• Tidak ada hasil yang ditemukan

Pengembangan surveilans epidemiologi penyakit tidak

Dalam dokumen MODUL CETAK BAHAN AJAR EPIDEMIOLOGI (Halaman 126-0)

BAB VI PENYAKIT TIDAK MENULAR

Topik 2: Surveilans Epidemiologi Penyakit Tidak Menular

B. Pengembangan surveilans epidemiologi penyakit tidak

Di dalam pengembangan surveilans epidemiologi PTM, perlu diketahui defenisi kasus dengan kriteria kasus yang dibagi sebagai berikut:

• Kasus suspek/tersangka: kasus hanya berdasarkan gejala klinis

Kasus probable/kemungkinan: kasus suspek yang secara epidemiologi berhubungan dengan kasus yang terbukti secara laboratorium

Kasus confirmed/pasti: kasus suspek dengan hasil laboratorium positif

C. Surveilans faktor risiko penyakit tidak menular dan kasus

Kegiatan analisis secara sistematis dan terus menerus terhadap faktor risiko PTM agar dapat melakukan tindakan penanggulangan secara efektif dan efisien melalui proses pengumpulan data, pengolahan dan penyebaran informasi epidemiologi kepada penyelenggara program kesehatan.

• Pengumpulan data

Dalam menentukan sumber data, ada beberapa indikator yang diperlukan yakni:

114

- Rate, rasio, proporsi, jumlah absolut - Angka kesakitan, angka kematian - Variabel yang diperlukan

- Numerator dan denominator yang akan digunakan Sedangkan sumber datanya adalah

- Laporan Puskesmas - Laporan RS

- Laporan dokter, bidan

- Laporan Pustu, PKD, Poskesdes, Posbindu

- Survei atau studi khusus: Riskesdas, SKRT, Susenas, Surkesda, dll - Pusat-pusat penelitian

- Laporan laboratorium

Untuk mendapatkan sumber data tersebut, diperlukan alat pengumpul data dimana pengumpulan data dapat dilakukan, sebagai berikut:

- Pasif atau aktif

- Perlu ada suatu formulir sebagai alat pengumpul data

- Mekanisme pelaporan dapat dilakukan harian, mingguan, bulanan, ataupun laporan nihil

• Pengolahan dan analisa data

Pengolahan data biasanya dilakukan dengan menggunakan software SI PTM atau software lainnya. Sedangkan analisa data akan mendapatkan hasil analisa, antara lain:

- Proporsi perokok aktif

- Proporsi kurang aktivitas fisik (<150 menit per minggu) - Proporsi kurang konsumsi sayur dan buah

- Proporsi obesitas

- Proporsi obesitas sentral - Proporsi hipertensi - Proporsi hiperglikemi

- Proporsi hiperkolesterolemia - Proporsi gangguan fungsi paru - Proporsi konseling obesitas

- Proporsi konseling berhenti merokok

115

- Proporsi konseling IVA dan CBE

• Interpretasi data

Pada interpretasi data biasanya berdasarkan situasi di suatu wilayah seperti kecenderungan dan besaran masalah faktor risiko PTM.

• Diseminasi informasi

Pada diseminasi informasi ditunjukkan dalam bentuk laporan dan atau presentasi dimana akan tampilkan kepada seluruh stakeholder yang terkait, seperti jajaran kesehatan, LSM, profesi, perguruan tinggi danmasyarakat pada umumnya.

Output

Pada output dibuat ke dalam tabel berdasarkan data yang didapatkan dari sumber data yang ada.

