MORFOLOGI DAN SINTAKSIS
F. Jenis Gaya Bahasa
Gaya bahasa dapat dilihat dari berbagai macam sudut pandang. Oleh karena itu, sulit diperoleh kesepakatan mengenai suatu pembagian gaya bahasa yang bersifat menyeluruh dan dapat diterima oleh berbagai pihak. Pendapat-pendapat tentang gaya bahasa menurut Keraf (1994:115), sekurang- kurangnya dapat dibedakan dari segi bahasa dan segi nonbahasa.
Dilihat dari segi bahasa atau unsur-unsur bahasa yang digunakan, menurut Keraf (1994:116-129), gaya bahasa dapat dibedakan berdasarkan titik tolak unsur bahasa yang digunakan, yaitu: (l) gaya bahasa berdasarkan pilihan kata, (2) gaya bahasa berdasarkan nada yang terkandung dalam wacana, (3) gaya bahasa berdasarkan struktur kalimat, dan (4) gaya bahasa berdasarkan langsung tidaknya makna.
Gaya bahasa berdasarkan pilihan kata atau unsur leksikal, menurut Nurgiyantoro (1998:290), yaitu mengacu pada pengertian penggunaan kata- kata tertentu yang sengaja dipilih oleh pengarang. Pemilihan kata-kata tertentu tersebut tentulah melalui pertimbangan-pertimbangan tertentu untuk memperoleh efek tertentu, efek ketepatan (estetis). Masalah ketepatan itu sendiri secara sederhana dapat dipertimbangkan dari segi bentuk dan makna, yaitu apakah unsur leksikal yang digunakan itu mampu mendukung tujuan estetis karya yang bersangkutan, mampu mengkomunikasikan makna, pesan, dan mampu mengungkapkan gagasan seperti yang dimaksudkan pengarang.
Penggunaan unsur leksikal tertentu sesungguhnya sangat menentukan dalam penyampaian makna suatu karya sastra. Kata, rangkaian kata, dan pasangan kata yang diplilih secara cermat dapat menimbulkan efek yang dikehendaki pengarang pada diri pembaca, menonjolkan bagian tertentu suatu karya, atau pun menghilangkan monotoni. Oleh karena itu, sangatlah penting untuk diketahui kata dan ungkapan mana yang sebaiknya digunakan dalam konteks tertentu agar pesan yang ingin disampaikan atau kesan yang ingin ditimbulkan terwujud. Untuk memperoleh efek tertentu itu, pengarang dapat rnenggunakan bentuk bahasa plesetan dan ungkapan-ungkapan khusus atau idiom.
Gejala bentuk bahasa yang diplesetkan menarik untuk diperbincangkan terutama jika dilihat dari segi makna atau pesan yang disampaikan, sebagaimana diuraikan oleh Heryanto (dalam Pateda 2001:152-157) berikut ini.
Plesetan dapat digambarkan sebagai kegiatan berbahasa yang mengutamakan atau memanfaatkan secara maksimal pembentukan berbagai pernyataan dan aneka makna yang dimungkinkan oleh sifat sewenang- wenang pada kaitan pertanda -makna - realitas empirik.
Bentuk plesetan pada awalnya menggunakan bentuk dan kalimat- kalimat yang wajar. Namun, setelah pendengar terbuai oleh kata-kata yang direntetkan, tiba-tiba pembicara menyelipkan, mengubah, membuat lanjutan, bahkan membuat pendengar tertawa dengan jalan menggunakan bentuk-bentuk yang diplesetkan. Pendengar tertawa, kadang-kadang juga tersinggung, bahkan merasa dihina dengan adanya bentuk yang diplesetkan karena ia memahami maknanva.
Selanjutnya, Heryanto membagi bentuk yang diplesetkan atas tiga jenis. Pertama, jenis plesetan untuk berplesetan itu sendiri. Pada jenis yang terjadi adalah kenikmatan bermain-main bahasa di dalam bahasa itu sendiri tanpa mempedulikan kaitannya dengan dunia di luar bahasa, misalnya air love you, love you sebelum berkembang, Umar Kayam .... Kayam goreng, ayam goreng to school dan sebagainya.
