BAB III KONDISI DAN DINAMIKA PENDUDUK
3.2. Kualitas Sumberdaya Manusia (SDM)
3.2.2. Derajat Kesehatan
Selain tingkat pendidikan, kesehatan merupakan aspek penting yang dapat mempengaruhi kualitas penduduk. Biasanya secara sederhana tingkat kesehatan pada suatu masyarakat dilihat dari kondisi asupan gizi dalam menu makanan sehari-hari, tingkat kesehatan bayi dan ibu, kebiasaan hidup untuk menjaga kesehatan jasmani dan kondisi lingkungan pemukiman. Berdasarkan hasil wawancara mendalam dan observasi lapangan dapat dikatakan bahwa kesadaran penduduk Desa Katurai terhadap pentingnya menjaga kesehatan terlihat cukup baik. Kondisi lingkungan pemukiman di Desa Katurai relatif bersih dan tertata dengan rapi. Begitupula dengan kondisi udara yang masih bersih karena
‘hijaunya’ lingkungan desa dan tidak adanya penggunaan kendaraan bermotor di daerah ini. Masyarakat di Desa Katurai juga relatif disiplin dalam melakukan kegiatan gotong royong membersihkan lingkungan desa. Menurut pengakuan Kepala Desa Katurai, minimal satu kali dalam sebulan, penduduk di setiap dusun bergotong royong membersihkan lingkungan di sekitar pemukiman mereka.
Dalam keseharian, menu makanan penduduk Desa Katurai tergolong cukup memadai (cukup asupan gizi). Sepintas kondisi ini dapat dilihat dari kondisi jasmani sebagian besar anak-anak di Desa Katurai yang tumbuh sehat dan berkembang baik. Minimal dalam seminggu terdapat kombinasi sayur mayur dan lauk pauk dalam menu makanan penduduk. Kebutuhan sayur mayur bagi masyarakat Desa Katurai umumnya didapatkan dari hasil ladang penduduk dan hanya sebagian kecil yang didatangkan dari luar desa. Untuk pemenuhan kebutuhan lauk pauk, pada umumnya penduduk terbiasa mengkonsumsi hasil laut seperti berbagai jenis ikan laut, udang, dan kepiting. Sementara itu, untuk konsumsi daging yang berasal dari ayam, sapi dan babi, umumnya hanya dapat dipenuhi jika ada pesta adat. Hal ini karena hewan ternak yang dipelihara oleh penduduk di Desa Katurai umumnya ditujukan untuk memenuhi tuntutan penyelenggaraan pesta adat (seperti pesta pernikahan, kelahiran anak, acara keagamaan, syukuran dan tahun baru).
Namun demikian, ada kebiasaan penduduk Desa Katurai yang dinilai dapat mengurangi derajat kesehatan penduduk yaitu kebiasaaan merokok, baik oleh penduduk laki-laki maupun perempuan. Kebiasaan hidup tidak sehat ini terutama terlihat pada penduduk usia 35 tahun ke atas. Akibatnya banyak diantara mereka yang mengaku sering mengalami berbagai gangguan penyakit pernapasan. Seorang aparat desa yang menjadi pemandu dalam penelitian ini mengungkapkan bahwa dirinya biasa menghabiskan 2-3 bungkus rokok dalam sehari. Menurut pengakuannya kebiasaan merokok tersebut sudah berlangsung sejak ia remaja dan tidak bisa dihentikan hingga usianya saat ini menjelang 50 tahun. Merokok baginya seperti ‘bahan bakar’ penyulut semangat bekerja. Merokok juga menjadi bagian pelepas ‘kebosanan’ dan ‘teman’ dalam beristirahat. Baginya setelah makan atau ketika sedang santai bersama keluarga atau rekan tidak lengkap jika tidak menghisap rokok. Konsekuensi dari kebiasaan tersebut kesehatannya mulai dirasakan terganggu terutama di sekitar saluran pernapasan dan paru-paru. Namun demikian dirinya tetap tidak akan berhenti merokok karena menurutnya kegiatan tersebut sudah merupakan kebiasaan dan kebutuhan yang mendarah daging. Diumpamakan dirinya tidak bisa hidup dan bekerja jika tidak merokok. Dari ilustrasi tersebut dapat
dibayangkan bagaimana sulitnya menghilangkan kebiasaan merokok dikalangan penduduk dewasa di Desa Katurai.