1 Merokok setiap hari v v

2 Minum minuman beralkohol 1 bulan dan 12 bulan terakhir v v

3 Sering makan makanan asin ( ≥ 1 kali/hari ) v v

4 Sering makan makanan tinggi lemak ( 1 ≥ kali/hari ) v v

5 Sering makan/minum manis-manis(≥ 1 kali/hari) v v

6 Kurang sayur dan buah (< 5 kali (porsi)/hari) v v

8 Kurang aktifitas fisik 30 menit sehari (3-5 kali seminggu) v v

9 Stres (tegang/cemas/panik) ≥ 1 kali/hari v

10 BB lebih dan obesitas v v v

13 Pap smear positif v v

14 Penggunaan APD (helm) v

15 Gula darah sewaktu (100-199 mg/dl (vena) 90-199 md/dl (kapiler)) v v v v

16 Gula darah puasa 100-125 mg/dl (vena); 90-99 mg/dl (kapiler) v v v v

17 Gula darah 2 jam PP 140-199 mg/dl (vena) v v

18 Kolesterol total >=190 mg/dl v v v v

19 HDL (>40 mg/dl (L); >45 mg/dl (P) v v

20 LDL <115 mg/dl v v

21 Kapasitas paru tidak normal

a.VEP1/(KVP <75% (dewasa); VEP1/KVP <90% (anak) v

b. APE arus puncak respirasi meningkat >=20% / >= 60 liter/menit v

22 Trigliserida <150 mg/dl v v v

23 Ureum darah tidak normal v v

24 Kreatinin darah/urine tidak normal v v

25 TSH positif v v

26 Protein urin positif v v

116

Pada surveilans kasus PTM, kegiatan analisis secara sistematis dan terus menerus kurang lebih hampir sama dengan surveilans faktor risiko PTM yang juga dapat melakukan tindakan penanggulangan secara efektif dan efisien melalui proses pengumpulan data, pengolahan dan penyebaran informasi epidemiologi kepada penyelenggara program kesehatan. Surveilans kasus PTM dibagi atas:

• Berbasis institusi

Surveilans kasus PTMberbasis institusi merupakan kegiatan analisis terus menerus dan sistematis terhadap data PTM dengan berbasis data yang diperoleh di Puskesmas, Rumah Sakit, dan institusi kesehatan lainnya, serta surveikesehatan yang mempunyai data rekap PTM

1. Pengumpulan data

Pengumpulan data di mulai dari Puskesmas, RS, Dinkes Kabupaten/Kota dan Propinsi serta Pusat dengan mengambil data sekunder. Data tersebut merupakan data agregat/kelompok, dengan menggunakan formulir yang ada: PKM LB1, RS RL2a dan RL2b.

Selain itu juga perlu data batasan wilayah, target dan sasaran (denominator).

2. Pengolahan dan analisa data

Pengolahan data biasanya dilakukan oleh tim surveilans di Puskesmas, Dinkes Kabupaten/Kota, Propinsi, dan Pusat. Sedangkan analisa data akan mendapatkan hasil analisa, antara lain:

- Prevalensi penyakit jantung koroner - Proporsi DM sebagai penyebab kematian - Prevalensi hipertensi

- Prevalensi gagal jantung - Prevalensi DM

- Prevalensi PPOK

- Proporsi penyakit tiroid dari seluruh penyakit

Penyajian sebaiknya dalam bentuk tabel, grafik, spot map, area map.

3. Interpretasi data

Pada interpretasi data biasanya berdasarkan situasi di suatu wilayah seperti kecenderungan dan besaran masalah PTM.

117

4. Diseminasi informasi

Pada diseminasi informasi ditunjukkan dalam bentuk laporan dan atau presentasi dimana akan tampilkan kepada seluruh stakeholder yang terkait, seperti jajaran kesehatan, LSM, profesi, perguruan tinggi danmasyarakat pada umumnya.

5. Output

Pada output dibuat ke dalam tabel berdasarkan data yang didapatkan dari sumber data yang ada.

• Registrasi PTM

Surveilans kasus PTMberdasarkan registrasi PTM merupakan kegiatan pengumpulan, pengolahan, analisa, interpretasi kasus PTM berdasarkan data individual. Registrasi PTM merupakan bagian dari surveilans PTM. Sumber datanya adalah seluruh fasilitas kesehatan yang mempunyai data PTM, yaitu

