MORFOLOGI DAN SINTAKSIS
A. Definisi dan Permasalahan Umum Stilistik.
Stilistik (stylistic) adalah ilmu tentang gaya, sedangkan stil (style) adalah cara-cara yang khas, bagaimana segala sesuatu diungkapkan dengan cara tertentu, sehingga tujuan yang dimaksudkan dapat dicapai secara maksimal. Dalam hubungannya dengan kedua istilah di atas perlu disebutkan istilah lain yang agaknya kurang memperoleh perhatian meskipun sesungguhnya dalam proses analisis memegang peranan besar, yaitu majas. Majas diterjemahkan dari kata trope (Yunani), figure of speech (Inggris), yang artinya persamaan atau kiasan. Jenis majas sangat banyak, seperti: simile, metafora, personifikasi, depersonifikasi, antitesis, pleonasme, tautologi, dan sebagainya.
Istilah lain yang mungkin muncul dalam kaitannya dengan gaya bahasa, di antaranya: seni bahasa, estetika bahasa, kualitas bahasa, ragam bahasa, gejala bahasa, dan rasa bahasa. Dua istilah pertama memiliki pengertian yang hampir sama, bahasa dalam kaitannya dengan ciri-ciri keindahan sehingga identik dengan gaya bahasa itu scndiri. Kualitas bahasa lebih banyak berkaitan dengan nilai penggunaan bahasa secara umum, termasuk ilmu pengetahuan. Ragam bahasa adalah jenis, genre, dikategorikan menurut medium (lisan dan tulisan), topik yang dibicarakan (ilmiah dan ilmiah populer), pembicara (halus dan kasar), semangat (regional dan nasional). Dalam pengertian sempit, gejala bahasa menyangkut perubahan (penghilangan, pertukaran) dalam sebuah kata, misalnya sinestesis. Dalam pengertian luas, gajala bahasa menyangkut berbagai bentuk perubahan bahasa, baik lisan maupun tulisan. Gejala bahasa yang paling khas dengan demikian adalah gaya bahasa itu sendiri, termasuk majas. Rasa bahasa adalah perasaan yang timbul setelah menggunakan, mendengarkan suatu ragam bahasa tertentu. Bahasa tidak semata-mata mewakili makna harfiah, makna denotatif, tctapi juga sebagai akibat konteks sosial.
Gaya terkandung dalam semua teks, bukan bahasa tertentu, bukan semata- mata teks sastra. Gaya adalah ciri-ciri, standar bahasa, gaya adalah cara
ekspresi. Meskipun demikian, pada umumnya gaya dianggap sebagai sebuah istilah khusus, semata-mata dibicarakan dan dengan demikian dimanfaatkan dalam bidang tertentu, bidang akademis, yaitu bahasa dan sastra. Dengan pcrtimbangan bahwa gaya menyangkut masalah penggunaan bahasa secara khusus, maka sastralah, dalam hubungan ini karya sastranya yang dianggap sebagai sumber data utamanya. Perkembangan terakhir dalam sastra juga mcnunjukkan bahwa gaya hanya dibatasi dalam kaitannya dengan analisis puisi. Alasannya, di antara genre-genre karya sastra, puisilah yang dianggap memiliki penggunaan bahasa paling khas.
Pada dasarnya gaya ada dan digunakan dalam kehidupan praktis sehari- hari. Hampir setiap tingkah laku dan perbuatan, sejak bangun pagi hingga tidur di malam hari, disadari atau tidak, dilakukan dengan mcnggunakan cara tertentu. Demikian juga semua hasil aktivitas manusia, yang disebut kebudayaan, diwujudkan melalui cara tertentu, sesuai dengan minat, selera, dan kemauan penciptanya. Dengan singkat, tidak ada satu kegiatan pun dilakukan oleh manusia tanpa memanfaatkan cara tertentu, tanpa disertai dengan pesan penciptanya. Pada gilirannya cara, gaya adalah tindakan dan pesan itu sendiri. Dcngan singkat stilistika bcrkaitan dengan pengertian ilmu tentang gaya secara umum, meliputi seluruh aspck kehidupan manusia. Stilistika dalam karya sastra merupakan bagian stilistika budaya itu sendiri. Meskipun demikian, dengan adanya intensitas penggunaan bahasa, maka dalam karya sastralah pemahaman stilistika paling banyak dilakukan.
Gaya melahirkan kegairahan sebab gaya memberikan citra baru, gaya membangkitkan berbagai dimensi yang stagnasi. Bangun di pagi hari yang dilakukan secara monoton dan membosankan, diubah dengan cara berbeda sedemikian rupa dapat membangkitkan kegairahan sehingga jadwal kerja menjadi lebih teratur. Tugas-tugas rutin menjelang berangkat ke tempat bekerja, apabila dilakukan dengan cara yang sama, tentu tidak akan memberikan kepuasan terhadap diri sendiri. Tidak terhitung banyaknya cara-cara baru yang dapat dilakukan dalam rangka mengantisipasi proses monoton, perasaan jenuh,
antipati terhadap situasi, dan berbagai bentuk kebosanan dalam kehidupan manusia.
