BAB IV KONSEP TRANSENDENTALISME
E. Konsep Transendental Akal
Bagian kedua dari logika transendental adalah dialektik transendental. Pada paparan sebelumnya sudah dijelaskan bahwa analitik transendental berperan dalam menguji beragam penampakkan. Pada tahap ini, fungsi a priori subjek berupa putusan dan kategori merupakan cara subjek memahami penampakkan objek. Penampakkan tidak berkaitan dengan benar atau salah, sebagaimana intuisi bekerja dalam tahap penerimaan, karena intuisi tidak memberi penilaian. Penilaian
benar atau salah berada pada tahap putusan.203 Kesalahan terjadi dalam hubungan
pemahaman subjek atas objek yang dipikirkan. Namun, selama cara berpikir subjek sesuai dengan hukum-hukum pemahaman, maka kesalahan tidak akan terjadi. Hukum tersebut adalah aturan logika kesadaran subjek.
Setelah semua penampakkan luar mendapat pengujian dan pemurnian pada tahap analitik transendental, lalu hasilnya masuk pada tahap terakhir: dialektik transendental. Pada tahap ini, semua jenis penampakkan yang sudah ditentukan batas-batasnya secara rasional, disatukan di bawah satu kendali hukum. Hukum tersebut menandai keseluruhan makna yang dihasilkan dari penelusuran menyeluruh atas penampakkan objek. Di sini, fungsi a priori subjek tidak lagi berhubungan secara langsung dengan realitas empiris. Tapi, hanya berkenaan dengan pemahaman. Transendental dialektik berupaya melindungi pemikiran dari ilusi putusan transendental.204 Dialektik transendental berperan memberi arah atas hasil terakhir pemikiran. Karena tidak berhubungan langsung dengan realitas empiris, tahap ini tidak menambah apapun pada isi pengetahuan.
203
Immanuel Kant, Critique of Pure Reason, h. 384 204
Kant dengan jelas membedakan dua kata: Verstand dan Vernunft. Verstand
digunakan untuk menunjukkan fakultas pemahaman, yang masih berhubungan
dengan realitas empiris. Adapun Vernunft merujuk pada fakultas pemikiran, yang
tidak berhubungan langsung dengan realitas empiris. Jadi, Vernunft berbeda dari
Verstand.205Vernunft adalah fakultas yang berfungsi mengatur (regulative) semua
data hasil pemurnian tahap Verstand; semacam kemampuan dalam mengolah
susunan argumentasi. Fakultas ini memproduksi sejumlah ide transendental, yang tidak bisa memperluas pengetahuan, tapi hanya berfungsi mengatur dan
mengarahkan pemahaman.206
Bagi Kant, proses singkat hadirnya pengetahuan adalah sebagai berikut: sejumlah objek muncul dan menampakkan diri pada subjek. Lalu penampakkan
objek diolah dalam pemahaman (understanding). Kemudian berakhir pada
pertimbangan akal yang membawahi kesatuan tertinggi pemikiran. Kant menilai bahwa kesatuan itu merupakan kegunaan logis dari akal, yang meliputi seperangkat
aturan yang tidak diturunkan dari indera atau pun pemahaman.207 Kant mengatakan
bahwa logika transendental yang pertama (the transcendental analytic) adalah
205
Kata Vernunft dalam bahasa Jerman diterjemahkan menjadi akal budi atau intelek, dan dibedakan dari Verstand (rasio). Franz Magnis-Suseno, 13 Tokoh Etika: Sejak Zaman Yunani Sampai Abad ke-19 (Yogyakarta: Kanisius, 1997), h. 142; Di salah satu kamus, makna dua kata itu tidak dibedakan. Lih. Adolf Heuken, SJ., Deutsch-Indonesisches Wörterbuch: Kamus Jerman Indonesia (Jakarta: Gramedia Pustaka Utama, 2006), h. 565, 571; Namun, di kamus yang lain, Verstand berarti mind (pikiran), dan Vernunft bermakna reason, common sense (akal sehat). Lih. Veronika Schorr, dkk. (eds.), Collins Gem: German Dictionary (Glasgow: HarperCollins Publishers, 2003), h. 209, 211; Dua penerjemah Kritik der Reinen Vernunft, Paul Guyer dan Allen W. Wood, menerjemahkan Vernunft menjadi reason, dan Verstand menjadi understanding. Lih. Immanuel Kant, Critique of Pure Reason, trans., Paul Guyer dan Allen W. Wood (Cambridge: Cambridge University Press, 2000) h. 764