PUSKESMAS LAB/RS SURVAI

1 Hipertensi I10 V V V

2 Penyakit jantung koroner I24.0 V V V

3 Diabetes Melitus (kencing manis)

a. DM Tipe I E10 V V

b. DM Tipe II E11 V V V

c. DM Gestasional O24 V V

4 Obesitas E66 V V V

5 Penyakit tiroid

a. Hipotiroid E05 V V

b. Hipertiroid E03 V V

6 Stroke V V

a. Stroke Haemorragik I60-I62 V V

b. Stroke Non Haemorragik I63 V V

7 Asma Bronkiale J45 V V V

8 PPOK J44 V V V

9 Osteoporosis M81 V V

NO PTM ICD-X SUMBER DATA

10 Penyakit Ginjal Kronik N00-N19 V V

11 Thalassemia V V

12 SLE/Lupus V V

13 Kanker V V

a. Kanker payudara (Ca mammae) C50 V

b. Kanker retina mata (Retinoblastoma) C69 V

c. Kanker serviks (Ca cervix) C53 V

d. Kanker paru C34 V

14 Cedera akibat Kecelakaan lalu lintas V01-V99 V V V

15

Cedera akibat Kekerasan dalam rumah tangga

X60-Y09

V V V

16 Cedera akibat lain W00-X59 V V V

118

- RS

- Puskesmas - Laboratorium - Klinik

- Asuransi - Catatan sipil Rangkuman

Surveilans epidemiologi penyakit tidak menular merupakan kegiatan analisis secara sistematis dan terus menerus terhadap PTM baik itu faktor risiko PTM maupun kasus dimana dengan tujuan agar dapat melakukan tindakan penanggulangan secara efektif dan efisien melalui proses pengumpulan data, pengolahan, analisa data, interpretasi data,diseminasi informasi, dan outputkepada penyelenggara program kesehatan dan tindak lanjut.

Tugas:

1. Tugas Terstruktur Petunjuk:

• Bentuklah 4 kelompok! Masing-masing kelompok mencari pedoman surveilans epidemiologi pada salah satu penyakit tidak menular dan mengidentifikasi: pengumpulan data yang digunakan, pengolahan data yg dilakukan, analisis data, interpretasi data, diseminasi informasi, dan output.

• Tugas diketik ke dalam MS Word kertas A4 dengan Font Times New Roman 12 spasi 1,5 dalam bentuk hasil diskusi paper dengan mencantumkan referensi saat pengerjaan tugas tersebutdengan menggunakan Cover yang berisijudul tugas, logo uim, nama-nim anggota kelompok, dan program studi.

• Tugas dikirim ke email [email protected] paling lama 1 minggu setelah tugas ini diumumkan.

• Bentuk laporan tugas disusun dengan mengikuti format sebagai berikut : SAMPUL DEPAN (COVER)

DAFTAR ISI BAB I

SKENARIO/TEMA : JUDUL TUGAS JURNAL

119

PENDAHULUAN 1. Latar Belakang 2. Tujuan

BAB II

PROBLEM/ANALISIS MASALAH BAB III

PEMBAHASAN BAB IV

KESIMPULAN DAN PENUTUP DAFTAR PUSTAKA

2. Kegiatan Mandiri Petunjuk:

• Membuat skema terkait Survelians faktor risiko PTM

• Tugasdiketik ke dalamMS Word kertas A4 dengan Font Times New Roman 12 spasi 1,5 menggunakan Cover yangberisi judul tugas, logo uim, nama, nim, dan program studi.

• Tugas dikirim ke email [email protected] dengan judul “tugas surveilans epidemiologi penyakit tidak menular”.

120

DAFTAR PUSTAKA

Bustan, Nadjib, M.2015.ManajemenPengendalianPenyakit Tidak Menular.

Jakarta: Rineka Cipta.

DCP2. 2008. Public Health Surveillance: The best weapon to avert epidemics.

Disease Control Priority Project.

www.dcp2.org/file/153/dcpp-surveillance.pdf

Giesecke, J. 2002. Modern Infectious Disease Epidemiology. London: Arnold.

Gordis, L. 2000. Epidemiology. Philadelphia, PA: WB Saunders Co.

Irwan, 2016. Epidemiologi Penyakit Tidak menular Edisi 1. Yogyakarta:

Deepublish.

JHU. 2006. Disaster Epidemiology. Baltimore: The Johns Hopkins and IFRC Public Health Guide for Emergencies.

Last, J. M. 2001. A Dictionary of Epidemiology. New York: Oxford University Press, Inc.

121

BAB VII UJI SKRINING dr. John Barker Liem, M.K.M

PENDAHULUAN

A. Pengantar Pendahuluan

Skrining adalah penemuan penyakit secara aktif pada orang yang tanpa gejala dan tanpak sehat. Skrininf tes, menurut pembatasan yang diberikan orang, bukanlah yang dimaksud dengan diagnostik; orang dengan tanda positif atau mencurigakan menderita penyakit hendaknya diberi perawatan/pengobatan setelah diagnosis dipastikan.

