BAB IV KONSEP TRANSENDENTALISME
A. Kritik atas Rasionalisme dan Empirisme
Sistem epistemologis Immanuel Kant berupaya mengatasi persoalan yang ditinggalkan dan tidak terselesaikan dari kedua kutub, baik rasionalisme maupun empirisme. Ia berhasil memadukan unsur dari keduanya, menjadi sebuah sistem yang lebih kuat. Dalam beberapa hal, sebagian kalangan menilainya hanya sebagai eklektisis: orang yang hanya mengadopsi “sisa-sisa” pemikiran, kemudian meramunya kembali dengan sedikit tambahan, sehingga terlihat lebih bagus. Namun, pendapat itu kurang tepat. Kant menghasilkan pemikirannya dalam proyek filosofis yang disebutnya “filsafat kritis”, yang menandai arah baru upaya pencarian sistem epistemologi yang lebih jelas dan kokoh.104
Kritik dalam pemikiran Kant, dipahami sebagai sebuah cara berfilsafat yang dipertentangkan dengan dogmatisme. Kalangan dogmatis adalah para filsuf yang sudah mengandaikan begitu saja kemampuan rasio dalam mengolah pengetahuan. Sedangkan kritisisme merupakan sebuah terobosan dalam filsafat
yang mempertanyakan fungsi rasio, atau syarat-syarat kemungkinan (die
Bedigung der Möglichkeit) pengetahuan.105 Selain membahas sistem filsafatnya, Kant terlebih juga menguji sampai di mana batas-batas yang jelas dari akal, guna menghasilkan pengetahuan. Ia tidak begitu saja menerima kemampuan akal. Tapi, mencoba mendudukkannya lebih proporsional. Dengan begitu, sistem filsafat Kant berbeda dari sistem manapun.
104
Georges Dicker, Kant’s Theory of Knowledge: An Analytical Introduction (Oxford: Oxford University Press, 2004), h. 3
105
F. Budi Hardiman, Filsafat Barat Modern: Dari Machiavelli sampai Nietzsche (Jakarta: Gramedia, 2007), h. 133
Dalam beberapa hal, Kant sependapat dengan kaum rasionalis. Tapi, tidak seutuhnya menolak pandangan kaum empiris. Kant sepakat misalnya dengan pengalaman yang memberi isi pada pengetahuan. Tidak diragukan bahwa pengalaman adalah sumber pengetahuan. Namun, tidak semua unsur pengetahuan muncul dari pengalaman.106 Kant juga mendukung aspek a priori dari subjek.
Kedudukan Kant dengan kaum rasionalis adalah menegaskan batas-batas a
priori pengetahuan. Kant menolak pandangan kaum rasionalis, yang meyakini
adanya pengetahuan bawaan: Tuhan, keabadian jiwa, dan kebebasan.107 Baginya,
klaim atas hal tersebut tidak bisa dibuktikan. Pengetahuan membutuhkan bukti dan fakta, sehingga tidak hanya konsep abstrak. Pengetahuan berkaitan dengan data empiris yang bisa diuji. Pengetahuan ilmiah tidak bersifat subjektif, atau eksklusif, sehingga dapat diamati dengan kaidah tertentu oleh siapa pun.
Namun, Kant tidak menolak ketiga konsep metafisis tersebut. Secara alamiah, manusia memiliki kecenderungan meyakini sesuatu yang abstrak. Hal-hal yang abstrak contohnya sangat banyak. Semisal klaim-klaim moralitas, berguna untuk memberikan arah bagi kehidupan. Bisa jadi bagi sebagian orang, moralitas menuntun orang mendapatkan kebahagiaan. Metafisika sendiri menurut Kant disebut “natural predisposition” (kecenderungan alamiah).108 Kant tidak menolak adanya konsep metafisis apapun. Tapi, ia menempatkannya dalam bingkai di luar pengetahuan. Metafisika tidak bisa dikategorikan sebagai pengetahuan. Bagi Kant, pengetahuan hanya meluas berdasarkan pengalaman yang diraih. Sedangkan metafisika, berkaitan dengan sesuatu di luar hal fisik.
106
Immanuel Kant, Critique of Pure Reason, trans., Paul Guyer and Allen W. Wood (Cambridge: Cambridge University Press, 2000), h. 127
107
Georges Dicker, Kant’s Theory of Knowledge, h. 4 108
Dalam posisi ini, kedudukan Kant lebih condong dengan kaum empiris. Kaum empiris menganggap bahwa pengetahuan bisa didapat hanya lewat pengalaman.
Akan tetapi, Kant menolak prinsip utama kaum empiris bahwa pengetahuan hanya berasal dari persepsi inderawi atau dari kesadaran introspektif.