206
Frederick Copleston, A History of Philosophy, vol. 6, Wolff to Kant (Wellwood: Burn & Oates, 1999), h. 278
207
proses pemahaman, yang ia sebut fakultas aturan-aturan. Adapun yang kedua (the transcendental dialectic) adalah tahap akal yang ia sebut fakultas prinsip-prinsip.208 Prinsip-prinsip tersebut adalah kesatuan menyeluruh dari kesadaran universal sebagai premis mayor yang berbentuk konsep sesuatu, disertai premis
minor, dan kesimpulan menurut aturan silogisme.209 Kesadaran atas prinsip-prinsip
merupakan kesadaran saat subjek menyadari hal partikular dalam universal melalui konsep. Dengan demikian, dapat dikatakan bahwa pemahaman adalah fakultas penyatuan penampakkan melalui aturan-aturan, sedangkan akal adalah fakultas penyatuan aturan pemahaman di bawah prinsip-prinsip. Namun, akal tidak pernah menerapkan prinsip tersebut pada pengalaman secara langsung. Tapi, hanya
diterapkan pada pemahaman, dengan tujuan menghasilkan kesatuan a priori
melalui konsep terhadap keragaman kesadaran dalam pemahaman. Kant menyebutnya sebagai kesatuan akal (the unity of reason).210
Secara umum, di setiap penalaran logis, kesimpulan bisa didapat melalui tiga rangkaian sederhana berikut: sebuah proposisi umum sebagai dasar, dan proposisi lain sebagai konklusi yang didapat dari proposisi sebelumnya, kemudian
kesimpulan (inference) yang berkaitan dan sesuai dengan proposisi pertama. Yang
membedakan antara kesimpulan pemahaman dengan kesimpulan akal adalah jika putusan yang disimpulkan ada pada proposisi pertama, maka konklusi dapat diturunkan tanpa menghadirkan representasi ketiga. Hal ini disebut kesimpulan
langsung (immediate inference: consequentia immediata), atau kesimpulan
pemahaman.
208
Immanuel Kant, Critique of Pure Reason, h. 387 209
Immanuel Kant, Critique of Pure Reason, h. 388 210
Namun, jika selain kesadaran sebagai dasar pemikiran, terdapat putusan lain yang mempengaruhi munculnya konklusi, maka kesimpulan (inference) yang dihasilkan disebut kesimpulan akal. Dalam susunan silogisme, kesimpulan terakhir
didapat dari turunan putusan-putusan sebelumnya. Kesimpulan langsung (an
immediate inference), disebut kesimpulan pemahaman (the inference of understanding). Kesimpulan itu diturunkan secara langsung, tanpa bantuan kesimpulan yang lain. Kesimpulan semacam itu mencakup hal-hal yang affirmatif universal ke affirmatif partikular, penyangkalan dari pertentangan, pertentangan,
subcontrary, konversi (conversion), dan kontraposisi (contraprosition). Sedangkan kesimpulan yang menengahi pendapat dan menyimpulkan berbagai proposisi sebelumnya—terkadang muncul sebagai kesimpulan ketiga atau lebih—disebut kesimpulan akal.211 Misalnya, proposisi, “semua manusia adalah makhluk hidup (mortal),” sebagai premis mayor. Dalam putusan itu, terkandung makna, “beberapa manusia adalah makhluk hidup”, “beberapa makhluk hidup adalah manusia”, “ manusia adalah makhluk yang tidak abadi”, dan seterusnya.
Dari situ kemudian dibuat susunan silogisme: “semua manusia adalah makhluk hidup”. Kemudian dari konsep umum bisa dibuat premis minor: “semua sarjana adalah manusia”. Sarjana adalah predikat yang melekat pada sebagian manusia yang berpendidikan. Selanjutnya, dapat dibuat kesimpulan, “semua sarjana adalah makhluk hidup”. Proposisi, “semua sarjana adalah makhluk hidup”, tidak didapat secara langsung dari kesimpulan pemahaman pada premis mayor. Tapi, diperoleh lewat premis minor. Dengan begitu, kesimpulan akal hanya bisa
didapatkan melalui perantara adanya putusan langsung (an immediate judgment).212
211
Immanuel Kant, Critique of Pure Reason, h. 736 212
Pada contoh tersebut, didapat adanya kesadaran hal partikular, yakni sarjana, dalam konsep universal, yakni makhluk hidup.