Uji skrining diterapkan pada penduduk yang telah dipilih terlebih dahulu.

Mereka yang dengan hasil tes negatif disisihkan; mereka ini adalah yang rupanya tidak menderita penyakit yang sedang dicari. Kepada mereka yang positif, yakni mereka yang dicurigai menderita penyakit yang tengah dicari atau dalam keadaan akan menderita di waktu mendatang dilakukan tes diagmostik dan dengan ini disisihkan dari mereka yang tidak menderita penyakit. Kepada mereka yang menderita penyakit yang tengah dicari itu dilakukan intervensi terapeutik.

Di negara yang telah maju, program skrining telah diadakan untuk beberapa penyakit seperti kanker payudara dengan mammography, thermography, dsb., kanker leher rahim dengan pap smear, dan hipertensi dengan pemeriksaan tekanan darah. Pada usaha awal pemberantsan tuberkulosis di Indonesia, dilaksanakan pemeriksaan dengan sinar-X, pemeriksaan sputum, dan pembuatan biakan hasil. TB adalah contoh pemeriksaan yang digunakan di dalam program penemuan kasus. Tiga kriteria yang digunakan dalam menilai skrining tes ialah validitas, reliabilitas, dan yield.

B. Deskripsi Materi

Bab ini disusun sedemikian rupa untuk membantu mahasiswa semester IV dalam memahami materi kuliah Epidemiologi dengan beban 1 sks teori. Bab ini menguraikan tentangpengertian, tujuan, tipe skrining, karakteristik uji skrining, bagaimana teknik uji skrining yang baik, contoh skrining, sasaran penyakit yang di skrining, dan prinsip pelaksanaan skrining.

122

C. Kemampuan Akhir yang Diharapkan

Pembelajaran pada bab ini bertujuan untuk membantu mahasiswa mencapai Capaian Pembelajaran Mata Kuliah (CPMK), yaitumampu memahami uji skrining.

D. Uraian Materi

I. Pengertian skrining II. Tujuan skrining III. Tipe skrining

IV. Karakteristik uji skrining V. Teknik uji skrining yang baik VI. Contoh skrining

VII. Sasaran penyakit yang di skrining VIII. Prinsip pelaksanaan skrining

123

I. Pengertian skrining

Skrining adalah metode identifikasi dugaan penyakit atau masalah kesehatan dengan cara menerapkan uji, pemeriksaan atau prosedur lain yang dapat dilakukan secara cepat. Menurut WHO pengertian skrining adalah upaya pengenalan penyakit atau kelainan yang belum diketahui dengan menggunakan tes, pemeriksaan atau prosedur lain yang dapat secara cepat membedakan orang yang tampak sehat benar-benar sehat dengan orang yang tampak sehat tetapi sesungguhnya menderita kelainan.

Skrining juga dapat didefenisikan sebagai pemeriksaan orang-orang asimptomatik untuk mengklasifikasikan mereka dalam kategori yang diperkirakan mengidap atau diperkirakan tidak mengidap penyakit yang menjadi objek skrining.

Sumber yang lain menyatakan bahwa penyaringan adalah suatu usaha mendeteksi atau menemukan penderita penyakit tertentu yang tanpa gejala (tidak tampak) dalam suatu masyarakat atau penduduk tertentu melalui tes atau pemeriksaan secara singkat dan sederhana untuk dapat memisahkan mereka betul-betul sehat terhadap mereka yang kemungkinan besar menderita, yang selanjutnya diproses melalui diagnosis pasti dan pengobatan.

II. Tujuan skrining

Tujuan skrining adalah mencegah penyakit atau akibat penyakit dengan mengidentifikasi individu-individu pada suatu titik dalam riwayat alamiah ketika proses penyakit dapat diubah melalui intervensi. Namun, ada pendapat yang berbeda mengenai tujuan dilakukannya skrining yaitu:

1. Untuk mendapatkan mereka yang

menderita sedini mungkin sehingga dapat dengan segera memperoleh pengobatan,

2. Untuk mencegah meluasnya penyakit dalam masyarakat,

3. Untuk mendidik dan membiasakan masyarakat untuk memeriksakan diri sedini mungkin,

4. Untuk mendidik dan memberikan gambaran kepada petugas kesehatan tentang sifat penyakit dan selalu waspada melakukan pengamatan terhadap gejala dini,

124

5. Untuk mendapatkan keterangan epidemiologis yang berguna bagi klinisi dan peneliti.

III. Tipe skrining

Tipe skrining dibagi berdasarkan sasaran atau populasi yang akan di skrining yaitu sebagai berikut:

1. Mass screening (skrining massal)

Skrining yang dilakukan pada seluruh populasi.