Dari jenis plesetan yang pertama tersebut dapat dibedakan lagi menjadi dua subkategori, yaitu (l) plesetan yang menuntut kemahiran, mengundang tawa penonton dengan mendistorsi kata sehingga terbentuklah kata-kata lain yang sebenarnya tidak memiliki kaitan atau malahan tidak bermakna, tetapi kedengarannya lucu, contohnya kata kepala diplesetkan menjadi kelapa, tolong menjadi lontong, airport menjadi airpot, partisipasi menjadi partisisapi, menyelidiki menjadi menyelikidi, dan sebagainya, (2) Plesetan yang merupakan sejumlah grafiti yang tncndistorsikan istilah pribumi mejadi sedikit kebarat-baratan tanpa sepenuhnya melenyapkan unsur pribumi itu. Misalnya: perex diplesetkan menjadi perek (perempuan eksperimen), wheduz menjadi wedus (kambing), warung takasimura meniadi tak kasih murah, dan sebagainya.
Jenis plesetan kedua adalah plesetan alternatif, yaitu plesetan yang menyajikan sebuah penalaran atau acuan alternatif terhadap yang sudah atau sedang lazim dalam masyarakat. Pada plesetan jenis kedua ini terladi penjegalan terhadap sesuatu yang sudah lazim. Misalnya, semboyan yang berbunyi: Bersatu kita teguh, bercerai kita runtuh, diplesetkan menjadi bersatu kita teguh, bercerai kawin lagi. Pepatah: Tong kosong berbunyi nyaring, dipelsetkan menjadi tong kosong berbunyi glondang. Sambil menyelam minum air diplesetkan menjadi sambil menyelam minum kopi, dan sebagainya.
Plesetan jenis ketiga adalah plesetan oposisi karena ia memberikan nalar dan acuan yang secara konfrontatif bertabrakan atau menjungkirbalikkan sesuatu yang sudah lazim dalam masyarakat. Plesetan jenis ini bukan sekedar menggantikan satu tanda/makna dengan tanda/makna lain, namun cenderung mengadakan perlawanan secara fiontal dengan cara menjungkirbalikkan tanda/makna yang telah lazim. Kebanyakan yang meniadi sasaran plesetan jenis ini adalah singkatan, misalnya: CBSA : Cara Belajar Siswa Aktif - karena pada implementasinya sistem ini kurang didukung dengan kebijakan dan fasilitas pendukung yang memadai sehingga kurang berhasil - maka diplesetkan menjadi Cah Bodho Saya Akeh ( Jawa) yang artinya anak bodoh
semakin banyak; KUHP: Kitab Undang-undang Hukum Pidana diplesetkan menjadi Kasih Uang Habis Perkara, sebagai kritik terhadap berbagai penyelewengan dalam dunia pendidikan dan hukum; RSS: Rumah Sangat Sederhana. Diplesetkan menjadi Rumah Sangat Sengsara atau Rumah Sulit Slonjor, karena sempitnya sehingga untuk slonjor (meluruskan kaki) saja sulit.
Di samping singkatan-singkatan, sasaran plesetan oposisi juga mengarah pada pepatah, misalnya: Bersakit-sakit dahulu, bersenang-senang kemudian, diplesetkan menjadi bersakit-sakit dahulu, bersakit-sakit seterusnya; sedikit demi sedikit, lama-lama menjadi bukit diplesetkan menjadi sedikit demi sedikit, lama-lama menjadi habis dan sebagainya.
Oleh karena ada prinsip mendasar pada hakikat bahasa, yakni hubungan antara tanda, makna, acuan itu bersifat arbriter, maka dilihat dari segi maknanya, jenis plesetan pertama sebagaimana telah diuraikan di atas, tidak berniat menyampaikan pesan atau komentar apa pun tentang realitas dunia di luar bahasa, maknanya lepas dari acuan. Sementara itu, plesetan jenis kedua cenderung menggugat peninggalan makna yang lazim tanpa berusaha meniadakan yang terlanjur lazim. Adapun plesetan jenis ketiga, menunjukkan sikap sebagian orang yang tidak hanya terbuai pada kenikmatan bermain-main dengan penanda, atau memberikan kemajemukan nilai alternatif pada acuan realitas, tetapi berupaya mengukuhkan suatu nilai tanding terhadap segala sesuatu yang sudah menjadi kelaziman dalam masyarakat.
