KUASAILAH DUNIA DENGAN BAHASA:
Memahami Pokok-Pokok Ilmu Bahasa
Drs. Bahroni, M.Pd.
SEKOLAH TINGGI AGAMA ISLAM NEGERI
SALATIGA
KATA PENGANTAR
Alhamdulillahirobbil’alamin, segala puji dan sembah-sujud hanya
bagi Allah, Tuhan semesta alam. Allahlah yang telah menciptakan bahasa
sebagaimana firman-Nya dalam Al-Quran Surat Al-Baqarah: 31: Dan Dia
mengajarkan kepada Adam nama-nama (benda-benda) seluruhnya, kemudian
mengemukakan kepada para Malaikat lalu berfirman: ”Sebutkanlah
kepada-Ku nama benda-benda itu jika kamu memang orang-orang yang benar.”
Dalam ayat tersebut ditegaskan bahwa Allah telah mengajarkan pada Nabi
Adam semua nama atau bahasa yang fungsinya utamanya adalah untuk
berkomunikasi agar kehidupan manusia menjadi lebih mudah.
Allah juga berfirman: ”Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya
ialah menciptakan langit dan bumi dan berlain-lainan bahasamu dan warna
kulitmu. Sesungguhnya pada yang demikian itu, benar-benar terdapat
tanda-tanda (kekuasaan-Nya) bagi orang-orang yang mengetahui.” (Q.S.
Ar-Rum:22).
Dalam rangka mensyukuri salah satu nikmat Allah yang berupa bahasa
tersebut, penulis berikhtiar dan ikut berperan dalam pengembangan khazanah
keilmuan bahasa dengan menyajikan buku ini ke hadapan pembaca yang
dirahmati Allah. Buku yang berjudul KUASAILAH DUNIA DENGAN
BAHASA: Memahami Pokok-Pokok Ilmu Bahasa ini berisi paparan tentang
semiotik (kajian tanda), semantik (kajian makna), morfologi (kajian bentuk),
sintaksis (kajian tata kalimat), stilistik (kajian gaya bahasa), dan pragmatik
(kajian penggunaan bahasa).
Semiotik adalah studi kegiatan kegiatan manusia yang mendasar yaitu
menciptakan makna. Atau, studi tentang tetanda (tanda-tanda) yang bermakna.
Tetanda adalah segala corak atau tipe unsur—verbal , nonverbal, natural,
artifisial—yang membawa makna. Dengan kata lain, semiotik adalah studi
Semantik yang berasal dari bahasa Yunani itu, mengandung makna to
signify atau memaknai. Sebagai istilah teknis, semantik mengandung
pengertian “studi tentang makna”.
Morfologi dapat diartikan sebagai ilmu yang mengkaji bentuk bahasa
serta pengaruh perubahan bentuk bahasa pada fungsi dan arti kata. Sasaran
pengkajian dalam morfologi ialah kata dan morfem.
Sintaksis (syntax) menyelidiki semua hubungan antarkata dan
antarkelompok kata (antarfrasa) dalam satuan dasar sintaksis, yaitu kalimat.
Morfologi mengkaji hubungan-hubungan gramatikal dalam kata itu sendiri,
sedangkan sintaksis mengkaji hubungan gramatikal di luar batas kata, yaitu
dalam satuan yang disebut kalimat.
Stilistik (stylistic) adalah ilmu tentang gaya, sedangkan stil (style)
adalah cara-cara yang khas, bagaimana segala sesuatu diungkapkan dengan
cara tertentu, sehingga tujuan yang dimaksudkan dapat dicapai secara
maksimal.
Pragmatik adalah cabang semiotik yang mempelajari relasi tanda dan
penafsirannya. Kekhususan bidang ini adalah penafsiran atas tanda atau
bahasa. Kekhususan bidang ini tidak sama dengan kekhususan bidang sintaksis
dan semantik sebagai bagian semiotik lain. Pada bidang sintaksis kajian
dikhususkan pada relasi formal tanda, sedangkan kajian pada bidang semantik
pada relasi antara tanda dan objek yang diacunya
Penulis berharap, mudah-mudahan buku sederhana ini dapat diterima
oleh pembaca sebagai salah satu acuan untuk memahami pokok-pokok ilmu
bahasa, yang selanjutnya dapat menjadi pemicu dan pemacu motivasi pembaca
untuk mendalami teori-teori bahasa yang sangat banyak dan beragam.
Mudah-mudahan dengan penguasaan ilmu bahasa yang lebih baik, kita
juga lebih mudah dalam memahami dan mendalami ilmu-ilmu lain yang
tentunya sangat bermanfaat bagi kehidupan kita. Dengan menguasai bahasa,
insya Allah pintu-pintu berbagai ilmu akan lebih terbuka. Dengan penguasaan
berbagai ilmu, insya Allah hidup kita akan lebih bermakna.
Selanjutnya, pada halaman ini izinkan kami menyampaikan
pesan-kasih-sayang kami teruntuk tiga buah hati kami:
1. Muhammad Satria Aji, ”Teladani Nabi Muhammad saw dan teruslah
belajar agar Aji menjadi manusia ksatria yang aji (migunani dan
bermartabat).”
2. Muhammad Tegar Izzulhaq, ”Teladani Nabi Muhammad saw dan teruslah
belajar agar Tegar menjadi manusia yang senantiasa tegar membela
kebenaran di Jalan Allah.”
3. Salma Cahaya Semesta, ”Teladani Nabi Muhammad saw dan istri-istri
Beliau, agar Salma menjadi muslimah-shalihah yang dapat membawa
keselamatan, kesejahteraan, serta pencerahan di semesta raya dengan
bimbingan cahaya-Nya.”
Kami sangat menyadari bahwa tidak ada satu pun karya manusia yang
sempurna. Oleh karena itu, kritik dan saran yang konstruktif guna
memperbaiki buku sederhana ini sangat penulis harapkan.
Akhirnya, kepada semua pihak yang telah berkontribusi dalam
penulisan buku sederhana ini, kami sampaikan jazakumullahu khoiron
katsiron. Dan, kepada Allah jualah kita bertawakal dan berserah diri. Semoga
Allah meridhoi setiap usaha dan ikhtiar kita. Amin.
Salatiga, Maret 2013
DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR _________________________________________ii
DAFTAR ISI ________________________________________________ v
BAB I : SEMIOTIK
A. Pengertian Semiotik ____________________________ 1
B. Jenis-jenis Tanda ______________________________ 2
C. Nilai-nilai dalam Ikon Verbal ____________________ 4
1. Bahasa, Tanda, dan Semiotik __________________ 5
2. Ikon Verbal Sebagai Tanda Utama _____________ 10
3. Tanda Verbal, Pembicara, Terwicara,
dan Mitra Wicara ___________________________ 10
4. Tanda Verbal: Idenfifikasi Berdasarkan
Tujuan Pemakaiannya _______________________ 12
BAB II : SEMANTIK
A. Pengertian Semantik __________________________ 29
B. Sejarah Semantik _____________________________ 31
C. Manfaat Semantik ____________________________ 33
D. Makna, Informasi , dan Maksud _________________ 34
E. Aspek Makna ________________________________ 38
1. Pengertian _________________________________ 38
2. Perasaan __________________________________ 39
3. Nada _____________________________________ 39
4. Tujuan ____________________________________ 40
F. Relasi Makna ________________________________ 41
1. Sinonim ___________________________________ 41
2. Antonim ___________________________________ 44
3. Homonim, Homofon, dan Homograf _____________ 47
4. Hiponim dan Hipernim ________________________50
5. Idiom dan Ungkapan __________________________51
BAB III : MORFOLOGI DAN SINTAKSIS
A. Morfologi ____________________________________53
1. Morfem ___________________________________ 56
2. Kata ______________________________________ 66
3. Frasa ______________________________________ 68
B. Sintaksis _____________________________________ 69
1. Pengertian Kalimat __________________________ 69
2. Unsur Kalimat ______________________________ 70
3. Pola Kalimat Dasar __________________________ 77
4. Kalimat Efektif ______________________________78
BAB IV : STILISTIK
A. Definisi dan Permasalahan Umum Silistik ___________ 83
B. Sumber Objek Penelitian Stilistik __________________ 86
C. Ruang Lingkup Penelitian Stilistik _________________ 91
D. Karya Sastra sebagai Sasaran Kajian Stilistik ________ 94
E. Pendekatan Studi Stilistik ________________________ 97
F. Jenis Gaya Bahasa ______________________________ 99
G. Pemanfaatan Gaya Bahasa _______________________110
BAB V : PRAGMATIK
A. Pengertian Pragmatik __________________________115
B. Ruang Lingkup Pragmatik ______________________117
C. Deiksis _____________________________________ 119
D. Praanggapan _________________________________121
E. Implikatur ___________________________________122
F. Tindak Tutur _________________________________ 123
G. Konteks dan Situasi Tutur _______________________ 126
DAFTAR PUSTAKA _________________________________________ 131
LAMPIRAN-LAMPIRAN:
1. Sinopsis Buku
2. Biodata Penulis
BAB I
SEMIOTIK
A. Pengertian Semiotik
Mengawali pembahasan tentang pengertian semiotik, Larsen (2009:1) menulis
satu kalimat cukup panjang yang penuh makna. Kalimat itu berbunyi, “Sebagai
manusia, kita bisa menentukan untuk tidak makan atau tidak minum, tidak
berkomunikasi, atau bahkan mungkin untuk tidak hidup; tetapi, di sepanjang hidup
kita, kita tidak dapat memilih untuk tidak menyampaikan makna ke dunia sekeliling
kita.” Artinya, dalam menjalani kehidupan ini sebenarnya kita diberi kebebasan oleh
Allah untuk berbuat apa pun.
