• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAHRONI BUKU KUASAILAH DUNIA DENGAN BAHASA

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2019

Membagikan "BAHRONI BUKU KUASAILAH DUNIA DENGAN BAHASA"

Copied!
141
0
0

Teks penuh

(1)

KUASAILAH DUNIA DENGAN BAHASA:

Memahami Pokok-Pokok Ilmu Bahasa

Drs. Bahroni, M.Pd.

SEKOLAH TINGGI AGAMA ISLAM NEGERI

SALATIGA

(2)

KATA PENGANTAR

Alhamdulillahirobbil’alamin, segala puji dan sembah-sujud hanya

bagi Allah, Tuhan semesta alam. Allahlah yang telah menciptakan bahasa

sebagaimana firman-Nya dalam Al-Quran Surat Al-Baqarah: 31: Dan Dia

mengajarkan kepada Adam nama-nama (benda-benda) seluruhnya, kemudian

mengemukakan kepada para Malaikat lalu berfirman: ”Sebutkanlah

kepada-Ku nama benda-benda itu jika kamu memang orang-orang yang benar.”

Dalam ayat tersebut ditegaskan bahwa Allah telah mengajarkan pada Nabi

Adam semua nama atau bahasa yang fungsinya utamanya adalah untuk

berkomunikasi agar kehidupan manusia menjadi lebih mudah.

Allah juga berfirman: ”Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya

ialah menciptakan langit dan bumi dan berlain-lainan bahasamu dan warna

kulitmu. Sesungguhnya pada yang demikian itu, benar-benar terdapat

tanda-tanda (kekuasaan-Nya) bagi orang-orang yang mengetahui.” (Q.S.

Ar-Rum:22).

Dalam rangka mensyukuri salah satu nikmat Allah yang berupa bahasa

tersebut, penulis berikhtiar dan ikut berperan dalam pengembangan khazanah

keilmuan bahasa dengan menyajikan buku ini ke hadapan pembaca yang

dirahmati Allah. Buku yang berjudul KUASAILAH DUNIA DENGAN

BAHASA: Memahami Pokok-Pokok Ilmu Bahasa ini berisi paparan tentang

semiotik (kajian tanda), semantik (kajian makna), morfologi (kajian bentuk),

sintaksis (kajian tata kalimat), stilistik (kajian gaya bahasa), dan pragmatik

(kajian penggunaan bahasa).

Semiotik adalah studi kegiatan kegiatan manusia yang mendasar yaitu

menciptakan makna. Atau, studi tentang tetanda (tanda-tanda) yang bermakna.

Tetanda adalah segala corak atau tipe unsur—verbal , nonverbal, natural,

artifisial—yang membawa makna. Dengan kata lain, semiotik adalah studi

(3)

Semantik yang berasal dari bahasa Yunani itu, mengandung makna to

signify atau memaknai. Sebagai istilah teknis, semantik mengandung

pengertian “studi tentang makna”.

Morfologi dapat diartikan sebagai ilmu yang mengkaji bentuk bahasa

serta pengaruh perubahan bentuk bahasa pada fungsi dan arti kata. Sasaran

pengkajian dalam morfologi ialah kata dan morfem.

Sintaksis (syntax) menyelidiki semua hubungan antarkata dan

antarkelompok kata (antarfrasa) dalam satuan dasar sintaksis, yaitu kalimat.

Morfologi mengkaji hubungan-hubungan gramatikal dalam kata itu sendiri,

sedangkan sintaksis mengkaji hubungan gramatikal di luar batas kata, yaitu

dalam satuan yang disebut kalimat.

Stilistik (stylistic) adalah ilmu tentang gaya, sedangkan stil (style)

adalah cara-cara yang khas, bagaimana segala sesuatu diungkapkan dengan

cara tertentu, sehingga tujuan yang dimaksudkan dapat dicapai secara

maksimal.

Pragmatik adalah cabang semiotik yang mempelajari relasi tanda dan

penafsirannya. Kekhususan bidang ini adalah penafsiran atas tanda atau

bahasa. Kekhususan bidang ini tidak sama dengan kekhususan bidang sintaksis

dan semantik sebagai bagian semiotik lain. Pada bidang sintaksis kajian

dikhususkan pada relasi formal tanda, sedangkan kajian pada bidang semantik

pada relasi antara tanda dan objek yang diacunya

Penulis berharap, mudah-mudahan buku sederhana ini dapat diterima

oleh pembaca sebagai salah satu acuan untuk memahami pokok-pokok ilmu

bahasa, yang selanjutnya dapat menjadi pemicu dan pemacu motivasi pembaca

untuk mendalami teori-teori bahasa yang sangat banyak dan beragam.

Mudah-mudahan dengan penguasaan ilmu bahasa yang lebih baik, kita

juga lebih mudah dalam memahami dan mendalami ilmu-ilmu lain yang

tentunya sangat bermanfaat bagi kehidupan kita. Dengan menguasai bahasa,

insya Allah pintu-pintu berbagai ilmu akan lebih terbuka. Dengan penguasaan

berbagai ilmu, insya Allah hidup kita akan lebih bermakna.

(4)

Selanjutnya, pada halaman ini izinkan kami menyampaikan

pesan-kasih-sayang kami teruntuk tiga buah hati kami:

1. Muhammad Satria Aji, ”Teladani Nabi Muhammad saw dan teruslah

belajar agar Aji menjadi manusia ksatria yang aji (migunani dan

bermartabat).”

2. Muhammad Tegar Izzulhaq, ”Teladani Nabi Muhammad saw dan teruslah

belajar agar Tegar menjadi manusia yang senantiasa tegar membela

kebenaran di Jalan Allah.”

3. Salma Cahaya Semesta, Teladani Nabi Muhammad saw dan istri-istri

Beliau, agar Salma menjadi muslimah-shalihah yang dapat membawa

keselamatan, kesejahteraan, serta pencerahan di semesta raya dengan

bimbingan cahaya-Nya.”

Kami sangat menyadari bahwa tidak ada satu pun karya manusia yang

sempurna. Oleh karena itu, kritik dan saran yang konstruktif guna

memperbaiki buku sederhana ini sangat penulis harapkan.

Akhirnya, kepada semua pihak yang telah berkontribusi dalam

penulisan buku sederhana ini, kami sampaikan jazakumullahu khoiron

katsiron. Dan, kepada Allah jualah kita bertawakal dan berserah diri. Semoga

Allah meridhoi setiap usaha dan ikhtiar kita. Amin.

Salatiga, Maret 2013

(5)

DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR _________________________________________ii

DAFTAR ISI ________________________________________________ v

BAB I : SEMIOTIK

A. Pengertian Semiotik ____________________________ 1

B. Jenis-jenis Tanda ______________________________ 2

C. Nilai-nilai dalam Ikon Verbal ____________________ 4

1. Bahasa, Tanda, dan Semiotik __________________ 5

2. Ikon Verbal Sebagai Tanda Utama _____________ 10

3. Tanda Verbal, Pembicara, Terwicara,

dan Mitra Wicara ___________________________ 10

4. Tanda Verbal: Idenfifikasi Berdasarkan

Tujuan Pemakaiannya _______________________ 12

BAB II : SEMANTIK

A. Pengertian Semantik __________________________ 29

B. Sejarah Semantik _____________________________ 31

C. Manfaat Semantik ____________________________ 33

D. Makna, Informasi , dan Maksud _________________ 34

E. Aspek Makna ________________________________ 38

1. Pengertian _________________________________ 38

2. Perasaan __________________________________ 39

3. Nada _____________________________________ 39

4. Tujuan ____________________________________ 40

F. Relasi Makna ________________________________ 41

1. Sinonim ___________________________________ 41

2. Antonim ___________________________________ 44

3. Homonim, Homofon, dan Homograf _____________ 47

4. Hiponim dan Hipernim ________________________50

5. Idiom dan Ungkapan __________________________51

(6)

BAB III : MORFOLOGI DAN SINTAKSIS

A. Morfologi ____________________________________53

1. Morfem ___________________________________ 56

2. Kata ______________________________________ 66

3. Frasa ______________________________________ 68

B. Sintaksis _____________________________________ 69

1. Pengertian Kalimat __________________________ 69

2. Unsur Kalimat ______________________________ 70

3. Pola Kalimat Dasar __________________________ 77

4. Kalimat Efektif ______________________________78

BAB IV : STILISTIK

A. Definisi dan Permasalahan Umum Silistik ___________ 83

B. Sumber Objek Penelitian Stilistik __________________ 86

C. Ruang Lingkup Penelitian Stilistik _________________ 91

D. Karya Sastra sebagai Sasaran Kajian Stilistik ________ 94

E. Pendekatan Studi Stilistik ________________________ 97

F. Jenis Gaya Bahasa ______________________________ 99

G. Pemanfaatan Gaya Bahasa _______________________110

BAB V : PRAGMATIK

A. Pengertian Pragmatik __________________________115

B. Ruang Lingkup Pragmatik ______________________117

C. Deiksis _____________________________________ 119

D. Praanggapan _________________________________121

E. Implikatur ___________________________________122

F. Tindak Tutur _________________________________ 123

G. Konteks dan Situasi Tutur _______________________ 126

DAFTAR PUSTAKA _________________________________________ 131

LAMPIRAN-LAMPIRAN:

1. Sinopsis Buku

2. Biodata Penulis

(7)

BAB I

SEMIOTIK

A. Pengertian Semiotik

Mengawali pembahasan tentang pengertian semiotik, Larsen (2009:1) menulis

satu kalimat cukup panjang yang penuh makna. Kalimat itu berbunyi, “Sebagai

manusia, kita bisa menentukan untuk tidak makan atau tidak minum, tidak

berkomunikasi, atau bahkan mungkin untuk tidak hidup; tetapi, di sepanjang hidup

kita, kita tidak dapat memilih untuk tidak menyampaikan makna ke dunia sekeliling

kita.” Artinya, dalam menjalani kehidupan ini sebenarnya kita diberi kebebasan oleh

Allah untuk berbuat apa pun.