Plesetan merupakan gejala yang relatif baru dalam penggunaan bahasa Indonesia. Plesetan berhubungan dengan perkembangan pemakai bahasa untuk menyampaikan pikiran, perasaan, dan kemauannya.
Senada dengan uraian di atas, gaya bahasa berdasarkan pilihan kata atau unsur leksikal adalah berkaitan dengan persoalan kata mana yang paling tepat dan sesuai untuk posisi-posisi tertentu dalam kalimat, serta tepat tidaknya penggunaan kata-kata dilihat dari lapisan pemakaian bahasa dalam masyarakat. Dengan kata lain, gaya bahasa ini mempersoalkan ketepatan dan kesesuaian pilihan kata dalam menghadapi situasi-situasi tertentu.
Pembahasan tentang gaya bahasa berdasarkan pilihan kata ini antara lain berkaitan dengan persoalan bahasa resmi, bahasa tak resmi, dan bahasa percakapan sehingga terdapat gaya bahasa resmi, gaya bahasa tak resmi, dan gaya bahasa percakapan.
Gaya bahasa resmi adalah gaya bahasa dalam bentuknya yang lengkap, yang dipergunakan dalam kesempatan-kesempatan resmi, gaya bahasa yang dipergunakan oleh orang-orang yang diharapkan mempergunakannya dengan baik dan terpelihara. Sebagai contoh, amanat kepresidenan, berita negara, tajuk rencana, dan artikel-artikeal ilmiah, semuanya diantarkan dengan gaya bahasa resmi.
Gaya bahasa tak resmi biasanya dipergunakan dalam kesempatan kesempatan yang tidak atau kurang formal. Menurut sifatnya, gaya bahasa tak resmi ini dapat juga memperlihatkan suatu jangka variasi, mulai dari bentuk informal yang paling tinggi (yang sudah bercampur dan mendekati gaya resmi) hingga bahasa tak resmi yang sudah bertumpang tindih dengan gaya bahasa percakapan.
Selanjutnya, gaya bahasa percakapan merupakan gaya bahasa yang dipakai untuk bercakap-cakap yang pilihan kata-katanya diambil dari kata- kata populer dan kata-kata percakapan. Gaya bahasa percakapan ini biasanya tidak terlalu memperhatikan segi-segi sintaksis dan segi-segi morfologis.
Gaya bahasa berdasarkan nada didasarkan pada sugesti yang dipancarkan dari rangkaian kata-kata yang terdapat pada sebuah wacana. Sering kali sugesti ini akan lebih nyata kalau diikuti dengan sugesti dari suara pembaca, bila sajian yang dihadapi adalah bahasa lisan. Nada itu pertama-tama timbul dari sugesti yang dipancarkan oleh rangkaian kata-kata, sedangkan rangkaian kata-kata itu tunduk pada kaidah-kaidah sintaksis yang berlaku. Oleh karena itu, nada, pitihan kata, dan struktur kalimat sebenarnya berjalan sejajar dan saling mempengaruhi.
Dengan berlandaskan pada struktur sebuah kalimat, gaya bahasa juga dapat diciptakan. Berdasarkan struktur kalimatnya, gaya bahasa dapat
dibedakan menjadi lima macam, yaitu gaya bahasa klimaks, antiklimaks, paralelisme, antitesis, dan repetisi.
Gaya bahasa klimaks diturunkan dari kalimat yang bersifat periodik. Klimaks adalah semacam gaya bahasa yang mengandung urutan-urutan pikiran yang setiap kali semakin meningkat kepentingannya dari gagasan- gagasan sebelumnya. Dengan kata lain, gaya bahasa klimaks adalah suatu cara mengemukakan sesuatu, ide atau keadaan dengan mengurutkan dari tingkat yang lebih rendah menuju ke tingkat yang lebih tinggi. Misalnya, "Jangankan seorang, dua orang, kalau perlu seluruh kclas dapat datang ke rumahku" (Suharianto 1982:79).
