Defisiensi demokrasi sebagai bagian yang tidak dapat dipisahkan dengan transisi demokrasi Indonesia. Jika Robert A. Dahl (2001:63) mengajukan satu pertanyaan untuk melihat urgensi demokrasi “mengapa mesti demokrasi?’ karena menurutnya demokrasi akan menghasilkan akibat-akibat yang diinginkan, yaitu; 1) menghindari tirani, 2) menjamin HAM, 3) kebebasan umum, 4) menentukan nasib sendiri, 5) otonomi moral, 6) perkembangan manusia, 7) menjaga kepentingan pribadi, 8) persamaan politik, 9) mencari perdamaian, 10) mendatangkan kemakmuran.
Namun Samuel P. Huntington (2000:5) mengemukakan bahwa sebenarnya terdapat satu kritik tajam terhadap demokrasi yaitu sifat defisiensinya. Dengan sifat tersebut demokrasi tidak selalu merupakan pilihan terbaik karena ia dapat menimbulkan inefisiensi dan ketidakpastian. Karena defisiensi demokrasi secara umum memberikan kesempatan kepada masyarakat untuk dapat mengembalikan kekuasaan ke arah otoritarian baru. Rakyat di daerah-daerah, setelah melihat realitas yang cenderung negatif secara samar-samar akan
kembali menengok masa lalu dimana penguasa menyediakan kebutuhan dasar dan membuat segala sesuatu bekerja. Bahkan pernah populer akronim “SARS” (Sindrom Amat Rindu Soeharto) Apakah hal ini salah?. Alfan Alfian (2001:181) mengemukakan bahwa defisiensi demokrasi adalah konsukuensi dari pilihan memilih sistem demokrasi dan merupakan sebuah kewajaran semata-mata, asalkan tidak terlampau ekstrim sehingga dapat melumpuhkan sendi- sendi demokrasi itu sendiri.
Sisi lain dari probabilitas munculnya defisiensi demokrasi terutama di negara yang mengalami transisi demokrasi seperti Indonesia adalah demokrasi itu membutuhkan social and political cost yang relatif besar. Karena diyakini bahwa apabila proses demokrasi salah langkah maka potensi ekonomi akan tersedot yang seharusnya bisa dimanfaatkan untuk kepentingan yang lebih luas justru sebaliknya dipakai untuk membiayai proses politik.
Mahalnya sebuah proses demokrasi sebenarnya tidak bisa diukur hanya dari segi ekonomi saja, karena kerap sekali korban nyawa tertelan sebagai akibat eskalasi konflik horisontal cenderung meluas. Era demokrasi pada satu sisi memang menghadirkan banyak manfaat seperti penyelesaian kasus-kasus pelanggaran HAM, pers yang bebas dan independen, militer dalam kendali sipil, pilihan politik (partai) yang beragama, namun di sisi lain jika salah langkah akibatnya akan memunculkan potensi konflik horisontal secara terbuka. Di negara kita biaya non material begitu besar dan memprihatinkan baik sebagai korban rutinitas politik maupun kasus-kasus politik yang lebih kompleks seperti di Aceh, Papua, Ambon, Poso dan sebagainya.
Di Indonesia, di era transisi politik ini, defisiensi demokrasi mulai kelihatan menggejala. Kalangan yang bersikap apriori terhadap demokrasi pun bisa makin bertambah panjang, jika demokrasi tidak segera menghasilkan hal-hal yang konkrit. Orang kerap merindukan masa lampau yang “aman, tertib, terkendali”, sekalipun menyisakan catatan pelanggaran HAM dan penumpukan kroni kekuasaan yang memprihatinkan. Yang penting ekonomi nasional membaik, problem ekonomi masyarakat dapat teratasi dengan baik.
Bagi kalangan pro demokrasi, sikap fatalis akibat defisiensi demokrasi sesungguhnya tidak perlu dikaitkan dengan keinginan untuk kembali ke tatanan dan budaya lama. Memang zaman demokrasi memberikan ruang bagi publik untuk melakukan perbaikan- perbaikan. Namun di sisi lain, justru musuh demokrasi mendapatkan kesempatan yang sama. Pada zaman ini pula sesungguhnya terdapat peluang yang sama bagi “kekuatan baik” dan “kekuatan tidak baik” untuk berlomba dalam mengejar kekuasaan.
Proses politik sendiri sudah dapat dipastikan akan mengalami fase konflik politik, yang dalam negara transisi demokrasi juga merupakan hal yang lumrah. Sebab tanpa ada konflik politik, dinamika politik yang terjadi menjadi hambar dan kaku. Bahkan tanpa konflik politik, perjalanan menuju demokrasi yang sesungguhnya akan diwarnai oleh hilangnya kreatifitas dan inovasi dari pelbagai kalangan. Dan sesungguhnya memang tak mungkin sebuah dinamika politik, se-statis apapun tidak menyisakan konflik atau zero conflict. Dengan demikian, defisiensi demokrasi adalah konsukuensi logis dari transisi demokrasi. Ongkos sosial politik yang dikeluarkan akan menghasilkan sesuatu yang amat bermakna bagi kehidupan berbangsa dan bernegara, sehingga defisiensi demokrasi mestinya tidak lagi signifikan dengan muara kembali ke tatanan budaya lama. Yang dibutuhkan sekarang justru munculnya semacam kesadaran kolektif dan kesabaran revolusioner untuk meretas jalan menunju kondisi yang lebih baik.
10. PENDIDIKAN HAM: APA, DI MANA, DAN BAGAIMANA SEHARUSNYA Pesatnya kemajuan zaman seperti yang kita rasakan sekarang ini, selain sebagai akibat dari kemajuan dan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi (IPTEK), juga disebabkan oleh kencangnya proses demokratisasi yang merambah dunia. Hal ini sebagaimana dikemukakan oleh Samuel P. Huntington seperti dikutip oleh Tilaar, H.A.R. (1999:161-162) bahwa: “Ada dua kekuatan utama yang mengubah dunia yaitu proses demokratisasi serta kemajuan teknologi komunikasi dan dunia yang terbuka”.
Demokrasi sudah menjadi elemen penting dalam kehidupan dunia. Segala persoalan di dunia ini terutama yang menyangkut kehidupan berkelompok atau orang banyak harus diselesaikan secara demokrastis, tanpa itu berarti kita anti demokrasi dan menentang kehendak perkembangan zaman.
Antara demokrasi dan hak asasi manusia (HAM) memiliki hubungan yang sangat erat. Hal ini karena salah satu ciri negara demokrasi adalah (Mahfud, 2003:30): “Perlindungan konstitusional, artinya, selain menjamin hak-hak individu, konstitusi harus pula menentukan cara prosedural untuk memeproleh perlindungan atas hak-hak yang dijamin”. Jadi, jelas bahwa, adanya jaminan dan perlindungan HAM merupakan indikator penting bagi suatu negara yang menyatakan sebagai negara demokrasi. Dengan kata lain, bukan negara demokrasi apabila mengabaikan HAM.
Tumbuhnya sikap dan perbuatan yang mencerminkan penghargaan terhadap HAM tidak langsung begitu saja, tetapi harus melalui pembelajaran yang sistematis dan berkesinambungan serta manusiawi. Dalam rangka menanamkan sikap dan perbuatan yang mencerminkan penghargaan terhadap HAM, maka pendidikan dan pembelajaran memegang peranan penting. Melalui pendidikan ini nilai-nilai HAM dibelajarkan atau ditanamkan sejak dini.