Baginya, manusia memiliki unsur a priori yang bisa membentuk pemahaman,
untuk menghasilkan pengetahuan. Kant lebih jauh mempertahankan pengetahuan dalam taraf “commonsense” sehari-hari.109 Dari sini dapat dikatakan bahwa
serangan tajam Hume terhadap pengetahuan dalam taraf “commonsense”,110
diangkat kembali oleh Kant. Konsep-konsep a priori tersebut bisa menghasilkan
pengetahuan, hanya jika diterapkan dalam pengalaman aktual. Konsep-konsep tersebut tidak menghasilkan pengetahuan metafisis, dan sama sekali lepas dari unsur-unsur abstrak. Dengan kata lain, konsep sebab akibat misalnya, tidak bisa diberlakukan untuk pengujian atas keberadaan Tuhan. Tuhan adalah konsep abstrak, yang mengacu pada sesuatu yang transenden. Tuhan berada di luar batas pengalaman, sehingga tidak bisa diselidiki dengan perangkat a priori tersebut.
Menurut beberapa komentatornya, proyek epistemologis Kant dapat
diringkas dalam upaya menjawab pertanyaan: Bagaimana putusan sintetik a priori
itu mungkin?111 Kant menegaskan pernyataannya sebagai berikut:
“One has already gained a great deal if one can bring a multitude of investigations under the formula of a single problem. For one thereby not only lightens one’s own task, by determining it precisely, but also the
109
Georges Dicker, Kant’s Theory of Knowledge, h. 4 110
Istilah commonsense sebagai pemahaman yang berasal dari pikiran sehat sehari-hari yang sudah menjadi kebiasaan, misalnya keniscayaan kausalitas. Hal itu yang mendapat serangan Hume. Thomas Mautner (ed.), The Penguin Dictionary of Philosophy (London: Penguin Books Ltd., 2000), h. 256
111
Salah seorang pengkaji Kant, P.F. Strawson, memiliki pandangan berbeda dari beberapa komentator lainnya. Ia tidak mereduksi proyek epistemologis Kant pada upaya menjawab putusan sintetik a priori, melainkan pada pertanyaan: Apa yang bisa kita ketahui tentang struktur pengalaman yang bisa dipahami oleh kita sendiri? Georges Dicker, Kant’s Theory of Knowledge, h. 45
judgment of anyone else who wants to examine whether we have satisfied our plan or not. The real problem of pure reason is now contained in the question: How are synthetic judgments a priori possible?”112
Para filsuf sebelum Kant, baik kalangan rasionalis, maupun empiris, membantah kemungkinan adanya putusan sintetik a priori. Kalangan rasionalis menganggapnya tidak mungkin. Sebaliknya, kalangan empiris menganggap hal itu sebagai tidak bisa dipahami.113
Secara garis besar, kalangan rasionalis dan empiris setuju terdapat putusan analitik a priori, dan sintetik a posteriori. Putusan analitik diartikan sebagai putusan yang kebenaran dari putusan itu didapatkan dari analisis kata-kata yang menyusun putusan tersebut. Putusan semacam ini hanya berkaitan dengan kegunaan linguistik, dan atau menjelaskan konsep komponen yang sebenarnya sudah berada di dalam subjek. Putusan ini tidak memberi nilai tambah apa-apa terhadap realitas di luar subjek. Dengan kata lain, predikat dalam putusan itu sudah berada dalam subjeknya. Putusan semacam ini disebut juga putusan klarifikasi.114 Kant mencontohkan putusan ini dalam kalimat, “tubuh meluas” (memiliki bentuk dan ukuran). Dalam kalimat ini, kebenaran infomasi sudah didapat dalam subjeknya, dan bahkan tidak memerlukan observasi. Pasalnya, setiap tubuh sudah menjadi keniscayaan memiliki ukuran dan bentuk. Bahkan jika misalnya tidak ada tubuh sama sekali, putusan tersebut bisa diterima.115 Oleh karena itu, putusan analitik bersifat a priori.
