• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II PROFIL DAERAH PENELITIAN

2.2. Potensi Sumberdaya Alam

Sumber : Dokumentasi COREMAP-PPK LIPI, 2005

Cara kedua adalah jalur alternative yaitu menggunakan jalur laut langsung menuju Dusun Malilimok, jika perjalanan melalui jalur pertama tidak dapat ditempuh (air surut/sore dan malam hari). Namun demikian untuk menggunakan jalur kedua ini diperlukan ukuran dan kemampuan kapal yang lebih besar. Perjalanan menggunakan jalur kedua ini menyusuri pantai selatan yang berbatasan langsung dengan perairan lepas Selat Mentawai. Ombak di daerah ini juga cukup besar dan pada waktu-waktu tertentu bisa mencapai 2-4 meter. Jika tidak berpengalaman melewati jalur ini maka resiko menabrak karang dan arus keras akan sangat besar. Oleh karena itu, sangat jarang penduduk di Desa Katurai yang menggunakan jalur ini, selain karena ketiadaan sarana transportasi yang memadai, jaminan keselamatan dalam perjalanan juga sangat riskan.

2.2. Potensi Sumberdaya Alam

Desa Katurai memiliki sumberdaya alam yang sangat melimpah dan beraneka ragam, baik sumberdaya lahan maupun sumberdaya laut. Belum lagi potensi lainnya seperti kehidupan tradisional masyarakat (sosial budaya) dan keindahan alam di daerah ini yang sangat potensial untuk kegiatan pariwisata. Namun demikian, pemanfaatan sumberdaya tersebut hingga saat ini terlihat belum optimal. Kondisi tersebut

terkendala oleh berbagai faktor terutama karena belum berkembangnya kegiatan ekonomi di daerah ini akibat minimnya sarana prasarana serta keterisolasian yang menyebabkan daerah ini tertinggal dalam proses pembangunan.

2.2.1. Sumberdaya Darat

Memasuki wilayah Desa Katurai, setelah menyusuri sungai Taileleu dengan lebatnya hutan bakau, maka akan terlihat bentangan luas perbukitan dan hutan di sepanjang perairan teluk desa ini. Sepanjang pesisir desa dan perbukitan terlihat pohon-pohon besar berusia puluhan tahun yang didominasi oleh berbagai jenis pohon kayu, tanaman buah musiman dan deretan pohon kelapa. Diantara berbagai jenis pohon kayu yang banyak tumbuh di daerah ini adalah jenis pohon kayu meranti, sengon, dan kruing. Sedangkan jenis pohon tanaman buah musiman adalah durian, mangga, dan rambutan. Sementara beberapa tanaman budidaya perkebunan diantaranya adalah kelapa, cengkeh dan coklat.

Kelapa dan cengkeh merupakan tanaman perkebunan yang sudah lama dikembangkan oleh masyarakat Desa Katurai. Pengelolaan perkebunan (khususnya kelapa dan cengkeh) dilakukan secara tradisional, yaitu tanpa pengaturan lahan pada hamparan tertentu (sistem acak) ataupun proses pemeliharaan yang reguler dan sistematis. Tanaman kelapa dan cengkeh yang dikembangkan di daerah ini tumbuh diberbagai tempat dan minim dalam pengelolaan, sebagaimana yang harus dilakukan dalam kegiatan budidaya perkebunan (seperti pemupukan, penyiangan dan pemberantasan hama). Menurut keterangan tokoh masyarakat setempat, tanaman kelapa yang diolah menjadi kopra sudah dikembangkan di daerah ini sejak tahun 1960-an sedangkan cengkeh dimulai sejak tahun 1980-an. Kedua jenis komoditas perkebunan tersebut saat ini menjadi salah satu sumber utama bagi pendapatan ekonomi masyarakat Desa Katurai. Selain itu, bagi masyarakat Desa Katurai kepemilikan lahan perkebunan tidak hanya sebagai sumber pendapatan tetapi juga merupakan prestise sosial. Artinya semakin luas kebun kelapa dan cengkeh yang dikelola, semakin tinggi status sosial seseorang di desa tersebut.