Gaya bahasa antiklimaks dihasilkan oleh kalimat yang berstruktur mengendur. Antiklimaks sebagai gaya bahasa merupakan suatu acuan yang gagasan-gagasannya diurutkan dari yang terpenting berturut-turut ke gagasan yang kurang penting. Gaya bahasa antiklimaks sering kurang efektif karena gagasan yang penting ditempatkan pada awal kalimat, sehingga pembaca atau pendengar tidak lagi memberi perhatian pada bagian-bagian kalimat selanjutnya. Senada dengan hal itu, Suharianto (1982:77) mengemukakan bahwa gaya bahasa antiklimaks merupakan suatu pernyataan yang disusun secara berurutan dari yang paling tinggi, makin menurun dan makin menurun dan makin menurun sampai kepada yang paling rendah. Misalnya, "Jangankan seribu, seratus pun aku tak mau membayarnya" (Suharianto 1982'.77).
Paralelisme adalah gaya bahasa yang berusaha mencapai kesejajaran dalam pernakaian kata-kata atau frasa-frasa yang menduduki fungsi yang sama dalam bentuk gramatikal yang sama. Kesejajaran tersebut bisa pula berupa anak kalimat yang bergantung pada sebuah induk kalimat yang sama. Misalnya, "Baik orang berpangkat maupun oran melarat, harus dihukum kalau memang bersalah" (Suharianto 1982:81). Paralelisme merupakan sebuah bentuk yang baik untuk menonjolkan kata atau frasa yang sama fungsinya. Hanya saja penggunaannya sebaiknya tidak terlalu sering agar kalimat-kalimat tidak terkesan kaku.
Sementara itu, antitesis adalah gaya bahasa yang mengandung ide-ide yang bertentangan, dengan memanfaatkan kata-kata atau kelompok kata yang berlawanan. Misalnya, "Tua muda, besar kecil, kaya miskin, mempunyai tanggung jawab yang sama di hadapan Tuhan" (Suharianto 1982:77). Gaya bahasa ini timbul dari kalimat yang berimbang serta mempergunakan pula unsur-unsur paralelisme.
Adapun gaya bahasa repetisi adalah perulangan bunyi, suku kata, kata, atau bagian kalimat yang dianggap penting untuk memberi tekanan dalam sebuah konteks yang sesuai. Repetisi, sebagaimana halnya dengan paralelisme dan antitesis, timbul dari kalimat yang berimbang, misalnya "Hidup ini memang sendiri , di perut ibu yang sendiri, dalam kuburan yang sendiri, nanti menanggung dosa dan pahala juga sendiri" (MBL:17). Keraf (1994:127-128) membagi repetisi menjadi delapan jcnis, yaitu (1) epizeuksis, (2) tautotes, (3) anafora, (4) epistrofa, (5) simploke, (6) mesodiplosis, (7) epanalepsis, dan (8) anadiplosis.
Epizeuksis adalah repetisi yang bersifat langsung, artinya kata yang dipentingkan diulang beberapa kali berturut-turut. Misalnya, Kita harus berusaha, berusaha, sekali lagi berusaha untuk menggapai cita-cita. Tautotes adalah repetisi atas sebuah kata berulang-ulang dalam sebuah konstruksi. Misalnya, Dia mencintai aku, aku mencintai dia, dia dan aku saling merindu. Anafora adalah repetisi yang berwujud perulangan kata pertama pada tiap baris atau kalimat berikutnya. Misalnya, Kejujuran adalah tidak hanya sekedar kata. Kejujuran adalah kata yang sant dengan makna. Kejujuran harus diwujudkan dalam realita, meskipun pahit akibatnya. Epistrofa adalah repetisi yang berwujud perulangan kata atau frasa pada akhir baris atau kalimat berurutan. Misalnya, Harta yang kaumiliki, jabatan yang kaududuki adalah ujian. Kesenangan yang kaurasakan, kesedihan yang kau keluhkan adalah ujian. Simploke adalah repetisi pada awal dan akhir beberapa baris atau kalimat berturut-turut. Misalnya, Dia bilang aku adalah orang yang tak tahu diri. Aku bilang biarin. Dia bilang aku adalah orang yang sok suci. Aku bilang biarin. Dia bilang aku adalah orang fundamentalis. Aku bilang biarin.
