• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II PROFIL DAERAH PENELITIAN

2.4. Sarana dan Prasarana

3 4 5 6 7 8 9 10 Pasakiat Madobak Ugai Katurai Muara Siberut Maililipet Muntei Saliguma Sarareket Ulu Sagulubek Saibi Samuko 1278 988 998 1312 417 711 690 544 638 912 1147 923 855 1129 347 620 716 530 506 825 2.468 1.947 1.874 2.470 770 1.338 1.424 1.101 1.168 1.731 Jumlah 8489 7597 16.290

Sumber : Kabupaten Mentawai Dalam Angka, BPS, 2003

Wilayah Desa Katurai termasuk daerah jarang penduduk, terlihat dari tingkat kepadatan penduduk yang hanya mencapai 12 orang per km2. Bandingkan dengan kepadatan penduduk di ibukota kecamatan (Desa Muara Siberut) yang mencapi 58 orang per km2 atau di ibukota kabupaten (Tua Pejat) yang mencapai 98 orang per km2. Salah satu dampak dari masih rendahnya tingkat kepadatan penduduk di daerah ini adalah belum optimalnya pemanfaatan lahan daratan di Desa Katurai yang sebagian besar masih berupa hutan dan perbukitan tanpa penghuni

2.4. Sarana dan Prasarana

Kehidupan masyarakat dan proses pembangunan di Kabupaten Mentawai (juga di Desa Katurai) terlihat lebih berkembang sejak daerah ini menjadi wilayah kabupaten yang otonom. Menurut pendapat tokoh masyarakat setempat, ketika Mentawai masih menjadi bagian dari Kabupaten Padang Pariaman, kegiatan pembangunan di daerah ini berjalan lambat dan Mentawai jarang sekali ‘dilirik’ orang. Sebaliknya, selama empat tahun terakhir sejak tahun 2000, kegiatan pembangunan mulai terasa berkembang terutama setelah akses transportasi dari dan ke Mentawai relatif lancar. Hingga saat ini hampir setiap hari ada kapal

penumpang dan barang yang berangkat dari Padang ke Mentawai dan sebaliknya. Sarana pendidikan, sosial, dan ekonomi juga telah banyak dibangun terutama di pusat kecamatan yang semakin membuka Mentawai sebagai daerah baru dan terus berkembang. Desa-desa di Kecamatan Siberut Selatan juga mulai terjangkau sarana pembangunan walaupun perkembangannya masih terbatas. Berikut ini uraian tentang perkembangan sarana dan prasarana yang terdapat di Kecamatan Siberut Selatan dan Desa Katurai.

2.4.1. Pendidikan

Dilihat dari luas daerah dan penyebarannya, jumlah sarana pendidikan di Kecamatan Siberut Selatan terbilang masih minim, terutama untuk jenjang pendidikan setingkat SMP dan SMA. Apalagi untuk sarana pendidikan setingkat akademi/perguruan tinggi yang hanya dapat diakses di luar Kabupaten Mentawai. Tidak mengherankan jika keadaan ini juga menjadi kendala utama bagi orang tua murid (terutama yang tinggal di luar ibukota kecamatan) untuk menyekolahkan anak-anak mereka ke tingkat yang lebih tinggi (SMP ke atas). Kondisi ini kemudian berdampak terhadap tingginya tingkat droup out atau murid tidak melanjutkan ke jenjang SMP ke atas di daerah ini.

TabeL 2.5.

Jumlah Sekolah, Kelas, Guru, dan Murid Menurut Tingkat Pendidikan, Kecamatan Siberut Selatan, Kabupaten Mentawai, 2002

Sekolah Tingkat Pendidikan

Negeri Swasta Kelas Guru Murid Sekolah Dasar (SD) 20 1 126 108 2263 Sekolah Menengah Pertama (SMP) 1 1 12 36 379 Sekolah Menengah Atas (SMA) 1 - 7 16 345 Akademi/Perguruan Tinggi - - - - -

