MORFOLOGI DAN SINTAKSIS
B. Ruang Lingkup Pragmatik
Menurut Purwo (1990:10), sebelum pragmatik mulai berkembang dalam dasawarsa 1970-an, kegiatan analisis dalam linguistik didominasi oleh kajian tentang kalimat dalam lingkup sintaksis. Pakar sintaksis yang cukup berpengaruh pada masa itu adalah Noam Chomsky. Sementara itu, sebagian linguis lain mulai menarik semantik ke dalam teori linguistik. Upaya itu dilandasi pemikiran bahwa sintaksis tidak dapat dipisahkan dari pemakaian bahasa. Artinya, analisis kalimat tidak dapat dilakukan tanpa memperhitungkan bagaimana kalimat itu digunakan dalam konteksnya. Di samping itu, dengan lahirnya pemikiran Austin dan Searle tentang teori tindak tutur (speech act), analisis bahasa berubah dari analisis bentuk-bentuk bahasa ke analisis fungsi-fungsi bahasa dan pemakaiannya dalam komunikasi.
Selanjutnya Purwo (1990:214) menyatakan bahwa istilah pragmatik itu sendiri lahir dari filsuf Charles Morris yang mengolah kembali pemikiran para filsuf pendahulunya mengenai ilmu tanda dan lambang yang disebut semiotik. Oleh Morris, semiotik dibagi menjadi tiga cabang, yaitu semantik, sintaksis, dan pragmatik. Senada dengan pendapat tersebut, Rustono (1999:1), menyatakan bahwa pragmatik merupakan cabang semiotik yang mempelajari relasi tanda dan penafsirannya. Dengan kata lain, pragmatik merupakan bagian ilmu tanda atau semiotik. Kekhasan bidang ini adalah penafsiran atas tanda atau bahasa. Kekhasan bidang ini tidak sama
dengan kekhasan bidang sintaksis dan semantik sebagai bagian semiotik lain. Pada bidang sintaksis kajian dikhususkan pada relasi formal tanda, sedangkan kajian pada bidang semantik pada relasi antara tanda dan objek yang diacunya.
Menurut Leech (1983:5-7), perbedaan antara pragmatik dan semantik berkenaan dengan tiga hal pokok, yaitu:
1. Pragmatik mempelajari maksud tuturan, yaitu untuk apa tuturan itu diekspresi, sedangkan semantik membahas makna (makna kata dan makna kalimat).
2. Pragmatik berupaya mencari jawaban atas pertanyaan apakah yang dimaksudkan dengan X, sedangkan semantik berusaha menemukan jawaban atas pertanyaan apakah makna X.
3. Pragmatik memperhatikan “makna” dalam kaitannya dengan siapa berbicara kepada siapa, bagaimana, kapan, di mana, dalam situasi apa; sedangkan semantik memberikan perhatian pada makna dengan tidak mengacu kepada siapa yang mengekspresi kalimat itu dan kepada fungsi komunikatif kalimat itu. Gunarwan (1994:40) menyatakan bahwa perbedaan ketiga itu berimplikasi bahwa makna dalam semantik ditentukan oleh koteks (co-text), sedangkan “makna” dalam pragmatik ditentukan oleh konteks.
Selanjutnya, terkait dengan perbedaan dan hubungan antara pragmatik dan semantik, ada tiga pendapat, yaitu (1) pragmatik dan semantik itu berbeda tetapi saling melengkapi atau bersifat komplementerisme, (2) semantisme, dan (3) pragmatisme. Di dalam semantisme dominasi ada pada semantik, sedangkan dalam pragmatisme dominasi itu ada pada pragmatik. Ketiga pendapat itu dapat digambarkan dengan diagram berikut.
Berbeda dari pragmatik dan semantik, sintaksis mempelajari relasi formal antartanda dalam suatu bangun kalimat. Satuan sintaksis itu meliputi frasa, klausa,
semantisisme
semantisisme komplementerisme pragmatisme semantik
pragmatik
semantik
pragmatik (pragmatik)
dan kalimat. Perbedaan pragmatik, semantik, dan sintaksis dapat pula dilakukan atas dasar satuan analisisnya. Satuan analisis pragmatik adalah tuturan sebagai hasil tindak tutur. Makna merupakan satuan analisis semantik. Adapun, satuan analisis sintaksis adalah kalimat.
Levinson (1983:9) mengemukakan bahwa pragmatik adalah kajian tentang deiksis, praanggapan, implikatur, tindak tutur, dan aspek-aspek tutur wacana. Berikut adalah paparan dari aspek-aspek dalam kajian pragmatik tersebut.
C. Deiksis
Deiksis adalah gejala semantis yang terdapat pada kata atau konstruksi yang hanya dapat ditafsirkan acuannya dengan memperhitungkan situasi pembicaraan (Alwi, 1998:42). Menurut Nababan (1987:40), deiksis ada lima macam yaitu deiksis orang, tempat, waktu, wacana, dan sosial.