Namun demikian, kita harus ingat bahwa kita tidak dapat bebas atau
melepaskan diri dari pemaknaan orang lain terhadap apa yang telah kita perbuat.
Dalam perspektif Islam, semua perbuatan kita, baik atau buruk, tidak hanya dimaknai
oleh orang lain, tetapi juga senantiasa dicatat oleh Malaikat Pencatat Amal dan
sekecil apa pun perbuatan kita itu, pasti berdampak pada yang berbuat, baik di dunia
ini maupun di akhirat kelak.
Menurut Larsen dalam Baryadi (2007:46), semiotik berasal dari bahasa Yunani
semeion yang berarti tanda. Semiotik berarti ilmu yang mempelajari tentang tanda,
baik struktur maupun proses tanda. Istilah lain dari semiotik adalah semiologi. Kedua
istilah tersebut tidak mengandung perbedaan konseptual. Perbedaannya terutama
terletak pada wilayah pemakaiannya, yaitu semiotik yang pada mulanya digunakan
oleh Charles Sanders Peirce lebih lazim dipakai di dunia Anglo-Sakson, sedangkan
semiologi yang pada awalnya digunakan oleh Ferdinand de Saussure lebih lazim di
Eropa Koninental. Agaknya perbedaan penggunaan dua istilah tersebut juga
dipengaruhi oleh latar belakang keilmuan dua tokoh tersebut. Peirce (1834 – 1914,
berkebangsaan Amerika Serikat, berbahasa Inggris) yang lebih suka menggunakan
istilah semiotik merupakan seorang ahli filsafat dan logika, sedangkan Saussure
(1857 – 1913, berkebangsaan Swiss, berbahasa Prancis) yang lebih suka
menggunakan istilah semiologi merupakan seorang peneliti/ilmuwan bahasa (linguis),
pelopor linguitik modern.
Dalam pengertian yang luas, semiotik adalah studi kegiatan kegiatan manusia
yang mendasar yaitu menciptakan makna. Atau, studi tentang tetanda (tanda-tanda)
yang bermakna. Tetanda adalah segala corak atau tipe unsur—verbal , nonverbal,
natural, artifisial—yang membawa makna. Dengan kata lain, semiotik adalah studi
tentang berbagai struktur tanda dan aneka proses tanda. Ada dua jenis pendapat
mengenai hakikat tanda. Pendapat pertama dikenal sebagai pendapat formal.
Pendapat ini ditokohi oleh Saussure. Pengertian tanda bertitik tolak dari pengertian
tanda bahasa, kemudian hal itu diterapkan untuk tanda yang lain. Pendapat ini, sesuai
dengan namanya, lebih mementingkan ciri-ciri formal tanda. Oleh karena itu,
pendapat ini disebut aliran strukturalisme. Pendapat kedua berasal dari aliran
pragmatis. Pelopor aliran ini adalah Peirce, yang berpendapat bahwa hakikat tanda itu
tidak hanya terletak pada struktur internalnya, tetapi juga penggunaannya (Larsen,
1994:3824).
Sebagai disiplin khusus, semiotik terus dikembangkan sehingga menjadi studi
tentang tetanda yang berfungsi di dunia kegiatan manusia. Dalam hal ini, semiotik
mengkaji tiga masalah mendasar. Pertama, bagaimana dunia yang mengelilingi kita
itu disusun melalui tetanda sebagai lingkungan yang manusiawi karena persepsi dan
pengertian kita terhadapnya itu. Kedua, bagaimana dunia ini kode-kan atau
di-sandi-kan dan di-dekode-kan atau di-di-sandi-kan kembali. Dengan demikian, menjadi
sebuah ”ranah kultural khusus” yang terdiri atas jejaring tetanda. Ketiga, bagaimana
kita ”berkomunikasi” dan ”bertindak” melalui tetanda agar ranah ini menjadi dunia
kultural yang diikutsertakan secara kolektif (Larsen, 2009:2).
B. Jenis-jenis Tanda
Dilihat dari sifat hubungannya, kadang tanda itu mirip dengan yang ditandai,
maka tanda yang semacam ini disebut ikon (icon), hubungannya bersifat ikonik
(iconic), misalnya patung, foto, peta, denah, karikatur, dan sebagainya. Jika antara
tanda dengan yang ditandai ada kedekatan eksistensi, maka tanda semacam ini
sebagai tanda ada api; panah sebagai tanda arah kiblat; mak tekluk sebagai tanda
mengantuk, dan sebagainya. Selanjutnya, jika antara tanda dengan yang ditandai
merupakan kesepakatan/konvensional maka disebut simbol (symbol), hubungannya
bersifat simbolik (symbolic), misalnya jilbab sebagai tanda kemuslimahan seseorang;
blankon sebagai tanda orang Jawa; dan sebagainya.
Dengan kata lain, konsep ikon memiliki pasangan ganda, yaitu “indeks” dan
“simbol”. Konsep yang triadik itu dimunculkan oleh Pierce untuk mengidentifikasi
sifat dominan hubungan antara tanda dengan objek yang ditandai atau teracunya.
Hubungan antara tanda dan yang ditandai dapat menampakkan kemiripan; artinya
tanda mirip dengan objek yang ditandai. Oleh karena itu, tanda yang dimaksud
“bertindak” mewakili dengan modus kemiripan terhadap objek objek yang ditandai
itu. Tanda yang demikian itu disebut ikon dan tentu saja bersifat ikonik.
Hubungan antara tanda dengan objek yang ditandai atau teracunya dapat pula
menampakkan diri “karena ada kedekatan eksistensi”. Artinya, keberadaan tanda itu
“sinambung” dengan yang ditandai, meskipun menurut kesadaran pemakainya
keduanya berbeda. Oleh karena itu, tanda yang dimaksud menjadi pengacu bagi si
objek yang ditandai. Tanda yang demikian itu disebut indeks dan tentu saja bersifat
indeksikal.
Akhirnya, hubungan antara tanda dengan objek yang ditandai atau teracunya
dapat pula tidak mirip dan tidak mengacu sebagaimana dimaksudkan pada tanda ikon
dan indeks. Tanda yang dimaksud berstatus tanda bagi objek yang ditandai
semata-mata karena pemakai sengaja men-status-kan apa yang menjadi tanda itu sebagai
tanda tanpa memperhitungkan kadar kemiripannya atau tanpa mempertimbangkan
kadar kedekatan eksistensinya. Pada dirinya, yang distatuskan sebagai tanda itu tidak
memiliki potensi mirip atau “sinambung” dengan objek teracunya. Sesuatu itu
berstatus sebagai tanda semata-mata karena dikaidahkan atau ditentukan serta saling
disetujui antar pemakainya. Jadi, merupakan konvensi dan konsesus yang status
“ke-wakil-an” dan pengacunya diperoleh karena ditentukan bersama secara arbitrer.
Tanda yang demikian itu disebut simbol dan tentu saja bersifat simbolik.
Patut dicatat, meskipun tanda itu ada tiga macam, akan tetapi terasumsikan
tidak ada tanda yang sepenuhnya bersifat ikonik, sepenuhnya bersifat indeksikal,
sepenuhnya bersifat simbolik. Di dalam satu sifat terkandung pula salah satu atau
kedua sifat yang lain.
Dari ketiga jenis tanda tersebut, ikon merupakan tanda yang utama karena
berkaitan dengan proses mewujudkan fungsi tanda. Dengan ikon, fungsi tanda dapat
diwujudkan secara efektif dan efisien. Oleh karena itu, uraian tentang tanda semiotik
berikut ini akan difokuskan pada ikon.
Kata ikon berasal dari bahasa Latin, yaitu icon yang berarti ’arca, patung, atau
gambar’. Kata ikon selanjutnya dipakai oleh Peirce sebagai istilah dalam semiotik,
yaitu untuk menyebut jenis tanda --sebagaimana telah disebut di atas--yang
penandanya memiliki hubungan kemiripan dengan objek yang diacunya. Atau, tanda
yang bentuk fisiknya memilki kaitan erat dengan sifat khas dari apa yang diacunya
(Sudaryanto dalam Baryadi, 2007:1).
Frasa ”kaitan yang erat” dalam definisi di atas, berart ”mirip” atau
”mencerminkan”, dan frasa ”apa yang diacunya” berarti realitas, isi tuturan, isi
wacana, atau situasi. Oleh karena itu, pengertian ikon dalam linguistik dapat
diformulasikan dengan lebih jelas, yaitu satuan bahasa yang bentuknya mirip dengan
realitas yang diacunya atau satuan bahasa yang bentuknya mencerminkan realitas
yang diacunya.
Dalam dunia pendidikan terutama yang terkait dengan ilmu bahasa, kajian yang
terpenting mengenai ikon adalah mengenai ikon verbal atau bahasa yang ikonik.
Oleh karena itu, bahasan berikut ini lebih ditujukan pada berbagai hal yang terkait
dengan ikon verbal tersebut.
C. Nilai-nilai dalam Ikon Verbal
Menurut Sudaryanto (2008:31), nilai adalah kekuatan, setidak-tidaknya dalam
perspektif kelestarian dan pelestarian identitas. Sebagai kekuatan, nilai
menghasilkan, mengakibatkan, dan mendampakkan pula kekuatan.