Data pada Tabel 3.3 berikut ini dapat memberikan gambaran tentang jenis penyakit yang banyak diderita oleh penduduk di Kecamatan Siberut Selatan termasuk di Desa Katurai. Berdasarkan data tersebut terlihat bahwa ada tiga jenis penyakit yang paling sering diderita oleh penduduk di daerah ini yaitu penyakit tuberculosis (TBC), malaria dan inpeksi saluran pernapasan akut (ISPA). Menurut penuturan salah seorang narasumber di lokasi penelitian, sebenarnya jenis penyakit yang sering diderita penduduk cukup bervariasi namun sangat disayangkan tidak terekam dalam data secara baik.
Table 3.3.
Jumlah Pasien yang Berkunjung ke Puskesmas Menurut Jenis Penyakit dan Jenis Kelamin, Kecamatan Siberut Selatan, 2002
No Jenis Penyakit Laki-laki Perempuan Jumlah
1 TBC/Tuberculosis 26 22 48 2 Muntaber/Kolera/Cholera - - - 3 Malaria 199 151 350 4 Lepra/Leprosy - - - 5 Prambusia - - - 6 Rabies - - -
7 Demam Berdarah/Bloody Fever - - -
8 Diare/Diarhea - - -
9 ISPA 158 176 34
10 Lainnya 13.029 4.247 17.276 Jumlah 13.412 4.596 18.008
Sumber : Kecamatan Siberut Selatan Dalam Angka, BPS, 2003
Menarik untuk dilihat adalah cukup banyaknya penduduk yang menderita penyakit Malaria. Pada tahun 2002 terdapat sekitar 350 orang yang menderita Malaria. Data ini menunjukkan bahwa Kabupaten Mentawai termasuk endemik daerah Malaria. Jenis penyakit lainya seperti ISPA juga cukup tinggi mencapai 334 orang. Tingginya pengidap penyakit ISPA ini diduga berkaitan dengan kebiasaan penduduk asli Mentawai yang gemar merokok.
Jenis pekerjaan mempunyai kaitan erat dengan jenis penyakit yang diderita penduduk. Seperti pada nelayan penyelam lola dan teripang, penyakit yang sering diderita adalah gangguan pendengaran
dan saluran pernapasan. Untuk nelayan pancing dan jaring, gangguan penyakit yang sering dirasakan umumnya sekitar penyakit masuk angin dan pegal otot. Sementara untuk penduduk yang bekerja sebagai petani di ladang, jenis penyakit yang sering di derita adalah gatal-gatal, pegal otot dan ISPA.
Seorang nelayan penyelam lola dan teripang di Desa Katurai menuturkan bahwa kemungkinan ia akan berhenti menjadi nelayan jika memasuki usia 40-an tahun. Alasannya, pada usia tersebut ia memperkirakan sudah tidak mungkin dapat menyelam. Apalagi ia khawatir dengan kondisi alat pendengarannya yang sering terganggu akibat menyelam terlalu dalam. Sementara saluran pernapasannya sering terganggu karena untuk menyelam ia menggunakan alat bantu berupa kompressor angin. Padahal udara yang dihasilkan dari kompresor angin tersebut sangat disangsikan kebersihannya.
