• Tidak ada hasil yang ditemukan

Deduksi Transendental

Dalam dokumen Epistemologi immanuel kant (Halaman 104-114)

BAB IV KONSEP TRANSENDENTALISME

D. Deduksi Transendental

Sub-bab deduksi transendental dalam Critique of Pure Reason, berisi argumentasi yang menguatkan prinsip dua belas kategori.179 Kant menyatakan bahwa fungsi a priori, semisal dua belas kategori memiliki validitas objektif yang

tidak terbantahkan.180 Keduabelas kategori tersebut pada dasarnya dapat

disimpulkan menjadi lima, sebagai basis pemikiran: keluasan, realitas, subjek, dasar, dan keseluruhan.181 Kategori tersebut menghasilkan pengetahuan a priori, yakni pengetahuan yang berisi komponen a priori atas beragam objek, ketika menampakkan dirinya kepada subjek. Oleh karena itu, tugas dari kategori tidak

178

Immanuel Kant, Critique of Pure Reason, h. 215 179

Sebastian Gardner, Kant and the Critique of Pure Reason (London: Routledge, 2003), h.130

180

Georges Dicker, Kant’s Theory of Knowledge, h. 84 181

Paul Guyer, “The Transcendental Deduction of Categories,” in Paul Guyer, ed., The Cambridge Companion to Kant (Cambridge: Cambridge University Press, 2006), h. 131

lain adalah menghasilkan pengetahuan a priori tentang struktur dasar pengalaman manusia.182

Menurut George Dicker—salah satu komentator Kant—fokus utama sub-bab tersebut ingin menegaskan dua konsep: substansi dan sesub-bab-akibat.183 Sub-bab tersebut adalah cara untuk menunjukkan bahwa pengalaman harus bisa dikonseptualisasikan dalam bingkai substansi, agar segala perubahannya bisa dijelaskan oleh hukum sebab-akibat. Dari paparannya, Kant menyimpulkan konsep dasar pemahaman sebagai kategori sintesis, menjadi tiga: konsep substansi, kausalitas, dan komposisi atau keseluruhan. Kant menyimpulkan bahwa konsep transendental pengalaman mencakup dalam tiga hal: sesuatu sebagai substansi, setiap kondisi dunia sebagai sebuah akibat, dan semua penampakkan membuat satu keseluruhan.184 Di dalamnya, ia mengritik pandangan Hume atas subjektivisme dan ketidakmungkinan adanya hukum kausalitas. Bagi Kant, pengalaman adalah hal yang mungkin, dan pengetahuan selalu berkenaan dengan pengalaman.

Agar bisa diamati secara utuh, pengalaman harus dikonseptualisasikan sebagai objek-objek yang tetap (enduring objects). Pengalaman harus memiliki sejumlah atribut yang memungkinkan subjek mengamatinya. Di sini Kant menawarkan rumusan bahwa pengalaman harus bisa diamati, dan diidentifikasi sebagai sesuatu yang bersifat tetap dengan ciri yang tidak pernah berubah-ubah. Terlebih struktur pengalaman yang bermacam-macam dalam suatu keadaan tertentu, harus bisa dijelaskan dalam skala rasional, yang secara signifikan

182

George Dicker, Kant’s Theory of Knowledge, h. 85 183

George Dicker, Kant’s Theory of Knowledge, h. 85 184

memiliki pengaruh pada kebiasaan dan atau pengulangan-pengulangan.185 Sejumlah penyelidikan mengenai objek pengalaman bisa terus dilakukan. Mungkin hasilnya akan berbeda-beda, karena selalu terjadi perubahan. Tapi, objek yang diamati, pada dirinya, bersifat tetap. Hal ini sebagaimana rumusan Kant tentang substansi.