Mesodiplosis adalah repetisi di tengah baris-baris atau beberapa kalimat berurutan. Misalnya. Pegawai kecil jangan mencuri kertas karbon. Para pembesar jangan mencui bensin. Para gadis jangan mencuri perawannya sendir. Epanalepsis adalah pengulangan yang berwujud kata terakhir dari baris, klausa atau kalimat, mengulang kata pertama. Misalnya, Kita curahkan perasaan, pikiran, dan tenaga kita. Kami rela berkorban jiwa dan raga karena agama kami. Bangkitlah, wahai pemudaku, bangkitlah. Anadiplsis adalah pengulangan kata atau frasa terakhir dari suatu klausa atau kalimat menjadi kata atau frasa pertama dari klausa atau kalimat berikutnya. Misalnya, dalam syair ada kata, dalam kata ada makna, dalam makna: Mudah-mudahan ada Kau!
Selanjutnya, pengertian gaya bahasa berdasarkan langsung tidaknya makna adalah apakah acuan yang digunakan masih mempertahankan makna denotatifnya atau telah menyimpang. Jika acuan yang digunakan itu masih mempertahankan makna dasar, bahasa itu masih bersifat lugas. Akan tetapi jika telah ada perubahan makna, baik berupa makna kiasan maupun yang telah menyimpang jauh dari makna denotatifhya, acuan itu dianggap telah merniliki gaya bahasa yang sering disebut sebagai trope atau figure of speech, yaitu suatu penyimpangan bahasa secara evaluatif atau secara emotif dari bahasa yang lazim, baik dalam ejaan, pembentukan kata, konstruksi (frasa, klausa, kalimat), maupun dalam penerapan sebuah istilah dcngan tujuan untuk memperoleh kejelasan, penekanan, atau efek yang lain. Termasuk dalam bahasan trope atau figure of speech adalah gaya bahasa majas (Keraf, 1994:129).
Majas, menurut Nurgiyantoro (1998:296-297) merupakan teknik pengungkapan bahasa yang maknanya tidak menunjukan pada makna harfiah kata-kata yang mendukungnya, tetapi pada makna yang ditambahkan atau makna yang tersirat. Dengan kata lain, pemajasan merupakan gaya yang mendayagunakan penuturan dengan memanfaatkan bahasa kias.
Keraf (1994:138) mengemukakan bahwa gaya bahasa kiasan (majas) dibentuk berdasarkan perbandingan atau persamaan. Membandingkan sesuatu
dengan sesuatu yang lain, berarti mencoba menemukan ciri-ciri yang menunjukan kesamaan antara dua hal tersebut.
Bentuk pengungkapan yang menggunakan majas jumlahnya relatif banyak, namun hanya beberapa saja yang kemunculannya dalam sebuah karya sastra relatif tinggi (Nurgiyantoro, 1998:298). Jenis majas yang kemunculannya relatif tinggi dalam karya sastra antara lain metafora, simile, dan personifikasi.
Metafora merupakan gaya perbandingan yang bersifat tidak langsung dan implisit. Hubungan antara sesuatu yang dinyatakan pertama dengan yang kedua hanya bersifat sugestif, tidak ada kata-kata penunjuk perbandingan yang eksplisit (Nurgiyangtoro 1998 . 299). Simile merupakan majas yang menyaran pada adanya perbandingan yang langsung dan eksplisit, dengan mempergunakan kata-kata tugas tertentu sebagai penanda keeksplisitannya, misalnya mirip, bagai, bagaikan, sebagai, laksana, dan seperti. Dalam penuturan majas ini, sesuatu yang disebut pertama dinyatakan mempunyai persamaan sifat dengan sesuatu yang disebut belakangan (Nurgiyantoro, 1998:298). Adapun personifikasi adalah majas yang memberi sifat-sifat benda mati dengan sifat-sifat yang dimiliki oleh manusia sehingga dapat bersikap dan bertingkah laku sebagaimana halnya manusia. Berbeda halnya dengan simile dan metafora yang dapat membandingkan dua hal yang menyangkut apa saja sepanjang dimungkinkan, pembanding dalam personifikasi haruslah manusia atau sifat-sifat mausia (Nurgiyantoro I 998 :299).
