• Tidak ada hasil yang ditemukan

DENGAN TINGKAT BERPIKIR GEOMETRI VAN HIELE

Dalam dokumen Karaketeristik Perangkat Pemb elajaran Gu (Halaman 102-112)

tipe a, b, c, dan g

DENGAN TINGKAT BERPIKIR GEOMETRI VAN HIELE

Susanto

Dosen PSP Matematika Jurusan PMIPA FKIP Universitas Jember E-mail: [email protected]

Abstrak: Indra peraba menjadi komponen penting bagi siswa tunanetra untuk belajar. Karena kehilangan fungsi indra penglihatnya, siswa tunanetra cenderung meraba suatu benda untuk mengenali benda tersebut baik bentuknya, panjangnya, kasar atau halusnya. Oleh karena itu, siswa tunanetra menggunakan huruf braille dalam kegiatan membaca dan menulis dimana dibutuhkan kepekaan meraba yang tinggi dalam memahami huruf braille. Teori Van Hiele sangat berkaitan erat dengan pembelajaran geometri di sekolah. Teori tersebut membagi proses berpikir yang digunakan seseorang dalam pembelajaran geometri menjadi 5 tingkat. Penelitian ini menggunakan metoda observasi, metode wawancara dan tes. Dari paparan data sesuai deskriptor tingkat berpikir Van Hiele, dapat diketahui bahwa siswa berada pada tingkat 0 visualisasi dengan visualisasi secara taktual, karena cara siswa mengerti suatu bangun datar segiempat dengan meraba.

Kata kunci: Analisis proses pembelajaran, Tunanetra, Segiempat.

PENDAHULUAN

Pendidikan adalah suatu dasar yang mengawali segala macam bidang di Indonesia. Seluruh warga negara Indonesia berhak mendapatkan pendidikan, tak terkecuali bagi siswa- siswa berkebutuhan khusus. Dalam penelitian ini diambil subjek siswa tunanetra. Di Indonesia telah banyak ditemui sekolah khusus bagi siswa berkebutuhan khusus dan materi wajib yang diajarkan adalah matematika. Salah satu yang akan dipelajari dalam matematika adalah geometri. Berdasarkan hasil penelitian Sunardi, (2002) dinyatakan bahwa tingkat berpikir siswa SLTP di Jember secara umum adalah tingkat visualisasi, analisis, dan deduksi informal. Dalam penelitian ini hanya digunakan tiga tingkat tersebut. Tingkat berpikir siswa dalam geometri yang paling rendah adalah visualisasi. Siswa tunanetra pada umumnya sulit untuk memvisualisasikan suatu benda terlebih lagi jika hal tersebut berkaitan dengan matematika karena matematika bersifat abstrak. Untuk lebih memahami matematika biasanya guru perlu

membantu siswa dalam mengkonkretkan matematika, misal ―2‖ sebagai simbol angka dua dan

permukaan meja untuk membantu siswa memahami persegi. Cara siswa tunanetra untuk memvisualisasikan suatu benda tidak dengan cara melihat tetapi dengan meraba.

Disadari bahwa, dalam kehidupan kita mengenal siswa normal dan siswa berkebutuhan khusus. Siswa berkebutuhan khusus terbagi menjadi beberapa jenis, antara lain tuna rungu, tuna wicara, tunanetra, tuna grahita dan tuna daksa. Lusli (2009:22) menyatakan bahwa anak dengan

89

SEMINAR NASIONAL MIPA DAN PMIPA I 31 Maret 2013 FKIP UNIVERSITAS JEMBER

kehilangan penglihatan (anak cacat netra atau anak tunanetra) adalah anak yang penglihatannya tidak atau kurang berfungsi.

Siswa tunanetra memanfaatkan indra peraba dan pendengarnya dengan sangat maksimal sebagai pengganti indra penglihatannya dalam pembelajaran. Pendengaran sangatlah penting bagi anak yang kehilangan penglihatan karena pendengaran memberikan informasi kepada anak mengenai benda-benda yang tidak berada di dekatnya. Indra peraba juga menjadi komponen penting bagi siswa tunanetra untuk belajar. Karena kehilangan fungsi indra penglihatnya, siswa tunanetra cenderung meraba suatu benda untuk mengenali benda tersebut baik bentuknya, panjangnya, kasar atau halusnya. Oleh karena itu, siswa tunanetra menggunakan huruf braille dalam kegiatan membaca dan menulis dimana dibutuhkan kepekaan raba yang tinggi dalam memahami huruf braille.