Meskipun demikian, gaya tidak harus dilakukan di luar batas kebiasaan sehingga melanggar norma, gaya tidak boleh berlebihan. Gaya juga melibatkan orang lain, komunitas lain, gaya bukan semata-mata untuk kepuasan diri sendiri. Gaya yang berlebihan, meskipun membcrikan kepuasan bagi diri sendiri, tetapi jelas mengganggu orang lain sebab selera orang tidak sama. Norma, etika, adat istiadat, dan kebiasaan lain berfungsi untuk membatasi gaya sebab pada umumnya semestaan tertentu, komunitas tertentu dibatasi oleh norma tertentu yang dianggap sebagai kebiasaan setempat yang dengan sendirinya memiliki norma dan aturan yang relatif berbeda. Mengenakan pakaian, cara berjalan, makan, minum, dan berkata, adalah contoh-contoh yang paling jelas dalam kaitannya dengan kebiasaan tertentu yang harus dipatuhi.
Dalam Kamus Besar Bahasa lndonesia (KBBI) gaya memiliki sejumlah ciri, yaitu: (1) kekuatan, kesanggupan, gaya dalam pengertian denotatif, misalnya gaya pegas, gaya lentur, gaya tarik bumi; (2) sikap, gerakan, seperti dalam tingkah laku, misalnya gaya tarik, gaya hidup, (3) irama, lagu, seperti dalam musik, misalnya gaya musik Barat, (4) cara melakukan, seperti dalam olah raga, gaya renang, gaya dada, (5) ragam, cara, seperti dalam karangan, seperti gaya bahasa populer, gaya klasik, (6) ragam, cara, seperti dalam bangunan, seperti bangunan gaya Eropa, (7) cara yang khas, seperti pemakaian bahasa dalam karya sastra.
Murry (1956:8) membedakan tiga pengertian mengenai gaya bahasa, yaitu: (3) gaya bahasa sebagai kekhasan personal, (2) gaya bahasa sebagai teknik eksposisi (penjelasan), dan (3) gaya bahasa sebagai usaha pencapaian kualitas karya. Terlepas dari minat para peneliti ataupun masyarakat terhadap keberadaannya di satu pihak, melihat sejarah perkembangannya yang sangat panjang di pihak lain, gaya bahasa telah didefinisikan secara beragam dan berbeda-beda. Beberapa definisi gaya bahasa yang perlu dipertimbangkan (Ratna, 2007:236): (1) ilmu tentang gaya bahasa; (2) ilmu interdisipliner antara linguistik dengan sastra; (3) ilmu tentang penerapan kaidah-kaidah linguistik dalam
penelitian gaya bahasa; (4) ilmu yang menyelidiki pemakaian bahasa dalam karya sastra; dan (5) ilmu yang menyelidiki pemakaian bahasa dalam karya sastra, dengan mempertimbangkan aspek-aspek keindahannya sekaligus latar belakang sosialnya.
Kelima definisi di atas dapat dibedakan menjadi dua kelompok, kelompok pertama dari nomor satu hingga empat menganggap gaya bahasa merupakan sesuatu yang terkandung dalam karya sastra itu sendiri. Kelompok kedua, yaitu nomor lima menganggap bahwa hakikat gaya bahasa terkandung dalam totalitas karya sekaligus dalam kaitannya dengan masyarakat, seperti genre dan periode. Dengan kata lain, kelompok pertama berada dalam kerangka pemahaman struktutralisme, karya sastra lepas dari latar bclakang sosial yang menasilkannya, sedangkan pendapat kedua berada dalam kerangka pemahaman sesudah strukturalisme. Dalam hubungan ini definisi terakhirlah yang dianggap relevan sebab gaya terutama dikaitkan dengan aspek keindahan dengan tidak melupakan peranan latar belakang sosial sebagai produksi karya.
Definisi sangat diperlukan dalam kaitannya dengan pemahaman suatu objek tertentu. Setelah mengemukakan pendapat beberapa ahli, Sukada (1987:87) mendefinisikan gaya bahasa dalam sejumlah butir pernyataan: (1) gaya bahasa adalah bahasa itu sendiri, (2) yang dipilih berdasarkan struktur tertentu, (3) digunakan dengan cara yang wajar, (4) tetapi tetap memiliki ciri personal, (5) sehingga tetap memiliki ciri-ciri personal, (6) sebab lahir dari diri pribadi penulisnya, diungkapkan dengan kejujuran, (7) disusun secara sengaja agar menimbulkan efek tertentu dalam diri pembaca, (8) isinya adalah persatuan antara keindahan dan kebenaran.