BAB II PROFIL DAERAH PENELITIAN
2.1. Kondisi Geografis
Kabupaten Mentawai yang dikenal dengan sebutan "Bumi Sikerei" adalah satu dari sepuluh kabupaten/kota yang berada di Propinsi Sumatera Barat. Daerah ini ditetapkan menjadi daerah otonom pada tanggal 4 Oktober 1999 berdasarkan UU No.49 tahun 1999 tentang pembentukan Kabupaten Mentawai dan surat keputusan Mendagri No.131.23.1125 yang dimuat dalam lembaran Negara RI No.117 tahun 1999. Sebelum menjadi daerah otonom, Kabupaten Mentawai merupakan daerah kecamatan yang termasuk dalam wilayah administratif Kabupaten Padang Pariaman.
Secara geografis Kabupaten Mentawai berada pada posisi 000 55’ 00”- 30 20’ 00” LS dan 900 35’ 00”- 1000 32’ 00” BT dengan luas daratan mencapai sekitar 6.011,35 Km2. Sebagai daerah kepulauan, seluruh batas administratif daerah ini dengan kabupaten/kota lainnya adalah perairan laut. Bagian Utara Kabupaten Mentawai berbatasan dengan Kabupaten Nias (Propinsi Sumatera Utara) yang dipisahkan oleh Selat Nias. Bagian Selatan berbatasan dengan Kabupaten Pesisir Selatan, bagian Timur berbatasan dengan Kabupaten Padang Pariaman dan Kota Padang. Kedua batas administratif tersebut terpisahkan oleh Selat Mentawai dengan kedalaman laut sekitar 1500 meter dan jarak antar daratan sekitar 85-135 Km. Sedangkan sebelah Barat daerah ini berhadapan langsung dengan perairan Samudera Hindia.
Topografi lahan di kepulauan Mentawai terdiri dari dataran rendah dan perbukitan dengan ketinggian antara 0-275 meter di atas permukaan laut. Daratan di daerah ini diperkirakan terpisah dari Pulau Sumatera sejak jutaan tahun silam dan terbentuk dari proses sedimentasi yang didominasi oleh endapan lumpur (rawa) dan tanah liat bercampur kapur. Menurut catatan sejarah tentang terbentuknya daerah ini, pada zaman es sekitar satu juta hingga sepuluh ribu tahun yang silam, permukaan laut di daerah Asia Tenggara berada pada posisi 200 meter lebih rendah dari kondisi sekarang. Pulau Sumatera merupakan daratan yang menyatu dengan Pulau Jawa, Kalimantan dan Benua Asia. Hal ini dapat dibuktikan dengan adanya penyebaran berbagai jenis binatang di daerah tersebut. Namun Kepulauan Mentawai tetap merupakan daratan tersendiri terpisah oleh laut, dengan kedalaman sekitar 1500 meter, dari daratan Sumatera. Keadaan ini diperkirakan
terjadi sejak masa Middle Pleistocene (Data Bathymetric). Satu-satunya kemungkinan terjadinya keterkaitan daratan terjadi di bagian Utara Mentawai. Akan tetapi andaikan hubungan tersebut memang ada, keadaan tersebut sudah sejak lama lenyap. Dengan demikian daratan di Kepulauan Mentawai merupakan pulau-pulau asli sejak kira-kira lima ratus ribu tahun yang silam, dimana flora dan faunanya terperlihara dari perubahan evolusi secara dinamis (Dinas Pariwisata Kabupaten Mentawai, 2005:4).
Terdapat perbedaan yang jelas antara pantai di bagian Timur dan Barat. Di bagian Timur, keadaan pantai ditandai dengan garis pantai yang tidak rata, memiliki teluk, tanjung, pulau-pulau kecil, dan perairan dangkal yang dipenuhi dengan hamparan batu karang. Sedangkan pantai di bagian Barat berbentuk lebih lurus, berpasir, memiliki gelombang besar dan sedikit penyebaran terumbu karang. Secara keseluruhan garis pantai di Kabupaten Mentawai mencapai panjang sekitar 758 km.