Menurut Kant, setiap substansi bersifat tetap, kekal (permanent). Dengan

tegas, ia mengatakan bahwa semua penampakkan berisi sesuatu permanen (the permanent) sebagaimana sebuah objek pada dirinya, dan perubahan (the transitory) hanya sebagai penentuannya, yang merupakan cara bagaimana sebuah objek berada.186 Substansi objek pada dirinya adalah tetap. Perubahan yang nampak terjadi pada objek sebenarnya hanya atribut yang dikenakan padanya. Semua penampakkan berisi sesuatu yang tetap (substansi), dan segala perubahan berada pada wilayah penentuan hukum.187 Jadi, yang berubah adalah sifat objek, bukan substansi pada dirinya.

Kant masih mengikuti pengertian substansi dalam istilah klasik, yakni Aristoteles. Substansi adalah sesuatu yang bisa menjadi subjek, tapi tidak bisa

menjadi predikat.188 Dengan kata lain, substansi bagi Kant adalah pembawa sifat

(a property-bearer), yang tidak bisa menjadi sifat.189 Perubahan pada sifat substansi terjadi terus-menerus. Perubahan tersebut berada di dalam waktu, yang meliputi objek pada dirinya, bukan waktu dalam pengertian a priori subjek. Perubahan pada sifat, bisa menyebabkan objek menjadi bentuk yang lain dari asalnya, atau hanya merubah segelintir saja dari sifatnya. Tapi, menurut Kant,

185

George Dicker, Kant’s Theory of Knowledge, h. 144 186

George Dicker, Kant’s Theory of Knowledge, h. 145 187

Immanuel Kant, Critique of Pure Reason, h. 299 188

Immanuel Kant, Critique of Pure Reason, h. 334 189

apapun yang terjadi, perubahan itu tidak akan pernah merusak tatanan kesatuan

waktu.190 Waktu berjalan tetap, seiring dengan kesadaran manusia atas

pengalamannya.

Dengan pengalaman, manusia menjadi sadar. Kesadaran selalu berhubungan dengan objek. Bagi Kant, kesadaran tidak hanya tertuju pada satu objek, melainkan banyak objek.191 Kesadaran seseorang selalu terarah kepada objek-objek yang dihadapinya. Kesadaran atas beragam objek tersebut, berada di bawah kendali kesadaran diri yang sama, yakni pribadi yang menyadari. Misalnya, seseorang sadar telah melihat beberapa pohon A, B, C, D, dan seterusnya. Kesadaran orang tersebut atas pohon A, berbeda dari kesadarannya atas pohon B, C, D, dan seterusnya. Tapi, kesadaran itu tetap berada di bawah kendali kesadaran diri yang sama. Orang yang sadar tersebut tahu bahwa dirinya telah melihat pohon A, B, C, D, dan seterusnya, dan tidak mungkin menyangkalnya. Jadi, kesadaran atas beragam objek adalah hal yang mungkin. Kant menyebut hal ini dengan istilah, “ synthetic unity of consciousness”.192

Kesadaran atas beragam hal dapat disatukan di bawah satu kendali, karena

diatur oleh suatu hukum universal yang tidak sewenang-wenang (non-arbitrary).

Hukum tersebut mengatur dan menghubungkan tiap-tiap objek satu sama lain dengan konsep-konsep a priori. Dengan begitu, kesadaran individu atas data inderawi tidak semata bersifat subjektif. Tapi, objektif, karena disusun

berdasarkan perangkat hukum yang tetap dan disesuaikan dengan konsep a priori

dalam diri subjek.193 Misalnya orang melihat kursi. Ia pertama melihat bagian

190

George Dicker, Kant’s Theory of Knowledge, h. 162 191

George Dicker, Kant’s Theory of Knowledge, h. 91 192

Immanuel Kant, Critique of Pure Reason,h. 249 193

tempat duduk atasnya dengan bagian depan penyangga punggung. Kemudian melihat kaki kursi, lalu mengalihkan perhatian ke bagian belakang penyangga. Kesadaran atas bagian kursi itu berbeda-beda, khususnya antara depan, dan belakang. Tapi, keseluruhan informasi tersebut bisa disatukan di bawah satu kendali kesadaran diri, karena diatur dan dihubungkan oleh hukum tetap, tak

sewenang-wenang (non-arbitrary). Adanya hukum tersebut bisa diketahui dengan

mengamati setiap kejadian, yang membawa implikasi pada struktur perubahan objek, dan bisa diamati oleh siapa saja yang ingin mengetahuinya.

