MORFOLOGI DAN SINTAKSIS
B. Sumber Objek Penelitian Stilistik
Sumber objek penelitian berfungsi untuk menunjukkan di mana, dalam bentuk apa, dan kapan suatu objek dapat diidentifikasi, sehingga objek dapat diangkat ke dalam bentuk data. Berbeda dengan objek penelitian ilmu kealaman yang dapat dideteksi secara nyata, secara terindra, objek ilmu humaniora, khususnya sastra lebih banyak bersifat abstrak, hanya dapat dilihat secara paradigmatis intuitif. Ketajaman intuisilah yang memegang peranan penting,
seberapa jauh suatu komunikasi antara subjek dan objek dapat dibentuk sehingga data dapat direalisasikan dan dengan demikian dapat dianalisis secara benar. Dengan mempertimbangkan definisi gaya bahasa sebagai pemakaian bahasa secara khas di satu pihak, stilistika sebagai ilmu pengetahuan mengenai gaya bahasa di pihak lain, maka sumber penelitiannya adalah semua jenis komunikasi yang menggunakan bahasa, baik lisan maupun tulisan. Jadi, meliputi baik karya sastra dan karya seni pada umumnya, maupun bahasa sehari-hari. Darbyshire (1971: 11) menunjukkan dua cara untuk mengidentifikasi gaya bahasa, yaitu: (1) secara teoretis, dilakukan dengan sengaja menemukan ciri-ciri pemakaian bahasa yang khas yang pada umumnya dilakukan dalam kaitannya dengan penelitian ilmiah, misalnya, pada saat menganalisis sebuah karya sastra, (2) secara praktis, melalui pengamatan langsung terhadap pemakaian bahasa sehari-hari, misalnya, melalui pemakaian berbagai perumpamaan. Keduanya tidak bisa dipisahkan sebab baik cara pertama maupun kedua dapat digunakan sebagai penelitian ilmiah atau sebaliknya semata-mata sebagai pengamatan sepintas. Meskipun demikian, dikaitkan dengan relevansinya, sebagai kekhasan itu sendiri, bahasa yang diciptakan dengan sengaja, bahkan sebagai bahasa yang artifisial, maka stilistika pada umumnya dibatasi pada karya sastra. Lebih khusus lagi adalah karya sastra jenis puisi.
Dominasi penggunaan bahasa khas dalam karya sastra diakibatkan oleh beberapa hal: (1) karya sastra mementingkan unsur keindahan; (2) dalam menyampaikan pesan karya sastra menggunakan cara-cara tak langsung, seperti: refleksi, proyeksi, manifestasi, dan representasi; dan (3) karya sastra adalah curahan emosi, bukan intelektual.
Aspek keindahan, pesan tak langsung, dan hakikat emosional mengarahkan bahasa sastra pada bentuk penyajian terselubung, terbungkus, bahkan dengan sengaja disembunyikan. Ada kesan bahwa untuk menemukan pesan yang dimaksudkan, maka proses pemahamannya justru harus diperpanjang, misalnya, dengan menciptakan jalan belok. Jadi, bahasa karya sastra berbeda dengan karya ilmiah yang justru menghindarkan unsur estetis,
berbagai fungsi mediasi, dan emosionalitas. Bahasa ilmiah harus secara langsung diarahkan ke objek sasaran. Karya sastra juga berbeda dengan bahasa sehari-hari yang bersifat praktis dan cepat dimengerti.
Penggunaan bahasa khas bukan dalam pengertian bahwa bahasa sastra berbeda dengan bahasa sehari-hari dan bahasa karya ilmiah tidak ada perbedaan prinsip seperti kosakata dan leksikal antara bahasa sehari-hari dan bahasa ilmiah dengan bahasa yang digunakan oleh Amir Hamzah, Chairil Anwar, Sitor Situmorang, Sapardi Djoko Damono, dan seterusnya. Ciri khas dan perbedaan diperoleh melalui proses pemilihan dan penyusunan kembali. Analog dengan kehidupan sehari-hari, gaya sebagai salah satu cara hidup di antara berbagai cara yang lain, gaya bahasa adalah masalah cara pemakaian yang khas, bukan bahasa khas yang berbeda dengan bahasa dalam kamus. Dengan kalimat lain, kekhasan yang dimaksudkan adalah kekhasan dalam proses seleksi, memanipulasi, dan mengombinasikan kata-kata. Pernyataan seperti ini perlu digarisbawahi sebab sampai saat ini masih ada pendapat yang mengatakan bahwa bahasa karya sastra benar-benar berbeda dengan bahasa sehari-hari. Apabila perbedaan seperti ini memang ada, maka pada dasarnya tidak ada stilistika dan dengan sendirinya tidak ada karya sastra sebab pengarang tidak perlu bersusah payah berimajinasi menciptakan hal-hal baru. Pilihan-pilihan itulah yang justru memegang peranan sebab dalam proses tersebutlah terkandung kualitas proses kreatif, kemampuan imajinasi, dan energi kata-kata. Pilihan, kombinasi, adaptasi, asimilasi, dan inovasi memungkinkan terjadinya hasil ciptaan baru yang tidak pernah berakhir.