Berkaitan dengan pembelajaran geometri, Ruseffendi (1990:2) menyatakan bahwa geometri itu ialah suatu sistem aksiomatik dan kumpulan generalisasi, model, dan bukti, tentang bentuk-bentuk bidang dan ruang. Materi segiempat dalam geometri dipelajari juga di sekolah luar biasa. Pada umumnya, siswa awas mengenali suatu benda atau bangun geometri dengan melihat tetapi siswa tunanetra mengenali dengan meraba. Guru pada umumnya memperkenalkan siswa sebuah bangun geometri dengan menggunakan media bangun geometri tiga dimensi dan menggunakan buku khusus yang terdapat gambar bangun-bangun geometri yang tampak timbul sehingga siswa dapat merabanya.

Teori van Hiele yang dikembangkan oleh dua pendidik berkebangsaan Belanda, Pierre Marie van Hiele dan Dina van Hiele-Geldof, mendeskripsikan perkembangan berpikir siswa dalam belajar geometri. Teori Van Hiele sangat berkaitan erat dengan pembelajaran geometri sekolah. Teori tersebut membagi proses berpikir yang digunakan seseorang dalam pembelajaran geometri menjadi 5 tingkat. Setiap tingkatan menunjukkan proses berpikir yang digunakan seseorang dalam belajar geometri. Tingkatan-tingkatan menunjukkan bagaimana seseorang berpikir dan tipe ide-ide geometri apa yang dipikirkan, bukan menunjukkan seberapa banyak pengetahuan yang dimiliki siswa (Sugiarti, 2000). Sementara itu Sunardi (2002) menyatakan bahwa tingkat berpikir siswa SLTP di Jember secara umum adalah tingkat visualisasi, analisis, dan deduksi informal. Dalam penelitian ini peneliti hanya menggunakan tiga tingkat berpikir Van Hiele yaitu tingkat 0 (visualisasi), tingkat 1 (analisis) dan tingkat 2 (deduksi informal). Van De Walle mengembangkan beberapa kegiatan pembelajaran yang dapat dilakukan pada suatu tingkat berpikir. Kegiatan ini dapat menjadi alternatif serta dapat divariasikan untuk topik yang sama.

90

SEMINAR NASIONAL MIPA DAN PMIPA I 31 Maret 2013 FKIP UNIVERSITAS JEMBER

Menurut padangan Van Hiele, kecepatan seseorang melampaui tingkatan lebih banyak bergantung pada pembelajaran yang diperolehnya dari pada umur atau kematangan biologisnya (Sunardi, 2009 : 22). Van Hiele mengusulkan lima tahap belajar siswa dan peran guru dalam proses pembelajaran, yaitu tahap 1 (Informasi), tahap 2 (Orientasi Terarah), tahap 3 (Penegasan/Uraian), tahap 4 (Orientasi Bebas), dan tahap 5 (Integrasi).

Deskriptor-deskriptor tingkatan Van Hiele adalah pedoman yang telah didokumentasikan Van Hiele sebagai kelengkapan karakteristik tingkatan-tingkatan (Prawoto, 1999). Menurut Gustafson dan Frisk (1991:117), Segiempat adalah bangun datar dengan empat sisi. Segiempat terdiri dari segiempat konveks dan konkaf. Segiempat konveks adalah segiempat yang jika sisi-sisinya diperpanjang tidak memotong daerah dalam segiempat. Sedangkan segiempat konkaf adalah segiempat yang jika sisinya diperpanjang akan memotong daerah dalam segiempat. Dalam tulisan ini, hanya digunakan segiempat konveks. Jenis-jenis segiempat konveks antara lain jajar genjang, belah ketupat, persegi panjang, persegi, layang-layang, trapesium, dan segiempat sembarang

