BAB IV KONSEP TRANSENDENTALISME
B. Konsep Ruang dan Waktu
Kant menegaskan pentingnya kedudukan pengalaman, sebagai sebuah cara agar konsep-konsep a priori bisa diwujudkan dalam dunia nyata. Bagi Kant, pemikiran membutuhkan konsep, sekaligus sesuatu agar konsep itu bisa diterapkan. Kant berkata bahwa pemikiran tanpa isi adalah kosong, dan intuisi
121
Immanuel Kant, Critique of Pure Reason, h. 146 122
tanpa konsep adalah buta.123 Misalnya, seseorang berpikir tentang rumah. Rumah dalam pikiran orang tersebut adalah sebuah konsep. Agar konsep bisa diketahui, dan dipahami, harus mampu diwujudkan dalam tataran empiris. Sesuatu bisa dinyatakan dalam tataran empiris, ketika seseorang sadar akan kehidupannya. Kesadaran tersebut berhubungan dengan objek di dalam pengalaman.
Menurut Kant, kesadaran diperoleh dari pengalaman, dan tidak ada kesadaran yang mendahului pengalaman. Bahkan dengan pengalaman kesadaran dimulai.124 Kesadaran itu selalu terarah kepada objek. Untuk dapat menangkap realitas, dibutuhkan kemampuan sensibilitas. Daya sensibiltas ini mengumpulkan sejumlah data dari luar, yang dengannya seseorang mampu mendapatkan informasi, guna dipikirkan untuk mendapatkan pemahaman. Bagi Kant, sensibilitas adalah kapasitas (penerimaan) untuk mencapai representasi atas objek-objek melalui suatu cara tertentu. Fungsi sensibiltas hanya menangkap dan tidak memberi penilaian atas penampakkan.
Kant menjelaskan bagaimana sebuah objek dapat diketahui subjek. Para filsuf sebelumnya berpendapat bahwa setiap bentuk penampakkan objek merupakan suatu cara di mana subjek yang mengamati objek. Subjek dengan susunan kesadaran tertentu, mendatangi objek untuk memperoleh pemahaman atas objek. Dalam pandangan Kant, yang terjadi adalah sebaliknya. Justru objek yang menampakkan dirinya kepada subjek. Subjek sebagai pengamat, menangkap adanya representasi dari objek. Pandangan ini dianggapnya sebagai sebuah terobosan baru dalam filsafat. Ia menyamakannya dengan revolusi Copernicus dalam ilmu alam. Kant berkata:
123
Immanuel Kant, Critique of Pure Reason, h. 193-194 124
“Hence let us once try whether we do not get farther with the problems of metaphysics by assuming that the object must conform to our cognition, which would agree better with the requested possibility of an a priori cognition of them, which is to establish something about objects before they are given to us. This would be just like the first thoughts of Copernicus, who, when he did not make a good progress in the explanation of the celestial motions if he assumed that the entire celestial host revolves around the observer, tried to see if he might not have greater success if he made the observer revolve and left the stars at rest. Now in metaphysics we can try in a similar way regarding the intuition of objects. If intuition has to conform to the constitution of objects, then I do not see how we can know anything of them a priori; but if the object (as an object of the senses) conforms to the constitution of our faculty of intuition, then I can very well represent this possibility to myself.”125
Daya sensibilitas merupakan kemampuan subjektif setiap individu. Efek dari objek atas kapasitas representasi yang dipengaruhi objek, oleh Kant disebut sensasi (sensation). Sedangkan intuisi yang berhubungan dengan objek melalui sensasi disebut empiris (empirical), dan objek-objek intuisi empiris yang sudah ditentukan batas-batasnya disebut penampakkan (appearance).126 Dalam proses hadirnya penampakkan, menurut Kant, terdapat dua bentuk fungsi murni intuisi sebagai prinsip kesadaran a priori: ruang dan waktu.127 Dua hal ini dijelaskan sebagai bagian dari estetika transendental. Dengan ini, posisi Kant cukup jelas. Ia