Ungkapan-ungkapan “ada nilai x-nya”, “memiliki nilai plus”, “mengembangkan nilai-nilai”,
“mengorbankan nilai x”—nilai apa pun—terkait dengan fakta nilai semacam itu.
Apabila pokok bahasan yang dipaparkan adalah mengenai nilai ikon, hal itu
berarti bahwa yang dibicarakan adalah kekuatan yang dimiliki oleh ikon. Dalam hal
bahasa itu sendiri. Adapun macam nilai yang dimaksud meliputi antara lain nilai
kebenaran, keindahan, dan kebaikan.
Ikon merupakan istilah dalam disiplin semiotik. Dalam kajian semiotik,
pemaparan tentang bahasa dan tanda menjadi hal yang sangat penting. Hal ini
dimaksudkan agar posisi dan peran ikon tampak jelas.
1. Bahasa, Tanda, dan Semiotik
Dalam wacana linguistik, bahasa merupakan sistem simbol bunyi bermakna
dan berartikulasi (dihasilkan oleh alat ucap), yang bersifat arbitrer dan
konvensional, yang dipakai sebagai alat berkomunikasi oleh sekelompok manusia
untuk melahirkan pikiran dan perasaan (Wibowo, 2001:3).
Bahasa merupakan sesuatu yang maujud atau entitas yang berwujud kata,
frasa, kalimat, alinea, wacana, atau satuan lingual lain yang lebih kecil, mula-mula
ialah dengan cara diucapkan. Dengan demikian, bahasa dikenal karena
terdengar(kan). Adapun fungsi, peran, tugas, atau manfaatnya ialah untuk
meng-anu-kan apa pun, segala hal, yang memang dapat di-anu-meng-anu-kan. Meng-anu-meng-anu-kan yang
dimaksud adalah kinerja manusia pencipta, pemilik, dan pemakai bahasa.
Meng-anu-kan itu identitasnya bermacam-macam. Secara acak, berikut merupaMeng-anu-kan sebagian
kecil dari kinerja meng-anu-kan yang dimaksud: mendakwahkan, menyantuni,
mendoakan, menamakan, menetapkan, mengatakan, menyatakan, memerinci,
mengulas, merumuskan, menawar, menggertak, membantah, menyepakati,
mengakses, menjanjikan, menyarankan, mengivestigasi, meminta, menceritakan,
menjelaskan, mempersoalkan; mengumpat, mengakui, membual; dan masih banyak
lagi lainnya.
Sebagaimana bentuk kinerja, yang bila dicatat secara saksama ada
bermacam-macam itu, satu sama lain saling menghubungkan secara spektral dan prismatik.
Dikatakan sebagai hubungan “spektral” jika yang melaksanakan kinerja itu berbagai
jenis satu lingual (linguistic unit), yang rinciannya ialah (1) menyebut: dengan kata;
(2) menentukan: dengan frasa; (3) menguraikan: dengan kalimat; (4) menerangkan
atau menjelaskan: dengan alinea; dan (5) menceritakan: dengan wacana. Dikatakan
“prismatik”, jika yang melaksanakan kinerja itu satu jenis satuan lingual yang sama
dengan wujud yang berbeda, misalnya: (1) mengajak, membujuk, merayu; (2)
memungkiri, mengingkari, berkelit; (3) mengiyakan, menyetujui, menyepakati,
menerima; (4) menguraikan, mempaparkan, membeberkan. Kinerja yang spektral
dan prismatik yang bermacam-macam itu dapat disebut “tindakan membahasakan”.
Dengan demikian, secara singkat dapat dikatakan bahwa bahasa itu berfungsi
membahasakan apa pun yang memang dapat dibahasakan. Dengan tujuan untuk:
mengomunikasikan apa pun yang yang memang dapat dikomunikaskan; menarasikan
apa pun yang memang dapat dinarasikan; mendeskripsikan apa pun yang memang
adapat dideskripsikan; memaparkan apa pun yang memang dapat dipaparkan; dan
seterusnya.
Dalam kaitannya dengan fungsi atau kegunaannya, bahasa yang adanya
dengan diucapkan itu, keadannya sama dengan entitas lain, sama-sama memiliki
kegunaannya masing-masing. Entitas yang dimaksud antara lain lukisan, patung,
klakson, kentongan, bendera, bagian tubuh tertentu yang digerakkan, pakaian,
rambu-rambu, dan yang lain, yang pada umumnya ditangkap oleh indera pendengar
atau penglihat.
Lukisan yang adanya dengan kuas bercat yang disapukan pada kanvas (dan
sejenisnya), berguna untuk melukiskan apa pun yang dapat dilukiskan.Patung yang
adanya dengan dipahat berguna untuk mematungkan apa pun yang dapat
dipatungkan (orang, binatang, benda-benda tertentu lainnya). Klakson yang
dibunyikan dengan dipencet atau ditiup berguna untuk menyatakan dengan klakson
apa-apa yang dapat di-klakson-kan (dinyatakan dengan bunyi klakson: peringatan,
panggilan, dan sebagainya). Kentongan yang dibunyikan dengan dipukul berguna
untuk menyatakan apa pun yang dapat dinyatakan dengan bunyi kentongan
(pencurian, kebakaran, undangan rapat, dan sebagainya). Bendera yang adanya
dengan dipasang di tempat tertentu atau dikibarkan berguna untuk menyatakan
dengan bendera apa pun yang dapat di-bendera-kan (kematian, penyerahan diri
identitas kelompok yang sedang melakukan tindakan yang penuh arti, dan
sebagainya). Kepala yang dianggukkan berguna untuk menyatakan apa pun yang
dapat diwujudkan dengan anggukan (persetujuan, kecocokan, dan sebagainya).
Tangan yang dapat digerakkan berguna untuk menyatakan apa pun yang dapat
ancaman, dan sebagainya). Pakaian yang dikenakan di badan berguna untuk
menyatakan apa pun (wanita, mahasiswa, muslimah, dan sebagainya) yang dapat
dinyatakan dengan kain yang dipakai. Rambu-rambu yang dipasang di pinggir jalan
berguna untuk menyatakan larangan atau anjuran yang layak diperhatikan oleh
pengguna jalan raya.
Dengan pengamatam saksama akan berbagai gejala yang ada, dapatlah
dikatakan bahwa entitas yang memiliki kegunaannya masing-masing yang khas itu
sangat banyak jumlahnya. “Apa pun” ternyata memiliki kegunaannya
masing-masing, apakah yang disebut “apa pun” itu sebagai suatu keutuhan atau sebagai
sesuatu yang yang terdiri atas bagian-bagian; dan bagian-bagian itulah yang
menampakkan kegunaan khasnya. Dalam hal ini, kegunaan itu apa, sesungguhnya
manusialah yang menentukan melalui penafsiran. Kumandang suara adzan
ditentukan manusia sebagai pertanda bahwa waktu salat tertentu telah tiba. Lampu
lalu lintas berwarna merah sebagai perintah bahwa pengendara harus berhenti. Langit
mendung sebagai pemberitahuan akan turun hujan. Sungai yang biasanya mengalir
tenang dengan air jernih mendadak banjir dengan air keruh, ditentukan oleh menusia
sebagai petunjuk bahwa di hulu telah terjadi hujan lebat. Kokok ayam di pagi buta
ditentukan oleh manusia sebagai isyarat bahwa fajar akan segera menyingsing.
Adapun penentuan dimaksud dilakukan dan diputuskan atas dasar
keberulangan yang keadaannya sama atau kondisi khas yang sengaja dibuat oleh
seseorang atau sekelompok orang terhadap maujud tertentu. Contoh-contoh yang
telah dikemukakan tersebut bertumpu pada keberulangan. Akan tetapi, bila bendera
hitam di tempat A, bendera putih di tempat B, dan bendera kuning di tempat C
sebagai penunjuk akan adanya hal yang sama, yaitu kematian, hal itu merupakan
kondisi khas (warna yang dipilih) yang disebut oleh manusia.
Hal yang sama terjadi manakala dalam suasana Idul Fitri, bahwa orang
sengaja membuat tulisan latin “Selamat Idul Fitri” dan kata-kata lain yang berkaitan,
dengan cara diarab-arabkan bentuknya. Demikian pula dalam suasana Imlek orang
sengaja membuat tulisan latin “Gong Si Fa Cai” dan kata-kata lain yang berkaitan
dengan cara memandarin-mandarinkan bentuknya. Sementara itu, di teve dan di
toko-toko tertentu pun, yang penyiar atau pelayannya kemungkinan bukan
muslim(ah) sengaja berpenampilan Islami lewat pakaiannya di kala suasana Idul
Fitri dan yang kemungkinan bukan Tionghoa sengaja berpenampilan kemandarinan
di kala suasana Imlek.
Bahasa yang membahasakan apa pun yang memang dapat dibahasakan,
patung yang dapat mematungkan apa pun yang memang dapat dipatungkan, bendera
yang membenderakan apa pun yang dapat dibenderakan, serta maujud-maujud lain
yang memang dapat mamaujudkan apa pun yang dapat dimaujudkan tersetujui
bersama untuk disebut dengan satu istilah yang mempersatukan, yaitu tanda.
Dengan demikian, apa pun—objek apa saja—yang dapat dihubungkan dengan tanda
itu dapat disebut yang ditandai, tertanda, atau tinanda. Memungut dari bahasa
Yunani, kata tanda disebut semeîonn (de Saussure dalam Sudaryanto, 2008:33).
