BAB IV KONSEP TRANSENDENTALISME
C. Konsep Dua Belas Kategori sebagai Turunan ( Derivation ) Dua
Menurut para pengkajinya, sistem filsafat Kant disebut juga filsafat
transendental.140 Transendental di sini diartikan sebagai sistem, yang
menghendaki upaya pencarian a priori dalam menjelaskan proses terjadinya
pengetahuan. Unsur-unsur a priori tersebut menandai sebuah penelusuran
menyeluruh terkait hakikat subjek atas pengetahuan yang diperolehnya. Pada
tahap ini, Kant menggunakan kata Verstand atau pemahaman—sebagai tahap
kedua yang harus dilalui untuk munculnya pengetahuan setelah tahap indera (Sinnlichkeit).
138
Immanuel Kant, Critique of Pure Reason, h. 360 139
Immanuel Kant, Critique of Pure Reason, h. 362 140
Kant memberikan batas yang jelas tentang kedudukan kesadaran a priori
subjek atas kehidupannya. Kesadaran a priori itu disebut transendental, karena lepas dari objek empiris. Namun, tidak setiap kesadaran a priori disebut transendental. Hanya kesadaran yang memberikan arah bagaimana representasi, baik intuisi atau konsep, dapat diterapkan secara keseluruhan a priori. Bukan ruang, waktu, atau penentuan-penentuan geometri yang disebut representasi transendental. Melainkan hanya kesadaran terhadap representasi-representasi hal-hal tersebut, yang hakikat asal-usulnya tidak diperoleh dari pengalaman, dan
kemungkinan mereka dapat dihubungkan secara a priori terhadap objek-objek
empiris. Oleh karena itu, objek-objek sensibiltas yang berada di dalam ruang maupun waktu, tidak bisa disebut transendental, melainkan empiris. Tapi, fungsi ruang dan waktu yang memberi batas terhadap objek-objek tersebut, disebut transendental. Singkat kata, yang membedakan antara yang transendental dan yang empiris berkaitan dengan kritik kesadaran, dan tidak berkaitan dengan
hubungan mereka dengan objek-objeknya.141 Dari sini dengan jelas bahwa filsafat
transendental Kant, mengupas aspek-aspek a priori subjek secara lebih tajam dan
dalam.
Bagi Kant, hal terpenting bagi munculnya kesadaran terletak pada:
Pertama, penerimaan representasi objek-objek. Kedua, fakultas yang bekerja memahami sebuah objek melalui representasi tersebut. Melalui yang pertama, segala objek hadir dan diterima oleh daya sensibilitas. Melalui yang kedua, segala representasi itu dipikirkan dalam skala luas hubungan-hubungannya yang disesuaikan dengan pikiran. Intuisi dan konsep adalah dua hal yang menyusun
141
elemen-elemen terciptanya kesadaran. Objek-objek yang berada dalam representasi, disebut empiris jika masih tercampur dengan sensasi. Sedangkan jika sensasi sudah disisihkan dari representasi, maka disebut murni. Hal terakhir ini
disebut materi kesadaran.142 Untuk terciptanya kesadaran, tidak saja
membutuhkan intuisi, tapi juga adanya konsep. Intuisi murni hanya berisi bentuk-bentuk sesuatu yang diintuisikan. Sedangkan konsep murni adalah bentuk-bentuk pemikiran dari objek secara umum. Kedua hal ini bersifat a priori.