Deiksis orang ditentukan menurut peran peserta dalam peristiwa bahasa. Peran peserta itu dapat dibagi menjadi tiga, yaitu:
1. Orang pertama, yaitu kategori rujukan pembicara kepada dirinya atau kelompok yang melibatkan dirinya, misalnya saya, kami, dan kita.
2. Orang kedua, yaitu kategori rujukan pembicara kepada seorang pendengar atau lebih yang bersama orang pertama, misalnya kamu, kalian, dan saudara.
3. Orang ketiga, yaitu kategori rujukan kepada oarng yang bukan pembicara atau pendengar ujaran itu, baik hadir maupun tidak, misalnya dia dan mereka.
Deiksis tempat ialah pemberian bentuk pada lokasi menurut peserta dalam peristiwa tutur, misalnya:
(1) Sebaiknya kamu menunggu sambil duduk-duduk di sini. (2) Di sini menerima santri untuk menghafal Al-Quran. (3) Di sini sudah membudaya wanita berjilbab.
Frasa di sini pada kalimat (1) mengacu pada tempat duduk bisa berupa kursi, sofa, balai-balai, atau lainnya. Pada kalimat (2) acuannya lebih luas, yakni suatu lembaga pendidikan atau pesantren. Pada kalimat (3) acuannya lebih luas lagi, yakni wilayah desa, atau kecamatan, atau wilayah yang lebih luas lagi.
Deiksis waktu ialah pemberian bentuk pada rentang waktu seperti yang dimaksudkan penutur dalam peristiwa tutur, misalnya:
(1) Kita harus salat berjamaah sekarang. (2) Sekarang sedang musim kemarau.
(3) Sekarang tindak pidana korupsi terjadi hampir di semua lembaga negara, baik eksekutif, legislatif, maupun yudikatif.
Pada kalimat (1) sekarang merujuk ke jam atau bahkan menit. Pada kalimat (2) cakupan waktunya lebih luas, mungkin sejak minggu atau bulan lalu, bulan ini, dan beberapa bulan mendatang. Pada kalimat (3) cakupannya lebih luas lagi, mungkin berbulan-bulan dan bahkan bisa bertahun-tahun.
Deiksis wacana ialah rujukan pada bagian-bagian tertentu dalam wacana yang telah diberikan atau sedang dikembangkan. Deiksis wacana meliputi anafora dan katafora. Anafora ialah penunjukan kembali kepada sesuatu yang telah disebutkan sebelumnya dalam wacana dengan pengulangan atau substitusi. Katafora ialah penunjukan kepada sesuatu yang disebut kemudian (Cahyono, 1995:218).
Sementara itu, Alwi (1998:43) menyatakan bahwa anafora adalah peranti dalam bahasa untuk membuat rujuk silang dengan hal atau kata yang telah dinyatakan sebelumnya. Peranti itu dapat berupa kata ganti persona seperti dia, mereka, nomina tertentu, konjungsi, keterangan waktu, alat, dan cara. Contohnya sebagai berikut.
(1) Pak Ahmad belum menunaikan ibadah haji, padahal dia orang yang kaya raya.
(2) Pada tahun 1998 dimulai Era Reformasi di Indonesia. Waktu itu terjadi unjuk rasa besar-besaran yang dilakukan para mahasiswa. Mereka menuntut agar Presiden Soeharto turun dari jabatannya.
Pada contoh (1) kata dia beranafora dengan Pak Ahmad. Pada contoh (2) frasa waktu itu dan tahun 1998 pada kalimat sebelumnya mempunyai hubungan anaforis. Demikian pula, kata mereka dan frasa para mahasiswa.
Kebalikan dari anafora adalah katafora, yakni rujuk silang terhadap anteseden yang ada di belakangnya, misalnya:
(1) Setelah dia masuk Islam, Maria merasa hidupnya lebih tenteram.
(2) Setelah mereka dinyatakan lulus ujian nasional, para siswa melakukan sujud syukur bersama.
Salah satu interpretasi dari kalimat tersebut ialah bahwa dia merujuk pada Maria meskipun ada kemungkinan interpretasi lain. Demikian pula, mereka merujuk ke para siswa. Gejala pemakaian pronomina seperti dia yang merujuk pada anteseden Maria, atau mereka yang merujuk ke para siswa yang berada di sebelah kanannya inilah yang disebut katafora.
Deiksis sosial ialah rujukan yang dinyatakan berdasarkan perbedaan kemasyarakatan yang memengaruhi peran pembicara dan pendengar. Perbedaan itu dapat ditunjukkan dalam pemilihan kata. Dalam masyarakat Jawa, pada umumnya digunakan etiket bahasa, yaitu pemilihan tingkatan bahasa yang menurut kedudukan sosial pembicara, pendengar, atau orang yang dibicarakan. Misalnya, verba yang sepadan dengan tidur dapat dinyatakan dengan turu, tilem, sare, yang berentangan dari tingkatan kesopanan berbahasa dari paling rendah hingga paling tinggi (Cahyono, 1995:219).