Misalnya, mass X-ray survey atau blood pressure screening pada seluruh masyarakat yang berkunjung pada pelayanan kesehatan.

2. Selective screening (skrining preskriptif)

Skrining yang mendeteksi awal orang sehat yang diduga menderita penyakit yang dengan deteksi dini dapat dikendalikan lebih baik.

Populasi tertentu menjadi sasaran dari jenis skrining ini, dengan target populasi berdasarkan pada risiko tertentu. Tujuan selective screening pada kelompok risiko tinggi untuk mengurangi dampak negatif dari skrining.

Contohnya, Pap smear skrining pada wanita usia di atas 40 tahun untuk mendeteksi Ca Cervix, atau mammography skrining untuk wanita yang punya riwayat keluarga menderita kanker.

3. Single disease screening

Jenis skrining ini hanya dilakukan untuk satu penyakit.

Misalnya, skrining terhadap penderita penyakit TBC, jadi lebih tertuju pada satu jenis penyakit.

4. Case finding screening

Case findingscreening adalah upaya dokter atau tenagga kesehatan untuk menyelidiki suatu kelainan yang tidak berhubungan dengan kelompok pasien yang datang untuk kepentingan pemeriksaan kesehatan.

Penderita yang datang

dengan keluhan diare kemudian dilakukan pemeriksaan terhadap mamografi atau rongen thorax.

5. Multiphasic screening (skrining multipel atau multifasik)

Jenis skrining ini merupakan satu kegiatan skrining yang menggunakan berbagai metoda pemeriksaan. Pemeriksaan skrining untuk beberapa penyakit pada satu kunjungan waktu tertentu. Jenis skrining ini sangat sederhana,

125

mudah dan murah serta diterima secara luas dengan berbagai tujuan seperti pada evaluasi kesehatan dan asuransi.

Sebagai contoh adalah pemeriksaan kanker disertai dengan pemeriksaan tekanan darah, gula darah dan kolesterol.

IV. Karakteristik uji skrining

Karakteristik utama uji skrining adakah validitas, reliabilitas, dan hasil (yield).

Validitas

Validitas adalah kemampuan untuk memberikan indikasi individu yang sakit benar-benar sakit dan yang sehat benar-benar sehat. Validitas juga merupakan derajat yang menunjukkan dimana suatu tes mengukur apa yang hendak diukur. Validitas dapat mengacu sejauh mana akurasi suatu tes atau skala dalam menjalankan fungsi pengukurannya. Sedangkan validitas dalam skrining adalah kemampuan dari suatu alat untuk membedakan antara orang yang sakit dan orang yang tidak sakit.Validitas mempunyai dua komponen yaitu:

• Sensitivitas

Sensitivitas merupakan kemampuan suatu tes untuk mengidentifikasi individu dengan tepat, dengan hasil tes positif,dan benar sakit atau kemampuan yang dimiliki oleh alat ukur untuk menunjukan secara tepat individu-individu yang menderita penyakit atau besarnya probabilitas seseorang yang sakit akan memberikan hasil tes positif pada tes diagnostik tersebut.

Sensitivitas merupakan true positive rate (TPR) dari suatu tes diagnostik.Proporsi populasi yang benar-benar sakit yang teridentifikasi sakit oleh uji skrining. Ukuran probabilitas untuk diagnosis suatu kasus penyakit secara benar. Peluang tiap kasus untuk diidentifikasi oleh tes skrining. Kemampuan uji skrining berikan hasil positif jika orang yang diuji benar-benar sakit.

• Spesifisitas, kemampuan suatu tes untuk mengidentifikasi individu dengan tepat, dengan hasil negatif, dan benar tidak sakit atau kemampuan yang dimiliki oleh alat ukur untuk menunjukan secara tepat individu-individu yang tidak menderita sakit. Besarnyaprobabilitas seseorang yang tidak sakit atau sehat akan memberikan hasil tes negatif pada tes diagnostik.