112
“Seseorang sudah mendapatkan kemajuan besar, jika ia bisa membawa keragaman penyelidikan di bawah formula dalam sebuah masalah. Karena dengan begitu, ia tidak hanya mencerahkan tugasnya sendiri, dengan menentukannya secara tepat, tapi juga putusan dari orang lain yang menginginkan untuk menguji apakah ia telah memuaskan rencana kita atau tidak. Problem yang sebenarnya dari akal murni, sekarang terdapat dalam pertanyaan berikut: Bagaimana putusan sintetik a priori itu mungkin?” Immanuel Kant, Critique of Pure Reason, h. 146
113
Georges Dicker, Kant’s Theory of Knowledge, h. 16 114
Immanuel Kant, Critique of Pure Reason, h. 141 115
Sedangkan putusan sintetik adalah sejenis putusan yang predikatnya mampu menambah sesuatu kebenaran baru pada subjek. Putusan semacam ini disebut juga putusan amplifikasi.116 Dalam putusan ini, predikat tidak berada dalam subjeknya. Contohnya dalam kalimat, “semua tubuh berat” (memiliki berat). Predikat putusan tersebut, berisi informasi baru yang sebelumnya tidak terdapat di dalam subjek. Konsep berat, berhubungan dengan sesuatu di luar subjek. Selain itu, putusan ini mencakup pula semua putusan yang berkaitan dengan pengalaman. Karena berisi informasi baru, maka realitas empiris ikut menentukan kebenaran putusan tersebut. Hal ini mengindikasikan, jika kalimat, “semua tubuh berat”, dinyatakan dalam ruang yang tidak ada daya gravitasi, maka putusan tersebut dapat dianggap tidak benar.117
Selanjutnya, antara kaum rasionalis dan empiris sepakat tidak adanya putusan analitik a posteriori. Putusan analitik berkaitan dengan analisis konsep komponen subjek, sehingga tidak menambah informasi baru. Putusan analitik pada gilirannya selalu a priori. Sedangkan a posteriori merujuk pada pembuktian kebenaran dengan menambah informasi baru di luar subjek, serta dikaitkan dengan kenyataan empiris. Istilah a priori dan a posteriori merupakan dua bentuk penalaran berbeda, yang sudah dimulai sejak masa Aristoteles.118
Kant sepakat dengan kaum rasionalis dan empiris mengenai ketiga putusan
di atas. Namun, ia menolak bahwa putusan sintetik a priori tidak mungkin. Kant
mencontohkan misalnya penalaran matematika, perhitungan 7+5 = 12. Jumlah 12
adalah hasil penalaran yang tidak diperoleh dari analisis angka 7 dan 5. Jumlah 12
adalah informasi baru. Selain itu, proposisi matematis selalu bersifat a priori,
116
Immanuel Kant, Critique of Pure Reason, h. 141 117
Georges Dicker, Kant’s Theory of Knowledge, h. 13 118
karena mereka membawa keniscayaan dalam dirinya, yang tidak didapat dari aspek empiris.119 Proposisi aritmatika selalu sintetis. Oleh karena itu, selain
analisis atas konsep, Kant mengatakan bahwa jumlah 12 tersebut diperoleh
dengan bantuan intuisi.
Selain matematika, contoh lain misalnya, dalam penalaran pengetahuan alam (Physica). Prinsip-prinsip fisika dalam dirinya berbentuk putusan sintetik a priori. Misalnya, proposisi “semua perubahan dalam dunia fisik tidak merubah kuantitas materi”, atau “semua hubungan efek yang bergerak dan efek yang berlawanan selalu sama”. Kedua proposisi tersebut, menurut Kant adalah putusan sintetik a priori. Pada proposisi pertama, konsep “berubah” tidak diperoleh dari analisis atas konsep materi. Materi dapat dikenali dengan kehadirannya di dalam ruang, sehingga perubahan berarti menambahkan sesuatu di luar subjek. Begitu pula konsep “sama” dalam proposisi kedua, tidak diperoleh atas analisis semata, tetapi, melampaui batas konsep yang dituju. Dengan begitu, kedua proposisi tersebut adalah hasil sintesis. Selain itu, konsep berubah pada proposisi pertama dan konsep sama dalam proposisi kedua, tidak diperoleh melalui penginderaan secara langsung. Tapi, sudah merupakan hasil pemikiran. Dengan demikian, berlaku a priori.120
Contoh lainnya adalah metafisika. Misalnya putusan, “dunia diciptakan oleh Tuhan”, “manusia memiliki jiwa”, atau “di dunia ini terdapat kebebasan”. Bagi Kant, konsep tentang Tuhan, keabadian jiwa, kebebasan, dan sebagainya adalah sesuatu yang tidak bisa dibuktikan lewat pengalaman, karena abstrak. Kant menyerang kaum rasionalis yang menyangkal ketidakmungkinan putusan hal
119
Immanuel Kant, Critique of Pure Reason, h. 144 120
semacam itu, berdasarkan pertimbangan analitik. Ia juga sekaligus membantah kalangan empiris, yang menentang ketidakmungkinannya dari sisi a posteriori. Tapi, ketiga konsep: Tuhan, jiwa, dan kebebasan, merupakan informasi yang tidak diperoleh dari pengalaman, dan mampu memberi informasi baru sehingga berupa sintesis, atau lengkapnya berbentuk sintetik a priori.121
Di sini perlu dipahami bahwa a priori dalam pengertian Kant bukan berarti sesuatu yang tidak bisa dijelaskan dengan bukti-bukti empiris. Konsep
dalam matematika atau pun dalam ilmu alam, kendati a priori namun selalu bisa
diwujudkan dalam realitas empiris. Yang dimaksud a priori di sini adalah dapat diketahui secara independen atau tidak tergantung pada pengalaman. Namun, bukan berarti lepas sama sekali dari pengalaman. Mungkin seseorang mengetahui konsep dalam ilmu alam, atau perhitungan bahwa 2+6 = 8 dari membacanya di dalam buku, atau mungkin seseorang tahu dan paham pernyataan dalam kaidah tertentu yang memerlukan pembelajaran, sehingga mencakup proses yang melibatkan pengalaman. Oleh karena itu, maksud pengetahuan independen dari pengalaman adalah bisa diketahui tanpa pengalaman, kecuali untuk pengalaman yang diperlukan untuk mempelajari istilah-istilah penyusun konsep tertentu.122