Menurut Jabrohim (2001:60-62), penggunaan bentuk bahasa yang menyimpang sebagaimana penggunaan majas dalam karya sastra merupakan hal yang biasa. Dia mengkategorikan bahasa yang menyimpang itu menjadi delapan kelompok, sebagai berikut.
Pertama, penyimpangan leksikal, yaitu jika bentuk bahasa tersebut mengalami penyimpangan makna secara leksikal yang ditandai oleh adanya proses morfologi yang belum umum atau masih problematik, kata bentukan baru, dan kata yang tanpa makna, seperti keder ngloyor, dan leluka.
Kedua, penyimpangan semantis, yaitu bentuk atau struktur yang tidak menunjuk pada makna denotatif, melainkan makna kiasan. Penyimpangan semantis terjadi dalam hubungan struktur kalimat, yaitu jika terdapat penggabungan kata yang secara akal tidak dapat diterima. Akan tetapi hal tersebut dapat ditemukan maknanya berdasar kriteria lain, yaitu makna yang bersifat tambahan. Contoh kata mata bagi orang Arab tentu berlainan maknanya dengan orang Indonesia. Mata dalam bahasa Arab berarti kapan, sedangkan dalam bahasa Indonesia dapat berarti indera pengihatan.
Ketiga, penyimpangan fonologis, yaitu suatu bentuk tidak rnemiliki makna konvensional sebagaimana kata pada umumnya. Bentuk tersebut oleh sastrawan dipandang sebagai kata, namun bentuk itu tidak dijumpai dalam kamus, misalnya ditinda, melayah, menggigir.
Keempat, penyimpangan morfologis, yaitu bentuk yang tidak umum pemakaiannya. Ketidakumuman itu karena pembentukannya menyalahi aturan atau masih problematis. Termasuk dalarn penyimpangan ini adalah kata-kata yang berupa bentukan baru dan penghilangan afiks. Misalnya, mangkal, nangis, nungsep, ngungun.
Kelima, penyimpangan sintaksis, yaitu struktur yang tidak umum pemakaiannya dalam berbahasa secara normatif formal. Ketidakumuman itu sering menimbulkan ketaksaan struktur dan makna. Contohnya, pengarang tidak menggunakan huruf kapital pada awal kalimat dan tanda titik pada akhir kalimat.
Keenam, penyimpangan register. Penyimpangan ini erat kaitannya dengan penyimpangan dialek, namun yang dipersoalkan adalah situasi pemakaiannya, atau bagaimana dan kapan suatu bentuk bahasa dipergunakan dalam tindak berbahasa.
Ketujuh, penyimpangan historis, yaitu berkaitan dengan pemakaian kata-kata archais seperti jenawi, dewangga, bahana dalam karya sastra modern.
Kedelapan, penyimpangan grafologis, yaitu mempermasalahkan penulisan bentuk dan struktur linguistik, baik menyangkut penulisan huruf,
kata, kelompok kata, maupun kalimat. Suatu bentuk dipandang sebagai penyimpangan grafologis jika bentuk atau strukur itu penulisannya tidak sesuai dengan ketentuan atau kaidah yang berlaku.
Selanjutnya dilihat dari segi nonbahasa, menurut Keraf (1994:ll5-ll6), gaya bahasa dikelompokkan sebagai berikut. Pertama, berdasarkan pengarang, yaitu gaya bahasa yang disebut sesuai dengan nama pengarang. Artinya, gaya bahasa tersebut dikenal berdasarkan ciri pengenal yang digunakan oleh pengarang tertentu, sehingga ada gaya bahasa W.S. Rendra, Chairil Anwar, Tauflk Ismail, Emha, dan sebagainya.