Gugusan Kepulauan Mentawai terdiri dari empat kepulauan besar beserta ratusan pulau-pulau kecil (berjumlah sekitar 319 pulau) yang membentang dari Utara hingga Selatan bagian pantai Barat Pulau Sumatera. Keempat pulau besar tersebut yaitu Pulau Siberut, Sipora, Pagai Utara, dan Pagai Selatan. Ibukota administrasi Kabupaten Mentawai berada di Pulau Sipora tepatnya di Kota Tua Pejat. Secara administratif Kabupaten Mentawai terbagi dalam 4 wilayah kecamatan dan 41 desa. Keempat kecamatan tersebut adalah Kecamatan Pagai Utara/Selatan (Sikakap), Sipora (Sioban), Siberut Selatan (Muara Siberut), dan Siberut Utara (Muara Sikabaluan)1. Dilihat dari luas arealnya, Kecamatan Siberut Utara merupakan kecamatan yang memiliki luas wilayah terbesar yaitu 1.964,35 Km2 atau seluas 32 persen dari total luas daratan Kabupaten Mentawai. Sedangkan wilayah paling kecil adalah Kecamatan Sipora, yaitu 651,55 Km2 atau sekitar 11 persen dari luas wilayah Kabupaten Mentawai yang mencapai 6.011,35 Km2 (Tabel 2.I). Kecamatan Sipora sebagai ibukota kabupaten terbagi menjadi 11 desa sedangkan ketiga kecamatan lainnya masing-masing terbagi menjadi 10 desa.
1
Kata dalam kurung menunjukkan nama Ibukota Kecamatan.Pada saat penelitian lapangan ini dilakukan sedang berkembang wacana pemekaran beberapa daerah menjadi kecamatan baru (misalnya Kecamatan Siberut Selatan dan Pagai Utara Selatan yang masing-masing akan dipecah menjadi dua kecamatan)
Tabel 2.1.
Luas Wilayah Kabupaten Mentawai Menurut Kecamatan, 2002
No Kecamatan Luas (Km2) Persentase 1
2 3 4
Pagai Utara Selatan Sipora Siberut Selatan Siberut Utara 1.521,55 651,55 1.873,30 1.964,95 25,31 10,83 31,16 32,68 Jumlah 6.011,35 100,00
Sumber: Kabupaten Mentawai Dalam Angka, BPS, 2003
Kecamatan Siberut Selatan, sebagai lokasi studi ini, secara geografis berada pada posisi 0° - 35' 00" LS dan 100° 12' 00" BT. Wilayah Kecamatan Siberut Selatan terbagi menjadi 10 desa dengan jumlah penduduk pada tahun 2002 tercatat sekitar 16.086 jiwa, terdiri dari 8.489 laki-laki dan 7.579 perempuan dan tercakup dalam 3.255 rumah tangga. Tingkat kepadatan penduduk di daerah ini mencapai 8,59 orang/km2 atau 1,74 rumah tangga/Km2. Daerah ini merupakan wilayah kecamatan di Kabupaten Mentawai dengan tingkat kepadatan penduduk terendah kedua setelah Kecamatan Siberut Utara (Tabel 2.2).
Tabel 2.2.
Jumlah Penduduk dan Tingkat Kepadatan Penduduk Per Km2 Menurut Kecamatan di Kabupaten Mentawai, 2002
Kecamatan Jumlah Penduduk Jiwa/Km2
Pagai Utara Selatan Sipora Siberut Selatan Siberut Utara 23.864 13.121 16.086 12.694 15,68 20,14 8,59 6,46 Jumlah 65,765 10,94
Sumber: Kabupaten Mentawai Dalam Angka, BPS, 2003
Ibukota Kecamatan Siberut Selatan adalah Desa Muara Siberut. Sebagai ibukota kecamatan kegiatan pembangunan di desa ini relatif lebih maju dibandingkan dengan desa-desa lainnya yang termasuk dalam wilayah Kecamatan Siberut Selatan. Seluruh kegiatan pelayanan
administratif pemerintahan setingkat kecamatan berada di Desa Muara Siberut. Demikian halnya dengan beberapa pelayanan kegiatan pembangunan seperti klinik kesehatan, pasar rakyat (perdagangan), pelelangan ikan, dermaga kapal, hotel, hingga jasa transportasi dan telekomunikasi. Mayoritas penduduk yang tinggal di Desa Muara Siberut adalah para pendatang yang berasal dari Sumatera Barat (etnis Minangkabau) dan umumnya mereka bekerja di bidang jasa perdagangan dan kenelayanan.
