• Tidak ada hasil yang ditemukan

Kalimat Efektif

Dalam dokumen BAHRONI BUKU KUASAILAH DUNIA DENGAN BAHASA (Halaman 83-88)

MORFOLOGI DAN SINTAKSIS

4. Kalimat Efektif

Kalimat efektif adalah kalimat yang dapat mengungkapkan gagasan penutur/penulisnya secara tepat sehingga dapat dipahami oleh pendengar/pembaca secara tepat pula. Efektif dalam hal ini adalah ukuran kalimat yang memiliki kemampuan menimbulkan gagasan atau pikiran pada pendengar/penulis. Dengan kata lain, kalimat efektif adalah kalimat yang dapat mewakili pikiran penulis atau pembicara secara tepat sehingga pendengar/pembaca dapat memahami pikiran tersebut dengan mudah, jelas, dan lengkap seperti apa yang dimaksud oleh penulis atau pembicaranya.

Untuk dapat mencapai keefektifan tersebut di atas, sebuah kalimat efektif harus memenuhi paling tidak enam sarat berikut, yaitu adanya (1) kesatuan gagasan, (2) kepaduan unsur, (3) keparalelan bentuk, (4) ketepatan makna, (5) kehematan kata, dan (6) kelogisan bahasa.

a. Kesatuan Gagasan

Yang dimaksud dengan kesatuan gagasan adalah terdapatnya satu ide pokok dalam sebuah kalimat. Dengan satu ide pokok itu kalimat boleh panjang atau pendek, menggabungkan lebih dari satu kesatuan, bahkan dapat mempertentangkan satu sama lainnya, asalkan ide atau gagasan kalimatnya tunggal. Penutur tidak boleh menggabungkan dua kesatuan yang tidak mempunyai hubungan sama sekali ke dalam sebuah kalimat.

Contoh kalimat yang tidak jelas kesatuan gagasannya:

(86) Pembangunan gedung sekolah baru pihak yayasan dibantu oleh bank yang memberi kredit. (tedapat subjek ganda dalam kalimat tunggal).

(87) Dalam pembangunan sangat berkaitan dengan stabilitas politik. (salah memakai kata depan dalam sehingga gagasan kalimat menjadi kacau).

(88) Berdasarkan agenda sekretaris manajer personalia akan memberi pengarahan kepada pegawai baru. (tidak jelas siapa yang memberi pengarahan).

Contoh kalimat yang jelas kesatuan gagasannya:

(86a) Pihak yayasan dibantu oleh bank yang memberi kredit untuk membangun gedung sekolah baru.

(87a) Pembangunan sangat berkaitan dengan stabilitas politik.

(88a) Berdasarkan agenda, sekretaris manajer personalia akan memberi pengarahan kepada pegawai baru.

(88b) Berdasarkan agenda sekretaris, manajer personalia akan memberi pengarahan kepada pegawai baru.

b. Kepaduan Unsur (Koherensi)

Yang dimaksud dengan koherensi adalah hubungan yang padu antara unsur-unsur pembentuk kalimat. Unsur kalimat adalah kata, frasa, intonasi/tanda baca, serta struktur (hubungan S-P-O dan unsur lainnya).

Contoh kalimat yang unsurnya tidak koheren:

(89) Kepada setiap pengendara mobil di Kota Jakarta harus memiliki surat izin mengemudi. (tidak mempunyai subjek/subjeknya tidak jelas)

(90) Saya punya rumah baru saja diperbaiki. (struktur tidak benar/rancu) (91) Tentang kelangkaan pupuk mendapat keterangan para petani. (unsur S-P-

O tidak berkaitan erat)

(92) Yang saya sudah sarankan kepada mereka adalah merevisi anggaran daripada proyek itu. (salah dalam pemakaiaan kata dan frasa)

Contoh kalimat yang unsurnya koheren:

(89a) Setiap pengendara mobil di kota Jakarta harus memiliki surat izin mengemudi.

(90a) Rumah saya baru saja diperbaiki.

(91a) Para petani mendapat keterangan tentang kelangkaan pupuk.

(92a) Yang sudah saya sarankan kepada mereka adalah merevisi anggaran proyek itu.

Yang dimaksud dengan keparalelan atau kesejajaran bentuk adalah terdapat unsur- unsur yang sama derajatnya, sama pola atau susunan kata dan frasa yang dipakai di dalam kalimat. Umpamanya dalam sebuah perincian, unsur pertama menggunakan verba, unsur kedua dan seterusnya juga verba. Jika bentuk pertama menggunakan nomina, bentuk berikutnya juga harus nomina.

Contoh kesejajaran atau paralelisme yang salah:

(93) Kegiatan di perpustakaan meliputi pembelian buku, membuat katalog, dan buku-buku diberi label.

(94) Kakakmu menjadi dosen atau sebagai pengusaha?

(95) Demikianlah agar ibu maklum, dan atas perhatiannya saya ucapkan terima kasih.

(96) Dalam surat itu diputuskan tiga hal pokok, yaitu peningkatan mutu produk, memperbanyak waktu penyiaran iklan, dan pemasaran yang lebih gencar. Contoh kesejajaran atau paralelisme yang benar:

(93a) Kegiatan di perpustakaan meliputi pembelian buku, pembuatan katalog, dan pelabelan buku.