Singkatnya, proses dalam setiap sillogisme213 dapat dijelaskan menjadi:
pertama, proposisi pertama diletakkan sebagai premis mayor, melalui pemahaman
yang menghimpun keragaman dalam sebuah konsep tertentu. Kedua, menghadirkan
kesadaran tertentu di bawah kondisi aturan-aturan pemahaman, dan dijadikan premis minor melalui kekuatan putusan. Ketiga, menentukan kesadaran a priori
yang menyeluruh mencakup prinsip pemahaman untuk mencapai kesimpulan (inference) partikular. Proses yang ketiga dihasilkan oleh fungsi a priori akal, dan tidak berhubungan secara langsung dengan objek empiris.
Menurut Kant, akal murni (der reinen Vernunft) bukan hanya berisi konsep-konsep yang direfleksikan. Tapi, juga konsep-konsep yang disimpulkan. Ini
dibedakan dari konsep pemahaman, yang merupakan hasil pemikiran a priori,
tetapi tidak menyatukan atau menyimpulkan prinsip pemahaman. Konsep akal murni meliputi banyak putusan, seperti halnya konsep pemahaman yang berfungsi menghasilkan pemahaman atas segala penampakkan objek. Konsep akal memiliki validitas objektif. Kant menyebutnya konsep-konsep yang disimpulkan secara benar (conceptus ratiocinati). Namun, bisa juga menghasilkan kesimpulan yang
salah atau sekedar ilusi. Kant menamakannya konsep yang mengelabui (conceptus
ratiocinantes).214
Konsep akal murni berbeda dari pemahaman. Konsep pemahaman adalah susunan kategori. Adapun konsep akal murni adalah ide-ide transendental.215 Ide
213
Kant menyebut silogisme sebagai Vernunftschluß, yang secara bahasa berarti an inference reason. Immanuel Kant, Critique of Pure Reason, h. 390
214
Immanuel Kant, Critique of Pure Reason, h. 394 215
menurut Kant adalah sesuatu yang merujuk pada konsep non-empiris, tidak dari pengalaman, melainkan dihasilkan rasio.216 Ide tersebut mengikat semua bentuk penalaran, dalam sebuah kesatuan.
Namun, Kant menolak ide menurut Plato. Bagi Kant, Plato telah memperlakukan konsep ide sebagai sesuatu yang abstrak: semacam pola dasar (archetype) bagi segala sesuatu di dunia, yang tidak memiliki kaitan dengan realitas empiris, bahkan melewati batas-batas pemahaman—bagian terakhir ini yang sangat ditentang oleh Aristoteles.217 Ide tersebut mengalir dari akal tertinggi, dan akal manusia bekerja dengan mengingat segala sesuatu yang sudah ada sebelumnya, sehingga tidak menemukan keaslian pemikirannya.
Meskipun cukup abstrak, menurut Kant, Plato tetap berpegang bahwa hasil konkret ide berada pada tataran praktis (practical).218 Seperti ide kebebasan, kebaikan, termasuk kesadaran matematis, dapat diketahui dan dijelaskan dengan paparan pengalaman seseorang. Di sisi lain, Kant menolak pandangan Plato bahwa alam ide adalah bentuk yang sempurna, abadi, dan tidak berubah. Bagi Kant ide merupakan susunan pemikiran manusia.
Tetapi, Plato tidak selalu salah. Kant sepakat dengannya terkait bukti-bukti ide yang tidak hanya berada dalam tataran akal manusia, melainkan sebagai sebab yang cukup jelas atas beragam aksi dan objeknya di alam.219 Dalam kehidupan sehari-hari, ide bisa menjadi sebab terjadinya interaksi antara manusia dengan manusia, dan manusia dengan alam sekitarnya. Interaksi tersebut terjadi karena pemikiran yang menuntun manusia untuk bertindak. Pikiran sendiri dapat berisi
216
Thomas W. Wartenberg, “Reason and The Practice of Science”, in Paul Guyer, ed., The Cambridge Companion to Kant (Cambridge: Cambridge University Press, 2006), h. 229
217
Immanuel Kant, Critique of Pure Reason, h. 395 218
Immanuel Kant, Critique of Pure Reason, h. 396 219
gambar-gambar atas fenomena alam. Namun, itu hanya sekedar gambar. Untuk bisa mengetahui bentuk riil objek, caranya dengan melihat bentuk aslinya di dunia, tempat manusia itu hidup, melalui sensibiltas. Cara ini tidak terlepas dari ketentuan hukum alam yang melingkupi kehidupan manusia, begitu pula susunan akal pikiran subjek sebagai pengamat.