METODOLOGI PENELITIAN

Penelitian ini termasuk dalam jenis penelitian deskriptif yang menekankan pada analisis proses pembelajaran siswa tunanetra dalam memahami segiempat. Analisis ini berkaitan dengan tingkat berpikir Van Hiele yang dikembangkan oleh Pierre Marie van Hiele dan Dina van Hiele- Geldof sekitar tahun 1950-an. Arikunto (1990:300) memaparkan bahwa penelitian deskriptif merupakan penelitian yang dimaksudkan untuk mengumpulkan informasi mengenai status suatu gejala yang ada, yaitu gejala menurut apa adanya pada saat penelitian dilakukan. Pendekatan penelitian ini adalah pendekatan kualitatif.

Tahap-tahap yang dilakukan dalam penelitian ini adalah: persiapan penelitian (mempersiapkan tes; membuat pedoman wawancara; dan membuat pedoman observasi proses pembelajaran; eksplorasi (pengumpulan data), analisis data, dan penyusunan laporan. Metode pengumpulan data adalah cara-cara yang digunakan peneliti untuk mengumpulkan data (Arikunto, 1990:134). Penelitian ini menggunakan metoda observasi, metode wawancara dan tes. Observasi dilakukan untuk mengetahui proses pembelajaran siswa tunanetra dalam upaya memahami segiempat. Observasi dilakukan kepada guru di kelas. Wawancara menggunakan kumpulan pertanyaan peneliti yang diungkapkan secara lisan kepada subjek penelitian untuk dijawab secara lisan juga. Sedangkan tes dilaksanakan sebanyak 4 kali; masing-masing bertujuan untuk (1) mengidentifikasi bangun berdasarkan penampakannya lalu menyebutkan unsur dan sifat-sifat berdasarkan apa yang dia ketahui setelah meraba media lalu membuat

91

SEMINAR NASIONAL MIPA DAN PMIPA I 31 Maret 2013 FKIP UNIVERSITAS JEMBER

definisi; (2) mengidentifikasi bangun-bangun segiempat yang disajikan dalam bentuk lebih kompleks: (3) menyortir beberapa bangun ruang ke dalam jenis-jenis bangun segiempat yang lebih spesifik yaitu persegi, persegi panjang, dan jajar genjang (diadaptasi dari Assessing Children’s Intelectual Growthin in Geometry yang dikembangkan oleh Burger dan Shaughnessy); dan (4) untuk mengetahui kemampuan siswa dalam mengidentifikasi dan menyortir bangun-bangun geometri sesuai dengan sifat-sifat tertentu (diadaptasi dari The Cognitive Development and Achievement in Secondary School Geometry Project (CDASSG)). Dalam pelaksanaan, tes ke-4 berupa tes tulis. Siswa menulis jawaban di selembar kertas dengan menggunakan huruf Braile. Untuk tes 1, tes 2, dan tes 3 akan dilakukan secara lisan dengan menggunakan metode Think Aloud.

Adapun langkah-langkah yang akan dilakukan dalam menganalisis data adalah: mentranskrip data verbal yang diperoleh; menelaah seluruh data yang didapat dari wawancara, tes, dan catatan lapangan; mereduksi data untuk memperoleh data yang lebih fokus terhadap permasalahan; menyusun data; menganalisis proses pembelajaran, proses berpikir, serta tingkat berpikir geometri; dan penarikan kesimpulan.