Jumlah 22 2 145 160 2987

Sumber : Kecamatan Siberut Selatan Dalam Angka, BPS, 2003

Berdasarkan data dari BPS tahun 2002, jika dibandingkan antara jumlah sarana pendidikan di tingkat SD dengan SMP dan SMA terlihat sangat kontras. Bangunan SD di Kecamatan Siberut Selatan berjumlah 21 sekolah, sementara untuk tingkat SMP dan SMA masing-masing hanya 2 dan 1 sekolah. Ke-21 bangunan SD tersebut tersebar di 10

desa yang termasuk dalam wilayah administratif Kecamatan Siberut Selatan. Berarti jika dirata-ratakan pada setiap desa di Kecamatan Siberut Selatan hanya ada 1 atau 2 SD. Dapat dibayangkan bagaimana sulitnya memajukan dunia pendidikan di daerah ini jika melihat kendala keadaan wilayah desa yang umumnya sangat luas bahkan terpencar antar beberapa dusun.

Pada kasus Desa Katurai, pada saat penelitian ini dilakukan, sarana pendidikan formal hanya ada 4 SD dan 1 TK. Untuk SD masing-masing tersebar di 4 Dusun, sedangkan TK hanya terdapat di Dusun Malilimok. Sarana belajar mengajar SD di keempat dusun tersebut sangat terbatas dan terkesan kurang mendapatkan perhatian dari aparatur pemerintahan setempat. Jumlah guru tidak seimbang dengan jumlah murid, sehingga seorang guru harus mengajar 2-3 kelas berbeda dalam seharinya. Materi pelajaran yang diberikan sangat tergantung kreativitas guru karena alat peraga ataupun media pengajaran yang digunakan juga terbatas. Misalnya untuk kebutuhan buku cetak, murid SD di Dusun Malilimok harus bergantian dengan teman sekelas dan kondisi buku yang digynakan umumnya dalam keadaan yang tidak layak pakai. Belum lagi jika ditanyakan tentang kelengkapan sarana ruang belajar, perpustakaan, alat peraga pengajaran, dan lainnya, masih sangat jauh dari kelayakan pelayanan pendidikan dasar. Salah seorang guru yang diwawancarai dalam penelitian ini mengeluhkan tentang minimnya sarana yang tersedia sehingga hal tersebut berdampak terhadap kurang maksimalnya proses belajar-mengajar.

Untuk melanjutkan sekolah ke tingkat SMP ke atas, bagi sebagian besar orang tua murid di Desa Katurai merupakan suatu perkara yang sulit. Hal ini karena berarti mereka harus menyekolahkan putra putrinya ke ibukota kecamatan (Desa Muara Siberut) atau ke ibukota kabupaten. Tentu saja untuk merealisasikan hal tersebut, orang tua murid di Desa Katurai harus menyediakan dana pendidikan yang lebih besar terutama untuk biaya akomodasi (pondokan dan makan). Pada kenyataannya kondisi ini umumnya hanya dapat dilakukan oleh golongan penduduk yang tingkat ekonominya relatif lebih mapan. Bagi orang tua murid yang memiliki sanak famili di ibukota kecamatan, biasanya mereka akan menitipkan anak mereka pada keluarga sanak famili yang ada. Namun demikian itupun tidak akan berlangsung lama, karena biasanya sang anak akan memilih untuk tinggal di asrama yang disediakan oleh pihak sekolah. Oleh karena itu, tidak mengherankan jika biaya pendidikan bagi sebagian besar orang tua di Desa Katurai merupakan kebutuhan ekonomi yang cukup besar dan sering menjadi persoalan.

Bagi penduduk di Kecamatan Siberut Selatan dan juga khususnya di Desa Katurai, untuk menyekolahkan anak-anak mereka ke jenjang yang lebih tinggi (misalnya ke akademi/perguruan tinggi), tidak ada pilihan lain yaitu harus keluar kabupaten. Hal tersebut tentunya menjadi permasalahan besar dalam upaya peningkatan sumberdaya manusia di daerah ini. Apalagi di tengah keterbatasan tersebut biaya pendidikan tinggi saat ini terus mengalami kenaikan. Penuturan salah satu keluarga di Desa Katurai berikut ini dapat memberikan ilustrasi bagaimana sulitnya keadaan mereka ketika dihadapkan pada pemenuhan kebutuhan pendidikan. Baginya pendidikan tinggi hanya untuk orang "berduit" dan hanya ‘keajaiban’ jika anak-anaknya kelak bisa sekolah hingga jenjang pendidikan tinggi.