Bagi Kant, ide atau konsep akal (Jerman: der Vernunftbegriff)220 adalah konsep yang dibentuk oleh gagasan atau pemikiran, yang melewati kemungkinan pengalaman. Dengan begitu, bersifat murni a priori. Ide teoretis berlaku seperti konsep empiris, yakni sebagai penyatu,221 meskipun keduanya memiliki objek berbeda. Objek penyatuan yang dimaksud adalah pengetahuan empiris, yang sudah mengalami pengujian pada tahap rasio. Konsep yang membentuk ide, selama tidak berada dalam kerangka sensibilitas disebut notio. Kant tidak memungkiri bahwa sumber data pikiran berasal dari luar, dan tidak menolak bahwa akal memiliki
sejumlah kecenderungan alamiah a priori, meskipun yang terakhir itu tidak
digolongkan sebagai pengetahuan. Baginya, selama persepsi merujuk pada subjek sebagai sebuah modifikasi keadaan, maka disebut sensasi (sensatio). Jika persepsi tersebut lepas dari pandangan subjektifitas, atau objektif, maka disebut kesadaran (cognitio). Kesadaran dapat berbentuk hasil pencerapan intuisi, atau konsep (intuitus vel conceptus). Intuisi berkaitan dengan objek secara langsung, dan bersifat singular. Sedangkan konsep ditengahi oleh catatan yang berskala umum pada semua jenis penampakkan.222 Semua struktur dasar ini, akhirnya berperan dalam menghasilkan kesimpulan final pada tahap akal.
220
Immanuel Kant, Kritik der reinen Vernunft, nach der ersten und zweiten Original-Ausgabe herausgegeben von Raymund Schimdt (Felix Meiner Verlag: Hamburg, 1990), h. 354
221
Thomas W. Wartenberg, “Reason and The Practice of Science”, h. 230 222
Menurut Kant, kesimpulan akal tercapai karena universalitas kesadaran menurut konsep. Sifat universalitas tersebut berkesesuaian dengan susunan silogisme, yang membentuk putusan secara a priori di keseluruhan kondisinya.223 Universalitas yang dimaksud adalah jarak wilayah yang sempurna dalam suatu kondisi, ketika kesimpulan akhir silogisme diperoleh. Objek dalam kesimpulan tersebut sebelumnya sudah termasuk bagian premis mayor, di bawah kondisi yang lebih luas. Kant mencontohkan bahwa kalimat, “Caius adalah makhluk hidup”, didapatkan dari pengolahan pemahaman sebagai kesimpulan akal. Sebelumnya, pemahaman sudah mencoba menelusuri secara lebih detail dan luas, paparan yang berkenaan dengan objek yang dibicarakan, yakni Caius, dengan sesuatu yang lebih universal, maka didapatlah kata, “manusia”. Lalu dibuat susunan silogisme, “semua manusia adalah makhluk hidup”, “Caius adalah manusia”, maka “Caius adalah makhluk hidup”. Susunan silogisme tersebut adalah hasil kinerja fungsi a priori
subjek, dalam mengolah sejumlah data guna menghasilkan kesimpulan.
Dalam penalaran silogisme, premis mayor membuat gambaran umum dan menyeluruh atas objek yang berada dalam suatu kondisi. Setelah itu, baru kesimpulannya yang diarahkan berbentuk objek tertentu. Objek tersebut berupa hal partikular, yang dijelaskan secara menyeluruh dalam totalitas kondisinya. Konsep transendental akal tidak lain adalah menemukan totalitas kondisi atas sesuatu yang hadir dikondisikan (totality of conditions to a given conditioned thing).224
Kerja akal selanjutnya semakin memperbanyak kesatuan totalitas tersebut. Totalitas tersebut adalah konsep akal yang selaras dengan kinerja pemahaman melalui kategori-kategori. Penelusuran konsep akal tersebut bisa dijelaskan sebagai
223
Immanuel Kant, Critique of Pure Reason, h. 399 224
penemuan pengetahuan yang terkondisikan (a conditioned knowledge),225 yang
selalu terarah pada keadaan yang tidak dikondisikan (an unconditioned).