Berkaitan dengan itu, ilmu yang dikembangkan dengan objek khusus
“semeîonn” disebut semiotik (semiotics) atau semiologi (semiology). Dengan
demikian, pengkajian tentang bahasa—yang dikenal sebagai linguistik (ilmu bahasa)
—dapat dimasukkan sebagai salah satu jenis semiotik dengan objek khusus tanda
yang berwujud bahasa.
Ada hal yang khas mengenai bahasa beserta ilmu tentang bahasa. Jika
dikaitkan dengan tanda-tanda yang lain, bahasa mampu menggantikan fungsi setiap
tanda yang bukan bahasa. Artinya, apa yang dapat dikerjakan oleh tanda yang lain
dapat dikerjakan pula oleh bahasa, tetapi tidak berlaku sebaliknya (van Zoest,
1992:2). Ada hal-hal yang khas yang tidak mampu digantikan oleh tanda yang lain
kecuali oleh bahasa. Contohnya, “mengangguk” tanda setuju dapat diganti dengan
tanda bahasa, yaitu kata sepakat, cocok, setuju, ya, okey. . Sebaliknya, “menggeleng”
tanda tidak setuju dapat diganti dengan tanda bahasa, yaitu kata tidak setuju, tidak,
jangan, dan sebagainya. Nyala lampu merah tanda berhenti dapat diganti dengan
tanda bahasa, yaitu kata berhenti atau stop. Bendera terpancang di pinggir pertigaan
atau perempatan jalan tanda ada kematian atau ada orang yang meninggal dunia.
Dalam tradisi Jawa, jika ada hiasan dari daun kelapa muda (janur mlengkung) yang
juga terpancang di pinggir pertigaan atau perempatan jalan merupakan tanda
Akan tetapi, tanda bahasa berupa kata yang antara lain berfungsi
menamakan, kalimat yang antara lain berfungsi berjanji atau menyatakan, wacana
yang antara lain berfungsi untuk diskusi atau mendiskusikan, tidak dapat diganti
dengan tanda lain yang bukan berupa bahasa. Oleh karena itu, bahasa sebagai tanda
memiliki tempat yang khas jika dibandingkan dengan tanda-tanda yang berwujud
lain. Dengan kata lain, bahasa merupakan tanda yang memiliki fungsi yang sangat
penting dalam kehidupan manusia karena memiliki kelebihan-kelebihan dibanding
tanda-tanda yang lain. Singkatnya, semua tanda dapat dibahasakan, sedangkan semua
bahasa belum tentu dapat diganti dengan tanda.
Oleh karena ilmu yang mengkaji bahasa, yaitu linguistik, telah begitu jauh
perjalanannya dengan hasil kajian berupa konsep-konsep teoretis dan metodologis,
maka dia termanfaatkan ketika dilakukan pengkajian terhadap tanda-tanda lain di
luar bahasa, dalam kerangka semiotik. Istilah-istilah yang khas dalam linguistik,
yaitu gramatika; sintaksis dan semantik; denotatif dan konotatif; signifier dan
signified; ketika semiotik berbicara tentang hubungan antartanda dan hubungan
antara tanda dengan objek yang ditandai, dengan segala akibat ikutannya, kegiatan
linguistik dijadikan model kegiatan semiotik, misalnya tentang arsitektur dan
sinematografi. Uraian yang lebih teoretis diterapkan dalam analisis semiotik tentang
karya sastra, perdebatan politik, iklan, kendaraan, pakaian, film, dan sebagainya.
Berdasarkan kekhasan bahasa dan ilmu bahasa sebagaimana diuraikan di atas,
menjadikan orang dapat bertumpu pada keduanya ketika berbicara tentang tanda
dalam kerangka semiotik. Dalam semangat memberi sumbangan inspiratif bagi
pengkajian tanda dalam kerangka semiotik itu pulalah uraian tentang nilai-nilai
dalam ikon verbal ini penting untuk disampaikan kepada para pemerhati studi
semiotik.
Perlu disampaikan bahwa uraian-uraian berikut bertumpu dan mengenai nilai
yang khusus dimiliki bahasa. Dalam hal ini, konsep nilai mengingatkan pada konsep
“valuer” atau “valensi” yang diperkenalkan oleh Saussure dalam Kridalaksana
(1988:17-21), “…sifat pertama valensi atau nilai yaitu menyangkut substitusi atau
penggantian suatu benda untuk benda lain yang sifatnya berlainan, uang adalah
contoh yang jelas…”. “…valensi dapat ditukar dengan segala sesuatu yang sifatnya
berlainan yang dianggap bernilai sama (misalnya, uang dengan roti) dan dapat
dibatasi melalui hal-hal yang serupa (misalnya, Dollar Amerika dibandingkan
dengan Poundsterling Inggris)”.
2. Ikon Verbal sebagai Tanda Utama
Mengacu pada pendapat Pierce, (van Zoest, 1992:19) menyatakan bahwa
tanda ikonlah yang paling utama. Dalam hal ini, ia menjelaskan sebagai berikut.
“…Rumah, peristiwa, struktur, gerakan tangan, teriakan, kesepian, semuanya mungkin merupakan tanda atau menjadi tanda, dengan syarat mengacu pada sesuatu yang lain. Namun hal itu hanya mungkin apabila sesuatu hubungan dapat terjadi antara yang hadir (tanda) dan yang tak hadir (acuannya). Hubungan itu harus merupakan hubungan kemiripan karena tanda dan yang mungkin menjadi acuannya itu mempunyai sesuatu yang sama. Bila tanda dan acuannya tidak ada kemiripan dalam bentuk apa pun, tak dapat terjadi hubungan yang representatif…..” (van Zoest, 1992:10)
Misalnya, jika pun kata kursi (bahasa Indonesia) yang sama dengan chair
(bahasa Inggris), nampak tidak ada kemiripan dengan objek teracunya, sebenarnya
tetap ada kemiripan, yaitu sama-sama sebagai satu keutuhan. Penegasan ini
mengimplikasikan tanda yang berstatus simbol, tidak sepenuhnya arbitrer dan
konvensional. Lebih-lebih kalau kesempatan melacak asal keberadaanya serta
penjelasan tentang pemakaian metaforisnya dapat dilakukan. Contohnya, kata
memetik dan mencakup masing-masing dalam ungkapan memetik hasil dan
mencakup beberapa hal, yang nampak tidak ikonik, jika ditelusuri sebenarnya
memiliki identitas ikon.
3. Tanda Verbal, Pembicara, Anu Terwicara, dan Mitra Wicara
Menurut Sudaryanto (1992:45), tanda verbal adalah tanda yang berupa
bahasa biasa, bahasa keseharian yang dipakai oleh manusia-manusia normal dalam
interaksi yang wajar. Tanda verbal semacam itu hanya mungkin ada manakala
melibatkan tiga faktor utama, yaitu:
a. Pembicara, sebagaimana disarankan dari sebutannya, adalah diri yang
melakukan aktivitas berbahasa, berbicara atau bertutur.
c.Anu terwicara adalah apapun, segala sesuatu, yang menjadi isi wicara atau yang
diomongkan oleh pembicara. Jika bahasa dapat disebut tanda verbal, maka anu
tewicara dapat disebut objek yang ditandai.
Satu hal yang patut disadari bahwa ketiga faktor utama itu adanya secara
serempak, yang satu mengandaikan adanya yang lain ketika fenomen bahasa atau
tanda verbal hadir dan digunakan. Demikian bahasa terhayati secara empiris,
padanya telah ada pembicara, mitra wicara, dan anu terwicara sekaligus. Ketiganya
ada sebagai tritunggal; dan adanya itu demi adanya realitas bahasa atau tanda verbal
itu.
Dalam kaitannya dengan keberadaan realitas bahasa atau tanda verbal itu,
tritunggal yang dimaksud memiliki fungsi utamanya masing-masing, yaitu:
a. Pembicara memiliki fungsi utama sebagai pelahir bahasa. Dengan “pelahir
bahasa” dimaksudkan bahwa bahasa benar-benar hadir sebagai realitas di dunia
realitas karena ada subjek yang menghadirkannya dengan cara menggunakannya
secara konkret.
b. Mitra wicara memiliki fungsi utama sebagai penjamin keberlangsungan adanya
bahasa atau adanya kemalaran bahasa. Dengan “penjamin keberlangsungan
adanya” dimaksudkan bahwa bahasa yang lahir itu tidak mungkin dapat
berkembangan atau dikembangkan oleh pembicara sebagai wacana jika tidak ada
mitra wicara yang dipercaya oleh pembicara yang bersangkutan sebagai mitra
wicara yang baik dan belum tahu apa yang akan diungkapkan oleh pembicara.
c. Anu terwicara memiliki fungsi utama sebagai pembentuk lekuk-liku sosok
bahasa. Dengan “pembentuk lekuk-liku sosok bahasa” dimaksudkan bahwa
bahasa yang diketahui tunduk pada prinsip linear dan bersifat linear pula itu
hanya dapat memiliki aneka macam bentuk konkret karena keberanekaragaman
anu terwicaranya atau objek yang ditandai atau acuannya.
Berdasarkan uraian tersebut, nampak pula sifat pokok pembicara, mitra
wicara, anu terwicara. Sifat pokok pembicara adalah sebagai pelahir bahasa yang
tahu dan sangat sadar akan apa yang diperkatakan; sifat pokok mitra wicara dalam
persepsi pembicara adalah sebagai penjamin keberlangsungan adanya bahasa dan
sebagai penjamin diterimanya sepenuh-penuhnya apa saja yang diperkatakan oleh
oleh pembicara berkat keserbatidaktahuannya akan apa yang diperkatakan itu. Dan
khusus sifat pokok anu terwicara adalah sifat yang senantiasa menentukan kenakaan
lekuk-liku sosok bahasa, baik aspek bentuknya maupun aspek maknanya
(Sudaryanto, 1995:41).
