BAB IV UKURAN FREKUENSI MASALAH KESEHATAN
IV. Mortalitas penyakit
Mortalitas penyakit merupakan istilah epidemiologi dan data statistik vital untuk kematian.Dalam hal ini, mortalitas penyakit merupakan ukuran dari kejadian kematian pada populasi tertentu pada waktu tertentu atau ukuran frekuensi kematian dalam populasi yang spesifik pada interval waktu dan tempat tertentu. Ada tiga hal umum penyebab kematian: (1) degenerasi organ vital dan kondisi terkait, (2) status penyakit, (3) sebagai akibat masyarakat atau lingkungan (suicide, kecelakaan, bencana alam, dsb). Ukuran mortalitas dan morbiditas relatif sama, hanya tergantung pada apa yang ingin diukur, kesakitan atau kematian.Beberapa angka kematian yang sering digunakan:
• Case fatality rate (CFR)
Case fatality rate (angka kasus fatal) adalah jumlah seluruh kematian akibat satu penyebab dalam jangka waktu tertentu dibagi jumlah seluruh penderita pada waktu yang sama dalam persen.Case fatality rate berguna untuk memperoleh gambaran tentang distribusi penyakit dan tingkat kematian penyakit tertentu.
Case fatality rate:
Jumlah seluruh kematian akibat penyakit tertentux 100%
Jumlah seluruh pnderita pnyakit tertentu
• Infant mortality rate (IMR)
Infant mortality rate (angka kematian bayi) adalah jumlah seluruh kematian bayi (usia di bawah 1tahun) pada satu jangka waktu (umumnya 1 tahun) dibagi jumlah seluruh kelahiran hidup.
Infant mortality rate:
Jumlah seluruh kematian bayix 1000 Jumlah kelahiran hidup
84
• Neonatal mortality rate (NMR)
Neonatal mortality rate (angka kematian neonatal) adalah jumlah kematian bayi usia dibawah 28 hari pada jangka waktu 1 tahun dibagi jumlah kelahiran hidup pad tahun yang sama.
Tinggi rendahnya angka kematian neonatal dapat digunakan untuk mengetahui:
- Tinggi rendahnya usaha perawatan post natal - Program imunisasi
- Pertolongan persalinan - Penyakit ISPA
Neonatal mortality rate:
Jumlah kematian bayi usia di bawah 28 hari x 1000 Jumlah kelahiran hidup pada tahun yang sama
• Under five mortality rate
Under five mortality rate(angka kematian balita) adalah jumlah seluruh kematian balita pada satu jangka waktu (umumnya 1 tahun) dibagi jumlah seluruh balita pada tahun yang sama.
Under five mortality rate:
Jumlah seluruh kematian balita x 1000 Jumlah penduduk balita pada tahun yang sama
• Perinatal mortality rate(PMR)
Perinatal mortality rate(angka kematian perinatal) adalah jumlah kematian bayi usia 1 minggu (7 hari) dalam satu tahun dibagi jumlah kelahiran hidup pada tahun yang sama. Perinatal mortality rateberguna untuk menggambarkan kesehatan ibu hamil dan bayi.
Faktor yang mempengaruhi tinggi rendah angka kematian perinatal, antara lain:
- Banyaknya kasus BBLR - Status gizi ibu dan bayi - Keadaan sosial ekonomi
- Penyakit infeksi terutama ISPA - Pertolongan persalinan
Perinatal mortality rate:
Jumlah kematian bayi usia 1 minggu (7 hari) x 1000 Jumlah kelahiran hidup pada tahun yang sama
85
• Maternal mortality rate(MMR)
Maternal mortality rate (angka kematian ibu/AKI) adalah jumlah kematian ibu akibat kehamilan, persalinan, dan nifas dalam satu tahun dibagi jumlah kelahiran hidup pada tahun yang sama.
Tinggi rendahnya angka kematian ibu berkaitan dengan:
- Sosial ekonomi
- Kesehatan ibu sebelum hamil, bersalin, dan nifas - Pelayanan kesehatan terhadap ibu hamil
- Pertolongan persalinan dan perawatan pada masa nifas Maternal mortality rate:
Jumlah kematian ibu karena kehamilan, kelahiran, dan nifasx 100000 Jumlah kelahiran hidup pada tahun yang sama
• Crude death rate (CDR)
Crude death rate (angka kematian kasar) adalah jumlah kematian total dalam setahun yang dibagi dengan total rata-rata populasi, seperti 100, 1000, 10000, atau 100000. Untuk menghitung rate, hasil diatas dikalikan dengan 1000 atau konstanta populasi.