menolak rasionalisme yang mengutamakan aspek a priori, sekaligus tidak
125
“Oleh karena itu, mari kita upayakan apakah kita tidak melangkah lebih jauh dengan problem metafisik dengan mengasumsikan bahwa objek harus menyesuaikan dengan kesadaran kita, yang lebih baik dengan kemungkinan sebuah kesadaran a priori tentang mereka, yang harus menyusun sesuatu tentang objek sebelum mereka hadir kepada kita. Ini akan menjadi seperti pemikiran pertama Kopernikus, ketika ia tidak membuat kemajuan dalam pergerakan benda-benda langit, jika ia mengasumsikan semua benda-benda langit berevolusi mengitari pengamat (manusia di bumi), berusaha melihat apakah ia tidak memiliki keberhasilan besar jika membuat pengamat berevolusi dan membiarkan bintang-bintang tetap diam. Sekarang, dalam metafisik kita bisa mengusahakan hal yang sama berkenaan dengan intuisi objek. Jika intuisi harus berkesesuaian dengan susunan objek, saya tidak mengerti bagaimana mengetahui mereka secara a priori; tapi jika objek (sebagai objek inderawi) menyesuaikan dengan susunan fakultas intuisi kita, maka saya bisa dengan sangat baik menghadirkan kemungkinan ini kepada diri saya sendiri. ” Immanuel Kant, Critique of Pure Reason, h. 110
126
Immanuel Kant, Critique of Pure Reason, h. 155, 172 127
sependapat dengan empirisme yang memutlakkan pengalaman. Bagi Kant, kedua hal itu akan saling berpengaruh dalam terbentuknya pengetahuan.
Ruang bukan konsep empiris. Tapi, tempat segala bentuk penginderaan ditentukan batas-batas keluasannya. Dalam ruang, objek dapat dihubungkan satu dengan lainnya, dalam penampakkan dan bukan dalam benda pada dirinya. Ruang tidak bersifat diskursif. Tapi, intuisi murni a priori, yang menjadi dasar semua intuisi luar. Jika tidak ada ruang, maka tidak ada yang bisa hadir kepada subjek.128
Sama seperti ruang, waktu bukan konsep empiris yang didapat dari pengalaman. Waktu adalah kondisi formal a priori penampakkan secara umum. Secara tegas Kant menyatakan bahwa waktu adalah sesuatu yang riil, yakni
sebuah bentuk riil dari intuisi terdalam.129 Waktu mendasari kemungkinan prinsip
hubungan apodiktik waktu, atau aksioma secara umum. Dengan waktu, aktualisasi setiap penampakkan menjadi mungkin. Waktu hanya satu, tidak simultan, tetapi beruntut. Waktu tidak bisa menentukan batas penampakkan luar, atau bentuk dan posisi. Tapi, hanya menyajikan hubungan representasi keadaan terdalam.130
Hubungan antara ruang dan waktu adalah sebagai berikut. Waktu adalah
kondisi a priori semua penampakkan secara umum. Waktu menentukan kondisi
terdalam, yang menengahi kondisi terdalam dengan penampakkan luar. Sedangkan ruang, sebagai fungsi murni a priori intuisi luar, terbatas sebagai sebuah kondisi murni dengan intuisi luar. Oleh karena itu, bisa dikatakan bahwa setiap penampakan luar berada di dalam ruang dan ditentukan secara a priori
batas-batasnya oleh ruang. Dalam kaitan ini, semua penampakkan secara umum, yakni semua objek indera dalam keadaan terdalam berada di dalam waktu, dan
128 Immanuel Kant, Critique of Pure Reason, h. 175 129
Immanuel Kant, Critique of Pure Reason, h. 182 130
secara tepatnya berhubungan dengan waktu.131 Penegasan Kant tentang ruang dan waktu merupakan upaya mengukuhkan validitas objektif semua objek penampakkan.