Selain kelapa dan cengkeh, masyarakat di Desa Katurai juga sedang mengembangkan tanaman coklat. Beberapa tanaman coklat yang ditanam penduduk setempat sudah ada yang menghasilkan seperti yang ditemukan di Dusun Sarousow. Namun demikian pengembangan tanaman coklat ini masih sangat terbatas dan umumnya masih berupa tanaman pekarangan. Penduduk di Desa Katurai juga sedang

mengembangkan tanaman nilam. Tanaman nilam adalah sejenis tanaman budidaya yang diambil daunnya untuk diolah menjadi minyak sebagai bahan dasar industri farmasi dan kosmetik. Menurut keterangan narasumber di lokasi penelitian, hasil minyak nilam dari Mentawai sebagian besar ditujukan untuk tujuan ekspor ke Singapura dan Jepang. Budidaya nilam memiliki prospek cerah dan diperkirakan akan semakin meningkat di masa mendatang. Selain karena kesesuaian kondisi lahan, harga jual hasil olahan minyak dari tanaman ini juga cukup tinggi. Budidaya nilam juga telah ditetapkan menjadi salah satu program unggulan Pemerintah Daerah Kabupaten Mentawai dan diharapkan menjadi alternatif baru sumber pendapatan masyarakat setempat.

Foto 2.3.

Budidaya Tanaman Nilam : Alternatif Sumber Pendapatan Penduduk

Sumber : Dokumentasi COREMAP-PPK LIPI, 2005.

Desa Katurai merupakan sentra tanaman hasil buah musiman seperti durian, rambutan dan mangga di Kecamatan Siberut Selatan. Berdasarkan data BPS tahun 2002, jumlah tanaman durian di Kecamatan Siberut Selatan mencapai sekitar 40.894 pohon atau 61 persen dari total 66.512 pohon durian yang ada di Kabupaten Mentawai, dengan total produksi mencapai 290,50 ton per tahun. Diperkirakan sekitar 40 persen pohon durian tersebut tumbuh di Desa Katurai. Sementara itu, untuk tanaman rambutan berjumlah 10.213 pohon atau sekitar 50 persen dari total 22.897 pohon yang terdapat di Kabupaten Mentawai. Setiap tahun produksi rambutan dari Kecamatan Siberut Selatan mencapai 76,25 ton atau 50 persen dari total produksi buah rambutan dari Kabupaten Mentawai yang berjumlah 150,50 ton per tahun (BPS,2002). Selain kedua jenis tanaman buah tersebut, Desa Katurai juga memproduksi tanaman buah musiman lainnya seperti duku,

nangka, manggis dan jambu biji. Namun volume produksinya masih terbilang rendah dan hanya untuk konsumsi penduduk lokal. Menurut keterangan penduduk setempat, setiap musim buah tertentu, selalu saja ada ‘pemborong’ yang datang ke Desa Katurai untuk ‘memborong’ buah-buhan yang siap panen dan selanjutnya dijual ke berbagai sentra pasar buah yang ada di Sumatera Barat.

2.2.2. Sumberdaya Laut

Desa Katurai memiliki kekayaan sumberdaya laut yang sangat besar dan beraneka ragam, namun ironis, pemanfaatan sumberdaya tersebut lebih banyak dimanfaatkan oleh penduduk dari luar desa ini. Hal tersebut salah satunya disebabkan oleh kemampuan permodalan (terutama peralatan tangkap) penduduk di Desa Katurai yang terbatas serta keterisolasian desa ini dari akses pasar dan kegiatan ekonomi yang lebih berkembang. Beberapa potensi SDL yang terdapat di sekitar Desa Katurai adalah berbagai jenis ikan, teripang, lola dan hewan bercangkang, ekosistem terumbu karang dan hutan mangrove/bakau. Berikut ini uraian mengenai masing-masing potensi tersebut.