Crude death rate:
Jumlah kematian total per tahunx 100000 Total rata-rata populasipada tahun tersebut
• Age specific mortality rate
Age specific mortality rate(angka kematian menurut usia) memberikan gambaran data atau informasi terkait kematian populasi tertentu dengan melihat kelompok usia.
Age specific mortality rate(tergantung dengan kategori usia), misalnya umur 1-14 tahun:
Jumlah kematian anak usia 1-14 tahun pada periode tertentu x 100000 Total anak usia 1-14 tahun pada periode yang sama (1 tahun)
• Cause specific mortality rates
• Cause specific mortality rates(angka kematian menurut penyebab) adalah angka kematian yang berfokus pada kematian akibat penyebab atau sumber tertentu.
Pembilang indikator: mencakup kematian akibat penyakit tertentu dalam subkelompok pada periode waktu tertentu.
86
Penyebut: total subkelompok populasi pada periode waktu yang sama dan biasanya dinyatakan dalam ratusan seperti: 100, 1000, 10000, atau 100000.
Cause specific mortality rates:
Jumlah kematian anak usia 1-14 tahun pada periode tertentu x 100000 Total anak usia 1-14 tahun pada periode yang sama (1 tahun)
Rangkuman
Untuk mengetahui frekuensi masalah kesehatan, diperlukan alat untuk mengukur frekuensi kejadian yaiturate (angka, sering juga disebut tingkat), tetapi juga digunakan rasio dan proporsi.Selain itu juga perlu dalam mengetahui morbiditas penyakit yakni insidence rate, attack rate, secondary attack rate, prevalence rate (period dan point prevalence rate), attributable risk, Attributable risk percent, dan mortalitas penyakit yakni case fatality rate, infant mortality rate, neonatal mortality rate, under five mortality rate, perinatal mortality rate, maternal mortality rate atau lebih dikenal dengan angka kematian ibu (AKI), crude death rate, age spesific mortality rate, dan cause spesific mortality rates.
Tugas:
1. Tugas Terstruktur Petunjuk:
• Bentuklah 4 kelompok! Masing-masing kelompok membuat mindmapping morbiditas penyakit dan mindmapping mortalitas penyakit.
• Tugas diketik ke dalam MS Word kertas A4 dengan Font Times New Roman 12 spasi 1,5 dalam bentuk hasil diskusi paper dengan mencantumkan referensi saat pengerjaan tugas tersebutdengan menggunakan Cover yang berisijudul tugas, logo uim, nama-nim anggota kelompok, dan program studi.
• Tugas dikirim ke email [email protected] paling lama 1 minggu setelah tugas ini diumumkan.
• Bentuk laporan tugas disusun dengan mengikuti format sebagai berikut : SAMPUL DEPAN (COVER)
DAFTAR ISI BAB I
SKENARIO/TEMA : JUDUL TUGAS JURNAL PENDAHULUAN
87
1. Latar Belakang 2. Tujuan
BAB II
PROBLEM/ANALISIS MASALAH BAB III
PEMBAHASAN BAB IV
KESIMPULAN DAN PENUTUP DAFTAR PUSTAKA
2. Kegiatan Mandiri Petunjuk:
• Membuat rumus terkait ukuran-ukuran frekuensi maslah kesehatan : morbiditas dan mortalitas rate (insidence rate, prevalence rate, maternal mortality rate, dll)
• Tugasdiketik ke dalamMS Word kertas A4 dengan Font Times New Roman 12 spasi 1,5 menggunakan Cover yangberisi judul tugas, logo uim, nama, nim, dan program studi.
• Tugas dikirim ke email [email protected] dengan judul “tugas ukuran frekuensi masalah penyakit”.
88
DAFTAR PUSTAKA
Bailey, L., Vardulaki, K., Langham, J., Chandramohan, D. 2005.Introduction to Epidemiology. USA: Open University Press.
Beaglehole, R., Bonita, R., Kjellstrom, T. 1993.Basis Edidemiology.Geneva:
World Health Organization.
