• Tidak ada hasil yang ditemukan

Tujuan epidemiologi analitik

Dalam dokumen MODUL CETAK BAHAN AJAR EPIDEMIOLOGI (Halaman 162-0)

BAB VI PENYAKIT TIDAK MENULAR

Topik 2: Rancangan Studi Epidemiologi Analitik

B. Tujuan epidemiologi analitik

Epidemologi analitik adalah riset epidemiologi yang bertujuan untuk:

• Menjelaskan faktor-faktor resiko dan kausa penyakit

• Memprediksikan kejadian penyakit

• Memberikan saran strategi intervensi yang efektif untuk pengendalian penyakit

C. Kelebihan dan kekurangan studi epidemiologi analitik

Kelebihan dan kelemahan studi epidemiologi analitik tidak ada yang spesifik karena tergantung dari jenis penelitian yang digunakan.

Berikut ini beberapa kelebihan studi epidemiologi analitik, antara lain:

• Merupakan satu-satunya cara untuk meneliti kasus jarang atau yang masa latennya panjang

• Merupakan desain terbaik dalam menentukan insiden perjalanan penyakit atau efek yang diteliti

• Subjek penelitian sedikit

• Dapat meneliti beberapa efek sekaligus

• Dapat melihat hubungan beberapa penyebab terhadap suatu akibat

150

Berikut ini beberapa kekurangan studi epidemiologi analitik, antara lain:

• Sulit menentukan kontrol yang tepat

• Validasi mengenai informasi kadang sukar diperoleh

• Kurang efisien untuk kasus yang jarang

• Tidak dapat dipakai lebih dari satu variabel dependen

D. Jenis studi epidemiologi analitik

Pada jenis studi epidemiologi analitik dibagi atas: studi potong lintang (Cross-sectional study), studi kasus kontrol (Case control), studi kohort (Kohort study), namun studi potong lintang (Cross-sectional study) tidak akan dibahas lebih lanjut.

Studi kasus kontrol (Case control)

Studi kasus kontroladalah rancangan studi epidemiologi yang mempelajari hubungan antara penyebab suatu penyakit dan penyakit yang diteliti dengan membandingkan kelompok kasus dan kelompok kontrol berdasarkan status penyebab penyakitnya.Penelitian case control adalah suatu penelitian (survei) analitik yang menyangkut bagaimana faktor resiko dipelajari dengan menggunakan pendekatan retrospektif. Studi ini mempelajari seberapa jauh faktor risiko mempengaruhi terjadinya efek.

Berikut ini adalah langkah-langkah penelitian case control, antara lain:

1. Menetapkan pertanyaan penelitian dan hipotesis yang sesuai yakni dengan mengidentifikasi variabel-variabel penelitian (faktor resiko dan efek) 2. Menetapkan variabel penelitian yakni dengan menetapkan objek penelitian

(populasi dan sampel)

3. Menetapkan subjek penelitian sebagai kontrol untuk mengidentifikasi kasus

4. Melakukan pengukuran variabel yakni pengukuran retrospetif (melihat ke belakang) untuk melihat faktor risiko

5. Analisis hasil karakteristik penelitian case controldengan menbandingkan proporsi antara variabel-variabel objek penelitian dengan variabel-variabel kontrol

Contoh: peneliti ingin membuktikan hubungan antara malnutrisi (kekurangan gizi) pada balita dengan perilaku pemberian makanan oleh ibu.

151

Ciri-ciri penelitian case control adalah sebagai berikut:

• Subjek dipilih atas dasar apakah mereka menderita (kasus) atau tidak (kontrol) suatu kasus yang ingin diamati kemudian proporsi pemajanan dari kedua kelompok tersebut dibandingkan.Pemilihan subjek berdasarkan status penyakitnya, untuk kemudian dilakukan pengamatan apakah subjek mempunyai riwayat terpapar atau tidak. Subjek yang didiagnosis menderita penyakit disebut: Kasus berupa insidensi yang muncul dan populasi, sedangkan subjek yang tidak menderita disebut Kontrol.

