BAB IV KONSEP TRANSENDENTALISME
F. Tiga Kecenderungan Akal
Sejalan dengan fungsi akal yang bersifat regulatif, pada sisi lain akal juga memberi fondasi bagi sejumlah kecenderungan alamiah yang menghasilkan
233
Immanuel Kant, Critique of Pure Reason, h. 406 234
Immanuel Kant, Critique of Pure Reason, h. 407 235
kesimpulan, tetapi berada di luar pengetahuan. Kant membaginya menjadi tiga: paralogisme, antinomi, dan ideal akal murni.236
F. . Paralogisme
Paralogisme adalah bentuk penalaran, yang susunannya menyalahi kaidah silogisme, tanpa perlu melihat lebih jauh informasi yang dikandungnya apakah salah atau benar.237 Paralogisme hanya berisi sesuatu yang bersifat abstrak, tidak
riil. Kant membagi kecenderungan ini menjadi empat: pertama, ide tentang
substansi (substantiality); kedua, jiwa terdiri dari hal-hal sederhana (simplicity);
ketiga, kesadaran identitas numerik tentang diri dalam waktu-waktu berbeda (personality); keempat, eksistensi yang hanya dianggap sebagai sebab menurut persepsi (ideality).238
Keempat hal tersebut adalah problem akal. Problem di sini diartikan sebagai kemustahilan membuktikan data empiris, berkaitan dengan kebenaran hal-hal tersebut. Pertama, substansi239 adalah sesuatu yang abstrak, dan tidak ada dalam realitas.240 Kedua, kendati pemikiran dapat dikaitkan dan dipisah dengan beragam hal, tetapi jiwa tidak bisa didistribusikan atau dibagi-bagi. Jiwa meliputi
kedudukan subjek yang berpikir secara menyeluruh.241Ketiga, identitas kesadaran
dalam waktu-waktu berbeda hanyalah kondisi formal pemikiran, tidak menunjukkan identitas numerik subjek. Perubahan hanya terjadi berkenaan dengan kesadaran subjek dengan penampakkan objek, dan bukan subjek pada
236
Immanuel Kant, Critique of Pure Reason, h. 410 237
Immanuel Kant, Critique of Pure Reason, h. 411 238
Immanuel Kant, Critique of Pure Reason, h. 413 239
Lewat karya-karyanya, proyek filosofis Kant berhasil mereduksi semua fakultas atau kapasitas jiwa menjadi tiga hal: fakultas untuk mengetahui, fakultas kesenangan dan kesakitan, dan fakultas keinginan (desire). Immanuel Kant, Critique of Judgment, trans., J.H. Bernard (Promoteus Books: New York, 2000), h. 14
240
Immanuel Kant, Critique of Pure Reason, h. 417 241
dirinya yang ditentukan secara numerik.242 Keempat, kesadaran atas objek di luar secara langsung membuktikan bahwa sesuatu di luar subjek adalah nyata berada di
dalam ruang.243 Kedudukannya yang terikat hukum sebab akibat adalah nyata, dan
tidak hanya ketika menampakkan diri pada persepsi subjek. Di sini, Kant secara tegas menentang pandangan kaum idealis, yang tidak mengakui hukum sebab akibat pada realitas di luar subjek, selama tidak diketahui persepsi langsung melalui pengalaman.
F. . Antinomi
Bagian kedua dari kecenderungan alamiah akal adalah antinomi. Penjelasannya berkaitan dengan ketiga konsep: Tuhan, jiwa, dan kebebasan. Bagi Kant, antinomi (antinomy)244 tidak berisi informasi yang bersumber dari data empiris. Kant mengajukan empat pasang antinomi, berupa tesis sekaligus anti-tesisnya. Tesis pertama berisi pernyataan bahwa dunia memiliki permulaan di dalam waktu dan terbatas secara ruang. Anti-tesisnya berupa penyangkalan dunia memiliki permulaan waktu, dan tidak terbatas secara ruang. Tesis kedua berupa pernyataan bahwa semua bentuk benda-benda yang tersusun, berasal dari subtansi sederhana. Anti-tesisnya adalah pendapat bahwa tidak ada substansi sederhana. Tesis ketiga berupa pernyataan bahwa segala sesuatu di alam semesta ditentukan oleh hukum, yang mengikat dan berlaku secara objektif. Anti-tesisnya adalah pendapat bahwa segala sesuatu memiliki kebebasan, tidak terikat hukum apapun.
Tesis keempat berupa pernyataan bahwa terdapat realitas tertinggi (an absolutely
necessary being) sebagai pengatur. Anti-tesisnya menyatakan bahwa tidak ada
242
Immanuel Kant, Critique of Pure Reason, h. 423 243
Immanuel Kant, Critique of Pure Reason, h. 429 244
Dalam logika Modern, istilah ini merujuk pada kesimpulan yang tidak mungkin. Tapi, disusun berdasarkan bukti (proposisi) yang benar. Thomas Mautner (ed.), The Penguin Dictionary of Philosophy (London: Penguin Books Ltd., 2000), h. 29
realitas tertinggi, baik di dalam maupun di luar dunia. Segala sesuatu ada dengan sendirinya, dan pada dasarnya saling bergantung satu sama lain.
