• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II PROFIL DAERAH PENELITIAN

2.5. Kelembagaan Ekonomi dan Sosial

Sebagai sebuah daerah yang baru berkembang, maka tidak mengherankan jika kegiatan kelembagaan ekonomi dan sosial masih terpusat di ibukota kecamatan. Kelembagaan seperti perbankan (BRI), kantor pos, telepon (Telkom), pasar tradisional, pelabuhan, penginapan (hotel melati), dan restoran, hanya dapat ditemui di ibukota kecamatan. Konsekuensinya, bagi penduduk di luar ibukota kecamatan (seperti dari Desa Katurai) yang ingin memanfaatkan sarana tersebut harus datang ke ibukota kecamatan. Kegiatan kelembagaan ekonomi di luar ibukota kecamatan belum berkembang dan umumnya hanya berbentuk ‘papan nama’. Misalnya, kelembagaan koperasi di Desa Katurai. Berdasarkan catatan data statistik BPS, 2002, di desa ini terdapat dua lembaga koperasi yaitu KSU Kosum dan KSU Silebet Simaeru. Namun menurut pengakuan aparat desa setempat, kelembagaan koperasi tersebut saat ini sudah tidak berjalan dan hanya tinggal nama saja. Kendala utama kegiatan kelembagaan tersebut adalah ketidaktersediaan modal dan kurangnya dukungan dari masyarakat setempat.

Kelembagaan ekonomi yang berperan besar dalam kehidupan masyarakat Desa Katurai adalah usaha warung (kedai). Usaha kedai di Desa Katurai berjumlah sekitar 15 kedai dengan jumlah terbanyak berada di Dusun Malilimok (6 Kedai). Selain menyediakan barang-barang kebutuhan pokok bagi penduduk, usaha kedai juga merangkap sebagai agen pengumpul hasil pertanian dan perikanan (laut) dari penduduk di Desa Katurai. Hasil pertanian yang diperdagangkan adalah kopra, cengkeh, coklat, minyak nilam dan buah musiman, sedangkan hasil laut misalnya ikan kerapu bakau hidup, lola, teripang, kepiting, dan udang lobster. Biasanya seorang pemilik kedai di Desa Katurai mempunyai jaringan kerjasama dengan agen pengumpul di tingkat kecamatan. Kerjasama antar pengumpul di tingkatan yang berbeda ini dapat berupa hubungan penjual dan pembeli atau sebagai pemberi

modal dan penerima komisi. Hubungan kerjasama yang terjadi tergantung kesepakatan diantara pemilik kedai dengan agen pengumpul di ibukota kecamatan tersebut.

Seorang pemilik kedai juga dapat merangkap sebagai pemberi modal. Biasanya kegiatan ini berkaitan dengan aktivitas ekonomi bagi hasil kenelayanan. Pemilik kedai yang memiliki modal besar biasanya memberikan fasilitas berupa penyediaan alat tangkap dan kebutuhan logistik kepada nelayan. Misalnya, sistem bagi hasil nelayan selam lola dan teripang di Dusun Malilimok. Pada jenis kerjasama seperti ini pemilik kedai biasanya berperan sebagai pemberi modal berupa penyediaan peralatan selam, perahu motor, bahan bakar dan kebutuhan logistik. Sementara itu, di pihak nelayan berperan sebagai pencari hasil laut. Sisten bagi hasil tersebut ditentukan berdasarkan kesepakatan antara nelayan dengan pemilik kedai dan biasanya dihitung berdasarkan pembagian jumlah nelayan yang terlibat, biaya operasional dan hasil yang diperoleh.

Keberadaan kedai di Desa Katurai juga dimanfaatkan penduduk sebagai tempat ‘bersosialisasi’. Seringkali kedai digunakan sebagai tempat istirahat para nelayan atau penduduk setempat sambil membicarakan berbagai pemikiran di antara mereka. Tema pembicaraan sangat beragam, dari pembicaraan tentang perkembangan politik, masalah ekonomi, hukum, hingga kehidupan sehari-hari diantara penduduk. Oleh karena itu, dalam merancang strategi pengembangan masyarakat di Desa Katurai, peran sebuah kedai tidak bisa dikesampingkan, terutama sebagai wadah sosialisasi untuk mendukung keberhasilan pelaksanaan program pengembangan masyarakat.