• Diketahui variabel terikat (akibat), kemudian ingin diketahui variabel bebas (penyebab).

• Observasi dan pengukuran tidak dilakukan pada saat yang sama.

• Peneliti melakukan pengukuran variabel bergantung pada efek (subjek (kasus) yang terkena penyakit) sedangkan variabel bebasnya dicari secara retrospektif.Jenis penelitian ini dapat saja berupa penelitian restrospektif bila peneliti melihat ke belakang dengan menggunakan data yang berasal dari masa lalu atau bersifat prospektif bila pengumpulan data berlangsung secara berkesinambungan sering dengan berjalannya waktu. Idealnya penelitian kasus kontrol itu menggunakan kasus (insiden) baru untuk mencegah adanya kesulitan dalam menguraikan faktor yang berhubungan dengan penyebab dan kelangsungan hidup.

Adapun karakteristik penelitian case control, antara lain:

- Merupakan penelitian observasional yang bersifat retrospektif - Penelitian diawali dengan kelompok kasus dan kelompok kontrol

- Kelompok kontrol digunakan untuk memperkuat ada tidaknya hubungan sebab akibat

- Terdapat hipotesis spesifik yang akan diuji secara statistik Kelebihan dari penelitian case control adalah sebagai berikut:

• Cocok untuk mempelajari penyakit yang jarang ditemukan

• Hasil cepat dan ekonomis

• Subjek penelitian bisa lebih sedikit

• Memungkinkan mengetahui sejumlah faktor risiko yang mungkin berhubungan denganpenyakit

152

• Kesimpulan korelasi kurang baik, karena ada pembatasan dan pengendalian faktor risiko

• Tidak menghadapi kendala etik seperti pada penelitian eksperimen atau cohort

• Tidak memerlukan waktu lama (lebih ekonomis)

Kekurangan dari penelitian case control adalah sebagai berikut:

• Pengukuran variabel yang retrospektif, objektifitas dan reliabilitasnya kurang karena subjek penelitian harus mengingat kembali faktor-faktor risikonya

• Tidak dapat diketahui efek variabel luar karena secara teknis tidak dapat dikendalikan

• Kadang-kadang sulit memilih kontrol yang benar-benar sesuai dengan kelompok kasus karena banyaknya faktor resiko yang harus dikendalikan

Studi kohort (Cohort study)

Studi kohort adalah rancangan studi epidemiologi yang mempelajari hubungan antara penyebab dari suatu penyakit dan penyakit yang diteliti dengan membandingkan kelompok terpajan dan kelompok yang tidak terpajan berdasarkan status penyakitnya.Penelitian kohort merupakan suatu penelitian yang digunakan untuk mempelajari dinamika korelasi antara faktor risiko dengan faktor efek melalui pendekatan longitudinal kedepan atau prospektif.

Dengan kata lain, penelitian kohort adalah sebuah rancangan penelitian dimana peneliti mengelompokkan atau mengklasifikasikan kelompok terpapar dan tidak terpapar, kemudian diamati sampai waktu tertentu untuk melihat ada tidak efek atau penyakit yang timbul. Pada awal subjek penelitian harus bebas dari penyakit/masalah kesehatan, dari hasil pengamatan setelah rentang waktu yang ditentukan, dianalisis dengan teknik tertentu sehingga dapat disimpulkan apakah ada hubungan paparan dengan penyakit atau efek yang terjadi.

Rancangan penelitian kohort dibedakan menjadi dua yakni:

1. Kohort Prospektif

Rancangan penelitian kohort prospektif apabila paparan atau faktor risiko diukur pada awal penelitian, kemudian di follow up untuk mengetahui efek dari paparan di masa datang. Lamanya follow up berdasarkan perkiraan lamanya efek akan terjadi. Biasanya penelitian ini dilakukan bertahun-tahun.

153

2. Kohort Retrospektif

Pada rancangan penelitian kohort retrospektif, faktor risiko dan efek/penyakit sudah terjadi dimasa lampau sebelum dilakukan penelitian.