4. Tanda Verbal: Identifikasi Berdasarkan Tujuan Pemakaiannya
Dalam pekembangannya, tanda verbal yang disebut “bahasa” itu dipakai
dengan tujuan dan dalam kaitan yang berbeda-beda dengan yang ditandai (atau yang
ditandakan).
Pertama, dipakai semata-mata untuk mengacu realitas anu terwicara untuk
mitra wicara di kehidupan komunikasi keseharian. Tanda yang demikian itu
dikatakan bersifat lingual-referensial.
Kedua, dipakai untuk mengungkapkan pengalaman menggetarkan yang
dihayati oleh pembicara. Dalam hal ini, pengungkapan itu diupayakan terasa apik,
indah, cantik, menyentuh hati. Maka, dalam kaitan dengan upaya yang demikian itu,
kreativitas pembicaranya dikembangkan dan dipertaruhkan. Tanda yang demikian itu
dikatakan bersifat estetik-literer. Di situ ada kesadaran penuh dan tentu saja
kesengajaan menciptakan bentuk-bentuk tanda baru berdasarkan tanda-tanda yang
sudah ada yang dipakai di keseharian biasa.
Ketiga, dipakai untuk maksud menghormati dan atau menghargai mitra
wicara atau orang lain yang telibat, baik sebagai yang dituju maupun sebagai bagian
yang dibicarakan. Di situ ada upaya pengandalian diri untuk membuat senamg,
berkenan di hati, atau tidak melukai perasaan mitra wicara. Tanda yang demikian itu
dikatakan bersifat etik pragmatik. Dalam hal ini, upaya itu ditampakkan dengan
menggunakan satuan lingual yang khas, yang dari segi makna referensial sama
dengan satuan lingual yang umum digunakan di saat pertimbangan pengandalian diri
yang dimaksud tidak disertakan. Kekhasan yang dimaksud dapat diwujudkan dengan
mengganti dan dapat juga mengubah bentuk satuan lingual yang umum itu.
Keempat, dipakai untuk meledek, menggoda, dalam kemasan pelucuan
dengan cara melesetkan bunyi atau bentuk fonetis kata-kata. Tanda yang demikian
Kelima, dipakai untuk memroses pemikiran dan perenungan filosofis. Dalam
hal ini, upaya itu ditampakkan dengan cara mengupas unsur atau bagian atau
panggalan satuan lingual sedemikian sehingga penggalan itu menjelma majadi sosok
satuan lingual baru yang memiliki makna dan acuannya sendiri. Tanda yang
demikian itu dikatakan bersifat kontemplatif-filosofis.
Keenam, dipakai untuk mengacu gambar foto, sebagai komentar singkat.
Dalam hal ini, gambar foto itu bernilai berita. Sementara itu, komentar yang
bersangkutan lalu bersifat tertulis—bukan lisan—yang dalam bidang persuratkabaran
disebut caption atau kapsi. Tandan yang demikian itu dikatakan bersifat
kapsionik-jurnalistik.
Dengan demikian, dikenal adanya enam macam tanda verbal, yaitu: (1)
lingual-referensial, (2) estetik-literer, (3) etik-pragmatik, (4) konyol-humorik, (5)
kontemplatif-filosofis, dan (6) kapsionik-jurnalistik.
Perkembangan yang dikemukakan di atas, dimungkinkan berlanjut, terutama
berkat adanya bentuk tulis dari tanda verbal itu. Dengan demikian, ada pekembangan
yang ketujuh, kedelapan, kesembilan, kesepuluh, dan seterusnya.
Perkembangan yang ketujuh, adanya tanda yang bersifat grafemik-kaligrafis,
yakni bentuk tulis satuan lingual yang dipakai untuk mengungkapkan keindahan
yang dinyatakan dalam wujud gambar realitas tertentu (orang, binatang,
tumbuh-tumbuhan, benda, dan yang lain). Dengan demikian, tulisan itu dibuat sedemikian
sehingga menjadi tiruan gambar objek lukisan, yang disebut “kaligrafi”. Kekhasan
yang menonjol, walaupun yang dikenai kreatifitas atau yang dikreasi itu bentuk tulis
satuan lingual, akan tetapi makna dari bentuk itu tidak terlupakan, tetap terpadu
dengan bentuk yang bersangkutan.
Adapun perkembangan yang kedelapan, satuan lingual dalam bentuk tulis
sama. Akan tetapi, bentuk yang sudah tertentu menggunakan huruf tertentu, diubah
sedemikian seolah-olah menjadi huruf alfabetik lain. Misalnya, huruf alfabetik Latin,
yang pembacaannya sudah barang tentu tunduk pada kaidah pembacaan satuan
lingual tulis berhuruf Latin. Tanda yang demikian itu dikatakan bersifat
grafemik-metaortografis. Jika yang Latin itu nampak seolah-olah huruf Arab, itu disebut
dengan tambahan –oid di belakang yang seolah-olah huruf tertentu itu. Maka, lalu
disebut grafemik-metaortografis araboid. Jika seolah-olah huruf China (padahal
huruf Latin, entah Latin, entah yang lain), itu disebut grafemik metaortografis
chinoid; begitu seterusnya (hanacarakaoid, kanjioid).
Tenyata, yang berbentuk lisan pun perkembangannya dapat semodel dengan
yang berbentu tulis. Bentuk lingualnya berbentuk lingual bahasa tetentu (L-1),
dengan ditandai maknanya yang khas pada bahasa itu. Akan tetapi, bentuk lingual
yang bersangkutan diucapkan seolah-olah bentuk lingual bahasa lain (L-2). Kalimat
bahasa Jawa “Isaku iki” (“mampuku ini”), terdengar seolah-olah kalimat bahasa
Jepang. Dengan sedikit rekayasa, kalimat gado-gado Jawa-Indonesia Tak kasih
murah ‘saya beri harga murah’ menjadi Takasimura seakan-akan kalimat bahasa
Jepang. Tanda yang demikian itu dikatakan bersifat auditorik-metafonatif.
Dengan demikian, setidak-tidaknya ada sembilan macam tanda verbal
berdasarkan tujuan keberadaannya, yaitu (1) lingual-referensial; (2) estetik-literer;
(3) etik pragmatik;(4) konyol humorik;(5) kontemplatif-filosofis;(6)
kapsionik-jurnalistik; (7) grafemik-kaligrafis; (8) grafemik-metaortografis;dan (9)
auditorik-metafonatif.
Dimungkinkan bahwa sebuah tanda verbal memiliki sifat majemuk.
Kombinasi dari dua atau lebih dari kesembilan sifat yang ada. Dalam kaitan dengan
tanda jenis ikon (yang bersifat ikonik), tanda itu dapat dibedakan atas sembilan
macam pula sehingga ada (1) ikon lingual referensial, (2) ikon estetik literer, (3) ikon
etik pragmatik, dan seterusnya. Berikut ini adalah contoh-contoh beserta
penjelasannya terkait dengan jenis-jenis ikon tersebut.
(1) Ikon Verbal Subjenis Lingual-Referensial
Kata tokek dalam bahasa Indonesia dan tekek dalam bahasa Jawa adalah
contoh ikon verbal subjenis lingual-referensial. Kata itu ketika diucapkan bunyinya
mirip dengan bunyi binatang yang menjadi objek acuannya. Kata-kata penyebut
nama banyak yang termasuk jenis itu. Gong, kentongan, kutilang, betet, perenjak,
bom, beberapa contohnya. Di samping itu, kata seperti buka (bahasa Indonesia) atau
bukak (bahasa Jawa) dan tutup pun termasuk subjenis lingual-referensial pula.
Dalam hal ini ke-ikon-annya nampak dari kemiripan bentuk mulut ketika kata itu
dibuka dengan menjauhkan bibir bawah dengan bibir atas; mengucapkan kata tutup,
mulut harus ditutup dengan menempelkan bibir bawah pada bibir kita atas. Contoh
lain yaitu kata ini dan itu. Ketika mengucapkan kata ini bentuk bibir kita ukurannya
lebih pendek dibanding ketika mengucapkan kata itu. Bentuk bibir yang ukurannya
lebih pendek ketika mengucapkan kata ini tersebut adalah ikonik (mirip) dengan
jarak yang ditunjuk dengan kata ini. Oleh karena kata ini merupakan kata penunjuk
yang jaraknya lebih dekat dibanding dengan kata penunjuk itu (untuk jarak yang
agak jauh). Demikian pula ungkapan seperti adikku memeluk kucingnya dan jatuh
terduduk merupakan ikon lingual-referensial pula karena urutan kemunculan unsur
yang berupa satuan lingual mencerminkan urutan kemunculan unsur satuan visual
kejadian teracunya ketika diucapkan.
(2) Ikon Verbal Subjenis Estetik-Literer
Contoh-contoh ikon verbal subjenis estetik-literer adalah sebagai barikut.
Contoh pertama, puisi karya Sutardji Choulzum Bachri berjudul “Tragedi Winka dan
Sihka”
Tragedi Winka & Sihka
kawin
kawin
kawin
kawin
ka
win
ka
win
ka
winka
winka
winka
winka
sih
ka
sih
ka
sih
ka
sih
ka
ku
Status ikon puisi berjudul “Tragedi Winka dan Sihka” ini terletak pada teknik
penulisan grafisnya, yaitu dengan cara memecah dan menyatukan unsur lingual puisi
itu untuk mencerminkan perpecahan dan kesatuan yang terjadi pada apa yang
diacunya yaitu kawin dan kasih. Pengurutan yang berbentuk zig-zag mencerminkan
perjalanan kasih dalam ikatan pekawinan yang tidak mulus dan tidak lurus.