....Telinga saya kalau sudah kumat sakit sekali Pak. Bunyi nying- nying nying kalau seperti itu wah sakitnya minta ampun,mungkin gendangnya sudah pencah. Saya sudah berobat ke Muara sudah habis banyak tapi ya tidak sembuh-sembuh juga. Mungkin karena keseringan nyelam ya Pak. Makanya kalau nanti kalau anak-anak saya sudah selesai sekolah saya lebih baik kerja kebun saja. Saya juga punya kebun tapi belum saya urus. Kerja cari laklak memang uangnya besar tapi resikokanya juga besar. Apa mungkin nanti kalau sudah tua badan saya ini masih kuat menyelam jadi mungkin nanti saya perlahan-lahan cari kerja di kebun saja...(kutipan wawancara dengan seorang nelayan lola di Desa Katurai)
3.2.3. Kegiatan Utama dan Jenis Pekerjaan
Pada bagian sebelumnya telah disinggung bahwa sebagai masyarakat pesisir aktivitas pekerjaan penduduk Desa Katurai lebih banyak terkonsentrasi pada pengolahan sumberdaya alam (pertanian kebun). Aktivitas tersebut terutama berkaitan dengan pengelolaan tanaman hasil perkebunan (seperti kelapa, cengkeh, nilam dan coklat) yang menjadi sumber utama pendapatan penduduk. Sedangkan aktivitas kenelayanan pada umumnya adalah pekerjaan tambahan dan masih bersifat subsisten, yaitu hanya untuk konsumsi/pemenuhan kebutuhan lauk pauk keluarga. Hanya sebagian kecil dari seluruh penduduk di Desa Katurai yang memiliki pekerjaan tetap sebagai nelayan penuh dan mereka yang termasuk dalam kategori ini umumnya didominasi oleh penduduk usia muda. Namun demikian, perkembangan kegiatan kenelayanan di daerah ini di masa datang diperkirakan akan semakin
meningkat. Hal ini terkait dengan dukungan kondisi geografis Desa Katurai yang kaya akan sumberdaya laut dan semakin meningkatnya interaksi penduduk dengan nelayan luar. Kecenderugan tersebut memungkinkan terjadinya transfer of knowledge dan kerjasama ekonomi di bidang pengolahan hasil laut antara penduduk Desa Katurai dengan nelayan dari luar desa.
• Kegiatan Utama
Hasil survei menunjukkan bahwa sebagian besar responden memiliki kegiatan utama bekerja selama setahun terakhir. Kondisi ini tidak mengherankan, karena seperti telah disinggung pada bagian sebelumnya, penduduk Desa Katurai didominasi oleh penduduk usia produktif. Bekerja di kalangan penduduk menjadi suatu keharusan terutama untuk menurangi beban ekonomi yang harus ditanggung oleh setiap rumah tangga. Disamping itu, menurut penuturan penduduk setempat ada perasaan malu jika terdapat anggota keluarga dewasa yang hanya menganggur, sementara sumberdaya yang tersedia sangat melimpah dan dapat diolah sebagai sumber mata pencaharian.
Data pada Tabel 3.4. berikut ini memperlihatkan komposisi kegiatan utama penduduk di Desa Katurai. Proporsi kegiatan utama terbesar adalah sedang bekerja yang mencapai 40,7 persen (158 orang dari 388 responden anggota rumah tangga usia di atas 7 tahun). Proporsi reponden yang mengaku sedang menganggur hanya sekitar 2,6 persen (10 responden). Sementara mereka yang mengaku sedang mencari pekerjaan sebesar 4,6 persen atau mencakup 18 responden dari total responden. Dari hasil tabulasi silang dengan tingkat umur, didapati bahwa mereka yang termasuk kategori menganggur adalah penduduk usia lanjut, sementara mereka yang sedang mencari pekerjaan didominasi oleh penduduk muda dan produktif.