Namun demikian, kita harus ingat bahwa kita tidak dapat bebas atau

melepaskan diri dari pemaknaan orang lain terhadap apa yang telah kita perbuat.

Dalam perspektif Islam, semua perbuatan kita, baik atau buruk, tidak hanya dimaknai

oleh orang lain, tetapi juga senantiasa dicatat oleh Malaikat Pencatat Amal dan

sekecil apa pun perbuatan kita itu, pasti berdampak pada yang berbuat, baik di dunia

ini maupun di akhirat kelak.

Menurut Larsen dalam Baryadi (2007:46), semiotik berasal dari bahasa Yunani

semeion yang berarti tanda. Semiotik berarti ilmu yang mempelajari tentang tanda,

baik struktur maupun proses tanda. Istilah lain dari semiotik adalah semiologi. Kedua

istilah tersebut tidak mengandung perbedaan konseptual. Perbedaannya terutama

terletak pada wilayah pemakaiannya, yaitu semiotik yang pada mulanya digunakan

oleh Charles Sanders Peirce lebih lazim dipakai di dunia Anglo-Sakson, sedangkan

semiologi yang pada awalnya digunakan oleh Ferdinand de Saussure lebih lazim di

Eropa Koninental. Agaknya perbedaan penggunaan dua istilah tersebut juga

dipengaruhi oleh latar belakang keilmuan dua tokoh tersebut. Peirce (1834 – 1914,

berkebangsaan Amerika Serikat, berbahasa Inggris) yang lebih suka menggunakan

istilah semiotik merupakan seorang ahli filsafat dan logika, sedangkan Saussure

(1857 – 1913, berkebangsaan Swiss, berbahasa Prancis) yang lebih suka

(8)

menggunakan istilah semiologi merupakan seorang peneliti/ilmuwan bahasa (linguis),

pelopor linguitik modern.

Dalam pengertian yang luas, semiotik adalah studi kegiatan kegiatan manusia

yang mendasar yaitu menciptakan makna. Atau, studi tentang tetanda (tanda-tanda)

yang bermakna. Tetanda adalah segala corak atau tipe unsur—verbal , nonverbal,

natural, artifisial—yang membawa makna. Dengan kata lain, semiotik adalah studi

tentang berbagai struktur tanda dan aneka proses tanda. Ada dua jenis pendapat

mengenai hakikat tanda. Pendapat pertama dikenal sebagai pendapat formal.

Pendapat ini ditokohi oleh Saussure. Pengertian tanda bertitik tolak dari pengertian

tanda bahasa, kemudian hal itu diterapkan untuk tanda yang lain. Pendapat ini, sesuai

dengan namanya, lebih mementingkan ciri-ciri formal tanda. Oleh karena itu,

pendapat ini disebut aliran strukturalisme. Pendapat kedua berasal dari aliran

pragmatis. Pelopor aliran ini adalah Peirce, yang berpendapat bahwa hakikat tanda itu

tidak hanya terletak pada struktur internalnya, tetapi juga penggunaannya (Larsen,

1994:3824).

Sebagai disiplin khusus, semiotik terus dikembangkan sehingga menjadi studi

tentang tetanda yang berfungsi di dunia kegiatan manusia. Dalam hal ini, semiotik

mengkaji tiga masalah mendasar. Pertama, bagaimana dunia yang mengelilingi kita

itu disusun melalui tetanda sebagai lingkungan yang manusiawi karena persepsi dan

pengertian kita terhadapnya itu. Kedua, bagaimana dunia ini kode-kan atau

di-sandi-kan dan di-dekode-kan atau di-di-sandi-kan kembali. Dengan demikian, menjadi

sebuah ”ranah kultural khusus” yang terdiri atas jejaring tetanda. Ketiga, bagaimana

kita ”berkomunikasi” dan ”bertindak” melalui tetanda agar ranah ini menjadi dunia

kultural yang diikutsertakan secara kolektif (Larsen, 2009:2).

B. Jenis-jenis Tanda

Dilihat dari sifat hubungannya, kadang tanda itu mirip dengan yang ditandai,

maka tanda yang semacam ini disebut ikon (icon), hubungannya bersifat ikonik

(iconic), misalnya patung, foto, peta, denah, karikatur, dan sebagainya. Jika antara

tanda dengan yang ditandai ada kedekatan eksistensi, maka tanda semacam ini

(9)

sebagai tanda ada api; panah sebagai tanda arah kiblat; mak tekluk sebagai tanda

mengantuk, dan sebagainya. Selanjutnya, jika antara tanda dengan yang ditandai

merupakan kesepakatan/konvensional maka disebut simbol (symbol), hubungannya

bersifat simbolik (symbolic), misalnya jilbab sebagai tanda kemuslimahan seseorang;

blankon sebagai tanda orang Jawa; dan sebagainya.

Dengan kata lain, konsep ikon memiliki pasangan ganda, yaitu “indeks” dan

“simbol”. Konsep yang triadik itu dimunculkan oleh Pierce untuk mengidentifikasi

sifat dominan hubungan antara tanda dengan objek yang ditandai atau teracunya.

Hubungan antara tanda dan yang ditandai dapat menampakkan kemiripan; artinya

tanda mirip dengan objek yang ditandai. Oleh karena itu, tanda yang dimaksud

“bertindak” mewakili dengan modus kemiripan terhadap objek objek yang ditandai

itu. Tanda yang demikian itu disebut ikon dan tentu saja bersifat ikonik.

Hubungan antara tanda dengan objek yang ditandai atau teracunya dapat pula

menampakkan diri “karena ada kedekatan eksistensi”. Artinya, keberadaan tanda itu

“sinambung” dengan yang ditandai, meskipun menurut kesadaran pemakainya

keduanya berbeda. Oleh karena itu, tanda yang dimaksud menjadi pengacu bagi si

objek yang ditandai. Tanda yang demikian itu disebut indeks dan tentu saja bersifat

indeksikal.

Akhirnya, hubungan antara tanda dengan objek yang ditandai atau teracunya

dapat pula tidak mirip dan tidak mengacu sebagaimana dimaksudkan pada tanda ikon

dan indeks. Tanda yang dimaksud berstatus tanda bagi objek yang ditandai

semata-mata karena pemakai sengaja men-status-kan apa yang menjadi tanda itu sebagai

tanda tanpa memperhitungkan kadar kemiripannya atau tanpa mempertimbangkan

kadar kedekatan eksistensinya. Pada dirinya, yang distatuskan sebagai tanda itu tidak

memiliki potensi mirip atau “sinambung” dengan objek teracunya. Sesuatu itu

berstatus sebagai tanda semata-mata karena dikaidahkan atau ditentukan serta saling

disetujui antar pemakainya. Jadi, merupakan konvensi dan konsesus yang status

“ke-wakil-an” dan pengacunya diperoleh karena ditentukan bersama secara arbitrer.

Tanda yang demikian itu disebut simbol dan tentu saja bersifat simbolik.

Patut dicatat, meskipun tanda itu ada tiga macam, akan tetapi terasumsikan

tidak ada tanda yang sepenuhnya bersifat ikonik, sepenuhnya bersifat indeksikal,

(10)

sepenuhnya bersifat simbolik. Di dalam satu sifat terkandung pula salah satu atau

kedua sifat yang lain.

Dari ketiga jenis tanda tersebut, ikon merupakan tanda yang utama karena

berkaitan dengan proses mewujudkan fungsi tanda. Dengan ikon, fungsi tanda dapat

diwujudkan secara efektif dan efisien. Oleh karena itu, uraian tentang tanda semiotik

berikut ini akan difokuskan pada ikon.

Kata ikon berasal dari bahasa Latin, yaitu icon yang berarti ’arca, patung, atau

gambar’. Kata ikon selanjutnya dipakai oleh Peirce sebagai istilah dalam semiotik,

yaitu untuk menyebut jenis tanda --sebagaimana telah disebut di atas--yang

penandanya memiliki hubungan kemiripan dengan objek yang diacunya. Atau, tanda

yang bentuk fisiknya memilki kaitan erat dengan sifat khas dari apa yang diacunya

(Sudaryanto dalam Baryadi, 2007:1).

Frasa ”kaitan yang erat” dalam definisi di atas, berart ”mirip” atau

”mencerminkan”, dan frasa ”apa yang diacunya” berarti realitas, isi tuturan, isi

wacana, atau situasi. Oleh karena itu, pengertian ikon dalam linguistik dapat

diformulasikan dengan lebih jelas, yaitu satuan bahasa yang bentuknya mirip dengan

realitas yang diacunya atau satuan bahasa yang bentuknya mencerminkan realitas

yang diacunya.

Dalam dunia pendidikan terutama yang terkait dengan ilmu bahasa, kajian yang

terpenting mengenai ikon adalah mengenai ikon verbal atau bahasa yang ikonik.

Oleh karena itu, bahasan berikut ini lebih ditujukan pada berbagai hal yang terkait

dengan ikon verbal tersebut.

C. Nilai-nilai dalam Ikon Verbal

Menurut Sudaryanto (2008:31), nilai adalah kekuatan, setidak-tidaknya dalam

perspektif kelestarian dan pelestarian identitas. Sebagai kekuatan, nilai

menghasilkan, mengakibatkan, dan mendampakkan pula kekuatan.

Ungkapan-ungkapan “ada nilai x-nya”, “memiliki nilai plus”, “mengembangkan nilai-nilai”,

“mengorbankan nilai x”—nilai apa pun—terkait dengan fakta nilai semacam itu.