Budiarto, E., Anggraeni, D. 2002.EpidemiologiEdisi 2. Jakarta: EGC.
Center for Disease Control and Prevention. 2010.Principles of Epidemiology in Public Health Practice, 3rd Edition. Atlanta: U.S Department of Health and Human Services.
Noor, N. N. 2004.Epidemiologi. Makassar: HUP.
Nugraheni, AS. 2011. Empat Pilar Pembelajaran Bahasa Indonesia Cerdas Membangun Karakter Bangsa. Yogyakarta: Metamorfosa press.
Timrmreck, Thomas C. 2004. Epidemiologi Suatu Pengantar Edisi Kedua.
Jakarta: EGC.
89
BAB V WABAH
dr. John Barker Liem, M.K.M
PENDAHULUAN
A. Pengantar Pendahuluan
Peristiwa bertambahnya penderita atau kematian yang disebabkan oleh suatu penyakit menular di suatu wilayah tertentu, kadang-kadang dapat merupakan kejadian yang mengejutkan dan membuat heboh masyarakat di wilayah itu. Secara umum kejadian ini disebut dengan Kejadian Luar Biasa (KLB) dan dapat menimbulkan suatu wabah yang menyerang masyarakat luas dalam waktu singkat yang diakibatkan oleh penyakit menular. Di lain pihak, dampak dari perkembangan ilmu dan teknologi saat ini menimbulkan berbagai penemuan baru dari penyakit-penyakit menular yang semakin bertambah dan sulit diatasi pengobatannya, misalnya COVID-19, HIV/AIDS, Flu burung, dan lain-lain.
Perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi bukan saja menjadikan kehidupan umat manusia semakin mudah, semakin maju, tetapi nampaknya umat manusia juga diharapkan kepada tantangan-tantangan atau peringatan-peringatan baru di bidang kesehatan, dimana pada kurun waktu tertentu akan ada jenis penyakit baru yang muncul. Dari aspek tinjauan religi mungkin hal itu merupakan peringatan bagi umat manusia bahwa di atas kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi kedokteran yang telah dicapai, masih akan ada hal baru yang belum diketahui.
B. Deskripsi Materi
Bab ini disusun sedemikian rupa untuk membantu mahasiswa semester IV dalam memahami materi kuliah Epidemiologi dengan beban 1 sks teori. Bab ini menguraikan tentangkriteria dan jenis KLB/epidemi, penetapan status wabah, serta sistem kewaspadaan dini KLB/wabah.
C. Kemampuan Akhir yang Diharapkan
90
Pembelajaran pada bab ini bertujuan untuk membantu mahasiswa mencapai Capaian Pembelajaran Mata Kuliah (CPMK), yaitumampu memahami wabah.
D. Uraian Materi
I. Kriteria KLB/epidemi II. Jenis KLB/epidemi III. Penetapan status wabah
IV. Sistem kewaspadaan dini KLB/wabah
91
I. Kriteria KLB/epidemi
Selain kata wabah, ada istilah lain yang dikenal sebagai letusan (outbreak) dan kejadian luar biasa (KLB). Namun, akan tampak perbedaan antara ketiga hal di atas. Wabah penyakit menular atau wabah adalah kejadian berjangkitnya suatu penyakit menular dalam masyarakat yang jumlah penderitanya meningkat secara nyata melebihi dari keadaan yang lazim pada waktu dan daerah tertentu serta dapat menimbulkan malapetaka. Letusan (outbreak) adalah suatu episode dimana terjadi dua atau lebih penderita suatu penyakit yang sama dimana penderita tersebut mempunyai hubungan satu sama lain. Sedangkan kejadian luar biasa yang selanjutnya disingkat KLB adalah timbulnya atau meningkatnya kejadian kesakitan dan/atau kematian yang bermakna secara epidemiologi pada suatu daerah dalam kurun waktu tertentu, dan merupakan keadaan yang dapat menjurus kepada terjadinya wabah.
Istilah wabah dan KLB memiliki persamaan, yaitu peningkatan kasus yang melebihi situasi yang lazim atau normal, namun wabah memiliki konotasi keadaan yang sudah kritis, gawat atau berbahaya, melibatkan populasi yang banyak pada wilayah yang lebih luas. Di Indonesia,pernyataan adanya wabah hanya boleh ditetapkan oleh Menteri Kesehatan sedangkan KLB dapat ditetapkan oleh Kepala Dinas Kesehatan.