HASIL DAN PEMBAHASAN

Proses pembelajaran di SMPLB-A diawali dengan kegiatan guru mempersiapkan buku, media dan juga siswa baik kelengkapan siswa maupun kondisi siswa. Setelah semua siap barulah guru memberikan materi. Van Hiele merumuskan lima tahap belajar geometri. Tahap pertama adalah tahap informasi. Pada tahap informasi, guru mengajak siswa mengamati objek- objek secara taktual, memperkenalkan terminologi yang akan digunakan, mengajak siswa menganalisis persamaan dan perbedaan dari bangun-bangun segiempat. Tahap kedua adalah tahap orientasi berarah. Dalam tahap ini guru mengarahkan siswa untuk meneliti karakteristik khusus dari objek-objek yang dipelajari. Setelah tahap orientasi berarah, tahap selanjutnya adalah tahap penegasan atau uraian. Di tahap ini guru mendorong siswa untuk saling berpendapat tentang struktur yang diamati dengan menggunakan bahasa sendiri. Seharusnya tahap selanjutnya adalah tahap orientasi bebas yang dapat diisi dengan kegiatan memberi tugas atau latihan soal tetapi tampaknya guru tidak melakukan itu. Guru lebih menekankan pada pemahaman konsep segiempat tersebut kepada siswa tetapi karena kurangnya latihan berupa soal, sehingga siswa kurang memahami ketika diberi soal berupa bangun-bangun yang digabungkan menjadi sebuah bangun datar yang lebih besar. Tahap terakhir dari tahap-tahap pembelajaran geometri adalah tahap integrasi. Guru membantu siswa merangkum setiap akhir mempelajari satu bangun datar. Guru bertanya kembali kepada siswa apakah persegi itu dan

92

SEMINAR NASIONAL MIPA DAN PMIPA I 31 Maret 2013 FKIP UNIVERSITAS JEMBER

siswa dilibatkan dalam membuat rangkuman. Metode yang digunakan guru dalam pembelajaran ini adalah metode ceramah. Pembelajaran terpusat pada guru tetapi siswa tidak hanya mendengar dan mencatat melainkan berpendapat, menjawab pertanyaan guru dan bertanya. Terdapat perbedaaan perlakuan guru kepada siswa. Siswa tunanetra terbagi atas low vision dan tunanetra total. Untuk selanjutnya siswa low vision akan disebut dengan LV dan tunanetra total akan disebut TT. LV juga lebih cerdas dan mudah menerima pelajaran karena walaupun sulit tetapi LV masih bisa melihat. TT tidak bisa melihat sama sekali hanya peka terhadap cahaya yang sangat terang. Karena tidak dapat melihat sama sekali sehingga TT hanya bisa meraba dan membuat pengertian sendiri menurut apa yang dia raba tersebut. Guru lebih memprioritaskan TT daripada LV karena keadaan TT. Guru melaksanakan pembelajaran secara runtut, guru juga sangat menguasai kelas dan selalu menggunakan media di sebagian besar pembelajaran matematika. Guru melakukan penilaian berdasarkan jawaban-jawaban siswa ketika diberi pertanyaan seputar segiempat, tidak melalui soal-soal yang dikerjakan. Dalam proses pembelajaran, guru tidak terpaku menggunakan bahasa Indonesia tetapi juga menggunakan bahasa Jawa. Hal ini dilakukan agar siswa tidak merasa kaku dan tidak fleksibel. Guru mengutamakan kenyamanan siswa sehingga diharapkan siswa akan lebih menikmati pembelajaran dan mudah memahami materi.

a. Proses berpikir siswa LV dalam memahami segiempat adalah sebagai berikut.

1) LV mengidentifikasi bangun berdasarkan penampakannya secara utuh dalam media tiga dimensi yang dapat disentuh dan dalam bentuk atau konfigurasi yang lain (tingkat 0, deskriptor 1).

2) LV tidak melukis, menggambar, atau menjiplak suatu bangun datar segiempat sama sekali. Hal tersebut dikarenakan LV tidak bisa menggambar karena kesulitan melihat. 3) LV mampu memberi nama dan label bangun menggunakan nama dan label yang sesuai

secara baku (tingkat 0, deskriptor 3).

4) LV membandingkan dan mensortir bangun berdasarkan penampakan bentuknya yang utuh (tingkat 0, deskriptor 4).

5) Secara verbal LV mendeskripsikan bangun dengan penampakannya yang utuh (tingkat 0, deskriptor 5).

6) TT menyelesaikan soal rutin dengan tidak menggunakan sifat-sifat yang diterapkan secara umum (tingkat 0, deskriptor 6).