Apabila pokok bahasan yang dipaparkan adalah mengenai nilai ikon, hal itu

berarti bahwa yang dibicarakan adalah kekuatan yang dimiliki oleh ikon. Dalam hal

(11)

bahasa itu sendiri. Adapun macam nilai yang dimaksud meliputi antara lain nilai

kebenaran, keindahan, dan kebaikan.

Ikon merupakan istilah dalam disiplin semiotik. Dalam kajian semiotik,

pemaparan tentang bahasa dan tanda menjadi hal yang sangat penting. Hal ini

dimaksudkan agar posisi dan peran ikon tampak jelas.

1. Bahasa, Tanda, dan Semiotik

Dalam wacana linguistik, bahasa merupakan sistem simbol bunyi bermakna

dan berartikulasi (dihasilkan oleh alat ucap), yang bersifat arbitrer dan

konvensional, yang dipakai sebagai alat berkomunikasi oleh sekelompok manusia

untuk melahirkan pikiran dan perasaan (Wibowo, 2001:3).

Bahasa merupakan sesuatu yang maujud atau entitas yang berwujud kata,

frasa, kalimat, alinea, wacana, atau satuan lingual lain yang lebih kecil, mula-mula

ialah dengan cara diucapkan. Dengan demikian, bahasa dikenal karena

terdengar(kan). Adapun fungsi, peran, tugas, atau manfaatnya ialah untuk

meng-anu-kan apa pun, segala hal, yang memang dapat di-anu-meng-anu-kan. Meng-anu-meng-anu-kan yang

dimaksud adalah kinerja manusia pencipta, pemilik, dan pemakai bahasa.

Meng-anu-kan itu identitasnya bermacam-macam. Secara acak, berikut merupaMeng-anu-kan sebagian

kecil dari kinerja meng-anu-kan yang dimaksud: mendakwahkan, menyantuni,

mendoakan, menamakan, menetapkan, mengatakan, menyatakan, memerinci,

mengulas, merumuskan, menawar, menggertak, membantah, menyepakati,

mengakses, menjanjikan, menyarankan, mengivestigasi, meminta, menceritakan,

menjelaskan, mempersoalkan; mengumpat, mengakui, membual; dan masih banyak

lagi lainnya.

Sebagaimana bentuk kinerja, yang bila dicatat secara saksama ada

bermacam-macam itu, satu sama lain saling menghubungkan secara spektral dan prismatik.

Dikatakan sebagai hubungan “spektral” jika yang melaksanakan kinerja itu berbagai

jenis satu lingual (linguistic unit), yang rinciannya ialah (1) menyebut: dengan kata;

(2) menentukan: dengan frasa; (3) menguraikan: dengan kalimat; (4) menerangkan

atau menjelaskan: dengan alinea; dan (5) menceritakan: dengan wacana. Dikatakan

“prismatik”, jika yang melaksanakan kinerja itu satu jenis satuan lingual yang sama

dengan wujud yang berbeda, misalnya: (1) mengajak, membujuk, merayu; (2)

(12)

memungkiri, mengingkari, berkelit; (3) mengiyakan, menyetujui, menyepakati,

menerima; (4) menguraikan, mempaparkan, membeberkan. Kinerja yang spektral

dan prismatik yang bermacam-macam itu dapat disebut “tindakan membahasakan”.

Dengan demikian, secara singkat dapat dikatakan bahwa bahasa itu berfungsi

membahasakan apa pun yang memang dapat dibahasakan. Dengan tujuan untuk:

mengomunikasikan apa pun yang yang memang dapat dikomunikaskan; menarasikan

apa pun yang memang dapat dinarasikan; mendeskripsikan apa pun yang memang

adapat dideskripsikan; memaparkan apa pun yang memang dapat dipaparkan; dan

seterusnya.

Dalam kaitannya dengan fungsi atau kegunaannya, bahasa yang adanya

dengan diucapkan itu, keadannya sama dengan entitas lain, sama-sama memiliki

kegunaannya masing-masing. Entitas yang dimaksud antara lain lukisan, patung,

klakson, kentongan, bendera, bagian tubuh tertentu yang digerakkan, pakaian,

rambu-rambu, dan yang lain, yang pada umumnya ditangkap oleh indera pendengar

atau penglihat.

Lukisan yang adanya dengan kuas bercat yang disapukan pada kanvas (dan

sejenisnya), berguna untuk melukiskan apa pun yang dapat dilukiskan.Patung yang

adanya dengan dipahat berguna untuk mematungkan apa pun yang dapat

dipatungkan (orang, binatang, benda-benda tertentu lainnya). Klakson yang

dibunyikan dengan dipencet atau ditiup berguna untuk menyatakan dengan klakson

apa-apa yang dapat di-klakson-kan (dinyatakan dengan bunyi klakson: peringatan,

panggilan, dan sebagainya). Kentongan yang dibunyikan dengan dipukul berguna

untuk menyatakan apa pun yang dapat dinyatakan dengan bunyi kentongan

(pencurian, kebakaran, undangan rapat, dan sebagainya). Bendera yang adanya

dengan dipasang di tempat tertentu atau dikibarkan berguna untuk menyatakan

dengan bendera apa pun yang dapat di-bendera-kan (kematian, penyerahan diri

identitas kelompok yang sedang melakukan tindakan yang penuh arti, dan

sebagainya). Kepala yang dianggukkan berguna untuk menyatakan apa pun yang

dapat diwujudkan dengan anggukan (persetujuan, kecocokan, dan sebagainya).

Tangan yang dapat digerakkan berguna untuk menyatakan apa pun yang dapat

(13)

ancaman, dan sebagainya). Pakaian yang dikenakan di badan berguna untuk

menyatakan apa pun (wanita, mahasiswa, muslimah, dan sebagainya) yang dapat

dinyatakan dengan kain yang dipakai. Rambu-rambu yang dipasang di pinggir jalan

berguna untuk menyatakan larangan atau anjuran yang layak diperhatikan oleh

pengguna jalan raya.

Dengan pengamatam saksama akan berbagai gejala yang ada, dapatlah

dikatakan bahwa entitas yang memiliki kegunaannya masing-masing yang khas itu

sangat banyak jumlahnya. “Apa pun” ternyata memiliki kegunaannya

masing-masing, apakah yang disebut “apa pun” itu sebagai suatu keutuhan atau sebagai

sesuatu yang yang terdiri atas bagian-bagian; dan bagian-bagian itulah yang

menampakkan kegunaan khasnya. Dalam hal ini, kegunaan itu apa, sesungguhnya

manusialah yang menentukan melalui penafsiran. Kumandang suara adzan

ditentukan manusia sebagai pertanda bahwa waktu salat tertentu telah tiba. Lampu

lalu lintas berwarna merah sebagai perintah bahwa pengendara harus berhenti. Langit

mendung sebagai pemberitahuan akan turun hujan. Sungai yang biasanya mengalir

tenang dengan air jernih mendadak banjir dengan air keruh, ditentukan oleh menusia

sebagai petunjuk bahwa di hulu telah terjadi hujan lebat. Kokok ayam di pagi buta

ditentukan oleh manusia sebagai isyarat bahwa fajar akan segera menyingsing.

Adapun penentuan dimaksud dilakukan dan diputuskan atas dasar

keberulangan yang keadaannya sama atau kondisi khas yang sengaja dibuat oleh

seseorang atau sekelompok orang terhadap maujud tertentu. Contoh-contoh yang

telah dikemukakan tersebut bertumpu pada keberulangan. Akan tetapi, bila bendera

hitam di tempat A, bendera putih di tempat B, dan bendera kuning di tempat C

sebagai penunjuk akan adanya hal yang sama, yaitu kematian, hal itu merupakan

kondisi khas (warna yang dipilih) yang disebut oleh manusia.

Hal yang sama terjadi manakala dalam suasana Idul Fitri, bahwa orang

sengaja membuat tulisan latin “Selamat Idul Fitri” dan kata-kata lain yang berkaitan,

dengan cara diarab-arabkan bentuknya. Demikian pula dalam suasana Imlek orang

sengaja membuat tulisan latin “Gong Si Fa Cai” dan kata-kata lain yang berkaitan

dengan cara memandarin-mandarinkan bentuknya. Sementara itu, di teve dan di

toko-toko tertentu pun, yang penyiar atau pelayannya kemungkinan bukan

(14)

muslim(ah) sengaja berpenampilan Islami lewat pakaiannya di kala suasana Idul

Fitri dan yang kemungkinan bukan Tionghoa sengaja berpenampilan kemandarinan

di kala suasana Imlek.

Bahasa yang membahasakan apa pun yang memang dapat dibahasakan,

patung yang dapat mematungkan apa pun yang memang dapat dipatungkan, bendera

yang membenderakan apa pun yang dapat dibenderakan, serta maujud-maujud lain

yang memang dapat mamaujudkan apa pun yang dapat dimaujudkan tersetujui

bersama untuk disebut dengan satu istilah yang mempersatukan, yaitu tanda.

Dengan demikian, apa pun—objek apa saja—yang dapat dihubungkan dengan tanda

itu dapat disebut yang ditandai, tertanda, atau tinanda. Memungut dari bahasa

Yunani, kata tanda disebut semeîonn (de Saussure dalam Sudaryanto, 2008:33).

Berkaitan dengan itu, ilmu yang dikembangkan dengan objek khusus

“semeîonn” disebut semiotik (semiotics) atau semiologi (semiology). Dengan

demikian, pengkajian tentang bahasa—yang dikenal sebagai linguistik (ilmu bahasa)

—dapat dimasukkan sebagai salah satu jenis semiotik dengan objek khusus tanda

yang berwujud bahasa.