2.4.2. Kesehatan

Di Kecamatan Siberut Selatan terdapat 1 puskesmas dan 11 puskesmas pembantu yang tersebar di 10 Desa, termasuk 1 puskesmas pembantu yang terdapat di Desa Katurai. Sementara jumlah dokter hanya ada 4 orang dan semuanya tinggal di ibukota kecamatan. Menurut penuturan salah seorang narasumber, tidak semua Puskesmas Pembantu yang ada daerah ini beroperasi setiap harinya. Hal tersebut karena keterbatasan jumlah tenaga kesehatan serta keterisolasian daerah yang sulit dijangkau. Seperti kasus yang ditemukan di Desa Katurai, ketika peneliti mengunjungi Puskesmas Pembantu di desa ini, terlihat sama sekali tidak ada kegiatan pelayanan kesehatan yang semestinya dilakukan. Bangunannya cukup memadai namun terlihat telah lama tidak dibersihkan dan bagian pintu depan dikunci dengan gembok besar. Menurut penduduk setempat, puskesmas hanya memberikan pelayanan kesehatan jika ada program pengobatan tertentu, seperti Pos PIN dan Imunisasi, itupun sering tidak terlaksana. Pegawai pelaksana puskesmas pembantu di Desa Katurai hanya satu

...Saya sih inginnya anak-anak saya bisa sekolah sampai universitas, tapi kelihatannya itu semua seperti mimpi di siang bolong ya pak. Anak pertama saya sudah ada yang lulus SMA, dia mau melanjutkan ke univeristas di Padang, tapi tidak bisa saya kabulkan. Uangnya darimana? Untuk biaya sehari hari saja kami sudah pusing pak. Sekarang pendidikan serba mahal. Sudah jadi bisnis pak. Kalau bisa pemerintah pikirkan nasib orang seperti kita ini pak. Bagaimana bisa maju kalau mau sekolah saja susah. Anak saya ada tiga yang sekolah di Muara, semuanya tinggal di asrama. Setiap dua minggu saya harus kirim uang ke mereka, kalau tidak, nanti belajarnya terganggu...

orang, bukan penduduk setempat dan lebih banyak meluangkan waktu tinggal di ibukota kecamatan.

Tabel. 2.6.

Jumlah Sarana Kesehatan Menurut Desa Kecamatan Siberut Selatan Kabupaten Mentawai, 2002

No Desa Puskesmas Posyandu Dokter Dukun 1 Pasakiat Teleleu 1 2 - 1 2 Madobak Ugai 1 2 - - 3 Katurai 1 4 - 3 4 Muara Siberut 1 2 4 2 5 Maileppet 1 2 - 2 6 Muntet 3 2 - 2 7 Saliguma 1 2 - - 8 Sarareket Ulu 1 1 - - 9 Sagalubek Taileu 2 4 - 1 10 Saibi Samuko 1 2 - 2 Jumlah 13 24 4 12

Sumber : Kecamatan Siberut Selatan Dalam Angka, BPS, 2003

Berkaitan dengan pelayanan kesehatan, umumnya penduduk di Desa Katurai lebih memilih menggunakan jasa dukun setempat yang disebut ‘Sikerei’5. Bagi masyarakat Mentawai, keberadaan Sikerei merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari kehidupan mereka sejak dahulu, bukan sebatas sebagai tenaga medis kesehatan tetapi seorang Sikerei juga merupakan tokoh masyarakat (adat) yang disegani. Seorang Sikerei biasanya adalah seorang tetua yang sangat dihormati. Dalam keseharian seorang Sikerei selalu mengenakan pakaian tradisional adat Mentawai dengan atribut manik-manik (hiasan) di bagian kepala dan dadanya, serta tato tradisional di badan, kaki dan tangan.