7) LV mengidentifikasi bagian-bagian bangun (tingkat 0, deskriptor 7) sepeti sisi, sudut, dan diagonal. Untuk kegiatan mengukur, baik panjang sisi ataupun besar sudut, LV mengatakan jika mengukur panjang menggunakan penggaris tetapi LV tidak bisa

93

SEMINAR NASIONAL MIPA DAN PMIPA I 31 Maret 2013 FKIP UNIVERSITAS JEMBER

menggunakannya karena tidak adanya penggaris Braille yang dapat digunakan sehingga LV tidak bisa membedakan panjang dua sisi yang berbeda secara pasti.

8) LV mampu megingat dan menggunakan beberapa perbendaharaan kata yang sesuai untuk komponen dari hubungan-hubungan (tingkat 1, deskriptor 2).

Dari paparan di atas sesuai deskriptor tingkat berpikir Van Hiele, dapat diketahui bahwa LV berada pada tingkat 0 visualisasi dengan visualisasi secara tactual karena cara LV melihat dan mengerti suatu bangun datar segiempat dengan meraba.

b. Proses berpikir TT dalam memahami segiempat adalah sebagai berikut.

1) Dalam menjawab pertanyaan peneliti, TT masih sulit mengidentifikasi bangun berdasarkan penampakan secara utuh dalam media tiga dimensi (tingkat 0, deskriptor 1). Media tersebut dapat dipegang oleh TT.

2) TT tidak menggambar, melukis, ataupun menjiplak bangun karena keterbatasan dalam penglihatan dan TT tidak bisa menggunakan alat bantu menggambar.

3) TT mampu memberi nama atau memberi label bangun dan menggunakan nama dan label bangun secara baku (tingkat 0, deskriptor 3).

4) Pada deskriptor selanjutnya, siswa belum bisa membandingkan dan mensortir bangun dengan benar berdasarkan penampakan bentuknya yang utuh (tingkat 0, deskriptor 4). 5) TT mendeskripsikan bangun berdasarkan penampakannya secara utuh (tingkat 0,

deskriptor 5).

6) TT belum bisa menyelesaikan soal rutin dengan benar dan tidak menggunakan sifat-sifat yang diterapkan secara umum (tingkat 0, deskriptor 6).

7) TT mengidentifikasi bagian-bagian bangun (tingkat 0, deskriptor 7) sepeti sisi, sudut, dan diagonal. Dalam membandingkan panjang dua buah sisi, TT tidak memiliki alat khusus seperti penggaris Braille sehingga TT tidak bisa mengukur panjang suatu garis.

8) TT mampu mengingat dan menggunakan beberapa perbendaharaan kata yang sesuai untuk komponen dari hubungan-hubungan (tingkat 1, deskriptor 2).

Dari paparan di atas sesuai deskriptor tingkat berpikir Van Hiele, dapat diketahui bahwa TT berada pada tingkat pravisualisasi. Dari tujuh deskriptor Van Hiele pada tingkat 0, TT memenuhi tiga deskriptor. Deskriptor yang tidak terpenuhi adalah deskriptor 1, 2, 4, dan 6. c. Analisis Tes Tingkat Berpikir Geometri LV

Berikut akan dipaparkan analisis tes tingkat berpikir geometri LV yang telah dikerjakan LV. LV menyelesaikan tes tersebut dalam waktu 20 menit. LV akan diklasifikasikan pada tingkat ke-n, (n = 0, 1, 2) jika minimal 3 dari 5 butir soal dijawab dengan benar (pada tingkat ke-n) dan setiap tingkat sebelumnya (untuk n = 1, 2). Jika tidak memenuhi kriteria

94

SEMINAR NASIONAL MIPA DAN PMIPA I 31 Maret 2013 FKIP UNIVERSITAS JEMBER

tersebut, maka siswa diklasifikasikan ke dalam tingkat pravisualisasi. Dari soal nomor 1 sampai nomor 5, LV berhasil menjawab benar hanya satu soal, dari nomor 6 sampai 10, LV menjawab benar dua soal, dan dari nomor 10 sampai 15, LV menjawab dua soal benar. LV akan dikatakan berada pada tingkat 0 jika dia berhasil menjawab benar minimal tiga soal antara nomor 1 sampai 5. Karena tidak memenuhi kriteria tersebut maka LV diklasifikasikan ke dalam tingkat pravisualisasi.