Untuk mencapai Desa Muara Siberut dapat ditempuh menggunakan berbagai transportasi laut, salah satunya adalah speed boad carteran dari Tua Pejat dengan waktu tempuh sekitar 2 jam2. Sedangkan jika dari Pelabuhan Muara di Kota Padang, waktu tempuh perjalanan mencapai sekitar 12 jam menggunakan kapal penumpang (KM Sumber Rejeki Baru dan KM Simasin) dan sekitar 6 jam dari
Pelabuhan Bungus Padang jika menggunakan kapal cepat (KM Mentawai Ekspress).
Desa Katurai yang merupakan lokasi studi kasus dalam penelitian ini adalah satu dari sepuluh desa yang ada di Kecamatan Siberut Selatan. Mayoritas penduduk yang tinggal di Desa Katurai adalah orang asli Mentawai yang terdiri dari berbagai suku Mentawai3. Umumnya mereka tinggal secara mengelompok dan menempati daerah di sepanjang pesisir pantai. Penduduk yang disebut pendatang terutama adalah para pedagang yang menetap di Desa Katurai dan umumnya mereka berasal dari etnis Minang atau Batak. Berbeda dengan orang asli Mentawai yang masih tinggal di pedalaman, kehidupan masyarakat di Desa Katurai relatif lebih maju, diantaranya telah mengenal kegiatan kenelayanan dan budidaya tanaman perkebunan.
Bahasa sehari-hari yang digunakan penduduk di desa ini adalah bahasa asli Mentawai dan hanya sebagian kecil penduduk yang lancar berbahasa Indonesia. Begitupula dengan kemampuan membaca dan menulis, hanya golongan penduduk tertentu yang dapat melakukannya, diantaranya adalah para staf desa, kaum muda, dan penduduk yang bekerja sebagai pedagang. Umumnya mereka yang tidak lancar berbahasa Indonesia adalah golongan penduduk yang berusia tua. Mayoritas penduduk Desa Katurai beragama Katolik dan hanya sedikit yang beragama Islam (diantaranya adalah pendatang dari etnis Minang).
2 Masyarakat di lokasi penelitian menyebut speed boat yang merupakan Perahu kayu dengan panjang sekitar 8 meter, lebar 1,5 meter, mesin 15 PK.
3
Dalam struktur masyarakat asli Mentawi dikenal pembagian asal usul berdasarkan suku yang dicirikan dari pemberian nama, seperti halnya sebutan sebuah marga dalam komunitas masyarakat Suku Batak di Sumatera Utara.
Berdasarkan keterangan dari tokoh masyarakat setempat diketahui bahwa pada awalnya penduduk Desa Katurai tidak bertempat tinggal seperti sekarang. Mereka berasal dari salah satu daerah di pedalaman hutan Pulau Siberut yang sebagian besar kehidupannya tergantung dari hasil hutan dan berburu. Perpindahan awal penduduk ke Desa Katurai terjadi sekitar tahun 1940-an. Perpindahan tersebut terjadi akibat perang antar suku yang semakin meluas pada saat itu yang menyebabkan beberapa kelompok keluarga terpaksa keluar dari pedalaman hutan di Pulau Siberut. Kelompok keluarga tersebut mencari daerah baru yang masih aman dan belum ditempati oleh suku lainnya. Mereka yang keluar dari pedalaman kemudian tinggal menetap dan terus berkembang hingga menjadi kelompok besar yang saat ini mendiami Desa Katurai. Situs sejarah perkembangan kelompok penduduk pertama yang ada di Desa Katurai berada di Dusun Tiop dan hingga saat ini penduduk Dusun Tiop dikenal sebagai asal usul penduduk di Desa Katurai.
Foto 2.1.