Seorang Sikerei dipercaya penduduk setempat mampu mengobati berbagai penyakit, baik penyakit ringan (sakit perut, pusing, dan batuk) hingga sakit berat (lumpuh, stroke, dan kanker). Bahkan seorang Sikerei juga dapat menyembuhkan berbagai penyakit yang

5

Saat Tim Peneliti bertemu dengan seorang Sikerei di Desa Katurai terkesan beliau adalah tokoh yang sangat disegani di Pulau Siberut -Mentawai. Pengalamannya sangat luas bahkan menurut penuturannya pernah berdialog langsung dengan Paus Yohanes Paulus II di Istana Merdeka, ketika ia diundang oleh Presiden Soeharto datang ke Jakarta.

dipercaya oleh penduduk setempat akibat perbuatan ‘makhluk gaib’. Biasanya obat yang digunakan oleh seorang Sikerei adalah ramuan tradisional dari berbagai macam flora dan fauna yang ada di Mentawai. Dalam proses pengobatan seorang Sikerei akan melakukan upacara adat terlebih dahulu sambil membacakan ‘mantra’ sebagai bagian dari ritual proses pengobatan yang dilakukan. Pemerintah daerah setempat pun hingga saat ini tidak mengenyampingkan peran Sikerei dalam advokasi kesehatan kepada masyarakat. Dengan demikian, perlu menjadi catatan bahwa keberadaan Sikerei dalam masyarakat Mentawai memiliki peran strategis terutama terhadap keberhasilan pelaksanaan program kesehatan masyarakat di Kabupaten Mentawai.

2.4.3. Transportasi dan Telekomunikasi

Saranan transportasi yang menghubungkan Kecamatan Siberut Selatan dengan ibukota kabupaten atau ibukota propinsi sebenarnya cukup memadai. Namun demikian karena untuk menuju Pulau Siberut harus melalui perairan terbuka dengan gelombang yang cukup besar, maka perjalanan menuju dan dari daerah ini cukup merepotkan.

Sesuai dengan topografi alamnya, transportasi air/laut merupakan alat angkut utama bagi penduduk di Kecamatan Siberut Selatan. Untuk bepergian antar pulau di sekitar Kepulauan Mentawai dapat menyewa speed boat milik penduduk setempat, dimana harga sewa biasanya disesuaikan dengan jauhnya jarak tempuh dan harga jual bahan bakar. Sementara untuk jalur transportasi menuju dan dari Kota Padang, setiap hari tersedia pelayanan kapal penumpang baik kapal cepat maupun kapal penumpang biasa (lihat tabel 2.7).

Untuk transportasi darat, terutama di ibukota kecamatan ada dua alternatif kendaraan umum yang bisa digunakan. Pertama adalah ojek sepeda motor. Sarana transportasi ini dapat digunakan di sekitar pelabuhan muara dan biasanya akan berkumpul ketika ada jadwal kedatangan atau keberangkatan kapal. Para pengojek di pelabuhan Muara Siberut selain bekerja sebagai penjual jasa ojek motor juga sering menawarkan sewa rumah/homestay bagi para pendatang, sehingga memudahkan bagi para pendatang terutama bagi mereka yang baru pertama kali mengunjungi Pulau Siberut. Sedangkan alternatif angkutan kedua adalah menggunakan kendaran umum sewaan. Umumnya mobil sewaan yang beroperasi di daerah ini adalah mobil jenis colt keluaran tahun 70-an dengan bentuk fisik terkesan tidak terawat. Biasanya kendaraan ini digunakan untuk mengangkut hasil pertanian penduduk atau barang dagangan dari bongkar muat kapal. Namun demikian harga sewa mobil di daerah ini relatif mahal dan aksesnya juga sangat

terbatas, sehingga disarankan bagi para pendatang yang tiba di Muara Siberut untuk menggunakan jasa ojek motor yang lebih praktis dengan biaya relatif murah.

Tabel 2.7.

Jadwal Tranportasi Laut Mentawai-Padang-Mentawai

Nama Tujuan Keberangkatan Kedatangan Kapal Dari Ke Hari Waktu Hari Waktu

Padang Tuapejat Senin Pagi Senin Sore Padang Sioban Selasa Pagi Selasa Sore Mentawai Sikakap Padang Selasa Sore Selasa Malam Ekspress Padang Tuapejat Jum'at Pagi Jum'at Sore

Tua Pej'at Via Sioban Sabtu Sore Sabtu Malam Padang

Sikakap Padang Senin Sore Selasa Pagi Padang Sikakap Selasa Sore Rabu Pagi KM Sikakap Padang Rabu Sore Kamis Pagi Beriloga Padang Tuapejat Via Jum'at Sore Sabtu Pagi