Dari soal pada tingkat 0, soal yang dijawab dengan benar adalah soal nomor 1. Diberikan bangun datar, segitiga, persegi, persegi panjang. LV diminta memilih bangun-bangun yang merupakan persegi panjang dan LV menjawab dengan benar. Data yang diperoleh peneliti dari LV masih belum konsisten. Pada tes-tes awal yang menggunakan metode wawancara dan think aloud, peneliti menganalisis bahwa LV berada dalam tingkat visualisasi sesuai deskriptor Van Hiele, tetapi pada tes tingkat perkembangan berpikir geometri LV terklasifikasikan dalam tingkat pravisualisasi. Dengan adanya kejadian tersebut, peneliti akan memberi LV tes lagi yaitu tes tingkat perkembangan geometri namun tidak menggunakan pilihan ganda melainkan essay yang akan dijawab LV secara lisan.

Selanjutnya peneliti melakukan tes tingkat perkembangan berpikir geometri dengan metode essay. LV diberikan soal dengan huruf Braille lalu LV menjawab secara lisan. Dari tes tersebut, LV mampu menjawab benar hanya dua soal sehingga masih kurang dari jawaban minimal yang harus dipenuhi pada tingkat visualisasi sehingga LV terklasifikasi dalam tingkat pravisualisasi.

Pada tes-tes awal yang menunjukkan proses berpikir LV, LV dapat diklasifikasikan dalam tingkat 0 visualisasi (tactual) karena LV memenuhi enam deskriptor Van Hiele, yang tidak terpenuhi hanya deskriptor 2 yang menyatakan siswa menggambar, melukis, atau menjiplak. LV adalah siswa yang menderita low vision, LV bisa melihat dengan sangat sedikit sekali. Pada saat tes-tes awal yang menggunakan metode wawancara dan think aloud LV bisa membandingkan sebuah bangun datar dengan bangun datar lainnya dengan meraba dan sedikit melihat jika media bangun datar tersebut diletakkan tepat di bawah matanya sehingga jarak antara media dengan mata sangatlah dekat. Dengan keadaannya yang low vision, tes-tes pertama tidak terlalu sulit bagi LV. Tetapi pada tes selanjutnya yaitu tes tingkat perkembangan berpikir geometri, LV tidak hanya dihadapkan dengan media yang timbul tetapi juga dengan tulisan braille. Kemungkinan LV merasa kurang leluasa dalam mengobservasi bangun datar yang terdapat dalam soal. Selain itu, menurut pengamatan peneliti, jika LV dihadapkan dengan dua persegi panjang tetapi beda posisi, salah satu persegi panjang diletakkan dalam posisi miring, LV mengatakan bahwa bangun datar tersebut bukanlah persegi panjang. Setelah tes diulang,

95

SEMINAR NASIONAL MIPA DAN PMIPA I 31 Maret 2013 FKIP UNIVERSITAS JEMBER

walaupun LV mengaku telah lupa terhadap soal-soalnya tetapi ternyata ada peningkatan. LV mampu menjawab benar dua soal.

d. Analisis Tes Tingkat Berpikir Geometri TT

Berikut akan dipaparkan analisis tes tingkat berpikir geometri TT yang telah dikerjakan. TT menyelesaikan soal tersebut dalam waktu 31 menit. TT akan diklasifikasikan pada tingkat ke-n, (n = 0, 1, 2) jika minimal 3 dari 5 butir soal dijawab dengan benar (pada tingkat ke-n) dan setiap tingkat sebelumnya (untuk n = 1, 2). Jika tidak memenuhi kriteria tersebut, maka siswa diklasifikasikan ke dalam tingkat pravisualisasi. Dari soal nomor 1 sampai nomor 5, TT berhasil menjawab benar hanya satu soal, dari nomor 6 sampai 10 TT berhasil menjawab satu soal benar dan dari nomor 10 sampai 15 TT tidak menjawab benar satu soalpun. TT akan dikatakan berada pada tingkat 0 jika dia berhasil menjawab benar minimal tiga soal. Karena tidak memenuhi kriteria tersebut maka TT diklasifikasikan ke dalam tingkat pravisualisasi. Karena data yang diperoleh peneliti terhadap TT telah konsisten maka TT berada dalam tingkat pravisualisasi.