126

Sensitivitas merupakan true negative rate (TNR) dari suatu tes diagnostik.Proporsi orang yang benar-benar tidak sakit yang diidentifikasi oleh uji skrining.Mengukur probabilitas identifikasi secara benar orang yang tidak sakit dengan suatu uji skrining.Kemampuan suatu uji (tes) memberikan temuan yang negatif bila orang yang diuji bebas penyakit.

Idealnya, hasil tes skrining harus 100% sensitif dan 100% spesifik, tapi dalam praktik hal ini ada dan biasanya sensitivitas berbanding terbalik dengan spesifisitas. Misalnya, bila hasil tes mempunyai sensitivitas yang tinggi, akan diikuti oleh spesifisitas yang rendah, dan sebaliknya. Hal ini tampak jelas pada tes yang mmenghasilkan data kontinu seperti:

- Hb

- Tekanan darah - Serum kolesterol - Tekanan intraokuler

Sensitivitas dan spesifisitas merupakan komponen ukuran dalam validitas, selain itu terdapat pula ukuran-ukuran lain dalam validitas yaitu:

a. True positive (TP), yang menunjuk pada banyaknya kasus yang benar- benar menderita penyakit dengan hasil tes positif pula.

b. False positive(FP), yang menunjukkan pada banyaknya kasus yang sebenarnya tidak sakit tetapi test menunjukkan hasil yang positif.

c. True negative (TN), menunjukkan pada banyaknya kasus yang tidak sakit dengan hasil test yang negatif pula.

d. False negative (FN), yang menunjuk pada banyaknya kasus yang sebenarnya menderita penyakit tetapi hasil test negatif.

Tabel 4. Perbandingan hasil alat ukur dengan status penyakit

HASIL UJI PENDUDUK

DENGAN PENYAKIT TANPA PENYAKIT

POSITIF Mempunyai penyakit dan alat uji positif (TP)

Tidak mempunyai penyakit dan alat uji positif (FP) NEGATIF Mempunyai penyakit dan alat

uji negatif (FN)

Tidak mempunyai penyakit dan alat uji negatif (TN) Sensitivitas= TP/TP+FN Spesifisitas= TN/TN+FP

Reliabiliitas

Reliabilitas adalah kemampuan suatu tes menunjukkan hasil yang konsisten walaupun dilakukan secara berulang. Reliabilitas juga merupakan suatu tes yang merujuk pada derajat stabilitas, konsistensi, daya prediksi, dan akurasi.

127

Ia melihat seberapa skor yang diperoleh seseorang itu akan menjadi sama jika orang itu diperiksa ulang dengan tes yang sama pada kesempatan berbeda.

Reliabilitas skrining adalah ukuran konsistensi berdasarkan orang dan waktu.Reliabilitas ini dipengaruhi oleh beberapa faktor, sebagai berikut:

1. Reliabilitas alat yang dapat dtimbulkan oleh stabilitas reagen dan sstabilitas alat ukur yang digunakan.Stabilitas reagen dan alat ukur sangat penting karena makin stabil reagen dan alat ukur, makin konsisten hasil pemeriksaan. Oleh karena itu, sebelum digunakan hendaknya kedua hasil tersebut ditera atau diuji ulang ketepatannya.

2. Reliabilitas orang yang diperiksa seperti kondisi fisik, psikis, stadium penyakit atau penyakit dalam masa tunas. Misalnya lelah, kurang tidur, marah, sedih, gembira, penyakit yang berat,penyakit dalam masa tunas.

Umumnya, variasi ini sulit diukur terutama faktor psikis.

3. Reliabilitas pemeriksa, dapat berupa:

a. Variasi internal, yaitu variasi yang terjadi pada hasil pemeriksaan yang dilakukan berulang-ulang oleh orang yang sama

b. Variasi eksternal, yaitu variasi yang terjadi bila satu sediaan dilakukan pemeriksaan oleh beberapa orang.

Upaya untuk mengurangi berbagai variasi:

- Standarisasi reagen dan alat ukur - Latihan intensif pemeriksa - Penentuan kriteria yang jelas

- Penerangan kepada orang yang diperiksa - Pemeriksaan dilakukan dengan cepat

Pengukuran yang telah dilakukan memiliki empat kemungkinan pada hasil pengukurannya yaitu:

1. Tepat dan teliti (valid – reliabel): good precision & good accuracy 2. Teliti tapi tidak tepat (valid tapi tidak reliabel): good accuracy & poor

precision

3. Tidak teliti tapi tepat (tidak valid tapi reliabel): poor accuracy & good precision

4. Tidak teliti dan tidak tepat (tidak valid & tidak reliabel): poor accuracy

& poor precision

128

Tidak teliti = tidak valid = Bias.