Lebih jauh Kant mengatakan, agar kesadaran atas beragam objek itu mungkin terjadi, subjek harus menganggap semua penampakkan objek berasal dari diri mereka sendiri. Jadi, segala representasi harus bisa dipahami berasal dari diri subjek (self-ascribable).194 Dengan kata lain, Kant menekankan pentingnya kesadaran pribadi bahwa segala representasi yang beragam berasal dari dirinya. Kesadaran tersebut selalu berkesesuaian dengan waktu. Tidak ada kesadaran yang bersifat tetap, abadi, dan lepas dari temporalitas. Kesadaran terhadap pengalaman yang berurutan adalah mungkin di dalam waktu-waktu berbeda. Dengan begitu, kesadaran dapat dijelaskan kaitannya dengan penyatuan beragam penampakkan

objek secara umum.195

Namun, untuk terciptanya kesadaran melalui waktu, dibutuhkan adanya

memori.196 Memori menyimpan sejumlah informasi seputar pengalaman yang

dialami seseorang. Dengannya, segala pengalaman yang diraih bisa dipahami dan dipikirkan kembali di saat-saat yang berbeda. Di dalam memori tersebut, segala

194

George Dicker, Kant’s Theory of Knowledge, h. 130 195

Gilles Deleuze, Kant’s Critical Philosophy, trans., Hugh Tomlinson and Barbara Habberjam (London: The Athlone Press, 1995), h. 15

196

bentuk pengalaman hadir dan saling memiliki keterkaitan. Semua kemungkinan yang dialami kemudian mengalami sintesis.

Kant membagi sintesis tersebut menjadi tiga bentuk: pertama, sintesis penangkapan dalam intuisi (synthesis apprehension in intuition); kedua, sintesis reproduksi di dalam imajinasi; ketiga, sintesis pengenalan dalam sebuah konsep. Ketiganya merupakan aspek yang terjadi dalam satu proses, bukan rangkaian tahapan berjenjang yang harus dilewati. Ketiga sintesis tersebut ada bersama, ketika seseorang sadar atas sesuatu hal. Sintesis pertama adalah suatu kondisi di mana intuisi menangkap segala macam penampakkan objek, dan kemudian

menempatkannya di bawah satu representasi.197 Terjadinya sintesis pada tahap ini

berkesesuaian dengan fungsi a priori ruang dan waktu, yang menentukan batas-batas tertentu dari penampakkan objek. Objek yang bermacam-macam tersebut hadir di dalam intuisi secara berurutan.

Sintesis kedua adalah reproduksi sejumlah data yang sudah didapat secara berurutan pada masa lalu, untuk diingat dan dipikirkan pada saat ini. Data lama yang ada di dalam pikiran dihadirkan kembali sebagai bahan pemikiran. Dari sini dapat diketahui bahwa sintesis kedua mengaitkan sejumlah objek yang hadir secara berurutan dalam kurun waktu tertentu, dalam hubungan yang sudah ditentukan pula dalam masa lalu. Sintesis ini memungkinkan hadirnya objek sebagai gambaran di dalam pikiran. 198

Sintesis ketiga adalah keadaan dimana seseorang sadar bahwa ketika menghadirkan data lama dalam pikirannya, data tersebut sama seperti bentuknya semula. Karena jika tidak demikian, maka data tersebut kemungkinan besar akan