(94a) Kakakmu sebagai dosen atau sebagai pengusaha?

(95a) Demikianlah agar Ibu maklum, dan atas perhatian Ibu, saya ucapkan terima kasih.

(96a) Dalam surat itu diputuskan tiga hal pokok, yaitu meningkatkan mutu produk, meninggikan frekuensi iklan, dan lebih menggencarkan pemasaran.

d. Ketegasan Makna

Yang dimaksud dengan ketegasan atau penekanan ialah suatu perlakuan khusus menonjolkan bagian kalimat sehingga berpengaruh terhadap makna kalimat secara keseluruhan. Ada beberapa cara yang dapat dipakai untuk memberi perlakuan khusus pada kalimat, yaitu

1) meletakkan kata yang ditonjolkan itu di awal kalimat; 2) melakukan pengulangan kata (repetisi);

3) melakukan pertentangan kata terhadap ide yang ditonjolkan; 4) mempergunakan partikel penekan (penegas);

Contoh penekanan dengan menempatkan kata yang ditonjolkan pada awal kalimat:

(97) Pada bulan Desember kita ujian akhir semester. (bukan akhir November)

(98) Kita akan ujian akhir semester pada bulan Desember. (bukan mereka)

(99) Ujian akhir semester kita tempuh pada bulan Desember. (bukan ujian tengah semester)

Contoh penekanan dengan pengulangan kata:

(100) Saya senang melihat panorama alam yang indah; saya senang melihat lukisan yang indah; dan saya juga senang melihat hasil seni ukir yang indah.

(101) Saudara-saudara, kita tidak suka dibohongi; kita tidak suka ditipu; kita tidak suka dibodohi.

Contoh penekanan dengan mempertentangkan ide:

(102) Penduduk desa itu tidak menghendaki bantuan yang bersifat sementara, tetapi bantuan yang bersifat permanen.

Contoh penekanan dengan menggunakan partikel penegas: (103) Hendak pulang pun hari sudah gelap dan hujan pula.

(104) Andalah yang bertanggung jawab menyelesaikan masalah itu.

e. Kehematan Kata

Yang dimaksud dengan kehematan ialah menghindari pemakaian kata, frasa, atau unsur lain yang tidak perlu. Hemat tidak berarti harus menghilangkan kata-kata yang dapat memperjelas arti kalimat. Hemat di sini berarti tidak memakai kata-kata mubazir, tidak ada pengulangan subjek, tidak menjamakkan kata yang memang sudah berbentuk jamak. Dengan hemat kata-kata, diharapkan kalimat akan menjadi padat berisi.

Contoh kalimat yang tidak hemat kata:

(105) Saya melihatnya dengan mata kepala saya sendiri bahwa mahasiswa itu belajar seharian dari pagi sampai petang.

(106) Dalam pertemuan yang mana hadir di sana Wakil Gubernur DKI dilakukan suatu perundingan yang membicarakan perparkiran.

(107) Manajer itu dengan segera mengubah rencananya setelah dia bertemu dengan direkturnya.

(108) Agar supaya Anda dapat memperoleh nilai ujian yang memuaskan, Anda harus belajar dengan sebaik-baiknya.

Contoh kalimat yang hemat kata:

(105) Saya melihat sendiri mahasiswa itu belajar seharian.

(106) Dalam pertemuan yang dihadiri Wakil Gubernur DKI dilakukan perundingan tentang perparkiran.

(107) Manajer itu dengan segera mengubah rencana setelah bertemu direkturnya.

(108) Agar Anda memperoleh nilai ujian yang memuaskan, belajarlah baik- baik.

f. Kelogisan Bahasa

Yang dimaksud dengan kelogisan ialah ide kalimat itu dapat diterima oleh akal sehat. Logis dalam hal ini juga menuntut adanya pola pikiran sistematis (runtut/teratur dalam penghitungan angka dan penomoran). Sebuah kalimat yang sudah benar strukturnya, sudah benar pula pemakaian unsur-unsur yang lain (tanda baca, kata, frasa), dapat menjadi salah karena maknanya tidak masuk akal atau lemah dari segi logika.

Contoh kalimat yang lemah dari segi logika berbahasa:

(109) Karena lama tinggal di asrama putra, anaknya semua laki-laki.

(apa hubungan tinggal di asrama putra dengan mempunyai anak lelaki?)

(110) Uang yang bertumpuk itu terdiri atas pecahan ratusan, puluhan, sepuluh ribuan, lima puluh ribuan, dua puluh ribuan.

(tidak runtut dalam merinci sehingga lemah dari segi logika) (111) Kepada Ibu Bupati, waktu dan tempat kami persilakan.

(waktu dan tempat tidak perlu dipersilakan)

(112) Dengan mengucapkan syukur kepada Allah, selesailah makalah ini tepat pada waktunya.

(berarti “modal” untuk menyelesaikan makalah cukuplah ucapan syukur kepada Tuhan)

BAB IV STILISTIK

Dalam dokumen BAHRONI BUKU KUASAILAH DUNIA DENGAN BAHASA (Halaman 83-88)