Kant tidak sependapat dengan Newton yang menganggap ruang dan waktu itu riil dan absolut. Bagi Newton, ruang dan waktu dianggap riil karena berada di dunia nyata dan terlepas dari pikiran manapun, kecuali pikiran Tuhan. Disebut absolut, karena ruang dan waktu ada secara independen dan melekat pada diri subjek. Andaikata tidak ada hal-hal empiris pun, maka keduanya tetap ada. Kant juga tidak sependapat dengan Leibniz yang berpendapat bahwa ruang dan waktu keduanya adalah ideal dan relatif. Bagi Leibniz, ruang dan waktu hanya berkaitan dengan penampakan monad, sehingga bersifat ideal dan tidak riil. Namun, Leibniz tidak beranggapan bahwa ruang dan waktu tidak nyata. Ia hanya menganggap hal itu relatif.132 Contoh yang biasa ia berikan adalah fenomena pelangi. Bagi Leibniz, munculnya pelangi merupakan sebuah fenomena yang tidak bisa dikatakan riil. Hal itu hanya penampakan monad yang bersifat ideal, karena berkaitan secara relatif dengan sudut pandang tiap-tiap individu.
Menurut Kant, ruang dan waktu secara empiris riil dan secara transendental ideal.133 Disebut riil, karena ruang dan waktu berkaitan dengan penampakan objek-objek luar. Meskipun kedudukan penampakan tersebut sudah berupa sintesis antara unsur a posteriori dan a priori, namun penampakan adalah hal yang nyata dan bukan ilusi. Dengan penampakan itu, subjek mendapat informasi yang akan diteruskan ke dalam struktur a priori lain dalam dirinya.
131
Immanuel Kant, Critique of Pure Reason, h. 181 132
Georges Dicker, Kant’s Theory of Knowledge, h. 28 133
Frederick Copleston, A History of Philosophy, vol. 6, Wolff to Kant (Wellwood: Burn & Oates, 1999), h. 241
Disebut ideal, karena keduanya berada dalam tatanan a priori subjek. Ruang dan waktu memberi validitas dan menentukan batas-batas tertentu sejumlah data yang didapat dari luar. Salah seorang komentator Kant, H.J. Paton, menggambarkan
kedua hal itu seperti kaca mata biru yang dikenakan pada setiap orang.134 Dengan
kaca mata itu, apa pun yang dilihat subjek, akan terlihat dan disesuaikan dengan kondisi kaca mata yang berwarna biru. Dengan demikian, penampakan sudah merupakan sebuah sintesis atas unsur-unsur a posteriori dan a priori.
Menurut Kant, pandangan bahwa ruang dan waktu adalah absolut, tidak bisa dibenarkan. Ia menjelaskan:
“Those, however, who assert the absolute reality of space and time, whether they assume it to be subsisting or only inhering, must themselves come into conflict with the principles of experience. For if they decide in favor of the first (which is generally the position of the mathematical investigators of nature), then they must assume two eternal and infinite self-subsisting non-entities (space and time), which exist (yet without there being anything real) only in order to comprehend everything real within themselves. If they adopt the second position (as do some metaphysicians of nature), and hold space and time to be relation of appearance (next to or successive to one another) that are abstracted from experience though confusedly represented in this abstraction, then they must dispute the validity or at least the apodictic certainty of a priori mathematical doctrines in regard to real things (e.g. in space), since this certainty does not occur a posteriori, and on this view the a priori concepts of space and time are only creatures of imagination, the origin of which must really be sought in experience, out of whose abstracted relations imagination has made something that, to be sure, contains what is general in them but that cannot occur without the restrictions that nature has attached to them.”135
134
Georges Dicker, Kant’s Theory of Knowledge, h. 30 135