Suasana Pesisir Desa Katurai Kecamatan Siberut Selatan Kabupaten Mentawai, 2005
Sumber : Dokumentasi COREMAP-PPK LIPI,2005
Secara geografis letak Desa Katurai berada pada posisi 010.74’. 808” LS dan 0990. 27’. 898” BT dengan luas daratan mencapai 160, 16 Km2 atau sebesar 8,5 persen dari total luas Kecamatan Siberut Selatan pada tahun 2002. Jarak Desa Katurai ke ibukota kecamatan mencapai 15 Km, ke ibukota kabupaten sekitar 55 Km sedangkan ke ibukota provinsi mencapai sekitar 161 Km. Secara administratif Desa Katurai terbagi menjadi 4 wilayah dusun yaitu Dusun Tiop, Sarousow, Taleulebo dan Malilimok (lihat peta). Jarak antara satu dusun dengan dusun lainnya sekitar 5-7 Km, terpisahkan oleh hutan dan perbukitan dan
hanya dapat dijangkau menggunakan transportasi air. Sebagai gambaran, dari pusat desa, yaitu Dusun Malilimok menuju Dusun Tiop diperlukan waktu tempuh sekitar 2 jam perjalanan menggunakan perahu kayu bermesin 15 PK. Sedangkan menuju Dusun Saraousow dan Taleulebo masing-masing membutuhkan waktu tempuh sekitar 1 dan 1,5 jam secara berturut-turut.
Tabel 2.3.
Luas Wilayah Kecamatan Siberut Selatan Menurut Desa, 2002
No Desa Luas (Km2) Persentase 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 Pasakiat Taleuleou Madobak Ugai Katurai Muara Siberut Malilepet Muntei Saliguma Sarareket Ulu Sagalubek Taileu Saibi Samukop 418,10 77,16 160,16 42,02 37,74 81,41 92,55 33,21 594,20 466,72 22,3 4,1 8,5 2,2 2,0 4,3 4,9 1,7 31,7 24,9 Jumlah 1.873 100,0
Sumber: Kabupaten Mentawai Dalam Angka, BPS, 2003
Tofografi lahan di Desa Katurai didominasi oleh wilayah perbukitan dan daratan hutan lebat. Sedangkan kondisi pantai di desa ini berbentuk landai didominasi oleh hamparan batu karang di perairan dangkal, pasir putih, dan tanah rawa hutan mangrove. Wilayah perairan Desa Katurai memiliki gugusan kepulauan kecil, diantaranya adalah Pulau Karamajat, Pulau Koroniki, Pulau Nyang-nyang, Pulau Mainu, Pulau Siloina, dan Pulau Botiek. Sebagian besar pulau-pulau tersebut tidak berpenghuni dan umumnya digunakan sebagai tempat singgah sementara (istirahat) ketika penduduk Desa Katurai mengelolala kebun kelapa atau cengkeh.
Pusat administratif pemerintahan Desa Katurai berada di Dusun Malilimok dan merupakan daerah terpadat penduduknya kedua setelah Dusun Tiop. Untuk mencapai Dusun Malilimok dari ibukota kecamatan dapat ditempuh melalui dua cara, yaitu pertama dari Muara Siberut menggunakan jalur sungai, melewati Dusun Tiop dan Sarausow. Waktu tempuh perjalanan sekitar 3 jam jika menggunakan perahu bermesin 15 PK, menyusuri sungai Taileleu dan perairan hutan bakau yang sangat lebat sepanjang sekitar 5 km. Jalur pertama ini hanya dapat ditempuh
jika kondisi perairan di sekitar hutan bakau dalam keadaan air pasang. Sebagian besar penduduk di Desa Katurai memanfaatkan jalur ini jika ingin berpergian ke dan dari ibukota keacamatan.
Foto 2.2.
Suasana Jalur Sungai Menuju Desa Katurai Kecamatan Siberut Selatan Kabupaten Mentawai, 2005
Sumber : Dokumentasi COREMAP-PPK LIPI, 2005
Cara kedua adalah jalur alternative yaitu menggunakan jalur laut langsung menuju Dusun Malilimok, jika perjalanan melalui jalur pertama tidak dapat ditempuh (air surut/sore dan malam hari). Namun demikian untuk menggunakan jalur kedua ini diperlukan ukuran dan kemampuan kapal yang lebih besar. Perjalanan menggunakan jalur kedua ini menyusuri pantai selatan yang berbatasan langsung dengan perairan lepas Selat Mentawai. Ombak di daerah ini juga cukup besar dan pada waktu-waktu tertentu bisa mencapai 2-4 meter. Jika tidak berpengalaman melewati jalur ini maka resiko menabrak karang dan arus keras akan sangat besar. Oleh karena itu, sangat jarang penduduk di Desa Katurai yang menggunakan jalur ini, selain karena ketiadaan sarana transportasi yang memadai, jaminan keselamatan dalam perjalanan juga sangat riskan.