Suatu kejadian penyakit atau keracunan dapat dikatakan KLB apabila memenuhi kriteria sebagai berikut:
1. Timbulnya suatu penyakit/kesakitan yang sebelumnya tidak ada/ tidak dikenal
2. Peningkatan kejadian penyakit/ kematian terus-menerus selama tiga kurun waktu berturut-turut menurut jenis penyakitnya (jam, hari, minggu)
3. Peningkatan kejadian penyakit/ kematian, dua kali atau lebih dibandingkan dengan periode sebelumnya (jam, minggu, bulan, tahun)
4. Jumlah penderita baru dalam satu bulan menunjukan kenaikan dua kali atau lebih dibandingkan dengan angka rata – rata perbulan dalam tahun sebelumnya
5. Beberapa penyakit seperti keracunan, menetapkan satu kasus atau lebih sebagai KLB seperti keracunan makanan atau keracunan pestisida
92
6. Angka rata-rata perbulan selama satu tahun menunjukan kenaikan dua kali lipat atau lebih dibandingkan dengan angka rata-rata perbulan dari tahun sebelumnya
7. Case fatality rate (CFR) suatu penyakit dalam suatu kurun waktu tertentu menunjukan kenaikan 50% atau lebih, dibandingkan dengan CFR dari periode sebelumnya
8. Proportional rate (PR) penderita dari suatu periode tertentu menunjukan kenaikan dua kali atau lebih dibandingkan periode, kurun waktu atau tahun sebelumnya
9. Beberapa penyakit khusus menetapkan kriteria khusus sepertikolera dan demam berdarah dengue yakni:
- Setiap peningkatan kasus dari periode sebelumnya (pada daerah endemis) - Terdapat satu atau lebih penderita baru dimana pada periode empat
minggu sebelumnya, daerah tersebut dinyatakan bebas dari penyakit yang bersangkutan
Satu kenaikan yang kecil dapat saja merupakan KLB yang perlu ditangani seperti penyakit poliomielitis dan tetanus neonatorum dianggap KLB dan perlu penanganan khusus.
II. Jenis KLB/epidemi
Adapun jenis atau klasifikasi dari KLB/epidemi yang berdasarkan sifat, penyebab, dan sumber.
• Menurut sifat, jenis atau klasifikasi dari KLB/epidemi adalah sebagai berikut:
1. Common Source Epidemic
Common source epidemic adalah suatu letusan penyakit yang disebabkan oleh terpaparnya sejumlah orang dalam suatu kelompok secara menyeluruh dan terjadi dalam waktu yang relatif singkat. Adapun common source epidemic itu berupa keterpaparan umum, biasa pada letusan keracunan makanan, polusi kimia di udara terbuka, menggambarkan satu puncak epidemi, jarak antara satu kasus dengan kasus, selanjutnya hanya dalam hitungan jam,tidak ada angka serangan ke dua.
2. Propagated/Progressive Epidemic
Propagated/Progressive Epidemic merupakan bentuk epidemi dengan penularan dari orang ke orang sehingga waktu lebih lama dan
93
masa tunas yang lebih lama pula. Propagated/progressive epidemic terjadi karena adanya penularan dari orang ke orang baik langsung maupun melalui vektor, relatif lama waktunya dan lama masa tunas, dipengaruhi oleh kepadatan penduduk serta penyebaran anggota masyarakat yang rentan serta morbilitas dari penduduk setempat, masa epidemi cukup lama dengan situasi peningkatan jumlah penderita dari waktu ke waktu sampai pada batas minimal anggota masyarakat yang rentan, lebih memperlihatkan penyebaran geografis yang sesuai dengan urutan generasi kasus.
3. Mixed Epidemic
Mixed Epidemicmerupakan gabungan keduanya (Common Source Epidemic dan Propagated/Progressive Epidemic).