Fakultas yang bekerja untuk pemikiran objek intuisi adalah pemahaman. Bagi Kant, jika tidak ada sensibilitas, maka tak ada objek yang bisa hadir. Sebaliknya, tanpa pemahaman, tidak ada objek yang bisa dipikirkan. Kedua hal tersebut tidak bisa disamakan, dengan fungsinya masing-masing yang tetap dan tidak berubah. Pemahaman tidak bisa mengintuisi sesuatu, dan indera tidak bisa memikirkan objek-objek yang diperolehnya. Hanya melalui perpaduan keduanya, kesadaran bisa muncul.143 Lebih jauh Kant menganggap bahwa fungsi a priori
kedua hal tersebut begitu jelas, tapi perlu kehati-hatian agar tidak bercampur satu sama lain. Ia menganalogikan kedua hal tersebut dengan pengetahuan tentang aturan sensibiltas secara umum, yakni estetika, dan pengetahuan tentang aturan-aturan pemahaman secara umum, yakni logika. Perhatian Kant selanjutnya berkaitan dengan logika kesadaran subjek. Logika kesadaran subjek merupakan proses pemikiran dalam mengolah data untuk menghasilkan pengetahuan.
Jika kita mengikuti penjelasan Kant secara menyeluruh, akan didapati bahwa ia membagi logika menjadi tiga bentuk: logika umum, logika sebagai kegunaan khusus dari pemahaman, dan logika transendental. Yang pertama
142
Immanuel Kant, Critique of Pure Reason, h. 193 143
disebut logika dasar. Pengetahuan ini berisi aturan-aturan pemikiran secara absolut, tanpa memperhatikan perbedaan perhatian tentang objeknya. Logika umum bisa berbentuk logika murni dan terapan. Melalui yang pertama, kondisi empiris diuji oleh pemahaman, dari hal-hal seperti pengaruh inderawi, imajinasi, hukum memori, kebiasaan, kecenderungan, dan sebagainya. Logika murni berkaitan dengan prinsip-prinsip a priori yang diberlakukan secara ketat, dan
menjadi canon (hukum) pemahaman serta nalar.144
Namun, perhatiannya hanya tertuju pada formalitas kegunaan mereka dengan data empiris atau transendental. Logika umum disebut terapan, jika diarahkan pada seperangkat aturan atas kegunaan kondisi empiris subjektif seseorang. Logika ini memiliki seperangkat prinsip empiris, meskipun perhatiannya menyangkut kegunaan pemahaman tanpa memperhatikan perbedaan
objeknya. Singkat kata, logika ini bukan canon pemahaman, bukan juga organon
bagi suatu pengetahuan, melainkan hanya berupa chatartic (pembersih)145
pemahaman umum.146
Logika yang kedua disebut juga organon, atau logika sebagai alat bagi sebuah pengetahuan. Logika ini berisi aturan pemikiran, terkait kebenaran mengenai objek perhatiannya. Dengan logika ini, pengetahuan seseorang bisa mengalami peningkatan: menemukan terobosan berharga untuk kesempurnaan dalam penyelidikan dan pengembangan ilmu. Perhatian Kant kemudian lebih tertuju pada bentuk logika yang terakhir, yakni logika transendental, sebagai bagian tertinggi dari logika kesadaran.
144
Immanuel Kant, Critique of Pure Reason, h. 194 145
Kata cathartic merujuk pada kalimat catharsis yang pernah digunakan Aristoteles mengenai efek emosional yang dihasilkan alunan musik dalam upacara keagamaan. Thomas Mautner (ed.), The Penguin Dictionary of Philosophy, h. 89-90
146
Logika transendental menjadi arah bagi penjelasan kenapa munculnya
konsep a priori dalam diri subjek. Logika transendental adalah pengetahuan yang
menentukan asal-usul, wilayah, dan validitas objektif kesadaran. Logika transendental hanya berurusan dengan hukum-hukum pemahaman dan akal, sejauh kedua hal ini berkaitan dengan objek-objek secara a priori. Logika transendental tidak seperti halnya logika umum, atau tipe logika kedua yang berfungsi sebagai alat. Logika transendental berhubungan, baik dengan hal empiris maupun kesadaran akal dengan tanpa perbedaan,147 serta bukan menjadi alat semata. Secara keseluruhan, logika transendental terbagi menjadi dua: analitik transendental dan dialektik transendental.