Kedua, berdasarkan masa, yaitu gaya bahasa yang dikenal karena ciri-ciri tertentu yang berlangsung dalam suatu kurun waktu tertentu, sehingga ada gaya bahasa klasik dan gaya bahasa modern.
Ketiga, berdasarkan medium, yaitu bahasa sebagai alat komunikasi. Oleh karena struktur dan latar sosial pemakainya berbeda, setiap bahasa juga memiliki corak yang berbeda-beda, sehingga ada gaya bahasa Indonesia, Inggris, Arab, Jerman, dan sebagairrya
Keempat, berdasarkan subjek, yaitu gaya bahasa yang dipengaruhi oleh subjek yang menjadi pokok karangan, sehingga ada gaya bahasa filsafat, hukum, teknik, sastra, pendidikan, dan sebagainya.
Kelima, berdasarkan tempat, yaitu gaya bahasa yang mendapat nama dari lokasi geografis, karena ciri-ciri kedaerahan mempengaruhi ungkapan atau ekspresi bahasanya. Oleh karena itu, ada gaya bahasa Jakarta, Yogyakarta, Medan, Ambon, dan sebagainya.
Keenam, berdasarkan pembaca. Seperti halnya subjek, keadaan pembaca juga mempengaruhi gaya bahasa yang dipergunakan seorang pengarang, sehingga ada gaya bahasa populer yang cocok untuk rakyat banyak, ada gaya bahasa intim (familiar) yang cocok untuk lingkungan keluarga, dan sebagainya.
Ketujuh, berdasarkan tujuan, yaitu gaya bahasa yang memperoleh namanya dari maksud yang ingin disampaikan oleh pengarang yang ingin
mencurahkan gejolak emotifnya. Oleh karena itu, ada gaya bahasa sentimental, sarkastik, diplomatik, humor, dan sebagainya.
G. Pemanfaatan Gaya Bahasa
Gaya bahasa, menurut Aminuddin (1995:v), merupakan suatu cara yang dipergunakan pengarang dalan mengungkapkan buah pikiran sesuai dengan tujuan dan efek yang ingin dicapainya. Dalam kreasi penulisan sastra, efek tersebut berkaitan dengan usaha pemerkayaan makna, penggambaran objek dan peristiwa secara imajinatif, maupaun pemberian efek emotif tertentu bagi pembacanya. Wahana yang dipergunakan untuk mengungkapkan buah pikiran dengan berbagai efek yang diinginkan tersebut bukan hanya mengacu pada lambang kebahasaan melainkan juga pada berbagai macam bentuk sistem tanda yang secara potensial dapat dipergunakan untuk menggambarkan gagasan dengan berbagai kemungkinan efek estetis yang ditimbulkannya.
Meskipun ditinjau dari wujud konkretnya wahana yang digunakan tersebut tidak selalu berupa lambang kebahasaan, pada saat mengkreasikannya penutur selalu mengolahnya melalui kode kebahasaan. Dalam memaknainya, pembaca pun selalu mentransformasikan kembali sistem tanda tersebut ke dalam lambang kebahasaan. Hal yang demikian ini terjadi karena pewujudan sistem tanda dalam berbagai variasinya tersebut merupakan pengejawantahan dari kode kebahasaan (Aminuddin 1995:v).
Style yang merupakan pusat perhatian stilistika, menurut Sudjiman (1993:13) pada hakikatnya merupakan suatu cara yang digunakan seorang pembicara atau penulis untuk menyatakan maksudnya dengan menggunakan bahasa sebagai sarana. Dengan demikian, style dapat diterjemahkan sebagai gaya bahasa. Gaya bahasa terdapat dalam berbagai ragam bahasa, baik ragam lisan, ragam tulis, ragam sastra, maupun ragam nonsastra, karena gaya bahasa adalah cara menggunakan bahasa dalam konteks tertentu oleh orang tertentu dan untuk maksud tertentu. Namun demikian, secara