Ada hal yang khas mengenai bahasa beserta ilmu tentang bahasa. Jika

dikaitkan dengan tanda-tanda yang lain, bahasa mampu menggantikan fungsi setiap

tanda yang bukan bahasa. Artinya, apa yang dapat dikerjakan oleh tanda yang lain

dapat dikerjakan pula oleh bahasa, tetapi tidak berlaku sebaliknya (van Zoest,

1992:2). Ada hal-hal yang khas yang tidak mampu digantikan oleh tanda yang lain

kecuali oleh bahasa. Contohnya, “mengangguk” tanda setuju dapat diganti dengan

tanda bahasa, yaitu kata sepakat, cocok, setuju, ya, okey. . Sebaliknya, “menggeleng”

tanda tidak setuju dapat diganti dengan tanda bahasa, yaitu kata tidak setuju, tidak,

jangan, dan sebagainya. Nyala lampu merah tanda berhenti dapat diganti dengan

tanda bahasa, yaitu kata berhenti atau stop. Bendera terpancang di pinggir pertigaan

atau perempatan jalan tanda ada kematian atau ada orang yang meninggal dunia.

Dalam tradisi Jawa, jika ada hiasan dari daun kelapa muda (janur mlengkung) yang

juga terpancang di pinggir pertigaan atau perempatan jalan merupakan tanda

(15)

Akan tetapi, tanda bahasa berupa kata yang antara lain berfungsi

menamakan, kalimat yang antara lain berfungsi berjanji atau menyatakan, wacana

yang antara lain berfungsi untuk diskusi atau mendiskusikan, tidak dapat diganti

dengan tanda lain yang bukan berupa bahasa. Oleh karena itu, bahasa sebagai tanda

memiliki tempat yang khas jika dibandingkan dengan tanda-tanda yang berwujud

lain. Dengan kata lain, bahasa merupakan tanda yang memiliki fungsi yang sangat

penting dalam kehidupan manusia karena memiliki kelebihan-kelebihan dibanding

tanda-tanda yang lain. Singkatnya, semua tanda dapat dibahasakan, sedangkan semua

bahasa belum tentu dapat diganti dengan tanda.

Oleh karena ilmu yang mengkaji bahasa, yaitu linguistik, telah begitu jauh

perjalanannya dengan hasil kajian berupa konsep-konsep teoretis dan metodologis,

maka dia termanfaatkan ketika dilakukan pengkajian terhadap tanda-tanda lain di

luar bahasa, dalam kerangka semiotik. Istilah-istilah yang khas dalam linguistik,

yaitu gramatika; sintaksis dan semantik; denotatif dan konotatif; signifier dan

signified; ketika semiotik berbicara tentang hubungan antartanda dan hubungan

antara tanda dengan objek yang ditandai, dengan segala akibat ikutannya, kegiatan

linguistik dijadikan model kegiatan semiotik, misalnya tentang arsitektur dan

sinematografi. Uraian yang lebih teoretis diterapkan dalam analisis semiotik tentang

karya sastra, perdebatan politik, iklan, kendaraan, pakaian, film, dan sebagainya.

Berdasarkan kekhasan bahasa dan ilmu bahasa sebagaimana diuraikan di atas,

menjadikan orang dapat bertumpu pada keduanya ketika berbicara tentang tanda

dalam kerangka semiotik. Dalam semangat memberi sumbangan inspiratif bagi

pengkajian tanda dalam kerangka semiotik itu pulalah uraian tentang nilai-nilai

dalam ikon verbal ini penting untuk disampaikan kepada para pemerhati studi

semiotik.

Perlu disampaikan bahwa uraian-uraian berikut bertumpu dan mengenai nilai

yang khusus dimiliki bahasa. Dalam hal ini, konsep nilai mengingatkan pada konsep

“valuer” atau “valensi” yang diperkenalkan oleh Saussure dalam Kridalaksana

(1988:17-21), “…sifat pertama valensi atau nilai yaitu menyangkut substitusi atau

penggantian suatu benda untuk benda lain yang sifatnya berlainan, uang adalah

contoh yang jelas…”. “…valensi dapat ditukar dengan segala sesuatu yang sifatnya

(16)

berlainan yang dianggap bernilai sama (misalnya, uang dengan roti) dan dapat

dibatasi melalui hal-hal yang serupa (misalnya, Dollar Amerika dibandingkan

dengan Poundsterling Inggris)”.

2. Ikon Verbal sebagai Tanda Utama

Mengacu pada pendapat Pierce, (van Zoest, 1992:19) menyatakan bahwa

tanda ikonlah yang paling utama. Dalam hal ini, ia menjelaskan sebagai berikut.

“…Rumah, peristiwa, struktur, gerakan tangan, teriakan, kesepian, semuanya mungkin merupakan tanda atau menjadi tanda, dengan syarat mengacu pada sesuatu yang lain. Namun hal itu hanya mungkin apabila sesuatu hubungan dapat terjadi antara yang hadir (tanda) dan yang tak hadir (acuannya). Hubungan itu harus merupakan hubungan kemiripan karena tanda dan yang mungkin menjadi acuannya itu mempunyai sesuatu yang sama. Bila tanda dan acuannya tidak ada kemiripan dalam bentuk apa pun, tak dapat terjadi hubungan yang representatif…..” (van Zoest, 1992:10)

Misalnya, jika pun kata kursi (bahasa Indonesia) yang sama dengan chair

(bahasa Inggris), nampak tidak ada kemiripan dengan objek teracunya, sebenarnya

tetap ada kemiripan, yaitu sama-sama sebagai satu keutuhan. Penegasan ini

mengimplikasikan tanda yang berstatus simbol, tidak sepenuhnya arbitrer dan

konvensional. Lebih-lebih kalau kesempatan melacak asal keberadaanya serta

penjelasan tentang pemakaian metaforisnya dapat dilakukan. Contohnya, kata

memetik dan mencakup masing-masing dalam ungkapan memetik hasil dan

mencakup beberapa hal, yang nampak tidak ikonik, jika ditelusuri sebenarnya

memiliki identitas ikon.

3. Tanda Verbal, Pembicara, Anu Terwicara, dan Mitra Wicara

Menurut Sudaryanto (1992:45), tanda verbal adalah tanda yang berupa

bahasa biasa, bahasa keseharian yang dipakai oleh manusia-manusia normal dalam

interaksi yang wajar. Tanda verbal semacam itu hanya mungkin ada manakala

melibatkan tiga faktor utama, yaitu:

a. Pembicara, sebagaimana disarankan dari sebutannya, adalah diri yang

melakukan aktivitas berbahasa, berbicara atau bertutur.

(17)

c.Anu terwicara adalah apapun, segala sesuatu, yang menjadi isi wicara atau yang

diomongkan oleh pembicara. Jika bahasa dapat disebut tanda verbal, maka anu

tewicara dapat disebut objek yang ditandai.

Satu hal yang patut disadari bahwa ketiga faktor utama itu adanya secara

serempak, yang satu mengandaikan adanya yang lain ketika fenomen bahasa atau

tanda verbal hadir dan digunakan. Demikian bahasa terhayati secara empiris,

padanya telah ada pembicara, mitra wicara, dan anu terwicara sekaligus. Ketiganya

ada sebagai tritunggal; dan adanya itu demi adanya realitas bahasa atau tanda verbal

itu.

Dalam kaitannya dengan keberadaan realitas bahasa atau tanda verbal itu,

tritunggal yang dimaksud memiliki fungsi utamanya masing-masing, yaitu:

a. Pembicara memiliki fungsi utama sebagai pelahir bahasa. Dengan “pelahir

bahasa” dimaksudkan bahwa bahasa benar-benar hadir sebagai realitas di dunia

realitas karena ada subjek yang menghadirkannya dengan cara menggunakannya

secara konkret.

b. Mitra wicara memiliki fungsi utama sebagai penjamin keberlangsungan adanya

bahasa atau adanya kemalaran bahasa. Dengan “penjamin keberlangsungan

adanya” dimaksudkan bahwa bahasa yang lahir itu tidak mungkin dapat

berkembangan atau dikembangkan oleh pembicara sebagai wacana jika tidak ada

mitra wicara yang dipercaya oleh pembicara yang bersangkutan sebagai mitra

wicara yang baik dan belum tahu apa yang akan diungkapkan oleh pembicara.

c. Anu terwicara memiliki fungsi utama sebagai pembentuk lekuk-liku sosok

bahasa. Dengan “pembentuk lekuk-liku sosok bahasa” dimaksudkan bahwa

bahasa yang diketahui tunduk pada prinsip linear dan bersifat linear pula itu

hanya dapat memiliki aneka macam bentuk konkret karena keberanekaragaman

anu terwicaranya atau objek yang ditandai atau acuannya.

Berdasarkan uraian tersebut, nampak pula sifat pokok pembicara, mitra

wicara, anu terwicara. Sifat pokok pembicara adalah sebagai pelahir bahasa yang

tahu dan sangat sadar akan apa yang diperkatakan; sifat pokok mitra wicara dalam

persepsi pembicara adalah sebagai penjamin keberlangsungan adanya bahasa dan

sebagai penjamin diterimanya sepenuh-penuhnya apa saja yang diperkatakan oleh

(18)

oleh pembicara berkat keserbatidaktahuannya akan apa yang diperkatakan itu. Dan

khusus sifat pokok anu terwicara adalah sifat yang senantiasa menentukan kenakaan

lekuk-liku sosok bahasa, baik aspek bentuknya maupun aspek maknanya

(Sudaryanto, 1995:41).

4. Tanda Verbal: Identifikasi Berdasarkan Tujuan Pemakaiannya

Dalam pekembangannya, tanda verbal yang disebut “bahasa” itu dipakai

dengan tujuan dan dalam kaitan yang berbeda-beda dengan yang ditandai (atau yang

ditandakan).

Pertama, dipakai semata-mata untuk mengacu realitas anu terwicara untuk

mitra wicara di kehidupan komunikasi keseharian. Tanda yang demikian itu

dikatakan bersifat lingual-referensial.