Selanjutnya, nama Winka dan Sihka dalam judul puisi tersebut adalah
kebalikan dari kata kawin dan kasih. Dengan teknik penulisan grafis seperti ini
penyair tampaknya menyarankan bahwa dalam aliran waktu kawin dan kasih dapat
mengalami tragedi menjadi winka dan sihka. Artinya, pada hakikatnya setiap orang
yang kawin (menikah) bertujuan untuk meraih kebahagiaan (kawin-kasih). Akan
tetapi, perkawinan yang bermasalah justru mendatangkan kesengsaraan
(winka-sihka). Dengan kata lain, kata kawin-kasih itu ikonik dengan kebahagiaan, sedangkan
kata winka-sihka itu ikonik dengan kesengsaraan.
Contoh kedua ialah puisi Jawa kuno karya Mpu Prapanca berikut.
Sama lan pu Winadaprih Ia ingin sama dengan empu Winada prih dana wipulan masa yang bercita-cita mengumpulkan tama sansara ring gatya banyak uang dan mas.
tyaga ring rasa san mata akhirnya hidupnya sengsara; tetapi ia tetap tenang.
brati wega maweh naya ketika ia pergi bermona-brata, yang segera memberikan kepadanya pimpinan hidup.
Matarung tuhu wanyaprang Sungguh perwira ia dalam yuda; prangnya wahu turung tama yudanya belum selesai
masa linggara cunya prih Ia ingin mencapai nirwana;
prihnya cura gal ing sama tujuannya menjadi pahlawan besar dalam ketenangan tapa.
Puisi Jawa kuno ini merupakan pupuh yang termuat dalam karya agung
Nagarakertagama. Pupuh itu merupakan pupuh 97 yang terdiri atas tiga pada atau
bait. Dikutipkan sesuai dengan transliterasi Slamet Muljono yang sekaligus dengan
terjemahannya pula (Sudaryanto, 1994:140). Ada dua hal yang menarik. Pertama,
setiap pada yang terdiri atas empat larik (baris) itu tiap lariknya terdiri atas delapan
suku kata atau warna aksara. Larik pertama dan kedua saling berbalikan suku
katanya; demikian juga larik ketiga dan keempat. Jadi polanya sebagai berikut.
1 2 3 4 5 6 7 8
8 7 6 5 4 3 2 1
Padahal setiap larik memiliki arti sendiri pula. Hal yang menarik kedua, isi
cerita dari puisi Jawa kuno itu mengisahkan perjalanan hidup seorang pertapa: yang
semula meskipun sebagai rohaniwan tetapi masih sangat memikirkan keduniawian.
Akhirnya, hidupnya sengsara. Namun ia masih beruntung, kemudian ia sadar dan
bertaubat sehingga kesengsaraan yang dialami akibat godaan keduniawian itu,
berubah menjadi kebahagiaan yang berwujud ketentraman.
Lalu, dimana letak keikonan puisi tersebut? Keikonannya terletak pada
kemiripan antara perubahan jalan hidup si pertapa dengan pembalikan unsur larik
puisi.
Selanjutnya, perhatikan dan renungkan keikonan dalam ”Keseimbangan
Perkataan dan Bilangan dalam Al-Quran” berikut ini.
Misalnya, dunia kebalikannya adalah akhirat. Nah ternyata, di dalam
Al-Qur'an jumlah kata dunia dan kata akhirat sama persis, yaitu 115. Contoh lainnya
adalah sebagai berikut. Al-malaikat (malaikat) 88 kata, al-syayathin (setan) juga 88
kata. Al-hayat (kehidupan) 145 kata, al-maut (kematian) juga 145 kata. Al-rajul
(pria) 24 kata, l-mar'ah (wanita) juga 24 kataAl-syahr (bulan) 12 kata, sama dengan
jumlah bulan dalam satu tahun. Al-yaum (hari) 365 kata, sama dengan jumlah hari
dalam satu tahun. Al-bahr (lautan) 32 kata, sedangkan al-barr (daratan) ada 13 kata.
Jika jumlah kata yang mengandung maksud "lautan" dan "daratan", digabungkan
adalah 32 + 13 = 45. Maka, perbandingan luas lautan dan daratan adalah sebagai
berikut. Luas lautan = 32/45 x 100% = 71, 11111111%. Luas daratan =13/45 x 100%
= 28, 88888888%. Jadi, luas lautan itu lebih dari 2/3 luas bumi, sedangkan luas
daratan itu kurang dari 1/3 luas bumi.
Perhatikan dan renungkan pula keikonan ”Nilai Molekul Air (H2O) di dalam
Al Quran” berikut ini.
Molekul air terdiri dari dua atom hidrogen dan satu atom oksigen. Komposisi
kimianya dikenal sebagai H2O. Berat massa molekul air dapat dihitung sebagai
berikut.
Diketahui:
Berat massa atom hidrogen = 1. Berat massa atom oksigen = 16. Maka jumlah
berat massa molekul air (H2O) = (2 x 1) + (1 x 16) = 18. Nilai 18 ini ternyata dapat
dihubungkan dengan ayat yang terdapat di dalam Quran, yaitu surah
Al-Mu’minuun ayat 18 pada Juz ke-18 yang terjemahan ayatnya:
“Dan Kami turunkan air dari langit menurut suatu ukuran; lalu Kami
jadikan air itu menetap di bumi, dan sesungguhnya Kami benar-benar
berkuasa menghilangkannya.”
Kalau surah Al-Mu’minuun berada pada urutan ke-23, maka perhitungan
perkalian menjadi 23 x 18 x 18 = 7452, selanjutnya angka 7452 diuraikan menjadi 7,
4, 5, 2 dan kemudian dijumlahkan 7 + 4 + 5 + 2 = 18. Hasil penjumlahan
memunculkan kembali angka 18. Sangat sesuai dengan bunyi ayat di atas, tentang
air yang turun dari langit dan ternyata juga angka 18 sebagai nilai berat molekul air.
Sungguh, Allah Subhanahu Wata’ala Maha Besar dan Maha Benar.
Nilai 18 dapat dilihat pada contoh ayat-ayat Al-Quran seperti tertera di
bawah ini:
(a) Air yang dapat menyuburkan tumbuhan dan menghasilkan aneka jenis
Surah Fathiir (35) ayat 27 ; urutan juz ke- 22. Hasil perkaliannya : 35 x 27 x 22
= 20790, diuraikan menjadi 2, 0, 7, 9,0 , kemudian dijumlahkan 2 + 0 + 7 + 9 +
0 = 18
(b) Sungai yang mengalir dan pemisah antar dua laut.
Surah An Naml (27) ayat 61 ; urutan juz ke- 20. Hasil perkaliannya : 27 x 61 x 20
= 32940, diuraikan menjadi 3, 2, 9, 4,0 , kemudian dijumlahkan 3 + 2 + 9 + 4 + 0
= 18
(c) Laut menenggelamkan Fir’aun bersama pasukannya.
Surah Yunus (10) ayat 90 ; urutan juz ke- 11. Hasil perkaliannya : 10 x 90 x 11 =
9900, diuraikan menjadi 9, 9, 0, 0,0 , kemudian dijumlahkan 9 + 9 = 18.
(d) Kerusakan lingkungan di laut dan di darat (global warming)
Surah Ar-Ruum (30) ayat 41 ; urutan juz ke- 21. Hasil perkaliannya : 30 x 41 x
21 = 25830, diuraikan menjadi 2, 5, 8, 3, 0 , kemudian dijumlahkan 2 + 5 + 8 +
3 + 0 = 18 (http://en-gb.facebook.com, diunduh pada 23 Januari 2013).
(3) Ikon Verbal Subjenis Etik-Pragmatik
Contoh dapat dilihat pada kata-kata bentuk krama bahasa Jawa yang
keberadaannya sebagai perubahan bunyi dari bentuk ngokonya. Misalnya: jambet
yang berasal dari jambu ’jambu’, ijem yang berasal dari ijo ‘hijau’, ewah yang
berasal dari owah ‘berubah’, dan pantun yang berasal dari pari ‘padi’.
Dalam masyarakat Jawa ada pandangan, kuranglah sopan jika saat bertemu
muka, apalagi dengan orang yang dihormati, mulut terngangakan (membuka) dan
suara yang terucapkan keras atau melengking. Untuk menunjukkan kesopanan, layak
jika pembukaan atau pemuncungan mulut itu dihindari dan suara yang diucapkan
lebih lirih. Dalam kaitannya dalam pandangan kesopanan semacam itulah kata-kata
ngoko yang bila diucapkan mengharuskan mulut terbuka dan atau bibir muncung dan
atau suara relatif keras, harus diubah, sehingga memenuhi kriteria kesopanan itu.
Dengan demikian, wujud kata-kata krama yang dikenai proses perubahan itu, jika
diucapkan, mencerminkan kesopanan yang dimaksud; dan jadilah kata-kata krama
semacan itu menjadi tanda ikon dengan jenisnya etik-pragmatik.
(4) Ikon Verbal Subjenis Konyol-Humorik
Contohnya adalah rantai plesetan sebagai berikut.
AYAM. Ayam going to school.
School liwet. Liwet ngendi?
Ngendi Borobudur, budursangkar.