Kekuatan karya seni adalah kekuatan dalam menciptakan kombinasi baru, bukan objek baru. Oleh karena itulah, gaya bahasa disebutkan sebagai 'penyimpangan' dari bentuk-bcntuk bahasa normatif. Dalam proses analisis Darbyshire (1971:43-44) menunjukkan tiga cara dalam mengidentifikasi gaya bahasa. Pertama, mempertimbangkan 'tata bahasa' stilistika yang memampukan peneliti untuk memahami berbagai bentuk norma tata bahasa sekaligus penyimpangannya. Cara pertama ini pada dasarnya merupakan bidang linguistik. Kedua, gaya bahasa sebagai aparatus kontekstual, pemakaian bahasa dengan
memper-timbangkan hubungannya dengan masyarakat, misalnya, gaya bahasa sebagai manifestasi periodisasi. Ketiga, melalui kedua tata bahasa di ataslah peneliti dapat menentukan mana karya sastra yang baik, kurang baik, atau sebaliknya sama sekali tidak bermutu.
Seperti disinggung di atas, di antara genre sastra puisilah yang dianggap sebagai objek utama stilistika. Alasannya, di antaranya oleh karena puisilah yang menggunakan bahasa secara khas. Puisi memiliki medium yang terbatas sehingga dalam keterbatasannya sebagai totalitas puisi yang terdiri atas beberapa baris harus mampu menyampaikan pesan sama dengan sebuah cerpen, bahkan sebuah novel yang terdiri atas ratusan bahkan ribuan halaman. Di sinilah diperlukan bahasa yang padat dan pekat, dengan sendirinya atas dasar kombinasi yang diperoleh melalui daya apresiasi yang tinggi. Dengan adanya keter-batasan medium tetapi pesan yang disampaikan dapat dilakukan seluas-luasnya, di samping kata-kata dan kalimat yang tertulis secara eksplisit, maka setiap tanda dalam puisi merupakan sumber analisis. Tipografi, penggunaan huruf kapital, tanda-tanda baca, dan sebagainya, dapat dijadikan objek analisis.
Objek utama analisis stilistika adalah teks atau wacana. Objek analisis bukan bahasa melainkan bahasa yang digunakan, bahasa dalam proses penafsiran. Pada saat sebuah kalimat diucapkan, sebagai parole, pada saat itulah terjadi komunikasi antara objek dengan pembaca. Pada saat itu juga terjadi proses penafsiran. Penafsiran itulah hasil dari analisis teks yang dapat dituangkan ke dalam karya tulis. tulisan tersebut kemudian meniadi bahasa yang siap untuk diinterpretasikan kembali, baik oleh pembaca yang berbeda maupun oleh pembaca yang sama pada saat yang berbeda. Karya sastra dalam bentuk bahasa sebagai naskah itu pun dapat digunakan dalam kaitannya dengan analisis gaya bahasa. Tetapi hasilnya hanya terbatas sebagai pemerian bahasa, gaya sebagai objek ilmu bahasa. Pemerian inilah yang disebut sebagai analisis stilistika tradisional, misalnya, deskripsi sebagai semata-mata terbatas dalam bentuk inversi, litotes, hiperbola, dan sebagainya, tanpa menjelas- kannya lebih jauh mengapa gaya bahasa tersebut digunakan. Padahal dalam
penjelasan terakhirlah, dalam menjawab pertanyaan 'mengapa' suatu gaya bahasa tertentu digunakan pada kata-kata, kalimat, dan karya sastra tertentu terletak sumber objek penelitiannya.
Menurut Fowler (1987:237) sebagai kualitas ekspresi semua teks pada dasarnya menampilkan gaya bahasa. Puisi, prosa, dan drama, genre utama dalam sastra modern, demikian juga padanannya dalam sastra lama, seperti geguritan dan gancaran, adalah sumber-sumber utama gaya bahasa. Meskipun jenis karya sastra terikat dianggap sebagai genre terpenting dalam kaitannya dengan objek stilistika, tetapi jenis yang lain, karya sastra yang tidak terikat juga mengandung aspek-aspek penelitian gaya bahasa. Perbedaannya, dalam jenis kedua ini pembicaraan lebih banyak berkaitan dengan gaya bahasa secara umum, sebagai jenis penelitian makro. Gaya bahasa novel-novel tahun 1920- an, misalnya, dibicarakan dalam kaitannya dengan periode Balai Pustaka, baik sebagai pengaruh para pengarang Minangkabau maupun sensor pemerintah kolonial. Novel, dengan kualitasnya masing-masing, termasuk ciri-ciri stilistikanya adalah totalitas fiksional yang berfungsi untuk mengungkap pandangan dunia kelompok tertentu. Oleh karena itulah, objek penelitiannya sebaiknya diarahkan bukan pada semata-mata analisis stilistika, lebih-lebih stilistika struktur mikro. Oleh karena itu pula, menurut Goldman (1981:141) jenis puisi kurang tepat dianalisis dari segi strukturalisme genetik.
Oleh karena gaya digunakan juga dalam karya seni yang lain, seperti: seni lukis, seni suara, seni patung, seni tari, dan sebagainya, maka objeknya dapat juga digali dalam aktivitas kreatif tersebut. Bahkan gaya bahasa juga ada dalam kehidupan sehari-hari, baik lisan maupun tulisan. Setiap penampilan, sikap berbicara adalah gaya itu sendiri. Perbedaan orang dicirikan oleh gaya tertentu. Tidak ada kehidupan tanpa gaya. Gayalah yang memberikan isi kehidupan ini. Pakaian, makanan, bahkan seluruh kehidupan itu sendiri adalah gaya. Meskipun demikian, seperti di atas gaya bahasa jelas berkaitan dengan penggunaan bahasa, khususnya dalam karya sastra, lebih khusus lagi dalam puisi. Dengan luasnya sumber dan ruang lingkup
pemakaian gaya (bahasa), Noth (1990: 343) memasukkan stilistika sebagai pansemiotika.