Kedua, dipakai untuk mengungkapkan pengalaman menggetarkan yang

dihayati oleh pembicara. Dalam hal ini, pengungkapan itu diupayakan terasa apik,

indah, cantik, menyentuh hati. Maka, dalam kaitan dengan upaya yang demikian itu,

kreativitas pembicaranya dikembangkan dan dipertaruhkan. Tanda yang demikian itu

dikatakan bersifat estetik-literer. Di situ ada kesadaran penuh dan tentu saja

kesengajaan menciptakan bentuk-bentuk tanda baru berdasarkan tanda-tanda yang

sudah ada yang dipakai di keseharian biasa.

Ketiga, dipakai untuk maksud menghormati dan atau menghargai mitra

wicara atau orang lain yang telibat, baik sebagai yang dituju maupun sebagai bagian

yang dibicarakan. Di situ ada upaya pengandalian diri untuk membuat senamg,

berkenan di hati, atau tidak melukai perasaan mitra wicara. Tanda yang demikian itu

dikatakan bersifat etik pragmatik. Dalam hal ini, upaya itu ditampakkan dengan

menggunakan satuan lingual yang khas, yang dari segi makna referensial sama

dengan satuan lingual yang umum digunakan di saat pertimbangan pengandalian diri

yang dimaksud tidak disertakan. Kekhasan yang dimaksud dapat diwujudkan dengan

mengganti dan dapat juga mengubah bentuk satuan lingual yang umum itu.

Keempat, dipakai untuk meledek, menggoda, dalam kemasan pelucuan

dengan cara melesetkan bunyi atau bentuk fonetis kata-kata. Tanda yang demikian

(19)

Kelima, dipakai untuk memroses pemikiran dan perenungan filosofis. Dalam

hal ini, upaya itu ditampakkan dengan cara mengupas unsur atau bagian atau

panggalan satuan lingual sedemikian sehingga penggalan itu menjelma majadi sosok

satuan lingual baru yang memiliki makna dan acuannya sendiri. Tanda yang

demikian itu dikatakan bersifat kontemplatif-filosofis.

Keenam, dipakai untuk mengacu gambar foto, sebagai komentar singkat.

Dalam hal ini, gambar foto itu bernilai berita. Sementara itu, komentar yang

bersangkutan lalu bersifat tertulis—bukan lisan—yang dalam bidang persuratkabaran

disebut caption atau kapsi. Tandan yang demikian itu dikatakan bersifat

kapsionik-jurnalistik.

Dengan demikian, dikenal adanya enam macam tanda verbal, yaitu: (1)

lingual-referensial, (2) estetik-literer, (3) etik-pragmatik, (4) konyol-humorik, (5)

kontemplatif-filosofis, dan (6) kapsionik-jurnalistik.

Perkembangan yang dikemukakan di atas, dimungkinkan berlanjut, terutama

berkat adanya bentuk tulis dari tanda verbal itu. Dengan demikian, ada pekembangan

yang ketujuh, kedelapan, kesembilan, kesepuluh, dan seterusnya.

Perkembangan yang ketujuh, adanya tanda yang bersifat grafemik-kaligrafis,

yakni bentuk tulis satuan lingual yang dipakai untuk mengungkapkan keindahan

yang dinyatakan dalam wujud gambar realitas tertentu (orang, binatang,

tumbuh-tumbuhan, benda, dan yang lain). Dengan demikian, tulisan itu dibuat sedemikian

sehingga menjadi tiruan gambar objek lukisan, yang disebut “kaligrafi”. Kekhasan

yang menonjol, walaupun yang dikenai kreatifitas atau yang dikreasi itu bentuk tulis

satuan lingual, akan tetapi makna dari bentuk itu tidak terlupakan, tetap terpadu

dengan bentuk yang bersangkutan.

Adapun perkembangan yang kedelapan, satuan lingual dalam bentuk tulis

sama. Akan tetapi, bentuk yang sudah tertentu menggunakan huruf tertentu, diubah

sedemikian seolah-olah menjadi huruf alfabetik lain. Misalnya, huruf alfabetik Latin,

yang pembacaannya sudah barang tentu tunduk pada kaidah pembacaan satuan

lingual tulis berhuruf Latin. Tanda yang demikian itu dikatakan bersifat

grafemik-metaortografis. Jika yang Latin itu nampak seolah-olah huruf Arab, itu disebut

dengan tambahan –oid di belakang yang seolah-olah huruf tertentu itu. Maka, lalu

(20)

disebut grafemik-metaortografis araboid. Jika seolah-olah huruf China (padahal

huruf Latin, entah Latin, entah yang lain), itu disebut grafemik metaortografis

chinoid; begitu seterusnya (hanacarakaoid, kanjioid).

Tenyata, yang berbentuk lisan pun perkembangannya dapat semodel dengan

yang berbentu tulis. Bentuk lingualnya berbentuk lingual bahasa tetentu (L-1),

dengan ditandai maknanya yang khas pada bahasa itu. Akan tetapi, bentuk lingual

yang bersangkutan diucapkan seolah-olah bentuk lingual bahasa lain (L-2). Kalimat

bahasa Jawa “Isaku iki” (“mampuku ini”), terdengar seolah-olah kalimat bahasa

Jepang. Dengan sedikit rekayasa, kalimat gado-gado Jawa-Indonesia Tak kasih

murah ‘saya beri harga murah’ menjadi Takasimura seakan-akan kalimat bahasa

Jepang. Tanda yang demikian itu dikatakan bersifat auditorik-metafonatif.

Dengan demikian, setidak-tidaknya ada sembilan macam tanda verbal

berdasarkan tujuan keberadaannya, yaitu (1) lingual-referensial; (2) estetik-literer;

(3) etik pragmatik;(4) konyol humorik;(5) kontemplatif-filosofis;(6)

kapsionik-jurnalistik; (7) grafemik-kaligrafis; (8) grafemik-metaortografis;dan (9)

auditorik-metafonatif.

Dimungkinkan bahwa sebuah tanda verbal memiliki sifat majemuk.

Kombinasi dari dua atau lebih dari kesembilan sifat yang ada. Dalam kaitan dengan

tanda jenis ikon (yang bersifat ikonik), tanda itu dapat dibedakan atas sembilan

macam pula sehingga ada (1) ikon lingual referensial, (2) ikon estetik literer, (3) ikon

etik pragmatik, dan seterusnya. Berikut ini adalah contoh-contoh beserta

penjelasannya terkait dengan jenis-jenis ikon tersebut.

(1) Ikon Verbal Subjenis Lingual-Referensial

Kata tokek dalam bahasa Indonesia dan tekek dalam bahasa Jawa adalah

contoh ikon verbal subjenis lingual-referensial. Kata itu ketika diucapkan bunyinya

mirip dengan bunyi binatang yang menjadi objek acuannya. Kata-kata penyebut

nama banyak yang termasuk jenis itu. Gong, kentongan, kutilang, betet, perenjak,

bom, beberapa contohnya. Di samping itu, kata seperti buka (bahasa Indonesia) atau

bukak (bahasa Jawa) dan tutup pun termasuk subjenis lingual-referensial pula.

Dalam hal ini ke-ikon-annya nampak dari kemiripan bentuk mulut ketika kata itu

(21)

dibuka dengan menjauhkan bibir bawah dengan bibir atas; mengucapkan kata tutup,

mulut harus ditutup dengan menempelkan bibir bawah pada bibir kita atas. Contoh

lain yaitu kata ini dan itu. Ketika mengucapkan kata ini bentuk bibir kita ukurannya

lebih pendek dibanding ketika mengucapkan kata itu. Bentuk bibir yang ukurannya

lebih pendek ketika mengucapkan kata ini tersebut adalah ikonik (mirip) dengan

jarak yang ditunjuk dengan kata ini. Oleh karena kata ini merupakan kata penunjuk

yang jaraknya lebih dekat dibanding dengan kata penunjuk itu (untuk jarak yang

agak jauh). Demikian pula ungkapan seperti adikku memeluk kucingnya dan jatuh

terduduk merupakan ikon lingual-referensial pula karena urutan kemunculan unsur

yang berupa satuan lingual mencerminkan urutan kemunculan unsur satuan visual

kejadian teracunya ketika diucapkan.

(2) Ikon Verbal Subjenis Estetik-Literer

Contoh-contoh ikon verbal subjenis estetik-literer adalah sebagai barikut.

Contoh pertama, puisi karya Sutardji Choulzum Bachri berjudul “Tragedi Winka dan

Sihka”

Tragedi Winka & Sihka

kawin

kawin

kawin

kawin

ka

win

ka

win

ka

winka

winka

winka

winka

(22)

sih

ka

sih

ka

sih

ka

sih

ka

ku

Status ikon puisi berjudul “Tragedi Winka dan Sihka” ini terletak pada teknik

penulisan grafisnya, yaitu dengan cara memecah dan menyatukan unsur lingual puisi

itu untuk mencerminkan perpecahan dan kesatuan yang terjadi pada apa yang

diacunya yaitu kawin dan kasih. Pengurutan yang berbentuk zig-zag mencerminkan

perjalanan kasih dalam ikatan pekawinan yang tidak mulus dan tidak lurus.

Selanjutnya, nama Winka dan Sihka dalam judul puisi tersebut adalah

kebalikan dari kata kawin dan kasih. Dengan teknik penulisan grafis seperti ini

penyair tampaknya menyarankan bahwa dalam aliran waktu kawin dan kasih dapat

mengalami tragedi menjadi winka dan sihka. Artinya, pada hakikatnya setiap orang

yang kawin (menikah) bertujuan untuk meraih kebahagiaan (kawin-kasih). Akan

tetapi, perkawinan yang bermasalah justru mendatangkan kesengsaraan

(winka-sihka). Dengan kata lain, kata kawin-kasih itu ikonik dengan kebahagiaan, sedangkan

kata winka-sihka itu ikonik dengan kesengsaraan.