Penelusuran itu dilakukan dalam tiga bentuk: Pertama, sintesis kategoris di dalam
subjek; kedua, sintesis hipotesis dari sekumpulan rangkaian; ketiga, sintesis disjunktif dari bagian-bagian dalam sebuah sistem.226 Ketiga bentuk sintesis itu selaras dengan susunan kategori relasi: substansi, sebab akibat, dan komunitas. Kant tidak bermaksud menganggap bahwa pengetahuan yang tidak dikondisikan itu ada. Hal itu hanya sebagai cara menjelaskan bahwa akal selalu bekerja mencari sintesis atas segala macam pemahaman dalam bentuk kesimpulan tiga macam susunan: silogisme kategoris, silogisme hipotesis, dan silogisme disjunktif.227 Sintesis atas apa yang tidak dikondisikan sebenarnya tidak pernah dianggap sebagai pengetahuan.
Dengan tiga bentuk silogisme tersebut, Kant tidak bermaksud menjelaskan hal abstrak. Kendati tidak berhubungan secara langsung dengan objek, tetapi konsep akal berisi informasi yang berkenaan dengan realitas empiris. Rumusan ini terkait dengan kegunaan dasar-dasar kerangka teoretis sains. Terkadang rumusannya dianggap sebagai upaya untuk menyediakan fondasi metafisika bagi sains Newtonian.228
Menurut Kant, selama subjek menggunakan kekuatan pemahaman dan akalnya, maka akan banyak kesimpulan akal yang bermunculan. Hal tersebut
225
Sebenarnya Kant tidak menjelaskan secara eksplisit maksud a conditioned dan an unconditioned. Tapi, jika menelusuri secara detail, kita bisa mengasumsikan bahwa yang pertama adalah sesuatu yang memiliki kaitan dengan realitas empiris, kendati sudah dimurnikan. Sedangkan yang kedua merujuk pada sesuatu yang tidak memiliki dasar empiris. Bandingkan misalnya, Frederick Copleston, A History of Philosophy, h. 280
226
Immanuel Kant, Critique of Pure Reason, h. 400 227
Frederick Copleston, A History of Philosophy, h. 281 228
Thomas W. Wartenberg, “Reason and The Practice of Science”, in Paul Guyer, ed., The Cambridge Companion to Kant (Cambridge: Cambridge University Press, 2006), h. 228
menandai perwujudan pemahaman yang luas, menuju kepada totalitas yang semakin mengerucut. Misalnya pada penalaran, “semua manusia adalah makhluk hidup”, “semua sarjana adalah manusia”, maka “semua sarjana adalah makhluk hidup”. Susunan silogisme ini sebenarnya sudah merupakan totalisasi kesimpulan yang diperoleh akal. Premis mayor, “semua manusia adalah makhluk hidup”, merupakan kesimpulan dari silogisme yang mencakup objek yang lebih luas: “semua hewan adalah makhluk hidup”, “manusia adalah hewan,” maka, “semua manusia adalah makhluk hidup”. Dari sini dapat dipahami bahwa kesimpulan terakhir silogisme bisa dibentuk kembali menjadi premis mayor, yang mampu membawahi konsep-konsep secara lebih spesifik, dengan kapasitas yang sebelumnya diperoleh dari data yang lebih luas. Akal mampu membuat penyatuan menyeluruh atas beragam kesimpulan yang sudah diperoleh sebelumnya, guna mendapatkan kesimpulan baru. Penyatuan tersebut menurut Kant, dianggap absolut. Absolut ditujukan untuk menandai bahwa sesuatu adalah valid secara internal, dan juga valid dalam setiap hubungannya.229 Dengan kata lain, Kant bermaksud menunjukkan bahwa penyatuan beragam kesimpulan akal sebagai sesuatu yang tetap dan mungkin pada dirinya. Di sisi lain, setiap kesimpulan itu memiliki keterkaitan, sehingga bisa dihubungkan satu dengan yang lain. Oleh karena itu, konsep transendental akal selalu menuntun pada totalitas absolut dalam sintesis atas kondisi-kondisi objek. Totalitas absolut tersebut bukan konsep yang digunakan dalam pengalaman. Tapi, berhubungan hanya dengan pemahaman yang memberi dasar-dasar aturan pengalaman. Kant menyebut totalitas absolut sebagai kesatuan akal dalam penampakkan (the unity of reason in appearances), dan