Berikut ini adalah langkah-langkah penelitian cohort, antara lain:

1. Merumuskan pertanyaan penelitian dan hipotesis

Langkah pertama yang harus dilakukan oleh peneliti adalah merumuskan masalah atau pertanyaan penelitian, menentukan apa yang menjadi variabel dalam penelitian, baik variabel dependen, maupun variabel independen, dan yang selanjutnya peneliti akan merumuskan hipotesa penelitian.

2. Menentukan kelompok terpapar dan tidak terpapar

Pada studi kohort, harus diperhatikan mengenai penentuan kelompok yang akan mendapat paparan dengan kelompok yang tidak akan mendapat paparan. Pemilihan kelompok terpapar yang berasal dari populasi umum memungkinkan peneliti mendapatkan informasi yang lengkap dan akurat dari subjek penelitian. Populasi umum merupakan pilihan yang tepat pada beberapa keadaan, seperti:

- Prevalensi paparan pada populasi cukup tinggi - Batas geografik jelas, dan secara demografik stabil

- Ketersediaan catatan demografi yang lengkap dan up to date

Selain populasi umum, kita dapat menggunakan populasi khusus. Populasi khusus merupakan alternatif pada keadaan apabila prevalensi paparan dan kejadian penyakit pada populasi umum rendah, dan adanya kemudahan untuk memperoleh informasi yang akurat.

Kelompok tidak terpapar atau kelompok kontrol dalam penelitian kohort adalah kumpulan subjek yang tidak mengalami pemaparan, atau pemaparannya berbeda dengan kelompok target. Penentuan kelompok tidak terpapar dapat dipilih dari populasi yang sama dengan populasi kelompok terpapar, dan dapat dipilih dari populasi yang bukan asal kelompok terpapar, tetapi harus dipastikan kedua populasi harus sama dalam hal faktor faktor yang merancukan penilaian hubungan antara paparan dan penyakit yang sedang diteliti.

Kelemahan dalam menggunakan populasi umum adalah derajat kesehatan berbeda, data kependudukan, kesehatan, dan catatan medik pada populasi umum tidak seakurat pada populasi khusus.

154

3. Menentukan Sampel

Langkah selanjutnya dalam studi kohort adalah menetapkan besarnya sampel yang akan digunakan dalam penelitian.

4. Pengambilan data dan pencatatan

Kedua kelompok yang telah ditetapkan, yaitu kelompok terpapar dan kelompok tidak terpapar, kemudian diikuti selama jangka waktu tertentu sesuai dengan waktu yang telah ditetapkan dalam penelitian. Selanjutnya peneliti melakukan pencatatan semua keterangan yang telah diperoleh sesuai tujuan penelitian.

5. Pengolahan dan analisi data hasil penelitian

Semua data yang telah diperoleh, meliputi data kejadian penyakit yang dialami oleh kelompok terpapar dan kelompok tidak terpapar, dilakukan pengolahan data agar dapat ditangani dengan mudah, meliputi kegiatan editing, coding, processing, dan cleaning. Selanjutnya data yang diperoleh disajikan dalam tabel.

Ciri-ciri penelitian cohort adalah sebagai berikut:

• Berasal dari kata romawi kuno yang berarti kelompok tentara yang berbaris maju ke depan.

• Subjek dibagi berdasarkan ada atau tidaknya pemajanan faktor tertentu dan kemudian diikuti dalam periode waktu tertentu untuk menentukan munculnya penyakit pada tiap kelompok.

• Digunakan untuk mempelajari dinamika korelasi antara faktor resiko dan efek.

• Sekelompok subjek yang belum mengalami penyakit atau efek diikuti secara prospektif.

• Diketahui variabel bebas (penyebab) kemudian ingin diketahui variabel terikat (akibat).