197

Immanuel Kant, Critique of Pure Reason, h. 229 198

berubah. Perubahan itu bisa menjadikan data tersebut tidak berguna; tidak valid sebagai sumber informasi. Sintesis ini merupakan penjelasan Kant, dalam upaya

menjawab keraguan tentang berubah-ubahnya gambaran objek dalam pikiran.199

Objek yang berada dalam pikiran, merupakan landasan munculnya konsep. Aktivitas mental dalam mengolah data, selalu bekerja dengan aturan yang non-arbitrary. Aturan tersebut adalah hukum yang mengatur hubungan setiap representasi satu sama lain. Hukum yang mengatur bersifat tetap, sehingga bisa

menerapkan konsep-konsep a priori terhadap beragam data. Meskipun diatur oleh

hukum tetap, Kant menganggap bahwa representasi di dalam waktu selalu bersitegang dengan subjektivitas individu. Di sini, ia menawarkan dua macam cara dalam memandang waktu. Yang pertama, waktu sebagaimana dipahami dari sudut pandang subjek. Waktu di sini sangat terkait erat dengan keberadaan subjek dalam memandang objek. Bisa diartikan jika waktu dalam pengertian ini sangat subjektif. Yang kedua adalah waktu dalam kaitannya dengan keberadaan objek. Waktu ini yang menyelimuti objek, dan lepas sama sekali dari unsur subjek.

Kant tidak bermaksud menyalahi pendapatnya pada estetika transendental bahwa waktu itu satu dan hadir secara beruntut. Pada dasarnya, waktu tidak bisa

diterima indera (perceived), karena ia bukan objek. Pembagian atas waktu dinilai

sebagai upaya menjelaskan sudut pandang antara sisi objek dengan subjek. Secara ontologis, keberadaan waktu bersifat a priori, tetap satu dan tidak terbagi. Namun, pembagian itu ditujukan untuk mempermudah penjelasan. Oleh karena itu, secara epistemologis pembagian waktu dapat dimungkinkan. Waktu dari sudut pandang

199

subjek adalah sesuatu yang hadir begitu saja (given) pada diri subjek. Sedangkan

waktu dari sudut pandang objek adalah kesesuaian objek dengan aturan a priori.

Dalam analisisnya mengenai aturan a priori, Kant sangat mengutamakan kedudukan kausalitas. Ia menentang keras pandangan Hume bahwa kausalitas hanya berupa aktivitas mental yang bersifat subjektif, karena hanya didapat dari kesan-kesan inderawi.200 Namun, sebenarnya terdapat suatu persamaan pendapat antara Hume dan Kant mengenai masalah ini.

Meskipun menentang Hume, Kant sepakat mengenai ketentuan hukum kausalitas yang tidak hanya dalam hubungan konseptual, atau tataran kebenaran kata-kata. Dalam penjelasan mengenai kategori kausalitas, Kant dengan tegas mengatakan bahwa pemahaman kausalitas tidak diperoleh dari analisis fakta semata, tapi sudah merupakan sintesis. Selain itu, Kant sepakat dengan Hume bahwa kausalitas tidak bisa ditunjukkan dengan menerapkan konsep umum seperti eksistensi, kejadian, permulaan eksistensi, dan sebagainya. Tapi, kausalitas dapat dibuktikan kebenarannya dengan argumen transendental—argumen yang bersifat

a priori, dan tidak berhubungan secara langsung dengan pengalaman empiris. Kritik Hume atas kausalitas, sebenarnya diarahkan pada pemikiran bahwa setiap kejadian pasti memiliki sebab. Sebaliknya, Kant meringkas pernyataannya bahwa bukti hukum kausalitas hanya bisa diterapkan pada peristiwa yang bisa nampak (observable events)201 pada indera. Dengan begitu, setiap kejadian di luar batas-batas pengalaman tidak bisa dikatakan memiliki kaitan dengan kausalitas.