Data pada Tabel 3.4. juga memperlihatkan bahwa terdapat perbedaan proporsi yang mencolok antara responden laki-laki dengan responden perempuan yang bekerja selama setahun terakhir. Sebagian besar anggota rumah tangga laki-laki mengaku memiliki kegiatan utama bekerja (61,4 persen), sedangkan responden anggota rumah tangga perempuan lebih banyak yang mengurus rumah tangga (41,4 persen). Data ini perlu ditafsirkan secara hati-hati, karena berdasarkan pengamatan di lapangan sering ditemukan anggota rumah tangga perempuan (kaum ibu dan remaja putri) di Desa Katurai yang juga turut melakukan kegiatan ekonomi (bekerja) seperti mencari ikan dan berkebun. Namun demikian, karena dalam komunitas masyarakat setempat pandangan terhadap peran laki-laki sebagai pencari nafkah utama sangat kuat, maka dapat dimaklumi jika peran ekonomi kaum ibu
dan remaja putri tersebut cenderung dianggap sebagai kegiatan sampingan.
Tabel 3.4.
Distribusi Responden Berusia 10 Tahun ke Atas Menurut Jenis Kegiatan dan Jenis Kelamin, Desa Katurai, 2005
Jenis Kelamin Laki-laki Perempuan Laki-laki + Perempuan No Jenis Kegiatan ∑ % ∑ % ∑ % 1 2 3 4 5 6 Bekerja Sekolah Mencari Kerja Menganggur Mengurus RT Lainnya 127 64 8 6 2 - 61,4 30,9 3,9 2,9 1,0 - 31 59 10 4 75 2 17,1 32,6 5,5 2,2 41,4 1,1 158 123 18 10 77 2 40,7 31,7 4,6 2,6 19,8 0,5 Jumlah 207 100 181 100 388 100
Sumber : Survei Data Dasar Aspek Sosial Terumbu Karang, PPK LIPI, 2005
• Jenis Pekerjaan Pekerjaan Utama
Penduduk Desa Katurai memiliki beragam jenis pekerjaan utama sebagai mata pencaharian. Proporsi terbesar adalah penduduk yang bekerja di bidang pertanian (petani) yang mencapai 60,7 persen (96 responden). Sedangkan proporsi terbesar kedua adalah penduduk yang memiliki pekerjaan utama di bidang perikanan laut (nelayan), yaitu sebesar 21,5 persen (34 responden). Sementara sisanya dalam proporsi yang relatif lebih sedikit adalah penduduk yang memiliki pekerjaan utama di bidang tenaga jasa (PNS dan pedagang) sebesar 10,1 persen (16 responden) dan tenaga industri (kuli, buruh, tenaga kasar) yang hanya mencapai 7,5 persen (12 responden). Mayoritas status pekerjaan responden berstatus berusaha sendiri (77,8 persen), dalam arti bekerja sendiri tanpa ikatan dengan majikan (boss)atau pihak lain. Sekitar 14,2 persen dari 158 responden yang bekerja berstatus sebagai pekerja keluarga (berusaha dengan anggota keluarga) dan hanya 8,2 persen yang bekerja berstatus pekerja untuk orang lain.
Diagram 3.3.
Persentase Jenis Pekerjaan Utama Responden, Desa Katurai, 2005 Jasa (Pedagang, Pegaw ai) 10.1% Industri (buruh, kuli) 7.5% Perikanan (Nelayan), 21.5% Pertanian (Petani) 60.7%
Sumber : Survei Data Dasar Aspek Sosial Terumbu Karang PPK LIPI, 2005
Penduduk yang bekerja sebagai petani memiliki variasi jenis pekerjaan utama yang paling beragam dibandingkan jenis pekerjaan utama lainnya. Variasi jenis pekerjaan bagi petani dibedakan dari jenis tanaman yang dikelola. Berdasarkan data hasil survei, kombinasi jenis pekerjaan di bidang pertanian yang dilakukan oleh penduduk Desa Katurai adalah sebagai berikut: proporsi terbesar terdapat pada petani kelapa, cengkeh dan nilam yang mencapai 69,7 persen. Sisanya adalah petani kelapa dan cengkeh yang mencapai 23,3 persen, petani kelapa dan nilam sebesar 6,5 persen, serta petani cengkeh dan nilam sebesar 4,5 persen.Terdapat dua faktor utama yang menyebabkan adanya kombinasi dalam pengelolaan kegiatan pertanian di Desa Katurai, yaitu luasnya persediaan lahan dan adanya kemudahan bagi penduduk Desa Katurai untuk mengolah lahan yang tersedia. Kedua faktor ini kemudian dianggap sebagai penyebab mudahnya bagi penduduk Desa Katurai untuk memiliki, mengolah dan melakukan kegiatan pertanian sesuai dengan minat dan kemampuan mereka masing-masing.