229
dibedakan dengan bentuk-bentuk kategori sebagai kesatuan pemahaman (the unity of understanding).230
Selama terjadi penyatuan dalam penampakkan, akal juga berupaya menghadirkan sesuatu yang universal dalam setiap hubungan penampakkan, yang terkait dengan: 1) relasi terhadap subjek; 2) hubungan dengan objek-objeknya, baik sebagai penampakkan, atau objek dalam pemikiran secara umum. Kant mengatakan bahwa dua hal tersebut dapat diperinci dengan mempertimbangkan ide atas representasi, yang berkaitan dengan: 1) hubungannya dengan subjek; 2) hubungan
dengan keragaman objek dalam penampakkan; 3) hubungan dengan semua hal
secara umum.231
Dari ketiga pembagian di atas, akal membuat kesatuan sintetis atas segala representasi. Akal bahkan membuat kesatuan sintesis yang tidak dikondisikan. Kendati ujung dari sintetis ini adalah semacam klaim metafisik, Kant tetap mengakuinya sebagai bagian dari kerja akal. Bagi Kant, ketiga hal tersebut membawahi ide transendental dalam tiga perincian yang berisi kesatuan absolut yang tidak dikondisikan: 1) kesatuan absolut pemikiran subjek; 2) kesatuan absolut
rangkaian kondisi penampakkan; 3) kesatuan absolut kondisi semua objek
pemikiran secara umum.232 Yang pertama adalah objek psikologi. Akal
menyediakan ruang bagi penjelajahan ide tentang jiwa rasional (psychologia
rasionalis), dalam bentuk sintesis kesatuan yang tidak dikondisikan, yakni ego permanen yang dipahami sebagai substansi. Yang kedua adalah objek kosmologi. Di sini akal berperan mendukung sains transendental dunia atau kosmologi rasional (cosmologia rasionalis). Akal membuat sintesis atas keragaman objek, yang terarah
230
Immanuel Kant, Critique of Pure Reason, h. 402 231
Immanuel Kant, Critique of Pure Reason, h. 405 232
pada kesatuan kausalitas yang tidak dikondisikan, sehingga berupa kosmologi spekulatif. Yang ketiga adalah objek teologi, sebagai basis rasional penalaran teologi (theologia rasionalis). Pada bagian terakhir ini, akal mencari kesatuan yang tidak dikondisikan dalam bentuk wujud tertinggi atas segala kemungkinan yang bisa dipikirkan. Di sini konsep Tuhan hadir sebagai penyatu segala sesuatu.
Namun, ketiga ide tersebut tidak ditunjang oleh pemahaman dengan objek dalam tatanan empiris. Ketiganya menjadi problem akal murni, karena tidak
memiliki deduksi objektif atas penampakkan.233 Ketiganya hanya merupakan
pengenalan subjektif setiap individu, atas dasar kemampuan alamiah akal.234 Hal seperti ini tidak bisa dihindari. Dengan ini Kant menjawab seseorang yang terpelajar sekalipun, bisa memiliki kecenderungan membuat totalisasi kesimpulan akal tanpa bukti empiris. Kant mengakui kecenderungan semacam ini.
Kant mengakui banyak kemungkinan jalur yang ditempuh guna menghasilkan kesimpulan akal. Pada dasarnya, akal menyediakan dasar teoritis, baik bagi pemikiran ilmiah yang berbasis pada premis-premis yang tepat dan akurat sesuai fakta, sekaligus juga struktur pemikiran yang tidak berpijak pada pengalaman empiris. Keduanya diakui bersumber dari akal. Susunan silogisme terakhir, disebut Kant kesimpulan yang menyesatkan (sophistical). Ini dibedakan dari yang pertama, yang disebutnya kesimpulan rasional (rational inferences).235