Berbagai Jenis Ikan

Potensi ikan di Desa Katurai dapat dibedakan berdasarkan lokasi perairan yang ada di desa ini. Untuk perairan dangkal, seperti di sekitar pemukiman penduduk (terutama di dekat Dusun Tiop dan Sarousow) umumnya jenis ikan yang banyak ditemukan adalah ikan bandeng, sisik putih (tamban), kerapu bakau dan udang bakau. Ketiga jenis ikan ini merupakan jenis ikan yang banyak ditangkap oleh nelayan Desa Katurai. Jenis ikan yang menjadi primadona Desa Katurai adalah kerapu bakau, selain nilai ekonominya (harga) cukup tinggi, potensi bibit dan habitat jenis ikan ini masih sangat besar dan sangat menjanjikan untuk dikembangkan. Selain ketiga jenis ikan tersebut, di sekitar perairan dangkal desa ini juga banyak ditemukan kepiting bakau, terutama di sekitar areal hutan bakau yang banyak tumbuh di sepanjang pantai. Sejak tahun 2003 kepiting bakau telah menjadi sumber pendapatan baru bagi nelayan di Desa Katurai (khususnya nelayan di Dusun Tiop dan Saraousow), terutama setelah adanya agen penampung kepiting bakau di daerah ini.

Pada bagian perairan teluk dan perairan terbuka di Desa Katurai terdapat berbagai jenis ikan pelagis dan ikan karang. Beberapa jenis ikan laut yang dapat ditangkap di sekitar perairan tersebut antara lain adalah ikan cakalang, tuna, tongkol, tenggiri, kembung, layur, teri, kuwe, dan kakap. Sementara untuk jenis ikan karang diantaranya adalah

berbagai jenis ikan kerapu, napoleon (somay), udang karo (lobster) dan berbagai jenis udang. Berbagai jenis ikan laut dan karang tersebut umumnya ditangkap oleh nelayan dari luar Desa Katurai, diantaranya nelayan dari Desa Muara Siberut, Sipora, Pagai, Padang bahkan dari Nias.

Teripang dan Lola

Selain berbagai jenis ikan, perairan Desa Katurai juga kaya akan sumberdaya laut seperti teripang, lola, cumi-cumi dan hewan laut bercangkang lainnya. Khusus teripang dan lola, kedua jenis hasil laut ini merupakan primadona tangkapan nelayan Desa Katurai. Teripang oleh penduduk setempat dikenal dengan sebutan ‘sualo’. Sedangkan lola dalam sebutan lokal adalah ‘laklak’.

Foto 2.4.

Teripang dan Lola : Primadona Hasil Laut Nelayan Desa Katurai

Sumber : Dokumentasi COREMAP-PPK LIPI, 2005

Terumbu Karang

Ekosistem terumbu karang di Desa Katurai menyebar di beberapa titik lokasi, yaitu mulai dari perairan pantai di Dusun Malilimok dan Dusun Taleulebo, hingga sekitar perairan terluar di beberapa pulau kecil. Kondisi terumbu karang yang tersebar di perairan Desa Katurai bervariasi dari yang paling rusak (mati) hingga dalam kondisi sangat sehat (karang hidup). Pulau pulau kecil seperti pulau Pulau Karamajat dan Nyang-nyang merupakan salah satu contoh pulau kecil yang

memiliki kondisi terumbu karang cukup sehat. Mengutip hasil penelitian P2O LIPI (2004) tutupan karang hidup di sekitar perairan dua pulau tersebut mencapi 75-100 persen. Artinya kondisi terumbu karangnya tergolong masih baik. Maka tidak mengherankan jika perairan di kedua pulau tersebut menjadi salah satu daerah tujuan penangkapan ikan dan biota laut bagi penduduk setempat dan nelayan dari luar daerah.