Penjelasan tentang kausalitas dimulai dari penelusuran kaidah berikut. Misalnya, objek kejadian A menyebabkan kejadian B, karena dalam kasus yang

200

David Hume, A Treatise of Human Nature, h. 131 201

diteliti, peristiwa A selalu diikuti peristiwa B. Informasi tersebut berdasarkan fakta yang diperoleh pengalaman. Namun, Kant mempermasalahkan jika kausalitas hanya diperoleh dengan analisis atas fakta-fakta, terutama menyangkut cara subjek menerima kejadian dalam tempo berurutan, dan perbedaannya dengan ketetapan yang tidak berubah. Ia mempertanyakan bagaimana seseorang bisa mengetahui kejadian A, diikuti kejadian B, kemudian menyebabkan munculnya C, di dalam durasi waktu tertentu secara berurutan, padahal waktu sendiri tidak bisa dicerap indera. Selain itu, ia mempertanyakan pula kedudukan benda pada dirinya sendiri, yang tidak bisa diketahui subjek. Di sini, Kant mempermasalahkan cara memandang suatu peristiwa yang terkait dengan kausalitas.

Kant menguraikan kerumitan di atas dengan paparan sebagai berikut. Terjadinya peristiwa A diikuti peristiwa B, kemudian memunculkan C, dalam waktu tertentu dan dapat dilakukan berulang-ulang, menandai adanya sebuah hukum yang tetap. Hukum tersebut bekerja pada setiap peristiwa yang nampak pada subjek, dalam waktu objektif. Waktu objektif yang dituju Kant adalah waktu yang meliputi keberadaan objek, sekaligus subjek. Namun, karena subjek memiliki struktur kesadaran a priori dalam dirinya, sehingga ada keterbatasan kemampuan subjek dalam menangkap objek. Yang dapat ditangkap subjek justru hanya penampakkannya saja, dan bukan objek pada dirinya. Terlebih karena Kant mengkonseptualisasikan pengalaman sebagai substansi, maka yang diterima subjek adalah sifat-sifat objek dan bukan pengalaman sebagai substansi yang permanen. Sampai di sini, Kant menganggap bahwa subjek bisa menerapkan kaidah a priori, untuk bisa menghasilkan sintesis atas segala hal yang bisa menampakkan diri kepada subjek. Sintesis itu bersifat a priori, karena lepas dari

unsur-unsur a posteriori. Rangkaian peristiwa tersebut adalah gambaran singkat proses yang harus dilewati suatu peristiwa, untuk mencapai keadaan tertentu.

Meskipun sistemnya disebut transendental, Kant dengan menunjukkan penolakan atas idealisme—suatu teori yang menurut Kant mendeklarasikan bahwa eksistensi objek dalam ruang di luar diri manusia, diragukan dan tidak mampu dibuktikan, atau palsu dan tidak mungkin. Idealisme dibagi Kant menjadi dua:

pertama, idealisme problematik; kedua, idealisme dogmatik.202 Yang pertama diwakili oleh Descartes, dengan ketetapan hanya satu kepastian empiris, yakni, “aku berpikir”. Kelompok kedua diwakili Berkeley, yang menganggap segala sesuatu di dalam ruang hanyalah imajinasi, dan baik ruang maupun objek-objek di dalamnya tidak terpisahkan dalam dirinya. Idealisme dogmatik sudah dikaji dalam pembahasan sebelumnya mengenai ruang dan waktu. Berikutnya, kritik dialamatkan pada idealisme problematik.

Kelompok idealisme problematik menganggap sumber utama pengetahuan tentang objek fisik menyangkut kausalitas, hanya didasarkan pada kesadaran subjektif. Menurut Kant, kesadaran selalu berhubungan dengan sesuatu di luar. Objek luar memiliki kaitan mendalam, dan bisa dijelaskan kedudukannya secara objektif. Misalnya, kesadaran tentang masa lalu, yang bisa hadir kembali sekarang. Kesadaran tersebut merujuk pada sesuatu yang dialami. Objek kesadaran tetap berbeda dari subjek. Meskipun Kant mengajukan bahwa ruang dan waktu bersifat a apriori, tetapi objek di luar diri subjek tetap dianggap nyata. Kant tidak meragukan sama sekali realitas di luar subjek.

202

Dalam dokumen Epistemologi immanuel kant (Halaman 104-114)