• Dapat dilakukan secara prospektif dan retrospektif Adapun karakteristik penelitian cohort, antara lain:

- Bersifat observasional

- Pengamatan dilakukan dari sebab ke akibat - Disebut sebagai studi insidensi

- Terdapat kelompok kontrol

155

- Terdapat hipotesis spesifik

- Dapat bersifat prospektif ataupun retrospektif

- Untuk kohort retrospektif, sumber datanya menggunakan data sekunder

Kelebihan dari penelitian cohort adalah sebagai berikut:

• Kesesuaian dengan logika normal dalam membuat inferensi kausal

• Dapat menghitung laju insidensi

• Untuk meneliti paparan langkah

• Dapat mempelajari beberapa akibat dari suatu paparan Kekurangan dari penelitian cohort adalah sebagai berikut:

• Lebih mahal dan butuh waktu lama

• Pada kohort retrospektif, butuh data sekunder yang lengkap dan handal

• Tidak efisien dan tidak praktis untuk kasus penyakit langka

• Risiko untuk hilangnya subjek selama penelitian, karena migrasi, partisipasi rendah atau meninggal

• Rawan terhadap bias

Contoh kasus

Suatu penelitian ingin mengetahui beberapa faktor yang mempengaruhi terjadinya penyakit tifoid pada anak-anak. Beberapa faktor yang diduga sebagai faktor risiko terjadinya penyakit tifoid adalah kebiasaan jajan di sekolah dan kebiasaan cuci tangan sebelum makan.

Untuk memudahkan, kita mengunakan simbol E (Exposure) dan D (Disease), dimana :

– D+: Tifoid – D-: Tidak Tifoid

– E+: Tidak cuci tangan dan jajan – E-: Cuci tangan dan jajan Penelitian case control:

Pada penelitian case controlkita menentukan disease/penyakitnya lebih dulu baru menganalisis penyebab atau paparannya (exposure).

156

Maka dalam hal ini kita menentukan adanya penyakit tifoid atau tidak kemudian menganalisis penyebab terjadinya penyakit tifoid, apakah karena dipengaruhi jajan dan tidak cuci tangan atau jajan dan cuci tangan.

D+ E+

E-

D- E+

E- Pada penelitian cohort:

Pada penelitian cohortberdasarkan status paparan (exposure) kemudian diikuti (di follow up) hingga periode tertentu sehingga dapat diidentifikasi dan dihitung besarnya kejadian penyakit (disease).

Maka dalam hal ini berdasarkan status paparan (jajan dan cuci tangan atau jajan dan tidak cuci tangan) baru kemudian diamati dari paparan-paparan tersebut mana yang menyebabkan penyakit tifoid dan mana yang tidak menyebabkan penyakit tifoid.

E+ D+

D-

E- D+

D-

Rangkuman

Pada rancangan studi epidemiologi analitik menekankan pada pencarian jawaban terhadap penyebab terjadinya frekuensi, penyebaran serta munculnya suatu masalah kesehatan. Kunci dari studi epidemiologi analitik ini adalah untuk menjamin bahwa studi di desain tepat sehingga temuannya dapat dipercaya (reliabel) dan valid. Masing-masing jenis penelitian seperti kasus kontrol (case control) dengan menentukan disease/penyakitnya lebih dulu baru menganalisis penyebab atau paparannya (exposure). Sedangkan studi kohort (cohort study) berdasarkan status paparan (exposure) kemudian diikuti (di follow up) hingga periode tertentu sehingga dapat diidentifikasi dan dihitung besarnya kejadian penyakit (disease), serta lebih mahal dan butuh waktu lama.

157

Tugas:

1. Tugas Terstruktur Petunjuk:

• Bentuklah 4 kelompok! Masing-masing kelompok mencari jurnal penelitian terkait rancangan studi epidemiologi analitik dan melakukan identifikasi beberapa hal: penyakit apa yang menjadi fokus studi, jenis desain apa yang digunakan: case control/ studi kohort, lama waktu penelitian, pengolahan dan analisis data yang digunakan.

• Tugas diketik ke dalam MS Word kertas A4 dengan Font Times New Roman 12 spasi 1,5 dalam bentuk laporan hasil diskusi paper dengan mencantumkan referensi saat pengerjaan tugas tersebutdengan menggunakan Cover yang berisijudul tugas, logo uim, nama-nim anggota kelompok, dan program studi.