D. Praanggapan
Ketika seorang penutur menggunakan deiksis seperti di sini, dalam situasi biasa, dia mengasumsikan bahwa si pendengar mengetahui lokasi yang dimaksudkan. Secara lebih umum, penutur selalu merancang pesan-pesan linguistiknya berdasarkan asumsi-asumsi tentang sesuatu yang sudah diketahui oleh pendengar. Tentu saja asumsi itu dapat salah, tetapi asumsi-asumsi itu mandasari banyak hal dari yang kita katakan dalam penggunaan bahasa sehari-hari.
Menurut Cahyono (1995:219), apa yang diasumsikan penutur seperti hal yang benar atau hal yang diketahui pendengar dapat disebut sebagai praanggapan (presupposition). Stalnaker (1978:321) menyatakan bahwa praanggapan adalah apa yang digunakan penutur sebagai dasar bersama bagi para peserta percakapan. Senada dengan Stalnaker, Palmer (1989:51) menyatakan bahwa praanggapan berupa andaian penutur bahwa mitra tutur (kawan bicara) dapat mengenal secara pasti orang atau benda yang yang diperbincangkan.
Tuturan (1) dan (2) berikut mempraanggapkan tuturan lain. (1) Aji membaca majalah Hidayatullah.
(2) Menantu kepala desa itu sangat giat berdakwah.
Tuturan yang dipraanggapkan oleh tuturan (1) dan (2) tersebut masing-masing adalah tuturan (3) dan (4) berikut ini.
(1) (Ada majalah Hidayatullah.)
(2) Kepala desa itu mempunyai menantu.)
Dengan kata lain, tuturan (3) dan (4) masing-masing merupakan praanggapan dari tuturan (1) dan (2).
E. Implikatur
Levinson (1983:97) menyatakan bahwan implikatur (implicature) yang disebut juga implikatur percakapan (konvensasional implicature) merupakan konsep yang cukup penting dalam kajian pragmatik karena empat hal berikut.
1. Konsep implikatur memungkinkan penjelasan fakta-fakta kebahasaan yang tidak terjangkau oleh teori linguistik.
2. Konsep implikatur memberikan penjelasan tentang makna berbeda dengan yang dikatakan secara lahiriah. Misalnya, pertanyaan tentang waktu dapat dijawab tidak dengan menyebutkan waktunya secara langsung tetapi dengan penyebutan peristiwa yang biasa terjadi pada waktu tertentu. Perhatikan contoh berikut
(a) Sekarang jam berapa?
(b) Saya sudah salat Maghrib.
Tampaknya kedua kalimat tersebut tidak berkaitan secara konvensional. Namun pembicara (b) sudah mnegetahui bahwa jawaban yang disampaikannya sudah cukup untuk menjawab pertanyaan pembicara (a), karena ia sudah mengetahui bahwa waktu salat Maghrib hambir habis.
3. Konsep implikatur dapat menyederhanakan struktur dan isi deskripsi semantik, contohnya:
(a) Mungkin Umar berjodoh dengan Delisa.
(b) Mungkin Umar berjodoh dengan Delisa dan mungkin pula Umar tidak berjodoh dengan Delisa.
Berdasarkan kajian implikatur, kalimat (a) telah mengandung pengertian sebagaimana yang terkandung dalam kalimat (b). Selain strurturnya, isi dalam kalimat (b) itu dapat dinyatakan secara lebih sederhana.
4. Konsep implikatur dapat menjelaskan beberapa fakta bahasa secara tepat. Misalnya, ujaran dia rajin yang berarti kebalikannya. Cara kerja metafora dan peribahasa dapat dijelaskan oleh konsep implikatur.
Grice (1975:43) mengemukakan bahwa implikatur adalah implikasi pragmatis yang terdapat dalam percakapan yang tim bul sebagai akibat terjadinya pelanggaran prinsip percakapan. Sejalan dengan batasan tentang implikasi pragmatis, implikatur itu adalah proposisi atau pernyataan implikatif, yakni apa yang mungkin diartikan, disiratkan, atau dimaksudkan oleh penutur, yang berbeda dari apa yang sebenarnya dikatakan oleh penutur dalam suatu percakapan. Relatif sama dengan pendapat Grice tersebut, Mey (1994:99) menyatakan bahwa implikatur itu merupakan sesuatu yang tersirat dalam suatu percakapan, yakni sesuatu yang dibiarakan implisit dalam penggunaan bahasa secara aktual.
Selanjutnya, terkait dengan kajian implikatur, Gunarwan (1994:52) mengemukakan tiga hal yang perlu diperhatikan, yakni (1) implikatur bukanlah merupakan bagian tuturan, (2) implikatur bukanlah akibat logis tuturan, dan (3) ada kemungkinan sebuah tuturan memiliki lebih dari satu implikatur dan itu bergantung pada konteksnya.