Sangkar bambu. Bambu masak.
Koran masak kini. Kini S. Bono.
Bonocoroko. Roko kretek.
Kretek ogleng.. (teruskan sendiri).
Contoh di atas dapat diidentifikasikan sebagai rantai plesetan karena adanya
pengubahan kata yang diucapkan berganti-ganti oleh orang yang berlainan. Yang
terlibat dalam hal ini dapat dua orang secara bergantian atau lebih. Kualifikasi
plesetan dimunculkan atas pertimbangan bahwa bentuk kata yang diubah itu tidak
ada hubungan makna (sama sekali) dengan hasil usahanya. Dalam pada itu,
tujuannya pun cenderung untuk lucu-lucuan, konyol pereda ketegangan, dan
pencairan hubungan agar lebih segar.
Kata ayam diatas adalah kata Indonesia. Kata ayam berikutnya diidentikkan
dengan kata I am ‘saya sedang..’ dalam bahasa Inggris. Oleh karena itu, dilanjutkan
dengan going to school. Akan tetapi, school Inggris kemudian diubah menjadi kata
Jawa yang bunyinya hampir sama, yaitu sekul ‘nasi’; sehingga meskipun ucapannya
tetap sama dengan school Inggris (oleh karena itu ditulis school) tetapi dimaksudkan
sebagai sekul Jawa. Sementara itu kata liwet mirip bunyinya dengan liwat ‘lewat’
sehingga dengan kalimat liwet ngendi? Maksudnya sama dengan liwat ngendi?
‘Lewat mana?’ Demikian seterusnya: ngendi ‘mana’ diplesetkan untuk mengacu
candi; budur pada Borobudur diplesetkan untuk mengacu bujur; sangkar pada
bujursangkar diplesetkan untuk mengacu sanggar (sanggar bambu nama sebuah
lembaga yang bergerak di bidang kebudayaan di Yogyakarta); bambu pada sanggar
bambu diplesetkan untuk mengacu bumbu; masak pada bumbu masak diplesetkan
untuk mengacu masa; kini pada koran masa kini diplesetkan untuk mengacu Rini;
dan Bono pada Rini S. Bono diplesetkan untuk mengacu Hono; serta akhirnya, roko
Pemiripan bunyi bersifat pemelesetan antara bentuk yang dipelesetkan
dengan pelesetannya itulah yang menempakkan gejala ikonisasi. Dalam hal ini
bentuk pelesetannya berstatus sebagai ikon terhadap bentuk yang dipelesetkan.
(5) Ikon Verbal Subjenis Kontemplatif Filosofis
Contoh pertama jenis ikon ini dapat dilihat pada aksara Jawa.
Aksara Jawa
Aksara Jawa merupakan salah satu peninggalan budaya yang tak ternilai
harganya. Bentuk aksara dan seni pembuatannya pun menjadi suatu peninggalan yang
patut untuk dilestarikan. Aksara tersebut tidak hanya digunakan di Jawa, tetapi juga
digunakan di daerah Sunda dan Bali meskipun terdapat sedikit perbedaan dalam
penulisannya.
Makna aksara Jawa dapat diperhatikan sebagai berikut.
Ha-na-ca-ra-ka berarti ada "utusan" yakni utusan hidup berupa nafas yang
berkewajiban menyatukan jiwa dengan jasad manusia. Maksudnya, ada yang
mempercayakan, ada yang dipercaya, dan ada yang dipercaya untuk bekerja. Ketiga
unsur itu adalah Allah, manusia, dan kewajiban manusia (sebagai makhluk/ciptaan).
Da-ta-sa-wa-la berarti manusia setelah diciptakan sampai dengan saatnya
dipanggil/meninggal dunia "tidak boleh sawala" (tidak boleh mengelak/harus patuh).
Manusia dengan segala atributnya harus bersedia melaksanakan, menerima, dan
menjalankan kehendak Allah. Dengan kata lain, harus menjalankan semua perintah
dan meninggalkan semua larangan-Nya (bertaqwa), atau harus mendengakan/
memperhatikan dengan seksama semua aturan Allah dan menaati-Nya (sami’na wa
atho’na).
Pa-dha-ja-ya-nya berarti menyatunya Zat Pemberi Hidup (Khaliq) dengan
yang diberi hidup (makhluq). Maksdunya, padha berarti sama atau sesuai, jumbuh,
cocok, tunggal batin yang tercermin dalam perbuatan berdasarkan keluhuran dan
keutamaan. Jaya itu menang, unggul, sungguh-sungguh, dan bukan
menang-menangan, sekedar menang atau menang tidak sportif.
Ma-ga-ba-tha-nga berarti menerima dengan ikhlas segala yang diperintahkan dan
yang dilarang oleh Allah Yang Mahakuasa. Maksudnya, manusia harus pasrah,
sumarah pada garis takdir, meskipun manusia diberi hak untuk berikhtiar, berusaha
untuk menanggulanginya.
Adapun makna setiap huruf Jawa tersebut dapat dijelaskan sebagai berikut.
Ha: Hana hurip wening suci (adanya hidup adalah kehendak dari yang Maha
Suci). Na: Nur candra, gaib candra, warsitaning candara (pengharapan manusia
hanya selalu ke cahaya Ilahi). Ca: Cipta wening, cipta mandulu, cipta dadi (arah dan
tujuan pada Yang Mahatunggal). Ra:Rasaingsun handulusih (rasa cinta sejati muncul
dari cinta kasih nurani). Ka:Karsaningsun memayuhayuning bawana (hasrat
diarahkan untuk kesajeteraan alam).
Da:Dumadining dzat kang tanpa winangenan (menerima hidup apa adanya).
Ta:Tatas, tutus, titis, titi lan wibawa (mendasar, totalitas, satu visi, ketelitian dalam
memandang hidup). Sa: Sifat ingsun handulu sifatullah (membentuk kasih sayang
seperti kasih sayang Allah). Wa: Wujud hana tan kena kinira (ilmu manusia hanya
terbatas namun implikasinya bisa tanpa batas). La:Lir handaya paseban jati
(mengalirkan hidup semata pada tuntunan Ilahi).
Pa:Papan kang tanpa kiblat (hakikat Allah yang ada di segala arah). Dha:
Dhuwur wekasane endek wiwitane (untuk bisa di atas tentu dimulai dari dasar). Ja:
Jumbuhing kawula lan Gusti (selalu berusaha menyatu memahami kehendak-Nya).
Ya:Yakin marang samubarang tumindak kang dumadi (yakin atas titah/kodrat Ilahi).
Nya:Nyata tanpa mata, ngerti tanpa diuruki (memahami kodrat kehidupan).
Ma: Madep mantep manembah mring Ilahi (yakin/mantap dalam menyembah
Allah). Ga: Guru sejati sing muruki (belajar pada guru nurani). Ba: Bayu sejati kang
dimulai dan tumbuh dari niatan). Nga: Ngracut busananing manungso (melepaskan
egoisme pribadi manusia).
Contoh kedua adalah tembang ”Ilir-ilir” berikut ini.
Ilir- ilir
Ilir-ilir, ilir-ilir, tandure (hu) wus sumilir. Tak ijo royo-royo, tak sengguh temanten anyar. Cah angon, cah angon, penek(e)na blimbing kuwi.
Lunyu-lunyu penek(e)na kanggo mbasuh dodot (s)ira. Dodot (s)ira, dodot (s)ira kumitir bedah ing pingggir. Dondomana, jlumatana, kanggo seba mengko sore. Mumpung gedhe rembulane, mumpun jembar kalangane. Ya suraka, surak hiya.
Makna dari tembang tersebut dapat dijelaskan per baris (larik) sebagai berikut.
Ilir-ilir, ilir-ilir, tandure (hu) wus sumilir. Bangunlah, bangunlah, tanamannya
telah bersemi. Kanjeng Sunan Kalijaga mengingatkan agar orang-orang Islam segera
bangun dan bergerak karena saatnya telah tiba, bagaikan tanaman yang telah siap
dipanen. Begitu pula rakyat Jawa yang telah siap menerima ajaran Islam dari para
wali.
Tak ijo royo-royo, tak sengguh temanten anyar. Bagaikan warna hijau yang
menyejukkan, bagaikan sepasang pengantin baru. Hijau adalah warna kejayaan Islam,
dan agama Islam di sini digambarkan seperti pengantin baru yang menarik hati siapa
pun yang melihatnya dan membawa kebahagiaan bagi orang-orang di sekitarnya.
Cah angon, cah angon, penek(e)na blimbing kuwi. Anak gembala, anak
gembala, tolong panjatkan pohon belimbing itu. Yang disebut anak gembala di sini
adalah para pemimpin. Dan belimbing adalah buah bersegi lima, yang merupakan
simbol dari lima rukun Islam dan salat lima waktu. Jadi, para pemimpin diperintahkan
oleh Sunan Kalijaga untuk memberi contoh kepada rakyatnya dengan menjalankan
ajaran Islam secara benar, yaitu dengan menjalankan lima rukun Islam dan salat lima
waktu.
Lunyu-lunyu penek(e)na kanggo mbasuh dodot (s)ira. Biarpun licin, tetaplah
memanjatnya, untuk mencuci kain dodotmu. Dodot adalah sejenis kain kebesaran
orang Jawa yang hanya digunakan pada upacara-upacara atau saat-saat penting. Dan
buah belimbing pada zaman dahulu, karena kandungan asamnya, sering digunakan
sebagai pencuci kain, terutama untuk merawat kain batik supaya awet.