• Tugas dikirim ke email [email protected] paling lama 1 minggu setelah tugas ini diumumkan.

• Bentuk laporan tugas disusun dengan mengikuti format sebagai berikut : SAMPUL DEPAN (COVER)

DAFTAR ISI BAB I

SKENARIO/TEMA : JUDUL TUGAS JURNAL PENDAHULUAN

1. Latar Belakang 2. Tujuan

BAB II

PROBLEM/ANALISIS MASALAH BAB III

PEMBAHASAN BAB IV

KESIMPULAN DAN PENUTUP DAFTAR PUSTAKA

2. Kegiatan Mandiri Petunjuk:

• Membuat bagan perbedaan terkait penelitian epidemiologi analitik (Case control dan kohort study)

158

• Tugasdiketik ke dalamMS Word kertas A4 dengan Font Times New Roman 12 spasi 1,5 menggunakan Cover yangberisi judul tugas, logo uim, nama, nim, dan program studi.

• Tugas dikirim ke email [email protected] dengan judul “tugas rancangan studi epidemiologi analitik”.

159

DAFTAR PUSTAKA

Beaglehole, R, dkk. 1997. Dasar-dasar Epidemiologi. Yoyakarta : Gadjah Mada University Press.

Bonita R, Baeglehole R, Kjellstorm T. Basic of Epidemiology. Switzerland:

WHO Press; 2006.

Budiarto, E. 2001. Pengantar Epidemiologi. Jakarta: Penerbit Buku Kedokteran EGC.

Budioro, B. 2007. Pengantar Epidemiologi Edisi II. Semarang: Badan Penerbit Undip.

Bustan, M. N. 2007. Epidemiologi Penyakit Tidak Menular. Jakarta: Penerbit Rineka Cipta.

Dallas E. 2008. Study Design in Epidemiology. Melbourne.

Murti, B. 2003. Prinsip dan Metode Riset Epidemiologi edisi 2. Yoyakarta:

Gadjah Mada University Press.

Rothman, K. J. 2002.Epidemiology, An Introduction. New York: Oxford University Press.

Saepudin, M. 2011. Prinsip-prinsip epidemiologi. Jakarta Timur: CV. Trans Info Media.

Sutrisna, B. 1986. Pengantar Metoda Epidemiologi. Jakarta: Dian Rakyat.

Webb, P., Bain, C., Pirozzo, S. 2005.Essential Epidemiology, An Introduction for Students and Health Professionals. New York: Cambridge University Press.

160

BAB IX

METODE STANDARISASI dr. John Barker Liem, M.K.M

PENDAHULUAN

A. Pengantar Pendahuluan

Standardisasi merupakan suatu metode yang digunakan untuk menghasilkan ukuran yang setara atau komparabel antara beberapa populasi atau sub-grup, dengan memperhitungkan konfounding utama, seperti perbedaan umur dan seks pada komposisi populasi atau sub grup yang berbeda. Atau standardisasi adalah sebuah metode dengan menggabungkan angka rata-rata kategori spesifik ke dalam nilai kesimpulan tunggal dengan mengambil rata-rata yang telah ditakar.

Standardisasi menakar angka rata-rata spesifik kategori dengan menggunakan hasil ukuran yang berasal dari populasi standar. Dengan kata lain, standardisasi merupakan proses penakaran dari angka rata-rata dari dua atau lebih kategori dengan susunan spesifik dari populasi yang menjadi takaran atau perbandingan.

Digunakan jika ingin membandingkan status kesehatan (Crude Death Rates/CDR) pada dua daerah/ negara yang berbeda struktur penduduknya (umur).

B. Deskripsi Materi

Bab ini disusun sedemikian rupa untuk membantu mahasiswa semester IV dalam memahami materi kuliah Epidemiologi dengan beban 1 sks teori. Bab ini menguraikan tentangtujuan dan prinsip dari metode standarisasi langsung dan tidak langsung.

C. Kemampuan Akhir yang Diharapkan

Pembelajaran pada bab ini bertujuan untuk membantu mahasiswa mencapai Capaian Pembelajaran Mata Kuliah (CPMK), yaitumampu memahami metode standarisasi.