PENUTUP

Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan yang telah diuraikan, dapat disimpulkan sebagai berikut.

a. Proses pembelajaran di SMPLB-A adalah

1) diawali dengan kegiatan guru mempersiapkan buku, media dan juga siswa baik kelengkapan siswa maupun kondisi siswa. Setelah semua siap barulah guru memberikan materi.

2) Van Hiele merumuskan lima tahap belajar geometri. Tahap pertama adalah tahap informasi. Pada tahap informasi, guru mengajak siswa mengamati objek-objek secara taktual, memperkenalkan terminologi yang akan digunakan, mengajak siswa menganalisis persamaan dan perbedaan dari bangun-bangun segiempat.

3) Tahap kedua adalah tahap orientasi berarah. Dalam tahap ini guru mengarahkan siswa untuk meneliti karakteristik khusus dari objek-objek yang dipelajari.

4) Tahap ketiga adalah penegasan atau uraian. Di tahap ini guru mendorong siswa untuk saling berpendapat tentang struktur yang diamati dengan menggunakan bahasa sendiri. 5) Seharusnya tahap selanjutnya adalah tahap orientasi bebas yang dapat diisi dengan

kegiatan memberi tugas atau latihan soal tetapi tampaknya guru tidak melakukan itu. Guru lebih menekankan pada pemahaman konsep segiempat tersebut kepada siswa tetapi karena kurangnya latihan berupa soal, sehingga siswa kurang memahami ketika

96

SEMINAR NASIONAL MIPA DAN PMIPA I 31 Maret 2013 FKIP UNIVERSITAS JEMBER

diberi soal berupa bangun-bangun yang digabungkan menjadi sebuah bangun datar yang lebih besar.

6) Tahap terakhir dari tahap-tahap pembelajaran geometri adalah tahap integrasi. Guru membantu siswa merangkum setiap akhir mempelajari satu bangun datar. Guru bertanya kembali kepada siswa apakah persegi itu dan siswa dilibatkan dalam membuat rangkuman.

7) Metode yang digunakan guru dalam pembelajaran ini adalah metode ceramah. 8) Guru lebih memprioritaskan siswa dengan tunanetra total daripada low vision.

9) Guru melaksanakan pembelajaran secara runtut, guru juga sangat menguasai kelas dan selalu menggunakan media di sebagian besar pembelajaran matematika.

b. Proses berpikir siswa tunanetra dalam memahami segiempat adalah sebagai berikut.

1) Siswa mampu memberi nama dan label bangun menggunakan nama dan label yang sesuai secara baku (tingkat 0, deskriptor 3).

2) Secara verbal siswa mendeskripsikan bangun dengan penampakannya yang utuh (tingkat 0, deskriptor 5).

3) Siswa mengidentifikasi bagian-bagian bangun (tingkat 0, deskriptor 7) seperti sisi, sudut, dan diagonal. Siswa tidak bisa membedakan panjang dua sisi yang berbeda secara pasti karena tidak adanya alat yang dapat digunakan untuk mengukur.

Dari paparan di atas sesuai deskriptor tingkat berpikir Van Hiele, dapat diketahui bahwa siswa berada pada tingkat 0 visualisasi dengan visualisasi secara taktual, karena cara siswa mengerti suatu bangun datar segiempat dengan meraba.

DAFTAR PUSTAKA

Arikunto, Suharsimi. 1990. Manajemen Penelitian. Jakarta: PT Rineke Cipta

Calder dan Sarah, 2002. Using “Think Alouds” to Evaluate Deep Understanding.

http://www.brevard.edu/fyc/listserv/remarks/calderandcarlson.htm. Diakses pada

tanggal 11 Pebruari 2012.

Cruickshank, W.M. 1980. Psychology of Exceptional Children and Youth. Singapore: Prentice Hall.

Departemen Pendidikan Nasional. Standar Kompetensi dan Kompetensi Dasar Sekolah Luar

Dalam dokumen Karaketeristik Perangkat Pemb elajaran Gu (Halaman 102-112)