Menurut penuturan Kepala Desa Katurai, kepemilikan lahan di daerah ini relatif mudah, yaitu hanya diatur dengan persetujuan adat atau perjanjian dengan aparat desa. Setiap bagian lahan yang ada di Desa Katurai telah ditetapkan kepemilikannya berdasarkan pembagian suku yang diakui masyarakat setempat. Namun karena tidak seimbangnya antara jumlah anggota suku dan luasan lahan yang
tersedia, hingga saat ini masih banyak lahan di Desa Katurai yang belum termanfaatkan. Oleh karena itu, pengolahan lahan milik suku di Desa Katurai terbuka bagi penduduk asli, yaitu tidak melihat asal suku mereka, asalkan didahului dengan permohonan ijin kepada pimpinan suku atau pemilik lahan. Imbal baliknya biasanya berupa pembagian hasil kebun, pemberian dalam bentuk hadiah atau sejumlah uang. Ketentuan imbal balik ini tidak pernah diatur secara formal dan biasanya hanya tergantung dari kesadaran individu penduduk Desa Katurai yang ingin menggarap lahan milik orang lain.
Pada jenis pekerjaan utama sebagai nelayan, variasi kegiatan kenelayanan dapat dilihat berdasarkan penggunaan jenis alat tangkap dan hasil sumberdaya laut. Dari hasil survei diketahui bahwa proporsi terbesar jenis kegiatan utama kenelayanan oleh penduduk Desa Katurai adalah nelayan jaring yang mencapai 47 persen (16 responden). Proporsi selanjutnya adalah nelayan selam lola dan teripang sebesar 32,3 persen (14 responden) dan nelayan pancing yang hanya berjumlah 11,7 persen (4 responden). Kecilnya proporsi responden yang memiliki pekerjaan utama sebagai nelayan pancing berkaitan dengan adanya anggapan bahwa kegiatan memancing sebagai kegiatan luar waktu (iseng-iseng).
Berdasarkan hasil wawancara mendalam dengan nelayan setempat diketahui bahwa kombinasi tersebut sebenarnya tidak berlaku mutlak. Biasanya penggunaan jenis peralatan tangkap oleh nelayan Desa Katurai dipengaruhi oleh jumlah target hasil tangkapan. Misalnya jika kebutuhan keuangan sedang mendesak dan ingin mendapatkan penghasilan lebih besar, biasanya seorang nelayan di Desa Katurai akan melakukan kombinasi kegiatan kenelayanan, yaitu sambil menjaring juga memancing, atau siangnya berkebun sorenya menjaring ikan. Namun kondisi tersebut berbeda bagi nelayan penyelam lola dan teripang, karena sebagian besar nelayan ini biasanya hanya khusus melakukan penangkapan lola dan teripang. Jenis pekerjaan ini memiliki kekhususan karena biasanya dilakukan dalam satu kelompok dengan sistem bagi hasil. Nelayan lola dan teripang umumnya adalah penduduk berusia muda (20-40 tahun) yang mempunyai kemampuan menyelam di kedalaman air hingga 8 meter.