D. Uraian Materi

I. Metode standarisasi langsung

161

II. Metode standarisasi tidak langsung

162

I. Metode standarisasi langsung

Standardisasi langsung memberikan hasil yang lebih akurat ketika jumlah dari angka kasus kecil pada setiap kelompok umur/ jenis kelamin pada populasi studi. Pada standardisasi langsung, angka rata-rata spesifik umur/ jenis kelamin per kelompok di populasi di dalam studi diaplikasikan ke populasi standar.Hasilnya merupakan paket angka rata-rata yang terstandarisasi (standardized rates).

Metode standarisasi langsung mempunyai tujuan adalah sebagai berikut:

• Metode langsung bisa digunakan untuk menghitung angka rata-rata yang terstandadrisasi, seperti rata-rata tekanan darah yang disesuaikan dengan umur dan jenis kelamin pada kelompok pekerjaan yang berbeda

• Untuk mempertimbangkan faktor lain selain umur dan jenis kelamin, seperti perbedaan komposisi ras/suku dalam kelompok studi

Digunakan jika age spesific death rate (ASDR) yang distandarisasi diketahui dan populasi standar tersedia

Pada prinsipnya, untuk menggunakan standardisasi langsung, hal-hal yang dibutuhkan adalah

• Distribusi populasi standar berdasarkan kelompok umur/ jenis kelamin

• Membutuhkan rata-rata spesifik umur/ jenis kelamin pada populasi studi, dan komposisi populasi berdasarkan umur/ jenis kelamin pada populasi standar

• Hasilnya adalah rata-rata yang telah di standarisasi oleh umur/ jenis kelamin (Age/Sex Adjusted Rate)

Langkah-langkah dalam metode standarisasi langsung, antara lain:

1. Hitung angka rata-rata pada setiap stratum (strata/ kelompok umur)

2. Pilih standar populasi yang akan digunakan sebagai acuan standar, misal populasi standar dunia

3. Kalikan rata-rata spesifik umur pada populasi studi dengan populasi standar pada setiap kelompok umur untuk mendapatkan jumlah kasus/ kejadian yang diharapkan

4. Jumlahkan semua hasil pada semua strata dari kasus/ kejadian yang diharapkan, lalu bagi jumlah total kasus yang diharapkan dengan jumlah populasi standar

163

II. Metode standarisasi tidak langsung

Standardisasi tidak langsung atau indirect standardization diukur dengan membandingkan jumlah kematian atau kesakitan yang diamati (observed number of deaths) dan jumlah kematian atau kesakitan yang diharapkan, yang dikenal juga dengan istilah ‘standardized mortality ratio (SMR)’. Angka rata-rata spesifik umur/ jenis kelamin per kelompok dari populasi standar diaplikasikan pada setiap kelompok dalam populasi studi. Hasilnya adalah rasio angka kematian atau kesakitan yang terstandarisasi (standardized mortality/morbidiy ratios/ SMR).

Metode standarisasi tidak langsung mempunyai tujuan adalah sebagai berikut:

• Untuk mempertimbangkan faktor lain selain umur dan jenis kelamin, seperti perbedaan komposisi ras/suku dalam kelompok studi

Digunakan jika age spesific death rate (ASDR)untuk populasi yang dipelajari tidak diketahui tetapi total kasus pada populasi studi diketahui

Standardized mortality/morbidiy ratios(SMR) juga digunakan ketika perhitungan rata-rata untuk populasi kecil dimana kita tidak bisa menghasilkan angka umur rata-rata yang stabil

Pada prinsipnya, untuk menggunakan standardisasi tidak langsung, hal-hal yang dibutuhkan adalah

• Menggunakan populasi studi

• Membutuhkan data:

- Komposisi umur/ jenis kelamin dan total kematian/ kasus, dan rata-rata spesifik berdasarkan umur/ jenis kelamin, dan total rata-rata pada populasi standar

- Total angka kematian/ kesakitan pada populasi studi dan jumlah populasi pada setiap strata pada populasi studi

