk kayu mangrove dijual sebesar Rp.75.000,- per meter kubik.

Potensi perikanan di wilayah pesisir Kabupaten Bekasi, dimana masyarakatnya dikenal dengan masyarakat nelayan dengan tempat sumber udang dan ikan, oleh karena itu daerah sepanjang Muarageombong, sebagian Tarumajaya dann Babelan sebagai daerah tangkapan ikan pada umumnya daerah disekitar hutan mangrove sering digunakan nelayan sebagai daerah tangkapan ikan, udang dan kepiting terutama nelayan-nelayan tradisional. hasil survey terhadap nelayan di wilayah diperoleh hasil tangkapan mereka di jual dengan harga Rp.3.000 per kg untuk udang, Rp.1.250 per kg untuk ikan, dan Rp.2.500 per kg untuk kepiting. Harga ini jauh dari harga pasaran, namun karena mereka beranggapan bahwa jika dijual ke pasar atau ke masyarakat harga akan lebih tinggi yaitu sampai dengan Rp.8.000 – Rp.12.000 untuk jenis udang, kepiting dan ikan.

Nilai ekonomi lain yang bisa diperoleh dari manfaat mangrove adalah bahwa mangrove sebagai hutan lindung yaitu berfungsi sebagai penahan erosi (abrasi). Valuasi ekonomi dari manfaat ini dapat dilakukan dengan menggunakan metoda benefit transfer , dengan membuat tanggul dimana dapat dinilai dari upah tenaga kerja untuk setiap hektar tanggul yaitu sebesar Rp. 300.000,-.

Manfaat lain dari keberadaaan mangrove adalah sebagai penyedia unsur hara. Penilaian tidak langsung pada penggunaan lahan mangrove dapat dilakukan dari jumlah kandungan unsur hara yang terkandung dari daun mangrove. Hasil penelitian yang dilakukan oleh Sukarjo (1995) menyebutkan bahwa setiap hektar hutan mangrove menghasilkan guguran daun mangrove sebanyak 13,08 ton/tahun. Berarti akan mendapatkan 4,85 ton berat kering. Hasil analisis kandungan unsur hara yang terkandung di dalam daun mangrove tersebut adalah 10,5 kg per hektar unsur Nitrogen, atau sama dengan 23,33 kg pupuk urea, mengandung Phospor 4,72 kg sama dengan 13,11 kg pupuk SP-36. Bila dilihat harga pupuk di wilayah pesisir Kabupaten Bekasi, khususnya Muaragembong berkisar antara 2.500 – 3.000 per kg untuk pupuk urea, Rp.3.000 – 3.500 untuk pupuk SP-36. Nilai ini bila dikalikan dengan luas mangrove yaitu 398,40 ha.

Manfaat tidak langsung yang mempunyai fungsi sangat berpengaruh terhadap keberadaan ikan, udang dan kepiting, mangrove adalah guguran daunnya yang berfungsi sebagai bahan makanan bagi ikan-ikan yang ada. Sebagai penghasil bahan organik yang merupakan mata rantai utama dalam rantai makanan ekosistem hutan mangrove, daun mangrove tersebut akan terurai oleh mikroorganisme dan kemudian diuraikan oleh partikel-partikel, dan begitu seterusnya (konsep rantai makan suatu habitat).

Pilihan lain adalah apa yang disebut dengan option value dari hutan mangrove. Option value dihitung dengan metoda nilai manfaat dari keanekaragaman hayati

(biodiversity). Ruitenbeek (1991), menilai option value untuk hutan mangrove di Indonesia sebesar US$ 15,- hektar per tahun. Berarti apabila dikonversikan kedalam mata uang rupiah dengan harga US$ 1 = Rp.9.200,- sesuai dengan waktu penelitian ini maka niilai manfaat biodiversity di wilayah pesisir adalah Rp.138.000,- per tahun.

