• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB III KONDISI DAN DINAMIKA PENDUDUK

4.3. Teknologi Penangkapan

4.3. Teknologi Penangkapan

Kalau dibandingkan dengan jenis-jenis teknologi penangkapan yang dikembangkan di Kabupaten Mentawai, alat tangkap yang dikembangkan di Desa Katurai sangat spesifik dan tingkat perkembangan alat tangkap ini menggambarkan tingkat ketergantungan penduduk dengan sumberdaya laut. Sementara itu, dilihat dari sisi nilai ekonomi hasil tangkapan, penduduk Desa Katurai membedakan ikan menjadi ikan lokal dan ikan ekspor. Ikan lokal adalah sebenarnya ikan yang ditangkap untuk kebutuhan makan sehari-hari, sedangkan ikan ekspor adalah ikan yang mempunyai nilai pasar. Tampaknya, penduduk Katurai tidak mengenal ikan yang dijual ke pasar lokal. Hal ini menunjukkan tidak ada sarana dan prasarana pemasaran hasil laut di daerah ini. Berikut ini gambaran teknologi penangkapan yang dikembangkan berdasarkan beberapa jenis kegiatan kenelayanan yang biasa dilakukan oleh penduduk di Desa Katurai.

• Menyelam mencari lola. Tradisi menyelam telah lama dikenal orang Mentawai khususnya oleh penduduk di Desa Katurai. Aktivitas penyelaman ini merupakan bagian dari sistem mata pencaharian asli penduduk Katurai yaitu mencari lola (laklak). Kegiatan mencari lola adalah kegiatan di laut yang sudah lama dikembangkan penduduk desa Katurai, Siberut Selatan. Mata pencaharian mencari lola mulai muncul sejak tahun 1960-an. Jenis Lola yang dicari adalah jenis lola merah, troka, dan susu bundar. Biota laut ini hidup pada karang-karang di tempat yang tidak berlumpur dan banyak ditumbuhi algae. Jenis crustacae (hewan bercangkang keras) ini memiliki nilai ekonomi. Cangkang biota laut ini dimanfaatkan untuk kerajinan tangan, seperti anting-anting, mata kalung, gelang, bross, concin dan lain-lain.

• Mencari Teripang. Mata pencaharian penduduk dengan mencari teripang (Sualo/Stichocus spp) baru berkembang di Desa Katurai sejak tahun 1970-an. Jenis teripang yang diambil di perairan ini adalah Teripang Susu, Gadjah, Laling Merah, Laling Hitam, Kucing, Nenas, Sepon, Kunyit, Pulut, dan Karang. Teripang termasuk komoditi hasil laut yang memiliki nilai ekonomi tinggi karena

merupakan jenis komoditi ekspor. Teripang bagi penduduk Desa Katurai merupakan sumber pendapatan untuk mendapatkan uang tunai, selain lola dan kopra. Teripang diperkenalkan pertama kali dari orang Sipora dan Buton yang datang ke desa ini. Dari orang Sipora dan Buton ini, penduduk Desa Katurai kemudian belajar mengambil teripang di laut dengan cara menyelam menggunakan alat bantu kompresor dan masker.

Di desa Katurai terdapat 4 orang yang memiliki alat kompressor. Jumlah pemilik kompresor di desa ini memang masih sedikit dibandingkan dengan alat tangkap lainnya. Harga sebuah mesin kompresor sekitar 6-7 juta rupiah. Harga setiap unit penangkapan teripang ini dianggap mahal bagi kebanyakan penduduk Katurai. Oleh sebab itu, penduduk yang memiliki kompressor pada umumnya adalah penduduk yang membuka kedai kebutuhan sehari-hari. Pemilik kompressor biasanya juga seorang penampung hasil tangkapan teripang. Setiap, pemilik kompressor biasanya mempekerjakan 4 orang. Jadi dengan demikian, jumlah penduduk yang memiliki mata pencaharian mencari teripang diperkirakan sekitar 16 orang.