• Hasilnya adalah angka kematian/ kesakitan yang sudah di standarisasi + rata-rata yang telah di standarisasi dengan umur/ jenis kelamin (Standardized Mortality Ratio atau Standardized Incidence Ratio)

Langkah-langkah dalam metode standarisasi tidaklangsung, antara lain:

1. Tersedianya total data kematian/ kesakitan dan jumlah populasi studi per kelompok umur/ jenis kelamin, dan data kasus, dan populasi per kelompok umur/ jenis kelamin pada populasi standar

164

2. Tentukan dan hitung angka rata-rata pada populasi standar

3. Hitunglah angka rata-rata yang diharapkan (Expected rate = study population for each stratum * standard rate) pada populasi standar

4. Jumlahkan total kasus yang diamatin (observed cases) pada populasi studi dan total kasus yang diharapkan (expected cases) pada populasi standar kemudia bagi total observed cases dengan total expected cases

Rangkuman

Standardisasi merupakan proses penakaran dari angka rata-rata dari dua atau lebih kategori dengan susunan spesifik dari populasi yang menjadi takaran atau perbandingan. Metode standarisasi terdiri atas: metode standarisasi langsung dan metode standarisasi tidak langsung dimana metode standarisasi langsung digunakan jika age spesific death rate (ASDR) yang distandarisasi diketahui dan populasi standard tersedia sedangkan metode standarisasi tidak langsung digunakan jika age spesific death rate (ASDR) tidak diketahui. Oleh karena itu hasilnya merupakan paket angka rata-rata yang terstandarisasi (standardized rates). Sedangkan pada standarisasi tidak langsung, angka rata-rata spesifik umur/jenis kelamin per kelompok dari populasi standar diaplikasikan pada setiap kelompok dalam populasi studi. Sehingga hasil dari standarisasi tidak langsung adalah rasio angka kematian atau kesakitan yang terstandarisasi (standardized mortality/morbidiy ratios/ SMR). Walaupun demikian, perhitungan angka rata-rata yang di standarisasi, langsung ataupun tidak langsung, pada dasarnya sama.

Tugas:

1. Tugas Terstruktur Petunjuk:

• Bentuklah 4 kelompok! Masing-masing kelompok mencari rate rumus perhitungan yang digunakan pada masing-masing metode standarisasi langsung dan tidak langsung.

• Tugas diketik ke dalam MS Word kertas A4 dengan Font Times New Roman 12 spasi 1,5 dalam bentuk hasil diskusi paper dengan mencantumkan referensi saat pengerjaan tugas tersebutdengan menggunakan Cover yang berisijudul tugas, logo uim, nama-nim anggota kelompok, dan program studi.

165

• Tugas dikirim ke email [email protected] lama 1 minggu setelah tugas ini diumumkan.

2. Kegiatan Mandiri Petunjuk:

• Membuat bagan perbedaan Metode standarisasi langsung : Metode standarisasi tidak langsung

• Tugasdiketik ke dalamMS Word kertas A4 dengan Font Times New Roman 12 spasi 1,5 menggunakan Cover yangberisi judul tugas, logo uim, nama, nim, dan program studi.

• Tugas dikirim ke email [email protected] dengan judul “tugas metode standarisasi”.

166

DAFTAR PUSTAKA

Budiarto, E., Anggraini, D. 2002.Pengantar Epidemiologi. Jakarta: EGC.

Kirkwood, B. R., Sterne, J.A.C. 2003. Medical StatisticsSecond ed. Victoria:

Blackwell Science.

Rothman, K. J. 2002.Epidemiology, An Introduction. New York: Oxford University Press.

Timrmreck, T. C. 2005. Suatu Pengantar Epidemiologi.Jakarta: EGC.

Webb, P., C. Bain, and S. Pirozzo. 2005.Essential Epidemiology, An Introduction for Students and Health Professionals. New York: CambridgeUniversity Press.

Dalam dokumen MODUL CETAK BAHAN AJAR EPIDEMIOLOGI (Halaman 162-0)