“Mereka, bagaimana pun, yang menetapkan realitas absolut tentang ruang dan waktu, apakah mereka mengasumsikannya untuk menjadi ketetapan atau hanya sesuatu yang melekat, menyebabkan mereka jatuh dalam konflik dengan prinsip-prinsip pengalaman. Karena jika mereka memutuskan memilih yang pertama (yang secara umum posisi penyelidik alam matematika), maka mereka harus mengasumsikan dua non-entitas yang mempertahankan diri, tak terbatas dan abadi (ruang dan waktu), yang ada (namun tanpa sesuatu yang riil) hanya agar meliputi segala yang riil dalam diri mereka sendiri. Namun, jika mereka mengadopsi pilihan kedua (sebagaimana yang dilakukan metafisikus alam), dan menganggap ruang dan waktu menjadi hubungan dari penampakan (berikut rangkaian dari satu ke yang lain) yang diabtraksikan dari pengalaman, malahan dihadirkan secara membingungkan dalam abstraksi ini, maka mereka harus membantah validitas atau setidaknya kepastian apodiktik dari doktrin-doktrin a priori matematika yang menyesuaikan dengan hal-hal yang riil (misalnya di dalam ruang), karena kepastian ini tidak terjadi secara aposteriori, dan dalam pandangan ini, konsep-konsep a priori ruang dan waktu
Penilaian absolut tentang ruang dan waktu tidak memberi penjelasan yang memadai, karena hanya menimbulkan sejumlah kebingungan menyangkut prinsip-prinsip pengalaman. Dengan alasan ini pula, Kant menentang pendapat idealisme dogmatik. Misalnya, pandangan Berkeley tentang objek dalam ruang yang hanya besifat imajinasi dan keberadaannya sangat ditentukan struktur subjek. Kant dengan sangat tegas mengatakan bahwa realitas yang ditangkap subjek adalah nyata, bukan ilusi, dan dapat menambah informasi kepada subjek menyangkut realitas terluar. Penolakan Kant terhadap Berkeley seperti penolakannya terhadap anggapan ruang dan waktu adalah relatif. Argumentasi yang diajukannya semisal dalam perhitungan geometri. Kant mencontohkan misalnya perhitungan, “garis lurus adalah jarak terpendek antara dua titik”.136
Geometri adalah ilmu yang menentukan sifat-sifat ruang secara sintetik dan a priori. Dalam perhitungan di atas, predikat “jarak terpendek antara dua titik”, tidak diperoleh dari data inderawi, melainkan a priori. Tidak juga predikat itu berisi di dalam subjeknya; tidak didapat dari analisis atas subjek. Tapi, predikat tersebut mampu memberikan informasi baru atas subjeknya, sehingga bersifat sintetik. Oleh karena itu, tidak benar bahwa perhitungan geometri didapat dari pandangan relatif. Tapi, berdasarkan pemikiran objektif tiap-tiap individu. Dengan demikian Kant mampu menghadirkan bukti kokoh bahwa ruang begitu ideal, dalam arti ia tidak didapat dari objek empiris, dan hanya diperoleh melalui intuisi subjek.137
hanya bentuk-bentuk majinasi. Asal usul tentangnya harus dicari dalam pengalaman, keluar dari imajinasi hubungan yang diabstrasikan membuat sesuatu, yakin, berisi apa yang umum dalam mereka. Tapi, itu tidak bisa terjadi tanpa pembatasan yang secara alamiah telah melekat kepada mereka. ” Immanuel Kant, Critique of Pure Reason, h. 184
136
Immanuel Kant, Critique of Pure Reason, h. 145 137
Dengan ruang dan waktu, Kant menganggap segala sesuatu yang diperoleh daya sensibiltas dari luar, sudah ditentukan batas-batasnya oleh kedua fungsi a priori tersebut. Dengan begitu, penampakan menjadi sesuatu yang sudah tidak murni benda pada dirinya. Kant menganggap penampakkan hanya sebuah
fenomena, bukan noumena. Fenomena berarti penampakkan, sejauh yang bisa
ditangkap subjek.138 Noumena adalah wujud benda pada dirinya sendiri.139
Fenomena berbeda dari noumena. Wujud benda pada dirinya sendiri adalah
sesuatu yang masih bersifat misteri, dan berada di luar jangkauan manusia.
Selanjutnya, setelah penampakan objek berada dalam ruang lingkup a priori
tersebut, ada hal lain yang harus dipenuhi sebelum bisa menghasilkan pengetahuan. Kant menyebutnya dengan istilah kategori sebagai turunan dari putusan-putusan.
C. Konsep Dua Belas Kategori sebagai Turunan (Derivation) Dua Belas