Yield

Merupakan jumlah penyakit yang terdiagnosis dan diobati sebagai hasil dari screening.

Hasil ini dapat dipengaruhi oleh:

• Sensitivitas alat screening, bila alat yang digunakan memiliki sensitivitas yang rendah akan dihasilkan banyak negatif semu, yang berarti banyak penderita yang tidak terdiagnosis sehingga yield yang diperoleh rendah.

Begitu pula sebaliknya.

• Prevalensi penyakit yang tidak tampak, makin tinggi prevalensi penyakit tanpa gejala di masyarakat akan meningkatkan yield,terutama penyakit kronik.

Skrining yang dilakukan sebelumnya, maka yield akan rendah karena banyak yang telah terdiagnosis sebelumnya.

• Kesadaran masyarakat

V. Teknik uji skrining yang baik

Untuk dapat menyusun suatu program penyaringan, diharuskan memenuhi beberapa kriteria atau ketentuan-ketentuan khusus yang merupakan persyaratan suatu tes penyaringan, berikut ini merupakan syarat-syarat skrining, antara lain:

1. Penyakit yang dituju harus merupakan masalah kesehatan yang berarti dalam masyarakat dan dapat mengancam derajat kesehatan masyarakat tersebut, 2. Tersedianya obat yang potensial dan memungkinkan pengobatan bagi mereka

yang dinyatakan menderita penyakit yang mengalami tes. Keadaan penyediaan obat dan jangkauan biaya pengobatan dapat mempengaruhi tingkat atau kekuatan,

3. Tersedianya fasilitas dan biaya untuk diagnosis pasti bagi mereka yang dinyatakan positif serta tersedianya biaya pengobatan bagi mereka yang dinyatakan positif melalui diagnosis klinis,

4. Tes penyaringan terutama ditujukan pada penyakit yang masa latennya cukup lama dan dapat diketahui melalui pemeriksaan atau tes khusus,

5. Tes penyaringan hanya dilakukan bila memenuhi syarat untuk tingkat sensitivitas dan spesifitasnya karena kedua hal tersebut merupakan standar

129

untuk mengetahui apakah di suatu daerah yang dilakukan skrining berkurang atau malah bertambah frekuensi endemiknya,

6. Semua bentuk atau teknis dan cara pemeriksaan dalam tes penyaringan harus dapat diterima oleh masyarakat secara umum,

7. Sifat perjalanan penyakit yang akan dilakukan tes harus diketahui dengan pasti,

8. Adanya suatu nilai standar yang telah disepakati bersama tentang mereka yan g dinyatakan menderita penyakit tersebut,

9. Biaya yang digunakan dalam melaksanakan tes penyaringan sampai pada titik akhir pemeriksaan harus seimbang dengan resiko biaya bila tanpa melakukan tes tersebut,

10. Harus dimungkinkan untuk diadakan pemantauan (follow up) terhadap penyakit tersebut serta penemuan penderita secara berkesinambungan.

Keberhasilan suatu tes skrining berhubungan dengan tujuan skrining.

Ada beberapa anjuran untuk memperhatikan persyaratan untuk keberhasilan skrining yakni sebagai berikut:

1. Seharusnya ada pengobatan yang sesuai dan dapat diterima bila hasil pemeriksaan positif,

2. Fasilitas pengobatan dan diagnosis harus tersedia,

3. Mengenal kelainan yang timbul tahap dini suatu penyakit, 4. Harus ada tes atau pemeriksaan yang sesuai,

5. Tes atau pemeriksaan harus diterima masyarakat,

6. Riwayat alamiah yang di skrining harus dimengerti secara baik,

7. Harus ada kebijakan yang disetujui untuk mengobati bila pasien positif terkena penyakit,

8. Biaya harus seimbang secara keseluruhan,

8. Biaya harus seimbang secara keseluruhan,

Dalam dokumen MODUL CETAK BAHAN AJAR EPIDEMIOLOGI (Halaman 126-0)