Selain kelembagaan ekonomi, di Desa Katurai juga dapat ditemui beberapa kelembagaan yang bersifat sosial. Beberapa kelembagaan sosial ini dapat dibedakan berdasarkan latar belakang anggota kelompok dan kegiatan yang dilakukan. Kelembagaan sosial yang hingga saat penelitian ini aktif berjalan diantaranya adalah:

(a) Kelompok Wanita Katolik (WK); sesuai dengan namanya kelembagaan ini merupakan salah satu kelembagaan sosial keagamaan yang ada di Desa Katurai. Kelembagaan ini beranggotakan para ibu ramah tangga yang beragama Katolik dengan jumlah anggota sekitar 50 orang. Kegiatan utama kelembagaan ini adalah kebaktian dan do'a bersama, diskusi kitab suci, olah raga, kunjungan sosial, bakti sosial pada acara pesta adat dan upacara kematian.

(b) Kelompok Wanita Protestan; kelembagaan ini juga berlatar belakang kegiatan keagamaan. Jumlah anggota yang terlibat dalam kelembagaan ini berjumlah sekitar 25 orang. Kegiatan yang dilakukan tidak berbeda dengan kelembagaan WK diantarnya adalah kebaktian bersama, diskusi kitab suci, olah raga, kunjungan sosial, dan kerja bakti untuk pesta dan upacara kematian.

(c) Kelompok Muda Mudi (Mudika). Kelembagaan ini merupakan wadah bagi para generasi muda di Desa Katurai dalam mengembangkan minat bakat dan interaksi sosial diantara mereka. Menurut keterangan ketua lembaga ini, jumlah pemuda yang tercatat aktif dalam kegiatan kelembagaan ini berjumlah sekitar 50 orang, sebagian besar mereka berasal dari Pemuda Dusun Malilimok. Kegiatan utama kelembagaan ini diantaranya adalah olah raga bola voli dan sepak bola, diskusi keagamaan, perayaan hari besar seperti 17 agustusan, natal dan tahun baru, serta kegiatan sosial seperti kerja bakti.

Selain ketiga kelembagaan sosial tersebut terdapat juga beberapa kelembagaan sosial lainnya seperti PKK dan Lembaga Adat. Namun demikian, menurut penuturan beberapa tokoh masyarakat di Desa Katurai kedua lembaga tersebut jarang sekali melakukan kegiatan walaupun eksistensinya masih diakui. Alasannya karena sebenarnya kegiatan kedua lembaga tersebut sudah terwakili pada kelembagaan sosial yang sudah berjalan di Desa Katurai, seperti pada Kelompok Wanita Katolik dan Kelopok Wanita Protestan dan Mudika.

Menurut pengakuan aparat Desa Katurai, pada akhir tahun 1999, pernah ada pembentukan kelompok nelayan Desa Katurai yang difasilitasi oleh pemda setempat melalui Dinas Perikanan dan Kelautan (DKP). Beberapa anggota kelompok nelayan tersebut juga menuturkan pernah mendapatkan pelatihan organisasi berkaitan dengan pembentukan kelompok nelayan tersebut. Namun kegiatan kelompok nelayan ini tidak berjalan optimal dan pada saat penelitian ini dilaksanakan status kelembagaan kelompok nelayan di Desa Katurai vakum dari kegiatan. Menurut penjelasan aparat desa setempat, tidak berjalannya kegiatan kelompok nelayan di Desa Katurai karena bimbingan dari instansi yang berwenang sangat minim. Padahal bagi sebagian besar masyarakat Desa Katurai untuk mengembangkan kegiatan sebuah kelembagaan yang bersifat keorganisasian masih pada tahap pembelajaran. Oleh karena itu, untuk menghidupkan kembali kegiatan kelompok nelayan di Desa Katurai dibutuhkan komitmen nyata dari berbagai pihak, terutama nelayan setempat dan instansi terkait, tidak hanya bersifat jangka pendek tetapi harus berkesinambungan.

Dokumen terkait