Contoh kedua ialah puisi Jawa kuno karya Mpu Prapanca berikut.

Sama lan pu Winadaprih Ia ingin sama dengan empu Winada prih dana wipulan masa yang bercita-cita mengumpulkan tama sansara ring gatya banyak uang dan mas.

tyaga ring rasa san mata akhirnya hidupnya sengsara; tetapi ia tetap tenang.

(23)

brati wega maweh naya ketika ia pergi bermona-brata, yang segera memberikan kepadanya pimpinan hidup.

Matarung tuhu wanyaprang Sungguh perwira ia dalam yuda; prangnya wahu turung tama yudanya belum selesai

masa linggara cunya prih Ia ingin mencapai nirwana;

prihnya cura gal ing sama tujuannya menjadi pahlawan besar dalam ketenangan tapa.

Puisi Jawa kuno ini merupakan pupuh yang termuat dalam karya agung

Nagarakertagama. Pupuh itu merupakan pupuh 97 yang terdiri atas tiga pada atau

bait. Dikutipkan sesuai dengan transliterasi Slamet Muljono yang sekaligus dengan

terjemahannya pula (Sudaryanto, 1994:140). Ada dua hal yang menarik. Pertama,

setiap pada yang terdiri atas empat larik (baris) itu tiap lariknya terdiri atas delapan

suku kata atau warna aksara. Larik pertama dan kedua saling berbalikan suku

katanya; demikian juga larik ketiga dan keempat. Jadi polanya sebagai berikut.

1 2 3 4 5 6 7 8

8 7 6 5 4 3 2 1

Padahal setiap larik memiliki arti sendiri pula. Hal yang menarik kedua, isi

cerita dari puisi Jawa kuno itu mengisahkan perjalanan hidup seorang pertapa: yang

semula meskipun sebagai rohaniwan tetapi masih sangat memikirkan keduniawian.

Akhirnya, hidupnya sengsara. Namun ia masih beruntung, kemudian ia sadar dan

bertaubat sehingga kesengsaraan yang dialami akibat godaan keduniawian itu,

berubah menjadi kebahagiaan yang berwujud ketentraman.

Lalu, dimana letak keikonan puisi tersebut? Keikonannya terletak pada

kemiripan antara perubahan jalan hidup si pertapa dengan pembalikan unsur larik

puisi.

Selanjutnya, perhatikan dan renungkan keikonan dalam ”Keseimbangan

Perkataan dan Bilangan dalam Al-Quran” berikut ini.

Misalnya, dunia kebalikannya adalah akhirat. Nah ternyata, di dalam

Al-Qur'an jumlah kata dunia dan kata akhirat sama persis, yaitu 115. Contoh lainnya

adalah sebagai berikut. Al-malaikat (malaikat) 88 kata, al-syayathin (setan) juga 88

kata. Al-hayat (kehidupan) 145 kata, al-maut (kematian) juga 145 kata. Al-rajul

(24)

(pria) 24 kata, l-mar'ah (wanita) juga 24 kataAl-syahr (bulan) 12 kata, sama dengan

jumlah bulan dalam satu tahun. Al-yaum (hari) 365 kata, sama dengan jumlah hari

dalam satu tahun. Al-bahr (lautan) 32 kata, sedangkan al-barr (daratan) ada 13 kata.

Jika jumlah kata yang mengandung maksud "lautan" dan "daratan", digabungkan

adalah 32 + 13 = 45. Maka, perbandingan luas lautan dan daratan adalah sebagai

berikut. Luas lautan = 32/45 x 100% = 71, 11111111%. Luas daratan =13/45 x 100%

= 28, 88888888%. Jadi, luas lautan itu lebih dari 2/3 luas bumi, sedangkan luas

daratan itu kurang dari 1/3 luas bumi.

Perhatikan dan renungkan pula keikonan ”Nilai Molekul Air (H2O) di dalam

Al Quran” berikut ini.

Molekul air terdiri dari dua atom hidrogen dan satu atom oksigen. Komposisi

kimianya dikenal sebagai H2O. Berat massa molekul air dapat dihitung sebagai

berikut.

Diketahui:

Berat massa atom hidrogen = 1. Berat massa atom oksigen = 16. Maka jumlah

berat massa molekul air (H2O) = (2 x 1) + (1 x 16) = 18. Nilai 18 ini ternyata dapat

dihubungkan dengan ayat yang terdapat di dalam Quran, yaitu surah

Al-Mu’minuun ayat 18 pada Juz ke-18 yang terjemahan ayatnya:

“Dan Kami turunkan air dari langit menurut suatu ukuran; lalu Kami

jadikan air itu menetap di bumi, dan sesungguhnya Kami benar-benar

berkuasa menghilangkannya.”

Kalau surah Al-Mu’minuun berada pada urutan ke-23, maka perhitungan

perkalian menjadi 23 x 18 x 18 = 7452, selanjutnya angka 7452 diuraikan menjadi 7,

4, 5, 2 dan kemudian dijumlahkan 7 + 4 + 5 + 2 = 18. Hasil penjumlahan

memunculkan kembali angka 18. Sangat sesuai dengan bunyi ayat di atas, tentang

air yang turun dari langit dan ternyata juga angka 18 sebagai nilai berat molekul air.

Sungguh, Allah Subhanahu Wata’ala Maha Besar dan Maha Benar.

Nilai 18 dapat dilihat pada contoh ayat-ayat Al-Quran seperti tertera di

bawah ini:

(a) Air yang dapat menyuburkan tumbuhan dan menghasilkan aneka jenis

(25)

Surah Fathiir (35) ayat 27 ; urutan juz ke- 22. Hasil perkaliannya : 35 x 27 x 22

= 20790, diuraikan menjadi 2, 0, 7, 9,0 , kemudian dijumlahkan 2 + 0 + 7 + 9 +

0 = 18

(b) Sungai yang mengalir dan pemisah antar dua laut.

Surah An Naml (27) ayat 61 ; urutan juz ke- 20. Hasil perkaliannya : 27 x 61 x 20

= 32940, diuraikan menjadi 3, 2, 9, 4,0 , kemudian dijumlahkan 3 + 2 + 9 + 4 + 0

= 18

(c) Laut menenggelamkan Fir’aun bersama pasukannya.

Surah Yunus (10) ayat 90 ; urutan juz ke- 11. Hasil perkaliannya : 10 x 90 x 11 =

9900, diuraikan menjadi 9, 9, 0, 0,0 , kemudian dijumlahkan 9 + 9 = 18.

(d) Kerusakan lingkungan di laut dan di darat (global warming)

Surah Ar-Ruum (30) ayat 41 ; urutan juz ke- 21. Hasil perkaliannya : 30 x 41 x

21 = 25830, diuraikan menjadi 2, 5, 8, 3, 0 , kemudian dijumlahkan 2 + 5 + 8 +

3 + 0 = 18 (http://en-gb.facebook.com, diunduh pada 23 Januari 2013).

(3) Ikon Verbal Subjenis Etik-Pragmatik

Contoh dapat dilihat pada kata-kata bentuk krama bahasa Jawa yang

keberadaannya sebagai perubahan bunyi dari bentuk ngokonya. Misalnya: jambet

yang berasal dari jambu ’jambu’, ijem yang berasal dari ijo ‘hijau’, ewah yang

berasal dari owah ‘berubah’, dan pantun yang berasal dari pari ‘padi’.

Dalam masyarakat Jawa ada pandangan, kuranglah sopan jika saat bertemu

muka, apalagi dengan orang yang dihormati, mulut terngangakan (membuka) dan

suara yang terucapkan keras atau melengking. Untuk menunjukkan kesopanan, layak

jika pembukaan atau pemuncungan mulut itu dihindari dan suara yang diucapkan

lebih lirih. Dalam kaitannya dalam pandangan kesopanan semacam itulah kata-kata

ngoko yang bila diucapkan mengharuskan mulut terbuka dan atau bibir muncung dan

atau suara relatif keras, harus diubah, sehingga memenuhi kriteria kesopanan itu.

Dengan demikian, wujud kata-kata krama yang dikenai proses perubahan itu, jika

diucapkan, mencerminkan kesopanan yang dimaksud; dan jadilah kata-kata krama

semacan itu menjadi tanda ikon dengan jenisnya etik-pragmatik.

(4) Ikon Verbal Subjenis Konyol-Humorik

Contohnya adalah rantai plesetan sebagai berikut.

(26)

AYAM. Ayam going to school.

School liwet. Liwet ngendi?

Ngendi Borobudur, budursangkar.

Sangkar bambu. Bambu masak.

Koran masak kini. Kini S. Bono.

Bonocoroko. Roko kretek.

Kretek ogleng.. (teruskan sendiri).

Contoh di atas dapat diidentifikasikan sebagai rantai plesetan karena adanya

pengubahan kata yang diucapkan berganti-ganti oleh orang yang berlainan. Yang

terlibat dalam hal ini dapat dua orang secara bergantian atau lebih. Kualifikasi

plesetan dimunculkan atas pertimbangan bahwa bentuk kata yang diubah itu tidak

ada hubungan makna (sama sekali) dengan hasil usahanya. Dalam pada itu,

tujuannya pun cenderung untuk lucu-lucuan, konyol pereda ketegangan, dan

pencairan hubungan agar lebih segar.

Kata ayam diatas adalah kata Indonesia. Kata ayam berikutnya diidentikkan

dengan kata I am ‘saya sedang..’ dalam bahasa Inggris. Oleh karena itu, dilanjutkan

dengan going to school. Akan tetapi, school Inggris kemudian diubah menjadi kata

Jawa yang bunyinya hampir sama, yaitu sekul ‘nasi’; sehingga meskipun ucapannya

tetap sama dengan school Inggris (oleh karena itu ditulis school) tetapi dimaksudkan

sebagai sekul Jawa. Sementara itu kata liwet mirip bunyinya dengan liwat ‘lewat’

sehingga dengan kalimat liwet ngendi? Maksudnya sama dengan liwat ngendi?