Analitik transendental merupakan bagian dari logika transendental yang menguraikan elemen-elemen kesadaran murni pemahaman dan prinsip-prinsip, yang tanpanya tak ada objek yang bisa dipikirkan.148 Objek dalam hal ini sudah
terlepas dari unsur luar dan berada dalam wilayah a priori. Kant membandingkan
logika transendental ini dengan estetika transendental. Yang pertama berurusan dengan upaya memisahkan pemahaman dari unsur-unsur luar, dan yang kedua mengisolasi data inderawi dalam ruang dan waktu dari sensibilitas. Kegunaan analitik transendental adalah menemukan suatu hukum dan prinsip murni, mengenai kesadaran subjek atas pemahaman yang telah diisolasi dari aspek empirisnya. Dengan begitu, pemahaman akan menemukan legitimasi keabsahan
informasi mengenai hubungan antara objeknya secara a priori.
Adapun dialektik transendental berkaitan dengan kritik dialektik ilusi pemahaman. Di sini kritik diarahkan kepada pemahaman dan akal, yang kerap kali
147
Immanuel Kant, Critique of Pure Reason, h. 196-197 148
mendasarkan perkiraan pada ilusi. Kritik ini bertujuan agar pemahaman lepas dari pengaruh cara berpikir yang keliru, dengan menemukan kesalahan perkiraan yang didapat tanpa penelusuran memadai terkait klaim kebenarannya. Kritik diakhiri pada titik kulminasinya, guna mencapai prinsip-prinsip transendental yang memberi penilaian dan mengevaluasi pemahaman murni, menuntun pemahaman melawan tipu muslihat yang menyesatkan.149 Dialektika transendental adalah proses terakhir setelah analitik transendental. Pada tahap ini, semua yang sudah dimurnikan pada wilayah analitik, disatukan guna mencapai kesatuan menyeluruh. Dalam analitik transendetal, analisis ditujukan pada kesadaran murni a priori ke dalam elemen-elemen kesadaran pemahaman murni. Kant menjelaskan beberapa poin terkait analisis tersebut sebagai berikut: 1) konsep-konsep yang digunakan bersifat murni dan tidak empiris; 2) konsep tersebut bukan berasal dari
intuisi, ataupun sensibilitas, melainkan pemikiran dan pemahaman; 3) merupakan
konsep elementer dan bisa secara jelas dibedakan dari turunannya, atau dari
percampurannya; 4) skema konsep tersebut bersifat sempurna dan secara
keseluruhan menghabiskan keseluruhan pemahaman murni.150 Dari kejelasan
konsep ini, pemahaman murni tidak saja memisahkan dirinya dari sesuatu yang empiris, tapi bahkan dari sensibilitas. Melalui konsep murni, akan didapatkan keseluruhan kesadaran pemahaman. Pembahasan berikutnya akan menguraikan seputar konsep pemahaman murni, dan setelahnya dijelaskan prinsip-prinsip yang mengatur konsep tersebut.
Antara konsep pemahaman murni dan prinsip-prinsipnya harus ada hubungan yang memadai. Hubungan itu berjalan timbal-balik, dan menandai
149
Immanuel Kant, Critique of Pure Reason, h. 200 150
kejelasan antara kesempurnaan keseluruhannya secara a priori. Bagi Kant, munculnya kesadaran diperoleh lewat pemahaman tentang sesuatu yang sudah terbentuk dalam konsep-konsep. Munculnya konsep tersebut, terjadi setelah adanya penelusuran secara mendalam terkait beragam hal. Dengan begitu, kesadaran diperoleh melalui diskursif, bukan intuitif.151 Ia hadir diupayakan dengan kemampuan akal, bukan seketika dari luar.