Sikakap

Padang Muara Siberut Senin Sore Selasa Pagi Via Sikakap

KM Sikakap Padang Via Rabu Sore Kamis Pagi Sumber Siberut

Rejeki Padang Siberut Juma'at Sore Sabtu Pagi Baru Siberut Padang Sabtu Sore Minggu Pagi

KM Subulat Siberut Padang Tuapejat Sioban Siberat Via Tuapejat Padang via Siberut Senin Selasa Rabu Sore Sore Sore Selasa Rabu Kamis Pagi Pagi Pagi

Sumber : Buku Saku Pariwisata Kabupaten Mentawai, 2004

Catatan : Pada saat penelitian dilakukan, Kapal Mentawai Ekspress sedang tidak beroperasi karena kerusakan mesin. Pada awal tahun 2005 terdapat kapal penumpang baru yang dikelola oleh Dinas Perhubungan Kaupaten Mentawai, bernama KM Simasin yang memliki rute Padang-Siberut-Sikabaluan-Padang. Jadwal dapat berubah tanpa pemberitahuan.

Pelayanan PLN (listrik) dan alat telekomunikasi seperti telepon, radio dan televisi hanya dapat dijangkau di ibukota Kecamatan Siberut Selatan. Komunikasi telepon, yang tersedia hanya layanan telepon dari

PT Telkom, sedangkan telepon genggam (HP) belum bisa diakses dan hanya dapat digunakan jika menggunakan telepon satelit. Begitu pula dengan saluran televisi, masyarakat di Kecamatan Siberut Selatan dapat menangkap gelombang siaran televisi jika menggunakan antena parabola. Kondisi alam di pulau ini yang berbukit menyebabkan sulitnya menangkap televisi jika menggunakan antena biasa. Oleh karena itu, tidak mengherankan jika sedang berkunjung ke Pulau Siberut maka pemandangan antena parabola di setiap rumah merupakan suatu hal yang lazim ditemukan. Masyarakat di luar ibukota kecamatan (seperti di Desa Katurai) biasanya menggunakan generator pribadi jika ingin menggunakan energi listrik. Berdasarkan pengamatan di Desa Katurai terlihat hanya segelintir rumah tangga yang memiliki generator listrik. Penggunaannya juga terbatas dan biasanya akan digunakan jika ada acara bersama di desa yang diselenggarakan pada malam hari.

Satu-satunya cara untuk mencapai Desa Katurai adalah menggunakan transportasi air/laut. Di Muara Siberut, banyak jasa penyewaan perahu (speed boat) yang bersedia mengantarkan pengunjung ke beberapa daerah termasuk ke Desa Katurai. Jika ingin menghemat dapat menumpang perahu penduduk asal Desa Katurai yang hendak pulang berbelanja dari Muara Siberut. Umumnya penduduk Desa Katurai biasa berkunjung ke ibukota kecamatan pada hari Senin dan Kamis. Kedua hari tersebut merupakan ‘hari pasar’ bagi masyarakat di Pulau Siberut. Namun untuk alternatif ini barang bawaan yang dapat diangkut sangat terbatas, karena umumnya mereka juga membawa barang belanjaan sehari-hari dan barang kebutuhan lainnya.

Foto 2.5.

Salah Satu PemandanganJalan Desa di Dusun Malilimok Desa Katurai

Kondisi jalan di Desa Katurai terlihat sangat memadai. Jalan desa yang berada di empat dusun di Desa Katurai semuanya adalah jalan semen dengan lebar sekitar satu meter. Jalan tersebut dibangun sekitar tahun 2002 dan 2003 melalui proyek semenisasi jalan desa. Pada saat pembangunan jalan tersebut, proses pengerjaannya melibatkan seluruh penduduk di setiap dusun, sedangkan pendanaannya berasal dari anggaran Pemerintah Daerah Kabupaten Mentawai. Untuk berkeliling ke sekitar pemukiman penduduk di Desa Katurai, pengunjung harus berjalan kaki. Hal tersebut karena tidak tersedianya alat transportasi darat di desa ini, seperti mobil atau sepeda motor.

Dokumen terkait