Besarnya fungsi dari hutan mangrove menunjukkan bahwa ada nilai ekonomi baik langsung atau tidak langsung maka keberadaannya perlu diwariskan pada generasi berikutnya. Untuk itu perhitungan-perhitungan dengan menggunakan berbgaai metode misalnya metode benafit transfer dengan analisis future value. Dengan menggunakan discount rate sebesar 10% dari luas mangrove saat ini (2006) maka dalam jangka waktu 10 tahun yang akan datang ( future value) dari ekosistem mangrove di wilayah pesisir Kabupaten Bekasi ( Kecamatan Muaragembong) adalah ± Rp. 328.234.400 per hektar.

Terjadinya konversi lahan memberikan dampak terhadap pendapatan masyarakat (Income Perkapita) dan pendapatan wilayah (PDRB). Perubahan itu akibat adanya aktivitas manusia dalam bentuk pembangunan. Pertumbuhan aktivitas dan perubahan bidang pekerjaan misalnya dari pertanian menjadi industri, jasa dan perdagangan menyebabkan peningkatan pendapatan penduduk di sektor ini menjadi meningkat, disisi lain terjadi penurunan pendapatan masyarakat dari sektor pertanian dan masyarakat yang berada di kawasan dimana lahan-lahan konservasi seperti mangrove lebih dominan.

Model pendapatan masyarakat dapat dibedakan atas jenis pekerjaannya yaitu, pada sektor perikanan laut, perikanan tambak, pertanian sawah, dan industri. Jenis pekerjaan ini memiliki karakterisatik dan jumlah yang berbeda.

Pendapatan yang diperoleh oleh masyarakat yang berada di wilayah pesisir pada dasarnya dibedakan atas pendapatan yang hanya bersumber pada ekploitasi sumberdaya alamnya ( perikanan, pertanian sawah, tambang dsb) dan pendapatan

yang diperoleh dari jasa upah ( industri dan pariwisata). Pendapatan yang diperoleh pada sektor eksploitasi sumberdaya biasa semakin lama semakin menurun besertaan dengan semakin berkurangnya luas lahan dan populasi ikan yang bisa diperoleh. Sedangkan pada sketor jasa industri (upah) kondisi akan berbeda dan tergantung pada perkembangan iindustri yang dikerjakannya. Apabila dilihat dari aspek ini maka bentuk yang diperoleh oleh penduduk adalah dalam bentuk pendapatan riil. Apabila dilihat kondisi saat ini besarnya pendapatan riil mereka semakin lama semakin menurun dari pendapatan yang diharapkan. Sehingga dapat disimpulkan bahwa ketersediaan sumberdaya alam juga sangat berpengaruh pada besarnya pendapatan yang diperoleh oleh penduduknya.

Pariwisata

Produk pariwisata merupakan komponen utama dari kepariwisataan, khususnya yang berbentuk obyek atau daya tarik wisata (ODTW). Produk kepariwisataan kawasan Pantura Bekasi kurang memadai (dalam arti kuantitas dan keragamannya). Pengembangan produk pariwisata di Kawasan Pantura Bekasi, adalah berupa Pantai Asdam dengan bentuk pariwisata parks tourism. Produk yang memerlukan biaya tidak terlalu besar untuk dapat dinikmati, dan dapat menyedot wisatawan cukup banyak.

Nilai manfaat ekonomi dari setiap penggunaan lahan seperti Tabel 25 Rencana tata ruang berdasarkan manfaat ekonomi sumberdaya pesisir seperti terlihat pada Gambar 29 berikut :

Tabel 25 Nilai manfaat ekonomi dari setiap penggunaan lahan.

Penggunaan Lahan Luas (ha) Nilai Ekonomi ( Rp) Permukiman 3,156 142,020,000,000 Industri 656 29,520,000,000 Perikanan 5,585 16,755,000,000 Pertanian 9,013,856 9,013,856,000 Hutan Mangrove 398.48 230,516,695 Sumber : Hasil Analisis,2007

Arah Arus Sun gai Jalan Primer Jalan Tol Bata s Kecam at an Bata s Propinsi D. BATAS ADMINISTRASI Kabupaten Karaw an g Kota Bekasi Provinsi DKI Jaka rt a Set Plan Derma ga Wila ya h Non Stud y BMANFAAT EKON OMI WI LAYAH DARAT.

PESISIR S ESU AI DENGAN

Teluk Ja kar ta Laut Jawa

Samudera Hindia

RENCANA TA TA RUANG