‘Lewat mana?’ Demikian seterusnya: ngendi ‘mana’ diplesetkan untuk mengacu

candi; budur pada Borobudur diplesetkan untuk mengacu bujur; sangkar pada

bujursangkar diplesetkan untuk mengacu sanggar (sanggar bambu nama sebuah

lembaga yang bergerak di bidang kebudayaan di Yogyakarta); bambu pada sanggar

bambu diplesetkan untuk mengacu bumbu; masak pada bumbu masak diplesetkan

untuk mengacu masa; kini pada koran masa kini diplesetkan untuk mengacu Rini;

dan Bono pada Rini S. Bono diplesetkan untuk mengacu Hono; serta akhirnya, roko

(27)

Pemiripan bunyi bersifat pemelesetan antara bentuk yang dipelesetkan

dengan pelesetannya itulah yang menempakkan gejala ikonisasi. Dalam hal ini

bentuk pelesetannya berstatus sebagai ikon terhadap bentuk yang dipelesetkan.

(5) Ikon Verbal Subjenis Kontemplatif Filosofis

Contoh pertama jenis ikon ini dapat dilihat pada aksara Jawa.

Aksara Jawa

Aksara Jawa merupakan salah satu peninggalan budaya yang tak ternilai

harganya. Bentuk aksara dan seni pembuatannya pun menjadi suatu peninggalan yang

patut untuk dilestarikan. Aksara tersebut tidak hanya digunakan di Jawa, tetapi juga

digunakan di daerah Sunda dan Bali meskipun terdapat sedikit perbedaan dalam

penulisannya.

Makna aksara Jawa dapat diperhatikan sebagai berikut.

Ha-na-ca-ra-ka berarti ada "utusan" yakni utusan hidup berupa nafas yang

berkewajiban menyatukan jiwa dengan jasad manusia. Maksudnya, ada yang

mempercayakan, ada yang dipercaya, dan ada yang dipercaya untuk bekerja. Ketiga

unsur itu adalah Allah, manusia, dan kewajiban manusia (sebagai makhluk/ciptaan).

Da-ta-sa-wa-la berarti manusia setelah diciptakan sampai dengan saatnya

dipanggil/meninggal dunia "tidak boleh sawala" (tidak boleh mengelak/harus patuh).

Manusia dengan segala atributnya harus bersedia melaksanakan, menerima, dan

menjalankan kehendak Allah. Dengan kata lain, harus menjalankan semua perintah

dan meninggalkan semua larangan-Nya (bertaqwa), atau harus mendengakan/

memperhatikan dengan seksama semua aturan Allah dan menaati-Nya (sami’na wa

atho’na).

(28)

Pa-dha-ja-ya-nya berarti menyatunya Zat Pemberi Hidup (Khaliq) dengan

yang diberi hidup (makhluq). Maksdunya, padha berarti sama atau sesuai, jumbuh,

cocok, tunggal batin yang tercermin dalam perbuatan berdasarkan keluhuran dan

keutamaan. Jaya itu menang, unggul, sungguh-sungguh, dan bukan

menang-menangan, sekedar menang atau menang tidak sportif.

Ma-ga-ba-tha-nga berarti menerima dengan ikhlas segala yang diperintahkan dan

yang dilarang oleh Allah Yang Mahakuasa. Maksudnya, manusia harus pasrah,

sumarah pada garis takdir, meskipun manusia diberi hak untuk berikhtiar, berusaha

untuk menanggulanginya.

Adapun makna setiap huruf Jawa tersebut dapat dijelaskan sebagai berikut.

Ha: Hana hurip wening suci (adanya hidup adalah kehendak dari yang Maha

Suci). Na: Nur candra, gaib candra, warsitaning candara (pengharapan manusia

hanya selalu ke cahaya Ilahi). Ca: Cipta wening, cipta mandulu, cipta dadi (arah dan

tujuan pada Yang Mahatunggal). Ra:Rasaingsun handulusih (rasa cinta sejati muncul

dari cinta kasih nurani). Ka:Karsaningsun memayuhayuning bawana (hasrat

diarahkan untuk kesajeteraan alam).

Da:Dumadining dzat kang tanpa winangenan (menerima hidup apa adanya).

Ta:Tatas, tutus, titis, titi lan wibawa (mendasar, totalitas, satu visi, ketelitian dalam

memandang hidup). Sa: Sifat ingsun handulu sifatullah (membentuk kasih sayang

seperti kasih sayang Allah). Wa: Wujud hana tan kena kinira (ilmu manusia hanya

terbatas namun implikasinya bisa tanpa batas). La:Lir handaya paseban jati

(mengalirkan hidup semata pada tuntunan Ilahi).

Pa:Papan kang tanpa kiblat (hakikat Allah yang ada di segala arah). Dha:

Dhuwur wekasane endek wiwitane (untuk bisa di atas tentu dimulai dari dasar). Ja:

Jumbuhing kawula lan Gusti (selalu berusaha menyatu memahami kehendak-Nya).

Ya:Yakin marang samubarang tumindak kang dumadi (yakin atas titah/kodrat Ilahi).

Nya:Nyata tanpa mata, ngerti tanpa diuruki (memahami kodrat kehidupan).

Ma: Madep mantep manembah mring Ilahi (yakin/mantap dalam menyembah

Allah). Ga: Guru sejati sing muruki (belajar pada guru nurani). Ba: Bayu sejati kang

(29)

dimulai dan tumbuh dari niatan). Nga: Ngracut busananing manungso (melepaskan

egoisme pribadi manusia).

Contoh kedua adalah tembang ”Ilir-ilir” berikut ini.

Ilir- ilir

Ilir-ilir, ilir-ilir, tandure (hu) wus sumilir. Tak ijo royo-royo, tak sengguh temanten anyar. Cah angon, cah angon, penek(e)na blimbing kuwi.

Lunyu-lunyu penek(e)na kanggo mbasuh dodot (s)ira. Dodot (s)ira, dodot (s)ira kumitir bedah ing pingggir. Dondomana, jlumatana, kanggo seba mengko sore. Mumpung gedhe rembulane, mumpun jembar kalangane. Ya suraka, surak hiya.

Makna dari tembang tersebut dapat dijelaskan per baris (larik) sebagai berikut.

Ilir-ilir, ilir-ilir, tandure (hu) wus sumilir. Bangunlah, bangunlah, tanamannya

telah bersemi. Kanjeng Sunan Kalijaga mengingatkan agar orang-orang Islam segera

bangun dan bergerak karena saatnya telah tiba, bagaikan tanaman yang telah siap

dipanen. Begitu pula rakyat Jawa yang telah siap menerima ajaran Islam dari para

wali.

Tak ijo royo-royo, tak sengguh temanten anyar. Bagaikan warna hijau yang

menyejukkan, bagaikan sepasang pengantin baru. Hijau adalah warna kejayaan Islam,

dan agama Islam di sini digambarkan seperti pengantin baru yang menarik hati siapa

pun yang melihatnya dan membawa kebahagiaan bagi orang-orang di sekitarnya.

Cah angon, cah angon, penek(e)na blimbing kuwi. Anak gembala, anak

gembala, tolong panjatkan pohon belimbing itu. Yang disebut anak gembala di sini

adalah para pemimpin. Dan belimbing adalah buah bersegi lima, yang merupakan

simbol dari lima rukun Islam dan salat lima waktu. Jadi, para pemimpin diperintahkan

oleh Sunan Kalijaga untuk memberi contoh kepada rakyatnya dengan menjalankan

ajaran Islam secara benar, yaitu dengan menjalankan lima rukun Islam dan salat lima

waktu.

Lunyu-lunyu penek(e)na kanggo mbasuh dodot (s)ira. Biarpun licin, tetaplah

memanjatnya, untuk mencuci kain dodotmu. Dodot adalah sejenis kain kebesaran

(30)

orang Jawa yang hanya digunakan pada upacara-upacara atau saat-saat penting. Dan

buah belimbing pada zaman dahulu, karena kandungan asamnya, sering digunakan

sebagai pencuci kain, terutama untuk merawat kain batik supaya awet.

Dengan kalimat ini, Sunan Kalijaga memerintahkan orang Islam untuk tetap

berusaha menjalankan lima rukun Islam dan salat lima waktu walaupun banyak

rintangannya (licin jalannya). Semuanya itu diperlukan untuk menjaga kehidupan

beragama mereka. Oleh karena menurut orang Jawa, agama itu seperti pakaian bagi

jiwanya. Walaupun bukan sembarang pakaian biasa.

Dodot (s)ira, dodot (s)ira kumitir bedah ing pingggir. Kain dodotmu, kain

dodotmu, telah rusak dan robek. Saat itu kemerosotan moral telah menyebabkan

banyak orang meninggalkan ajaran agama mereka, sehingga kehidupan beragama

mereka digambarkan seperti pakaian yang telah rusak dan robek.

Dondomana, jlumatana, kanggo seba mengko sore. Jahitlah, tisiklah untuk

menghadap (gustimu) nanti sore. Seba artinya menghadap orang yang berkuasa

(raja/gusti). Dalam tradisi Jawa ada istilah paseban yaitu tempat menghadap raja. Di

sini Sunan Kalijaga memerintahkan agar orang Jawa memperbaiki kehidupan

beragamanya yang telah rusak tadi dengan cara menjalankan ajaran Islam secara

benar untuk bekal menghadap Allah.

Mumpung gedhe rembulane, mumpun jembar kalangane. Selagi rembulan

masih purnama, selagi tempat masih luas dan lapang Selagi masih banyak waktu,

selagi masih lapang kesempatan, perbaikilah kehidupanmu.