• Menurut penyebab, jenis atau klasifikasi dari KLB/epidemi adalah sebagai berikut:
- Infeksi yakni virus, bakteri, protozoa, dan cacing - Toxin yakni stafilokokus, klostridium
- Toxin biologis yakni racun jamur, racun ikan - Toxin kimia yakni logam berat, nitrit, pestisida
• Menurut sumber, jenis atau klasifikasi dari KLB/epidemi adalah sebagai berikut:
- Sumber dari manusia seperti salmonela
- Sumber dari kegiatan manusia seperti tempe bongkrek - Binatang
- Serangga - Udara
- Permukaan benda - Makanan/minuman
III. Penetapan status wabah
Sebelum kita menetapkan status wabah, terlebih dahulu harus mengetahui tujuan penyelidikan wabah tersebut. Tujuan penyelidikan wabah terbagi atas:
• Umum
- Upaya penanggulangan dan pencegahan - Surveilans (lokal, nasional, dan internasional)
94
- Penelitian - Pelatihan
- Menjawab keingin tahuan masyarakat - Pertimbangan program
- Kepentingan politik dan hokum - Kesadaran masyarakat
Secara keseluruhan dapat meningkatkan upaya pencegahan dan penanggulangan KLB penyakit menular dan keracunan sehingga KLB tidak menjadi masalah kesehatan.
• Khusus
- Memastikan diagnose
- Memastikan bahwa terjadi KLB/ wabah - Mengidentifikasi penyebab KLB
- Mengidentifikasi sumber penyebab - Rekomendasi: cepat dan tepat
- Mengetahui jumlah korban dan populasi rentan, waktu dan periode KLB, serta tempat terjadinya KLB (variabel orang, waktu dan tempat) Sehingga dapat menurunkan frekuensi KLB, jumlah kasus dan angka kematian KLB, serta membatasi penyebarluasan KLB.
Peningkatan jumlah kasus atau penderita yang dilaporkan belum tentu suatu wabah (pseudo epidemik) karena peningkatan penderita tersebut bisa karena:
• Perubahan cara pencatatan
• Ada cara-cara diagnosis baru
• Bertambahnya kesadaran penduduk untuk berobat
• Ada penyakit lain dengan gejala sama
• Jumlah penduduk bertambah
Maka dari itu, ada beberapa hal yang perlu dilakukan dalam menetapkan status wabah, antara lain:
• Dilakukan dengan membandingkan insidensi penyakit yang tengah berjalan dengan insidensi penyakit dalam keadaan biasa (endemik), pada populasi yang dianggap beresiko, pada tempat dan waktu tertentu
• Dengan Pola Maxiumum dan Minimum 5 tahunan atau 3 tahunan
95
• Membandingkan frekuensi penyakit pada tahun yang sama bulan berbeda atau bulan yang sama tahun berbeda
• Sesuai petunjuk berdasarkan Kriteria KLB/epidemi
IV. Sistem Kewaspadaan Dini KLB/wabah
Sistemkewaspadaan dini atau disingkat SKD KLB/wabah merupakan suatu tatanan pengamatan yang cermat dan teliti terhadap distribusi dan faktor-faktor risiko kejadian yang memungkinkan terbangunnya sikap tanggap terhadap perubahan sehingga dapat dilakukan antisipasi seperlunya. Inti dari SKD itu sendiri adalah surveilans. Ada beberapa prinsip dalam penerapan SKD KLB/wabah, antara lain:
• Kewaspadaan tehadap penyakit berpotensi KLB beserta faktor-faktor yang mempengaruhinya
• Dengan menerapkan teknologi surveilans epidemiologi
• Dimanfaatkan untuk meningkatkan sikap tanggap kesiapsiagaan, upaya-upaya pencegahan, dan tindakan penanggulangan KLB yang cepat dan tepat
Dalam hal ini, kegiatan SKD KLB/wabah secara umum meliputi:
1. Kajian Epidemiologi Ancaman KLB
Untuk mengetahui adanya ancaman KLB, maka dilakukan kajian secara terus menerus dan sistematis terhadap berbagai jenis penyakit berpotensi KLB dengan menggunakan bahan kajian:
a. Data surveilans epidemiologi penyakit berpotensi KLB, b. Kerentanan masyarakat, antara lain: status gizi dan imunisasi, c. Kerentanan lingkungan,
d. Kerentananpelayanankesehatan,
e. Ancaman penyebaran penyakit berpotensi KLB dari daerah atau negara lain, serta
f. Sumber data lain dalam jejaring surveilans epidemiologi.