Dalam kesimpulan mengenai keempat antinomy di atas, Kant berpendapat
bahwa semua tesis adalah pendapat milik kaum rasionalis dogmatik, sedangkan anti-tesisnya milik kaum empiris.245 Kant tidak sepakat dengan semua tesis, karena metafisika tidak bisa menjadi pengetahuan. Isi dari pengetahuan hanya bisa meluas berkenaan dengan pengalaman. Begitu pula ia tak sependapat dengan anti-tesisnya, karena dengan begitu telah mempersempit perspektif seseorang. Bagi Kant, akal manusia memiliki kecenderungan untuk berpikir bebas, bahkan keluar dari batas-batas pengalaman. Di sini, posisi Kant cukup jelas, yakni menjadikan persoalan di atas sebagai bukan bagian pengetahuan.
F. . Ideal Akal Murni
Bagian terakhir dari kecenderungan alamiah akal adalah ideal akal murni. Bagian ini masih memiliki kaitan dengan dua bentuk kecenderungan sebelumnya. Kant menjelaskan bahwa ideal akal murni berupaya mencari asas-asas rasional atas problem wujud tertinggi (the highest being, ens summum), sebagai objek di
dalam akal.246 Wujud tertinggi adalah Tuhan, sebagai penguasa alam semesta.
Menurut Kant, selama ini terdapat tiga cara pembuktian mengenai Tuhan:
pertama, bukti teologis (the phsyco-theological proof); kedua, bukti kosmologis (the cosmological proof); ketiga, bukti ontologis (the ontological proof).247 Tapi, kesemua pembuktian itu tidak menguatkan kebenaran adanya Tuhan. Tuhan tetap sesuatu yang abstrak, dan tidak bisa dianalisis. Tuhan tidak bisa dijadikan alasan
245
Frederick Copleston, A History of Philosophy, vol. 6, Wolff to Kant (Wellwood: Burn & Oates, 1999), h. 293
246
Immanuel Kant, Critique of Pure Reason, h. 557 247
adanya alam, beserta segala isinya. Hukum-hukum alam jelas menunjukkan arah yang harus diselidiki akal. Menempatkan kebesaran Tuhan sebagai sumber segala sebab adalah alasan malas (a lazy reason) untuk berpikir.248
Guna menghindari kekeliruan pemahaman terhadap beberapa persoalan di atas, Kant menjelaskan bahwa hal-hal metafisika selalu berhubungan dengan
wilayah noumena. Noumena adalah benda pada dirinya, atau bisa diartikan
sebagai objek kesadaran yang tidak diproduksi oleh pengalaman inderawi.249 Ini
dikontraskan dengan fenomena. Siapa pun tidak bisa mengetahui noumena.
Misalnya, ide tentang kebebasan. Kebebasan hanya berada di wilayah noumena, bukan sebagai fenomena. Segala fenomena di dunia dikendalikan oleh hukum yang mengatur dan bersifat niscaya, yakni hukum sebab akibat. Oleh karena itu, kedua wilayah tersebut sebaiknya tetap dipisahkan. Metafisika sebagai kecenderungan alamiah akal (natural disposition of reason), bisa dianggap aktual. Tapi, kedudukannya tetap hanya sebuah ilusi. Jika kita meneliti alam dengan
berpegang pada metafisika, maka yang didapat adalah kesia-siaan.250 Begitu pula
misalnya, ide tentang Tuhan.
Bagi Kant, ide tentang Tuhan sebenarnya berguna mengarahkan kehidupan manusia. Ia sendiri tidak diragukan sangat percaya adanya Tuhan, kebebasan, dan
keabadian.251 Kendati demikian, Kant menegaskan bahwa persoalan agama sama
sekali tidak memiliki kesadaran secara ilmiah pada diri subjek.252 Kepercayaan
248
Immanuel Kant, Religion and Rational Theology, trans., ed., Allen W. Wood and George Di Giovanni (Cambridge: Cambridge University Press, 2005), h. 344
249
Thomas Mautner (ed.), The Penguin Dictionary of Philosophy, h. 391 250
Beryl Logan (ed.), Kant’s Prolegomena to Any Future Metaphysics in Focus (New York: Routledge, 1996), h. 122
251
A.C. Ewing, A Short Commentary on Kant’s Critique of Pure Reason (Chicago: Chicago University Press, 1984), h. 246
252
Allen W. Wood, “Rational Theology, Moral Faithful, and Religion”, in Paul Guyer, ed., The Cambridge Companion to Kant (Cambridge: Cambridge University Press, 2006), h. 406
pada realitas absolut, memungkinkan seseorang mengikuti anjuran moralitas, untuk mencapai kebahagiaan hidup.
Klaim-kalim moralitas agama, memiliki alur pemikirannya pada kepercayaan kepada Tuhan. Tuhan dipandang sebagai wujud paling sempurna (Ens perfectissimum), atau wujud paling nyata (Ens realissimum),253 sebagai pencipta alam semesta. Namun, Kant tetap yakin bahwa tidak ada bukti empiris
yang meyakinkan mengenai hal-hal metafisika semacam itu.254 Kant menjelaskan
lebih lanjut permasalahan moralitas dalam karyanya, Kritik der praktischen
Vernunft.255