Ya suraka, surak hiya. Ya bersoraklah. Ya berkatalah, kata ya, patuh, taat,

sendiko dhawuh. Agar saatnya nanti ketika datang panggilan dari Allah, Anda semua

bergembira dan berbahagia (khusnul khotimah) karena sukses menjaga kehidupan

beragama dengan baik.

Demikianlah petuah dari Sunan Kalijaga lima abad yang lalu, yang sampai

saat ini pun masih tetap terasa relevansinya. Semoga petuah dari salah seorang

waliyullah kenamaan ini membuat kita semakin bersemangat dalam hidup di jalan

Allah.

Selanjutnya, contoh yang ketiga. Dalam Bahasa Jawa ada kata pitu, yaitu kata

(31)

pitulung atau pitulungan ‘pertolongan’, pituwas ‘hasil’, pitutur ‘nasihat’ atau pituduh

‘petunjuk. Karena kedekatan atau kemiripnnya itu, manakala dalam saat yang

penting dan sakral, manusia Jawa mengharapkan atau memohon sesuatu agar dapat

terkabul, mereka menggunakan sesuatu yang jumlahnya pitu ‘tujuh’. Ketika ada

upacara mitoni, ‘yaitu upacara genap tujuh bulan usia kandungan’, permohonan

keselamatan terhadap bayi dalam kandungan beserta ibunya dikatakan proses dengan

memandikan ibu hamil dengan mengganti kain yang dipakai sebanyak tujuh kali.

Demikian pula dalam upacara siraman, satu hari menjelang upacara pernikahan,

calon pengantin putri perlu dimandikan dengan diguyur ai yang diambilkan dari

tujuh buah sumur sumber air yang berlainan.

Kecuali memanfaatkan nama bilangan pitu, masyarakat Jawa memanfaatkan

pula nama benda-benda tertentu, yang karena namanya itu, benda yang bersangkutan

disediakan, dijadikan syarat terpenuhinya upacara yang dilakukan. Dalam upacara

perkawinan tersediakannya daun keluwih, tebu, dan cengkir (kelapa muda yang

berair tetapi belum berdaging) karena bunyi masing-masing nama benda itu jika

diucapkan mirip dengan luwih ‘lebih’, antebing kalbu ‘mantap atau teguhnya hati’

serta kecengkir pikir ‘mantap dan memusatkan pikiran’, yang keemuanya diharapkan

agar dimiliki oleh pengantin dalam mengarungi hidup berkeluarga.

Benda-benda lain yang dilibatkan dalam upacara sakral tertentu masih banyak

lagi, yang biasanya berupa tumbuh-tumbuhan atau benda budaya tertentu. Daun

perdu tertentu yang bernama godhong apa-apa, atau rumput yang bernama

alang-alang, misalnya, disertakan sebagai uba-rampe, ‘unsur persyaratan upacara’ karena

nama itu jika diucapkan dekat dengan aja ana alangan apa-apa ‘jangan hendaknya

ada aral melintang sesuatu pun’. Busana Jawa yang biasa dipakai dalam upacara adat

Jawa, nama-nama bagiannya pun mengandung pengertian filosofis tertentu: iket

penutup kepala mengenakannya harus kencang, harapannya hendaklah manusia

mempunyai pikiran yang prinsipal, tidak mudah terombang-ambing; udheng

‘penutup kepala seperti topi bila disebutkan bunyinya mirip dengan mudheng

‘mengerti betul’. Harapannya, manusia (yang memakainya) mempunyai pemikiran

yang kukuh bila mengerti dan memahami tujuan hidupnya (Lihat Minggu Pagi No.

(32)

50 th 60 minggu II April tahun 2008: “Pakaian adat Kejawen Menurut Simbol

Kehidupan”).

(6) Ikon Verbal Subjenis Grafemik-Kaligrafis

Contoh ikon ini tampak pada gambar berikut.

Gambar di atas ialah seorang muslim yang sedang bersimpuh menjalankan

ibadah salat. Posisi penggambar mestinya di sebelah utara sehingga yang nampak

menghadap ke kanan itu, sebenarnya menghadadap ke kiblat barat. Bila dicermati

secara saksama, pembentuk gambar itu ialah tulisan ayat suci, kalimat syahadat yang

berarti ”Aku bersaksi tiada tuhan selain Allah dan aku bersaksi Muhammad itu

utusan Allah” Gambar yang terbentuk dengan bahan dan cara semacam itu dikenal

dengan sebutan “kaligrafi” dan merupakan karya seni. Kata-kata atau kalimat

pembentuk pada umumnya kata-kata atau kalimat pembentuk yang mengandung

nilai kebaikan. Sementara itu gambar yang dihasilkannya pun diupayakan selaras

dengan isi kalimat yang bersangkutan. Maka, tepatlah jika serangkaian tulisan Arab

syahadat yang khas Islami itu digunakan untuk membentuk gambar seorang muslim,

dan dia pun sedang melakukan ibadah salat pula. Dalam hal semacam ini, status

ikonnya mengenai kata-kata atau kalimat itu yang membentuk sedemikian sehingga

mirip dengan pihak yang memiliki dan menghayatinya.

Di lingkungan masyarakat Jawa yang memiliki dan menggunakan huruf Jawa

tekenal adanya unen-unen atau ungkapan aja dumeh yang berarti

(33)

karena pihak lain itu tampak kekurangan. Siapa tahu yang nampak kurang itu ada

kelebihan karena pengetahuan seseorang tehadap orang lain sangat terbatas.

Biasanya, kata-kata aja dumeh itu diabadikan dalam bentuk tokoh wayang yang

bernama Semar. Mengapa? Karena Semar yang kesehariannya dalam cerita wayang

sebagai budak atau abdi (bersama ketiga anaknya Gareng, Petruk, Bagong)

sebenarnya dewa yang mempunyai kelebihan luar biasa; bahkan kepalanya para

dewa pun, yaitu Bethara Guru, kalah sakti jika dibandingkan dengan Semar. Maka

dengan dibentuk sebagai gambar Semar, ungkapan aja dumeh menjadi sangat

bermakna. Maka dalam hal semacam itu pun ungkapa aja dumeh manjadi tanda ikon

bagi tujuan agar orang berendak hati ketika dikaligrafikan dalam bentuk gambar

wayang Semar.

(7) Ikon Verbal Subjenis Auditoris-Metafonatif

Contoh ikon ini ialah kata yang dipakai untuk menamakan sebuah rumah

makan di Yogya Utara Isakuiki. Kata-kata tersebut jika diucapkan terdengar seperti

bahasa Jepang (ingat kata Isuzu dan Suzuki merek mobil dan motor Jepang). Padahal

kalau dicermati, sesungguhnya itu merupakan kata-kata bahasa Jawa isaku ‘yang aku

bisa’ dan iki ‘ini’. Demikian pula kata takasimura sebagai nama sebuah warung

bahan bangunan (diantaranya keramik lantai), bila diucapkan terdengar seperti kata

bahasa Jepang (ingat kata nama Nakamura, Tanaka, dan sebagainya). Padahal kalau

dicermati, sesungguhnya itu merupakan kata campuran gabungan bahasa Jawa

Indonesia, yaitu tak kasih ‘saya beri’ dan murah ‘murah’. Dengan adanya bentuk

baru semacam itu, kata semula distatusikonkan. Jadilah tanda ikon yang terdengar

semacam itu.

Dalam kaitannya dengan proses pengikonan berjenis ini, dimungkinkan ada

kata sakukurata yang berarti ‘aku nggak punya uang’ (terbukti dari tidak adanya

uang sedikitpun di dalam saku saya, sehingga saku saya tidak nampak manonjol).

Kadang-kadang dimungkinkan pula gabungan kata Jawa atau Indonesia

dicina-cinakan, sehingga kalau diucapkan terdengar sekilas kata-kata Cina. Ketika penulis

masih di sekolah menengah dulu, sering mendengar kata fiktif untuk olok-olok Lem

Ban Pit dan Bon Ceng An yang sesungguhnya berarti ‘lem ban sepeda’ dan

‘boncengan’.

Gambar

Gambar di atas ialah seorang muslim yang sedang bersimpuh menjalankan

Referensi

Dokumen terkait

Dari segi fungsi, perbedaan yang dimiliki kedua bahasa yaitu bahasa Inggris memiliki empat fungsi, yaitu: kata kerja bantu, kata keterangan, Kata depan, dan kata ganti,

Bahasa yang diujarkan oleh manusia merupakan sebuah lambang atau tanda yang dapat mewakili sesuatu, dengan kata lain, orang lain (yang termasuk dalam satu

Kesenian mempunyai hubungan yang sangat erat dengan kehidupan manusia serta memiliki fungsi penting dalam berbagai kehidupan baik sosial maupun spiritual.. Soedarsono (1999: 1)

Bahasa adalah sesuatu yang sangat penting dalam kehidupan untuk berinteraksi sosial dengan makhluk hidup lain, baik yang sejenis maupun tidak sejenis.Selain itu bahasa juga dijadikan

Bahasa memiliki fungsi yang sangat kompleks dalam kehidupan manusia baik secara individual (personal) maupun secara sosial (komunal). Fungsi utama bahasa adalah sebagai

Bahasa memiliki fungsi yang sangat kompleks dalam kehidupan manusia baik secara individual (personal) maupun secara sosial (komunal). Fungsi utama bahasa adalah sebagai

Makna kata bergantung pada konteks satuan yang lebih besar, yaitu kalimat, dan makna kalimat bergantung pada fungsi penggunaan bahasa di dalam kehidupan manusia. Dari iklan (1)

Dalam penggunaan kata-kata Tabu berhubungan dengan fungsi alami tubuh manusia dalam bahasa Inggris dan bahasa Jawa memiliki persamaan yaitu sama-sama langsung mengacu pada