Sumber data surveilans epidemiologi penyakit berpotensi KLB meliputi:
a. Laporan KLB/wabah dan hasil penyelidikan dan penanggulangan KLB,
96
b. Data epidemiologi KLB dan upaya penanggulangannya, c. Surveilans terpadu penyakit berbasis KLB,
d. Sistem peringatan dini-KLB di rumah sakit.
Sumber data lain dalam jejaring surveilans epidemiologi meliputi:
a. Data surveilans terpadu penyakit,
b. DatasurveilanskhususpenyakitberpotensiKLB, c. Data cakupan program,
d. Data lingkungan pemukiman dan perilaku, pertanian, meteorologi geofisika,
e. Informasi masyarakat sebagai laporan kewaspadaan KLB, f. Data lain terkait.
Berdasarkan kajian epidemiologi dirumuskan suatu peringatan kewaspadaan dini KLB dan atau terjadinya peningkatan KLB pada daerah dan periode waktu tertentu.
2. Peringatan Kewaspadaan Dini KLB
Peringatan kewaspadaan dini KLB dan atau terjadinya peningkatan KLB pada daerah tertentu dibuat untuk jangka pendek (periode 3-6 bulan yang akan datang) dan disampaikan kepada semua unit terkait di Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota, Dinas Kesehatan Propinsi, Departemen Kesehatan, sektor terkait dan anggota masyarakat, sehingga mendorong peningkatan kewaspadaan dan kesiapsiagaan terhadap KLB di Unit Pelayanan Kesehatan dan program terkait serta peningkatan kewaspadaan masyarakat perorangan dan kelompok. Peringatan kewaspadaan dini KLB dapat juga dilakukan terhadap penyakit berpotensi KLB dalam jangka panjang (periode 5 tahun yang akan datang), agar terjadi kesiapsiagaan yang lebih baik serta dapat menjadi acuan perumusan perencanaan strategis program penanggulangan KLB.
3. Peningkatan Kewaspadaan dan Kesiapsiagaan terhadap KLB
Kewaspadaan dan kesiapsiagaan terhadap KLB meliputi peningkatan kegiatan surveilans untuk deteksi dini kondisi rentan KLB; peningkatan kegiatan surveilans untuk deteksi dini KLB; penyelidikan epidemiologi adanya dugaan KLB; kesiapsiagaan menghadapi KLB dan mendorong segera dilaksanakan tindakan penanggulangan KLB.
a. Deteksi dini kondisi rentan KLB
97
Deteksi dini kondisi rentan KLB merupakan kewaspadaan terhadap timbulnya kerentanan masyarakat, kerentanan lingkungan-perilaku, dan kerentanan pelayanan kesehatan terhadap KLB dengan menerapkan cara-cara surveilans epidemiologi atau pemantauan wilayah setempat (PWS) kondisi rentan KLB. Identifikasi timbulnya kondisi rentan KLB dapat mendorong upaya-upaya pencegahan terjadinya KLB dan meningkatkan kewaspadaan berbagai pihak terhadap KLB.
b. Deteksi dini KLB
Deteksi dini KLB merupakan kewaspadaan terhadap timbulnya KLB dengan mengidentifikasi kasus berpotensi KLB, pemantauan wilayah setempat terhadap penyakit-penyakit berpotensi KLB dan penyelidikan dugaan KLB.
c. Deteksi dini KLB melalui pelaporan kewaspadaan KLB oleh masyarakat
Laporan kewaspadaan KLB merupakan laporan adanya seorang atau sekelompok penderita atau tersangka penderita penyakit berpotensi KLB pada suatu daerah atau lokasi tertentu. Isi laporan kewaspadaan terdiri dari jenis penyakit; gejala-gejala penyakit; desa/lurah, kecamatan dan kabupaten/kota tempat kejadian; waktu kejadian; jumlah penderita dan jumlah meninggal.
d. Kesiap siagaan menghadapi KLB
Kesiapsiagaan menghadapi KLB dilakukan terhadap sumber daya manusia, sistem konsultasi dan referensi, sarana penunjang, laboratorium dan anggaran biaya, strategi dan tim penanggulangan KLB serta kerjasama tim penanggulangan KLB Kabupaten/Kota, Propinsi dan Pusat.
e. Tindakan penanggulangan KLB yang cepat dan tepat
Setiap daerah menetapkan mekanisme agar setiap KLB dapat terdeteksi dini dan dilakukan tindakan penanggulangan dengan cepat dan tepat.
f. Advokasi dan asistensi penyelenggaraan SKD-KLB
Penyelenggaraan SKD-KLB dilaksanakan terus menerus secara sistematis di tingkat nasional, propinsi, kabupaten/kota dan di masyarakat yang membutuhkan dukungan politik dan anggaran yang
98
memadai di berbagai tingkatan tersebut untuk menjaga kesinambungan penyelenggaraan dengan kinerja yang tinggi.