Setiap konsep dalam pemahaman bekerja dengan fungsinya masing-masing. Melalui fungsi tersebut, pemahaman bekerja di bawah kesatuan aksi
terhadap representasi yang berbeda-beda di bawah satu kesamaan (a common
one).152 Konsep-konsep tersebut berjalan sebagai pemikiran yang spontan, dan seketika. Perbedaannya dengan intuisi, yakni intuisi bekerja dalam tahap penerimaan kesan-kesan dari luar secara seketika. Sedangkan konsep, merupakan pemikiran secara langsung terhadap data yang sudah diserap indera. Pemikiran membuat putusan terhadap data yang sudah didapat dari luar. Selain itu, yang
membedakan intuisi dari konsep a priori, yakni intuisi hanya berhubungan dengan
objek yang diintuisikan. Adapun konsep, selain berhubungan dengan objek yang dipikirkan, juga berhubungan dengan sejumlah representasi yang lain dalam konsep-konsep yang beragam. Oleh karena itu, dibutuhkan adanya penghubung antara konsep dengan objek-objek representasi tersebut. Kesadaran terhadap objek, tidak serta merta datang secara langsung, tapi diupayakan lewat pemikiran, berupa putusan. Putusan menengahi antara konsep dan objek representasi.
Menurut Kant, dalam setiap putusan terdapat konsep yang berkaitan dengan banyak hal, termasuk yang hadir tanpa diupayakan (given). Misalnya
151
Immanuel Kant, Critique of Pure Reason, h. 205 152
putusan, “semua tubuh bisa dibagi”. Menurut Kant, konsep bisa dibagi berhubungan dengan konsep-konsep yang lain, misalnya dengan tubuh, bentuk, berat, atau penampakan—sesuatu yang hadir tanpa diupayakan. Objek dalam putusan tersebut, dihadirkan melalui konsep dalam keterbagian. Semua putusan pada dasarnya sama seperti itu. Contoh lain seperti konsep, “kuda”. Untuk bisa mengerti tentang kuda, contoh empiris bisa dengan mudah dihadirkan, yakni berupa bentuk fisik dari kuda, dan penjelasan bahwa kuda adalah hewan herbivora. Namun, fakta empiris saja tidak cukup. Putusan mengarahkan sejumlah penyelidikan abstrak, yang mengikat setiap jenis hewan yang menyerupai konsep kuda. Dalam hal ini, diperlukan penyelidikan secara logis, bahwa jika A adalah B, dan B adalah C, maka A adalah C. Penjelasan silogistik semacam ini, menurut Kant tidak didapatkan dari fakta empiris, melainkan murni a priori.153
Putusan apapun selalu merupakan fungsi-fungsi kesatuan di antara representasi, yang memungkinkan adanya representasi hal yang lebih luas atas hal-hal yang bersifat partikular. Karena kesadaran terhadap objek dimediasi oleh putusan, sehingga bisa dikatakan bahwa pemahaman adalah fakultas untuk
memutuskan (faculty for judging).154 Dengan demikian, segala bentuk pemikiran
pada dasarnya tidak bisa lepas dari putusan-putusan.
Putusan berada dalam skala rasional, yang bekerja dalam memberikan informasi terkait objek yang hadir melalui intuisi. Menurut Kant, jika kita mengabstraksikan isi semua putusan secara umum, dan sampai pada bentuk
pemahaman murni, akan ditemukan bahwa fungsi pemikiran dapat
153
Georges Dicker, Kant’s Theory of Knowledge, h. 52 154
dikelompokkan ke dalam empat jenis putusan. Tiap jenis putusan membawahi tiga keadaan (moment). Daftar putusan tersebut dijelaskan berikut ini155:
. Putusan Kuantitas Universal Partikular Singular . .
Putusan Kualitas Putusan Relasi
Affirmative Kategoris
Negative Hipotetis
Ketidakterbatasan (infinite) Disjunktif
.