Hutan Mangrove

Hutan mangrove di Desa Katurai banyak tumbuh di sepanjang pesisir perairan pantai terutama di bagian Utara yang berbatasan dengan Desa Muara Siberut. Kondisinya masih sangat baik dengan tingkat kerapatan pohon mencapai 473 batang /Ha dan 2.905 batang anak pohon/Ha serta tingkat pemanfaatan masih rendah. Ekosistem mangrove didominasi oleh jenis bakau api-api dan nipah. Rata-rata tinggi pohon bakau api di daerah ini mencapai 13,5 meter untuk pohon besar dan 4,93 meter untuk anak pohon, dengan diameter kayu mencapai 14,80 cm untuk pohon besar dan 5,07 cm untuk anak pohon (P20 LIPI, 2004). Penduduk lokal memanfaatkan jenis bakau api sebagai sumber kayu bakar dan bangunan rumah (penyangga atap). Berdasarkan pengamatan, aktivitas pemanfaatan bakau tersebut tidak termasuk sebagai kegiatan yang mengancam kelestarian hutan mangrove di daerah ini, karena pemanfaatannya masih dalam batas kewajaran dan tidak signifikan dengan luasan hutan mangrove yang ada di Desa Katurai.

2.2.3. Kegiatan Wisata

Selain sumberdaya laut berupa kekayan berbagai jenis ikan dan keragaman terumbu karang, Desa Katurai juga memiliki potensi kegiatan wisata laut. Salah satu kegiatan wisata laut yang saat ini sedang dikembangkan adalah wisata laut di Pulau Nyang-nyang dan Karamajat. Menurut catatan Dinas Pariwisata Kabupaten Mentawai, ketinggian ombak di Pulau Nyang-nyang adalah nomor tiga tertinggi di dunia yaitu mencapai 4 meter (Dinas Pariwisata Kabupaten Mentawai, 2004:19). Oleh sebab itu, tidak mengherankan jika kawasan perairan di Pulau Nyang-nyang telah menjadi salah satu tujuan wisata selancar yang terkenal di Indonesia. Pada bulan tertentu, terutama pada musim ombak besar, banyak wisatawan mancanegara yang mengunjungi lokasi ini untuk kegiatan berselancar (surfing). Di Pulau Karamajat wisata laut sedang dikembangkan kegiatan snorkling. Wisatawan yang berkunjung ke pulau ini umumnya tertarik untuk melihat keindahan alam bawah laut terutama keindahan terumbu karang di daerah ini yang masih terjaga baik. Di tempat ini juga tersedia penginapan (homestay) di atas keramba

ikan atau dikenal dengan sebutan Homestay Terapung. Saat penelitian ini dilakukan, pemerintah daerah setempat sedang mengembangkan Pulau Karamajat untuk dijadikan sebagai salah satu tujuan wisata laut di Kabupaten Mentawai. Diperkirakan pada masa mendatang kegiatan wisata laut di daerah ini akan semakin berkembang seiring dengan komitmen besar Pemerintah Daerah Kabupaten Mentawai yang telah menetapkan sektor pariwisata laut sebagai andalan kegiatan pembangunan di daerah ini.

Desa Katurai juga memiliki potensi wisata di bidang wisata ilmiah (wisata penelitian), terutama terkait dengan keberadaan plasma nutfah atau tumbuhan langka yang banyak tumbuh di daerah ini. Disamping itu, kebiasaan pemanfaatan tumbuh-tumbuhan sebagai sumber pengobatan oleh penduduk asli Mentawai juga telah banyak menarik perhatian para ahli biologi tumbuhan, baik dari dalam maupun luar negeri, untuk melakukan penelitian di daerah ini. Jika dilakukan secara serius kekayaan tumbuhan obat tersebut sangat mungkin untuk dikembangkan menjadi sumber bahan baku untuk industri pengobatan tradisional (herbal medicine).

Dokumen terkait