Rangkuman
Persoalan wabah tidak hanya menjadi persoalan Indonesia tetapi merupakan persoalan Dunia karena penyebarannya tidak mengenal batas-batas Negara. Seperti wabah covid-19 yang belum dapat ditanggulangi secara menyeluruh terbukti dengan masih adanya korban yang terus dibawa kerumah sakit. Oleh karena itu, pencegahan dan penanggulangannya harus dilakukan bersama-sama dan saling membantu. Dengan era otonomi daerah, propinsi atau kota/kabupaten diberi kewenangan yang lebih besar dalam mengelola urusan kesehatan, termasuk dalam mencegah dan menanggulangi wabah daerah tidak dapat lagi bertumpu pada kemampuan pemerintah pusat semata mengingat penyebaran wabah tidak mengenal batas-batas daerah, maka antara daerah harus saling bekerja sama dalam mencegah dan menanggulangi wabah.
Tugas:
1. Tugas Terstruktur Petunjuk:
• Bentuklah 4 kelompok! Masing-masing kelompok memberikan jawaban dari soal cerita yang diberikan dengan mengidentifikasi: apakah kasus tersebut digolongkan wabah? (berikan alasan dan penjelasan).
• Tugas diketik ke dalam MS Word kertas A4 dengan Font Times New Roman 12 spasi 1,5 dalam bentuk hasil diskusi paper dengan mencantumkan referensi saat pengerjaan tugas tersebutdengan menggunakan Cover yang berisijudul tugas, logo uim, nama-nim anggota kelompok, dan program studi.
• Tugas dikirim ke email [email protected] lama 1 minggu setelah tugas ini diumumkan.
Soal cerita:
Di Kecamatan Pureman, Kabupaten Alor NTT, pada tahun 2017 terdapat jumlah kasus penyakit DBD 4.128 kasus. Pada tahun 2018 berkurang menjadi 2.940 kasus. Kemudian pada tahun 2019 meningkat kembali menjadi 3.154
99
kasus. Namun pada tahun 2020 menurun sebesar 3.117 kasus. Ada 4 desa dengan jumlah kasus yang berbeda pada tahun 2020.
1) Desa Kailesa 1.234 (Lk: 445, Pr: 789) dengan 6.170 penduduk (Lk:
2.057, Pr: 4.113)
2) Desa Langkuru 883 (Lk: 369, Pr: 514) dengan 4.415 penduduk (Lk:
1.104, Pr: 3.311)
3) Desa Langkuru Utara 346 (Lk: 223, Pr: 123) dengan 3.806 penduduk (Lk: 2.538, Pr: 1.268)
4) Desa Purnama 654 (Lk: 314, Pr: 340) dengan 5.232 penduduk (Lk:
2.418, Pr: 2.814)
Pembahasan soal:
...
...
...
...
2. Kegiatan Mandiri Petunjuk:
• Membuat skema konsep SKD KLB
• Tugasdiketik ke dalamMS Word kertas A4 dengan Font Times New Roman 12 spasi 1,5 menggunakan Cover yangberisi judul tugas, logo uim, nama, nim, dan program studi.
• Tugas dikirim ke email [email protected] dengan judul “tugas wabah”.
100
DAFTAR PUSTAKA
Bustan, 2002. Pengantar Epidemiologi. Jakarta: Rineka Cipta.
Notoatmojo, S. 2003. Ilmu Kesehatan Masyarakat: Prinsip Prinsip Dasar.
Jakarta: Rineka Cipta.
Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 949/Menkes/Per/VIII/2004 tentang Pedoman Penyelenggaraan Sistem Kewaspadaan Dini Kejadian Luar Biasa (KLB).
Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 1501/Menkes/Per/X/2010 tentang Jenis Penyakit Menular Tertentu yang Dapat Menimbulkan Wabah dan Upaya Penanggulangan.
Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 82 Tahun 2014 tentang
Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 82 Tahun 2014 tentang