Putusan Modalitas
Problematis Penegasan (Assertotic) Keniscayaan (Apodictic)
Putusan yang pertama adalah kuantitas. Putusan ini berkaitan dengan jumlah sesuatu. Sudah diketahui secara umum bahwa bilangan sesuatu berhubungan dengan sifat keumuman, kekhususan, atau kesatuan. Kant menyebut yang pertama putusan universal. Yang kedua disebut partikular. Yang ketiga disebut singular. Ketiganya saling berkaitan, dan menentukan jumlah sesuatu sebagai tujuannya. Contoh putusan universal semisal, “semua makhluk hidup pasti mati”. Dalam putusan ini, subjek makhluk mencakup segala sesuatu yang bernyawa, tanpa pengecualian. Hal ini dapat dipahami secara sederhana. Tapi, perlu diperhatikan bahwa tiap-tiap putusan tidak bekerja sendiri-sendiri,
melainkan bersamaan dengan putusan-putusan lainnya.156 Misalnya dalam contoh
di atas, “semua makhluk hidup pasti mati”. Proposisi ini tidak saja merupakan
155
Immanuel Kant, Critique of Pure Reason, h. 206 156
contoh putusan universal, tapi juga mengandung maksud putusan affirmatif, kategorikal, dan apodiktif.
Selanjutnya adalah putusan partikular. Misalnya jika bentuk subjek dalam contoh di atas diubah menjadi, “manusia pasti mati”. Maksud dalam kalimat ini hanya berlaku pada jenis makhluk hidup yang disebut manusia, sehingga mengecualikan makhluk lainnya. Putusan jenis ini disebut partikular, karena bersifat khusus. Selain itu, juga berisi maksud putusan affirmatif, kategoris, dan apodiktif. Kemudian, ketika subjek putusan itu diubah menjadi nama pribadi seperti, “Budi pasti mati”, maka predikat dalam putusan ini hanya mencakup sosok tertentu. Kalimat ini termasuk dalam putusan singular, affrimatif, kategoris, dan apodiktif.
Bagian kedua adalah putusan kualitas. Putusan ini memiliki tiga bentuk.157
Yang pertama adalah affirmatif, atau pengakuan. Pengakuan dimaksud pencakupan terhadap sesuatu. Misalnya putusan, “jiwa adalah elemen bagi makhluk hidup”. Dalam putusan ini, predikatnya memberi pengakuan tentang suatu hal, yakni makhluk hidup. Putusan ini dikategorikan affirmatif, karena mengandung makna penyetujuan. Selain itu, juga mengandung maksud putusan singular, kategoris, dan apodiktif.
Namun, jika contoh tersebut diubah dalam bentuk penolakan menjadi, “jiwa bukan elemen bagi makhluk hidup”, maka menjadi contoh putusan negatif, singular, kategoris, dan problematik. Tapi, Kant tidak berhenti dalam wilayah ini. Baginya, jika suatu kalimat ditarik lebih jauh, maka dapat diketahui bahwa maknanya berada dalam bentuk yang lebih luas tak terbatas. Misalnya dikatakan,
157
“itu bukan makhluk hidup”. Kalimat ini mencakup segala hal yang bukan makhluk hidup, dan tidak terbatas (infinite). Kalimat tersebut, juga berisi maksud putusan singular, kategoris, dan apodiktif.
Sejak awal, Kant menyadari adanya hubungan yang mengikat antara berbagai proposisi. Hubungan tersebut juga turut menandai kejelasan makna. Hal ini disebutnya putusan relasi. Kant membaginya menjadi: kategoris, hipotetis, dan disjunktif. 158 Yang pertama adalah putusan yang terdiri dari subjek dan predikat. Dua komponen ini membentuk sebuah putusan, tanpa disertai unsur lain dari luar. Contohnya seperti kalimat yang sudah disebutkan di atas, “manusia pasti mati”. Putusan ini dibentuk dalam susunan subjek-predikat, dalam bentuk satu proposisi, serta dapat memberi makna tanpa mengaitkan unsur-unsur lain dari luar. Selain itu, juga berisi makna putusan singular, affirmatif, dan apodiktik.