Dengan kalimat ini, Sunan Kalijaga memerintahkan orang Islam untuk tetap
berusaha menjalankan lima rukun Islam dan salat lima waktu walaupun banyak
rintangannya (licin jalannya). Semuanya itu diperlukan untuk menjaga kehidupan
beragama mereka. Oleh karena menurut orang Jawa, agama itu seperti pakaian bagi
jiwanya. Walaupun bukan sembarang pakaian biasa.
Dodot (s)ira, dodot (s)ira kumitir bedah ing pingggir. Kain dodotmu, kain
dodotmu, telah rusak dan robek. Saat itu kemerosotan moral telah menyebabkan
banyak orang meninggalkan ajaran agama mereka, sehingga kehidupan beragama
mereka digambarkan seperti pakaian yang telah rusak dan robek.
Dondomana, jlumatana, kanggo seba mengko sore. Jahitlah, tisiklah untuk
menghadap (gustimu) nanti sore. Seba artinya menghadap orang yang berkuasa
(raja/gusti). Dalam tradisi Jawa ada istilah paseban yaitu tempat menghadap raja. Di
sini Sunan Kalijaga memerintahkan agar orang Jawa memperbaiki kehidupan
beragamanya yang telah rusak tadi dengan cara menjalankan ajaran Islam secara
benar untuk bekal menghadap Allah.
Mumpung gedhe rembulane, mumpun jembar kalangane. Selagi rembulan
masih purnama, selagi tempat masih luas dan lapang Selagi masih banyak waktu,
selagi masih lapang kesempatan, perbaikilah kehidupanmu.
Ya suraka, surak hiya. Ya bersoraklah. Ya berkatalah, kata ya, patuh, taat,
sendiko dhawuh. Agar saatnya nanti ketika datang panggilan dari Allah, Anda semua
bergembira dan berbahagia (khusnul khotimah) karena sukses menjaga kehidupan
beragama dengan baik.
Demikianlah petuah dari Sunan Kalijaga lima abad yang lalu, yang sampai
saat ini pun masih tetap terasa relevansinya. Semoga petuah dari salah seorang
waliyullah kenamaan ini membuat kita semakin bersemangat dalam hidup di jalan
Allah.
Selanjutnya, contoh yang ketiga. Dalam Bahasa Jawa ada kata pitu, yaitu kata
pitulung atau pitulungan ‘pertolongan’, pituwas ‘hasil’, pitutur ‘nasihat’ atau pituduh
‘petunjuk. Karena kedekatan atau kemiripnnya itu, manakala dalam saat yang
penting dan sakral, manusia Jawa mengharapkan atau memohon sesuatu agar dapat
terkabul, mereka menggunakan sesuatu yang jumlahnya pitu ‘tujuh’. Ketika ada
upacara mitoni, ‘yaitu upacara genap tujuh bulan usia kandungan’, permohonan
keselamatan terhadap bayi dalam kandungan beserta ibunya dikatakan proses dengan
memandikan ibu hamil dengan mengganti kain yang dipakai sebanyak tujuh kali.
Demikian pula dalam upacara siraman, satu hari menjelang upacara pernikahan,
calon pengantin putri perlu dimandikan dengan diguyur ai yang diambilkan dari
tujuh buah sumur sumber air yang berlainan.
Kecuali memanfaatkan nama bilangan pitu, masyarakat Jawa memanfaatkan
pula nama benda-benda tertentu, yang karena namanya itu, benda yang bersangkutan
disediakan, dijadikan syarat terpenuhinya upacara yang dilakukan. Dalam upacara
perkawinan tersediakannya daun keluwih, tebu, dan cengkir (kelapa muda yang
berair tetapi belum berdaging) karena bunyi masing-masing nama benda itu jika
diucapkan mirip dengan luwih ‘lebih’, antebing kalbu ‘mantap atau teguhnya hati’
serta kecengkir pikir ‘mantap dan memusatkan pikiran’, yang keemuanya diharapkan
agar dimiliki oleh pengantin dalam mengarungi hidup berkeluarga.
Benda-benda lain yang dilibatkan dalam upacara sakral tertentu masih banyak
lagi, yang biasanya berupa tumbuh-tumbuhan atau benda budaya tertentu. Daun
perdu tertentu yang bernama godhong apa-apa, atau rumput yang bernama
alang-alang, misalnya, disertakan sebagai uba-rampe, ‘unsur persyaratan upacara’ karena
nama itu jika diucapkan dekat dengan aja ana alangan apa-apa ‘jangan hendaknya
ada aral melintang sesuatu pun’. Busana Jawa yang biasa dipakai dalam upacara adat
Jawa, nama-nama bagiannya pun mengandung pengertian filosofis tertentu: iket
penutup kepala mengenakannya harus kencang, harapannya hendaklah manusia
mempunyai pikiran yang prinsipal, tidak mudah terombang-ambing; udheng
‘penutup kepala seperti topi bila disebutkan bunyinya mirip dengan mudheng
‘mengerti betul’. Harapannya, manusia (yang memakainya) mempunyai pemikiran
yang kukuh bila mengerti dan memahami tujuan hidupnya (Lihat Minggu Pagi No.
50 th 60 minggu II April tahun 2008: “Pakaian adat Kejawen Menurut Simbol
Kehidupan”).
(6) Ikon Verbal Subjenis Grafemik-Kaligrafis
Contoh ikon ini tampak pada gambar berikut.
Gambar di atas ialah seorang muslim yang sedang bersimpuh menjalankan
ibadah salat. Posisi penggambar mestinya di sebelah utara sehingga yang nampak
menghadap ke kanan itu, sebenarnya menghadadap ke kiblat barat. Bila dicermati
secara saksama, pembentuk gambar itu ialah tulisan ayat suci, kalimat syahadat yang
berarti ”Aku bersaksi tiada tuhan selain Allah dan aku bersaksi Muhammad itu
utusan Allah” Gambar yang terbentuk dengan bahan dan cara semacam itu dikenal
dengan sebutan “kaligrafi” dan merupakan karya seni. Kata-kata atau kalimat
pembentuk pada umumnya kata-kata atau kalimat pembentuk yang mengandung
nilai kebaikan. Sementara itu gambar yang dihasilkannya pun diupayakan selaras
dengan isi kalimat yang bersangkutan. Maka, tepatlah jika serangkaian tulisan Arab
syahadat yang khas Islami itu digunakan untuk membentuk gambar seorang muslim,
dan dia pun sedang melakukan ibadah salat pula. Dalam hal semacam ini, status
ikonnya mengenai kata-kata atau kalimat itu yang membentuk sedemikian sehingga
mirip dengan pihak yang memiliki dan menghayatinya.
Di lingkungan masyarakat Jawa yang memiliki dan menggunakan huruf Jawa
tekenal adanya unen-unen atau ungkapan aja dumeh yang berarti
karena pihak lain itu tampak kekurangan. Siapa tahu yang nampak kurang itu ada
kelebihan karena pengetahuan seseorang tehadap orang lain sangat terbatas.
Biasanya, kata-kata aja dumeh itu diabadikan dalam bentuk tokoh wayang yang
bernama Semar. Mengapa? Karena Semar yang kesehariannya dalam cerita wayang
sebagai budak atau abdi (bersama ketiga anaknya Gareng, Petruk, Bagong)
sebenarnya dewa yang mempunyai kelebihan luar biasa; bahkan kepalanya para
dewa pun, yaitu Bethara Guru, kalah sakti jika dibandingkan dengan Semar. Maka
dengan dibentuk sebagai gambar Semar, ungkapan aja dumeh menjadi sangat
bermakna. Maka dalam hal semacam itu pun ungkapa aja dumeh manjadi tanda ikon
bagi tujuan agar orang berendak hati ketika dikaligrafikan dalam bentuk gambar
wayang Semar.
(7) Ikon Verbal Subjenis Auditoris-Metafonatif
Contoh ikon ini ialah kata yang dipakai untuk menamakan sebuah rumah
makan di Yogya Utara Isakuiki. Kata-kata tersebut jika diucapkan terdengar seperti
bahasa Jepang (ingat kata Isuzu dan Suzuki merek mobil dan motor Jepang). Padahal
kalau dicermati, sesungguhnya itu merupakan kata-kata bahasa Jawa isaku ‘yang aku
bisa’ dan iki ‘ini’. Demikian pula kata takasimura sebagai nama sebuah warung
bahan bangunan (diantaranya keramik lantai), bila diucapkan terdengar seperti kata
bahasa Jepang (ingat kata nama Nakamura, Tanaka, dan sebagainya). Padahal kalau
dicermati, sesungguhnya itu merupakan kata campuran gabungan bahasa Jawa
Indonesia, yaitu tak kasih ‘saya beri’ dan murah ‘murah’. Dengan adanya bentuk
baru semacam itu, kata semula distatusikonkan. Jadilah tanda ikon yang terdengar
semacam itu.
Dalam kaitannya dengan proses pengikonan berjenis ini, dimungkinkan ada
kata sakukurata yang berarti ‘aku nggak punya uang’ (terbukti dari tidak adanya
uang sedikitpun di dalam saku saya, sehingga saku saya tidak nampak manonjol).
Kadang-kadang dimungkinkan pula gabungan kata Jawa atau Indonesia
dicina-cinakan, sehingga kalau diucapkan terdengar sekilas kata-kata Cina. Ketika penulis
masih di sekolah menengah dulu, sering mendengar kata fiktif untuk olok-olok Lem
Ban Pit dan Bon Ceng An yang sesungguhnya berarti ‘lem ban sepeda’ dan
‘boncengan’.