Pekerjaan Tambahan
Selain pekerjaan utama mayoritas penduduk Desa Katurai juga mempunyai pekerjaan tambahan. Pekerjaan tambahaan yang dimaksud dalam tulisan ini merupakan pekerjaan sampingan yang biasa dilakukan penduduk selain pekerjaan utama. Berdasarkan hasil survei dapat
dijelaskan bahwa terdapat dua jenis pekerjaan tambahan yang paling sering dilakukan oleh penduduk Desa Katurai, yaitu bekerja sebagai nelayan (66 persen) dan bertani (14,8 persen). Sementara jenis pekerjaan tambahan lainnya dengan proporsi yang relatif lebih kecil adalah pekerjaan di bidang jasa (berdagang) sebesar 7,4 persen, peternakan 6,4 persen, dan bekerja di bidang industri (buruh dan kuli) sebesar 5,3 persen.
Diagram 3.4.
Persentase Jenis Pekerjaan Tambahan Responden, Desa Katurai, 2005 Jasa (pedagang) 7.4% Perikanan (nelayan) 14.8% Peternak (babi,ayam) 6.5% Industri (buruh,kuli) 5.3% Pertanian (petani) 66%
Sumber : Survei Data Dasar Aspek Sosial Terumbu Karang PPK LIPI, 2005
Besarnya jenis pekerjaan tambahan sebagai nelayan dibandingkan dengan bertani dapat dimaklumi karena seperti diulas pada bagian sebelumnya, mayoritas pekerjaan utama penduduk adalah bertani. Kedua jenis pekerjaan tambahan ini dilakukan baik oleh penduduk laki-laki maupun perempuan. Jadi ada dua kombinasi terbesar dalam pekerjaan utama dan tambahan di Desa Katurai, yaitu antara pertanian lahan dan kegiatan kenelayanan. Kondisi ini semakin menjelaskan bahwa walaupun pada dasarnya penduduk Desa Katurai berorientasi hidup pada kegiatan agraris (pertanian lahan) namun sebagai masyarakat pesisir mereka juga tidak terlepas dari kegiatan kenelayanan. Artinya, sumberdaya darat (lahan) dan laut (SDL) telah menjadi satu bagian bagi sumber kehidupan penduduk Desa Katurai.
Diagram 3.5.
Strategi Pekerjaan Penduduk Desa Katurai
Pekerjaan tambahan juga dilakukan secara tidak menentu tergantung pada kebutuhan dan waktu pelaksanaan pekerjaan tersebut. Misalnya seorang penduduk yang memiliki pekerjaan utama sebagai petani, pada waktu tertentu dirinya tidak pergi bertani atau berladang, namun melakukan pekerjaan tambahan seperti pergi menjaring ikan. Atau sebaliknya, seorang penduduk yang memiliki pekerjaan utama
Strategi Kerja Kerja Pertanian lahan Kerja Bukan Pertanian Lahan Nelayan Buruh Pegawai/ Karyawan Peternak Bertani Kebun Kelapa/kopra Cengkeh Nilam Coklat Palawija Buah Musiman Teripang Lola Ikan Kepiting Angkut Bangunan Ayam Babi PNS/Guru Resort i Tukg. Kayu Kedai Pedagang
sebagai nelayan, biasanya pada saat musim panen cengkeh atau kelapa akan meninggalkan pekerjaan utamanya sebagai nelayan. Selain itu, kegiatan pekerjaan tambahan sering dilakukan ketika pekerjaan utama selesai dikerjakan. Misalnya dari pagi hingga siang hari penduduk bekerja di ladang dan sore hari menjaring ikan atau sebaliknya. Dari berbagai kebiasaan tersebut dapat disimpulkan bahwa penduduk di Desa Katurai tergolong giat bekerja (multi employment/pluri activity) dan hanya sebagian kecil dari penduduk yang bekerja memiliki satu jenis pekerjaan. Mayoritas dari mereka memiliki kombinasi pekerjaan sesuai dengan kebutuhan dan kemampuannya masing-masing.