Yang kedua adalah putusan yang dibentuk oleh dua proposisi. Jika yang ada hanya satu, maka tidak bisa memberi makna secara sempurna. Artinya, keniscayaan hubungan kedua proposisi, menjadi unsur luar yang harus ada agar terbentuknya keseluruhan makna. Misalnya putusan, “air mendidih, karena dipanaskan sampai 100 derajat celcius”. Putusan ini terdiri dari dua proposisi, yang bermakna secara sempurna dengan susunan dua proposisi. Meskipun demikian, tiap-tiap proposisi sudah mengandung putusan sendiri, yakni singular, dan problematis. Yang ketiga adalah putusan yang dibentuk dari banyak proposisi. Misalnya putusan, “dunia ada, apakah melalui kesempatan buta, atau melalui keniscayaan terdalam, atau karena sebab abadi”. Susunan kalimat ini secara keseluruhan termasuk putusan disjunktif. Artinya, jika dunia terwujud tidak
158
menurut proposisi pertama, atau menurut proposisi kedua, atau ketiga, tidak ada kejelasan. Dalam putusan itu, tidak ada kontradiksi, sehingga termasuk jenis putusan disjunktif tidak sempurna. Ketiga proposisi tersebut menempati putusan-putusan tertentu, yakni yang pertama singular, affrimatif, dan apodiktif; yang kedua dan seterusnya adalah bentuk putusan singular, affirmatif, dan problematis.
Bagian yang terakhir, yakni putusan modalitas, tidak memberikan penjelasan tentang isi dari putusan. Putusan modalitas hanya berkenaan dengan masalah nilai copula159
(pengikat), dalam hubungan dengan pemikiran secara
umum.160 Kant mengakui bahwa putusan modalitas tidak selalu dinyatakan dalam
ungkapan linguistik secara eksplisit.161 Putusan ini terbagi menjadi tiga: problematik, assertotik, dan apodiktik. Misalnya dapat dilihat dalam kalimat, “jika ada keadilan sejati, maka iblis jahat harus dihukum”. Dalam putusan ini, informasi yang dijelaskan berisi suatu maksud yang dikaitkan dengan kondisi subjek. Dalam putusan problematis, analisis diarahkan pada kemungkinan dan ketidakmungkinan informasi. Perlu ditegaskan di sini bahwa semua putusan modalitas selalu
arbitrary. Artinya, memberi ruang terjadinya kemungkinan pemahaman menurut selera tertentu dari subjek. Putusan ini hanya berkesesuaian dengan sikap subjek, daripada isi putusan itu sendiri.162 Sehingga munculnya pemahaman berbeda, tetap bisa diterima. Dalam hal ini, kemungkinan terciptanya keadilan sejati sehingga iblis jahat bisa dihukum, atau justru sebaliknya tidak ada keadilan sejati, menjadi wilayah persoalan bagaimana sikap subjek ketika menyatakan putusan.
159Copula
adalah ekspresi dalam kalimat, yang mengikat antara subjek dengan predikat. Tapi, jika predikat sudah melekat dengan subjeknya, maka copula tidak dibutuhkan lagi. Thomas Mautner (ed.), The Penguin Dictionary of Philosophy, h. 113
160
Immanuel Kant, Critique of Pure Reason, h. 209 161
Paul Guyer, Kant (New York: Routledge, 2007), h. 74; Lihat juga, A.C. Ewing, A Short Commentary on Kant’s Critique of Pure Reason (Chicago: Chicago University Press, 1984), h. 142
162
Kemungkinan apapun bisa terjadi, sejauh dipahami dalam ruang lingkup subjek. Meskipun demikian, masing-masing dari dua proposisi tersebut, merupakan bentuk putusan tersendiri. Yang pertama adalah singular, affirmatif, dan problematik. Sedangkan bagian kedua adalah putusan singular, affirmatif, dan assertotik.