• Menangkap Kepiting Sungai/Bakau . Kepiting bakau juga salah satu komoditi hasil laut yang memiliki nilai ekonomi bagi penduduk Desa Katurai khususnya di Dusun Saroausou. Kepiting dijual kepada agen yang berasal dari luar desa. Kepiting ukuran L (besar/7 Ons keatas ) dijual dengan harga Rp. 35.0000,- per kg, Kepiting ukuran M ( 3-7 ons) dihargai Rp. 18.000,- per kg dan kepiting ukuran S (3 ons kebawah) seharga Rp. 5.000,-. Kepiting tidak memimiliki musim, tetapi waktu menangkap tergantung pada pasang air laut. Dalam satu bulan, waktu yang efektif untuk menangkap kepiting hanya satu minggu. Pekerjaan menangkap kepiting di desa ini pada umumnya dilakukan oleh kalangan ibu-ibu rumah tangga. Mata pencaharian mencari kepiting ini dilakukan sejak tahun 1980-an. • Memancing. Pancing tonda (troll line) dan ranggunga (hand and

lines) adalah jenis alat tangkap untuk memancing yang biasa digunakan oleh penduduk di Desa Katurai. Pancing tonda atau sering juga disebut rawai adalah alat tangkap yang biasanya digunakan untuk memancing berbagai jenis ikan seperti ikan kerapu, tenggiri, kakap dan tuna. Alat tangkap ini memiliki sekitar 10 mata pancing. Pancing ini terdiri tali pancing yang yang diikatkan dengan sejumlah mata pancing. Umpan yang digunakan berupa ikan-ikan kecil. Jenis Kerapu yang ditangkap nelayan Katurai adalah jenis kerapu bakau. Jenis Kerapu Bakau terdapat di perairan muara

sungai Katurai. Hal ini karena wilayah perairan muarai sungai Desa Katurai masih banyak ditumbuhi tanaman bakau .

Jaring Insang (Gillnet). Jaring insang adalah alat tangkap yang digunakan penduduk Desa Katurai yang dipasang menetap untuk sementara waktu dengan menggunakan jangkar (Set Gill Net). Jaring ini ditanam pada kedalaman sekitar di bawah 5 meter. Seperti diketahui wilayah tangkap mulai dari Teluk Katurai sampai ke perairan pedalaman sangat dangkal. Oleh sebab itu, jaring gillnet adalah bentuk penyesuaian alat tangkap nelayan Desa Katurai. Penduduk biasa memasang jaring pada malam hari, kemudian pada esok paginya jaring diambil. Ikan hasil tangkapan melalui alat tangkap ini lebih banyak dimanfaatkan untuk kebutuhan makan sehari-hari. Kalaupun mendapatkan hasil tangkapan lebih, biasanya dijual ke tetangga yang tidak menangkap ikan atau tidak sempat menanam jaring.

Foto 4.1.

Jenis Jaring yang Biasa Digunakan Nelayan Desa Katurai,2005

Sumber : Dokumentasi COREMAP-PPK LIPI, 2005

Jaring insang adalah jaring yang berbentuk empat persegi panjang. Agar jaring tidak hanyut oleh arus, jaring dilengkapi dengan pemberat yang diletakan pada tali yang berada di setiap lingkaran tepi. Selain itu, pada tali jaring di sebelah atas diikat pelampung sehingga posisi jarring dapat berdiri tegak lurus dan tidak miring kerena tekanan arus dan gelombang laut. Biasanya jenis ikan yang dapat ditangkap oleh jaring jenis ini tergantung dari besaran mata

jaring yang digunakan. Berdasarkan pengamatan nelayan di Desa Katurai membedakan jaring gillnet menjadi tiga ukuran, yaitu 3 m (L) x 50 m (P), 3 m (L) x 100 m (P), 7 m (L) x 50 m (P), 7 m (L) x 100 m (P).

Berdasarkan mata jaring ini, dapat dibedakan peruntukan jaring insang. Jaring insang yang memiliki ukuran 5 cm adalah jenis jaring insang yang digunakan untuk menjaring ikan-ikan seperti ikan tenggiri, kerapu, gabus. Jaring insang berukuran mata jaring 3 cm digunakan untuk menjaring jenis ikan goriga dan mata jaring berukuran 1,5 cm untuk menjaring ikan tembang (sardinella fimbriata). Selain keempat tipe jaring di atas, di Desa Katurai juga dikembangkan jenis jaring yang berukuran 1 m x 10 m dengan lebar mata jaring 5 cm. Jenis jaring ini khusus digunakan untuk menjaring jenis kerang-kerangan, seperti kepiting bakau, udang, lobster. Tradisi menjaring ikan sudah lama dikenal penduduk Desa Katurai. Jaring pada waktu itu dibuat dari bahan kulit pohon melinjo. Sementara jenis jaring nilon mulai dikenal di desa ini sejak tahun 1980-an. Hingga saat ini penduduk Katurai sudah bisa merangkai sendiri jaring dari bahan nylon.

Dokumen terkait