Putusan modalitas kedua, yakni assertotik, berhubungan dengan informasi penegasan atau pun fakta aktual.163 Misalnya dicontohkan berikut, “Immanuel Kant lahir di Königsberg”. Putusan ini membatasi informasi yang berisi fakta dalam kenyataan. Selain itu, kalimat ini juga termasuk putusan singular, dan affirmatif. Sedangkan bagian ketiga, yakni apodiktik, adalah putusan yang berisi keniscayaan. Misalnya dalam kalimat, “manusia pasti mati”. Putusan ini berkaitan dengan informasi yang bersifat niscaya bahwa manusia pasti mati. Kendati putusan modalitas terkait dengan kehendak subjek, isi putusan apodiktif diarahkan untuk menjelaskan sesuatu yang bersifat niscaya berdasarkan pada pertimbangan rasional. Selain itu berisi apodiktif, kalimat tersebut juga berisi putusan partikular, affirmatif, dan kategorikal.
Dengan ketiga bentuk putusan modalitas, proses pemikiran dapat dijelaskan dalam bentuk problematis, kepastian, dan keniscayaan. Ketiganya
berada dalam bentuk pemikiran rasional secara umum.164
Kesemua putusan yang memiliki fungsi a priori tersebut, bekerja dalam upaya menjembatani antara objek dan kesadaran. Tanpa itu, kesadaran terhadap data yang sudah ditempatkan dalam ruang dan waktu tidak bisa muncul. Dalam kerjanya, putusan mengarahkan sejumlah representasi objek dari ruang dan waktu
163
Immanuel Kant, Critique of Pure Reason, h. 209 164
dalam satu kesadaran. Keragaman objek diolah dan ditempatkan ke dalam skala yang lebih sederhana. Fungsi ini menimbulkan sebuah sintesis, antara pelbagai bentuk objek. Sintesis tersebut bersifat murni.165
Sintesis murni tersebut mengumpulkan elemen-elemen dasar kesadaran, dan menyatukan mereka dalam bentuk-bentuk tertentu. Bentuk tersebut adalah hal pertama yang menandai asal-usul munculnya kesadaran. Kesadaran dibentuk atas dasar informasi menyeluruh yang diperoleh dari penyelidikan terhadap objek. Sintesis murni atas objek kemudian menghasilkan konsep-konsep pemahaman murni. Konsep-konsep pemahaman murni ini adalah hasil terjadinya sintesis murni.166 Di dalam konsep-konsep murni, secara analitis segala jenis representasi yang berbeda disatukan. Logika transendental mengarahkan sintesis murni representasi di bawah satu konsep pemahaman.
Ketika konsep pemahaman sudah didapatkan, hal pertama yang hadir
secara a priori bagi kesadaran atas semua objek adalah keragaman intuisi murni.
Setelah itu, muncul sintesis keragaman, yang diperoleh melalui imajinasi. Namun, kedua hal itu belum bisa menghasilkan kesadaran secara utuh. Dibutuhkan hal lain agar kesadaran bisa muncul, yakni konsep yang memberikan kesatuan sintesis
murni, yang terdiri hanya dalam representasi kesatuan sintetis.167 Kant
menjelaskan bahwa konsep murni pemahaman diterapkan pada objek intuisi secara umum dan bersifat a priori.168 Kant menyebut konsep-konsep murni pemahaman sebagai kategori. Berikut bagan keseluruhan kategori tersebut:
165
Immanuel Kant, Critique of Pure Reason, h. 210 166
Immanuel Kant, Critique of Pure Reason, h. 211 167
Immanuel Kant, Critique of Pure Reason, h. 211 168
. Kategori Kuantitas Kesatuan (Unity) Pluralitas (Plurality) Totalitas (Totality) . . Kategori Kualitas Kategori Relasi
Realitas Substansi dan Aksidensi (Substantia et Accident)
Negasi Kausalitas dan Ketergantungan
Limitasi Komunitas . Kategori Modalitas Kemungkinan-Kemustahilan Eksistensi-Non-Eksistensi Keniscayaan-Kontingensi
Meskipun istilah kategori sudah digunakan Aristoteles, pengertian dan